Anda di halaman 1dari 17

CRITICAL BOOK REVIEW

Mata Kuliah:Perpajakan

Dosen pengampu:

Sondang Aida Silalahi,M.Si.


Haryani Pratiwi Sitompul, M.Si

Disusun Oleh:

KELOMPOK 3

NAMA NIM

Idaman Telaumbanua 7182142021


Kesya Infantri br. Purba 7182142022
Krisvitra Telaumbanua 7183342001

PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
November 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke khadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
melimpahkan rahmat, dan karuniaNya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
Rekayasa Ide ini dengan baik untuk memenuhi tugas dari mata kuliah perpajakan. Terima kasih
juga kami ucapkan kapada pihak-pihak yang telah membantu kami menyelesaikan tulisan ini ,
terutama kepada Dosen Pengampu Ibu Sondang Aida Silalahi,M.Si.

Kami menyadari bahwa mungkin masih ada kekurangan dan kesalahan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu,kami menerima segala saran dan kritik
dari pembaca agar kami dapat memperbaiki mini reseacrh ini ke waktu yang akan datang.

Akhir kata kami berharap makalah CBR ini dapat memberikan manfaat kepada semua
pembaca. Terima Kasih.

Medan, November 2019

PENULIS
Kelompok 3
DAFTAR ISI

Sampul dan halaman judul

Kata pengantar

Daftar isi

Bab I. PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi pentingnya CBR


B. Tujuan penulisan CBR
C. Manfaat CBR
D. Identitas buku yang d riview

Bab II. ISI BUKU

A. Buku Utama
B. Buku Pembanding

Bab III. PEMBAHASAN

A. Pembahasan Isi Buku


B. Kelebihan dan kekurangan buku

Bab IV PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Rekomendasi

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A.Rasionalisasi pentingnya CBR

Critical Book Review merupakan kegiatan penugasan untuk mendeskripsikan dan


menganalisis buku yag memuat poin-poin penting sebagai ringkasan buku. Hasil dari penugasan
ini dapat menjadi suatu bentuk karya ilmiah mahasiswa sehingga jenis penugasan ini secara tidak
langsung mampu melatih kemampuan mahasiswa membuat karya ilmiah. Dengan diadakannya
penugasan ini mampu melatih mahasiswa untuk berpikir kritis. Sehingga penugasan ini sangat
penting untuk mahasiswa.

Karena pentingnya kritik buku di kalangan mahasiswa maka dengan ini penulis melakukan
kritik buku yang bertema “Perpajakan ” Adapun alasan penulis mengkritik buku ini adalah
untuk memnuhi tugas yang telah disepakati pada kontrak perkuliahan mata kuliah Perpajakan
dan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menambah wawasan, serta untuk
menjelaskan kekurangan dan kelebihan buku ini agar lebih baik lagi kedepannya.

B. Tujuan penulisan CBR


 Penyelesaian tugas mata kuliah Perpajakan
 Menambah pengetahuan tentang mata kuliah Perpajakan
 Meningkatkan pola pikir supaya berpikir kritis
 Menguatkan daya ingat tentang mata kuliah Perpajakan

C. Manfaat CBR
 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Perpajakan
 Untuk menambah pengetahuan tentang Perpajakan khususnya mengenai Pph Pasal 22

d. Identitas Buku

A.BUKU UTAMA

1. Judul Buku : Modul Perpajakan


2. Penulis : Tim Dosen Perpajakan FE Unimed
3. Penerbit : Unimed
4. Kota Terbit : Medan
5. Tahun Terbit : 2019
6. Jumlah Halaman : 224 halaman
B.BUKU PEMBANDING I

1. Judul Buku : Perpajakan : teori dan kasus


2. Penulis : Siti Resmi
3. Penerbit : Salemba Empat
4. Kota Terbit : Jakarta
5. Tahun Terbit : 2014
6. Jumlah Halaman : 510 halaman

C.BUKU PEMBANDING II

1. Judul Buku : Perpajakan


2. Penulis : Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Ak
3. Penerbit : ANDI Yogyakarta
4. Kota Terbit : Yogyakarta
5. Tahun Terbit : 2018
6. Jumlah Halaman : xvi + 404 halaman
Bab II. ISI BUKU

A. Buku Utama
PAJAK PENGHASILAN PASAL 22
Pajak Penghasilan (Pph) Pasal 22 adalah Pph yang dipungut oleh :
1. Bendaharawan pemerintah Pusat/Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-
lembaga negara lainnya, berkenan dengan pembayaran atas penyerahan barang;
2. Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan
di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.
Pemungut Pph Pasal 22
1. Bank Devisa dan Dirjend Bea dan Cukai, atas impor barang;
2. Dirjend Anggaran, Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah, yang melakukan pembayaran
atas pembelian barang;
3. BUMN/BUMD, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang dari belanja negara
dan/atau belanja daerah;
4. Bank Indonesia (BI), BPPN, Bulog, PT.Telkom, PT PLN, PT. Garuda Indonesia,
Pt.Indosat, PT. Krakatau Steel, Pertamina, dan Bank BUMN yang melakukan pembelian
dengan dana yang bersumber dari APBN maupun non APBN;
5. Badan usaha yang bergerak dibidang industry baja dan industry otomotif, yang ditunjuk
oleh kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri;
6. Pertamina dan badan usaha selain pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak
jenis premix dan gas, atas penjualan hasil produksinya;
7. Badan usaha industry dan eksportir sector pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan
yang ditunjuk oleh kepala kantor pelayanan pajak atas pembelian bahan-bahan kebutuhan
untuk industri dan eksport mereka dari pedagang pengumpul.

Besarnya pungutan Pph Pasal 22


1. Yang menggunakan Angka Pengenal Importir(API), sebesar 2,5% dari nilai impor;
2. Yang tidak menggunakan API, sebesar 7,5% dari nilai impor;
3. Yang tidak dikuasai, sebesar 7,5% dari harga jual lelang.
Nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk yaitu
Cost Isurance and Freight (CIF) ditambah dengan bea masuk dan pungutan lainnya yang
dikenakan berdasarkan ketentuan perundang-undangan pabean di bidang impor.
Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas pembelian barang yang dilakukan oleh DJA dan
Bendaharawan Pemerintah serta BUMN/BUMD
Atas pemblian barang yang dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara/Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) sebesar 1.5% dari harga
pembelian ;
Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi yang dilakukan badan usaha
yang bergerak di bidang industry semen, rokok kretek/ putih, kertas, baja otomotif.

Atas penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang;
1. Industri semen sebesar 0.25% dari dasar pengenaan pajak (DPP) pajak Pertambahan Nilai
(PPN);
2. Industri kertas sebesar 0,1% dari DPP PPN;
3. Industri baja sebesar 0.3% dari DPP PPN;
4. Industri otomotif sebesar 0,45% dari DPP PPN;
5. Industri obat sebesar 0,3% dari DPP PPN;
Yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di
dalam negeri;

Besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi pertamina yang bergerak di
bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas kepada penyalur dan/atau agennya:
1. Premium untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0,3% dan untuk SPBU Pertamina sebesar
0,25%
2. Solar untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0.3% dan untuk SPBU Pertamina sebesar 0.25%
3. Premix untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0,3% dan untuk SPBU Pertamina sebesar 0,25%
4. Minyak tanah sebesar 0,3%
5. Gas LPG sebesar 0,3%
6. Pelumas sebesar 0,3%

Yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22


1. Impor barang dan/penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan tidak terutang Pajak Penghasilan. (Menggunakan Surat Keterangan Bebas)
2. Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk dan/atau Pajak Pertambahan
Nilai
3. Impor sementara,
4. Impor kembali(re-impor)
5. Pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak
6. Impor emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan emas
untuk tujuan ekspor. (Menggunakan Surat Keterangan Bebas)
7. Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana Bantuan
Operasional Sekolah(BOS) (dilakukan tanpa Surat Keterangan Bebas)
8. Penjualan kendaraan bermotor didalam negeri yang dilakukan oleh industry otomotif,
ATPM, APM, dan importir umum kendaraan bermotor yang , yang telah dikenai
pemungutan PPh Pasal 22 ayat (1) huruf c UU PPh (dilakukan tanpa Surat Keterangan
Bebas (SKB))
9. Penjualan emas batangan oleh badan usaha yang memproduksi emas batangan kepada
Bank Indonesia (dilakukan tanpa Surat Keterangan Bebas (SKB))

Saat terutang dan pelunasan /pemungutan PPh Pasal 22:


1. PPh Pasal 22 atas impor terutang dan dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea
Masuk.
2. Dalam hal pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, maka PPh pasal 22 terutang
dan dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Pemberitahuan Impor Untuk Dipakai (PIUD)
3. PPh Pasal 22 atas pembelian barang oleh DJP, Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah,
BUMN/D, yang dibayar dari belanja negara dan/atau belanja daerah, terutang dan dipungut
pada setiap dilakukan pembayaran.
4. PPh pasal 22 atas penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak
dibidang industri semen, rokok, kertas, baja dan otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala
Kantor Pelayanan Pajak, dipungut pada saat penjualan.
5. PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi oleh pertamina dan badan usaha selain
Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas harus
dilunasi sendiri oleh penyalur, agen, atau pembeli lainnya sebelum Surat Perintah
Pengeluaran Barang (Delivery Order) ditebus.
6. PPh Pasal 22 atas pembelian bahan kebutuhan industri dan ekspor dibidang pertanian,
perkebunan, Kehutanan dan Perikanan pada saat pembelian

Tata cara pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 22


1. Atas Impor
a. Disetor oleh importir ke Bank Devisa dengan ,menggunakan formulir Surat Setoran
Pajak yang berlaku sebagai bukti pungutan pajak.
b. Dipungut dan disetor oleh Direktirat Jenderal Bea dan Cukai.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Pasal 22
dalam rangkap 3 yaitu:
 Lembar pertama untuk pembeli
 Lembar kedua untuk disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak sebagai lampiran
laporan bulanan
 Lembar ketiga untuk arsip Pemungutan Pajak yang bersangkutan.

B. Buku Pembanding PPh Pasal 22


Buku pembanding I
Pajak Penghasilan Pasal 22 merupakan pajak yang dipungut oleh bendaharawan
pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga
pemerintah dan lembaga-lembaga negara lain, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan
barang, dan badan-badan tertentu, baik pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan
dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lain.
PPh Pasal 22 dibayar dalam tahun berjalan melalui pemotongan atau pemungutan oleh
pihak-pihak tertentu.
Pemungut Pajak
Pasal 22 ayat (1) UU PPh menyatakan bahwa Menteri Keuangan dapat menetapkan:
1. Bendahara pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas
penyerahan barang;
2. Badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari wajib pajak yang melakukan
kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain; dan
3. Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas pembelian barang
yuang tergolong mewah.

Menurut Peraturan Menteri Keuangan No 224/PMK, 011/2012, Pemungut PPh pasal 22


meliputi;

1. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;
2. Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Bendahara Pemerintah baik di tingkat Pusat ataupun
di tingkat Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang;
3. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang melakukan pembelian
barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN), dan/atau belanja daerah
(APBD)
4. Bank Indonesia(BI), Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Badan Urusan
Logistik (Bulog), PT.Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT perusahaan Listrik Negara
(PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau Sleel, Pertamina, bank BUMN
yang melakukan pembelian dengan dana yang bersumber dari APBN;
5. Badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, rokok kertas, baja dan otomotif,
yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di
dalam negeri;
6. Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar
minyak jenis premix dan gas atau penjualan hasil produksinya;
7. Badan usaha industri dan eksportir sector pertanian, perkebunan, kehutanan dan
perikanan yang ditunjuk oleh kepala kantor pelayanan yang ditunjuk oleh kepala kantor
pelayanan pajak atas pembelian bahan-bahan kebutuhan untuk industri dan ekspor
mereka dari pedagang pengumpul.
8. Agen Tunggal Pemegang merek(ATPM) dan sebagainya

KEGIATAN YANG DIKENAKAN PPh PASAL 22

1. Impor barang
2. Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh bendahara Pemerintah dan
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah dan
lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya.
3. Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan
(UP) oleh bendahara pengeluaran
4. Pembayaran atas pembelian barang kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan
mekanisme pembayaran langsung (LS) yang dilakukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA
5. Pembayaran atas pembelian barang dan/atau bahan-bahan untuk keperluan kegiatan
BUMN meliputi PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan sebagainya
6. Penjualan hasil industri yang bergerak di bidang usaha indutri farmasi kepada usaha
semen, kertas, baja, otomotif, dan industry farmasi kepada distributor didalam negeri
7. Penjualan kendaraan bermotor didalam negeri oleh Agen Tunggal Pemegang Merek
(ATPM), ATM, dansebagainya
8. Penjualan bahan bakar minyak , bahan bakar gas, dan dan pelumas oleh produsen atau
importir bahan bakar minyak, bahan bakar gas dan pelumas.
9. Pembelian bahan-bahan dari pedagang pengumpul untuk keperluan industrinya atau
ekspornya oleh industry dan eksportir yang bergerak dalam sector kehutanan,
perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan.
10. Penjualan barang yang tergolong sangat mewah oleh Wajib Pajak Badan.

KEGIATAN YANG TIDAK DIKENAKAN PPh PASAL 22


 Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan;
 Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk dan atau Pajak Pertambahan
Nilai:
 Barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia
berdasarkan asas timbal balik;
 Barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang bertugas di
Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia yang diakui dan terdaftar dalam
peraturan menteri keuangan yang mengatur tentang tata cara pemberian pembebasan
bea masuk dan cukai atas impor barang untuk keperluan badan internasional beserta
para pejabatanya yang bertugas di Indonesia;
 Barang kiriman hadiah/hibah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, kebudayaan
atau untuk kepentingan penanggulangan bencana;
 Barang untuk keperluan museum, kebun binatang, konservasi alam dan tempat lain
semacam itu yang terbuka untuk umum;
 Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
 Barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat lainnya;
 Peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;
 Barang pindahan;
 Barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang
kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
kepabeanan;
 Barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang ditujukan
untuk kepentingan umum;
 Persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk suku cadang yang
diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;
 Barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan
pertahanan dan keamanan negara;
 Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);
 Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;
 Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, kapal angkutan
penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan
suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang
diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan
penangkapan ikan nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional
atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan
Nasional sesuai dengan kegiatan usahanya;
 Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat
keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan
digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional, dan suku cadangnya,
serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan pesawat udara yang diimpor oleh
pihak yang ditunjuk oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang digunakan
dalam rangka pemberian jasa perawatan dan reparasi pesawat udara kepada
Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional;
 Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta
prasarana yang diimpor dan digunakan oleh oleh badan usaha penyelenggara sarana
perkeretaapian umum dan/ atau badan usaha penyelenggara prasarana perkeretaapian
umum, dan komponen atau bahan yang diimpor oleh pihak yang ditunjuk oleh badan
usaha penyelenggara sarana perkeretaapian umum dan/atau badan usaha
penyelenggara prasarana perkeretaapian um um yang digunakan untuk pembuatan
kereta api, suku cadang, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan, serta prasarana
perkeretaapian yang akan digunakan oleh badan usaha penyelenggara sarana
perkeretaapian umum dan/ atau badan usaha penyelenggara prasarana perkeretaapian
umum;
 Peralatan berikut suku cadangnya yang digunakan oleh Kemente:ian Pertahanan atau
Tentara Nasional Indonesia untuk penyediaan data batas dan foto udara wilayah
Negara Republik Indonesia yang dilakukan untuk mendukung pertahanan Nasional,
yang diimpor oleh Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia atau pihak
yang ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan atau Tentara Nasional Indonesia;
 Barang untuk kegiatan hulu Minyak dan Gas Bumi yang importasinya dilakukan oleh
Kontraktor Kontrak Kerja Sama; dan/atau
 Barang untuk kegiatan usaha panas bumi.

 Impor sementara, jika pada waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan untuk diekspor
kembali;

 Impor kembali (re-impor), yang meliputi barang-barang yang telah diekspor kemudian
diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau barang-barang yang telah diekspor untuk
keperluan perbaikan, pengerjaan dan pengujian, yang telah memenuhi syarat yang
ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;

 Pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf i, dan huruf j berkenaan dengan:

 pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 1 ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d yang jumlahnya paling banyak Rp
2.000.000 tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan bukan merupakan
pembayaran yang dipecah dart suatu transaksi yang nilai sebenarnya lebih dart Rp
2.000.000;
 pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 ayat (1) huruf e yang jumlahnya paling banyak Rpl0.000.000 tidak termasuk
Pajak Pertambahan Nilai dan bukan merupakan pembayaran yang dipecah dart suatu
transaksi yang nilai sebenarnya lebih dart Rpl0.000.000.

 Impor emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan dari
emas untuk tujuan ekspor.

 Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana Bantuan


Operasional Sekolah (BOS)

 Penjualan kendaraan bermotor di dalam negeri yang dilakukan oleh industri otomotif,
Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), Agen Pemegang Merek (APM), dan importir
umum kendaraan bermotor, yang telah dikenai pemungutan Pajak Penghasilan
berdasarkan ketentuan Pasal 22 ayat (1) huruf c UU PPh.
 Penjualan emas batangan oleh badan usaha yang melakukan penjualan emas batangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) huruf k kepada Bank Indonesia.

TARIF DAN DASAR PEMUNGUTAN

No Tarif Dasar Pengenaan Kegiatan


.

1. 2,5% Nilai Impor Impor yang menggunakan API

2. 0,5% Nilai Impor Impor yang menggunakan API khusus kedelai,


gandum, dan tepung terigu

3. 7,5% Nilai Impor Impor tanpa API

4. 7,5% Harga Jual Lelang Impor yang tidak dikuasai

5. 1,5% Harga pembelian 1. Pembayaran atas pembelian barang yang


tidak termasuk dilakukan oleh Bendahara Pemerintah dan KPA
PPN sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga negara
lainnya.
2. Pembayaran atas pembelian barang yang
dilakukan dengan mekanisme uang persediaan
(UP) oleh bendahara pengeluaran
3. Pembayaran atas pembelian barang kepada pihak
ketiga yang dilakukan dengan mekanisme
pembayaran langsung (LS) yang dilakukan oleh
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat
penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi
delegasi oleh KPA.
4. Pembayaran atas pembelian barang dan/atau
bahan-bahan untuk keperluan kegiatan usahanya
BUMN.

6. 0.25% Penjualan tidak Penjualan bahan bakar minyak oleh produsen atau
termasuk PPN importirnya kepada stasiun pengisian bahan bakar
umum Pertamina.

7. 0,3% Penjualan tidak Penjualan bahan bakar minyak oleh produsen atau
termasuk PPN importirnya kepada stasiun pengisian bahan bakar
umum bukan Pertamina

Dan sebagainya

MENGHITUNG PPH PASAL 22


PPh Pasal 22 = tariff x Dasar Pengenaan Pajak

Buku pembanding II
PENGERTIAN
PPh Pasal 22 merupakan PPh dalam tahun berjalan yang dipungut oleh :
 Bendaharawan pemerintah, termasuk bendahara pada Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah, instansi atau lembaga Pemerintah, dan lembaga-lembaga negara lainnya,
berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang termasuk juga dalam
pengertian bendahara adalah pemegang kas dan pejabat lain yang menjalankan fungsi
yang sama ;
 Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta, berkenaan dengan
kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lain, seperti kegiatan usaha
produksi barang tertentu antara lain otomotif dan semen, dan;
 Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang
yang tergolong sangat mewah.

KEGIATAN IMPOR DAN EKSPOR


Objek dan Tarif PPh Pasal 22
Atas impor
1. Barang tertentu, dikenakan PPh pasal 22 sebesar 10% dari nilai impor
2. Barang tertentu lainnya, dikenakan PPh pasal 22 sebesar 7,5% dari nilai impor
3. Kedelai, gandum, dan tepung terigu dikenakan PPh pasal 22 sebesar 0,5% dari nilai
impor dengan menggunakan API
4. Barang selain barang tertentu, barang tertentu lainnya, kedelai, gandum, dan tepung
terigu menggunakan API, dikenakan PPh pasal 22 sebesar 2,5% dari nilai impor
5. Barang selain barang tertentu, barang tertentu lainnya, kedelai, gandum, dan tepung
terigu yang tidak menggunakan API, dikenakan PPh pasal 22 sebesar 7,5% dari nilai
impor
6. Barang yang tidak dikuasai, dikenakan PPh pasal 22 sebesar 7,5% dari harga jual lelang
Yang dimaksud dengan nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar
penghitungan Bea Masuk yaitu CIF + Bea Masuk dan pungutan lainnya dikenakan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan kepabean di bidang impor.
Pemungut pph pasal 22
Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
PEMBELIAN BARANG OLEH BENDAHARAWAN PEMERINTAH
Objek dan Tarif PPh Pasal 22, berkenaan dengan pembayaran dan pembelian dilakukan
oleh;
1. Bendahara Pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak
pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau Lembaga Pemerintah dan
lembaga-lembaga negara lainnya;
2. Bendahara pengeluaran dan mekanisme uang persediaan dengan mekanisme uang
persediaan (UP);
3. KPA atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA,
berkenaan dengan pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme
pembayaran langsung (LS)
Dikenakan PPh Pasal 22 sbesar 1.5% dari harga pembelian tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai
Pemungut PPh Pasal 22
Bendaharawan, KPA, dan pejabat penerbit Surat Perintah Membayar
PEMBELIAN BARANG OLEH BUMN DAN BADAN USAHA TERTENTU
Objek dan Tarif PPh Pasal 22
1. BUMN
2. Badab Usaha dan BUMN yang merupakan hasil dari rekstruisasi yang dilakukan oleh
Pemerintah, dan restrukturisasi Yang dilakukan oleh Pemerintah, dan restrukturisasi yang
dilakukan melalui pengalihan saham milik negara kepada BUMN lainnya, dan
3. Badan usaha tertentu yang dimiliki secara langsung oleh BUMN, meliputi PT Pupuk
Sriwidjaja Palembang, PT Petrokimia Gresik, dan sebagainya
Dikenakan tarif PPh Pasal 22 sebesar 1,5% dari harga pembelian tidak termasuk PPN
Pemungut PPh pasal 22 nya adalah BUMN dan badan usaha tertentu yang dimiliki
langsung oleh BUMN

PENJUALAN HASIL PRODUKSI INDUSTRI TERTENTU


Objek dan tarif PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi kepada distributor di dalam
negeri oleh badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industry semen, kertas, baja,
otomotif, dan farmasi.
1. Penjualan semua jenis semen sebesar 0.5%;
2. Penjualan kertas sebesar 0,1%;
3. Penjualan baja sebesar 0,3%;
4. Penjualan semua jenis kendaraan bermotor beroda dua atau lebih, tidak termasuk alat
berat, sebesar 0,45%;
5. Penjualan semua jenis obat sebesar 0,3%.
Dari dasar pengenaan PPN
Pemungut PPh pasal 22nya adalah badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industry
semen, industry kertas, naja, otomotif dan farmasi.

PENJUALAN BAHAN BAKAR MINYAK, BAHAN BAKAR GAS, DAN PELUMAS


Objek dan tariff PPh Pasal 22, atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan
pelumas oleh produsen atau importir bahan bakar minyak, gas dan pelumas adalah:

Bab III. PEMBAHASAN


A. Pembahasan Isi Buku
1. Buku Utama
a. Kelebihan Buku
1. Buku tersebut menyertakan contoh soal dan penyelesaian mengenai materi yang telah
dijelaskan
2. Buku utama tersebut tidak terlalu tebal, sehingga tidak membuat kita keberatan saat
membawanya.
3. Terdapat latihan pada akhir bab ataupun setelah materi selesai/habis

b. Kekurangan Buku
1. Terdapat beberapa kesalahan dalam hasil penjumlahan di buku utama
2. Tidak semua materi disertakan dengan contoh perhitungan.
3. Sebagian dari penyelesaian contoh soal, sulit untuk dipahami/dimengerti.
4. Penulisan materi kurang rapi sehingga pembaca merasa mudah bosan dalam
membacanya

2. Buku Pembanding 1
a. Kelebihan Buku
1. Materi yang disajikan lengkap, jelas dan lebih mudah untuk dipahami
2. Disertai dengan contoh soal dan penyelesaiannya di setiap materi
b. Kekurangan Buku
1. Materi dalam buku tersebut ada yang sudah tidak sesuai dengan yang saat ini
digunakan, buku tersebut perlu diperbaharui agar lebih relevan
2. Tidak terdapat latihan untuk pembaca

3. Buku Pembanding 2
a. Kelebihan buku
1. Bahasa yang digunakan mudah dipahami
2. Setiap materi yang ada, disampaikan dengan terperinci dan jelas
b. Kekurangan Buku
1. Tidak terdapat contoh soal dalam buku tersebut
2. Tidak ada soal untuk latihan, hanya materi saja
Bab IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah pajak yang dipungut oleh bendaharawan pemerintah,
baik pemerintah pusat maupun Pemerintah daerah, insatnsi atau lembaga-lembaga negara
lain, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang, dan badan-badan teretntu
baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan usaha di bidang lain.
Melalui review ketiga buku tersebut, penulis mendapat kesimpulan bahwa sebenarnya
ketiga buku tersebut sudah cukup bagus, hanya saja perlu untuk terus dilengkapi dan
diperbaharui agar lebih relevan untuk digunakan, karena setiap buku tersebut memiliki
kekurangan dan kelebihan masing-masing.

B. Rekomendasi
Ada baiknya jika penulis menggunakan bahasa yang mudah untuk pembaca pahami.
Serta dalam skema atau pola yang terdapat didalam buku akan lebih mudah untuk
pembaca mengerti apabila terdapat penjelasan disertai contoh yang lebih rinci mengenai
hal terkait, disertai dengan latihan soal. Dalam menulis sebuah buku ataupun modul perlu
memperhatikan tata letaknya agar dibuat lebih rapid an lebih menarik.
DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Perpajakan, 2019. Modul Perpajakan; fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Medan

Resmi, Siti. 2014. Perpajakan Teori dan Kasu.Jakarta: Salemba Empat.

Mardiasmo. 2018. Perpajakan.Bandung: Andi

Anda mungkin juga menyukai