Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan faktor penting dalam bercocok tanam. Suatu sistem irigasi
yang baik akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang optimal. Antara air dan
tanaman mempunyai hubungan yang erat karena pentingnya fungsi air dalam
penyelenggaraan dan kelangsungan hidup tanaman.
Kegiatan irigasi dalam proses produksi tanaman pangan merupakan salah
satu kegiatan yang penting. Yang dimaksud dengan irigasi itu sendiri adalah usaha
untuk memperoleh air yang menggunakan bangunan dan saluran buatan unuk
keperluan produksi tanaman. Tujuan irigasi ini adalah untuk memanfaatkan air
irigasi yang tersedia secara benar yakni seefisien dan seefektif mungkin. Dengan
ini proses produksi pertanian akan berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Input
faktor lainnya seperti tenaga kerja, bibit, saprodi (sarana produksi) serta
pemberantasan hama tidak akan berarti jika air tidak tersedia. Selain itu jika pada
pertengahan proses produksi terjadi kekurangan air atau terjadi kekeringan akan
berpengaruh pada penurunan hasil bahkan dapat menyebabkan puso (gagal
panen).
Untuk memanfaatkan air irigasi secara efektif dan efisien, pada tingkat
usaha tani dilakukan kegiatan tata guna air tingkat usaha tani yang kegiatan
utamanya mulai dari penerimaan air pada petak sawah tersier, pengaliran air
melalui saluran tersier ataupun kuarter serta pembagiannya pada blok – blok petak
usaha tani sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan oleh komoditas
tanaman pangan pada tingkat usaha tani. Kegiatan ini harus didukung oleh
kelompok tani atau Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). (Ir. Ngentem Malem
Sinulingga).
Irigasi di Indonesia telah ada sejak beberapa abad yang lalu, sebelum
orang Hindu datang ke Indonesia. daerah irigasi di Wilayah I Kabupaten Cianjur
memiliki 8 Daerah Irigasi dintaranya Daerah Irigasi Gunung Lanjung/Rawa Peuti,
Ciraden/Cibalu, Cianjur Leutik, Cimenteng/Ciembe, Cibalagung, Ciheulang,
Cisarua II/Lw. Jubleg, Cipanyusuhan/Citalib.

1
Bendung Cimenteng bertujuan untuk mengairi daerah irigasi teknis yang
bertujuan meningkatkan tingkat kualitas dan kuantitas produksi usaha tani di
Kabupaten Cianjur khususnya Daerah Irigasi Cimenteng.
Daerah Irigasi Cimenteng berasal dari Bendung Sungai Cibalagung.
Daerah Irigasi ini dilalui oleh daerah Irigasi sebelumnya yaitu Daerah irigasi
Cibalagung dan daerah irigasi yang paling hulu di wilayah 1 ini adalah Daerah
Irigasi Rawa Peuti/Gunung Lanjung. Daerah Irigasi ini berada dibawah
kewenangan Cabang Dinas Pengeloaan Sumber Daya Air dan Pertambangan
(PSDA dan P) Kabupaten Cianjur dan masyarakat setempat yang mempergunakan
air irigasi ini untuk keperluan lahan pertanian mereka untuk meningkatkan
produksi pertanian mereka dengan pengawasan dari Dinas PSDA dan P
Kabupaten Cianjur.
Mahasiswa Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian Universitas
Padjadjaran telah melakukan praktek kerja lapang di Daerah Irigasi Cimenteng
selama kurang lebih 1 bulan, dimana laporan ini dalam bentuk laporan deskripsi
mengenai “Perencanaan Pembagian Air di Daerah Irigasi Cimenteng”.

1.2 Tujuan Praktek Kerja Lapang


1.2.1 Tujuan Instruksional Umum
Setelah melaksanakan kegiatan praktek kerja lapang diharapkan
mahasiswa mampu mengetahui, mengenal, mengidentifikasikan, memecahkan
persoalan dalam pengelolaan suatu daerah irigasi serta mendapatkan pengetahuan
dan pemahaman tentang rangkaian – rangkaian kegiatan pada institusi tersebut.
1.2.2 Tujuan Instruksional Khusus
Adapun Tujuan Instruksional Khusus dari kegiatan Praktek Kerja Lapang ini
adalah:
1. Mahasiswa mendapatkan informasi dan pengalaman baru bagaimana cara
mengukur curah hujan dan debit air di daerah irigasi yang tidak diperoleh
diperkuliahan.
2. Mahasiswa dapat memahami bagaimana pengaturan dalam ketersediaan
air dari pola tanam, jadwal tanam dan pemberian air irigasi pada lahan
pertanian petani di suatu daerah irigasi.

2
1.3 Tujuan Penulisan Laporan Praktek Kerja Lapang
Tujuan dari penulisan laporan Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk
memberi petunjuk dan gambaran tentang bagaimana ketersediaan air pada daerah
irigasi. Laporan ini merupakan catatan kerja selama pelaksanaan praktek kerja
lapang yang merupakan laporan dari data – data sekunder di dinas dan hasil
pemantauan di lapangan yaitu di Daerah Irigasi Cimenteng.

1.4 Kegunaan Praktek Kerja Lapang


Kegunaan praktek kerja di Daerah Irigasi Cimenteng ini diantaranya:
1. Secara langsung mahasiswa memperoleh pengalaman kerja praktek dalam
menentukan pola tanam di suatu daerah irigasi.
2. Sebagai sarana dalam memperdalam ilmu yang diperoleh di perguruan
tinggi selama menuntut ilmu ataupun dilapangan.
3. Dapat membandingkan kajian teoritis dengan praktek – praktek selama
dilapangan.

1.5 Ruang Lingkup Permasalahan


Mendeskripsikan dalam Pengaturan Ketersediaan Air di Daerah Irigasi
Cimenteng Cabang Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan
Wilayah I Kabupaten Cianjur yang dilaksanakan pada saat praktek kerja lapang
termasuk didalamnya survey di daerah tersebut.

1.6 Metode Praktek Kerja Lapang


Metode praktek kerja lapang yang digunakan di Daerah Irigasi Cimenteng
meliputi prosedur kerja pengumpulan dan pengolahan data. Data yang diperoleh
merupakan data sekunder yang didapat dari Kantor Dinas Pengelolaan Sumber
Daya Air dan Pertambangan (PSDA dan P) Wilayah I Kabupaten Cianjur, untuk
melengkapi tulisan dan menganalisis keadaan dilakukan dengan mengikuti
kegiatan pemeriksaan bangunan air seminggu sekali dengan staf pegawai dan juru
pengairan di Daerah Irigasi Cimenteng yang berhubungan dengan kegiatan
pendataan serta studi pustaka yang diambil dari beberapa literatur dan laporan –
laporan hasil penelitian.

3
1.7 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapang dimulai dari tanggal 16 Februari
sampai dengan 27 Maret 2010, waktu praktek disesuaikan dengan jam kerja
Kantor Cabang Dinas PSDA dan P yaitu dari Hari Senin sampai Jumat di mulai
pukul 08.00 sampai dengan pukul 15.00 WIB.

4
BAB II
TINJAUAN UMUM DAERAH IRIGASI CIMENTENG

2.1 Sejarah Daerah Irigasi Cimenteng


Daerah Irigasi Cimenteng mempunyai luas potensial 20003 ha. Luas areal
yang diairi berdasarkan sistem jaringan yang ada adalah seluas 1636 ha. Sehingga
klasifikasi jaringan Daerah Irigasi Cimenteng adalah termasuk tipe irigasi sedang
karena luas areal yang diairi adalah lebih besar dari 400 ha.
Daerah Irigasi Cimenteng dilalui oleh bangunan utama berupa bendung
yang disebut Bendung Cimenteng. Bendung Cimenteng terletak di Sungai
Cibalagung tetapi diberi nama sebagai Bendung Cimenteng. Nama Cimenteng
tersebut kemungkinan diambil dari nama desa. Namun setelah diperiksa di peta,
Cimenteng ternyata bukan nama desa tetapi merupakan nama sungai yang berada
di Kota Cianjur. Karena nama Cimenteng sudah populer maka pemberian nama
pada jaringan irigasi ini dipertahankan.
Bendung Cimenteng terdiri dari satu intake (saluran pemasukan air
irigasi). Kondisi bendung saat ini masih cukup baik, sedangkan pada bangunan
sadap hampir seluruhnya dalam kondisi rusak ringan. Areal irigasi pada Daerah
Irigasi Cimenteng termasuk kategori semi teknis, dimana air irigasi hanya pada
bagian intake (saluran pemasukan air irigasi) saja yang dapat diukur dengan baik.
Pada sistem pemberian air telah terjadi penurunan dalam efisiensi serta
keefektifannya yang disebabkan karena adanya kerusakan – kerusakan pada
bangunan air dan saluran irigasi di Daerah Irigasi Cimenteng.
Jaringan Irigasi Cimenteng merupakan bangunan peninggalan pada masa
penjajahan Belanda. Jaringan irigasi tersebut direhabilitasi serta ditingkatkan
menjadi jaringan irigasi semi teknis pada tahun anggaran 1980/1981. Sehubungan
kurang pemeliharaan dan faktor usia maka kondisi jaringan irigasi tersebut saat ini
banyak yang rusak dan memerlukan perbaikan.
Pada waktu survey dan inventarisasi sistem jaringan Daerah Irigasi
Cimenteng dalam rangka pelaksanaan survey dan Design Special Maintenance.
Ditemukan bahwa Daerah Irigasi Cimenteng mendapat suplai air dari beberapa
Daerah Irigasi. Hal ini terlihat dengan adanya beberapa bangunan pelengkap

5
berupa talang yang menyuplai air buangan dari Daerah Irigasi Cibalu, serta
terlihat dari adanya Bendung Benda, Bendung Cidomba, Bendung Cikaro Belah
atau bendung desa lainnya yang menyediakan air untuk menyuplai Daerah Irigasi
Cimenteng.
Berdasarkan hasil penyempurnaan peta skala 1 : 5000, luas fungsional
Daerah Irigasi Cimenteng adalah sebesar 1.534, 30 ha. Selain itu petak tersier ada
yang lebih besar dari 150 ha bahkan mencapai luasan 379 ha, yang mana hal ini
perlu dievaluasi kembali apakah luasnya perlu diperkecil sesuai standar irigasi
sebagai upaya menciptakan sistem operasional yang efektif dan efisien.

2.2 Keadaan Daerah Irigasi Cimenteng


2.2.1 Bendung Cimenteng
Kondisi Bendung Cimenteng masih cukup baik, data teknis bendung
adalah sebagai berikut:
- Lebar bendung 10,00 meter
- Elevasi Mercu Bendung + 496,946 meter
- Tinggi Bendung 0,65 meter
- Lebar Pintu Intake 2 x 1,00 meter
- Lebar Pintu Penguras 1,20 meter
- Tipe Bendung Bendung tetap dengan bentuk mercu bulat
- Ruang Olak Pasangan Batu kali

Gambar 1. Bendung Cimenteng

6
Gambar 2. Saluran Induk Cimenteng

2.2.2 Saluran Pembawa


Saluran Pembawa yang telah ada di Daerah Irigasi Cimenteng terdiri dari
Saluran Induk Cimenteng dan Saluran Sekunder Ciembe.
Panjang saluran Pembawa di D. I Cimenteng adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Data Panjang Saluran Daerah Irigasi Cimenteng


No. Saluran Irigasi Panjang (meter)
1 Saluran Induk Cimenteng 2.759,00
2 Saluran Sekunder Ciembe 5.030,00
3 Saluran tersier 30.550,00
4 Saluran kuarter 51.800,00

2.2.3 Saluran Pembuang


Pada Daerah Irigasi Cimenteng, saluran pembuang yang berfungsi sebagai
pembuangan air akibat kelebihan air irigasi dan akibat air hujan dialirkan secara
alami sepanjang 15,10 km. Berdasarkan pengamatan di lapangan maka pengaliran
air yang ada cukup mampu untuk mengalirkan debit buangan tersebut. Selama ini
tidak ada keluhan dari masyarakat akan adanya penggenangan apalagi
penggenangan yang sampai merusak tanaman.

2.2.4 Bangunan – Bangunan Air


Bangunan – bangunan air yang ada di Daerah Irigasi Cimenteng dapat
dilihat pada Tabel 2 berikut ini:

Tabel 2. Banyaknya Bangunan Air di Daerah Irigasi Cimenteng


No. Bangunan Air Banyaknya

7
1 Bangunan Bagi/Sadap 1 buah
2 Bangunan Sadap 38 buah
3 Bangunan Jembatan Kendaraan 12 buah
4 Bangunan Jembatan Orang 1 buah
5 Bangunan Suplesi 10 buah
6 Bangunan Talang Tersier 3 buah
7 Bangunan Gorong – Gorong Jalan 3 buah
8 Bangunan Pelimpah Samping 2 buah
9 Bangunan Terjun 1 buah
10 Bangunan Siphon 2 buah
11 Bangunan Ukur 3 buah

Beberapa Bangunan Sadap kondisinya sudah tidak berfungsi lagi. Pintu –


pintu pengambilan sebagian telah rusak dan pasangan pada bangunan sebagian
telah rusak. Kondisi bangunan pelengkap sebagian besar pada bagian tembok
sayap dan pasangan lantai rusak berat.

Gambar 3. Bangunan Terjun D.I Cimenteng

Gambar 4. Bangunan Talang air D.I Cimenteng

2.2.5 Bangunan lain yang berhubungan

8
Daerah Irigasi Cimenteng mengambil air dari Bendung Cimenteng pada
Sungai Cibalagung yang bermata air dari Gunung Geulis, Gunung Balukbuk,
Gunung Gedogan, dan Gunung Lanjung. Di sebelah hulu Bendung Cimenteng
merupakan daerah dataran dan perbukitan mulai dari Desa Pasir Muncang sampai
dengan Desa Legok Kuda. Sepanjang daerah tersebut telah terdapat daerah irigasi
teknis yaitu Daerah Irigasi Cicadas dan Daerah Irigasi Kecil (Daerah Irigasi Desa)
yang luas layanannya berkisar antara 10 ha sampai 50 ha dengan memanfaatkan
mata air dari pegunungan seperti mata air Cibojong, Citundagan, Ciserepong, dan
Pacet yang merupakan mata air Sungai Cibalagung. Mata air yang ada di bagian
hulu perlu mendapat perhatian lebih jauh, karena mata air tersebut merupakan
mata air utama bagi Sungai Cibalagung. Pada saat mata air di bagian hulu disadap
otomatis akan mempengaruhi persediaan air Sungai Cibalagung, demikian juga
apabila air buangan dari sawah bagian atas berpindah ke anak sungai yang bukan
bermuara ke Sungai Cibalagung. Berdasarkan pengamatan, sawah yang ada di
bagian hulu tidak seluruhnya mendapatkan air dari mata air, melainkan ada
beberapa petak yang masih merupakan sawah tadah hujan.
Daerah Irigasi lain yang letaknya berdampingan dengan Daerah Irigasi
Cimenteng adalah Daerah Irigasi Cikaro Belah dan Daerah Irigasi Cibalu. Yang
mempunyai hubungan jaringan dengan Daerah Irigasi Cimenteng adalah Daerah
Irigasi Cibalu karena saat ini menyuplai air melalui bangunan sadap yang
dialirkan melalui talang tersier untuk mengairi petak tersier.

2.3 Lokasi Daerah Irigasi


Daerah Irigasi Cimenteng terletak pada 0o 321 1511 BT dan 6o 431 2911 LS
yang membentang dari Barat ke Timur. Bila ditinjau secara Kedinasan
Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDA dan P), secara
administratif daerah irigasi ini termasuk ke dalam wilayah:
• Desa – desa : Bojong Herang, Hegarmanah, Muka, Sabandar,
Bojong, Sukataris, Ciherang, Sindanglaka,
Sukamantri, Sukasarana.
• Kecamatan : Karang Tengah, Cianjur Kota.

9
• Kabupaten : Daerah Tingkat II Cianjur.
• Propinsi : Jawa Barat.
Batas – batas Daerah Irigasi Cimenteng :
• Sebelah Utara dibatasi oleh Sungai Cibalagung dan Daerah Irigasi Cikaro
Belah.
• Sebelah Selatan dibatasi oleh Daerah Irigasi Cibalu dan Sungai Ciheulang.
• Sebelah Timur dibatasi oleh Kampung Cibalagung , Kampung Rawa Selar
dan Kampung Citalang.
• Sebelah Barat dibatasi oleh Saluran Induk Cimenteng.

2.4 Keadaan Tanah


Untuk Daerah Irigasi Cimenteng tanahnya mempunyai ciri – ciri sebagai
berikut :
• Daya infiltrasi (serap) sedang.
• Nilai perkolasi pada tanah di Daerah Irigasi Cimenteng sebesar 2 mm/hari.
• Lapisan tanah dimana air mudah meresap ke dalam tanah, sehingga run off
kecil.
• Nilai untuk hydrology soil group Daerah Irigasi Cimenteng sebesar 81 .
• Waktu yang dibutuhkan untuk penyiapan lahan untuk tanaman padi di
Daerah Irigasi Cimenteng adalah 45 hari.
Berdasarkan pengamatan visual, tipe tanah pada Daerah Irigasi Cimenteng
dapat diklasifikasi tipe tanah lempung kelanauan dengan porositas sedang dan
plastisitas sedang. (Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Cianjur).

2.5 Sumber Air


Daerah Irigasi Cimenteng diairi dari bendung Cimenteng yang dibangun di
Kali Cibalagung yang terletak di Kampung Cikadu Desa Bojong Herang. Seluruh
areal daerah irigasi diairi melalui Saluran Induk Cimenteng dan Saluran Sekunder
Ciembe disertai dengan jaringan tersiernya.

2.6 Areal Irigasi


2.6.1 Areal Potensial dan Fungsional

10
Dalam suatu daerah irigasi, areal irigasi dapat digolongkan menjadi areal
potensial dan areal fungsional. Areal potensial adalah daerah yang mempunyai
kemungkinan baik untuk dikembangkan, sedangkan areal fungsional adalah
bagian dari areal potensial yang telah memiliki jaringan irigasi yang telah
dikembangkan. Luas areal fungsional adalah sama atau lebih kecil dari areal
potensial.
Berdasarkan buku data Daerah Irigasi Cimenteng, ruas areal potensial
adalah 2.000 ha dan luas areal fungsional adalah 1.636 ha. Sedangkan berdasarkan
hasil penyempurnaan peta skala 1 : 5000, luas areal fungsional adalah 1.534, 30
ha. Data luas areal fungsional Daerah Irigasi Cimenteng dapat dilihat pada
Lampiran 1.

2.6.2 Petak Tersier


Perencanaan dasar yang berkenaan dengan unit tanah adalah unit tersier.
Petak tersier menerima air yang dialirkan dan diukur pada Bangunan Sadap (off
take) tersier. Pengelolaan jaringan tersier ditangani oleh P3A (Perkumpulan Petani
Pemakai Air) dengan pembinaan teknis dari Dinas PSDA dan Dinas Pertanian.
Luas petak yang ideal adalah antara 50 ha – 150 ha. Petak tersier dibagi menjadi
petak – petak kuarter dengan luas kurang lebih 8 - 15 ha.

2.7 Jaringan Fisik


2.7.1 Bangunan utama
Untuk mengairi areal sawah pada Daerah Irigasi Cimenteng dengan luas
1. 534, 30 ha, air diambil dari Kali Cibalagung melalui Bendung Cimenteng.
Bendung ini dibangun berkisar tahun 1927 dan sudah beberapa kali dilaksanakan
rehabilitasi. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan menunjukan bahwa kondisi
bendung cukup baik dan agar lebih sempurna maka dipandang perlu untuk
dilaksanakan perbaikan kecil.

2.7.2 Data Teknis dan Kondisi Bendung


Bendung Cimenteng terbuat dari pasangan Batu Kali dan pada bagian
mercu bendung dilapisi dengan Batu Candi. Semula direncanakan sebagai
peninggi muka air, tetapi saat ini bagian depan bendung sudah penuh dengan pasir
dan batu berukuran besar, bahkan di depan intake sekarang ini penuh dengan

11
tumpukan pasir dan batu. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut pada Bendung
Cimenteng, apakah pembilasan dapat berjalan dengan sempurna dan apakah debit
yang dibutuhkan pada intake sudah bisa dipenuhi. Kondisi saat ini adalah elevasi
dasar pembilas sama dengan elevasi mercu bendung, sehingga bisa dikatakan
bahwa pada Bendung Cimenteng ini tidak ada pembilas.

Gambar 5. Bendung Cimenteng yang dibuat dari Batu Kali

Pelimpah Bendung Cimenteng dibuat dari pasangan Batu Kali dengan


lebar ambang 0,70 m, tinggi mercu 0,65 m dari dasar sungai dan lebar bentang
efektif pelimpah 10,00 m. Tembok sayap sebelah kanan setinggi 2,40 m dan sayap
sebelah kiri 2,40 m di atas mercu bendung/pelimpah. Dibagian hilir pelimpah
terdapat ruang olak dari pasangan Batu Kali yang sudah hancur.
Bendung dilengkapi dengan pintu penguras (pembilas utama)
menggunakan pintu sorong kayu yang terdiri dari satu bukaan dengan lebar 1,20
m, lebar pilar adalah 0,80 m dari pasangan Batu Kali.
Pintu pengambilan terdiri dari dua bukaan dengan ukuran 2 x 1,00 m. Saat
ini di depan intake telah banyak endapan berupa pasir dan batu.
Penjelasan singkat mengenai kondisi Bendung Cimenteng:
• Lokasi bendung sudah sesuai dengan kondisi topografi yang ada di
lapangan.
• Tidak ada konstruksi sand trap (kantong lumpur), secara visual kualitas air
yang digunakan untuk tanaman tidak keruh.
• Elevasi mercu bendung sudah cukup untuk dapat mengairi areal
persawahan.

12
BAB III
URAIAN KEGIATAN

3.1 Jenis kegiatan selama Praktek Kerja Lapang dalam menyusun


perencanaan pembagian air meliputi tahapan - tahapan:
1. Melakukan Pengukuran Curah Hujan dan Debit Air di Daerah Irigasi
Cimenteng
2. Penetapan Pola Tanam
3. Usulan Rencana Golongan Tanaman

13
4. Giliran Pemberian Air
5. Grafik Keseimbangan Air

3.2 Prosedur Kegiatan Praktek Kerja Lapang

Mulai Praktek Kerja Lapang

Pengumpulan Data, meliputi:


1. Data Curah Hujan D.I Cimenteng
2. Data Debit Air D.I Cimenteng
3. Data Usulan Rencana Tanam D.I
Cimenteng
4. Sistem Giliran Pembagian Air D.I
Cimenteng
5. Grafik Keseimbangan Air

Pengukuran selama Praktek Kerja Pengambilan data:


Lapang 1. Data curah hujan
2. Debit air
3. Kebutuhan air
Pengukuran Curah Hujan Pengukuran Debit Air 4. Pembagian air
D.I Cimenteng D.I Cimenteng 5. Grafik neraca air

Pengolahan data

Model Perencanaan Pembagian Air D.I Cimenteng

Selesai

Gambar 5. Diagram Proses Kegiatan Praktek Kerja Lapang

3.3 Pengukuran Curah Hujan


3.3.1 Waktu Pelaksanaan
Pengukuran dilakukan pada pagi hari pukul 07.00 WIB setiap harinya
selama sebulan.
3.3.2 Alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan diantaranya:
1. Penakar hujan manual tipe obsevasi (Ombrometer).
2. Gelas ukur dalam satuan mm.
Daerah Irigasi Cimenteng menggunakan alat penakar curah hujan manual
seperti terlihat pada Gambar 6.

14
3.3.3 Cara Pelaksanaan
Pengukuran curah hujan dapat dilakukan melalui tahapan – tahapan
sebagai berikut ini:
1. Gelas ukur terlebih dahulu disiapkan dalam keadaan kosong untuk
menampung air hujan.
2. Simpan gelas ukur dalam badan alat penakar curah hujan.
3. Setelah seharian disimpan (24 jam), keesokan harinya diperiksa air
hujan yang tertampung dalam gelas ukur di pagi hari sekitar pada
pukul 07.00 WIB.
4. Baca volume curah hujan yang tertampung dalam gelas ukur (dalam
satuan mm).
5. Catat hasilnya untuk dijadikan data curah hujan hari sebelumnya,
seperti terlihat pada Tabel 3 berikut ini.

Gambar 6. Alat Penakar Curah Hujan

3.3.4 Hasil Pencatatan Curah Hujan Bulanan (dalam mm)


No. Stasiun : 117 e Cabang Dinas : Wilayah I Cianjur
Stasiun Curah Hujan : Ciheulang Kecamatan : Karang Tengah
Bulan : Februari Tahun : 2010

Tabel 3. Curah Hujan Bulanan Pada Stasiun Curah Hujan Ciheulang


NA NA
Tanggal Tanggal
NO NO
1 4 16 20
2 - 17 80
3 - 18 5
4 10 19 14

15
5 32 20 4
6 - 21 -
7 - 22 5
8 15 23 -
9 - 24 7
10 120 25 -
11 - 26 -
12 42 27 -
13 - 28 12
14 - 29 -
15 14 30 -
Jumlah (mm) 237 Jumlah (mm) 147
Jumlah hari Jumlah hari
7 8
hujan (mm/hr) hujan (mm/hr)
Hujan minimum 4 Hujan minimum 4
Hujan Hujan
120 80
maksimum maksimum
Penjelasan:
1. Pencatatan dilakukan jam 07.00 WIB.
2. NO : Nomor Stasiun Hujan.
NA : Nama Stasiun Hujan.
3. Penjumlahan dan perhitungan rata – rata dilakukan oleh Cabang Dinas
PSDA dan P Wiayah I Kabupaten Cianjur.
4. Curah Hujan > 75 mm/hari, segera dilaporkan ke cabang dinas.
5. Perhitungan yang diukur, ditulis pada tanggal pengukuran.
Data curah hujan pada setiap stasiun curah hujan Cabang Dinas
PSDA dan P Wilayah I Kabupaten Cianjur dapat dilihat pada Lampiran 3.
Dibawah ini merupakan data rata – rata curah hujan pada tahun 2004 – 2009 di
setiap stasiun curah hujan Dinas PSDA dan P Wilayah I Kabupaten Cianjur.

Tabel 4. Rata – rata Curah Hujan Di Stasiun Curah Hujan Cipanyusuhan


Tahun
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
2004 -2009
Rata – rata
9.9 12.3 11.8 12.94 10.82 5.27 8.6 4.77 12.4 13.85 11.65 12.59
(mm)

Tabel 5. Rata - rata Curah Hujan Di Stasiun Curah Hujan Ciheulang


Tahun
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
2004 -2009
Rata – rata
11.37 14.65 13.75 18.9 17.55 12.8 10.8 12.7 13.5 18.05 13.28 15.1
(mm)

Tabel 6. Rata – rata Curah Hujan Di Stasiun Curah Hujan Cianjur Kota
Tahun
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
2004 -2009
Rata – rata
11.38 11.94 14.9 14.1 12.9 15.75 3.03 6.29 11.9 17.85 17.41 14.31
(mm)

16
Cabang Dinas PSDA dan P Wilayah I Kabupaten Cianjur memiliki 3
stasiun curah hujan, diantaranya:
1. Stasiun Curah Hujan Cipanyusuhan di Kecamatan Sukaluyu.
2. Stasiun Curah Hujan Ciheulang di Kecamatan Karang Tengah.
3. Stasiun Curah Hujan Cianjur Kota di Kecamatan Cianjur.

3.4 Pengukuran Debit Air


3.4.1 Waktu Pengukuran
Waktu Pengukuran dilakukan sehari sekali pukul 07.00 WIB.
3.4.2 Penggunaan Alat
Alat yang digunakan oleh petugas pengairan di Daerah Irigasi Cimenteng
untuk menentukan debit air menggunakan papan duga (Peilschaal) seperti terlihat
pada Gambar 7 berikut ini. Alat ini dipasang di tepi sungai yang dipasang tegak
lurus dan menggunakan tabel konversi ambang lebar untuk menentukan debit air
yang ada di saluran irigasi sekunder.

Gambar 7. Papan duga (Peilschaal)

3.4.3 Prosedur Pelaksanaan


Untuk mengukur debit air irigasi di saluran irigasi Cimenteng, dimulai
dengan melihat ketinggian muka air pada pintu ukur saluran irigasi sekunder dan
saluran irigasi tersier D.I Cimenteng lalu dicatat dan dikonversi dengan
menggunakan tabel hasil konversi pada setiap pintu Bagi untuk menghitung debit
air, hasil konversi menggunakan persamaan – persamaan perhitungan debit air
yang telah ditetapkan oleh Daerah Irigasi Cimenteng.
3.4.4 Hasil

17
Data debit air yang mengalir pada Sungai Cibalagung Daerah Irigasi
Cimenteng Kabupaten Cianjur pada Bulan Maret 2010 dapat dilihat pada Tabel 7
berikut ini.

Tabel 7. Debit Air Bulan Maret 2010 D. I Cimenteng Kabupaten Cianjur


Drample (Bangunan Bendung Saluran Induk
Cimenteng) Meetchot
No. panjang 12 meter (3m), ambang lebar Jumlah
cm L/det (*) cm L/det (*)
1 4 240 32 1010 1250
2 4 240 32 1010 1250
3 5 320 32 1010 1330
4 6 410 32 1010 1420
5 6 410 32 1010 1420
6 6 410 31 900 1360
7 7 510 31 900 1460
8 7 510 31 900 1460
cm L/det (*) cm L/det (*)
9 7 510 33 1059 1569
10 6 410 31 950 1360
11 6 410 33 1059 1469
12 6 410 32 1010 1420
13 6 410 32 1010 1420
14 6 410 31 900 1360
15 6 410 31 900 1360
Jumlah 21418
Rata-rata ½ bulanan 1427
16 5 320 31 900 1270
17 5 320 31 900 1270
18 5 320 31 900 1270
19 6 410 32 1010 1420
20 6 410 32 1010 1420
21 6 410 32 1010 1420
22 6 410 32 1010 1420

18
23 6 410 32 1010 1420
24 5 320 31 900 1270
25 5 320 31 900 1270
26 5 320 31 900 1270
27 5 320 31 900 1270
28 5 320 31 900 1270
29 6 410 33 1059 1469
30 6 410 33 1059 1469
31 6 410 33 1059 1469
Jumlah 21667
Rata-rata ½ bulanan 1354
* Catatan gunakan tabel konversi debit air

Data debit rata – rata setengah bulanan dan debit air andalan selama 10
tahun terakhir di Bendung Cimenteng dapat dilihat pada Lampiran 4.
Daftar tabel ukuran air yang mengalir melalui Bendung Cimenteng dapat
dilihat pada Tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8. Konversi Ukuran Air yang Mengalir melalui Bendung Cimenteng,


Sungai Cibalagung
Banyak Air Ukuran Panjang Drample (Bangunan Bendung Cimenteng)
H (Tinggi/cm) 4m 5m 8m 8.5 m 10 m 10.5 m 11 m 12 m
L/det L/det L/det L/det L/det L/det L/det L/det
1 12 15 20 23 30 28 29 31
2 28 35 56 60 70 72 76 84
3 43 65 93 104 120 135 22 160
4 81 97 160 173 195 210 220 240
5 120 140 173 220 260 270 290 320
6 115 180 240 300 320 347 363 410
7 180 240 350 380 425 460 470 510
8 210 300 423 443 560 578 580 650
9 230 330 498 520 619 630 645 718
10 295 389 550 630 710 760 790 880
11 348 445 690 730 880 900 940 1050
12 400 500 770 825 1050 1050 1070 1190
13 465 590 880 900 1100 1150 1200 1300
14 510 630 960 1050 1200 1240 1300 1410
15 570 670 1100 1100 1340 1400 1475 1620
16 598 720 1200 1250 1450 1550 1625 1775
17 650 810 1320 1300 1600 1650 1775 1856
18 700 880 1400 1500 1780 1820 1920 2100
19 760 970 1525 1600 1900 2000 2100 2300
20 880 1090 1670 1770 2100 2200 2200 2500
21 910 1125 1780 1850 2240 2300 2400 2600
22 950 1190 1900 2030 2400 2550 2600 2900
23 1050 1250 2100 2150 2500 2600 2750 3020
24 1075 1300 2150 2270 2650 2700 2900 3150
25 1150 1400 2230 2490 2800 2950 3050 3350
Pada Bendung Cimenteng panjang bendung 12 m, sehingga yang dipakai pada pengukuran debit adalah yang
12 m sesuai dengan ketinggian air pada bendung (H).

19
Gol Luas Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sept
. (Ha) 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2

133
2
2 Masa Tanam Pertama Masa Tanam Kedua Masa Tanam Ketiga

3.5 Pola Tanam


Prosedur dalam pengaturan pola tanam di Daerah Irigasi Cimenteng ini
adalah dimulai dari:
1. Menentukan curah hujan dan debit air di Daerah Irigasi Cimenteng.
2. Menentukan golongan tanam di Daerah Irigasi Cimenteng.
Tabel 9. Kalender Tanam Tahun 2008 D. I Cimenteng Kabupaten Cianjur
Keterangan

: Padi, Bulan---1 = Setengah bulanan pertama bulan tersebut.

: Palawija, Bulan---2 = Setengah bulanan kedua bulan tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan dan hasil debit air andalan yang
tersedia untuk pola tanam Daerah Irigasi Cimenteng, cukup mampu untuk
mengairi sawah sepanjang tahun dengan pola tanam padi – padi – palawija.
Selama ini pola tanam yang sudah berjalan di daerah irigasi ini adalah padi – padi
- palawija, dan para petani tetap berusaha untuk menerapkan pola tanam tersebut
secara terus menerus. Jenis tanaman palawija pada umumnya adalah jenis
tanaman kacang kedelai. Diharapkan agar di masa yang akan datang untuk jenis

20
tanaman palawija pada masa tanam ketiga bisa lebih ditingkatkan, dimana petani
bisa menggunakan jenis tanaman palawija lain yang lebih menguntungkan.
Setelah masa tanam palawija, disusul dengan masa pengeringan saluran untuk
jangka waktu 15 hari untuk memungkinkan pemeliharaan saluran dan bangunan
serta menginspeksi jaringan irigasi. Pada daerah irigasi ini, varietas padi ditanam
dengan masa pertumbuhan seluruhnya 4 bulan, termasuk 45 hari dipergunakan
untuk pengolahan tanah dan memindahkan bibit. Musim hujan yang cukup
diperkirakan diperoleh pada pertengahan Bulan Oktober.
Berikut ini hasil analisis selama Praktek Kerja Lapang mengenai luas daerah
irigasi dan satuan kebutuhan air dari setiap masa tanam di Daerah Irigasi
Cimenteng Wilayah 1 Kabupaten Cianjur, pada tahun 2009 yang memiliki luas
sawah irigasi 1.332 ha yang terbagi ke dalam tiga masa tanam.
1. Masa tanam pertama, ditanami padi seluas 1332 ha dimana:
• Satuan kebutuhan air untuk masa pengolahan tanah dimulai Bulan
Oktober yaitu 1,25 L/det, sehingga jumlah kebutuhan air di sawah
1665 L/ha/det.
• Satuan kebutuhan air untuk masa vegetatif padi dimulai Bulan
November – Bulan Januari yaitu 0,725 L/det, sehingga jumlah
kebutuhan air di sawah 966 L/ha/det.
• Satuan kebutuhan air untuk masa generatif Bulan Februari I yaitu 0,3
L/det, sehingga jumlah kebutuhan air di sawah 400 L/ha/det.
2. Masa tanam kedua, ditanami:
• Padi seluas 900 ha dimana:
 Satuan kebutuhan air untuk masa pengolahan tanah Bulan
Februari 2 – Bulan Maret I yaitu 1,125 L/det, sehingga jumlah
kebutuhan air di sawah 1012,5 L/ha/det.
 Satuan kebutuhan air untuk masa vegetatif padi Bulan
Maret 2 – Bulan Mei yaitu 0,85 L/det, sehingga jumlah
kebutuhan air di sawah 765 L/ha/det.
 Satuan kebutuhan air untuk masa generatif Bulan Juni I
yaitu 0,3 L/det, sehingga jumlah kebutuhan air di sawah 270
L/ha/det.

21
• Palawija seluas 432 ha dimana:
 Satuan kebutuhan air Bulan Februari 2 – Bulan Juni I yaitu
0,3 L/det, sehingga jumlah kebutuhan air di sawah 130 L/ha/det.
Total jumlah kebutuhan air di sawah pada masa tanam kedua yaitu
1142 L/ha/det.

3. Masa tanam ketiga, ditanami:


• Palawija seluas 900 ha dimana:
Satuan kebutuhan Bulan Juni 2 – Bulan September yaitu 0,15 L/det,
sehingga jumlah kebutuhan air di sawah 135 L/ha/det.
Penjelasan:
1. Bulan---1 maksudnya pada awal bulan tersebut sampai pertengahan bulan
tersebut.
2. Bulan---2 maksudnya pada awal pertengahan bulan tersebut sampai akhir
bulan tersebut.
Dengan demikian:
Kebutuhan air di sawah pada tanaman padi:
1. Kebutuhan air di sawah pada pengolahan tanah musim hujan yaitu 1,250
L/ha/det, dan musim kemarau yaitu 1,125 L/ha/det selama 1,5 bulan.
2. Kebutuhan air di sawah pada fase pertumbuhan musim hujan yaitu 0,725
L/ha/det, dan musim kemarau yaitu 0,850 L/ha/det selama 3 bulan.
3. Kebutuhan air di sawah pada akhir fase pertumbuhan musim hujan yaitu
0,3 L/ha/det, dan musim kemarau yaitu 0,3 L/ha/det selama 0,5 bulan.
Kebutuhan air di sawah pada tanaman palawija:
1. Kebutuhan air di sawah pada saat musim hujan yaitu 0,3 L/ha/det selama
3 bulan.
2. Kebutuhan air di sawah pada saat musim kemarau yaitu 0,15 L/ha/det
selama 3 bulan.
Dimana,
 Faktor Kehilangan air pada saluran tersier sebesar 1,25.
 Faktor Kehilangan air pada saluran sekunder sebesar 1,06.
 Faktor Kehilangan air pada saluran primer sebesar 1,05.

22
Jumlah bera (daerah tanah kosong yang dibiarkan lahannya setelah masa
tanam kedua) yaitu 432 ha, sehingga dapat mengurangi jumlah produksi padi dan
palawija. (Sumber: Dinas PSDA dan P Kabupaten Cianjur)

3.6 Usulan Rencana Tanam


Dalam analisis kebutuhan air pada Daerah Irigasi Cimenteng, dihitung
dengan beberapa alternatif tata pola tanam dan diambil yang paling
menguntungkan. Dari beberapa alternatif perhitungan pola tanam dipilih satu
alternatif dengan pertimbangan:
 Kebutuhan air cukup kecil.
 Jadwal mulai tanam dimulai pada Bulan Oktober yang telah ditetapkan
Cabang Dinas PSDA dan P Wilayah 1 Kabupaten Cianjur.
 Kebiasaan pola tanam yang dilakukan oleh petani setempat.
 Faktor hidrologi, debit andalan dan curah hujan efektif.
Pola tanam yang sudah diusulkan untuk Daerah Irigasi Cimenteng adalah
sebagai berikut:
 Pola tanam dibagi tiga golongan periode penanaman.
 Masing – masing golongan terdiri dari dua jenis tanaman yaitu padi dan
palawija.
Penetapan golongan ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:
 Petak tersier yang dekat dengan saluran induk pada ruas hulu dijadikan
golongan 1.
 Petak tersier yang dekat dengan saluran induk pada ruas antara hulu dan
hilir dijadikan golongan 2.
 Petak tersier yang dekat dengan saluran induk pada ruas hilir dijadikan
golongan 3.
Penetapan golongan untuk Daerah Irigasi Cimenteng adalah:
a. Golongan 1
 Penanaman padi rendeng (masa tanam pertama) dimulai pada Bulan
Oktober 1, panen pada Bulan Februari 1.
 Penanaman padi gadu (masa tanam kedua) dimulai pada Bulan
Februari 2, panen pada Bulan Mei 2.

23
 Penanaman palawija dimulai pada Bulan Juni 1, panen pada Bulan
September 2.
b. Golongan 2
 Penanaman padi rendeng (masa tanam pertama) dimulai pada Bulan
Oktober 2, panen pada Bulan Februari 2.
 Penanaman padi gadu (masa tanam kedua) dimulai pada Bulan Maret
1, panen pada Bulan Juni 1.
 Penanaman palawija dimulai pada Bulan Juni 2, dan panen Bulan
Oktober 1.
c. Golongan 3
 Penanaman padi rendeng (masa tanam pertama) dimulai pada Bulan
November 1, panen pada Bulan Maret 1.
 Penanaman padi gadu (masa tanam kedua) dimulai pada Bulan Maret
2, panen pada Bulan Juni 2.
 Penanaman palawija dimulai pada Bulan Juli 1, dan panen Bulan
Oktober 2.
Kebutuhan debit untuk masing – masing golongan adalah sebagai berikut:
a. Golongan 1
 Padi : 0,84 L/det/ha (Oktober 1)
 Palawija : 0,29 L/det/ha (Agustus 1)
b. Golongan 2
 Padi : 0,74 L/det/ha (Oktober 2)
 Palawija : 0,29 L/det/ha (Agustus 2)
c. Golongan 3
 Padi : 0,71 L/det/ha (April 2)
 Palawija : 0,27 L/det/ha (Agustus 2)
Kebutuhan air minimun di saluran induk untuk masing – masing jenis
tanaman adalah sebagai berikut:
a. Golongan 1
 Padi : 0,07 L/det/ha (November 2)
 Palawija : 0,10 L/det/ha (Juni 1)

24
b. Golongan 2
 Padi : 0,12 L/det/ha (Januari 1)
 Palawija : 0,10 L/det/ha (Juni 2)
c. Golongan 3
 Padi : 0,01 L/det/ha (Januari 2)
 Palawija : 0,09 L/det/ha (Oktober 1)

Penjelasan:
1. Bulan---1 maksudnya pada awal bulan tersebut sampai pertengahan bulan
tersebut.
2. Bulan---2 maksudnya pada awal pertengahan bulan tersebut sampai akhir
bulan tersebut.

3.7 Sistem Giliran


Pengaturan pembagian air sistem giliran selama menjalani Praktek Kerja
Lapang di Daerah Irigasi Cimenteng diperlukan kalau ketersediaan air sedikit bila
dibandingkan dengan debit yang diperlukan. Dengan debit kecil, maka akan sukar
untuk mengairi dan jumlah kehilangan air akan tinggi. Giliran pemberian air
sering diperlukan apabila debit di saluran terus menerus menurun. Karena
kecilnya debit maka jumlah persentase air yang hilang akan tinggi karena
perembesan dan penguapan demikian juga waktu yang diperlukan untuk mengairi
tanaman lebih lama.
Karena itu giliran pemberian air dilakukan agar:
1. Pemberian air dapat dihemat.
2. Mempercepat waktu yang diperlukan untuk pengeringan, air dapat
dihemat karena jumlah kehilangan dapat dikurangi dengan
memperkecil waktu pengaliran debit air yang mengalir pada saluran
irigasi.
3. Meminimalkan daerah yang tidak mendapatkan air.
(Sumber: R. Gandakoesoemah, Ilmu Irigasi).
Pada Daerah Irigasi Cimenteng penetapan rotasi (giliran) air dilakukan
pada setiap pukul 06.00 – 06.00 WIB dengan sistem digilir.

25
Cara pembagian air dengan sistem rotasi (giliran) ke petak kuarter yaitu dengan
dibagi ke tiap kelompok mendapatkan keuntungan dimana kehilangan air akan
sedikit, sedimentasi lumpur dan pasir akan rendah.
Jumlah debit yang besar disaluran juga akan mempermudah para petani untuk
mengairi tanaman karena air akan mengalir lebih cepat dan menjangkau areal
yang lebih luas dalam waktu yang lebih pendek. Giliran pemberian air harus
dipertimbangkan apabila debit dalam saluran irigasi menurun dari 50% - 70%
pada jaringan irigasi Cimenteng.

3.7.1 Tingkat – tingkat Giliran


Ada beberapa tingkat saluran irigasi di Daerah Irigasi Cimenteng yaitu:
saluran primer, sekunder, tersier dan kuarter. Giliran pembagian air dapat
dilakukan pada tiap tingkatan saluran irigasi.
Dalam hubungan ini ada 4 tingkat giliran:
 Tingkat 1 : Giliran antar kuarter
 Tingkat 2 : Giliran antar tersier
 Tingkat 3 : Giliran antar sekunder
 Tingkat 4 : Giliran antar primer
Untuk melaksanakan giliran antar tersier, petak tersier harus dikelompokan
sehingga jumlah kebutuhan air untuk setiap kelompok tidak melebihi debit yang
ada. Kemudian air digilirkan tiap kelompok selama 10 hari. Lamanya waktu tiap
kelompok menerima air didasarkan pada luas kelompok dibandingkan dengan
areal yang harus diairi seluruhnya.

3.8 Grafik Keseimbangan Air


Keseimbangan Air (Water Balance) atau neraca air adalah suatu analisis
keseimbangan antara debit Kebutuhan Air Irigasi (Water Requirement) dengan
debit Air Tersedia (Water Availability). Pada Daerah Irigasi Cimenteng debit
kebutuhan air tidak boleh melebihi debit air yang tersedia. Apabila terjadi
kebutuhan air yang berlebih, maka harus dibuat giliran pemberian air, dan
sebaliknya bila kebutuhan air tidak melebihi debit air yang tersedia, maka sistem
pemberian air akan aman karena seluruh areal sawah dapat diairi secara kontinyu.

26
Berdasarkan hasil analisis hubungan antara debit air yang tersedia dengan
kebutuhan air yang dikaitkan dengan rencana tanam dengan beberapa alternatif
mulai dari masa tanam padi pertama di Daerah Irigasi Cimenteng, maka debit air
yang tersedia yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan air irigasi adalah pada
permulaan penanaman padi pada awal Bulan Oktober. Hal ini dianggap cukup
menguntungkan karena sesuai dengan waktu tanam yang sudah menjadi kebiasaan
di Daerah Irigasi Cimenteng.
Pada Grafik Keseimbangan Air dapat dilihat pada Lampiran 5.

27