Sifat dan Konstruksi Lapangan Berhingga
Sifat dan Konstruksi Lapangan Berhingga
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................................... II HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... III KATA PENGANTAR ...................................................................................... IV DAFTAR ISI ..................................................................................................... V BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. B. C. D. LATAR BELAKANG MASALAH .................................................................. 1 PEMBATASAN MASALAH .......................................................................... 2 PERUMUSAN MASALAH ............................................................................ 2 TUJUAN PENULISAN ................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 4 1. MATERI PENDUKUNG ................................................................................ 4 1.1 Group Siklik .......................................................................................... 4 1.2 Gelanggang .......................................................................................... 8 1.3 Lapangan ............................................................................................ 16 1.4 Ruang Vektor ...................................................................................... 21 1.5 Perluasan Lapangan ........................................................................... 23 1.6 Suku Banyak (Polinomial) ................................................................... 26 2. PEMBAHASAN ......................................................................................... 33 2.1 Pengertian Lapangan Berhingga ......................................................... 33 2.2. Sifat Sifat Lapangan Berhingga ....................................................... 34 2.3. Sublapangan ...................................................................................... 38 2.4 Cara Mengkonstruksi Lapangan Berhingga ........................... 39
2.5 Ketunggalan dari Lapangan Berhingga Berorder Sama (up to v Isomorphisma) ........................................................................................... 43 tutur widodo : pend. matematika uns
Lapangan Berhingga
vi
BAB I
PENDAHULUAN
Lapangan adalah salah satu objek yang dipelajari dalam aljabar abstrak, salah satu cabang ilmu matematika. Dalam disiplin ilmu matematika sendiri, lapangan memegang peranan yang sangat penting. Bahkan dalam perkuliahan pun lapangan memegang peranan penting. Sebagai contoh, ketika belajar kalkulus, teori bilangan, analisis riil maupun analisis kompleks, lapangan berperan penting di dalamnya. Mengapa bisa dikatakan demikian. Sebab objek seperti himpunan bilangan riil ( rasional ( ), himpunan bilangan kompleks ( ), himpunan bilangan ) dengan operasi
penjumlahan dan perkalian adalah contoh dari lapangan. Dalam perkuliahan Struktur Aljabar telah dipelajari pengertian awal tentang lapangan dan beberapa sifatnya. Salah satu objek yang dipelajari di lapangan yaitu lapangan berhingga. Lapangan berhingga ternyata memiliki sifatsifat yang menarik untuk dipelajari, pun lapangan berhingga sendiri memiliki aplikasi yang cukup luas misalnya di criptografi atau di teorema coding. Salah satu yang menarik dari lapangan berhingga adalah bahwa dapat dibuktikan setiap lapangan berhingga memiliki elemen sebanyak pn dengan p bilangan prima dan n bilangan bulat positif. Selain itu hal yang menarik penulis adalah bagaimana mengkonstruksi suatu lapangan berhingga, serta apa saja sifat sifat dari lapangan berhingga itu sendiri. Oleh karena itu, berdasarkan latar
belakang tersebut di atas, dalam makalah ini akan dibahas tentang pengertian 1 lapangan berhingga, sifat - sifat serta cara mengkonstruksinya.
Lapangan Berhingga
B. Pembatasan Masalah
Pada makalah ini, pembahasan mengenai materi lapangan berhingga lebih ditekankan pada teori teori dasar yaitu tentang pengertian dan sifat sifatnya. Sedangkan untuk terapannya termasuk mengenai Galois Field tidak dibahas pada makalah ini. Selain itu, cara mengkonstruksi lapangan berhingga yang diperkenalkan hanya satu yaitu dengan memanfaatkan polinomial
P
bagaimana cara mencari polinomial tak tereduksi tersebut tidak dibahas pada makalah ini.
x.
gelanggang
Demikian pula
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas , penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Apakah pengertian lapangan berhingga ? Apasaja sifat sifat yang dimiliki oleh lapangan berhingga? Bagaimana sifat sublapangan dari lapangan berhingga ? Bagaimana cara mengkonstruksi lapangan berhingga sesuai dengan banyak elemen yang dimuatnya ?
Lapangan Berhingga
D. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. 2. 3. 4. Mengetahui pengertian lapangan berhingga. Mengetahui sifat sifat lapangan berhingga. Mengetahui sifat sublapangan dari lapangan berhingga. Dapat mengkonstruksi lapangan berhingga sesuai dengan banyak elemen yang dimuatnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum memulai pembahasan tentang lapangan berhingga terlebih dahulu disajikan materi- materi terkait yang menjadi pendukung, sebagai berikut :
1. Materi Pendukung
1.1 Group Siklik Definisi 1.1.1 ( Definisi group ) Himpunan tak kosong G disebut group jika di dalam G terdefinisi satu operasi biner 1. Untuk setiap , assosiatif ) 2. Terdapat elemen ke , ( operasi biner yaitu fungsi dari
sedemikian sehingga
berlaku
( e disebut elemen identitas di G ) 3. Untuk setiap terdapat elemen ( disebut invers dari sedemikian sehingga ) (Grillet, 2000 : 8) Contoh : Himpunan bilangan bulat kenal membentuk group. dengan operasi penjumlahan ( + ) yang telah kita
Definisi 1.1.2 ( Definisi group siklik ) Suatu group G disebut group siklik jika 4 terdapat elemen sedemikian sehingga | .
Lapangan Berhingga
Elemen
yang demikian disebut generator dari G. Selanjutnya group siklik dinotasikan . (J.A. Galian, 1990 : 66)
Definisi 1.1.3 ( Definisi Order ) Misalkan G suatu group, order dari suatu elemen 1 yaitu bilangan bulat positif terkecil t sedemikian sehingga (elemen identitas di G). Order dari elemen dinotasikan .
(Fraleigh, 2000 : 408) Contoh : Mengacu contoh dari definisi 1.1.2, diperoleh | | 1 1 sedangkan 2 4 karena 2 16 1. 4 dan 1 1 sebab
(J.A. Galian, 1990 : 69) Bukti : Untuk membuktikan teorema di atas harus dibuktikan dua pernyataan yaitu: 1. Jika maka , 1
Lapangan Berhingga
2. Jika Untuk ,
membuktikan
Maka Jadi, | |
1. Diperoleh n = pt dengan t < n dan k = pw dengan w < k. . Karena . Dengan kata lain , , ,
berakibat bukan
, sehingga
. Jadi, haruslah
Untuk membuktikan ,
itu
1 berakibat terdapat . .
maka
. Karena G
G. Berdasarkan teorema 1.1.4 diatas, generator dari G yang lain adalah 3 27 1 2 , 2 2. Hal ini benar karena, 2 , 3 2 , 4 2
Group
Teorema 1.1.5 Misalkan G adalah group berhingga dengan order n, dengan sifat setiap bilangan bulat positif d yang membagi habis n, terdapat paling banyak d solusi dari persamaan elemen identitas di G) (Herstein, 1996 : 222) Bukti : Misalkan adalah banyaknya elemen di G yang memiliki order d. Ambil di G. Maka G adalah group siklik. (e
sebarang d bilangan bulat positif yang membagi habis n. Jika terdapat tutur widodo : pend. matematika uns
Lapangan Berhingga
adalah
. Sehingga setiap elemen di G yang berorder d mempunyai . Berdasarkan teorema 1.1.4 0. Oleh karena itu, untuk | |= n . Sehingga
.(
terdapat elemen di G yang berorder d maka setiap d yang membagi habis n berlaku Karena order dari setiap elemen di G membagi . Dari teori bilangan didapat
maka diperoleh
yang berorder n. Oleh karena itu, elemen elemen , , berbeda dan ada di G. Dengan kata lain , , ,
semuanya
adalah group
membentuk group.
Jadi, G memenuhi kondisi pada teorema 1.1.5 sehingga G merupakan group siklik ( telah dibuktikan pada contoh 1 ).
*penjelasan tentang fungsi Euler terdapat di lampiran. tutur widodo : pend. matematika uns
Lapangan Berhingga
1.2 Gelanggang Definisi 1.2.1( Definisi Gelanggang ) Himpunan R tak kosong disebut
gelanggang jika di dalam R terdapat dua operasi ( umumnya disimbolkan ( + ) dan ( . )) sedemikian sehingga berlaku : 1. jika , 2. 3. maka ( , , . . , , , .
R sehingga 0R +
. Selanjutnya 0R
dan
. . ,
Jika terdapat 1R
R, sehingga 1R. .
gelanggang dengan elemen satuan dan 1R disebut elemen satuan di R. Apabila di R juga berlaku gelanggang komutatif. , maka R dinamakan
.1
. ,
, ,
. R disebut
( Herstein, 1996 : 126 ) Contoh : Himpunan bilangan real dengan operasi penjumlahan (+) dan operasi perkalian
(.) yang sudah dikenal membentuk gelanggang. Definisi 1.2.2 ( Definisi daerah integral ) Misalkan R gelanggang komutatif, R disebut daerah integral jika untuk setiap . 0 mengakibatkan 0 atau , 0 . sedemikian sehingga
Lapangan Berhingga
Contoh : Himpunan bilangan real daerah integral. adalah gelanggang komutatif yang juga merupakan
Definisi 1.2.3 ( Definisi ideal ) Misalkan R suatu gelanggang. Himpunan tak kosong I disebut ideal jika berlaku : , . ( Herstein, 1996 : 140) Contoh : Himpunan , 4, 2, 0, 2, 4, 2 adalah ideal dari gelanggang .
Definisi 1.2.4 ( Definisi ideal maksimal ) Misalkan M ideal dari gelanggang R. M disebut ideal maksimal jika ideal lain di R yang memuat M sendiri atau R. (Herstein, 1996 : 148) Contoh : Himpunan gelanggang . , 6, 3, 0, 3, 6, 3 adalah ideal maksimal dari hanyalah M
Lapangan Berhingga
10
Lemma 1.2.5 |
Misalkan R gelanggang dan I ideal dari R, maka merupakan gelanggang terhadap operasi yang didefinisikan
sebagai berikut : untuk setiap , dan (Herstein, 1990 : 135) Bukti : Pertama dibuktikan operasi (+) dan (*) yang didefinisikan di atas well defined. Yaitu harus ditunjukkan untuk setiap dan maka , , , jika
serta, . Untuk keperluan di atas terlebih dahulu dibuktikan pernyataan berikut : Untuk setiap . Jika dengan Jika , berakibat untuk , sehingga berlaku berakibat , atau . Sehingga diperoleh . berakibat sehingga diperoleh, . Akibatnya . terdapat . , jika dan hanya jika
dan berikutnya diperoleh Sekarang kembali kepermasalahan, jika demikian pula jika
atau
berakibat
Lapangan Berhingga
11
Sekarang perhatikan, ..1) ..2) dari 1) dan 2) didapat . Jadi, karena I ideal .
Terbukti, operasi (+) dan (*) yang didefinisikan di atas well defined. Kedua, dibuktikan gelanggang). Ambil sebarang dengan 1. . Jadi, 2. .
3.
1 2
, ,
misalkan pula
dan
. Selanjutnya perhatikan,
0 .
dan untuk
pilih
sedemikian hingga 0 .
Lapangan Berhingga
12
8.
dan
I
2 3
I Berdasarkan sifat sifat 1 sampai 8, terbukti bahwa Contoh : Telah diketahui bahwa adalah gelanggang dan 2 2 0, 1 merupakan ideal dari . adalah gelanggang.
merupakan
adalah himpunan bilangan bulat modulo n. Operasi penjumlahan seperti yang telah dipelajari di teori bilangan.
dan perkalian di
Definisi 1.2.6 ( Definisi homomorphisma ) Misalkan R dan R suatu gelanggang, pemetaan 1. untuk setiap , 2. dari R ke R disebut homomorphisma jika berlaku :
Lapangan Berhingga
13
Didefinisikan
pula |
Kernel 0
dari
dinotasikan |
yaitu
dari
dinotasikan
didefinisikan
Apabila
isomorphisma. Selanjutnya gelanggang R dan R disebut isomorphic jika terdapat isomorphisma dari R onto R. Gelanggang R isomorphic dengan R disimbolkan .
(Herstein 1990 :135 ) Bukti : Pertama, dibuktikan well defined. Untuk itu, ambil sebarang , . Perhatikan, karena sehingga 0 (elemen , dengan
akan ditunjukkan
netral di R) dan M ideal di R berakibat . Jadi, Untuk membuktikan Perhatikan, well defined.
, serta . Terbukti homomorphisma. surjektif, ambil sebarang . Dengan kata lain berarti c dapat . Jadi,
Untuk membuktikan
Lapangan Berhingga
14
Teorema 1.2.8
isomorphisma dari
ideal dari R. Berdasarkan definisi kernel, didapat , homomorphisma berlaku dan sebarang 0 0 0 jadi
maka berlaku,
Jadi,
Sehingga
, .
. Oleh karena itu, terbukti I ideal dari R. dari R onto dan suatu . yaitu yaitu . Akan
0 0
0 0
Dari lemma 1.2.7 diperoleh, terdapat homomorphisma Selanjutnya didefinisikan pemetaan untuk setiap onto
dibuktikan bahwa adalah isomorphisma dari Pertama, dibuktikan bahwa pemetaan , dengan , . Karena . Sehingga
surjektif, berarti
untuk suatu
berakibat
untuk suatu
Lapangan Berhingga
15
. Sehingga terbukti
Kedua, ditunjukkan suatu homomorphisma. Untuk itu ambil sebarang , dan untuk suatu dan
Perhatikan, serta . Terbukti, homomorphisma. Terakhir, tinggal ditunjukkan injektif sekaligus surjektif. Untuk menunjukkan dinyatakan harus ditunjukkan berakibat karena itu, dan injektif , ambil sebarang untuk suatu dan , , sehingga dapat . Jika serta 0 . Oleh
. Karena . Sehingga
akan ditunjukkan
onto
yang berarti
Lapangan Berhingga
16
1.3 Lapangan Definisi 1.3.1( Definisi Lapangan ) Gelanggang F disebut lapangan jika berlaku sifat sifat sebagai berikut : 1. F gelanggang komutatif dan F memiliki elemen satuan. 2. Setiap elemen tak nol di F memiliki invers terhadap operasi perkalian di F. (Grillet, 2000:116) Contoh : Himpunan bilangan rasional dan himpunan bilangan real dengan operasi
penjumlahan dan operasi perkalian yang telah dikenal membentuk lapangan. Definisi 1.3.2( Definisi Sublapangan ) Misalkan F suatu lapangan dan . T disebut sublapangan dari F jika T sendiri membentuk lapangan terhadap operasi penjumlahan dan perkalian yang ada di F. (Grillet, 2000:118) Contoh : Himpunan adalah sublapangan dari lapangan .
Teorema 1.3.3 Misalkan R gelanggang komutatif dengan elemen satuan, dan M ideal maksimal dari R, maka = {r + M | r } adalah lapangan. (Herstein, 1996 : 149) Bukti : Untuk menunjukkan komutatif lapangan, harus dibuktikan adalah gelanggang memiliki
Lapangan Berhingga
17
Apabila (+) dan (*) menyatakan operasi seperti pada lemma 1.2.5 maka telah dibuktikan , , adalah gelanggang. Selanjutnya akan ditunjukkan , ,
komutatif dan memiliki elemen satuan. Perhatikan, untuk setiap Misalkan pula, 1 setiap 1 , berlaku, . 1 dan untuk
Jadi, terbukti
Oleh karena itu, tinggal dibuktikan untuk setiap elemen tak nol di
invers. Untuk keperluan ini, sebelumnya dibuktikan terlebih dahulu ideal di hanya { M } dan N di . Untuk membuktikannya andaikan terdapat ideal lain misal .
Berdasarkan lemma 1.2.7 terdapat homomorphisma . Selanjutnya misalkan . Akan dibuktikan T ideal dari R.
dan
. Demikian pula untuk sebarang , sehingga dan . diperoleh, karena N ideal dan
yaitu berarti
diperoleh
. Karena N ideal,
serta .
berakibat
Lapangan Berhingga
18
Jadi, serta
, padahal diketahui
Sekarang kembali ke tujuan awal yaitu membuktikan setiap elemen tak nol di tetapi memiliki invers. . Oleh karena itu, ambil | sebarang
Karena . Dengan
kata lain,
invers dari a.
Jadi, terbukti setiap elemen tak nol di telah dibuktikan Sehingga terbukti Contoh : Pada contoh dari lemma1.2.5, adalah ideal maksimal dari 2
diperoleh
Teorema 1.3.4 Daerah integral berhingga adalah lapangan. (Herstein, 1990 : 127 )
Lapangan Berhingga
19
Bukti : Misalkan D adalah daerah integral berhingga dan | | D ={d1, d2, d3, ... ,dn} dimana di = dj . Misalkan pula Untuk
membuktikan D suatu lapangan harus ditunjukkan bahwa D memiliki elemen satuan dan setiap elemen tak nol di D memiliki invers. Ambil elemen x dengan 0D .Perhatikan bahwa xd1, xd2, xd3, . . . ., xdn semuanya ada 0 sehingga , , 0 . Karena D ,
0D, maka haruslah di dj = 0D atau di = dj. Timbul , sehingga terbukti xd1, xd2, xd3, . . . ., xdn semuanya . Klaim bahwa
berbeda. Dengan kata lain, dapat ditulis D = { xd1, xd2, xd3, . . . ., xdn }. Padahal , sehingga , untuk suatu untuk suatu adalah
, dapat ditulis
. Berarti
adalah elemen
Selanjutnya ditunjukkan setiap elemen taknol di D memiliki invers. Perhatikan kembali bahwa sehingga , untuk suatu . Jadi, adalah
Definisi 1.3.5
Sublapangan
terkecil dari
lapangan F disebut sublapangan prima. (Robinson, 2003 : 185) Dengan kata lain sublapangan prima adalah irisan dari seluruh sublapangan yang ada di F. Lapangan yang sama dengan sublapangan primanya disebut lapangan prima.
Lapangan Berhingga
20
Definisi 1.3.6 ( Definisi karakteristik gelanggang ) Misal R gelanggang, dan n adalah bilangan bulat positif sedemikian sehingga 0 , . Bilangan
terkecil n yang memenuhi sifat tersebut dinamakan karakteristik dari R, dan R dikatakan memiliki karakteristik n. Apabila bilangan bulat positif yang demikian tidak ada, dikatakan R memiliki karakteristik 0. (Rudolf Lidl, 1994 : 16) Contoh : adalah contoh gelanggang dengan karakteristik 0, sedangkan gelanggang dengan karakteristik 2. adalah contoh
Lemma 1.3.7 Jika R adalah gelanggang dengan karakteristik p, p bilangan prima. Maka untuk setiap , .
Perhatikan,
Lapangan Berhingga
21
1 .
Teorema 1.3.8 Lapangan prima dengan karakteristik p 0 isomorphic dengan . (Robinson, 2003 : 186) Bukti : Ambil sebarang lapangan prima F dengan karakteristik p 0. Konstruksi homomorphisma, 1 ,
Ker( ) = p , berdasarkan teorema 1.2.8 diperoleh Im( Jadi, isomorphic dengan Im( sublapangan dari F. Tetapi F lapangan prima .
1.4 Ruang Vektor Definisi 1.4.1( Definisi bergantung linier dan bebas linier ) Diberikan ruang vektor V. Himpunan S = { v1, v2, . . . .vn } subset V disebut bergantung linier jika terdapat scalar sehingga . . .
,
, ., 0
Lapangan Berhingga
22
Apabila himpunan S = { v1, v2, . . . .vn } tidak bergantung linier, maka himpunan S = { v1, v2, . . . .vn } disebut bebas linier. (Herstein, 1990 : 178) Definisi 1.4.2 ( Definisi merentang / spanning ) Himpunan S = {v1, v2, . . . .vn} subset ruang vektor V disebut merentang V, dinotasikan V = span( S ) jika untuk setiap dengan
,
Definisi 1.4.3( Definisi basis ) Himpunan S = {v1,v2, . . . .vn} subset ruang vektor V disebut basis dari V jika S bebas linier dan S merentang V. (Herstein, 1990 : 180)
Lemma 1.4.4 Apabila {v1, v2, . . . ,vn } adalah basis dari V maka untuk setiap , penyajian adalah tunggal (unik). . . . .
dimana terdapat
1, 2, , . .
, sehingga .
. .
, . Selanjutnya diperoleh . . . . . .
Lapangan Berhingga
23
Padahal terdapat
dengan kenyataan bahwa {v1, v2, . . . .vn } basis dari V. Jadi, terbukti penyajian . . .
1,2, ,
, sehingga
banyaknya elemen himpunan basisnya. Dimensi ruang vektor V dinotasikan . (Herstein. 1990 : 181) Contoh : Misal ruang vektor V dengan basis , , maka diperoleh 3.
1.5 Perluasan Lapangan Definisi 1.5.1( Definisi perluasan lapangan ) Misalkan F dan E suatu lapangan dengan operasi yang sama. E disebut perluasan lapangan dari F jika .
(Robinson, 2003 : 186) Cara pandang lain yang berguna dalam belajar teori lapangan yaitu andaikan terdapat suatu homomorphisma yang injektif dari lapangan A ke lapangan B, katakanlah
diperoleh
Untuk selanjutnya dapat diasumsikan A sublapangan dari B, anggapan ini muncul dikarenakan A dapat digantikan oleh . Sehingga dapat dianggap B 0 merupakan perluasan
perluasan lapangan dari A. Dengan demikian, berdasarkan bukti teorema 1.3.8 diperoleh setiap lapangan dengan karakteristik
Lapangan Berhingga
24
lapangan dari
sebagai ruang vektor atas A dengan operasi penjumlahan dan perkalian yang ada di B.
Definisi 1.5.2 ( Derajat perluasan lapangan ) Misalkan E perluasan lapangan dari F. Derajat E atas F adalah dimensi dari E sebagai ruang vektor atas F. Derajat E atas F dinotasikan dengan [E: F]. Apabila [E: F] berhingga, maka E disebut perluasan berhingga dari F. (Herstein, 1996 :191)
Teorema 1.5.3 Jika K adalah perluasan berhingga dari lapangan L dan L adalah perluasan berhingga dari lapangan F, berhingga dari lapangan F dan : Bukti : Misalkan | 1,2,3, , | 1, 2, , adalah basis dari ruang vektor K atas L dan 1,2,3, , dan , 1,2,3, , : : maka K adalah perluasan
adalah basis dari ruang vektor L atas F. Apabila bisa | adalah basis dari
ditunjukkan bahwa
ruang vektor K atas F maka bukti selesai. Untuk itu ambil sebarang
. Sehingga
dapat dinyatakan,
Lapangan Berhingga
25
Jadi,
1,2,3, , dan |
1,2,3, , dan
1,2,3, ,
berakibat untuk setiap i, berlaku 0 Dengan argumentasi yang sama, karena ruang vektor L atas F maka berakibat j = 1,2,, m. Jadi, karena itu, | 1,2,3, , dan | |
1,2,3, , dan
1,2,3, ,
1,2,3, ,
Teorema terbukti.
Lapangan Berhingga
26
1.6 Suku Banyak (Polinomial) Untuk selanjutnya, simbol menyatakan gelanggang polinomial atas
lapangan , kecuali apabila dikatakan lain. Definisi 1.6.1( Definisi polinomial monic ) disebut polinomial
monic jika koefisien tak nol dari pangkat tertinggi dari x adalah 1. (Herstein, 1996 : 157) Contoh : 8 9 bukan polinomial monic. 8 9 merupakan polinomial monic, sedangkan 3
disebut daerah integral utama jika untuk setiap ideal I di , untuk suatu .
(Fraleigh, 2000 : 332) Teorema 1.6.3 merupakan daerah integral utama. (Herstein, 1990 :156 ) Bukti : Ambil sebarang ideal di Jika 0 maka jelas . . Akan ditunjukkan bahwa 0 . Oleh karena itu andaikan untuk suatu 0 . Selanjutnya,
ambil sebarang
sedemikian
Lapangan Berhingga
27
Euclid diperoleh, .
deg
, dengan
ideal di
dan
. Jadi,
deg
karena ,
Definisi 1.6.4 ( Definisi polinomial tak tereduksi ) Polinomial disebut tak tereduksi (irreducible) jika p(x) berderajat positif dan konstan atau tidak dapat
dinyatakan sebagai perkalian antara dua polinomial berderajat positif. Dengan kata lain, jika maka konstan.
(Herstein, 1996 : 159 ) Contoh : 1 merupakan polinomial tak tereduksi di tetapi tereduksi di .
yaitu
(Herstein, 1996 : 160 ) Bukti : Misalkan M = atau . Untuk menunjukkan M ideal maksimal dari sedemikian sehingga , harus maka
Lapangan Berhingga
28
Karena
sehingga
konstan atau
adalah ,
daerah
integral
utama,
maka ,
Jika
Karena Jika
. atau
Berarti .
, untuk suatu
, berakibat
Berarti .
konstan maka
, untuk suatu .
berlaku
. Sehingga . 1 .
Teorema 1.6.6
Misalkan polinomial
berderajat n. Maka
memiliki paling banyak n akar di sebarang perluasan lapangan dari F. (Herstein, 1996 : 209) Bukti : Akan dibuktikan teorema ini dengan induksi matematika. Untuk n = 1, maka dapat ditulis Sehingga satu satunya akar dari Asumsikan pernyataan benar untuk benar untuk adalah , dengan , . dan 0 .
tidak memiliki akar di sebarang perluasan lapangan pernyataan terbukti. Oleh karena itu, andaikan dengan adalah akar dari dan
1. Ambil polinomial
Lapangan Berhingga
29
akar dari
memiliki paling banyak k akar. Jadi, Dengan kata lain pernyataan benar untuk
maka
atau
akar
Teorema 1.6.7
berderajat n di F[x]. Maka terdapat perluasan lapangan K atas F dimana f (x) memiliki akar dan . (Herstein, 1996 : 211) Bukti : Perhatikan bahwa f (x) dapat dinyatakan . dengan
dengan mencari suatu perluasan lapangan dari F dimana p(x) memiliki akar. Karena p(x) tak tereduksi maka sehingga
0. Jadi untuk membuktikan teorema ini, cukup adalah ideal maksimal dari F [x], adalah perluasan
Sehingga didapat,
Lapangan Berhingga
30
Perhatikan bahwa M adalah ideal yang dibangun oleh p(x), sehingga setiap elemen tak nol di M pasti memiliki derajat lebih besar atau sama dengan p(x), sehingga 0 . Dari sini lebih jauh bisa diperoleh apabila homomorphisma di di
dikatakan bahwa K adalah perluasan lapangan dari F. Misalkan, diperoleh , maka untuk setiap 0 . Dengan kata lain . Dengan sifat homomorphisma dari , berlaku . , bisa Karena sehingga p(x). Jadi,
padahal
Selanjutnya tinggal dibuktikan bahwa K terbatas. Perhatikan untuk setiap dengan algoritma pembagian diperoleh, dengan . , dan , 0 atau
sehingga,
Ambil
sebarang
maka ,
terdapat , ,..,
, karena 0
sehingga
merentang K. Akan
0 atau
Maka diperoleh
sedang elemen tak nol di M memiliki derajat lebih besar atau sama dengan derajat maka diperoleh
0 . Jadi,
..
. Karena
Lapangan Berhingga
31
.1
..
0F. Jadi, 1 ,
..
,.., .
, sehingga bebas
perluasan lapangan K atas F dengan derajat paling besar n! dimana f (x) memiliki n akar. (Herstein, 1996 : 212) Bukti : Akan dibuktikan teorema ini dengan cara induksi. Untuk n = 1, bisa dimisalkan sehingga akar dari 1! adalah , dengan , dan 0
1 sehingga f memiliki akar, katakanlah a adalah akar . dan terdapat perluasan lapangan K atas K1 1 ! 1 !. ! Jadi, f (x) memiliki k + 1 akar Sehingga
memiliki akar ganda ( multiple memiliki faktor yang sama. ( f merupakan turunan
Lapangan Berhingga
32
(Herstein, 1990 : 233) Bukti : Andaikan a adalah , dimana akar 1. Sehingga, ganda dari f, maka , diperoleh
tidak memiliki akar ganda atau dengan kata lain semua akarnya berbeda.
Lapangan Berhingga
33
2. Pembahasan
2.1 Pengertian Lapangan Berhingga Definisi 2.1.1 Suatu lapangan yang memuat elemen sebanyak berhingga disebut lapangan berhingga. (Herstein, 1996 : 221 )
Sebelum pembahasan lebih jauh tentang lapangan berhingga, berikut diberikan contoh lapangan berhingga yang paling sederhana dan sudah cukup dikenal.
(Rudolf Lidl, 1994 : 14) Bukti : Andaikan n bukan bilangan prima , maka n = a. b dengan 1 < a, b < n. Karena . 1 suatu lapangan maka setiap elemen tak nol di . Lebih lanjut diperoleh bahwa . . 0 berarti terdapat [c] di memiliki invers.
sehingga 0
Diketahui bahwa n bilangan prima. komutatif. Selanjutnya akan ditunjukkan bahwa [a], [b] anggota
bilangan bulat k. Karena n prima maka n membagi a atau n membagi b. Jadi, [a] = [0] atau [b] = [0]. Sehingga terbukti daerah integral. Berdasarkan teorema 1.3.3, berhingga maka adalah
lapangan. Dalam kasus ini karena elemen berhingga. tutur widodo : pend. matematika uns
suatu lapangan
Lapangan Berhingga
34
2.2. Sifat Sifat Lapangan Berhingga Teorema 2.2.1 Karakteristik dari lapangan berhingga adalah berupa bilangan prima. (Rudolf Lidl, 1994 : 16) Bukti : Ambil sebarang lapangan berhingga F. Misalkan |F| = n. Perhatikan himpunan { 1F, 2.1F, 3.1F, . . . ., (n + 1).1F} kelipatan dari 1F yang semuanya termuat di F. Karena F hanya terdiri dari n elemen, berarti terdapat bilangan bulat k, m dimana 1 k < m (n +1) sedemikian sehingga k.1F = m.1F atau (m k ).1F = 0F. Selanjutnya, untuk sebarang (m- k). = (m k ).1F. = 0F. berlaku
karakteristik berupa bilangan bulat positif. Katakanlah karakteristik dari F adalah p, karena F memuat elemen tak nol maka p 2. Andaikan p bukan prima, berarti p = x.y dengan 1 < x, y < p. Perhatikan bahwa, 0F = p.1F = (x.y).1F = (x.1F).(y.1F). Padahal, F adalah lapangan yang berarti juga suatu daerah integral. Sehingga haruslah x.1F = 0F atau y.1F = 0F. Selanjutnya, untuk sebarang x. = x.1F. = 0F. berlaku = y.1F. = 0F. = 0F. Hal ini kontradiksi
= 0F atau y.
Teorema 2.2.2 Jika F adalah lapangan berhingga dengan karakteristik p, maka F memuat pn elemen dengan n suatu bilangan bulat positif. (J.A. Gallian, 1990 : 309) Bukti : Karena F merupakan lapangan berhingga dengan karakteristik p maka F merupakan perluasan lapangan dari , , , . Jadi, pandang F sebagai ruang vektor atas .
. Karena F berhingga maka dimensi F juga hingga, katakanlah Misalkan pula basis dari F. Perhatikan pula bahwa setiap
Lapangan Berhingga
35
Teorema di atas menyatakan bahwa banyaknya elemen dari lapangan berhingga berupa bilangan prima atau pangkat dari bilangan prima. Akan tetapi, untuk setiap bilangan prima p dan bilangan bulat positif n belum ada jaminan ditemukan lapangan berhingga F yang banyak elemennya pn. Namun, teorema berikut memberikan jaminan lapangan berhingga tersebut ada.
Teorema 2.2.3 Untuk setiap p dan n, dengan p bilangan prima dan n bilangan bulat positif terdapat lapangan berhingga yang memuat elemen sebanyak pn. (Herstein, 1996 : 226) Bukti : Perhatikan polinomial , dengan adalah akar- akar dari dan semuanya di K. | . Berdasarkan teorema memiliki m akar, atau
Sehingga
Berdasarkan akibat lemma 1.6.9 semua akar tersebut berbeda. Jadi . Selanjutnya perhatikan himpunan
,,
, diperoleh : . Jadi,
Lapangan Berhingga
36
Demikian pula,
Sampai sejauh ini, telah dibuktikan bahwa A suatu gelanggang. Karena K lapangan maka adalah gelanggang komutatif . Selain itu 1 juga anggota
. Sehingga
A. Jadi, tinggal ditunjukkan bahwa setiap invers perkalian dari elemen tak nol di A juga ada di A. Perhatikan, 1 1 . . Sehingga, . Jadi, . 1 atau
Teorema 2.2.3 di atas memberikan jaminan adanya lapangan berhingga untuk setiap bilangan prima p dan bilangan bulat positif n yang kita ambil. Untuk selanjutnya, lapangan berhingga F yang memuat q elemen dapat pula dinotasikan dengan GF(q) yaitu Galois Field yang memuat q elemen. Khususnya untuk dapat dinotasikan dengan .
Definisi 2.2.4
yaitu himpunan elemen elemen tak nol di GF(q), Elemen yaitu disebut elemen primitive apabila |
membangun GF(q)*
Teorema 2.2.5 Untuk setiap lapangan berhingga operasi perkalian di merupakan group siklik.
terhadap
Lapangan Berhingga
37
terdapat paling banyak d solusi, dengan d sebarang bilangan bulat positif. Demikian pula karena memiliki paling banyak d solusi di yang membagi habis |GF(q)*|. Jadi, berdasarkan teorema 1.1.5 dapat disimpulkan bahwa siklik. adalah group maka persamaan juga
Lemma 2.2.6 Misalkan F perluasan lapangan dari jika dan hanya jika .
dan
. Maka
maka diperoleh
Apabila kedua ruas kita kalikan dengan dengan fakta bahwa Dari sini diperoleh, , . , . ,, .. 1 ,
. Kontradiksi
..
..
yang berakibat
..
Lapangan Berhingga
38
elemen 0
. Sedangkan untuk 0 .
Berdasarkan bukti di atas diperoleh bahwa setiap elemen merupakan penyelesaian dari persamaan . Padahal persamaan . yang
memiliki solusi paling banyak sejumlah q. Jadi, untuk setiap elemen memenuhi kesamaan pasti merupakan anggota
2.3. Sublapangan Teorema 2.3.1 Diketahui lapangan berhingga . Untuk setiap bilangan yang
membagi 1 1
membagi polinomial
1. Ini berarti
. Padahal berdasarkan lemma 2.2.6 himpunan semua adalah . Jadi, , demikian pula himpunan semua akar dari merupakan sublapangan dari . . Andaikan
akar dari
adalah Selanjutnya
terdapat dua sublapangan berbeda dari . Hal ini berakibat polinomial tutur widodo : pend. matematika uns
Lapangan Berhingga
39
akar. Jadi,
dengan syarat
2 2
: memiliki sublapangan
Berdasar teorema 2.3.1 dan contoh diagram di atas, secara natural akan muncul pertanyaan apakah tidak ada sublapangan lain dari ,..., selain ,
2.4 Cara Mengkonstruksi Lapangan Berhingga Sejauh ini telah dipelajari beberapa sifat dari lapangan berhingga .
Berikutnya akan diberikan salah satu alternatif mengkonstruksi lapangan berhingga berdasarkan teorema 1.6.8 dan 2.2.3 yang telah dipelajari sebelumnya. Pertama, diperkenalkan terlebih dahulu pengertian tentang modulo dan kongruensi di F[x].
Lapangan Berhingga
40
modulo
sedemikian hingga
Ditulis
. (http://zaki.math.web.id)
dan
. Sama
seperti pengertian kongruensi pada bilangan bulat, dengan relasi modulo ini dapat dibentuk klas- klas ekuivalensi sebagai berikut, Definisi 2.4.2 memuat Untuk suatu polinomial ialah | yaitu himpunan semua polinomial yang kongruen dengan modulo , klas ekuivalensi yang
dan . . (http://zaki.math.web.id) Akhirnya, untuk mengkonstruksi dan polinomial tak tereduksi bisa memanfaatkan gelanggang berderajat n, yaitu
Lapangan Berhingga
41
0, 1,
Seperti telah dijelaskan di atas, untuk mengkonstruksi gelanggang dan polinomial tak tereduksi
pertanyaan yang muncul, apakah untuk sebarang bilangan asli n selalu terdapat polinomial tak tereduksi berderajat n di jawaban pertanyaan tersebut, . Teorema berikut memberi
Teorema 2.4.3 Untuk sebarang lapangan berhingga bilangan asli n, terdapat polinomial tak tereduksi
Bukti : Berdasarkan teorema 2.2.3 terdapat lapangan berhingga K yang memuat elemen. Karena t membagi tn maka F merupakan sublapangan dari K. Dengan kata lain, K adalah perluasan lapangan dari F. Apabila K dipandang sebagai ruang vektor atas F, sedangkan K memiliki elemen dan F memiliki group siklik, katakanlah didefinisikan homomorphisma elemen maka . Selain itu K* merupakan
Lapangan Berhingga
42
dengan
Karena a adalah elemen primitive dari K* maka untuk setiap i berlaku Jadi, Sehingga diperoleh atau . . Karena untuk suatu dan
dan
basis dari . .
merupakan daerah integral utama, sehingga terdapat polinomial tak nol sedemikian sehingga . Dari sini diperoleh 0.
merupakan polinomial berderajat minimal di F [x] sedemikian hingga Klaim bahwa merupakan polinomial tak tereduksi berderajat n yang dicari. dengan ,
Diperoleh
Karena F [x] daerah integral berakibat dengan fakta bahwa sedemikian hingga di F [x]. 1, , , ,.., 0. Jadi, terbukti
0 atau
di F [x] dimana
. Diketahui pula | |
sehingga
Lapangan Berhingga
43
kurang dari w di F [x]. Jadi,untuk setiap dengan kemungkinan banyaknya elemen di yaitu
Timbul kontradiksi karena diketahui . Oleh karena itu, diperoleh Sehingga terbukti,
Dengan adanya teorema di atas memberikan jaminan yang pasti bahwa cara mengkonstruksi lapangan berhingga yang dikemukan di depan dapat diterapkan untuk membangun sebarang lapangan berhingga berorder diminta. Sedangkan bagaimana cara menemukan polinomial tak tereduksi tersebut tidak dikemukan pada makalah ini. Pembaca dapat mencari referensi lain untuk keperluan tersebut. yang
2.5
Isomorphisma) Teorema berikut akan menunjukkan bahwa setiap lapangan berhingga yang berorder sama saling isomorphic.
Lapangan Berhingga
44
Teorema 2.5.1 Jika K dan L adalah lapangan berhingga yang berorder sama maka K dan L isomorphic. (Herstein, 1996 : 228) Bukti : Misalkan | | | | . Telah diketahui bahwa merupakan sublapangan dari . Misalkan pula
K dan L . Sehingga K dan L adalah perluasan lapangan dari merupakan elemen primitive dari K* dan
, untuk setiap :
dengan definisi,
Analog dengan bukti teorema 2.4.3, diperoleh serta berderajat n di dengan . Juga diperoleh .
, untuk setiap
. dan
dan
Lapangan Berhingga
45
dan
dan
serta, . . .
. Sehingga merupakan suatu homomorphisma. bijektif, Selanjutnya perlu dibuktikan bahwa Ambil sebarang
Lapangan Berhingga
46
andaikan Perhatikan,
akan ditunjukkan
berakibat tetapi diketahui pula bahwa 0 yang berakibat sehingga didapat . . Jadi, injektif. adalah
berarti
. Teorema terbukti.
Teorema di atas memberikan bukti bahwa sebarang lapangan berhingga yang berorder sama saling isomorphic. Dengan kata lain, dengan memanfaatkan relasi isomorphima ini kita dapat mengambil satu lapangan berhingga saja sebagai representasi lapangan berhingga lain yang berorder sama. Oleh karena itu, penulisan lapangan berhingga berorder beralasan. dengan simbol cukup
Lapangan Berhingga
47
Berikut dengan memanfaatkan fakta di atas akan dibuktikan jika H sublapangan berorder dari lapangan berhingga : : maka m membagi n. , sehingga . :
karena atas
maka
Pada bagian akhir dari makalah ini, diberikan contoh lapangan berhingga dan pembahasan mengenai elemen primitive dan sublapangannya. Contoh 1. Lapangan berhingga berorder 9 ( Untuk mengkonstruksi polinomial tak tereduksi Jadi, 9 1 9 1 ) dan 2
Catatan: tanpa mengurangi arti dan untuk menyederhanakan penulisan, tanda [] pada tiap elemen anggota Untuk operasi penjumlahan pada 9 dihilangkan. 9
1 2
4 4
membentuk group siklik berorder 8. Karena order dari tiap elemen di membagi 8 maka untuk mencari elemen primitive dari elemen 1 dan 9 * dengan sifat 1.
9 . Perhatikan bahwa,
2. Sebagai contoh, 6 4 4
9 * cukup mencari
9 *
9 *
Lapangan Berhingga
48
Kita mulai dengan x, diperoleh Jadi, x bukan elemen primitive dari Sekarang dicoba untuk 1 1 2 1 1 2 2 1, diperoleh 1 1
9 .
2 dan 1
2.2
1.
dan Jadi,
2 .2
Bentuk Penjumlahan
2 2
1 2
Sublapangan dari
9 yaitu 0
1,
9 sendiri dan 1
2 dan
0, 1, 2 )
9 * yaitu
2
Contoh 2. Lapangan berhingga berorder 16 ( Untuk mengkonstruksi polinomial tak tereduksi Jadi, 16 16 1 | , , , 16 1
dan
dengan , , ,
Lapangan Berhingga
49
Analog dengan contoh 1, akan dicari elemen primitive dari | 16 | 15 berakibat elemen primitive di 1 dan . 16 *. Jelas bahwa 1 16 *. 1.
memiliki sifat
16 * yaitu 1
16 *. Karena
1 sedangkan
16 *
Bentuk Penjumlahan
1 1 1 1
Sublapangan dari 2 0
16 selain 0 0, 1 ,
dan
Lapangan Berhingga
50
16 * selain x yaitu
Demikian pembahasan tentang lapangan berhingga yang penulis kemukakan pada makalah kali ini. Apabila pembaca tertarik terhadap materi ini, dapat mencari referensi lain yang lebih lengkap dari buku buku tentang aljabar abstrak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Lapangan berhingga ialah lapangan yang memuat elemen sebanyak berhingga. 2. Lapangan berhingga memiliki sifat- sifat sebagai berikut : a. Karakteristik dari lapangan berhingga berupa bilangan prima. b. Untuk sebarang lapangan berhingga F, berlaku | | bilangan prima dan n berupa bilangan bulat positif. dengan p adalah
c. Untuk sebarang bilangan prima p dan sebarang bilangan bulat positif n terdapat lapangan berhingga F sedemikian sehingga | | .
d. Himpunan elemen elemen taknol dari suatu lapangan berhingga F membentuk group siklik, terhadap operasi perkalian di F. e. Jika A dan B adalah sebarang lapangan berhingga yang berorder sama, yaitu | | | | maka . merupakan sublapangan dari jika dan
3. Lapangan berhingga
hanya jika m membagi habis n. 4. Untuk mengkonstruksi lapangan berhingga dan polinomial tak tereduksi . dapat memanfaatkan berderajat n,
gelanggang yaitu
B. Saran
Bagi pembaca maupun teman teman Pendidikan Matematika UNS yang tertarik dengan materi yang dibahas pada makalah ini serta berminat untuk dijadikan bahan seminar, bisa mempelajari lebih lanjut mengenai Galois Field dan terapannya. Selain itu dapat pula belajar lebih jauh tentang polinomial tak 51 tereduksi terutama mengenai cara pengujiannya.
LAMPIRAN
Pada bagian pembahasan disebutkan mengenai Fungsi Euler. Berikut akan dijelaskan tentang fungsi tersebut. Definisi Fungsi Euler. Misalkan n bilangan bulat positif. Banyaknya bilangan bulat positif yang kurang dari atau sama dengan n serta relatif prima terhadap n dilambangkan dengan Contoh, Bilangan bilangan 1, 3, 7, 9, 11, 13, 17, 19 relatif prima terhadap 20. Jadi, 20 8. . Fungsi selanjutnya disebut Fungsi Euler.
Teorema. Untuk setiap bilangan bulat positif d yang membagi habis n berlaku .
Jelas barisan tersebut terdiri dari n suku. Selanjutnya buat barisan baru dengan cara mereduksi masing- masing suku barisan di atas menjadi bentuk paling sederhana ( tiap suku barisan baru berbentuk dengan FPB(a, b) = 1). Dengan
demikian, barisan baru tersebut tetap terdiri dari n suku dan penyebut dari tiap sukunya merupakan pembagi n. Pehatikan pula, untuk setiap d yang membagi n terdapat suku yang penyebutnya adalah d. Jadi untuk setiap d yang membagi n, adalah banyaknya suku di barisan baru
Lapangan Berhingga
53
berarti menghitung seluruh suku dari barisan tersebut. Jadi, . beberapa fungsi yang diklaim sebagai
homomorphisma tetapi pembuktiannya belum diberikan di pembahasan. Fungsi pada halaman 20. yang didefinisikan
Jika F suatu lapangan maka fungsi .1 , Bukti : Pertama dibuktikan bahwa akan dibuktikan 1 .1
. Terbukti
.1
. Jika 1
1 sebanyak n + m
1 1
.1
1 sebanyak n
.1
1 sebanyak nm
.1
1 sebanyak m
1 sebanyak n
1 sebanyak n
1 sebanyak n
Lapangan Berhingga
54
.1 1 Terbukti bahwa .1 .
.1
. 1 sebanyak m
.1 1
.1
adalah homomorphisma.
.1
Fungsi
Jika F adalah lapangan dan M ideal maksimal dari maka fungsi yang didefinisikan
adalah homomorphisma. Bukti : Terlebih dahulu, dibuktikan bahwa dengan 0 well defined. Ambil sebarang
. Jadi, terbukti
. adalah homomorphisma.
Lapangan Berhingga
55
Fungsi
adalah suatu homomorphisma. Bukti : Pertama, dibuktikan bahwa fungsi dengan jika diperoleh . Terbukti, Kedua, ditunjukkan bahwa , diperoleh . . . . well defined. Ambil sebarang , ,
. Perhatikan,
Jadi, terbukti
adalah homomorphisma.
DAFTAR PUSTAKA
Fraleigh,John B. 2000. A First Course in Abstract Algebra, 4th Edition. New York: Addison-Wesley Publising Company. Gallian, J.A. 1990. Contemporary Abstract Algebra, 2nd Edition. Massachussets : D.C. Heath and Company. Grillet, P. Antoine. 2007. Abstract Algebra, 2nd Edition. New York : Spgelangganger Science and Business Media, LLC. Herstein, I. N. 1990. Topics in Algebra, 2nd Edition. New York :John Willey and Sons. ___________. 1996. Abstract Algebra, 3rd Edition. New Jersey : Prentice Hall International,Inc. Lidl, Rudolf and Harald Niederreiter. 1994. Introduction to Finite fields and Their Applications. United Kingdom : Cambridge University Press. Robinson, D.J.S. 2003. An Introduction to Abstract Algebra. Berlin : Walter de Gruyter. http://zaki.math.web.id