NAMA : ANIS RAHMADHANI
NIM : 211220003
KELAS : TADRIS BAHASA INDONESIA
STRUKTUR RESENSI MATKUL PENGANTAR SASTRA
JUDUL : GADIS KRETEK
PENULIS : RATIH KUMALA
PENERBIT : PT GRAMEDIA PUSTAKA UMUM
CETAKAN : PERTAMA MARET 2012
TEBAL : 274
ISBN : 978-979-22-8141-5
Sinposis Cerpen :
Novel ini menceritakan tentang Pak Soeraja yang memiliki tiga anak yang bernama Tegar
(anak pertama), Karim (anak kedua), dan Lebas (anak ketiga) dan sekaligus Pak Soeraja itu
adalah seorang pemilik Pabrik Rokok Kretek Cap Djagad Raja di Jakarta yang kondisinya
sekarang tengah mengalami sekarat. Dan dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama
perempuan yang bukan istrinya yang bernama Jeng Yah. Mendengar nama itu, Ibu pun
seraya cemburu buta karena permintaan terakhir suaminya yang ingin bertemu dengan Jeng
Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja dimakan gundah, lantaran penasaran siapa
nama sosok perempuan Jeng Yah yang tengah dipanggil oleh Romo nya. Akhirnya Lebas
memberanikan diri untuk bertanya kepada Romo tentang Jeng Yah itu, dan didapati informasi
tentang Jeng Yah yang tinggal di Kudus. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim,
dan Tegar pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput Romo
nya.
Lebas, Tegar, dan Karim pergi mencari Jeng Yah ke Kudus, sebelum itu ia berhenti di
warung untuk membeli sejumlah kretek, lalu diamatinya ada seorang perempuan tua dengan
tubuh berisi dan mengenakan jarit serta kebaya, itu ternyata adalah Mbok Marem, dia adalah
buruh giling dari Pabrik Kretek Djagad Raja yang paling tua. Dari Mbok Marem lah kita
mendapatkan informasi lokasi Pabrik Kretek Gadis berada di Kota M bukan di Kudus.
Akhirnya, Lebas, Tegar, dan Karim menuju ke Kota M, mencari dimana Jeng Yah. Tetapi,
ditengah perjalanan, Lebas ingin pergi ke warung untuk membeli kretek, betapa terkejutnya
ia menemukan Kretek Gadis lalu ia bertanya kepada ibu penjual warung, dimana letak Pabrik
Kretek Gadis, lalu ibu tersebut memberi tahu lokasi Pabrik Kretek Gadis, lalu Lebas, Tegar,
dan Karim menuju ke lokasi tersebut. Akhirnya sampailah pada Pabrik Kretek Gadis dan
mereka berhasil bertemu dengan Jeng Yah. Singkat cerita, didapati ternyata Jeng Yah
(Dasiyah) sudah meninggal seusai melahirkan dan menikah lagi di umur 32 tahun, dengan
Sugeng.
Singkat cerita, Romo (Soeraja), pemilik kerajaan Kretek Djagad Raja yang sekarat kini telah
berpulang.
Tokoh-Tokoh Dalam Cerita :
Tokoh Utama dari Novel Gadis Kretek tersebut adalah :
1. Tegar
2. Karim
3. Lebas
4. Soeraja
5. Soedjagad
6. Idroes Moeria
7. Roemaisa
8. Dasiyah (Jeng Yah)
9. Rukayah
Sedangkan, Tokoh Tambahan/Tokoh Pendukung dari Novel Gadis Kretek tersebut adalah :
1. Pak Trisno
2. Erick
3. Mak Iti’
4. Mbok Marem
5. Pak Joko
6. Lelaki Tionghoa (Mbah Uyut)
7. Pak Mloyo
8. Sentot
Deskripsi :
Tegar : Dia adalah anak pertama dari seorang Pemilik Pabrik Rokok Kretek Cap Djagad Raja
di Jakarta. Ayahnya bernama Soeraja atau biasa disebut Pak Raja. Ia memiliki dua orang adik
kandung, yang bernama Karim dan Lebas. Tokoh Tegar ini lebih condong atau berperan
sebagai pemimpin Pabrik Rokok Kretek yang diamanahi oleh Romonya, karena sejak Tegar
masih duduk di bangku sekolah, ia telah dibimbing dan di ajari bagaimana cara mengelola
pabrik. Ditinjau dari karakternya dalam Novel tersebut, Tegar adalah seorang kakak tertua
yang memiliki sifat yang sangat tegas, sangat serius dalam segala hal, memiliki jiwa
kepemimpinan yang tinggi, dan bertanggungjawab atas segala sesuatu.
Karim : Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Tegar dan adiknya
bernama Lebas. Tokoh Karim ini adalah anak yang lebih suka mendengarkan, mengamati
yang ada didepannya. Dia biasa disebut sebagai tokoh penengah atau tokoh penasihat antara
Tegar dan Lebas, karena antara kakaknya dan adiknya yang selalu bertengkar. Dan ditinjau
dari karakternya dari Novel tersebut, Karim memiliki sikap yang begitu lemah lembut, sabar,
dan juga penyayang.
Lebas : Dia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Tokoh Lebas ini cenderung lebih
menyukai seni, dan perfilm-an. Ditinjau dari karakternya dalam Novel tersebut, Lebas
memiliki sifat kekanak-kanak an, suka hidup semrawutan, dalam arti ia selalu bangun
kesiangan, dan Lebas juga memiliki sifat yang cuek, dan gaya bicara yang ceplas-ceplos.
Soeraja : Tokoh Soeraja adalah pemuda yang rajin, pintar, tetapi pada akhirnya ia menjadi
orang yang tidak bertanggungjawab kepada tokoh Dasiyah, karena dia lebih memilih istrinya
ketimbang Dasiyah.
Soedjagad : Tokoh Soedjagad adalah Mbah Kung dari Tegar, Karim, dan Lebas, atau dalam
arti Soedjagad ini ayah dari Soeraja. Ditinjau dari karakternya dalam Novel tersebut,
Soedjagad memiliki sifat pembohong, dengan dicontohkan pada kutipan kalimat,”Tapi
Soedjagad tak mengaku ketika ditanya apa kepentingannya ke rumah Juru Tulis (Pak Trisno).
Dia hanya bilang mengantarkan sejumlah klobot yang dipesan Juru Tulis. (Kumala, hal. 55).
Idroes Moeria : Dia adalah seorang pemuda yang hidup sederhana. Dia menjadi suami dari
Roemaisa, seorang anak dari Juru Tulis yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha klobot.
Dengan bekerja keras, tekun, dan ulet akhirnya Idroes Moeria pun berhasil menjadi
pengusaha klobot. Ditinjau dari karakternya dalam Novel tersebut, Idroes Moeria memiliki
sifat yaitu sebagai sosok seorang yang bekerja keras, dan pantang menyerah demi mendapat
apa yang diinginkan.
Roemaisa : Dia adalah satu-satunya anak perempuan Juru Tulis dari lima saudara, yang
dimana empat saudaranya itu semua laki-laki. Dia sebagai istri dari Idroes Moeria yang
mempunyai dua orang anak perempuan, yang bernama Dasiyah dan Rukayah. Ditinjau dari
karakternya dalam Novel tersebut, Roemaisa memiliki sifat yang santun, lemah lembut,
ramah, penyayang dan sekalipun pada saatnya dia bisa emosional. Dan dia sebagai seorang
istri dia sosok yang setia kepada Idroes Moeria.
Dasiyah (Jeng Yah) : Dia adalah anak pertama dari pasangan suami istri, Idroes Moeria dan
Roemaisa. Dasiyah digambarkan sebagai anak perempuan yang pintar, manis, rajin, ceria,
cantik, dan ramah. Dia dari kecil diajari cara melinting kretek oleh ayahnya, Idroes Moeria.
Hingga pada akhirnya, Dasiyah mendirikan pabrik sendiri yang dinamai Kretek Gadis.
Rukayah : Dia adalah saudara perempuan dari Dasiyah. Rukayah digambarkan sebagai anak
perempuan yang cerdas, ramah, cantik, dan juga ramah.
Pak Trisno : Dia berperan sebagai ayah dari Roemaisa. Dia merupakan sosok yang tidak
memandang seseorang dari pangkatnya, dan dia sebagai sosok orang tua yang memahami
putrinya.
Erick : Dia adalah teman lama Lebas di San Fransisco, Amerika. Dia sangat menyukai musik
beraliran Bob-Marley, sampai-sampai wajahnya pun dimutasi mirip Bob-Marley.
Mak Iti’ : Dia adalah sosok wanita tua yang paham tentang hal-hal yang berbau mistis. Dia
juga yang menemani ketika Roemaisa dan Idroes Moeria kehilangan ari-ari bayinya.
Mbok Marem : Dia adalah seorang buruh giling dari Pabrik Kretek Djagad Raja yang paling
tua. Dia jugalah yang memberi tahu informasi keberadaan Jeng Yah di Kota M, bukan di
Kudus.
Pak Joko : Dia adalah pemodal untuk usaha baru Idroes Moeria yang diberi nama Kretek
Gadis. Dia yang memberi sebutan Jeng Yah untuk Dasiyah, putri perempuan Idroes Moeria.
Dan dia juga yang menyuruh Idroes Moeria untuk pergi ke Gunung Kawi, agar usaha
barunya tersebut bisa berkembang dan menjadi terkenal.
Lelaki Tionghoa (Mbah Uyut) : Dia adalah penjual Kretek Mendak, Gambar Penari. Karena
dulu ari-ari Dasiyah sempat hilang dicuri, maka Mak Iti’ memperintahkan Idroes Moeria
untuk mencari Kretek Mendak tersebut.
Pak Mloyo : Dia adalah seorang pemilik percetakan sekaligus sang juru gambar yang indra
pendengarannya sudah tidak normal, dan dia sekaligus yang mengenalkan Soeraja kepada
Partai Komunis Indonesia untuk mendapatkan modal untuk memulai usaha baru.
Sentot : Dia adalah seorang pemuda TNI yang berniat ingin melamar Dasiyah, tapi Dasiyah
menolaknya demi Soeraja. Dan dia juga yang membebaskan Idroes Moeria dan Dasiyah
ketika dipenjara gara-gara dia dituduh ada hubungannya dengan PKI karena Kretek Merah
yang diproduksinya.
Konflik atau Masalah Yang Terjadi :
Novel ini mengalami konflik yang pertama, yaitu ketika Idroes Moeria melihat Soedjagad
sedang bertamu ke rumah Roemaisa. Dia lantas bertanya-tanya, apakah Soedjagad akan
melamar Roemaisa, lalu untuk menghilangkan rasa tidak tenangnya itu, ia bertanya langsung
kepada Soedjagad, dia mengatakan kalau Juru Tulis membeli sejumlah banyak klobot.
Konflik yang kedua, yaitu terjadi antara tokoh Lebas dan Tegar, yaitu dikarenakan Lebas
tidak ingin mengurus pabrik kretek milik Romo nya dan dia lebih mementingkan perfilman
nya. Karena hal tersebut, Tegar menjadi marah dan dia tidak ingin mencairkan uang
perusahaan untuk kepentingan pembuatan film adiknya tersebut.
Konflik yang ketiga, yaitu pada saat Idroes Moeria tiba-tiba menikah dengan Roemaisa,
membuat hati Soedjagad makin membencinya. Dan apalagi tak lama mereka setalah
menikah, klobot buatan Idroes Moeria keluar. Ketika itu, dendam Djagad pada Idroes Moeria
semakin membuncah. Ia memutuskan untuk membuat usaha klobot sendiri untuk menyaingi
Idroes Moeria.
Konflik keempat, yaitu ketika terdengar kabar Roemaisa sudah menjanda, ternyata Idroes
Moeria bukan lelaki yang bertanggungjawab, ia malah bersembunyi karena takut dibawa
Jepang. Djagad yang pada dasarnya masih mencintai Roemaisa, tentu prihatin dengan
keadaan Roem. Sampai-sampai Djagad memberinya nafkah per bulan. Ia merasa kasihan
pada perempuan itu, maka ia ingin menikahi Roemaisa. Dan ketika Jepang telah pergi, Idroes
Moeria berani keluar dari persembunyiannya. Djagad dituduh sebagai perusak rumah tangga
Idroes dan Roemaisa. Tak lama kemudian, baku hantam pun terjadi, dan sial, Djagad kalah.
Hati Djagad semakin memberontak tidak terima karena sudah dituduh dan dipukul begitu
saja.
Pesan dari Cerita :
a. Dalam peran Idroes Moeria dia ingin menjadi pengusaha Clobot, jadi dia benar-benar
berusaha membangun bisnisnya dari awal, hal ini bisa kita contoh bahwa kerja keras
membuahkan kesuksesan dan keberhasilan.
b. Dalam tokoh Soeraja, ia menyembunyikan masa lalunya dari anak-anaknya, namun
kelak ketika Soeraja meninggal, anak-anak tersebut akan mengungkap masa lalunya.
Ini menunjukkan bahwa tidak peduli seberapa hati-hati kita menyimpan rahasia, itu
juga akan terungkap pada waktunya.
Latar/Setting :
a. Latar Waktu
Latar Waktu dari Novel Gadis Kretek tersebut adalah terjadi pada masa sebelum
kemerdekaan, dengan dibuktinya ada penjajahan Belanda dan Jepang, dan sampai
pada pasca peristiwa G30 S PKI, hal ini ditandai dengan adanya pasukan PKI yang
membantai sekumpulan orang dan membuangnya ke Kali Pepe.
b. Latar Sosial
Latar Sosial dari Novel Gadis Kretek tersebut adalah terjadi pada masyarakat Jawa
yang bervariasi kehidupan sosialnya, ada masyarakat kelas sosial kelas menengah-atas
dan ada masyarakat kelas bawah.
Cerita yang terjadi pada kalangan kelas sosial menengah-atas itu dapat dijelaskan
lewat sosok Lebas : “Aku pulang ke rumah setelah tiga bulan tidak menunjukkan
batang hidungku, meskipun aku masih tinggal di Jakarta, sama dengan keluargaku.
Aku lebih suka berdiam di apartemenku dan berkutat dengan kegiatan kreatif yang ku
suka.” (Hal. 3).
Cerita yang terjadi pada kalangan masyarakat kelas sosial bawah itu dapat dijelaskan
lewat tokoh Soedjagad dan Idroes Moeria sebelum sukses : “Awalnya, Idroes Moeria
ikut Pak Trisno sebagai pelinting klobot, dan kini ia percaya untuk mengepak, kadang
Pak Trisno menyuruhnya untuk mengantarkan pesanan klobot ke pasar atau ke toko
obat.” (Hal. 49-50).
Kelebihan Novel :
Menurut saya, kelebihan Novel dari Gadis Kretek tersebut adalah dari cara bercerita nya,
yang menyinggung banyak perkara mulai dari hubungan keluarga, kesetiaan seorang wanita
kepada suamiya, ego seorang laki-laki, dan usaha untuk bekerja keras untuk mencapai
keberhasilan.
Kekurangan Novel :
Menurut saya, kekurangan Novel dari Gadis Kretek tersebut yaitu :
1. Ketika membaca novel ini, saya tidak lantas mengetahui siapa Jeng Yah, dan apa
hubungannya dengan Soeraja secara detail, karena diakhir cerita, Jeng Yah (Dasiyah)
telah meninggal dunia.
2. Di dalam penulisan novel ini, saya menemukan beberapa kekeliruan dalam
pengetikan (typo), seperti penulisan dalam nama tokoh yang tertukar atau tidak
sesuai.
3. Dalam penyebutan Kota M, saya kurang memahami dimana sebenarnya Kota M itu
berada, pasalnya nama Kota M itu tidak dijelaskan atau tidak ditulis secara jelas.
Penulis hanya memberikan clue letak Kota M berada di antara Magelang dan
Jogjakarta, serta hanya memiliki satu jalan utama.
4. Saya juga kurang memahami, siapa yang mencuri ari-ari Dasiyah, anak perempuan
Idroes Moeria dan Roemaisa.