Nama : Adam Padillah
NPM : 2010601032
Kelas : Hukum dan Kebijakan Publik
LEGAL OPINION
Analisis Kebijakan Pembangunan Bendungan Bener di Desa Wadas Sebagai Salah
Satu Proyek Strategis Nasional (PSN) Pemerintah
A. Posisi Kasus
pada bulan September 2021, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
mengeluarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7
Tahun 2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional. Salah satu proyek
yang masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) adalah pembangunan
Bendungan Bener di Desa Wadas Kabupaten Purworejo. Tujuan pembangunan
Bendungan Bener adalah untuk memenuhi area irigasi seluas 15.519 hektar,
menyuplai air untuk Kabupaten Purworejo, Kebumen, dan kulonprogo, serta
difungsikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).1
Disamping tujuan dan kegunaan pembangunannya. Proyek Bendungan
Bener mengalami banyak sekali penolakan dari masyarakat sekitar. Pembangunan
Bendungan Bener dinilai dapat memberikan dampak buruk terhadap lingkungan
dan masyarakat sekitar. Pembangunan Bendungan Bener akan mengancam
kelangsungan lingkungan hidup, pertanian, perkebunan, dan hutan. Hal ini
dikarenakan untuk menunjang pembangunan Bendungan Bener diperlukan
penambangan batuan Andesit dalam skala besar yang diambil dari desa Wadas.
Pengambilan material batu Andesit tersebut memerlukan pembebasan lahan yang
berdampak pada 11 desa lainnya.2 Pengaturan pendirian tambang batu andesit yang
meliputi Desa Wadas ini didasari oleh Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah
Nomor 590/20 Tahun 2021 tentang Pembaruan Atas Penetapan Lokasi Pengadaan
Tanah Bagi Pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo dan
Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah.
B. Isu Hukum
1. Bagaimana pengaturan pendirian tambang batu Andesit di desa Wadas
2. Bagaimana menilai konflik yang terjadi melalui peraturan perundang-undangan
yang berlaku
C. Sumber Hukum
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria
3. Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Kepentingan Umum
1
Adriansa, M. Z., Adhim, N., & Silviana, A. (2020). Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan
Bendungan Bener Di Desa Wadas Kabupaten Purworejo (Tahap I)(Studi Kasus Hambatan Dalam
Pengadaan Tanah Di Desa Wadas). Diponegoro Law Journal, 9(1), 138-154.
2
Hidajat, K. (2021). kasus desa wadas pembangunan bendungan bener Perspektif SDG’s
Desa. Jurnal Pemberdayaan Nusantara, 1(1), 1-8.
4. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
5. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum
D. Argumentasi Hukum
KONFLIK KONSTITUSIONAL
Berdasarkan pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, bumi, air, dan
kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ini berarti bahwa negara
mempunyai kuasa penuh atas seluruh sumber daya alam yang ada di Indonesia,
termasuk Batuan Andesit yang hendak dipergunakan untuk membangun
Bendungan Bener sebagai Proyek Srategis Nasional yang akan dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan air dan listrik masyarakat Kabupaten Purworejo, Kebumen,
dan kulonprogo. Namun karena proses penambangan batuan Andesit ini
menimbulkan dampak besar kepada masyarakat sekitar, tentu ini bertentangan
dengan pasal 28H Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
Pembebasan lahan untuk pembangunan nasional seringkali memang
menimbulkan dampak besar kepada masyarakat sekitar 3. Dalam kasus
penambangan batuan Andesit di desa Wadas, secara ekonomis masyarakat yang
mayoritas adalah seorang petani akan kehilangan mata pencahariannya akibat lahan
yang sudah diambil alih. Masyarakat juga akan mengalami dampak Kesehatan
karena banyaknya kendaraan dan alat berat yang digunakan untuk melakukan
penambangan menimbulkan polusi udara akibat muatan dan sisa bahan bakar yang
dikeluarkannya. Hal ini jelas mencederai nilai konstitusi yang menyatakan bahwa
setiap orang berhak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, serta mendapatkan
lingkungan hidup. Apabila melihat ketentuan penguasaan sumber daya alam dalam
pasal 33 ayat (3) UUD 1945, setiap penguasaan sumber daya alam yang dilakukan
oleh negara seharusnya memberikan kemakmuran disetiap pengelolaannya.
KECACATAN DALAM PERIZINAN
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengeluarkan Keputusan Izin
Penetapan Lokasi Nomor 509/41 Tahun 2018 yang kemudian diperbaharui dengan
Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 590/20 Tahun 2021 tentang
Pembaruan Atas Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan
Bendungan Bener. Keputusan tersebut berisi persetujuan penetapan lokasi
pengadaan tanah untuk pembangunan bendungan bener di Kabupaten Purworejo
dan Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan pasal 29 Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2021, setiap pembangunan untuk penetingan umum harus melewati tahap
konsultasi publik dari masyarakat yang terkena dampak. warga wadas yang
tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (GEMPADEWA)
secara terang telah menyampaikan penolakan nya terhadap penambangan batuan
Andesit melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS-SO). Namun
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah justru mengeluarkan keputusan Izin Penetapan
Lokasi yang bertentangan dengan penolakan warga Wadas sebagai masyarakat
terdampak, hal ini membuat Izin Penetapan Lokasi yang dikeluarkan Pemerintah
3
Anggraeni, R. M. (2022). Konflik Agraria Pembangunan Bendungan Bener Purworejo: Perspektif
Yuridis Normatif. El-Dusturie: Jurnal Hukum dan Perundang-Undangan, 1(1).
Provinsi Jawa tengah cacat formil karena tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.
PERAMPASAN HAK WARGA NEGARA
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Kepentingan Umum merupakan peraturan yang mengakomodasi kepentingan
pembangunan dan tetap melindungi hak-hak masyarakat. Hak-hak tersebut tidadk
bisa dicabut oleh pemerintah secara sewenang-wenang. Undang-undang ini juga
menyatakan bahwa masyarakat harus dilibakan dalam pengadaan tanah bagi
kepentingan umum mulai dari perencanaan, penetapan, hingga pembebasan lahan.
Masyarakat juga diberikan hak untuk menyampaikan keberatannya atas pengadaan
lahan dengan mengajukan gugatan ke PTUN.
Prinsip penguasaan negara atas tanah yang tercantum dalam UUD 1945 dan
Undang-Undang Pokok Agraria tidak dapat dimaknai dengan kaku. Dalam
hubungannya antara masyarakat dan negara, prinsip ini justru seharusnya
menempatkan masyarakat sebagai penikmat akhir atas penguasaan negara terhadap
tanah dan sumber daya alam lainnya. Negara menerima kuasa tersebut dari
masyarakat untuk mengatur peruntukkan, persediaan dan penggunaan nya untuk
masyarakat, sehingga masyarakat tidak dapat disub-ordinasikan kedudukannya
dibawah negara.
Berdasarkan pasal 18 UUPA, pengambilan tanah untuk kepentingan umum
memang dapat dilakukan tetapi harus diiringi dengan ganti rugi yang layak. Dalam
kasus penambangan batuan andesit di Desa Wadas, masyarakat pada saat itu belum
mendapat ganti kerugian yang layak dari negara. Masyarakat desa wadas justru
mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dan tidak menjunjung tinggi hak asasi
manusia. Pengepungan, penangkapan, pembatasan akses komunikasi, hingga
intimidasi dan represi dari aparat menjadi hal yang menimbulkan ketakutan dan
trauma masyarakat desa Wadas.4 Banyak ketentuna-ketentuan Hak Asasi Manusia
yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 yang dilanggar oleh
negara. Mulai dari hak untuk memperoleh keadilan, ha katas kebebasa pribadi,
hingga hak atas rasa aman.
Secara HAM hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat menjadi salah
satu hak kolektif warga negara yang harus ditegakkan. Sidang komisi Tinggi HAM
menegaskan bahwa “setiap orang memiliki hak hidup di dunia yang bebas dari
polusi bahan-bahan beracun dan degradasi lingkungan”. “Apabila pemerintah
menjadikan kebijakan negara menguasai bumi, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya, berkonsekuensi ternasionalisasinya hak-hak local,
khususnya yang berobjek tanah dan sumber-sumber agrarian menjadi landasan
mereka dalam mengambil alih sumber daya alam sebagai hak-hak masyarakat maka
terlihat jelas bahwa sebenarnya tidak ada kebijakan yang pro the (local) people (in
the periphery)” Soetandyo Wignjosoebroto
4
Bayu Apriliano, Puluhan Desa Wadas Perngati Satu Tahun Tragedi Penangkapan Oleh Aparat,
https://yogyakarta.kompas.com/read/2023/02/08/224714678/puluhan-warga-wadas-peringati-satu-tahun-
tragedi-penangkapan-oleh-aparat. Diakses pada tanggal 25 Mei 2023.
E. SARAN
Berdasarkan teori utilitarianisme, kebijakan yang baik adalah kebijakan
yang memberikan manfaat untuk semua. Artinya kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah sepatutnya tidak menimbulkan kerugian pada satu sisi masyarakat.
Kebijakan tersebut harus memberikan kebermanfaatan dan menghilangkan
kerugian secara menyeluruh. Dari konflik antara pemerintah dan masyarakat Desa
Wadas kita dapat mengambil pelajaran bahwa kebijakan dan program pemerintah
yang ditujukan untuk kepentingan umum, belum tentu mempertimbangkan
kepentingan rakyat secara menyeluruh.