0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
938 tayangan58 halaman

Sifat dan Konstruksi Lapangan Berhingga

BAB II membahas tentang lapangan berhingga dengan menjelaskan terlebih dahulu beberapa materi pendukung seperti pengertian group siklik, order elemen dan group, serta beberapa teorema terkait group siklik dan lapangan berhingga. Pembahasan mencakup pengertian, sifat-sifat, cara konstruksi, serta ketunggalan lapangan berhingga berorder sama. [/ringkasan]

Diunggah oleh

vnavesta
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
938 tayangan58 halaman

Sifat dan Konstruksi Lapangan Berhingga

BAB II membahas tentang lapangan berhingga dengan menjelaskan terlebih dahulu beberapa materi pendukung seperti pengertian group siklik, order elemen dan group, serta beberapa teorema terkait group siklik dan lapangan berhingga. Pembahasan mencakup pengertian, sifat-sifat, cara konstruksi, serta ketunggalan lapangan berhingga berorder sama. [/ringkasan]

Diunggah oleh

vnavesta
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................................... II HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... III KATA PENGANTAR ...................................................................................... IV DAFTAR ISI ..................................................................................................... V BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. B. C. D. LATAR BELAKANG MASALAH .................................................................. 1 PEMBATASAN MASALAH .......................................................................... 2 PERUMUSAN MASALAH ............................................................................ 2 TUJUAN PENULISAN ................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 4 1. MATERI PENDUKUNG ................................................................................ 4 1.1 Group Siklik .......................................................................................... 4 1.2 Gelanggang .......................................................................................... 8 1.3 Lapangan ............................................................................................ 16 1.4 Ruang Vektor ...................................................................................... 21 1.5 Perluasan Lapangan ........................................................................... 23 1.6 Suku Banyak (Polinomial) ................................................................... 26 2. PEMBAHASAN ......................................................................................... 33 2.1 Pengertian Lapangan Berhingga ......................................................... 33 2.2. Sifat Sifat Lapangan Berhingga ....................................................... 34 2.3. Sublapangan ...................................................................................... 38 2.4 Cara Mengkonstruksi Lapangan Berhingga ........................... 39

2.5 Ketunggalan dari Lapangan Berhingga Berorder Sama (up to v Isomorphisma) ........................................................................................... 43 tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

vi

BAB III PENUTUP .......................................................................................... 51 A. B. KESIMPULAN .......................................................................................... 51 SARAN .................................................................................................... 51

LAMPIRAN ..................................................................................................... 52 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 56

tutur widodo : pend. matematika uns

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Lapangan adalah salah satu objek yang dipelajari dalam aljabar abstrak, salah satu cabang ilmu matematika. Dalam disiplin ilmu matematika sendiri, lapangan memegang peranan yang sangat penting. Bahkan dalam perkuliahan pun lapangan memegang peranan penting. Sebagai contoh, ketika belajar kalkulus, teori bilangan, analisis riil maupun analisis kompleks, lapangan berperan penting di dalamnya. Mengapa bisa dikatakan demikian. Sebab objek seperti himpunan bilangan riil ( rasional ( ), himpunan bilangan kompleks ( ), himpunan bilangan ) dengan operasi

) serta himpunan bilangan bulat modulo p (

penjumlahan dan perkalian adalah contoh dari lapangan. Dalam perkuliahan Struktur Aljabar telah dipelajari pengertian awal tentang lapangan dan beberapa sifatnya. Salah satu objek yang dipelajari di lapangan yaitu lapangan berhingga. Lapangan berhingga ternyata memiliki sifatsifat yang menarik untuk dipelajari, pun lapangan berhingga sendiri memiliki aplikasi yang cukup luas misalnya di criptografi atau di teorema coding. Salah satu yang menarik dari lapangan berhingga adalah bahwa dapat dibuktikan setiap lapangan berhingga memiliki elemen sebanyak pn dengan p bilangan prima dan n bilangan bulat positif. Selain itu hal yang menarik penulis adalah bagaimana mengkonstruksi suatu lapangan berhingga, serta apa saja sifat sifat dari lapangan berhingga itu sendiri. Oleh karena itu, berdasarkan latar

belakang tersebut di atas, dalam makalah ini akan dibahas tentang pengertian 1 lapangan berhingga, sifat - sifat serta cara mengkonstruksinya.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

B. Pembatasan Masalah

Pada makalah ini, pembahasan mengenai materi lapangan berhingga lebih ditekankan pada teori teori dasar yaitu tentang pengertian dan sifat sifatnya. Sedangkan untuk terapannya termasuk mengenai Galois Field tidak dibahas pada makalah ini. Selain itu, cara mengkonstruksi lapangan berhingga yang diperkenalkan hanya satu yaitu dengan memanfaatkan polinomial
P

bagaimana cara mencari polinomial tak tereduksi tersebut tidak dibahas pada makalah ini.

x dan polinomial tak tereduksi p x

x.

gelanggang

Demikian pula

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas , penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Apakah pengertian lapangan berhingga ? Apasaja sifat sifat yang dimiliki oleh lapangan berhingga? Bagaimana sifat sublapangan dari lapangan berhingga ? Bagaimana cara mengkonstruksi lapangan berhingga sesuai dengan banyak elemen yang dimuatnya ?

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

D. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. 2. 3. 4. Mengetahui pengertian lapangan berhingga. Mengetahui sifat sifat lapangan berhingga. Mengetahui sifat sublapangan dari lapangan berhingga. Dapat mengkonstruksi lapangan berhingga sesuai dengan banyak elemen yang dimuatnya.

tutur widodo : pend. matematika uns

BAB II

PEMBAHASAN

Sebelum memulai pembahasan tentang lapangan berhingga terlebih dahulu disajikan materi- materi terkait yang menjadi pendukung, sebagai berikut :

1. Materi Pendukung

1.1 Group Siklik Definisi 1.1.1 ( Definisi group ) Himpunan tak kosong G disebut group jika di dalam G terdefinisi satu operasi biner 1. Untuk setiap , assosiatif ) 2. Terdapat elemen ke , ( operasi biner yaitu fungsi dari

) dan dipenuhi sifat sifat berikut : berlaku ( Berlaku sifat

sedemikian sehingga

berlaku

( e disebut elemen identitas di G ) 3. Untuk setiap terdapat elemen ( disebut invers dari sedemikian sehingga ) (Grillet, 2000 : 8) Contoh : Himpunan bilangan bulat kenal membentuk group. dengan operasi penjumlahan ( + ) yang telah kita

Definisi 1.1.2 ( Definisi group siklik ) Suatu group G disebut group siklik jika 4 terdapat elemen sedemikian sehingga | .

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

Elemen

yang demikian disebut generator dari G. Selanjutnya group siklik dinotasikan . (J.A. Galian, 1990 : 66)

G yang dibangun oleh

Contoh : 0 1, 2, 3, 4 terhadap operasi perkalian di 4, 3 27 2, 3 81 1. adalah contoh group

siklik yang dibangun oleh 3 sebab, 3 3, 3 9

Definisi 1.1.3 ( Definisi Order ) Misalkan G suatu group, order dari suatu elemen 1 yaitu bilangan bulat positif terkecil t sedemikian sehingga (elemen identitas di G). Order dari elemen dinotasikan .

Sedangkan order dari group , dinotasikan | |.

menyatakan banyaknya elemen yang ada di

(Fraleigh, 2000 : 408) Contoh : Mengacu contoh dari definisi 1.1.2, diperoleh | | 1 1 sedangkan 2 4 karena 2 16 1. 4 dan 1 1 sebab

Teorema 1.1.4 Misalkan jika dan hanya jika

adalah group siklik dengan order n. Maka 1.

(J.A. Galian, 1990 : 69) Bukti : Untuk membuktikan teorema di atas harus dibuktikan dua pernyataan yaitu: 1. Jika maka , 1

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

2. Jika Untuk ,

1 maka pernyataan 1) digunakan kontradiksi. Andaikan .

membuktikan

Maka Jadi, | |

1. Diperoleh n = pt dengan t < n dan k = pw dengan w < k. . Karena . Dengan kata lain , , ,

berakibat bukan

, sehingga

generator dari G. Timbul kontradiksi karena diketahui , 1.

. Jadi, haruslah

Untuk membuktikan ,

itu

1 berakibat terdapat . .

pernyataan 2) digunakan cara langsung. Diketahui , sehingga 1. Oleh karena . Jadi,

maka

. Karena G

dibangun oleh a berakibat . Contoh :

. Diketahui pula bahwa

G. Berdasarkan teorema 1.1.4 diatas, generator dari G yang lain adalah 3 27 1 2 , 2 2. Hal ini benar karena, 2 , 3 2 , 4 2

Group

1, 2, 3, 4 . Telah diketahui bahwa 3 adalah generator dari

Teorema 1.1.5 Misalkan G adalah group berhingga dengan order n, dengan sifat setiap bilangan bulat positif d yang membagi habis n, terdapat paling banyak d solusi dari persamaan elemen identitas di G) (Herstein, 1996 : 222) Bukti : Misalkan adalah banyaknya elemen di G yang memiliki order d. Ambil di G. Maka G adalah group siklik. (e

sebarang d bilangan bulat positif yang membagi habis n. Jika terdapat tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

dimana ord(a) = d maka himpunan penyelesaian dari persamaan , , , , , , , , , ,

adalah

. Sehingga setiap elemen di G yang berorder d mempunyai . Berdasarkan teorema 1.1.4 0. Oleh karena itu, untuk | |= n . Sehingga

bentuk salah satu dari diperoleh

.(

adalah fungsi Euler *). Sedangkan bila tidak

terdapat elemen di G yang berorder d maka setiap d yang membagi habis n berlaku Karena order dari setiap elemen di G membagi . Dari teori bilangan didapat

maka diperoleh

tetapi karena Karena n membagi n maka

yang membagi habis n berakibat , ,,

yang berorder n. Oleh karena itu, elemen elemen , , berbeda dan ada di G. Dengan kata lain , , ,

1, ini berarti terdapat elemen ,,

semuanya

adalah group

siklik dengan generator t. Contoh : Jelas pula bahwa | | 0

1 di G mempunyai himpunan penyelesaian { 1 }

1, 2, 3, 4 terhadap operasi perkalian di

1 di G mempunyai himpunan penyelesaian { 1, 4 }

4. Perhatikan 1, 2 dan 4 membagi habis 4 dan persamaan

membentuk group.

Jadi, G memenuhi kondisi pada teorema 1.1.5 sehingga G merupakan group siklik ( telah dibuktikan pada contoh 1 ).

1 di G mempunyai himpunan penyelesaian { 1, 2, 3, 4 } = G

*penjelasan tentang fungsi Euler terdapat di lampiran. tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

1.2 Gelanggang Definisi 1.2.1( Definisi Gelanggang ) Himpunan R tak kosong disebut

gelanggang jika di dalam R terdapat dua operasi ( umumnya disimbolkan ( + ) dan ( . )) sedemikian sehingga berlaku : 1. jika , 2. 3. maka ( , , . . , , , .

4. Terdapat elemen 0R , terdapat .

R sehingga 0R +

disebut elemen netral dari R. 5. ,

terhadap penjumlahan di R, biasa ditulis 6. 7. 8. . . maka . . . , , , .

0. Selanjutnya b disebut invers dari .

. Selanjutnya 0R

dan

. . ,

Jika terdapat 1R

R, sehingga 1R. .

gelanggang dengan elemen satuan dan 1R disebut elemen satuan di R. Apabila di R juga berlaku gelanggang komutatif. , maka R dinamakan

.1

. ,

, ,

. R disebut

( Herstein, 1996 : 126 ) Contoh : Himpunan bilangan real dengan operasi penjumlahan (+) dan operasi perkalian

(.) yang sudah dikenal membentuk gelanggang. Definisi 1.2.2 ( Definisi daerah integral ) Misalkan R gelanggang komutatif, R disebut daerah integral jika untuk setiap . 0 mengakibatkan 0 atau , 0 . sedemikian sehingga

( Herstein, 1996 : 127 )

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

Contoh : Himpunan bilangan real daerah integral. adalah gelanggang komutatif yang juga merupakan

Definisi 1.2.3 ( Definisi ideal ) Misalkan R suatu gelanggang. Himpunan tak kosong I disebut ideal jika berlaku : , . ( Herstein, 1996 : 140) Contoh : Himpunan , 4, 2, 0, 2, 4, 2 adalah ideal dari gelanggang .

1. I subgroup penjumlahan dari R. 2. berlaku dan

Definisi 1.2.4 ( Definisi ideal maksimal ) Misalkan M ideal dari gelanggang R. M disebut ideal maksimal jika ideal lain di R yang memuat M sendiri atau R. (Herstein, 1996 : 148) Contoh : Himpunan gelanggang . , 6, 3, 0, 3, 6, 3 adalah ideal maksimal dari hanyalah M

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

10

Lemma 1.2.5 |

Misalkan R gelanggang dan I ideal dari R, maka merupakan gelanggang terhadap operasi yang didefinisikan

sebagai berikut : untuk setiap , dan (Herstein, 1990 : 135) Bukti : Pertama dibuktikan operasi (+) dan (*) yang didefinisikan di atas well defined. Yaitu harus ditunjukkan untuk setiap dan maka , , , jika

serta, . Untuk keperluan di atas terlebih dahulu dibuktikan pernyataan berikut : Untuk setiap . Jika dengan Jika , berakibat untuk , sehingga berlaku berakibat , atau . Sehingga diperoleh . berakibat sehingga diperoleh, . Akibatnya . terdapat . , jika dan hanya jika

dan berikutnya diperoleh Sekarang kembali kepermasalahan, jika demikian pula jika

atau

berakibat

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

11

Sekarang perhatikan, ..1) ..2) dari 1) dan 2) didapat . Jadi, karena I ideal .

Terbukti, operasi (+) dan (*) yang didefinisikan di atas well defined. Kedua, dibuktikan gelanggang). Ambil sebarang dengan 1. . Jadi, 2. .
3.
1 2

adalah gelanggang (dengan memanfaatkan definisi , , ,

, ,

misalkan pula

dan

. Selanjutnya perhatikan,

karena R gelanggang maka .

4. Misalkan 0 elemen netral di R, maka pilih setiap 0 berlaku 0

0 .

dan untuk

5. Untuk setiap berlaku 6. . Jadi,


7.
1

pilih

. Jadi, e elemen netral di

sedemikian hingga 0 .

karena R gelanggang maka .


2

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

12

8.

dan

I
2 3

I Berdasarkan sifat sifat 1 sampai 8, terbukti bahwa Contoh : Telah diketahui bahwa adalah gelanggang dan 2 2 0, 1 merupakan ideal dari . adalah gelanggang.

Berdasarkan lemma 1.2.5 di atas diperoleh suatu gelanggang. Catatan :

merupakan

adalah himpunan bilangan bulat modulo n. Operasi penjumlahan seperti yang telah dipelajari di teori bilangan.

dan perkalian di

Definisi 1.2.6 ( Definisi homomorphisma ) Misalkan R dan R suatu gelanggang, pemetaan 1. untuk setiap , 2. dari R ke R disebut homomorphisma jika berlaku :

. (Herstein, 1990 : 131)

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

13

Didefinisikan

pula |

Kernel 0

dari

dinotasikan |

yaitu

. Sedangkan bayangan . disebut

dari

dinotasikan

didefinisikan

Apabila

suatu homomorphisma dan sekaligus injektif,

isomorphisma. Selanjutnya gelanggang R dan R disebut isomorphic jika terdapat isomorphisma dari R onto R. Gelanggang R isomorphic dengan R disimbolkan .

Lemma 1.2.7 pemetaan

Misalkan R gelanggang dan M yaitu .

homomorphisma dari R onto

ideal dari R, didefinisikan maka suatu

(Herstein 1990 :135 ) Bukti : Pertama, dibuktikan well defined. Untuk itu, ambil sebarang , . Perhatikan, karena sehingga 0 (elemen , dengan

akan ditunjukkan

netral di R) dan M ideal di R berakibat . Jadi, Untuk membuktikan Perhatikan, well defined.

suatu homomorphisma ambil sebarang

, serta . Terbukti homomorphisma. surjektif, ambil sebarang . Dengan kata lain berarti c dapat . Jadi,

Untuk membuktikan

dinyatakan c = r + M untuk suatu surjektif. Jadi, terbukti

homomorphisma dari R onto

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

14

Teorema 1.2.8

Misalkan R dan R gelanggang. Jika pemetaan dengan . (Herstein,1990 :135 )

adalah suatu homomorphisma, maka

Bukti : Untuk menunjukkan onto 0 0 berarti harus ditunjukkan terdapat

isomorphisma dari

. Terlebih dahulu dibuktikan bahwa dan karena

ideal dari R. Berdasarkan definisi kernel, didapat , homomorphisma berlaku dan sebarang 0 0 0 jadi

. Selanjutnya ambil sebarang

maka berlaku,

Jadi,

Sehingga

, .

. Oleh karena itu, terbukti I ideal dari R. dari R onto dan suatu . yaitu yaitu . Akan

0 0

0 0

serta berlaku pula

Dari lemma 1.2.7 diperoleh, terdapat homomorphisma Selanjutnya didefinisikan pemetaan untuk setiap onto

dibuktikan bahwa adalah isomorphisma dari Pertama, dibuktikan bahwa pemetaan , dengan , . Karena . Sehingga

well defined. Untuk itu ambil sebarang dan

surjektif, berarti

untuk suatu

berakibat

atau diperoleh, 0 tutur widodo : pend. matematika uns

untuk suatu

. Oleh karena itu

Lapangan Berhingga

15

Jadi, well defined.

. Sehingga terbukti

sehingga dapat dinyatakan Diperoleh pula

Kedua, ditunjukkan suatu homomorphisma. Untuk itu ambil sebarang , dan untuk suatu dan

Perhatikan, serta . Terbukti, homomorphisma. Terakhir, tinggal ditunjukkan injektif sekaligus surjektif. Untuk menunjukkan dinyatakan harus ditunjukkan berakibat karena itu, dan injektif , ambil sebarang untuk suatu dan , , sehingga dapat . Jika serta 0 . Oleh

. Karena . Sehingga

. Hal ini berakibat

yang berarti . Jadi, terbukti injektif.

Untuk menunjukkan terdapat berarti

surjektif, ambil sebarang

akan ditunjukkan

sedemikian hingga sedemikian hingga berlaku ,

. Perhatikan, karena sehingga . Demikian pula dengan . Oleh karena . Terbukti

memanfaatkan homomorphisma itu pilih surjektif. , sehingga berlaku

Oleh karena itu, adalah isomorphisma dari .

onto

yang berarti

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

16

1.3 Lapangan Definisi 1.3.1( Definisi Lapangan ) Gelanggang F disebut lapangan jika berlaku sifat sifat sebagai berikut : 1. F gelanggang komutatif dan F memiliki elemen satuan. 2. Setiap elemen tak nol di F memiliki invers terhadap operasi perkalian di F. (Grillet, 2000:116) Contoh : Himpunan bilangan rasional dan himpunan bilangan real dengan operasi

penjumlahan dan operasi perkalian yang telah dikenal membentuk lapangan. Definisi 1.3.2( Definisi Sublapangan ) Misalkan F suatu lapangan dan . T disebut sublapangan dari F jika T sendiri membentuk lapangan terhadap operasi penjumlahan dan perkalian yang ada di F. (Grillet, 2000:118) Contoh : Himpunan adalah sublapangan dari lapangan .

Teorema 1.3.3 Misalkan R gelanggang komutatif dengan elemen satuan, dan M ideal maksimal dari R, maka = {r + M | r } adalah lapangan. (Herstein, 1996 : 149) Bukti : Untuk menunjukkan komutatif lapangan, harus dibuktikan adalah gelanggang memiliki

dengan elemen satuan serta setiap elemen tak nol di .

invers terhadap operasi perkalian di

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

17

Apabila (+) dan (*) menyatakan operasi seperti pada lemma 1.2.5 maka telah dibuktikan , , adalah gelanggang. Selanjutnya akan ditunjukkan , ,

komutatif dan memiliki elemen satuan. Perhatikan, untuk setiap Misalkan pula, 1 setiap 1 , berlaku, . 1 dan untuk

elemen satuan di R. Sehingga 1 . Berarti 1 berlaku 1

adalah elemen satuan di

Jadi, terbukti

gelanggang komutatif dengan elemen satuan. memiliki

Oleh karena itu, tinggal dibuktikan untuk setiap elemen tak nol di

invers. Untuk keperluan ini, sebelumnya dibuktikan terlebih dahulu ideal di hanya { M } dan N di . Untuk membuktikannya andaikan terdapat ideal lain misal .

harus ditunjukkan N = { M } atau N =

Ambil sebarang N ideal di itu andaikan tetapi , .

. Apabila N = { M } maka terbukti, oleh karena dengan

. Ini berarti terdapat elemen

Berdasarkan lemma 1.2.7 terdapat homomorphisma . Selanjutnya misalkan . Akan dibuktikan T ideal dari R.

dan

Jelas T tak kosong dan

. Demikian pula untuk sebarang , sehingga dan . diperoleh, karena N ideal dan

yaitu berarti

diperoleh

. Karena N ideal,

berakibat Selanjutnya, ambil sebarang

serta .

berakibat

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

18

Jadi, serta

. Terbukti T ideal di R. Karena berakibat . berarti dapat ditulis . Sehingga

dan M ideal maksimal , untuk suatu hanya

Sekarang ambil sebarang . Jadi, pula { M } dan . Jadi, terbukti .

, padahal diketahui

. Oleh karena itu, ideal di

Sekarang kembali ke tujuan awal yaitu membuktikan setiap elemen tak nol di tetapi memiliki invers. . Oleh karena itu, ambil | sebarang

( Perhatikan, elemen nol atau elemen netral di adalah ideal di

adalah M ). Mudah dibuktikan bahwa . Perhatikan pula bahwa, 1 1 berarti 1 . Jadi, ,

berarti untuk suatu

Karena . Dengan

kata lain,

invers dari a.

Jadi, terbukti setiap elemen tak nol di telah dibuktikan Sehingga terbukti Contoh : Pada contoh dari lemma1.2.5, adalah ideal maksimal dari 2

memiliki invers. Sebelumnya juga

adalah gelanggang komutatif dengan elemen satuan. adalah lapangan.

diperoleh

adalah suatu gelanggang. Tetapi karena 2 2 merupakan lapangan.

Teorema 1.3.4 Daerah integral berhingga adalah lapangan. (Herstein, 1990 : 127 )

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

19

Bukti : Misalkan D adalah daerah integral berhingga dan | | D ={d1, d2, d3, ... ,dn} dimana di = dj . Misalkan pula Untuk

jika dan hanya jika i = j.

membuktikan D suatu lapangan harus ditunjukkan bahwa D memiliki elemen satuan dan setiap elemen tak nol di D memiliki invers. Ambil elemen x dengan 0D .Perhatikan bahwa xd1, xd2, xd3, . . . ., xdn semuanya ada 0 sehingga , , 0 . Karena D ,

di D dan klaim bahwa semuanya berbeda. Andaikan diperoleh,

daerah integral dan kontradiksi karena i

0D, maka haruslah di dj = 0D atau di = dj. Timbul , sehingga terbukti xd1, xd2, xd3, . . . ., xdn semuanya . Klaim bahwa

berbeda. Dengan kata lain, dapat ditulis D = { xd1, xd2, xd3, . . . ., xdn }. Padahal , sehingga , untuk suatu untuk suatu adalah

elemen identitas dari D. Ambil sebarang elemen . Perhatikan,

, dapat ditulis

Karena D komutatif, diperoleh satuan di D.

. Berarti

adalah elemen

Selanjutnya ditunjukkan setiap elemen taknol di D memiliki invers. Perhatikan kembali bahwa sehingga , untuk suatu . Jadi, adalah

invers dari x. Terbukti bahwa D adalah lapangan.

Definisi 1.3.5

( Definisi Sublapangan Prima )

Sublapangan

terkecil dari

lapangan F disebut sublapangan prima. (Robinson, 2003 : 185) Dengan kata lain sublapangan prima adalah irisan dari seluruh sublapangan yang ada di F. Lapangan yang sama dengan sublapangan primanya disebut lapangan prima.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

20

Definisi 1.3.6 ( Definisi karakteristik gelanggang ) Misal R gelanggang, dan n adalah bilangan bulat positif sedemikian sehingga 0 , . Bilangan

terkecil n yang memenuhi sifat tersebut dinamakan karakteristik dari R, dan R dikatakan memiliki karakteristik n. Apabila bilangan bulat positif yang demikian tidak ada, dikatakan R memiliki karakteristik 0. (Rudolf Lidl, 1994 : 16) Contoh : adalah contoh gelanggang dengan karakteristik 0, sedangkan gelanggang dengan karakteristik 2. adalah contoh

Lemma 1.3.7 Jika R adalah gelanggang dengan karakteristik p, p bilangan prima. Maka untuk setiap , .

(Rudolf Lidl, 1994 : 16) Bukti : Berdasarkan Binomial Newton didapat,

Perhatikan,

adalah bilangan bulat serta . . 1 . 2 1 . 2 2.1 1

dapat dihilangkan. Dengan kata lain

Karena p bilangan prima dan 1

maka faktor p pada pembilang tidak merupakan kelipatan p.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

21

dari R diperoleh Contoh : Di diperoleh,

Hal ini berakibat

0 . Oleh karena itu, 1 3 3 1

merupakan kelipatan p. Karena p karakteristik .

1 .

Teorema 1.3.8 Lapangan prima dengan karakteristik p 0 isomorphic dengan . (Robinson, 2003 : 186) Bukti : Ambil sebarang lapangan prima F dengan karakteristik p 0. Konstruksi homomorphisma, 1 ,

dengan definisi Perhatikan bahwa

Ker( ) = p , berdasarkan teorema 1.2.8 diperoleh Im( Jadi, isomorphic dengan Im( sublapangan dari F. Tetapi F lapangan prima .

0 , jika dan hanya jika

adalah kelipatan p. Sehingga

sehingga terbukti F = Im(

1.4 Ruang Vektor Definisi 1.4.1( Definisi bergantung linier dan bebas linier ) Diberikan ruang vektor V. Himpunan S = { v1, v2, . . . .vn } subset V disebut bergantung linier jika terdapat scalar sehingga . . .
,

, ., 0

yang tidak semuanya nol, sedemikian

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

22

Apabila himpunan S = { v1, v2, . . . .vn } tidak bergantung linier, maka himpunan S = { v1, v2, . . . .vn } disebut bebas linier. (Herstein, 1990 : 178) Definisi 1.4.2 ( Definisi merentang / spanning ) Himpunan S = {v1, v2, . . . .vn} subset ruang vektor V disebut merentang V, dinotasikan V = span( S ) jika untuk setiap dengan
,

dapat dinyatakan dalam bentuk , ., suatu scalar.

(Herstein, 1990 : 179)

Definisi 1.4.3( Definisi basis ) Himpunan S = {v1,v2, . . . .vn} subset ruang vektor V disebut basis dari V jika S bebas linier dan S merentang V. (Herstein, 1990 : 180)

Lemma 1.4.4 Apabila {v1, v2, . . . ,vn } adalah basis dari V maka untuk setiap , penyajian adalah tunggal (unik). . . . .

(Herstein, 1990 : 178) Bukti : Andaikan , dimana penyajian . . . . . . . . tidak

tunggal. Katakanlah dan .

dimana terdapat

1, 2, , . .

, sehingga .

. .

, . Selanjutnya diperoleh . . . . . .

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

23

Padahal terdapat

dengan kenyataan bahwa {v1, v2, . . . .vn } basis dari V. Jadi, terbukti penyajian . . .

1,2, ,

, sehingga

0, hal ini kontradiksi tunggal.

Definisi 1.4.5( Definisi dimensi )

Dimensi ruang vektor V adalah cacah

banyaknya elemen himpunan basisnya. Dimensi ruang vektor V dinotasikan . (Herstein. 1990 : 181) Contoh : Misal ruang vektor V dengan basis , , maka diperoleh 3.

1.5 Perluasan Lapangan Definisi 1.5.1( Definisi perluasan lapangan ) Misalkan F dan E suatu lapangan dengan operasi yang sama. E disebut perluasan lapangan dari F jika .

(Robinson, 2003 : 186) Cara pandang lain yang berguna dalam belajar teori lapangan yaitu andaikan terdapat suatu homomorphisma yang injektif dari lapangan A ke lapangan B, katakanlah

diperoleh

Untuk selanjutnya dapat diasumsikan A sublapangan dari B, anggapan ini muncul dikarenakan A dapat digantikan oleh . Sehingga dapat dianggap B 0 merupakan perluasan

perluasan lapangan dari A. Dengan demikian, berdasarkan bukti teorema 1.3.8 diperoleh setiap lapangan dengan karakteristik

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

24

lapangan dari

. Untuk keperluan analisis, lapangan B dapat pula dipandang

sebagai ruang vektor atas A dengan operasi penjumlahan dan perkalian yang ada di B.

Definisi 1.5.2 ( Derajat perluasan lapangan ) Misalkan E perluasan lapangan dari F. Derajat E atas F adalah dimensi dari E sebagai ruang vektor atas F. Derajat E atas F dinotasikan dengan [E: F]. Apabila [E: F] berhingga, maka E disebut perluasan berhingga dari F. (Herstein, 1996 :191)

Teorema 1.5.3 Jika K adalah perluasan berhingga dari lapangan L dan L adalah perluasan berhingga dari lapangan F, berhingga dari lapangan F dan : Bukti : Misalkan | 1,2,3, , | 1, 2, , adalah basis dari ruang vektor K atas L dan 1,2,3, , dan , 1,2,3, , : : maka K adalah perluasan

(Fraleigh, 2000 : 389)

adalah basis dari ruang vektor L atas F. Apabila bisa | adalah basis dari

ditunjukkan bahwa

ruang vektor K atas F maka bukti selesai. Untuk itu ambil sebarang

dapat dinyatakan dengan

dengan Akan tetapi dapat dinyatakan

. Sehingga

dapat dinyatakan,

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

25

Jadi,

ditunjukkan bahwa Andaikan

1,2,3, , dan |

0 . Dalam penyajian lain,

1,2,3, , dan

1,2,3, ,

merentang K. Selanjutnya akan 1,2,3, , bebas linier.

0 Karena | 1, 2, , basis dari K atas L, dan maka

berakibat untuk setiap i, berlaku 0 Dengan argumentasi yang sama, karena ruang vektor L atas F maka berakibat j = 1,2,, m. Jadi, karena itu, | 1,2,3, , dan | |

1,2,3, , dan

0 untuk setiap i = 1,2,, n dan 1,2,3, ,

1,2,3, ,

adalah basis dari

ruang vektor K atas F. Sehingga K lapangan F. Dan

merupakan perluasan berhingga dari

1,2,3, ,

bebas linier. Oleh

membentuk basis dari

Teorema terbukti.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

26

1.6 Suku Banyak (Polinomial) Untuk selanjutnya, simbol menyatakan gelanggang polinomial atas

lapangan , kecuali apabila dikatakan lain. Definisi 1.6.1( Definisi polinomial monic ) disebut polinomial

monic jika koefisien tak nol dari pangkat tertinggi dari x adalah 1. (Herstein, 1996 : 157) Contoh : 8 9 bukan polinomial monic. 8 9 merupakan polinomial monic, sedangkan 3

Definisi 1.6.2( Definisi daerah integral utama ) Misalkan |

suatu gelanggang. berlaku

disebut daerah integral utama jika untuk setiap ideal I di , untuk suatu .

(Fraleigh, 2000 : 332) Teorema 1.6.3 merupakan daerah integral utama. (Herstein, 1990 :156 ) Bukti : Ambil sebarang ideal di Jika 0 maka jelas . . Akan ditunjukkan bahwa 0 . Oleh karena itu andaikan untuk suatu 0 . Selanjutnya,

ambil sebarang

dan pilih polinomial taknol

sedemikian

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

27

hingga deg deg

Euclid diperoleh, .

deg

, dengan

. Berdasarkan algoritma pembagian , deg

ideal di

atau berakibat berakibat

0. Perhatikan pula, 0 yang berarti

dan

. Selain itu karena deg . Terbukti

adalah pembangun dari I atau utama.

adalah daerah integral

. Jadi,

deg

karena ,

Definisi 1.6.4 ( Definisi polinomial tak tereduksi ) Polinomial disebut tak tereduksi (irreducible) jika p(x) berderajat positif dan konstan atau tidak dapat

dinyatakan sebagai perkalian antara dua polinomial berderajat positif. Dengan kata lain, jika maka konstan.

(Herstein, 1996 : 159 ) Contoh : 1 merupakan polinomial tak tereduksi di tetapi tereduksi di .

Teorema 1.6.5 Jika ideal yang dibangun oleh

tak tereduksi maka ideal .

yaitu

adalah ideal maksimal dari

(Herstein, 1996 : 160 ) Bukti : Misalkan M = atau . Untuk menunjukkan M ideal maksimal dari sedemikian sehingga , harus maka

ditunjukkan jika N ideal dari .

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

28

Karena

sehingga

konstan atau

, untuk suatu konstan serta

adalah ,

daerah

integral

utama,

maka ,

. Perhatikan pula bahwa . Karena

konstan. maka maka . .

tak tereduksi berakibat

Jika

Karena Jika

. atau

Berarti .

, untuk suatu

, berakibat

Berarti .

Oleh karena itu, untuk setiap ( Karena N M= ideal maksimal dari

konstan maka

, untuk suatu .

berlaku

. Sehingga . 1 .

ideal dari F [x] ). Jadi, N = F[x]. Terbukti bahwa

Teorema 1.6.6

Misalkan polinomial

berderajat n. Maka

memiliki paling banyak n akar di sebarang perluasan lapangan dari F. (Herstein, 1996 : 209) Bukti : Akan dibuktikan teorema ini dengan induksi matematika. Untuk n = 1, maka dapat ditulis Sehingga satu satunya akar dari Asumsikan pernyataan benar untuk benar untuk adalah , dengan , . dan 0 .

tidak memiliki akar di sebarang perluasan lapangan pernyataan terbukti. Oleh karena itu, andaikan dengan adalah akar dari dan

1. Ambil polinomial

. Akan ditunjukkan pernyataan juga berderajat k +1. Apabila dari maka ,

memiliki akar. Katakanlah

. Sehingga dapat ditulis .

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

29

Perhatikan bahwa untuk sebarang dari karena 0

akar dari

memiliki paling banyak k akar. Jadi, Dengan kata lain pernyataan benar untuk

memiliki paling banyak k +1 akar . 1.

. Padahal berdasarkan assumsi

maka

atau

akar

Berdasarkan prinsip induksi matematika teorema terbukti.

Teorema 1.6.7

Misalkan F suatu lapangan dan f (x) adalah polinomial

berderajat n di F[x]. Maka terdapat perluasan lapangan K atas F dimana f (x) memiliki akar dan . (Herstein, 1996 : 211) Bukti : Perhatikan bahwa f (x) dapat dinyatakan . dengan

polinomial tak tereduksi di F [x] dan . 0.

. Jika a adalah akar dari karena

p(x) di suatu perluasan lapangan F maka a juga akar dari f (x),

dengan mencari suatu perluasan lapangan dari F dimana p(x) memiliki akar. Karena p(x) tak tereduksi maka sehingga

0. Jadi untuk membuktikan teorema ini, cukup adalah ideal maksimal dari F [x], adalah perluasan

adalah lapangan. Kita klaim bahwa

lapangan yang dicari. Tetapi, dari F [x] ke K sebagai berikut : yaitu

. Untuk itu konstruksi homomorphisma

Sehingga didapat,

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

30

Perhatikan bahwa M adalah ideal yang dibangun oleh p(x), sehingga setiap elemen tak nol di M pasti memiliki derajat lebih besar atau sama dengan p(x), sehingga 0 . Dari sini lebih jauh bisa diperoleh apabila homomorphisma di di

atas dibatasi dari F ke Maka

saja maka akan menjadi suatu isomorphisma.

. Sehingga dengan relasi isomorphisma ini, bisa

dikatakan bahwa K adalah perluasan lapangan dari F. Misalkan, diperoleh , maka untuk setiap 0 . Dengan kata lain . Dengan sifat homomorphisma dari , berlaku . , bisa Karena sehingga p(x). Jadi,

padahal

adalah akar dari

adalah lapangan yang kita cari.

Selanjutnya tinggal dibuktikan bahwa K terbatas. Perhatikan untuk setiap dengan algoritma pembagian diperoleh, dengan . , dan , 0 atau

sehingga,

Ambil

sebarang

maka ,

terdapat , ,..,

. Jika dimisalkan dibuktikan bahwa 1 , Andaikan misalkan pula 1 , maka 1 , , 1 ,..,

, karena 0

sehingga

merentang K. Akan

0 atau

bebas linier. .. dengan 0 . ,

Maka diperoleh

sedang elemen tak nol di M memiliki derajat lebih besar atau sama dengan derajat maka diperoleh

0 . Jadi,

..

. Karena

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

31

.1

linier yang berarti menjadi basis dari K. Sehingga terbukti :

..

0F. Jadi, 1 ,

..

,.., .

, sehingga bebas

Teorema 1.6.8 Diketahui polinomial

berderajat n. Maka terdapat

perluasan lapangan K atas F dengan derajat paling besar n! dimana f (x) memiliki n akar. (Herstein, 1996 : 212) Bukti : Akan dibuktikan teorema ini dengan cara induksi. Untuk n = 1, bisa dimisalkan sehingga akar dari 1! adalah , dengan , dan 0

. Jadi, pilih K = F sehingga [K : F] = 1 =

Andaikan pernyataan benar untuk untuk berderajat F dengan

k +1. Berdasarkan teorema 1.6.7 terdapat perluasan lapangan K1 atas , dengan 1

1. Oleh karena itu, ambil sebarang polinomial

akan ditunjukkan pernyataan juga benar

dari f di K1. Berarti dapat ditulis

1 sehingga f memiliki akar, katakanlah a adalah akar . dan terdapat perluasan lapangan K atas K1 1 ! 1 !. ! Jadi, f (x) memiliki k + 1 akar Sehingga

. Berdasarkan asumsi, sehingga q(x) memiliki k akar dan di K dan .

teorema terbukti. Lemma 1.6.9 root ) maka pertama dari f ). Jika

memiliki akar ganda ( multiple memiliki faktor yang sama. ( f merupakan turunan

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

32

(Herstein, 1990 : 233) Bukti : Andaikan a adalah , dimana akar 1. Sehingga, ganda dari f, maka , diperoleh

Jadi, f dan f bersama sama memiliki faktor (x a). Lemma terbukti.

Akibat. Jika F adalah lapangan dengan karakteristik , 1 semua akarnya berbeda.

0 maka polinomial (Herstein, 1990 : 234)

Bukti : Misalkan sehingga dan , maka 1 1

saling prima. Berdasarkan kontraposisi dari lemma 1.6.9

tidak memiliki akar ganda atau dengan kata lain semua akarnya berbeda.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

33

2. Pembahasan

2.1 Pengertian Lapangan Berhingga Definisi 2.1.1 Suatu lapangan yang memuat elemen sebanyak berhingga disebut lapangan berhingga. (Herstein, 1996 : 221 )

Sebelum pembahasan lebih jauh tentang lapangan berhingga, berikut diberikan contoh lapangan berhingga yang paling sederhana dan sudah cukup dikenal.

Teorema 2.1.2 Himpunan bilangan prima.

merupakan lapangan jika dan hanya jika n adalah

(Rudolf Lidl, 1994 : 14) Bukti : Andaikan n bukan bilangan prima , maka n = a. b dengan 1 < a, b < n. Karena . 1 suatu lapangan maka setiap elemen tak nol di . Lebih lanjut diperoleh bahwa . . 0 berarti terdapat [c] di memiliki invers.

Padahal [b] elemen di

sehingga [b][c] = [1] atau

Padahal 1 < a < n. Timbul kontradiksi, sehingga haruslah n bilangan prima.

Karena n = a.b, berarti .

sehingga 0

Diketahui bahwa n bilangan prima. komutatif. Selanjutnya akan ditunjukkan bahwa [a], [b] anggota

sendiri merupakan gelanggang daerah integral. Untuk setiap

andaikan [a][b] = [ab] = [0] berarti ab = nk, untuk suatu

bilangan bulat k. Karena n prima maka n membagi a atau n membagi b. Jadi, [a] = [0] atau [b] = [0]. Sehingga terbukti daerah integral. Berdasarkan teorema 1.3.3, berhingga maka adalah

lapangan. Dalam kasus ini karena elemen berhingga. tutur widodo : pend. matematika uns

suatu lapangan

Lapangan Berhingga

34

2.2. Sifat Sifat Lapangan Berhingga Teorema 2.2.1 Karakteristik dari lapangan berhingga adalah berupa bilangan prima. (Rudolf Lidl, 1994 : 16) Bukti : Ambil sebarang lapangan berhingga F. Misalkan |F| = n. Perhatikan himpunan { 1F, 2.1F, 3.1F, . . . ., (n + 1).1F} kelipatan dari 1F yang semuanya termuat di F. Karena F hanya terdiri dari n elemen, berarti terdapat bilangan bulat k, m dimana 1 k < m (n +1) sedemikian sehingga k.1F = m.1F atau (m k ).1F = 0F. Selanjutnya, untuk sebarang (m- k). = (m k ).1F. = 0F. berlaku

= 0F. Karena m k > 0, maka F memiliki

karakteristik berupa bilangan bulat positif. Katakanlah karakteristik dari F adalah p, karena F memuat elemen tak nol maka p 2. Andaikan p bukan prima, berarti p = x.y dengan 1 < x, y < p. Perhatikan bahwa, 0F = p.1F = (x.y).1F = (x.1F).(y.1F). Padahal, F adalah lapangan yang berarti juga suatu daerah integral. Sehingga haruslah x.1F = 0F atau y.1F = 0F. Selanjutnya, untuk sebarang x. = x.1F. = 0F. berlaku = y.1F. = 0F. = 0F. Hal ini kontradiksi

= 0F atau y.

dengan fakta bahwa p karakteristik dari F. Sehingga terbukti p prima.

Teorema 2.2.2 Jika F adalah lapangan berhingga dengan karakteristik p, maka F memuat pn elemen dengan n suatu bilangan bulat positif. (J.A. Gallian, 1990 : 309) Bukti : Karena F merupakan lapangan berhingga dengan karakteristik p maka F merupakan perluasan lapangan dari , , , . Jadi, pandang F sebagai ruang vektor atas .

. Karena F berhingga maka dimensi F juga hingga, katakanlah Misalkan pula basis dari F. Perhatikan pula bahwa setiap

, dapat dinyatakan sebagai tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

35

dan penyajian ini tunggal. Jadi, banyak elemen dari F adalah

Teorema di atas menyatakan bahwa banyaknya elemen dari lapangan berhingga berupa bilangan prima atau pangkat dari bilangan prima. Akan tetapi, untuk setiap bilangan prima p dan bilangan bulat positif n belum ada jaminan ditemukan lapangan berhingga F yang banyak elemennya pn. Namun, teorema berikut memberikan jaminan lapangan berhingga tersebut ada.

Teorema 2.2.3 Untuk setiap p dan n, dengan p bilangan prima dan n bilangan bulat positif terdapat lapangan berhingga yang memuat elemen sebanyak pn. (Herstein, 1996 : 226) Bukti : Perhatikan polinomial , dengan adalah akar- akar dari dan semuanya di K. | . Berdasarkan teorema memiliki m akar, atau

1.6.8 terdapat perluasan lapangan K dimana dengan kata lain

dapat difaktorkan menjadi

Sehingga

Berdasarkan akibat lemma 1.6.9 semua akar tersebut berbeda. Jadi . Selanjutnya perhatikan himpunan

,,

yaitu himpunan akar akar dari lapangan. Perhatikan bahwa 0 . 0 0 0 , serta 1

. Akan ditunjukkan bahwa A adalah 1 . Jadi, 0 dan 1 anggota A. Berarti .

Berikutnya ambil sebarang , sehingga diperoleh pula Jadi, .

, diperoleh : . Jadi,

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

36

Demikian pula,

Sampai sejauh ini, telah dibuktikan bahwa A suatu gelanggang. Karena K lapangan maka adalah gelanggang komutatif . Selain itu 1 juga anggota

. Sehingga

A. Jadi, tinggal ditunjukkan bahwa setiap invers perkalian dari elemen tak nol di A juga ada di A. Perhatikan, 1 1 . . Sehingga, . Jadi, . 1 atau

Terbukti bahwa A adalah lapangan dengan pn elemen. Teorema terbukti.

Teorema 2.2.3 di atas memberikan jaminan adanya lapangan berhingga untuk setiap bilangan prima p dan bilangan bulat positif n yang kita ambil. Untuk selanjutnya, lapangan berhingga F yang memuat q elemen dapat pula dinotasikan dengan GF(q) yaitu Galois Field yang memuat q elemen. Khususnya untuk dapat dinotasikan dengan .

Definisi 2.2.4

Diketahui lapangan berhingga GF(q) dan didefinisikan GF(q) * \0 .

yaitu himpunan elemen elemen tak nol di GF(q), Elemen yaitu disebut elemen primitive apabila |

membangun GF(q)*

(Fraleigh, 2000 : 408)

Teorema 2.2.5 Untuk setiap lapangan berhingga operasi perkalian di merupakan group siklik.

terhadap

(Herstein, 1996 : 223) tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

37

Bukti : Berdasarkan teorema 1.6.6 diperoleh untuk setiap persamaan 1 1 di

terdapat paling banyak d solusi, dengan d sebarang bilangan bulat positif. Demikian pula karena memiliki paling banyak d solusi di yang membagi habis |GF(q)*|. Jadi, berdasarkan teorema 1.1.5 dapat disimpulkan bahwa siklik. adalah group maka persamaan juga

, hal ini juga berlaku khususnya bagi d

Lemma 2.2.6 Misalkan F perluasan lapangan dari jika dan hanya jika .

dan

. Maka

(Fraleigh, 2000 : 408) Bukti : Misalkan , , , , ,, merupakan elemen elemen di yang

semuanya berbeda. Ambil sebarang elemen , untuk 1 ,, , 1 dengan , ,,

maka diperoleh

dan klaim semuanya berbeda. Andaikan terdapat sedemikian sehingga diperolah .

Apabila kedua ruas kita kalikan dengan dengan fakta bahwa Dari sini diperoleh, , . , . ,, .. 1 ,

. Kontradiksi

semuanya berbeda. Klaim terbukti. , . ,,

..

..

yang berakibat

..

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

38

elemen 0

Jadi,untuk setiap elemen

Sehingga untuk setiap elemen

sendiri juga pasti berlaku 0 berlaku

tak nol di GF(q) belaku

. Sedangkan untuk 0 .

Berdasarkan bukti di atas diperoleh bahwa setiap elemen merupakan penyelesaian dari persamaan . Padahal persamaan . yang

memiliki solusi paling banyak sejumlah q. Jadi, untuk setiap elemen memenuhi kesamaan pasti merupakan anggota

2.3. Sublapangan Teorema 2.3.1 Diketahui lapangan berhingga . Untuk setiap bilangan yang

bulat m yang membagi n terdapat tepat satu sublapangan dari berorder .

(Gallian, 1990 : 313) Bukti : Karena m membagi n diperoleh, 1 1 1 1

Dengan kata lain,

membagi 1 1

diperoleh polinomial setiap akar dari 1

membagi polinomial

1. Dengan assumsi yang sama

juga merupakan akar dari

1. Ini berarti

. Padahal berdasarkan lemma 2.2.6 himpunan semua adalah . Jadi, , demikian pula himpunan semua akar dari merupakan sublapangan dari . . Andaikan

akar dari

adalah Selanjutnya

hanya tinggal ditunjukkan ketunggalan dari

terdapat dua sublapangan berbeda dari . Hal ini berakibat polinomial tutur widodo : pend. matematika uns

, katakanlah A dan B yang berorder memiliki akar lebih dari yang

Lapangan Berhingga

39

kontradiksi dengan fakta bahwa haruslah A = B.

memiliki paling banyak

akar. Jadi,

Berdasarkan teorema di atas, lapangan berhingga yaitu , ,..., 2 2

. memiliki sublapangan membagi habis .

dengan syarat

Sebagai contoh dapat diperhatikan diagram berikut,

2 2

: memiliki sublapangan

Berdasar teorema 2.3.1 dan contoh diagram di atas, secara natural akan muncul pertanyaan apakah tidak ada sublapangan lain dari ,..., selain ,

. Untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan sifat

isomorphisma di lapangan berhingga dan akan dibahas kemudian.

2.4 Cara Mengkonstruksi Lapangan Berhingga Sejauh ini telah dipelajari beberapa sifat dari lapangan berhingga .

Berikutnya akan diberikan salah satu alternatif mengkonstruksi lapangan berhingga berdasarkan teorema 1.6.8 dan 2.2.3 yang telah dipelajari sebelumnya. Pertama, diperkenalkan terlebih dahulu pengertian tentang modulo dan kongruensi di F[x].

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

40

Definisi 2.4.1 Polinomial

disebut kongruen dengan

modulo

jika dan hanya jika terdapat polinomial

sedemikian hingga

Ditulis

. (http://zaki.math.web.id)

Berdasarkan definisi di atas, jika dan

mempunyai sisa yang sama apabila dibagi oleh

dan

dikatakan kongruen modulo

. Sama

seperti pengertian kongruensi pada bilangan bulat, dengan relasi modulo ini dapat dibentuk klas- klas ekuivalensi sebagai berikut, Definisi 2.4.2 memuat Untuk suatu polinomial ialah | yaitu himpunan semua polinomial yang kongruen dengan modulo , klas ekuivalensi yang

Operasi penjumlahan dan perkaliannya didefinisikan sebagai berikut,

dan . . (http://zaki.math.web.id) Akhirnya, untuk mengkonstruksi dan polinomial tak tereduksi bisa memanfaatkan gelanggang berderajat n, yaitu

yaitu himpunan semua polinomial di tutur widodo : pend. matematika uns

yang berderajat kurang dari n.

Lapangan Berhingga

41

Sebagai contoh, Untuk membangun

dan polinomial tak tereduksi Sehingga, 4

2 , dapat memanfaatkan gelanggang 1 .

0, 1,

1 bisa memanfaatkan berderajat n. Lalu

Seperti telah dijelaskan di atas, untuk mengkonstruksi gelanggang dan polinomial tak tereduksi

pertanyaan yang muncul, apakah untuk sebarang bilangan asli n selalu terdapat polinomial tak tereduksi berderajat n di jawaban pertanyaan tersebut, . Teorema berikut memberi

Teorema 2.4.3 Untuk sebarang lapangan berhingga bilangan asli n, terdapat polinomial tak tereduksi

dan sebarang berderajat n. (Fraleigh, 2000 :410)

Bukti : Berdasarkan teorema 2.2.3 terdapat lapangan berhingga K yang memuat elemen. Karena t membagi tn maka F merupakan sublapangan dari K. Dengan kata lain, K adalah perluasan lapangan dari F. Apabila K dipandang sebagai ruang vektor atas F, sedangkan K memiliki elemen dan F memiliki group siklik, katakanlah didefinisikan homomorphisma elemen maka . Selain itu K* merupakan

merupakan elemen primitive dari K. Selanjutnya yaitu

Akan dibuktikan Ambil sebarang

. maka t dapat dinyatakan

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

42

dengan

Karena a adalah elemen primitive dari K* maka untuk setiap i berlaku Jadi, Sehingga diperoleh atau . . Karena untuk suatu dan

dan

basis dari . .

Perhatikan pula bahwa

merupakan ideal dari F [x]. Padahal F [x]

merupakan daerah integral utama, sehingga terdapat polinomial tak nol sedemikian sehingga . Dari sini diperoleh 0.

merupakan polinomial berderajat minimal di F [x] sedemikian hingga Klaim bahwa merupakan polinomial tak tereduksi berderajat n yang dicari. dengan ,

Pertama, dibuktikan bahwa 0 deg dapat direduksi, misalkan , deg

merupakan polinomial tak tereduksi. Andaikan deg dan 0. Kontradiksi 0.

Diperoleh

Karena F [x] daerah integral berakibat dengan fakta bahwa sedemikian hingga di F [x]. 1, , , ,.., 0. Jadi, terbukti

merupakan polinomial berderajat minimal di F [x]

0 atau

adalah polinomial tak tereduksi

Kedua, ditunjukkan bahwa deg linier. Berarti terdapat 0

Untuk itu perhatikan himpunan

, karena K berdimensi n berakibat T tidak bebas sedemikian hingga

di F [x] dimana

0. Jadi, terdapat polinomial taknol 0. Karena

di F [x] sedemikian hingga Andaikan

0 maka diperoleh . Karena

merupakan polinomial berderajat minimal . maka diperoleh .

. Diketahui pula | |

sehingga

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

43

Perhatikan pula bahwa anggota dari

adalah polinomial berderajat

kurang dari w di F [x]. Jadi,untuk setiap dengan kemungkinan banyaknya elemen di yaitu

dapat di sajikan . Karena | | maka

Timbul kontradiksi karena diketahui . Oleh karena itu, diperoleh Sehingga terbukti,

. Jadi, tidak mungkin .

merupakan polinomial tak tereduksi berderajat n.

Dengan adanya teorema di atas memberikan jaminan yang pasti bahwa cara mengkonstruksi lapangan berhingga yang dikemukan di depan dapat diterapkan untuk membangun sebarang lapangan berhingga berorder diminta. Sedangkan bagaimana cara menemukan polinomial tak tereduksi tersebut tidak dikemukan pada makalah ini. Pembaca dapat mencari referensi lain untuk keperluan tersebut. yang

2.5

Ketunggalan dari Lapangan Berhingga Berorder Sama (up to

Isomorphisma) Teorema berikut akan menunjukkan bahwa setiap lapangan berhingga yang berorder sama saling isomorphic.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

44

Teorema 2.5.1 Jika K dan L adalah lapangan berhingga yang berorder sama maka K dan L isomorphic. (Herstein, 1996 : 228) Bukti : Misalkan | | | | . Telah diketahui bahwa merupakan sublapangan dari . Misalkan pula

K dan L . Sehingga K dan L adalah perluasan lapangan dari merupakan elemen primitive dari K* dan

adalah elemen primitive

dari L*. Konstruksi homomorphisma : yaitu

dengan definisi, serta,

, untuk setiap :

dengan definisi,

Analog dengan bukti teorema 2.4.3, diperoleh serta berderajat n di dengan . Juga diperoleh .

, untuk setiap

. dan

adalah polinomial tak tereduksi dengan adalah

polinomial tak tereduksi berderajat n di Jadi, serta

Selanjutnya, akan dibuktikan bahwa Perhatikan bahwa,

dan

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

45

dan

dan

Konstruksi pemetaan dengan definisi, Perhatikan, untuk sebarang berlaku, , .

serta, . . .

. Sehingga merupakan suatu homomorphisma. bijektif, Selanjutnya perlu dibuktikan bahwa Ambil sebarang

maka pasti terdapat .

sedemikian sehingga Terbukti surjektif.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

46

Untuk sebarang , dan

dapat dinyatakan sebagai berikut

andaikan Perhatikan,

akan ditunjukkan

berakibat tetapi diketahui pula bahwa 0 yang berakibat sehingga didapat . . Jadi, injektif. adalah

Sehingga jelas bahwa Karena

injektif sekaligus surjektif maka

bijektif. Dengan kata lain,

suatu isomorphisma. Jadi, terbukti bahwa Oleh karena itu, .

berarti

. Teorema terbukti.

Teorema di atas memberikan bukti bahwa sebarang lapangan berhingga yang berorder sama saling isomorphic. Dengan kata lain, dengan memanfaatkan relasi isomorphima ini kita dapat mengambil satu lapangan berhingga saja sebagai representasi lapangan berhingga lain yang berorder sama. Oleh karena itu, penulisan lapangan berhingga berorder beralasan. dengan simbol cukup

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

47

Berikut dengan memanfaatkan fakta di atas akan dibuktikan jika H sublapangan berorder dari lapangan berhingga : : maka m membagi n. , sehingga . :

Berdasarkan teorema 2.5.1, H isomorphic dengan :

karena atas

maka

merupakan dimensi dari :

sebagai ruang vektor

. Jadi, terbukti m membagi n.

Pada bagian akhir dari makalah ini, diberikan contoh lapangan berhingga dan pembahasan mengenai elemen primitive dan sublapangannya. Contoh 1. Lapangan berhingga berorder 9 ( Untuk mengkonstruksi polinomial tak tereduksi Jadi, 9 1 9 1 ) dan 2

kita memanfaatkan gelanggang 0, 1, 2, , . 1, 2, 2 , 2 1, 2

Catatan: tanpa mengurangi arti dan untuk menyederhanakan penulisan, tanda [] pada tiap elemen anggota Untuk operasi penjumlahan pada 9 dihilangkan. 9

menggunakan modulo 3 sedangkan 1 . 1

operasi perkaliannya menggunakan modulo Contoh: 2 2 1 4 1 1

Kita juga bisa menggunakan hubungan 1 2 2 2 4 2

1 2

4 4

Selanjutnya akan dicari elemen primitive dari

membentuk group siklik berorder 8. Karena order dari tiap elemen di membagi 8 maka untuk mencari elemen primitive dari elemen 1 dan 9 * dengan sifat 1.

9 . Perhatikan bahwa,

2. Sebagai contoh, 6 4 4

9 * cukup mencari

9 *

9 *

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

48

Kita mulai dengan x, diperoleh Jadi, x bukan elemen primitive dari Sekarang dicoba untuk 1 1 2 1 1 2 2 1, diperoleh 1 1

9 .

2 dan 1

2.2

1.

dan Jadi,

1 adalah elemen primitive dari


Bentuk Perkalian 1 1 1 1 1 1 1 1

2 .2

9 *. Perhatikan tabel dibawah ini !


2 1

Bentuk Penjumlahan

2 2

1 2

Berdasarkan teorema 1.1.4 selain 1


3

Sublapangan dari

9 yaitu 0

1,

9 sendiri dan 1

1 elemen primitive dari


5

2 dan

0, 1, 2 )

9 * yaitu
2

Contoh 2. Lapangan berhingga berorder 16 ( Untuk mengkonstruksi polinomial tak tereduksi Jadi, 16 16 1 | , , , 16 1

dapat memanfaatkan gelanggang . 1

dan

dengan , , ,

Atau tanpa mengurangi arti dapat ditulis,

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

49

Analog dengan contoh 1, akan dicari elemen primitive dari | 16 | 15 berakibat elemen primitive di 1 dan . 16 *. Jelas bahwa 1 16 *. 1.

memiliki sifat

16 * yaitu 1

16 *. Karena

Kita coba untuk elemen

1 sedangkan

16 *

Jadi, x merupakan elemen primitive dari Perhatikan tabel di bawah ini!


Bentuk Perkalian

Bentuk Penjumlahan

1 1 1 1

Sublapangan dari 2 0

16 selain 0 0, 1 ,

16 sendiri ada dua yaitu ,1 0,1, , 1

dan

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

50

Sedangkan elemen primitive dari a. b. c. d. e. f. g. 1 1 1 1 1

16 * selain x yaitu

Demikian pembahasan tentang lapangan berhingga yang penulis kemukakan pada makalah kali ini. Apabila pembaca tertarik terhadap materi ini, dapat mencari referensi lain yang lebih lengkap dari buku buku tentang aljabar abstrak.

tutur widodo : pend. matematika uns

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Lapangan berhingga ialah lapangan yang memuat elemen sebanyak berhingga. 2. Lapangan berhingga memiliki sifat- sifat sebagai berikut : a. Karakteristik dari lapangan berhingga berupa bilangan prima. b. Untuk sebarang lapangan berhingga F, berlaku | | bilangan prima dan n berupa bilangan bulat positif. dengan p adalah

c. Untuk sebarang bilangan prima p dan sebarang bilangan bulat positif n terdapat lapangan berhingga F sedemikian sehingga | | .

d. Himpunan elemen elemen taknol dari suatu lapangan berhingga F membentuk group siklik, terhadap operasi perkalian di F. e. Jika A dan B adalah sebarang lapangan berhingga yang berorder sama, yaitu | | | | maka . merupakan sublapangan dari jika dan

3. Lapangan berhingga

hanya jika m membagi habis n. 4. Untuk mengkonstruksi lapangan berhingga dan polinomial tak tereduksi . dapat memanfaatkan berderajat n,

gelanggang yaitu

B. Saran
Bagi pembaca maupun teman teman Pendidikan Matematika UNS yang tertarik dengan materi yang dibahas pada makalah ini serta berminat untuk dijadikan bahan seminar, bisa mempelajari lebih lanjut mengenai Galois Field dan terapannya. Selain itu dapat pula belajar lebih jauh tentang polinomial tak 51 tereduksi terutama mengenai cara pengujiannya.

tutur widodo : pend. matematika uns

LAMPIRAN

Pada bagian pembahasan disebutkan mengenai Fungsi Euler. Berikut akan dijelaskan tentang fungsi tersebut. Definisi Fungsi Euler. Misalkan n bilangan bulat positif. Banyaknya bilangan bulat positif yang kurang dari atau sama dengan n serta relatif prima terhadap n dilambangkan dengan Contoh, Bilangan bilangan 1, 3, 7, 9, 11, 13, 17, 19 relatif prima terhadap 20. Jadi, 20 8. . Fungsi selanjutnya disebut Fungsi Euler.

Teorema. Untuk setiap bilangan bulat positif d yang membagi habis n berlaku .

Bukti : Perhatikan barisan bilangan rasional berikut, 1 2 3 , , ,,

Jelas barisan tersebut terdiri dari n suku. Selanjutnya buat barisan baru dengan cara mereduksi masing- masing suku barisan di atas menjadi bentuk paling sederhana ( tiap suku barisan baru berbentuk dengan FPB(a, b) = 1). Dengan

demikian, barisan baru tersebut tetap terdiri dari n suku dan penyebut dari tiap sukunya merupakan pembagi n. Pehatikan pula, untuk setiap d yang membagi n terdapat suku yang penyebutnya adalah d. Jadi untuk setiap d yang membagi n, adalah banyaknya suku di barisan baru

yang penyebutnya adalah d. Oleh karena itu, jika kita menghitung

52 tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

53

berarti menghitung seluruh suku dari barisan tersebut. Jadi, . beberapa fungsi yang diklaim sebagai

Berikutnya akan diberikan bukti dari

homomorphisma tetapi pembuktiannya belum diberikan di pembahasan. Fungsi pada halaman 20. yang didefinisikan

Jika F suatu lapangan maka fungsi .1 , Bukti : Pertama dibuktikan bahwa akan dibuktikan 1 .1

adalah suatu homomorphisma

well defined. Ambil sebarang , . Perhatikan, well defined.

Kedua dibuktikan Diperoleh, 1 1

adalah homomorphisma. Untuk itu ambil sebarang , .1 1

. Terbukti

.1

. Jika 1

1 sebanyak n + m

1 1

.1

1 sebanyak n

.1

1 sebanyak nm

.1

1 sebanyak m

1 sebanyak n

1 sebanyak n

1 sebanyak n

blok (1 sebanyak n) sebanyak m

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

54

.1 1 Terbukti bahwa .1 .

.1

. 1 sebanyak m

.1 1

.1

adalah homomorphisma.

.1

Fungsi

pada halaman 29. serta ,

Jika F adalah lapangan dan M ideal maksimal dari maka fungsi yang didefinisikan

adalah homomorphisma. Bukti : Terlebih dahulu, dibuktikan bahwa dengan 0 well defined. Ambil sebarang

akan ditunjukkan , hal ini berakibat . Terbukti

. Perhatikan, . well defined. , Jadi

Selanjutnya ditunjukkan bahwa , diperoleh

homomorphisma. Ambil sebarang

. Jadi, terbukti

. adalah homomorphisma.

tutur widodo : pend. matematika uns

Lapangan Berhingga

55

Fungsi

pada halaman 41. dan maka fungsi :

Jika F dan K adalah lapangan, yang didefinisikan

adalah suatu homomorphisma. Bukti : Pertama, dibuktikan bahwa fungsi dengan jika diperoleh . Terbukti, Kedua, ditunjukkan bahwa , diperoleh . . . . well defined. Ambil sebarang , ,

akan ditunjukkan . Sehingga,

. Perhatikan,

well defined. homomorphisma. Ambil sebarang

Jadi, terbukti

adalah homomorphisma.

tutur widodo : pend. matematika uns

DAFTAR PUSTAKA

Fraleigh,John B. 2000. A First Course in Abstract Algebra, 4th Edition. New York: Addison-Wesley Publising Company. Gallian, J.A. 1990. Contemporary Abstract Algebra, 2nd Edition. Massachussets : D.C. Heath and Company. Grillet, P. Antoine. 2007. Abstract Algebra, 2nd Edition. New York : Spgelangganger Science and Business Media, LLC. Herstein, I. N. 1990. Topics in Algebra, 2nd Edition. New York :John Willey and Sons. ___________. 1996. Abstract Algebra, 3rd Edition. New Jersey : Prentice Hall International,Inc. Lidl, Rudolf and Harald Niederreiter. 1994. Introduction to Finite fields and Their Applications. United Kingdom : Cambridge University Press. Robinson, D.J.S. 2003. An Introduction to Abstract Algebra. Berlin : Walter de Gruyter. http://zaki.math.web.id

56 tutur widodo : pend. matematika uns

Anda mungkin juga menyukai