Setelah mempelajari modul ini, diharapkan kalian dapat menyajikan konsep dan urutan
langkah dalam melalukan perancangan jaringan nirkabel. Maka dari itu patut diperhatikan
saran-saran berikut :
1. Dalam memahami modul ini, pahami urutan langkah dalam melakukan site survey.
2. Setelah itu, pahamilah macam-macam topologi jaringan nirkabel dan kondisi channel
dan pahamilah cara-cara dalam mengatasi interferensi.
3. Kemudian, pahamilah kondisi channel dalam frekuensi gelombang radio.
4. Terakhir, pahamilah cara dalam mengatasi interferensi.
5. Sebagai siswa, kalian dituntut untuk dapat menilai kemampuan sendiri dengan jujur,
untuk itu setelah memahami tema demi tema secara keseluruhan, kerjakan latihan-
latihan dengan tes formatif yang terdapat disetiap kegiatan belajar. Untuk melihat
hasilnya, silahkan meminta kunci jawaban tes formatif dari guru. Kalian akan mengetahui
sendiri tingkat penguasaan terhadap materi modul yang telah dipelajari.
6. Lebih lanjut dari itu, kerjakanlah ayo pecahkan masalah. Dengan mengerjakan perintah
yang ada disitu diharapkan kelian dapat memahami konsep, urutan langkah dalam
melakukan perancangan jaringan nirkabel secara terstruktur.
Dengan petunjuk diatas, kalian diharapkan mampu memperoleh pemahaman tentang
konsep, jenis topologi, urutan langkah, dan solusi dalam perancangan jaringan nirkabel
dengan mudah dan cepat, sehingga penguasaan terhadap modul ini akan tercapai.
Bila jawaban “Tidak”
No Indikator Ya Tidak Pelajari Materi
1 Dapatkah anda menjelaskan Site Survey? Pelajari sub Bab A
2 Dapatkah anda menjelaskan topologi Pelajari sub Bab B
jaringan nirkabel?
3 Dapatkah anda menjelaskan konsep kondisi Pelajari sub Bab C
channel jaringan nirkabel?
4 Dapatkah anda menjelaskan interferensi? Pelajari sub Bab D
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 75
Pada saat anda sedang mengakses internet dan melihat di dekat anda terpasang sebuah
access point, apa yang anda pikirkan? Mengapa access point tersebut bisa terpasang disitu?
Hanya asal saja, atau memang sudah direncanakan demikian? Tentunya dalam merancang
koneksi nirkabel, kita tidak bisa asal dalam memasang titik-titik yang akan kita berikan access
point. Oleh karena itu, kita perlu rencana dalam merancang sebuah koneksi nirkabel. Hal ini
bukan tanpa sebab. Jika kita asal dalam merancang koneksi nirkabel, akan terjadi banyak
gangguan seperti interferensi/gangguan, sinyal hilang, dan sebagainya pada saat kita
mengggunakan jaringan tersebut. Oleh karena
Sumber: www.connectworld.net
Gambar 4.1 Contoh rancangan jaringan nirkabel
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 76
Survey lapangan dapat dilakukan dengan mengunjungi tempat (sites) dan melakukan
observasi bahwa lintasan radio yang akan dibangun bebas dari rintangan (line of sight, LOS)
Gangguan potensial terhadap interupsi lintasan radio di masa yang akan datang seperti
pepohonan, perencanaan bangunan atau perumahan perlu juga dipertimbangkan.
Tujuan dari survey lapangan adalah memetakan lokasi tertentu dengan menentukan
penempatan peralatan nirkabel yang disesuaikan dengan sifat, interferensi, serta jangkauan
frekuensi radio agar dapat mengimplementasikan jaringan nirkabel dengan baik. Site survey
merupakan langkah yang sangat penting dalam mengimplementasikan jaringan nirkabel.
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam melakukan kegiatan site survey antara lain:
1. Menentukan koordinat Access Point
Cara mudah memulai kegiatan site survey adalah mengambil koordinat area tertentu
yang memerlukan jangkauan access point. Pilih bagian sudut ruangan, lalu pasangkan
sebuah access point. Survey jangkauannya hingga titik terjauh dari access point,
kemudian tandai titik tersebut. Kemudian, pindahkan access point yang semula
disimpan di sudut ruangan ke titik yang telah kita beri tanda sebelumnya. Kegiatan ini
mungkin perlu memindahkan access point beberapa kali supaya dapat menetapkan
lokasi terbaik. Setiap memutuskan lokasi terbaik access point, coba berpindah ke
sudut yang berbeda dan mengulangi proses seperti diatas. Di dalam sebuah ruang
yang sederhana, dapat mengulangi kegiatan di atas hingga empat kali. Jika ingin
pengguna tidak kehilangan sinyal ketika berpindah dari satu sel ke sel lainnya, maka
kita perlu merancang agar antar sel dapat saling membentuk irisan (overlap).
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 77
Sumber: web.norat.com
Gambar 4.2 Menentukan titik koordinat access point
2. Menentukan Pemilihan Channel
Ada 3 channel yang digunakan dalam overlapping. Perbedaan channel ini
dimaksudkan agar tidak terjadi suatu bentuk interferensi yang mungkin terjadi akibat
perpaduan frekuensi yang sama pada suatu wilayah tertentu. Supaya menghasilkan
data rate yang maksimal, kita dapat menggunakan ketiga channel tersebut. Dengan
menggunakan channel yang non-overlapping, maka access point tidak akan saling
berinterferensi satu dengan lainnya.
3. Menentukan Data Rate
Sebaiknya, kita mengetahui data rate minimum yang akan digunakan. Data rate yang
ditetapkan akan mempengaruhi hasil site survey yang kita lakukan. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan site survey antara lain:
➢ Proses dilakukan dengan metode trial and error.
➢ Umumnya, pengalaman akan sangat berperan.
➢ Koordinasi antar sesama engineer sangat diperlukan.
➢ Umumnya, solusi site survey lebih dari satu.
4. Memperkirakan Noise
Telepon, pemancar video, bluetooth, alat monitor bayi, dan bahkan microwave ovens
bersaing dengan jaringan data nirkabel untuk penggunaan sangat terbatas 2,4 GHz
band. Sinyal tersebut, serta jaringan nirkabel lokal lainnya, dapat menimbulkan
masalah besar terutama untuk sambungan nirkabel link jarak jauh. Berikut ini adalah
beberapa langkah yang dapat anda gunakan untuk mengurangi penerimaan sinyal
yang tidak diinginkan.
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 78
a. Meningkatkan penguatan antena pada kedua sisi dari sambungan point-to-
point. Antena tidak hanya untuk menambah penguatan sambungan, tetapi
mereka cenderung meningkat arah penangkapan sinyal dan menolak noise yang
ada sekitar sambungan. Dua parabola dengan penguatan tinggi yang diarahkan
satu sama lain akan menolak noise dari arah yang berada di luar jalur sambungan.
b. Gunakan beberapa antenna sektoral jangan menggunakan omnidirectional.
Dengan menggunakan beberapa antenna sektoral, anda dapat mengurangi noise
yang diterima di titik distribusi. Dengan membedakan kanal yang digunakan pada
setiap sektoral, anda juga dapat meningkatkan bandwidth yang tersedia untuk
klien anda.
Sumber : Sritrusta Sukaridhoto
Gambar 4.3 Omnidirectional vs Antena Sektoral
c. Gunakan channel terbaik yang ada. Ingat bahwa kanal 802.11b/g lebarnya 22
MHz, tetapi hanya dipisahkan oleh 5MHz. Lakukan site survey, dan pilih saluran
yang sedikit sekali gangguannya. Ingat bahwa penggunaan frekuensi nirkabel
dapat berubah sewaktu-waktu karena orang menambahkan perangkat baru
(cordless telepon, jaringan lain, dll). Jika sambungan anda tiba-tiba kesulitan
mengirimkan paket, anda mungkin perlu melakukan sebuah site survey lagi dan
memilih kanal yang lain.
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 79
Setelah memahami beberapa item dalam membangun sistem nirkabel, hal yang penting
lainnya adalah masalah topologi jaringan nirkabel yang optimal. Jaringan nirkabel mempunyai
sedikit perbedaan pada tipe topologinya. Langkah selanjutnya adalah memilih topologi yang
akan digunakan pada jaringan nirkabel yang akan dibuat. Pada jaringan nirkabel terdapat 3
macam topologi yaitu IBSS, BSS, dan ESS.
1. Independent Basic Service Sets (IBSS)
IBSS atau Ad-hoc adalah topologi WLAN yang menghubungkan antara beberapa klien
dari nirkabel tanpa menggunakan access point. Beberapa klien nirkabel yang
berkomunikasi dengan model IBSS memiliki beberapa kelemahan. Jika semakin
banyak kliennya maka prosesnya akan menjadi lambat yang disebabkan oleh
keterbatasaan dari perangkat nirkabel client.
Sumber: www.pintarkomputer.com
Gambar 4.4 topologi IBSS
Topologi IBSS mirip dengan model point to point dan juga point to multipoint pada
jaringan kabel LAN namun bedanya tidak adanya sebuah terminal (access point)
seperti halnya switch pada LAN yang berfungsi untuk membuat perangkat-perangkat
nirkabel klien saling terhubung. Kelemahan lain adalah karena tidak adanya access
point maka nirkabel client tidak bisa mengatur prioritas dari perangkat mana yang
harus didahulukan. Hal ini menyebabkan tabrakan atau collusion yang tentu dapat
membuat komunikasi jadi lambat.
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 80
2. Basic Service Sets (BSS)
BSS adalah kumpulan dari perangkat nirkabel yang terhubung satu sama lain dengan
perantaraan sebuah perangkat access point. Perangkat access point berfungsi sebagai
terminal pusat, semua klien nirkabel harus terhubung dahulu dengan access point
sebelum berkomunikasi dengan klien yang lain. Pada klien WLAN harus beroperasi
menggunakan mode Infrastructure Basic Service Set, jika tidak maka tidak bisa
berkomunikasi dengan access point. BSS lebih bagus dari topologi IBSS.
Sumber: www.pintarkomputer.com
Gambar 4.5 topologi BSS
3. Extended Service Sets (ESS)
Extended Service Sets (ESS) adalah kumpulan dari beberapa topologi BSS. Pada
topologi ESS terdapat lebih dari satu access point (AP), access point - access point
dalam topologi ESS terhubung satu sama lain melalui port uplink. Alasan utama
dipakainya model topologi ini adalah untuk memperluas daya jangkau AP dan juga
karena meningkatnya beban yang mesti dilayani oleh satu AP.
Sumber: www.pintarkomputer.com
Gambar 4.6 topologi ESS
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 81
User dapat melakukan roaming ke sel yang lain dengan cukup mudah tanpa
kehilangan sinyal. Extended service set (ESS) memperkenalkan kemungkinan
melakukan forwarding dari sebuah sel radio ke sel yang lain melalui jaringan kabel.
Kombinasi access point dengan jaringan kabel akan membentuk Distribution System
(DS)
Dari penjelasan topologi nirkabel diatas, bisakah kamu
memberikan contoh dimana penerapan topologi nirkabel
dalam kehidupan kita sehari-hari?
Pada sub bab ini akan dibahas frekuensi 2,4 GHz yang merupakan frekuensi yang paling
banyak digunakan oleh perangkat-perangat nirkabel saat ini. Sebenarnya frekuensi 2,4 GHz
masih dibagi lagi menjadi beberapa frekuensi yang lebih spesifik. Frekuensi 2,4 GHz dibagi
lagi menjadi beberapa channel, yang menentukan satuan terkecil dari frekuensi 2,4 GHz tadi.
Jika diperhatikan, antara satu channel dengan channel lainnya terpisah 0,005 GHz, kecuali
antara channel 13 dan channel 14 yang terpisah 0,014 GHz. Setiap channel memiliki
rentang channel sebesar 22 MHz atau 0,022 GHz. Ini mengakibatkan sinyal dari sebuah
channel masih akan dirasakan oleh channel lain yang bertetangga. Misalnya sinyal pada
channel 1 masih akan terasa di channel 2, 3, 4 dan 5. Karena rentang frekuensi yang saling
overlapping (menutupi) maka penggunaan channel yang berdekatan akan mengakibatkan
gangguan interferensi. Hal ini mirip yang terjadi pada pemancar Radio FM, suatu frekuensi
station radio tidak boleh berdekatan dengan frekuensi station radio lain, karena siaran radio
mereka akan saling mengganggu jika frekuensi yang mereka gunakan berdekatan. Secara
lengkap gambaran interferensi yang akan terjadi antar channel dapat dilihat pada gambar
berikut:
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 82
Sumber: www.pintarkomputer.com
Gambar 4.7 Interferensi pada Tiap Channel
Berdasarkan gambar di atas, kita bisa melihat bahwa interferensi channel akan terhindar jika
kita menggunakan aturan +5 atau -5 dengan frekuensi yang sudah digunakan. Sebagai
contoh, channel 6 tidak akan overlapping dengan channel 1 atau channel 11.
Contoh penerapan aturan +5 atau -5 ini misalnya pada saat kita akan mengkonfigurasikan
sebuah access point, ternyata disekitar kita sudah ada access point milik orang lain. Sebelum
menentukan channel yang akan kita gunakan di access point kita, cari tahu terlebih dahulu
channel yang digunakan oleh access point tetangga kita. Pengguna bisa menggunakan
aplikasi netstumbler untuk mesin Windows ataupun Airodumping untuk mesin Linux. Jika
ternyata tetangga kita menggunakan channel 8 pada access point-nya, maka channel yang
dapat digunakan pada access point adalah channel 3 atau channel 13.
Media yang digunakan dalam pertukaran data pada jaringan nirkabel berbeda dengan yang
ada pada jaringan kabel. Pada jaringan nirkabel media yang digunakan adalah gelombang
radio dengan menggunakan frekuensi radio tertentu, dengan media pertukaran data yang
berupa gelombang radio ini tentu kita tidak dapat sepenuhnya mengontrol sebagaimana
pada kabel. Interferensi atau gangguan yang ada pada nirkabel lebih banyak karena
menggunakan media publik yang dapat digunakan oleh siapa saja.
1. Teknik Mengatasi Interferensi
Pada operasional infrastruktur WI-Fi di outdoor, salah satu tantangan yang cepat atau
lambat tapi pasti akan kita hadapi access point bersama adalah berkurangnya
throughput, karena tingginya interferensi dan noise. Sinyal yang kuat tidak cukup
menjamin reliabilitas pada sebuah penerima wireless broadband. Sinyal level harus
secara konsisten jauh lebih besar dari pada noise yang diterima di penerima. Dengan
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 83
kata lain, perbandingan antara sinyal kepada noise, Signal To Noise Ratio (SNR) harus
setinggi mungkin. Untuk memperoleh SNR yang tinggi, ada dua kondisi yang harus penuhi
sekaligus yaitu:
a. Sinyal yang diterima oleh pesawat penerima harus lebih tinggi dari sensifitas
penerima.
b. Level noise di input penerima harus lebih rendah dari sinyal yang masuk. Noise
didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang bukan sinyal yang kita inginkan”.
Gambar 4.8 Ilustrasi interferensi sinyal
2. Memaksimalkan Level Sinyal yang Diterima
Kita sebenarnya mempunyai kemampuan mengontrol secara langsung proses untuk
memaksimalkan sinyal yang diterima. Beberapa prosedur standar yang biasa digunakan
adalah :
a. Link Budget - daya pancar yang cukup, sensifitas penerima, dan penguatan antena yang
cukup untuk mengatasi loss di kabel coax dan free space.
b. Line Of Sight - jalur LOS harus tanpa hambatan/penghalang dari ujung ke ujung.
c. Fresnel Zone - harus cukup daerah yang bebas tidak ada halangan.
d. Installation - pastikan antena dipasang dengan aman dan benar, arah yang benar,
konektor yang diisolasi tahan air, menggunakan konektor dan coax yang baik.
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 84
3. Meminimalisasi Interferensi Dan Noise
Kita biasanya tidak punya kemampuan mengatur/mengontrol sumber noise atau
interferensi. Beberapa sumber noise adalah :
a. Natural noise – noise dari atmosfir dan galaksi.
b. Manmade noise – sinyal RF yang diambil dari antena. Termasuk oven microwave,
telepon cordless dan indoor WI-FI serta beberapa peralatan medical/kedokteran.
c. Receiver noise – noise yang dihasilkan oleh rangkaian internal penerima.
d. Interferensi jaringan lain – interferensi yang disebabkan oleh jaringan nirkabel lain
yang bekerja pada band yang sama.
e. Interferensi jaringan kita sendiri – terjadi jika kita menggunakan frekuensi yang sama
lebih dari satu kali, menggunakan channel yang tidak mempunyai cukup
jarak/spasi antar channel atau menggunakan urusan frekuensi hopping yang tidak
benar.
f. Interferensi dari sinyal out of band – disebabkan oleh sinyal yang kuat di luar
frekuensi band yang kita gunakan, misalnya, pemancar AM, FM atau TV, pager.
Jaringan Nirkabel Politeknik Pajajaran Bandung 85