0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan15 halaman

Relevansi Ki Hajar Dewantara dan Merdeka Belajar

Artikel ini menganalisis relevansi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara terhadap konsep merdeka belajar di era disrupsi. Konsep merdeka belajar yang diusung pemerintah sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara beberapa dekade lalu tentang memberikan kebebasan belajar kepada siswa. Revolusi industri 4.0 telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan, sehingga konsep pendidikan Ki Haj
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan15 halaman

Relevansi Ki Hajar Dewantara dan Merdeka Belajar

Artikel ini menganalisis relevansi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara terhadap konsep merdeka belajar di era disrupsi. Konsep merdeka belajar yang diusung pemerintah sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara beberapa dekade lalu tentang memberikan kebebasan belajar kepada siswa. Revolusi industri 4.0 telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan, sehingga konsep pendidikan Ki Haj
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RELEVANSI PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA

KONSEP MERDEKA BELAJAR DI ERA DISRUPSI

ARTIKEL

Oleh
MUHAMMAD IMADUDDIN
1406022575

PENDIDIKAN PROFESI GURU


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2023
RELEVANSI PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA
KONSEP MERDEKA BELAJAR DI ERA DISRUPSI

Muhammad Imaduddin*, Deasylina Da Ary


Pendidikan profesi Guru, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri
Semarang, Indonesia
Email: imaduddinmuhammad@students.unnes.ac.id

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi pemikiran pendidikan Ki
Hajar Dewantara pada konsep merdeka belajar di era disrupsi. Kebijakan merdeka
belajar digagas mengarah pada kebebasan peserta didik dalam berpikir kritis dan juga
memberikan kebebasan guru dalam Menyusun perangkat pembelajaran. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu Systematic Literature Reviews (SLR) Teknik
pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan cara mengumpulkan dan mempelajari
data-data berbagai jurnal yang relevan. Konsep merdeka belajar yang di gagas oleh
Kementerian Pendidikan seirama dengan gagasan Ki Hajar Dewantara beberapa tahun
silam yang dirasa masih sangat relevan untuk di terapkan di masa sekarang ini. Revolusi
industry 4.0 dan peradaban 5.0 telah memberikan pengaruh terhadap bidang kehidupan,
sehingga terjadi disrupsi teknologi dan inovasi, termasuk dalam pendidikan. Di era
disrupsi, konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang membawa kerangka pemikiran
profetik menjadi sangat relevan. Ki Hajar Dewantara menitikberatkan mengenai
kemerdekaan belajar atau kebebasan belajar, menurut beliau kemerdekaan belajar itu
terhadap cara berpikir, peserta didik harus dilatih untuk mencari segala pengetahuan
dengan menggunakan pikirannya sendiri.
Kata Kunci: Pemikiran Pendidikan, Ki Hajar Dewantara, Era Disrupsi
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan unsur yang sangat penting dari indikator kesejahteraan
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk memajukan negara.
Pendidikan menggali potensi diri dan mengembangkannya sesuai dengan kemampuan.
Berdasar pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan merupakan
upaya terencana dan sadar untuk menciptakan lingkungan dan aktivitas belajar yang
memungkinkan peserta didik untuk secara aktif meningkatkan daya spiritual
keagamaan, kontrol diri, kepribadian, kecerdasan, kepribadian luhur yang diperlukan
dalam hidup berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu pendidikan adalah pembinaan
yang diberikan kepada peserta didik, dilaksanakan secara terus menerus, dengan
berbagai potensi kecerdasan, agar peserta didik mampu mandiri jasmani dan rohaninya,
mampu secara bebas (mandiri) mengembangkan potensi-potensi unik dengan fitrahnya
(kodrat alam) masing-masing.
Dewasa ini telah terjadi perubahan yang mendasar di berbagai sektor kehidupan
yang disebut era disrupsi (Sayyidi & Sidiq, 2020: 18). Perubahan yang terjadi dapat
menjadi keuntungan dan juga tantangan bagi masyarakat. Mulai dari pemangku
kebijakan hingga pelaksana kebijakan. Berbagai pemikir mendefinisikan era ini sebagai
dampak era revolusi industri 4.0 (Schwab, 2017: 12). Dari segi perkembangan
masyarakat, era ini disebut Society 5.0 oleh Fukuyama (dalam Kurniawan et al., 2022:
826). Pada era 5.0 ini segala aspek kehidupan sangat berkaiatan erat dengan teknologi,
sehingga manusia dituntut untuk bisa berpikir kritis serta mampu beradaptasi dan
berinovasi. Menurut Zuboff (dalam Kurniawan et al., 2022: 12) secara umum, konsep-
konsep tersebut menjelaskan bahwa pada saat ini kita tengah menghadapi suatu hal yang
baru dan belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi informasi telah berkembang pesat
dan telah mengubah cara kita berkomunikasi. Dengan teknologi tersebut, kita bisa
berkomunikasi secara intens dan masif sehingga dunia seolah-olah menjadi sebuah desa
yang saling terkoneksi (global village).
Dalam kondisi yang sangat dinamis ini diperlukan trasformasi pembelajaran
untuk perbaikan mutu pendidikan Indonesia, seperti halnya pembaharuan yang telah
dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan menetapkan
kebijakan baru, yakni merdeka belajar. Konsep Ki Hadjar Dewantara tentang
pendidikan merdeka yang selama ini dijadikan acuan bagi Pendidikan Nasional,
akhirnya mengilhami kebijakan pemerintah, bahwa kebebasan belajar harus melayani
kebebasan dan otonomi lembaga pendidikan, yaitu bebas dari birokratisasi, guru dan
dosen bebas dari birokrasi yang rumit, dan siswa ataupun mahasiswa diberikan
kebebasan untuk memilih keterampilan yang sesuai dengan potensinya. Sekretariat
GTK (dalam Sholihah, 2021: 116)Konsep merdeka belajar bermaksud untuk
mengembalikan sistem pendidikan nasional kepada undang-undang untuk memberikan
kemerdekaan kepada sekolah dalam menginterpretasikan kompetensi kurikulum
kedalam bentuk penilaian. Sehingga merdeka belajar merupakan program kebijakan
yang dicanangkan oleh perintah RI melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang
dimaksudkan untuk mengembalika sistem pendidikan nasional pada esensi undang-
undang.
Konsep pendidikan merdeka Ki Hadjar Dewantara sebagai pusat pendidikan
nasional perlu dikaji ulang dengan menganalisis sejauh mana tujuan, metode, materi,
evaluasi, dan pelaksanaan pendidikan dalam kerangka pembelajaran merdeka yang
ditawarkan Ki Hadjar Dewantara lebih lengkap berhubungan dengan kebijakan
pemerintah Indonesia saat ini atau telah menyimpang dari konsepnya. Berdasarkan
masalah yang telah diuraikan, maka penting untuk menganalisis dan menggali benang
merah konsep pendidikan merdeka dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara, termasuk
unsur-unsur apa saja yang terkandung dalam konsep tersebut dan bagaimana
relevansinya dengan konsep pendidikan merdeka di Indonesia di era disrupsi.

METODE PENELITIAN
Penulisan artikel ini menggunakan Systematic Literatur Review dengan metode
Preferred Reporting Items For Semantic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA).
Metode PRISMA dilakkan dengan beberapa tahap yaitu identifikasi, penyaringan dan
menentukan artikel terpilih. Tahapan proses pemilihan artikel dapat dilihat pada bagan
di bawah ini.

Identification
Literatur Review menggunakan 2 database (n= 312)
Google Schoolar (n= 167), Scopus (n= 145)

Artikel Jurnal yang sesuai judul, abstrak, dan kata kunci
Screening
(n= 90)

Artikel Full text sesuai kriteria


(n= 14)

Included
Artikel sesuai kriteria
(n= 10)

Gambar 1 Diagram PRISMA: Tahapan Systematic Literature Reviews


Pencarian database mulai dilakukan bulan 22-25 januari 2022. Jurnal yang
dipakai berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan rentang publikasi dari 5 tahun
terakhir. Pencarian jurnal dilakukan melalui database elektronik Google Schoolar, dan
Scopus. Kata kunci yang dipakai pada pencarian jurnal adalah “pemikiran Pendidikan”,
“ki hajar dewantara”, “era disrupsi”. Kriteria jurnal yang digunakan untuk penelitian ini
adalah:
a. Membahas mengenai pemikiran Pendidikan Ki hajar Dewantara
b. Terdapat implementasi dalam dunia pendidikan
c. Membahas mengenai pendidikan di era disrupsi
Dari jurnal yang didapatkan disaring dan memperoleh artikel jurnal penelitian
yang diinginkan sebanyak 8 artikel jurnal untuk digunakan dalam penelitian ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Penelitian
Tabel 1. Review Jurnal Penelitian
No Judul / Penelitian Metode Temuan
1 Paradigma Pendidikan Telaah pustaka Konsep Pancadarma Taman Siswa
Profetik dalam (library menghendaki sebuah system
Konsep Pendidikan Ki research) pendidikan yang mampu
Hajar Dewantara dan mengembalikan anak kepada
Aktualisasinya di Era kodrat dirinya sebagai manusia
Disrupsi merdeka dan berbudaya, serta
(Hidayat, 2021) menggugah kesadaran
transendental. Pancadarma Taman
Siswa berupaya memosisikan anak
didik sebagai subjek individu dan
sosial yang merdeka sesuai fitrah
kemanusiaan (humanisasi). Di sisi
lain, pendidikan Ki Hajar
Dewantara menghendaki
pembebasan dunia pendidikan dari
cengkraman industri yang
menuaikan beragam penindasan
struktural dalam masyarakat
(liberasi).
2 Ki Hajar Dewantara's Telaah pustaka KHD menyajikan konsep
Perspective on The (library pendidikan merdeka, diawali
Concept of research) dengan tujuan pendidikan adalah
Independent memerdekakan peserta didik,
Education and Its merdeka batin, merdeka fikiran
Relevance to The dan fisiknya dengan menerapkan
Independent Learning pancadarma yang
in Indonesia terimplementasikan dalam taman
(Taufikin & siswa dengan sistem among
Ma’shumah, 2021) dengan berbagai metode yang
dilakukan secara terus menerus
sejak dini hingga dewasa yang
telah disajikan dalam Taman
siswa. Konsep Pendidikan
merdeka belajar KHD memiliki
relevansi dengan Konsep Merdeka
Belajar di Indonesia saat ini, dari
sisi tujuan, sistem pendidikan, guru
dan peserta didik.
3 Relevansi Pemikiran Telaah pustaka Konsep merdeka belajar yang di
Ki Hajar Dewantara (library gagas oleh Kementerian
Dengan Konsep research) Pendidikan, rupanya seirama
Merdeka Belajar dengan apa yang di gaungkan oleh
(Widyastuti, 2021) Ki Hajar Dewantara beberapa
tahun silam yang dirasa masih
sangat relevan untuk di terapkan di
masa sekarang ini. Melihat esensi
utama dari merdeka belajar yang
mengedepankan kebebasan berfikir
serta berinovasi bagi guru dan
murid akan sangat efektif untuk
mengeksplorasi potensi dari
peserta didik itu sendiri. Merdeka
Belajar merupakan representasi
dari pemikiran Ki Hajar Dewantara
yang di manifestasikan
Kementerian Pendidikan melalui
kebijakan yang sangat konstruktif
dalam membangun paradigma
masyarakat mengenai pendidikan
bangsa Timur yang
mengedepankan azas-azas
kemanusiaan dan juga kerakyatan.
4 Merdeka Belajar Telaah pustaka Ki Hadjar Dewantara memandang
dalam Pandangan Ki (library pendidikan sebagai pendorong
Hadjar Dewantara dan research) bagi perkembangan siswa, yaitu
Relevansinya bagi pendidikan mengajarkan untuk
Pengembangan mencapai perubahan dan
Pendidikan Karakter kebermanfaatan bagi lingkungan
(Aini, 2020) sekitar. Merdeka belajar
merupakan salah satu bentuk
implementasi nilai-nilai
pembentuk karakter bangsa
dimulai yang dari pembenahan
sistem pendidikan dan metode
belajar. Diharapkan merdeka
belajar dapat memberikan
perubahan ke arah yang lebih baik
serta memberikan manfaat pada
lingkungan.
5 Relevansi Pemikiran Telaah pustaka pemikiran pendidikan Ki Hajar
Pendidikan Ki Hajar (library Dewantara yang masih relevan
Dewantara pada Abad research) hingga saat ini yaitu pendidikan
ke 21 dengan sistem among dan Tri Pusat
(Nurhalita & Pendidikan yang memberikan suatu
Hudaidah, 2021) kebebasan berpikir kepada peserta
didik untuk mengembangkan
kreatifitas yang ada dalam dirinya
sesuai dengan penerapan kurikulum
2013. Pemikiran Ki Hajar
Dewantara yang berbasis
pendidikan karakter seperti nilai
keagamaan, kedisiplinan, kejujuran
dan tanggung jawab dapat dijadikan
sebagai dasar dalam pembentukan
moral pendidikan abad ke 21.
6 Relevansi Penerapan Telaah pustaka Tiga prinsip etika keteladanan Ki
Etika Guru dalam (library Hajar Dewantara Ing Ngarso Sun
Perspektif Ki Hadjar research) Tulodo, Ing Madyo Mbangun
Dewantara di Era Karso, Tut Wuri Handayani istilah
Milenial atau semboyan itulah memiliki arti
(Puspakartika & dan makna yang begitu besar jika
Syihabuddin, 2022) memang para guru melaksanakan
dan menerapkan istilah dari KHD
terutama di masa era milenial.
Bahwa guru yang menjujung tinggi
nilai etika tentunya yang
berakhlakul karimah yaitu bisa
menjalankan peran dan amanat
yang sesungguhnya sebagai
seorang pendidik. Guru bukan
hanya mengajarkan secara
akademik namun diminta untuk
bisa memberikan motivasi,
dorongan dan semangat kepada
muridnya dalam menggapai cita-
cita. Dalam persepktif Ki Hajar
Dewantara yang mana hakikatnya
manusia jika beretika dan bermoral
maka akan sampai pada tujuan
kehidupan yakni ketentraman,
kedamaian dan kebahagiaan.
7 Relevansi Pendidikan Telaah pustaka Pendidikan yang bisa menghadapi
Berkebudayaan untuk (library tantangan zaman ini bukanlah
Pendidikan Indonesia research) pendidikan yang bersifat partikular.
dalam Menghadapi Pendidikan yang bisa menghadapi
Era Digital tantangan adalah pendidikan yang
(Kurniawan et al., menyiapkan peserta didik untuk
2022) bisa berpikir secara mandiri dan
inovatif serta memberikan bekal
tidak hanya intelektual melainkan
juga inovasi dan nilai-nilai moral.
Di samping itu, harus ada
pemahaman bahwa teknologi yang
ada merupakan alat yang
dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dengan internalisasi tersebut,
kondisi sosial masyarakat akan
bertransformasi menjadi
masyarakat yang unggul dan maju
serta secara otomatis akan
kompatibel dengan teknologi dan
ilmu pengetahuan yang tengah
berkembang.
8 Implementasi Konsep Telaah pustaka Sistem Among yang mendorong
Pendidikan Karakter (library kodrat alami anak tanpa melalui
Ki Hadjar Dewantara research) perintah atau paksaan sehingga
Bagi Mahasiswa mengembangkan minat, bakat,
Generasi Z kreativitas, dan kemampuan
(Dari & Hudaidah, berpikir yang memberikan motivasi
2021) dan dorongan agar mahasiswa mau
mengeksplorasi tujuan dan makna
hidupnya sehingga mahasiswa
menjadi aktif, keaktifan mereka
dapat dijadikan acuan untuk
menanamkan nilai karakter yang
baik. Sehingga sebagai mahasiswa
Generasi Z diharapkan dapat
mengaktualisasikan konsep
pendidikan karakter Ki Hadjar
Dewantara meliputi tindakan, sikap
maupun moral dalam
kehidupannya.
9 Pendidikan Merdeka Telaah pustaka Ki Hadjar Dewantara memberikan
dalam Perspektif Ki (library konsep pendidikan merdeka
Hadjar Dewantara dan research) dimulai dengan memerdekakan
Relevansinya peserta didik, merdeka batin,
Terhadap Merdeka mereka pikiran dan fisik dengan
Belajar di Indonesia mengimplementasikan panca
(Sholihah, 2021) dharma dalam sistem Taman Siswa.
Pendidikan merdeka Ki Hadjar
Dewantara relevan terhadap
kebijakan merdeka belajar di
Indonseia dilihat dari tujuan
pendidikan, sistem pembelajaran,
guru, dan peserta didik.
10 Peran Pendidikan Telaah pustaka pendidikan dapat dihasilkan
Menurut Konsep Ki (library Sumber Daya Manusia (SDM) yang
Hajar Dewantara Di research) unggul dan siap untuk bersaing,
Era Revolusi Industri dimana para generasi muda ini
4.0 sendiri tertantang terkait dengan
(Galuh et al., 2022) revolusi industri 4.0. Usaha yang
besar, terencana, dan strategi baik
dari sisi pemerintah, kalangan
akademik, maupun praktisi menjadi
jawaban bagi tantang tersebut.
Tetapi, tidak boleh terlalu
mengutamakan kecerdasan anak
dan harus menyeimbangkannya.
Sehingga terciptanya keseimbangan
itu antara cipta, rasa, dan karsa
sesuai yang diinginkan oleh Ki
Hajar Dewantara dalam sistem
Pendidikan.
PEMBAHASAN
Bersumber pada hasil analisa ke-10 artikel jurnal yang telah di review, diperoleh
informasi bahwa konsep merdeka belajar yang di gagas oleh Kementerian Pendidikan,
seirama dengan apa yang di gaungkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam beberapa tahun
silam yang dirasa masih sangat relevan untuk di terapkan di masa sekarang ini. Melihat
esensi utama dari merdeka belajar yang mengedepankan kebebasan berfikir serta
berinovasi bagi guru dan murid akan sangat efektif untuk mengeksplorasi potensi dari
peserta didik itu sendiri. Revolusi industry 4.0 dan peradaban 5.0 telah memberikan
pengaruh terhadap bidang kehidupan, sehingga terjadi disrupsi teknologi dan inovasi,
termasuk dalam pendidikan.
Dalam penelitian yang dilakukan (Dari & Hudaidah, 2021) sistem Among yang
mendorong kodrat alami anak tanpa melalui perintah atau paksaan sehingga
mengembangkan minat, bakat, kreativitas, dan kemampuan berpikir yang memberikan
motivasi dan dorongan agar mahasiswa mau mengeksplorasi tujuan dan makna
hidupnya sehingga mahasiswa menjadi aktif, keaktifan mereka dapat dijadikan acuan
untuk menanamkan nilai karakter yang baik. Sehingga sebagai Generasi milenial
diharapkan dapat mengaktualisasikan konsep pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara
meliputi tindakan, sikap maupun moral dalam kehidupannya.
Di era disrupsi, konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang membawa
kerangka pemikiran profetik menjadi sangat relevan. Ki Hajar Dewantara
menitikberatkan mengenai kemerdekaan belajar atau kebebasan belajar, menurut beliau
kemerdekaan belajar itu terhadap cara berpikir, peserta didik harus dilatih untuk
mencari segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri, dan arti
kemerdekaan menurut beliau dibagi menjadi tiga macam, yaitu berdiri sendiri yang
artinya anak sebagai penguasa dalam belajar, kemudian yang kedua tidak bergantung
kepada orang lain yang artinya anak-anak tidak bergantung kepada guru maupun orang
tua. Meskipun tidak ada keduanya, anak diharapkan bisa untuk belajar sendiri. Yang
ketiga dapat mengatur diri sendiri yang artinya anak harus bisa memilih cara yang
sesuai untuk dirinya belajar, mengatur kegiatannya untuk mencapai tujuan belajar
(Sibagariang et al., 2021).
Sejalan dengan penelitian oleh (Kurniawan et al., 2022) pendidikan yang bisa
menghadapi tantangan zaman ini bukanlah pendidikan yang bersifat partikular.
Pendidikan yang bisa menghadapi tantangan adalah pendidikan yang menyiapkan
peserta didik untuk bisa berpikir secara mandiri dan inovatif serta memberikan bekal
tidak hanya intelektual melainkan juga inovasi dan nilai-nilai moral. Di samping itu,
harus ada pemahaman bahwa teknologi yang ada merupakan alat yang dimanfaatkan
oleh masyarakat. Dengan internalisasi tersebut, kondisi sosial masyarakat akan
bertransformasi menjadi masyarakat yang unggul dan maju serta secara otomatis akan
kompatibel dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tengah berkembang.
Selaras dengan penelitian (Aini, 2020) Ki Hadjar Dewantara memandang
pendidikan sebagai pendorong bagi perkembangan siswa, yaitu pendidikan mengajarkan
untuk mencapai perubahan dan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. Merdeka
belajar merupakan salah satu bentuk implementasi nilai-nilai pembentuk karakter
bangsa dimulai yang dari pembenahan sistem pendidikan dan metode belajar.
Diharapkan merdeka belajar dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik serta
memberikan manfaat pada lingkungan.
Revolusi Industri 4.0 di bidang Pendidikan merupakan respons terhadap
kebutuhan-kebutuhan di revolusi ini, dimana teknologi dan manusia diharuskan sejalan
agar menghasilkan peluang baru dengan inovasi-inovasi baru dan kreatif. Peserta didik
bisa belajar tidak mengenal ruang dan waktu, artinya para peserta didik diberi
kebebasan dalam belajar dengan waktu dan tempat yang fleksibel, teknologi sangat bisa
dimanfaatkan untuk peserta didik untuk belajar tidak mengenal ruang dan waktu. Dan
Era society 5.0 merupakan penyelesaian dari keresahan masyarakat terhadap era
revolusi industri 4.0 mengenai teknologi yang semakin akan menggantikan tenaga
manusia yang mengakibatkan mengurangi lapangan pekerjaan, Era society 5.0 ini
sangat diharapkan untuk dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi. Era society 5.0
dalam bidang pendidikan memungkinkan para peserta didik dalam proses pembelajaran
lebih fleksibel tidak mengenal ruang dan waktu dan adanya atau tanpa pengajar.

SIMPULAN
Revolusi industry 4.0 dan peradaban 5.0 telah memberikan pengaruh terhadap
bidang kehidupan, sehingga terjadi disrupsi teknologi dan inovasi, termasuk dalam
pendidikan. Di era disrupsi, konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang membawa
kerangka pemikiran profetik menjadi sangat relevan. Ki Hajar Dewantara
menitikberatkan mengenai kemerdekaan belajar atau kebebasan belajar, menurut beliau
kemerdekaan belajar itu terhadap cara berpikir, peserta didik harus dilatih untuk
mencari segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Aini, D. K. (2020). Merdeka Belajar dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara dan


Relevansinya bagi Pengembangan Pendidikan Karakter. Jurnal Filsafat Indonesia,
3(3), 95–101.

Dari, U., & Hudaidah. (2021). Implementasi Konsep Pendidikan Karakter Ki hadjar
Dewantara Bagi Mahasiswa Generasi Z. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 3(1),
76–86.

Galuh, A. D., Putri, D. A., & Cahyani, S. A. (2022). Peran Pendidikan Menurut Konsep
Ki Hajar Dewantara Di Era 4.0. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 10298–10302.

Hidayat, R. (2021). Paradigma Pendidikan Profetik dalam Konsep Pendidikan Ki Hajar


Dewantara dan Aktualisasinya di Era Disrupsi. Jurnal Pendidikan Dan Studi
Keislaman, 11(April).

Kurniawan, W., Hidayati, T., & Digital, E. (2022). Relevansi Pendidikan


Berkebudayaan untuk Pendidikan Indonesia dalam Menghadapi Era Digital.
13(2), 826–838.

Nurhalita, N., & Hudaidah. (2021). Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar


Dewantara pada Abad ke 21 Abstrak. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(2),
298–303.

Puspakartika, A., & Syihabuddin. (2022). Relevansi Penerapan Etika Guru dalam
Perspektif Ki Hadjar Dewantara di Era Milenial. Jurnal Pendidikan Dan
Konseling, 4(6), 9868–9874.

Sayyidi, & Sidiq, M. A. H. (2020). Reaktualisasi pendidikan karakter di era disrupsi.


Bidayatuna: Jurnal Pendidikan Guru Mandrasah Ibtidaiyah, 3(1), 1–20.

Schwab, K. (2017). The fourth industrial revolution. Currency.

Sholihah, D. A. (2021). Pendidikan Merdeka dalam Perspektif Ki Hadjar Dewantara


dan Relevansinya Terhadap Merdeka Belajar di Indonesia. Literasi Jurnal Ilmu
Pendidikan, XII(2), 115–122.

Sibagariang, D., Sihotang, H., & Murniarti, E. (2021). Peran Guru Penggerak Dalam
Merdeka Belajar Di Indonesia. Jurnal Dinamika Pendidikan, 14(2), 88–99.

Taufikin, & Ma’shumah, L. A. (2021). Ki Hajar Dewantara ’ s Perspective on The


Concept of Independent Education and Its Relevance to The Independent Learning
in Indonesia. Jurnal Pendidikan Islam, 6(1), 90–110.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional. (2003).
Widyastuti, R. (2021). Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara Degan konsep
Merdeka Belajar. 1068–1077.

Anda mungkin juga menyukai