0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan32 halaman

Rebusan Jahe Turunkan Nyeri Gastritis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rebusan jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro tahun 2022. Gastritis merupakan salah satu penyakit terbanyak di puskesmas tersebut dengan angka kejadian tinggi namun belum ada pengobatan herbal yang diberikan. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh rebusan jahe

Diunggah oleh

auroramayden
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan32 halaman

Rebusan Jahe Turunkan Nyeri Gastritis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rebusan jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro tahun 2022. Gastritis merupakan salah satu penyakit terbanyak di puskesmas tersebut dengan angka kejadian tinggi namun belum ada pengobatan herbal yang diberikan. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh rebusan jahe

Diunggah oleh

auroramayden
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH REBUSAN JAHE DALAM MENURUNKAN SKALA NYERI PADA

PASIEN GASTRITIS DI UPTD PUSKESMAS BANJARSARI RAWAT INAP METRO


TAHUN 2022

Dosen Pembimbing

TUBAGUS ERWIN NURDIANSYAH, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :

NAMA ANGGOTA KELOMPOK 1

1. RINDA SEPTIANDA 205140045


2. ROSALIA PERTIWI 205140113
3. SALSA DESVIRA BAYDURI 205140087
4. DEA PUTRI ARISTIA 205140089
5. M.BANU PALAKA 205140043

K3 KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MITRA INDONESIA

2023

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..............................................................................................................................2
BAB 1.........................................................................................................................................3
PENDAHULUAN......................................................................................................................3
Latar Belakang........................................................................................................................3
Identifikasi Masalah...............................................................................................................4
Rumusan Masalah..................................................................................................................4
Tujuan Penelitian....................................................................................................................4
Manfaat penelitian..................................................................................................................5
Ruang Lingkup Penelitian......................................................................................................5
BAB II........................................................................................................................................6
TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................................7
Landasan teori........................................................................................................................7
Penelitian Terkait..................................................................................................................16
Kerangka Teori.....................................................................................................................18
Kerangka Knsep...................................................................................................................19
Hipotesa................................................................................................................................19
BAB III.....................................................................................................................................20
METODE PENELITIAN.........................................................................................................20
Metodologi Penelitian..........................................................................................................20
Waktu dan Tempat Penelitian..............................................................................................20
Populasi dan Sampel.............................................................................................................21
Variabel................................................................................................................................21
Definisi Operasional.............................................................................................................22
Etika Penelitian.....................................................................................................................22
Pengumpulan data................................................................................................................23
Pengolahan data....................................................................................................................24
Analisa Data.........................................................................................................................25
BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN...............................................................27
BAB V KESIMPULAN...........................................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................32

2
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gastritis merupakan peradangan yang mengenai mukosa lambung. Peradangan ini


dapat mengakibatkan pembengkakan mukosa lambung sampai terlepasnya epitel
mukosa supersial yang menjadi penyebab terpenting dalam gangguan saluran
pencernaan. Pelepasan epitel akan merangsang timbulnya proses inflamasi pada
lambung (Sukarmin, 2012)

Tinjauan WHO terhadap beberapa Negara didunia didapatkan presentase angka


kejadian gastritis di dunia, diantaranya Inggris 22%, China 31%, Jepang 14,5%,
Kanada 35%. Angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO adalah 40,8%.
Angka kejadian gastritis pada di Indonesia 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa
penduduk. Gastritis merupakan salah satu penyakit didalam sepuluh penyakit
terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia, sedangkan angka
kejadian gastritis di Lampung sendiri yaitu sebesar 134.989 atau sekitar 20,9% dan
menempati angka penyakit terbanyak ke 2. (Riskesdas 2018).

Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Kota Metro, gastritis merupakan salah satu
Dari sepuluh besar penyakit terbanyak pada tahun 2019 maupun tahun 2020 di hampir
seluruh puskesmas Kota Metro, dimana puskesmas BANJARSARI Metro dengan
jumlah kasus gastritis terbanyak dengan jumlah 6.309 kasus atau sekitar 26,7% dari
total keseluruhan penyakit (profil Dinkes Kota Metro,2018)

Gastritis merupakan penyakit terbanyak yang diderita dan dilakukan Rawat Inap
selama tahun 2020-2021 di puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro.
Berdasarkan data selama tahun 2020 diketahui bahwa terdapat 3 kasus kematian yang
disebabkan oleh gastritis dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 5 kasus kematian
yang disebabkan oleh gastritis. Pada pasien gastritis akan mengalami peningkatan
asam lambung dan jika tidak ditangani dengan serius akan mengakibatkan komplikasi
terjadinya refluks gastro intestinal yang menimbulkan nyeri dan juga sesak nafas.

3
Berdasarkan hasil wawancara juga diketahui bahwa di wilayah kerja puskesmas
tersebut belum ada pengobatan secara medis. Berdasarkan hasil pra-survey yang
peneliti lakukan di wilayah kerja Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro
didapatkan dari 10 penderita gastritis yang dilakukan wawancara semuanya (100%)
belum mengenali jahe untuk menurunkan nyeri gastritis dan juga belum ada terapi
yang dilakukan di tempat penelitian untuk mengurangi nyeri gastritis secara herbal.

Berdasarkan hasil survey, serta masalah penelitian diatas teori serta penelitian terkait
diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berjudul
pengaruh air rebusan air jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien gastritis di
UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro tahun 2022

B. Identifikasi Masalah
1. Angka kejadian gastritis di Dunia, diantaranya Inggris 22%, China 31%, Jepang
14,5%, Kanada 35%, dan Perancis 29,5%. Angka kejadian gastritis di Indonesia
menurut WHO adalah 40,8%. Angka kejadian gastritis pada di Indonesia 274.396
kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk.
2. Gastritis merupakan salah satu dari sepuluh besar penyakit terbanyak pada tahun
2019 maupun tahun 2020 di hampir seluruh puskesmas di Kota Metro, dimana
Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro dengan jumlah kasus gastritis
terbanyak dengan jumlah 6.309 kasus atau sekitar 26.7% dari total keseluruhan
penyakit
3. Terjadinya komplikasi pada pasien gastritis yang mengakibatkan kematian
4. Hasil Pra-survey yang peneliti lakukan di wilayah kerja Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro didapatkan dari 10 penderita gastritis yang dilakukan
wawancara keseluruhanya (100%) belum mengenali jahe untuk menurunkan nyeri
gastritis.

C. Rumusan Masalah
Apakah terdapat pengaruh rebusan jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien
gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro 2022?

4
D. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Diketahui pengaruh rebusan jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien gastritis
di UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro tahun 2022.
Tujuan Khusus
1. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 sebelum diberikan rebusan jahe
2. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 setelah diberikan rebusan jahe
3. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 sebelum diberikan terapi medis
4. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 setelah diberikan terapi medis
5. Diketahui pengaruh rebusan jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien
gastritis di UPTD Puskemas BANJARSARI Rawat Inap Metro tahun 2022

E. Manfaat penelitian
Manfaat Aplikatif
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk pertimbangan terapi pada pasien
dengan gastritis dan juga sebagai bahan pertimbangan terapi yang aman dalam
menurunkan skala nyeri pada pasien gastritis.
Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk perbandingan bagi penelitian-
penelitian sebelumnya dan juga sebagai bahan refrensi bagi penelitian yang akan
datang.

F. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini berfokus pada masalah keperawatan medikal bedah, dalam penelitian ini
peneliti hanya meneliti pengaruh rebusan air jahe terhadap penurunan skala nyeri
pada pasien gastritis, penelitian ini akan dilakukan pada bulan juli 2022, dengan
responden pasien yang mengalami gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022, desain penelitian dalam penelitian ini menggunakan
desain pra eksperimen dengan rancangan pre-test post-tes with control group. Tempat
penelitian ini dilaksanakan UPTD Puskesmas BANJARASRI Rawat Inap Metro. Uji

5
stastic yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan bivariat.
Analisa bivariate menggunakan uji stastik UJI T (Independent T-Test)

6
BAB II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan teori

1. Gastritis
Gastritis merupakan penyakit radang lambung yang dikenal sebagai penyakit lambung
atau dyspepsia, sebagai organ cerna lambung berfungsi untuk menyimpan makanan
dan mencernakan kembali makanan menjadi partikel yang lebih kecil untuk
diteruskan ke duodenum. Beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya gastritis
adalah pengeluaran asam lambung yang berlebihan, pertahanan dinding lambung yang
lemah, infeksi bakteri heiicobacter pylori (sejenis bakteri yang hidup didalam
lambung dalam jumlah yang kecil) ketika asam lambung yang dihasilkan lebih
banyak kemudian pertahanan dinding lambung menjadi lemah, bakteri ini bisa
bertambah banyak jumlahnya apalagi disertai kebersihan makanan yang kurang, pola
makan yang tidak teratur, gangguan gerakan saluran cerna, merokok, minuman
beralkohol, obat-obatan anti inlamatory drugs (NSAID), dan stress psikologis (Wijaya
& Putri 2013).

Gastritis merupakan peradangan yang mengenai mukosa lambung. Peradangan ini


dapat mengakibatkan pembengkakan mukosa lambung sampai terlepasnya epitel
mukosa superfisial yang menjadi penyebab terpenting dalam gangguan saluran
pencernaan. Pelepasan epitel akan merangsang timbulnya proses inflamasi pada
lambung (Sukarmin, 2012).

Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung. Gastritis
merupakan gangguan kesehatan yang paling sering dijumpai di klinik karena
diagnosisnya sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan hispatologi
(padila, 2012).

2. Klasifikasi Gastritis
Menurut Sukarmin (2012), gastritis dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Gastritis Akut

7
Gastritis akut merupakan suatu peradangan permukaan lambung yang akut dengan
kerusakan-kerusakan erosi pada gaster.
2. Gastritis Kronik
Gastritis kronik merupakan suatu peradangan bagian permukaan lambung yang
menahun. Gastritis ini ditandai oleh adanya atrofi progresif epitel kelenjar disertai
kehilangan sel perietal.

3. Penyebab Gastritis
Beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya gastritis adalah pengeluaran asam
lambung yang berlebihan, pertahanan dinding lambung yang lemah, infeksi bakteri
helicobacter pylori, pola makan, stress, merokok, minuman beralkohol dan obat-
obatan anti-inflamatory drugs (NSAID) (Wijaya & Putri 2013).

1. Pola Makan
Terjadinya gastritis dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak baik dan tidak
teratur, yaitu frekuensi makan, jenis, dan jumlah makanan, sehingga lambung
menjadi sensitif bila asam lambung meningkat (Oktaviani, 2011).

a. Frekuensi Makan
Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari. Secara alamiah
makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut
sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis
makanan. Jika rata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka
jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung (Oktaviani,
2011).
b. Jenis Makanan
Jenis makanan adalah variasi bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan
diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang.
Menyediakan variasi makanan bergantung pada orangnya, makanan tertentu
dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti halnya makanan pedas
(Okviani, 2011).
c. Porsi makan
Porsi atau jumlah merupakan suatu ukuran maupun takaran makanan yang
dikonsumsi pada tiap kali makan. Setiap orang harus makan makanan dalam

8
jumlah besar sebagai bahan bakar untuk semua kebutuhan tubuh. Jika konsumsi
makanan berlebihan, kelebihannya akan disimpan di dalam tubuh dan
menyebabkan obesitas (kegemukan). Selain itu, makanan dalam porsi besar
dapat menyebabkan refluks isi lambung, yang pada akhirnya membuat kekuatan
dinding lambung menurun. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan peradangan
atau luka pada lambung (Okviani, 2011).

2. Rokok
Asam nikotin pada rokok dapat meningkatkan adhesi thrombusi yang berkontribusi
pada penyempitan pembuluh darah sehingga suplay darah kelambung mengalami
penurunan. Penurunan ini berdampak pada penurunan produksi mukus salah satu
fungsingnya untuk melindungi lambung dari iritasi. Selain itu CO yang dihasilkan
oleh rokok lebih mudah diikat Hb dari pada oksigen sehingga memungkinan
penurunan perfusi jaringan pada lambung. Kejadian gastritis pada perokok juga
dapat dipicu oleh pengaruh asam nikotinat yang menurunkan rangsangan pada pusat
makan, perokok menjadi tahan lapar sehingga asam lambung dapat langsung
mencerna mukosa lambung bukan makanan karena tidak ada makanan yang masuk
(Sukarmin, 2012).

3. Alkohol
Alkohol memiliki pengaruh terhadap makhluk hidup, terutama dengan
kemampuannya sebagai pelarut lipida. Kemampuannya melarutkan lipida yang
terdapat dalam membran sel memungkinkannya cepat masuk ke dalam sel-sel dan
menghancurkan struktur sel tersebut. Oleh karena itu alkohol dianggap toksik atau
racun. Alkohol yang terdapat dalam minuman seperti bir, anggur, dan minuman
keras lainnya terdapat dalam bentuk etil alkohol adalah lambung dan hati, oleh
karena itu efek dari kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jangka panjang tidak
hanya berupa kerusakan hati atau sirosis, tetapi juga kerusakan lambung. Dalam
jumlah sedikit, alkohol merangsang produksi asam lambung berlebih, nefsu makan
berkurang, dan mual, sedangkan dalam jumlah banyak, alkohol dapat mengiritasi
mukosa lambung dan duodenum (Sukarmin, 2012).

9
4. Pemakaian obat anti inflamasi nonsteroid.
Pemakaian obat anti inflamasi nonsteroid seperti aspirin, asam mefenamat, aspilets dalam
jumlah besar dapat memicu kenaikan produksi asam lambung yang berlebihan sehingga
mengiritasi asam lambung karena terjadinya difusi balik ion hidrogen ke epitel lambung.
Selain itu obat ini juga dapat mengakibatkan kerusakan langsung pada epitel mukosa
karena dapat bersifat iritatif dan sifatnya yang asam dapat menambah derajat keasaman
pada lambung (Sukamin, 2012).

4. Manifestasi klinis
Gejala penyakit gastritis yang biasa terjadi adalah (Sukarmin, 2012) :
1. Mual dan muntah
2. Nyeri epigastrum yang timbul tidak lama setelah makan dan minum unsur-unsur
yang dapat merangsang lambung (alkohol, salisilat, makanan tercemar toksin
stafilokokus)
3. Keringat dingin
4. Nafsu makan menurun secara drastis
5. Sering bersendawa terutama dalam keadaan lapar
6. Rasa seperti terbakar di dalam perut
7. Perasaan kenyang atau ‘begah’

5. Pencegahan Gastritis
Agar kita terhindar dari penyakit gastritis, sebaiknya lakukan pencegahan gastritis
dibawah ini :
1. Mengatur pola makan yang normal dengan memilih makanan yang seimbang
dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur.
2. Batasi atau hilangkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Tingginya konsumsi
alkohol dapat mengiritasi atau merangsang lambung bahkan menyebabkan
terkelupasan sehingga terjadi peradangan dan pendarahan pada lambung.
3. Makanan sebaiknya lunak, mudah di cerna, makan dengan porsi kecil tapi sering
dan sebaliknya tidak mengkonsumsi makanan yang pedas dan asam.
4. Jangan merokok. Merokok akan merusak lapisan pelindung lambung. Karena
orang yang merokok lebih sensitif terhadap gastritis maupun ulcer. Merokok juga
akan meningkatkan asam lambung, melambatkan kesembuhan, dan meningkatkan
resiko kanker lambung.

10
5. Bila harus mengkonsumsi obat karena suatu penyakit, sebaiknya menggunakan
obat sesuai dosis yang benar dan tidak mengganggu fungsi lambung.
6. Hindari stress dan tekanan emosi yang berlebihan karena dapat mempengaruhi
kerja lambung (Mansjoer, 2012).

6. Penatalaksanaan Gastritis
Jenis obat-obatan yang dapat mengurangi jumlah asam asam lambung meliputi
(wijaya & Putri 2013) :
1. Antasida yang mengandung alumunium, magnesium, karbonat kalsium dan
magnesium. Antasida meredakan mulas ringan atau dispepsia dengan cara
menetralisir asam lambung. Ion H merupakan struktur utama asam lambung. Dengan
pemberian alumunium hidroksida maka suasana asam dalam lambung dapat
dikurangi.
2. Histamin (H2) blocker, seperti famotidine dan ranitidine, H2 blocker mempunyai
dampak penurunan produksi asam dengan mempengaruhi langsung pada lapisan
epitel lambung dengan cara menghambat rangsangan sekresi oleh staf otonom pada
nervus vagus.
3. Pengobatan herbal
Pengobatan herbal dapat dilakukan dengan memilih bahan-bahan yang dapat
berfungsi menurunkan asam lambungataupun beta blocker Histamin H2 seperti jahe,
aloe vera dan jus buah pepaya. Jahe telah terbukti memiliki efek sebagai
antiulserogenik karena mengandung gingerol, zingerone, flavonoid, aseton, metanol
dan minyak atsiri. Gingerol dan zingerone dapat menghambat H+K+ATP-ase yang
menghambat sekresi dari asam lambung. Lidah buaya ini mengandung berbagai zat
aktif yang dapat mengobati berbagai penyakit, khasiat yang sudah dikenal dari
tanaman ini yaitu hanya sebagai penyubur rambut dan memperhalus kulit, akan tetapi
khasiat lidah buaya terutama untuk mengobati gastritis belum banyak orang yang
mengetahuinya.

Pemberian jus buah pepaya (Carica papaya) terhadap kerusakan histologi lambung
yang diinduksi aspirin. Salah satu kandungan buah pepaya yang berperan dalam
memperbaiki masalah lambung adalah enzim papain (sejenis enzim proteolitik) dan
mineral basa lemah. Enzim papain mampu mempercepat perombakan protein yang
akan mempercepat regenerasi kerusakan sel-sel lambung. Mineral basa lemah berupa

11
magnesium, kalium, dan kalsium mampu menetralkan asam lambung yang
meningkat.

4. Pengobatan tambahan
Hindari makanan yang merangsang seperti pedas, dan asam dapat meningkatkan
suasanan asam pada lambung sehingga dapat menaikan resiko inflamasi pada
lambung. Penderita juga dilatih untuk menajemen stress sebab stress dapat
mempengaruhi sekresi asam lambung melalui nervus vagus. Latihan pengendalian
stress bisa juga diikuti dengan peningkatan spiritual sehingga penderita dapat lebih
pasrah ketika menghadapi stress.

7. Pengukuran Derajat Nyeri


Numeric Rating Scale (NRS) adalah salah satu skala yang paling sederhana dan
paling sering digunakan dalam instrumen untuk mengukur intensitas nyeri. Metode
yang umumnya digunakan untuk memeriksa intensitas nyeri yaitu dengan skala
penilaian numerik ini lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata.
Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala ini paling
efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi
terapeutik.
Gambar 2.1
Numeric Rating Scale (NRS) (Menurut
National Initiative on Pain Control)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10
Tidak nyeri sangat nyeri

Keterangan
0 : Tidak Nyeri
1 – 3 : Nyeri Ringan
4 – 6 : Nyeri Sedang
7 – 9 : Nyeri Berat Terkontrol
10 : Nyeri Berat Tidak Terkontrol
(Potter & Pery, 2010)

12
Selain dengan pengukuran tersebut skala nyeri juga dapat diukur menggunakan wong
baker scala / face sacale, yaitu suatu metode pengukuran nyeri menggunakan ekspresi wajah
(Potter & Pery,2010).

Gambar 2.2
Pengukuran Skala Nyeri Face Scale

Dari gambar diatas didapatkan implementasi pengukuran nyeri sebagai berikut:


1. Ekspresi wajah pertama yaitu skala nyeri 0 atau tidak nyeri
2. Ekspresi wajah kedua yaitu mengalami nyeri ringan yaitu skala nyeri 1-3
3. Ekspresi wajah ketiga yaitu mengalami nyeri sedang yaitu skala nyeri 4-5
4. Ekspresi wajah ke empat menunjukan gambar ekspresi nyeri berat 6-7
5. Ekspresi wajah ke 5 menunjukan gambaran ekspresi wajah nyeri berat yang
menganggu yaitu dengan skala nyeri 8-9
6. Ekspresi wajah ke 6 menunjukkan gambaran ekspresi wajah nyeri berat yang tak
tertahankan yaitu dengan skala nyeri 10

8. Rebusan Air Jahe


Pengertian Jahe
Jahe merupakan rempah-rempah indonesia yang sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari, terutama dalam bidang kesehatan. Jahe merupakan tanaman obat berupa
tumbuhan rumpun berbatang semu dan termasuk dalam suku temu-temuan. Jahe
berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina (Purwanto, 2016).

Tanaman jahe termasuk keluarga Zingiberaceae yaitu suatu tanaman rumput-


rumputan tegak dengan ketinggian 30-75 cm, berdaun sempit memanjang menyerupai
pita, dengan panjang 15 – 23 cm, lebar lebih kurang dua koma lima sentimeter,

13
tersusun teratur dua baris berse;ing, berwarna hijau bunganya kuning kehijauan
dengan bibir bunga ungu gelap berbintik-bintik putih kekuningan dan kepala sarinya
berwarna ungu. Akarnya yang bercabang-cabang, berwarna kuning atau jingga dan
berserat (Handari, 2014).

9. Jenis Jahe
Berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpang, jahe dibedakan menjadi tiga jenis
yaitu :
1. Jahe putih/kuning besar
Jahe putih/kuning besar disebut juga jahe gajah atau jahe badak. Ditandai ukuran
rimpangnya besar dan gemuk, warna kuning muda atau kuning, berserat halus dan
sedikit. Beraroma tapi berasa kurang tajam. Dikonsumsi baik saat berumur muda
maupun tua, baik sebagai jahe segar maupun olahan. Pada umumnya
dimanafaatkan sebagai bahan baku makanan dan minuman (Purwanto, 2016).
2. Jahe kuning kecil
Jahe kuning disebut juga jahe suntil atau jahe emprit. Jahe ini ditandai ukuran
rimpangnya termasuk kategori sedang, dengan bentuk agak pipih, berwarna putih,
berserat lembut, dan beraroma serta berasa tajam. Jahe ini selalu dipanen setelah
umur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari jahe gajah, sehingga
rasanya lebih pedas. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau diekstrak
oleoresin dan minyak atsirinya (Purwanto, 2016).
3. Jahe merah
Jahe merah ditandai dengan ukuran rimpang yang kecil, berwarna merah jingga,
berserat kasar, beraroma serta berasa tajam (pedas). Dipanen setelah tua dan
memiliki minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil sehingga jahe merah pada
umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan (Purwanto, 2016).

10. Kandungan Kimia Rimpang Jahe


Kandungan Kimia Rimpang Jahe mengandung 2 komponen, yaitu :
1. Volatile oil (minyak menguap)
Biasa disebut minyak atsiri merupakan komponen pemberi aroma yang khas pada
jahe, umumnya larut dalam pelaruk organik dan tidak larut dalam air. Minyak atsiri
merupakan salah satu dari dua komponen utama minyak jahe. Jahe kering
mengandung minyak atsiri 1-3% sedangkan jahe segar tidak dikuliti kandungan

14
minyak atsiri lebihbanyak dari jahe kering. Bagian tepi dari umbi atau di bawah
kulit pada jaringan epidermis jahe mengandung lebih banyak minyak atsiri dari
bagian tengah demikian pula dengan baunya semakin menyengat (Yohana &
Yovita, 2014).
2. Non-volatile oil (minyak tidak menguap)
Biasa disebut oleoresin salah satu senyawa kandungan jahe yang sering diambil,
dan komponen pemberi rasa pedas dan pahit. Sifat pedas tergantung dari umur
panen, semakin tua umurnya semakin terasa pedas dan pahit. Oleoresin merupakan
minyak berwarna coklat tua dan mengandung minyak atsiri 15-35% yang
diekstraksi dari bubuk jahe. Kandungan oleoresin dapat menentukan jenis jahe.
Jahe rasa pedasnya tinggi, seperti jahe emprit, mengandung oleoresin yang tinggi
dan jenis badak rasa Universitas Sumatera Utara pedas kurang karena kandungan
oleoresin sedikit. Jenis pelarut yang digunakan, pengulitan serta proses
pengeringan dengan sinar matahari atau dengan mesin mempengaruhi terhadap
banyaknya oleoresin yang dihasilkan (Yohana & Yovita, 2014).

11. Farmakokinetik Jahe.


Menurut Zick SM, et al (2018) pada manusia efek penggunaan jahe mulai muncul 30
menit setelah pemberian melalui oral, dan mencapai T-max antara 45-120 menit,
dengan t ½ eliminasi 75 – 120 menit pada dosis dua gram. Pada uji ini tidak ada efek
samping dialporkan setelah menggunakan 2 g ekstrak jahe.

12. Pengaruh Jahe Terhadap Gastritis


Jahe telah terbukti memiliki efek sebagai anti ulserogenik karena mengandung
Gingerol, Zingerone, Flavonoid, Aseton, Metanol dan minyak atsiri. Gingerol dan
zingerone dapat menghambat H +K+ATP-ase yang dapat menghambat sekresi dari
asam lambung. Flavonoid memiliki efek sitoprotektif yang bekerja dengan
menstimulus COX1 sehingga meningkatkan prostaglandin. Aseton dan Metanol dapat
melindungi lambung dengan cara menurunkan asam lambung dan mencegah iritasi
pada mukosa lambung sehingga menurunkan nyeri pada lambung. Jahe mengandung
Gingerol, zingerone, Flavonoid, Aseton, Metanol dan minyak Atsiri yang mempunyai
manfaat untuk melindungi lambung dan sebagai anti ulserogenik (Yohana & Yovita,
2014)

15
Jahe memiliki efek sebagai antiinflamasi, antipiretik, gastroprotektif, kardiotonik,
hepatotoksik,antioksidan, anti kanker, anti angiogenesis dan anti arterosklerotik.
Gingerol dan zingerone dapat melindungi mukosa lambung denga cara menghambat
H + K + -ATPase sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung. Flavonoid yang
terkandung dalam jahe dapat meningkatkan prostaglandin yang merupakan faktor
defensif dari lambung. Aseton dan methanol dapat melindungi lambung dengan cara
menurunkan asam lambung dan mencegah iritasi pada mukosa lambung (Purwanto,
2016).

13. Pengolahan Rebusan Air Jahe


1. Bersihkan jahe segar
2. Parut 2 sendok teh jahe segar atau sekitar 2 gram
3. Rebus 4 gelas air
4. Tambahkan jahe ke dalam air
5. Biarkan jahe meresap selama sekitar 5-10 menit
6. Saring airnya untuk memisahkan parutan jahe
7. Air jahe dapat diminum baik panas maupun dingin.

B. Penelitian Terkait
1. Penelitian yang dilakukan Monica Phungus yang berjudul efek pemberian jahe
terhadap gambaran histopatologik lambung yang diinduksi dengan asam asetat.
Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik. Pada penelitian ini digunakan jahe
merah (Zingiber officinale var. Rubrum) yang berasal dari daerah Tomohon.
Sampel penelitian ialah 25 ekor tikus wistar (Rattus norvegieus) jantan, dibagi atas
5 kelompok: satu kelompok sebagai kontrol positif. Hasil penelitian mendapatkan
kelompok yang diberikan jahe memperlihatkan permukaan mukosa lambung intak,
adanya sel-sel radang (eosinofil dan PMN), serta pelebaran pembuluh darah
sedangkan pada kelompok kontrol positif yang hanya diberikan asam asetat tampak
permukaan mukosa lambung erosif. Pada semua sampel ditemukan adanya cacing.
Simpulan penelitian ini ialah pada tikus Wistar, pemberian jahe setelah lambung
diinduksi dengan asam asetat masih menunjukan adanya gambaran histopatologik
gastritis namun tidak terdapat gastritis erosif akut.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Yessi (2017) dengan judul penelitian Potensi
Pemanfaatan Ampas Jahe Merah (Zingiber Officinale Roscoe) sebagai Obat

16
Analgetik. Didapatkan hasil penelitian pengujian ekstrak air jahe merah segar dan
kering diketahui memiliki efektivitas selama 25 menit, sedangkan pada menit ke-
30 efektivitasnya menurun. Ekstrak etanol ampas jahe merah segar dan kering
masih memiliki efektivitas sebagai analgetil sampai menit ke-30. Berdasarkan
analisis profil KLT masing-masing ekstrak dengan fase diam silika gel GF254nm
dan fase gerak toluen:etilasetat:asamformat (90:8:2), dengan penampak bercak
FeCI3 membentuk dua spot berwarna abu-abu dan menggunakan penampak bercak
vanilin sulfat berbentuk bercak violet dan biru dari ekstrak etanol ampas jahe
merah segar dan kering, menunjukkan bahwa senyawa golongan terpen dan fenolik
terkandung dalam ekstrak.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Kindarti(2015) dengan judul penelitian Efektifitas
Pemberian Serbuk Jahe (Zingiber Officinale) Terhadap Tingkatan Mual Muntah
pada Ibu Hamil. Hasil penelitian didapatkan penurunan mual muntah pada ibu
hamil usia kehamilan 0-16 minggu sebelum dan sesudah diberi serbuk jahe
(Zingiber Officinale) sebagian besar mengalami mual muntah pada ibu hamil usia
kehamilan 0-16 minggu sebelum dan sesudah yang tidak diberi serbuk
jahe )Zingiber Officinale) sebagian besar mengalami mual muntah sedang
sebanyak 75% yakni 9 orang. Ada perbedaan pengaruh pemberian jahe terhadap
penurunan derajat mual muntah pada ibu hamil usia kehamilan 0-16 minggu yang
diberi serbuk jahe dan tidak diberi serbuk jahe.

17
C. Kerangka Teori

Gambar 2.2
Kerangka Teori

Penyebab Gastritis
Penyebab Gastritis Gastritis

1. 1.Pola
Pola Makan
makan
2. 2.Rokok
Rokok Tanda dan Gejala
3. 3.Alkohol
Alkohol
4. Penggunaan NSAID 1. Mual dan muntah
4. Penggunaan
2. Nyeri epigastrum
NSAID
3. Keringat dingin
4. Nafsu makan menurun
5. Sering Bersendawa
6. Rasa seperti terbakar
7. Begah

Pengobatan Gastritis

1. Antasida
2. H2 Beta blocker
3. Pengobatan herbal
- Jahe
- Pepaya
- Aloevera
4. Pengobatan tambahan

Penurunan Skala Nyeri


Gastritis

Sumber : Modifikasi Wijaya & Putrie, 2013

18
D. Kerangka Konsep

Kerangka Konsep adalah suatu bentuk kerangka berpikir yang dapat digunakan
sebagai pendekatan dalam memecahkan masalah (Susila&Suyanto, 2013). Berikut
kerangka konsep dalam penelitian ini :

Gambar 2.3

Kerangka Konsep

Skala nyeri gastritis Rebusan air jahe Skala nyeri gastritis

E. Hipotesa

Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau dalil sementara
yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut (Natoadmodjo,2012).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ha : Terdapat pengaruh rebusan jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien
gastritis pada pasien di UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro tahun
2022.

19
BAB III

METODE PENELITIAN

Metodologi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yaitu penelitian menggunakan metode ilmiah yang
memiliki kriteria berdasarkan fakta, menggunakan prinsip analisa, menggunakan hipotesa,
(Notoatmojo, 2012). Penelitian ini menggunakan desain pra eksperimen dengan rancangan
pre-test post-tes with control yang dilaksanakan pada dua kelompok yaitu kelompok kasus
dan kelompok kontrol. Dalam penelitian ini peneliti memberlakukan peneliti pada dua
kelompok, dalam penelitian ini akan menguji pengaruh rebusan jahe terhadap nyeri gastritis
pada kelompok kasus yaitu dengan memberikan terapi rebusan air jahe dan tetap menjalankan
pengobatan medis sementara pada kelompok peneliti tidak akan memberikan rebusan jahe
tetapi hanya diberikan terapi medis saja. Berikut adalah rancangan desain penelitian yang
dilakukan oleh peneliti:

Gambar 3.1

Rancangan Penelitian

X1 Z1 X2

Populasi W

Y1 Z2 Y2

Keterangan :

X1 : Kelompok yang akan diberikan rebusan jahe

Y1 : Kelompok yang hanya mengikuti terapi medis

Z : Intervensi rebusan jahe

Z2 : Intervensi medis yang dijalankan

W : Perbandingan penurunan skala nyeri pada kedua kelompok

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu

20
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 1-30 Juli 2022

Tempat

Penelitian ini telah dilaksanakan di UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro

C. Populasi dan Sampel

Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmojo, 2012).
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang mengalami gastritis yang dilakukan rawat
inap selama 1 bulan yaitu sebanyak 30 pasien.

Sampel

Sampel penelitian adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan subyek yang diteliti dan
dianggap sudah mewakili seluruh populasi (Notoatmojo, 2012). Penelitian ini
menggunakan metode pengambilan sampel dengan teknik Purposive sampling. Jumlah
sampel berjumlah 30 pasien yang dibagi menjadi 15 kelompok kasus dan 15 untuk
kelompok kontrol dengan kriteria sampel atau pertimbangannya sebagai berikut :

Inklusi :

1. Mengalami nyeri epigastrium


2. Bersedia menjadi responden
3. Berada pada tempat penelitian saat penelitian berlangsung

Ekslusi :

1. Pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjut


2. Pasien mengalami komplikasi seperti perforasi gaster atau penyakit penyerta lainnya

Variabel Penelitian

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau
didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep (Notoatmojo, 2012). Variabel
yang akan diukur dalam penelitian ini adalah skala nyeri dan pemberian rebusan air jahe.

21
E. Definisi Operasional

Tabel 3.1

Definisi Operasional

Variabel Definisi Cara Alat ukur Hasil ukur Skala


operasional ukur
Variabel Independen
Rebusan air Minuman Mengisi Lembar - -
jahe tradisional yang ceklis Observasi
berasal dari
ekstrak jahe
yang bertujuan
untuk
menghilangkan
nyeri gastritis
Variabel Dependent
Skala nyeri Skala nyeri yang Observasi Lembar 1. Skala Rasio
dialami pasien Observasi nyeri yang
gastriti dirasakan
menggunakan 0-10 pada
pengukuran kelompok
Numeric rating kasus
scales (Potter 2. Skala
2010) nyeri yang
dirasakan
0-10 pada
kelompok
kontrol

F. Etika Penelitian

Kode etik penelitian adalah suatu pedoman etika yang berlaku untuk setiap kegiatan
openelitian yang melibatkan antar pihak peneliti, pihak yang diteliti (subjek
penelitian) dan masyarakat yang akan memperoleh dampak hasil penelitian tersebut
(Notoatmodjo, 2012). Dalam etika penelitian yang digunakan sebagai berikut :

1. Self determination
Semua responden dalam penelitian ini diberikan hak otonomi untuk menentukan
keputusan berpartisipasi atau tidak berpartisipasi dalam penelitian tanpa adanya
paksaan dari pihak manapun. Sebelum intervensi dilakukan peneliti memberikan
penjelasan kepada responden tujuan penelitian, prosedur serta intervensi yang akan
dilakukan. Responden diberikan kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang

22
kurang jelas. Selanjutnya responden diberikan kebebasan untuk menentukan akan
berpatisipasi atau tidak pada panelitian ini secara sukarela tanpa paksaan.
2. Informed Consent (lembar persetujuan)
Lembar ini diberikan kepada responden yang menjadi subjek penelitian dengan
memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penelitian serta
menjelaskan akibat-akibat yang akan terjadi bila bersedia menjadi subjek
penelitian. Apabila responden tidak bersedia, maka peneliti wajib menghormati
hak-hak responden.
3. Non Maleficience
Prinsip berbuat baik,memberikan manfaat yang maksimal dan resiko yang
minimal, dalam penelitian ini peneliti tidak memberikan efek samping dari terapi
yang diberikan dan tidak menimbulkan komplikasi.
4. Justice
Prinsip ini menekankan setiap orang layak mendapatkan sesuatu sesuai dengan
haknya menyangkut keadilan destributuf dan pembagian yang seimbang
(equitable). Dalam penelitian ini peneliti tidak akan berlaku adil dan tidak akan
membeda-bedakan antar ras, suku, golongan, agama, jenis kelamin dan umur.
Semua responden akan diberlakukan sama
5. Protection from discomfort
Peneliti akan mempertahankan aspek kenyamanan responden baik fisik, psikologis
maupun social selama proses penelitian.

G. Pengumpulan data
 Instrumen penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan lembar observasi untuk mengumpulkan
data skala nyeri sebelum dan skala nyeri sesudah. Peneliti akan menggunakan
lembar observasi dengan panduan Numerik rating scales untuk mengukur skala
nyeri.

 Teknik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini kedua variabel menggunakan data primer dan dalam penelitian
ini peneliti akan mengumpulkan data skala nyeri pada pasien yang didapatkan
berdasarkan wawancara pada pasien dengan menggunakan lembar observasi serta

23
dengan memberikan olahan jahe berikut teknik pengumpulan data yang akan
dilakukan :
1. Menetapkan responden penelitian dan membagi untuk kelompok kontrol serta
memeriksa kriteria responden.
2. Melakukan Inforrmedconcent dan menjelaskan proses penelitian yang akan
dilakukan.
3. Mengukur skala nyeri yang dirasakan responden pada hari pertama.
4. Memberikan terapi rebusan air jahe selama dan tidak menghentikan terapi media
yang diberikan pada kelompok kasus.
5. Tidak memberikan terapi pada kelompok kasus tetapi memperhatikan kepatuhan
responden kelompok control dalam terapi media yang diberikan.
6. Peneliti mengukur skala nyeri untuk membandingkan skala nyeri pada kedua
kelompok.
7. Peneliti akan membandingkan hasil skala nyeri sebelum dan sesudah pelaksaan
terapi pada kedua kelompok.

H. Pengolahan data

Pengolahan data
1. Editing, hasil observasi saat penelitian harus dilakukan penyuntingan (editing)
terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan
perbaikan isi pada hasil penelitian pakah sudah sesuai dengan penelitian yang
dilakukan. Dalam kegiatan ini peneliti melakukan kegiatan pemeriksaan kembali data-
data yang telah didapat pada lembar observasi penelitian dan melakukan pengecekan
terhadap hasil dari lembar observasi yang didapat.
2. Data Entry, proses memasukkan data ke dalam komputer. Pada tahapan ini peneliti
memasukkan skala nyeri yang didapat pada lembar observasi skala nyeri kedalam
proses computer.
3. Conding, dalam proses ini peneliti memberikan tanda skala nyeri pada kelompok
kasus dan kelompok kontrol baik skala nyeri sebelum diberikan intervensi dan
sesudah diberikan intervensi.
4. Cleaning, pengecekan kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan
kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau

24
koreksi. Pada tahap ini peneliti melakukan pengecekan ulang kesesuaian antara
lembar observasi dan data yang telah di masukan kedalam program komputer.

I. Analisa Data
Analisa Data digunakan untuk mengolah data yang diperoleh dengan menggunakan
program software dimana akan dilakukan 2 macam analisa data, yaitu analisa
univariat dan analisa bivariat.
1. Analisa Univariat
Analisa Univariat adalah analisa yang digunakan untuk menggambarkan masing-
masing variabel, dalam penelitian ini bentuk data yang dianalisis adalah jenis data
numerik sehingga menggunakan nilai mean, median dan standar devisiasi (Susila
& Suyanto, 2015). Analisa ini digunakan untuk menggambarkan rata-rata skala
nyeri sebelum diberikan intervensi dan rata-rata skala nyeri setelah diberikan
intervensi.
2.Analisa Bivariat
Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk mengetahui pengaruh antara
variabel bebas dan variabel terikat. Analisa bivariat akan dilakukan dengan terlebih
dahulu melakukan uji normalitas dan juga uji homogenitas, dan jika uji tersebut
dapat dinyatakan data berdistribusi normal dan homogen maka peneliti melanjutkan
analisa menggunakan uji Independen T-Test. Uji statistik. Uji statistik yang
digunakan dalam penelitian ini.

25
J. Lembar Kuesioner

NO Pertanyaan YA TIDAK
(SKOR) (SKOR)
1 Apakah anda sering cemas ketika sedang kambuh?
2 Apakah anda suka makanan pedas dan asam?
3 Apakah anda sering mengalami nyeri uluh hati?
4 Apakah anda sering mengalami mual?
5 Apakah anda sering telat makan?
6 Apakah kadang anda lupa minum obat?
7 Minum obat setiap hari kadang membuat anda tidak
nyaman. Apakah anda merasa terganggu memiliki
masalah dalam mematuhi pengobatan setiap kali
kambuh?

26
BAB IV
HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

GAMBARAN UMUM LOKASI


PENELITIAN

1. Letak Geografis
Puskesmas Rawat Inap Banjarsari terletak di Kota Metro

2. Ketenangan
Ketersedian tenaga kesehatan cukup Rasio tenaga kesehatan terbesar terhadap 100.000
penduduk adalah bidan (93,69/100.000) dan perawat (32,54/100.000)

3. Fasilitas dan Pelayanan


Fasilitas yang tersedia di Puskesmas Rawat Inap Banjarsari terletak di Kota Metro antara lain
ruang instalansi farmasi, ruang konsultasi gizi, ruang laboratorium, ruang KIA/KB (atas),
ruang KIA (bawah), Ruang Asi, ruang persalinan, ruang poli umum 1, ruang poli umum 2,
ruang UGD, ruang gigi,ruang konseling, ruang rawat inap anggrek dan kamboja, ruang tata
usaha, ruang aula dan dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 13 buah

Hasil Penelitian
Tabel 4.1
Distribusi frekuensi responden di Puskesmas Banjarsari Rawat Inap Kota
Metro tahun 2022

Variabel Jumlah Persentase(%)


Usia
24-30 tahun 47 42,3
>30 tahun 64 57,7

Jenis Kelamin
Laki-laki 47 49,0
Perempuan 49 51,0

Pendidikan
Tidak sekolah 7 7,3
SD 78 81,3
SMP 1 1,0
SMA 4 4,2

Total 297 293,8


Berdasarkan tabel 4.1 terlihat sebanyak 64 orang (57,7%) responden berusia .30 tahun,
sebanyak 49 orang (51,0) berjenis kelamin perempuan, dan sebanyak 78 orang (81,3%)
responden di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Kota Metro berpendidikan SD.

27
1. Analisa Univariat
a. Nyeri
Tabel 4.2
Distribusi frekuensi responden di Puskesmas Banjarsari Rawat Inap Kota Metro
tahun 2022

Nyeri Jumlah Persentase(%)


Sedang 2 2,1
Ringan 40 41,7
Normal 54 56,3
Jumlah 96 100

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa sebagian besar responden tidak mengalami nyeri
sebanyak 54 responden (56,3%)

b. Gastritis
Tabel 4.2
Distribusi frekuensi responden di Puskesmas Banjarsari Rawat Inap Kota Metro
Tahun 2022

Gastritis Jumlah Persentase(%)


Gastritis 62 64,6
Tidak gastritis 34 35,4
Jumlah 96 100

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa sebagian besar responden mengalami Gastritis
sebanyak 62 responden (64,6%)

2. Analisa Bivariat
Hubungan nyeri dengan kejadian gastritis
Tabel 4.3
Hubungan nyeri dengan kejadian di Puskesmas Banjarsari Rawat Inap Kota Metro
tahun 2022

Nyeri Kejadian Gastritis


Gastritis Tidak Gastritis Total p-value
N % N % N %
Sedang 1 50,0 1 50,0 2 100
Ringan 33 82,5 7 17,5 40 100 0,008
Normal 28 51,9 26 48,1 54 100
Total 62 64,6 34 35,4 96 100

Hasil analisa data menunjukkan bahwa responden dengan nyeri sedang yang mengalami
Gastritis sebanyak respinden (50%), responden nyeri ringan yang mengalami Gastritis

28
sebanyak 33 responden (82,5%) dan responden yang tidak mengalami nyeri yang tidak
mengalami Gastritis sebanyak 26 responden (48,1%). Hasil uji stastik dengan menggunakan
uji chi square diketahui bahwa p-value yaitu 0,008<0,05 (p-value<0,05), sehingga Ha diterina
yang menunjukkan bahwa terdapat Hubungan nyeri antara kejadian Gastritis di UPTD
Puskesmas Banjarsari Kota Metro tahun 2022.

PEMBAHASAN

Setelah dilakukan analisa karakteristik data pada pasien Gastritis di UPTD Puskesmas
Banjarsari Kota Metro, sebagai berikut:

1. Univariat
a. Gastritis
Berdasarkan tabel 4.3 terlihat bahwa sebanyak 62 orang (64,6%) responden di Wilayah
UPTD Puskemas Banjarsari terkena penyakit Gastritis. Hasil tersebut menunjukkan
bahwaresponden masih mengalami kesulitan untuk mengontrol penyakit gastritis. Menurut
pendapat peneliti hal ini disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Berdasarkan wawancara
responden didapatkan mereka mengatakan kesulitan untuk mengontrol makanan yang
pedas,asem dan yg lain-lain yang bisa menyebabkan kambuhnya gastritis di Wilayah UPTD
Puskesmas Banjarsari Kota Metro.

Setelah dilakukan analisa karakteristik data pada pasien Gastritis di UPTD Puskesmas
Banjarsari Kota Metro, sebagai berikut:

2. Bivariat
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui Pengaruh nyeri dengan kejadian gastritis.
Hasil uji stastik menggunakan uji chi square diketahui bahwa terdapat pengaruh nyeri
terhadap gastritis di wilayah UPTD Puskesmas Banjarsari Kota MetroTahun 2022 dengan p-
value 0,008.

Penyakit gastritis atau magh ialah penyakit yang sangat kita kenal dalam kehidupan sehari-
hari. Biasanya penyakit ini ditandai dengan nyeri ulu hati, mual, muntah, cepat kenyang,
nyeri perut serta lain sebagainya (Wiyono,2009)

29
BAB V

KESIMPULAN & SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti membuat kesimpulan
dari hasil penelitian sebagai berikut :
1. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 sebelum diberikan rebusan jahe yaitu rata-rata skala
nyeri 5.33 dengan skala nyeri terendah adalah 3 dan skala nyeri tertinggi adalah 7.
2. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 setelah diberikan rebusan jahe yaitu rata-rata skala
nyeri pada responden setelah diberikan rebusan jahe adalah 3.33 dengan skala nyeri
terendah adalah 2 dan skala nyeri tertinggi adalah 6.
3. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 sebelum diberikan terapi medis, yaitu 5.00 dengan
skala nyeri terendah adalah 3 dan skala nyeri tetinggi adalah 6.
4. Diketahui skala nyeri pada pasien gastritis di UPTD Puskemas BANJARSARI
Rawat Inap Metro tahun 2022 setelah diberikan teraoi medis yaitu rata-rata skala
nyeri 4.00 dengan skala nyeri terendah adalah 3 dan skala nyeri tertinggi adalah 5.
5. Diketahui pengaruh rebusan jahe dalam menurunkan skala nyeri pada pasien
gastritis di UPTD Puskesmas BANJARSARI Rawat Inap Metro tahun 2022 dengan p
value 0.029.
A. Saran
1. Saran untuk tempat penelitian
Berdasarkan hal tersebut peneliti menyarankan kepada petugas puskesmas agar
dapat memberikan terapi tradisional yang mampu menurunkan nyeri tetapi tetap
menggunakan terapi medis sehingga nyeri yang dirasakan oleh responden lebih
cepat turun.
2. Saran untuk responden
Disarankan kepada responden penelitian agar dapat menggunakan terapi tradisional
terlebih dahulu sebelum menggunakan terapi medis terutama apabila nyeri yang
dirasakan tidak terlalu berat.

30
3. Saran untuk peneliti selanjutnya
Disarankan agar peneliti selanjutnya melakukan penelitian dengan terapi yang
berbeda dan membandingkan kedua terapi sehingga didapatkan terapi yang lebih
efektif.

DAFTAR PUSTAKA
31
Hidayat. 2011. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.

Handari Tanti, 2014. Terapi Top Herbal untuk Ragam Penyakit.Yogyakarta : Dafa
Publishing.

Notoadmojo, Soekidjo.2012. Metodeologi penelitian. Jakarta : PT, RinekaCipta

Mansjoer arif.2014. Kapita slekta kedokteran jilid 1. Jakarta :Media Aesculapius


fakultas kedokteran universitas Indonesia

Purwantoro.2016. Obat Herbal Andalan Keluarga. Terampil Meramu Sendiri Obat


Alami Dirumah. Jakarta : Buku Kita

Potter & Perry.2010.Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,. Proses, Dan

Susila & Suyanto.2015. Metodologi penelitian dengan pendekatan cross sectional.


Jakarta : Rhineka cipta

Oktivani. 2011. Hubungan Pola Makan Dengan Gastritis Pada Mahasiswa S1


Keperawatan Program FIKKES UPN “Veteran” Jakarta

Yohana & Yovita.2010. Therapi herbal berbagai macam penyakit cetakan


ke7,Jakarta : Eksa.Media

Wijaya Andra Saferi Dan Putrie Yessie Mariza. 2013. Keperawatan Medikal
Bedahedisi 1. Nuha Medika : Bengkulu

32

Anda mungkin juga menyukai