Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN HIDROMETEOROLOGI TERAPAN

ACARA 2
PERBAIKAN DATA HUJAN
Ferryati Masitoh, S,Si, M.Si

Oleh :
Nama Mahasiswa : Gayuh Andi Kaulono
NIM : 150722607339
Offering :G
Tanggal : Jumat, 15 September 2017
Asisten : Diki Kurniawan

JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
SEPTEMBER 2017
ACARA 2
PERBAIKAN DATA HUJAN

I. Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengisi data hujan denganmenggunakan metode
perbandingan normal dan metode resiprok
2. Mahasiswa mampu menguji konsistensi data hujan menggunakan
kurva massa ganda

II. Alat & Bahan


1. Alat
a) Alat tulis
2. Bahan
a) Data Hujan Bulanan
b) Peta Lokasi Stasiun Hujan di Sebagian SWS Bengawan Solo
III. DasarTeori
Hujan adalah sebuah peristiwa Presipitasi (jatuhnya cairan dari atmosfer
yang berwujud cair maupun beku ke permukaan bumi) berwujud cairan.
Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer tebal agar dapat
menemukan suhu di atas titik leleh es di atas permukaan Bumi. Di Bumi,
hujan adalah proses kondensasi (perubahan wujud benda ke wujud yang
lebih padat) uap air di atmosfer menjadi butiran air yang cukup berat untuk
jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi
bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu
pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara. Butir hujan
memiliki ukuran yang beragam mulai dari butiran besar hingga butiran
kecilnya.

Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat
yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Satuan
curah hujan selalu dinyatakan dalam satuan milimeter atau inchi namun
untuk di indonesia satuan curah hujan yang digunakan adalah dalam
satuan milimeter (mm). Curah hujan dalam 1 (satu) milimeter memiliki
arti dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air
setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

Data hidrologi adalah kumpulan keterangan atau fakta mengenai fenomena


hidrologi (Soewarno 1995, dalam Joksan). Salah satu data hidrologi yang penting
dalam analisis hidrologi adalah data curah hujan. Data curah hujan didapat dari
pengukuran pada stasiun hujan. Karena intensitas, penyebaran, serta kedalaman
hujan berbeda dan tidak merata disetiap wilayah, maka pola penempatan dan
penyebaran stasiun pencatatan curah hujan harus tepat sehingga diharapkan dapat
memberikan data yang mewakili lokasi dimana stasiun tersebut berada.

Besarnya curah hujan diukur dengan menggunakan alat penakar curah


hujan. Alat penakar curah hujan dibedakan menjadi dua grup, yakni Alat penakar
hujan manual dan Alat penakar hujan otomatis, (Suripin, 2003 : 24). Besarnya
curah hujan diukur dengan menggunakan alat penakar curah hujan. Alat penakar
curah hujan dibedakan menjadi dua grup, yakni Alat penakar hujan manual dan
Alat penakar hujan otomatis, (Suripin, 2003 : 24). titik tertentu. Curah hujan ini
disebut curah hujan wilayah atau daerah dan dinyatakan dalam mm.

Data curah hujan sangat penting untuk perencanaan teknik khususnya


untuk bangunan air misalnya irigasi, bendungan, drainase perkotaan, pelabuhan,
dermaga, dan lain-lain. Karena itu data curah hujan di suatu daerah dicatat terus
menerus untuk menghitung perencanaan yang akan dilakukan. Pencatatan data
curah hujan yang dilakukan pada suatu DAS dilakukan di beberapa titik stasiun
pencatat curah hujan untuk mengetahui sebaran hujan yang turun pada suatu DAS
apakah merata atau tidak. Diperlukan data curah hujan bertahun-tahun untuk
mendapatkan perhitungan perencanaan yang akurat, semakin banyak data curah
hujan yang ada maka semakin akurat perhitungan yang akan dilakukan..
Perbaikan data hujan dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu

1. Metode Perbandingan Normal

Metode Normal Ratio adalah salah satu metode yang digunakan untuk
mencari data yang hilang. Metode perhitungan yang digunakan cukup sederhana
yakni dengan memperhitungkan data curah hujan di stasiun hujan yang
berdekatan untuk mencari data curah hujan yang hilang di stasiun tersebut.
Variabel yang diperhitungkan pada metode ini adalah curah hujan harian di
stasiun lain dan jumlah curah hujan 1 tahun pada stasiun lain tersebut. Rumus
Metode Normal Ratio untuk mencari data curah hujan yang hilang sebagai berikut
(Wei and McGuiness, 1973):

2. Metode Resiprok

Cara ini lebih baik karena memperhitungkan jarak antar stasiun (), yaitu
sebagai berikut:

Perubahan lokasi stasiun hujan atau perubahan prosedur pengukuran dapat


memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jumlah hujan yang terukur,
sehingga dapat menyebabkan terjadinya kesalahan. Konsistensi dari pencatatan
hujan diperiksa dengan metode kurva massa ganda (double mass curve). Metode
ini membandingkan hujan tahunan kumulatif di stasiun y terhadap stasiun x.
Apabila garis yang terbentuk lurus berarti pencatatan di stasiun y sudah konsisten,
sebaliknya jika kurva patah/berubah, maka pencatatan tidak konsisten dan perlu
diubah.
Koreksi dilakukan dengan mengalikan data setelah kurva berubah dengan
perbandingan kemiringan setelah dan sebelum kurva patah. Stasiun referensi
biasanya adalah nilai rerata dari beberapa stasiun di dekatnya. Nilai kumulatif
tersebut digambarkan pada sistem koordinat kartesian, dan kurva yang terbentuk
diperiksa untuk melihat perubahan kemiringan (trend).

IV. Langkah Kerja


A. Jumlah Optimum Stasiun
Rumus :
1. = p/n
2. = [ (n/ (n 1)){-()}]^1/2
3. Cv = 100/
4. N = (Cv/E)^2
Keterangan
1. N = JumlahStasiun
2. Cv = Koefvariasihujanberdasarkanstasiunhujanygada
3. E = % kesalahan yang diijinkan (10%)
4. P = Hujanreratatahunan
5. = Hujanreratadari n stasiun
6. N = Jumlahstasiunhujan yang ada
7. = Standardeviasi
B. Hujan Wilayah
1. Metode Rata-rata Aritmatik
Rumus Rata-rata CH = (Ri) / n
Ket Ri = Besarnya CH padastasiuni
n =Jumlahpenakar (stasiun)
2. Metode Polygon Thiessen

3. Metode Isohyet
V. HasilPraktikum
1.

VI. Pembahasan

VII. Kesimpulan

VIII. DaftarPustaka
Hamzah, Muhammad, 2008: PemodelanPerembesan Air Dalam Tanah.
Bandung, InstitutTeknologi Bandung.
Harnas, Rahmat, 2010: JaringJaringAliran Air Tanah. Makassar,
UniversitasHasanuddin.
MasitohFerryati, 2016. Panduan Praktikum Geo Hidrologi. Malang,
UniversitasNegeri Malang.

IX. Lampiran
Normal