Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

PEMBAHASAN
Praktikum kali ini yaitu mencari data inventarisasi aset irigasi dan bangunan
irigasi. Pencarian data inventarisasi ini dilakukan dengan cara menyusuri jalur irigasi
dari jalan Letda Lukito Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang dan
berakhir di jalan Kolonel Ahmad Syam Desa Sayang Kecamatan Jatinangor Kabupaten
Sumedang. Jalur irigasi ini ditempuh dengan total jarak 3,68 Kilometer. Ketinggian titik
awal 714 meter dan ketinggian titik akhir 684 meter. Berdasarkan grafik diagram elevasi
dari aplikasi Strava, kontur tanah dari titik awal ke titik akhir merupakan turunan,
sehingga sepanjang jalur irigasi tidak didapati pompa untuk mendorong air karena air
mengalir dengan gravitasi.
Berdasarkan data penyusuran serta wawancara terhadap warga diketahui bahwa
penggunaan jalur irigasi digunakan sebagai air irigasi, air minum, air untuk tanaman dan
air untuk sawah. Pola tanam yang biasa dilakukan oleh warga yaitu padi-padi-palawija.
Tanaman palawija yang seringkali ditanam oleh warga yaitu macam sayuran seperti
cabai, terong dan tomat. Produksi gabah pada sawah biasanya dipengaruhi oleh kondisi
air yang mengairi sawah namun rata-rata yang dihasilkan yaitu 5 kg per 14 m2. Rata-rata
pekerjaan warga di desa jatiroke adalah petani hal ini karena kondisi geografis yang
baik untuk menanam tanaman sehingga dimanfaatkan warga untuk menjadi mata
pencaharian.
Bangunan bendungan pertama ditemukan tidak jauh dari titik awal. Bendungan
pertama memiliki kedalaman sisi kanan 20 cm, tengah 10 cm dan sisi kiri 18 cm. Lebar
sungai yang diukur adalah 3,01 meter. Pengukuran dilakukan menggunakan metode
apung, dengan botol dilakukan 3 kali perhitungan. Ulangan ke-1 didapat 4,45 detik
bagian kanan; 4,11 detik bagian tengah dan 2,06 detik bagian kiri. Berdasarkan hasil
tersebut didapatkan kecepatan air total sebesar 0,952 m/s2 dan luas total sebesar 1,895
m2 sehingga debit aliran air pada bangunan bendungan pertama adalah 1,80404
m3/detik. Bangunan pertama ini merupakan jenis bangunan sadap yang membagi aliran
air dan terletak pada saluran primer. Bangunan kedua ditemukan di desa Jatiroke,
bangunan ini memiliki lebar 130 cm dan kedalaman 14 cm. Bangunan kedua merupakan
bangunan jenis terjun berfungsi menurunkan kecepatan aliran air. Bangunan ketiga
terletak di desa Hegarmanah dengan ketinggian 715,6 meter. Bendungan ini terdiri dari
pintu intake dan pintu pengarus. Muka air kurang dari 25 cm pintu intake akan
membuka sepenuhnya sedangkan pintu penguras ditutup. Muka air antara 25-50 cm
pintu intake akan membuka sesuai keperluannya sedangkan pintu penguras membuka
15 cm. Muka air lebih dari 50 cm pintu intake ditutup dan pintu penguras ditutup. Jika
pengurus setelah banjir mulai surut maka pintu intake ditutup dan pintu penguras dibuka
sepenuhnya. Bangunan ketiga ini merupakan bangunan sadap. Bangunan keempat
memiliki lebar sungai 3,5 meter dan lebar pintu air 40 cm. Bangunan ini memiliki 3
pintu yang berfunsi untuk membagi saluran ke dalam 3 saluran baru.
Setiap bangunan yang ditemui hampir semuanya masih berfungsi sesuai
fungsinya. Namun hanya beberapa yang telah hilang komponennya dan tersumbat
sampah. Keempat bangunan yang ditemui bangunan pertama bagian bangunannya
sudah tidak berfungsi yaitu stir kemudi yang menaik turunkan pintu air. Bangunan
ketiga dari komponen bagiannya tidak ada stir kemudinya dan pada pintu keluaran
airnya tersumbat oleh sampah sehingga volume air yang seharusnya keluar cukup
terganggu. Bangunan kedua dan keempat fungsinya sangat baik dan komponen-
komponen bangunannya masih utuh.
Berdasarkan pengamatan ketersediaan air pada jalur irigasi masih terbilang sangat
baik. Volume air tidak menunjukkan kekurangan serta pesawahan atau perkebunan tidak
mengalami kekeringan. Banyak para warga yang sangat terbantu dengan adanya jalur
irigasi ini. Tidak hanya digunakan untuk pertanian, ketika menyusuri jalur irigasi
banyak warga yang menggunakan air ini untuk keperluan rumah tangga, seperti
menyuci motor hingga karpet. Namun air pada jalur irigasi ini cukup keruh dan dapat
berakibat pada kesehatan para warga jika terlalu banyak menngonsumsi air tanpa di
saring terlebih dahulu. Sepanjang jalur irigasi hanya ada satu kantor pelayanan untuk
daerah irigasi yaitu BBWS Citarum yang terletak jalan Cikeruh.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali ini adalah:
1. Jalur irigasi ini ditempuh dengan total jarak 3,68 Kilometer dengan ketinggian
titik awal 714 meter dan ketinggian titik akhir 684 meter;
2. Terdapat 4 bangunan bendungan yang ditemui sepanjang jalur irigasi;
3. Pola tanam yang biasa dilakukan oleh warga yaitu padi-padi-palawija dan
tanaman palawija yang seringkali ditanam oleh warga yaitu macam sayuran
seperti cabai, terong dan tomat;
4. Produksi gabah pada sawah biasanya dipengaruhi oleh kondisi air yang mengairi
sawah namun rata-rata yang dihasilkan yaitu 5 kg per 14 m2; dan
5. Terdapat 4 bangunan sepanjang jalur irigasi yaitu tiga bangunan sadap dan satu
terjun.

5.2 Saran
Saran praktikum kali ini adalah dilakukan pematerian dan pengawasan di
lapangan sehingga praktikan dapat mengetahui poin-poin yang mesti didapatkan.

Anda mungkin juga menyukai