0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan Diare Anak

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada anak dengan diare. Diare disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau parasit, gangguan pencernaan, alergi, atau keracunan yang menyebabkan peningkatan sekresi cairan atau penurunan absorpsi di usus. Gejalanya antara lain tinja cair berlebihan, muntah, demam, dan dehidrasi. Penanganannya meliputi penggantian cairan dan elektrolit serta pengobatan penye

Diunggah oleh

Selfiana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan Diare Anak

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada anak dengan diare. Diare disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau parasit, gangguan pencernaan, alergi, atau keracunan yang menyebabkan peningkatan sekresi cairan atau penurunan absorpsi di usus. Gejalanya antara lain tinja cair berlebihan, muntah, demam, dan dehidrasi. Penanganannya meliputi penggantian cairan dan elektrolit serta pengobatan penye

Diunggah oleh

Selfiana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN DIARE

Disusun Guna Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Anak

Perseptor Klinik :Lia Rizqi Khoiruliza, S.Kep.,Ns

Pembimbing Akademik: Isrofah,S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :

SELFIANA (1423003101)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEKALONGAN

2023
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
DIARE DI RUANG FLAMBOYAN RSI PEKAJANGAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Anak

Telah dilakukan laporan pendahuluan

Tanggal 13 November 2023

Oleh

Selfiana

1423003101

Diperiksa dan disetujui oleh :

Pembimbing Akademik Prseptor Klinik

Isrofah S.Kep.,Ns.,M.Kep Lia Rizqi Khoiruliza, S.Kep.,Ns


A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Penyakit diare merupakan masalah global dan banyak terjangkit di negara-
negara berkembang dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, tidak cukup
pasokan air bersih, kemiskinan, dan pendidikan yang rendah. Insiden diare
bervariasi di setiap daerah di setiap wilayah, musim, dan masa masa endemik.
Diare juga masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia.
Penanganan diare yang dilakukan secara baik selama ini membuat angka kematian
akibat diare dalam 20 tahun terakhir menurun tajam. Walaupun angka kematian
sudah menurun tetapi angka kesakitan masih cukup tinggi. Lama diare serta
frekuensi diare pada penderita akut belum dapat diturunkan.
Diare pada anak balita sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat di negara berkembang termasuk Indonesia, karena masih sering
muncul dalam bentuk Kejadian Luar Biasa (KLB) dan disertai dengan kematian
yang tinggi. Setiap tahun lebih dari 1,7 milyar kasus diare di dunia yang
dilaporkan pada semua kelompok umur. Angka kematian karena diare di dunia
mencapai 11% dengan kelompok paling berisiko adalah balita. Data World Health
Organization (WHO) menunjukan bahwa lebih dari 760 ribu anak balita
meninggal dunia setiap tahunnya karena diare.
Diare merupakan penyebab utama kematian pada anak di negara berkembang,
dengan kisaran 1,3 miliar episode dan 3,2 juta kematian setiap tahun pada balita.
Secara keseluruhan rata-rata anak-anak mengalami diare 3,3 episode per tahun,
namun di beberapa tempat melebihi 9 episode per tahun. Di daerah dengan
episode diare yang tinggi, seorang balita menghabiskan 15% waktunya dengan
diare. Sekitar 80% kematian berhubungan dengan diare dan terjadi pada dua tahun
pertama kehidupan. 72% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada
dua tahun pertama kehidupan anak, sehingga peningkatan pencegahan dan
pengobatan pada neonatus dan anak berusia < 2 tahun sangatlah penting.
Data nasional menyebutkan setiap tahunnya di Indonesia 100.000 balita
meninggal dunia karena diare, itu artinya setiap hari ada 273 balita yang
meninggal dunia dengan sia-sia, sama dengan 11 jiwa meninggal setiap jamnya
atau 1 jiwa meninggal setiap 5,5 menit akibat diare. Berdasarkan survei
morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare Departemen Kesehatan RI Tahun
2000 sampai 2010, angka kesakitan diare cenderung meningkat baik angka
kesakitan pada semua kelmpok umur maupun angka kesakitan pada balita. Pada
semua kelompok umur terlihat terjadi peningkatan angka kesakitan diare dari
tahun 2000 sampai tahun 2010. Demikian halnya pada kelompok balita terlihat
peningkatan angka kesakitan diare dari tahun 2003 sampai tahun 2010. Hal ini
membuktikan bahwa masalah penyakit diare pada balita masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan dari laporan pendahuluan ini untuk mengetahui asuhan keperawatan
pada anak dengan diare
a. Tujuan Khusus
1) Mampu mengetahui definisi dari diare
2) Mampu mengetahui etiologi dari diare
3) Mampu mengetahui patofisiologi dari diare
4) Mengetahui Pathway diare
5) Mampu mengetahui tanda dan gejala dari diare
6) Mampu mengetahui pengkajian dari diare
7) Mampu mengetahui diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dari
diare
8) Mampu mengetahui rencana asuhan keperawatan dari diare
B. TINJAUAN TEORI
1. Pengertian
Diare adalah suatu kondisi di mana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih
sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari. Secara klinis penyebab diare
dapat dikelompokan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi disebabkan oleh
bakteri, virus atau invasi parasit, malabsorbsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi
dan sebab sebab lainnya (Ari, 2021).
2. Etiologi

Diare terjadi karena adanya Infeksi (bakteri, protozoa, virus, dan parasit)
alergi, malabsorpsi, keracunan, obat dan defisiensi imun adalah kategori besar
penyebab diare. Pada balita, penyebab diare terbanyak adalah infeksi virus
terutama Rotavirus. Sebagian besar dari diare akut disebabkan oleh infeksi.
Banyak dampak yang dapat terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain:
pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi
cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit
dan gangguan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi pada sel epitel,
penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili yang dapat menimbulkan
keadaan malabsorpsi. Dan bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada
akhirnya dapat mengalami invasi sistemik. Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebakan oleh bakteri, virus
atau infestasi parasit), malabsorbsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan sebab-
sebab lainya Penyebab diare sebagian besar adalah bakteri dan parasit, disamping
sebab lain seperti racun, alergi dan dispepsi (Ari, 2021).

3. Patofisiologi
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik
(makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam
rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam
rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare). Selain
itumenimbulkan gangguan sekresi akibat toksin didinding usus, sehingga sekresi
air dan elektrolit meningkat kemudian menjadi diare. Gangguan motilitas usus
yang mengakibatkan hiperperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah
kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan
keseimbangan asam basa (asidosis metabolik dan hypokalemia), gangguan gizi
(intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.
Mekanisme terjadinya diare dan termaksud juga peningkatan sekresi atau
penurunan absorbsi cairan dan elektrolit dari sel mukosa intestinal dan eksudat
yang berasal dari inflamasi mukosa intestinal. Infeksi diare akut diklasifikasikan
secara klinis dan patofisiologis menjadi diare non inflamasi dan diare inflamasi.
Diare inflamasi disebabkan invasi bakteri dan sitoksin di kolon dengan
manifestasi sindrom disentri dengan diare disertai lendir dan darah. Gejala klinis
berupa mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, tetenus, serta gejala dan
tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin makroskopis ditemukan lendir dan
atau darah, mikoroskopis didapati sek lukosit polimakronuklear. Diare juga dapat
terjadi akibat lebih dari satu mekanisme, yaitu peningkatan sekresi usus dan
penurunan absorbsi di usus. Infeksi bakteri menyebabkan inflamasi dan
mengeluarkan toksin yang menyebakan terjadinya diare. Pada dasarnya,
mekanisme diare akibat kuman enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada
sel epitel dengan atau tanpa kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi
enterotoksin atau sitoksin. Satu jenis bakteri dapat menggunakan satu atau lebih
mekanisme tersebut untuk mengatasi pertahanan mukosa usus.
4. Pathway

5. Tanda dan Gejala


Diare karena infeksi dapat disertai muntah- muntah, demam, tenesmus,
hematochezia, nyeri perut atau kejang perut. Diare yang berlangsung beberapa
waktu tanpa pengulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian
karena kekurangan cairan pada tubuh yang mengakibatkan ranjatan hipovolemik
atau karena gangguan kimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut. Kehilangan
cairan dapat menyebakan haus, berat badan menurun, mata menjadi cekung, lidah
kering, tulang pipi menonjol, turtor kulit menurun serta suara menjadi serak (Ari,
2021).
Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi gelisah
dan cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak
ada, kemudian timbul diare. Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan
lendir ataupun darah. Warna tinja bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijau-
hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet
karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat
banyaknya asam laktat yang berasal darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh
usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan
dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam-basa dan elektrolit (Kliegman, 2006). Bila penderita telah
kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak.
Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi
cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering (Ari, 2021).
6. Pengkajian
1) Identitas pasien
2) Identitas penanggung jawab pasien
3) Keuhan utama
4) Riwayat kesehatan keluarga
5) Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien?
6) Riwayat kesehatan pasien dan pengobatan sebelumnya
7) Pemeriksaan Fisik
8) Aktivitas atau Istirahat
Gejalanya: lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan. Kram otot, tonus otot
menurun. Gangguan tidur atau istirahat
Tanda: Tachicardia dan tachipnea pada keadaan istirahat atau dengan
aktivitas, Letargi atau disorientasi. Koma Penurunan kekuatan otot.
9) Sirkulasi.
Gejala: Adanya riwayat HT, Klaudasi IM akut kebas, dan kesemutan pada
ekstremitas. Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama.
Tanda: Tachicardia, perubahan TD postural: HT Nadi yang menurun
Disritmia Krekes, DVJ (GJK) Kulit panas, kering dan kemerah merahan,
bola mata cekung.
10) Eliminasi
Gejala: perubahan pola berkemih(poliuria), nokturia rasa nyeri atau terbakar,
kesulitan berkemih(infeksi), ISK baru/berulang Nyeri tekan abdomen, Diare.
Tanda: urine encer, pucat, kuning; poliuria (dapat berkembang menjadi
oliguria/ anuria jika terjadi hipovolemia berat) Urine berkabut, bau busuk
(infeksi) Abdomen keras, adanya asites, Bising usus lemah dan menurun,
hiperaktif (diare).
11) Makanan / Cairan
Gejala: hilang nafsu makan, Mual/muntah, Tidak mengikuti diet;
peningkatan masukan glukosa /karbohidrat, Penurunan berat badan lebih dari
periode beberapa hari/minggu. Haus, Penggunaan diuretik (tiazid)
12) Neurosensori
Gejala : pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot,
parestesia, Gangguan penglihatan.
Tanda disorientasi; mengantung, letargi, stupor/koma (tahap lanjut).
Gangguan memori (baru masa lalu); kacau mental.Reflex tendon dalam
(RTD) menurun kejang (tahap lanjut dari DKA).
13) Nyeri / Kenyamanan
Gejala: abdomen (sedang/berat) yang tegang/nyeri
Tanda: wajah mengiris dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati
14) Pernapasan
Gejala: merasa kekurangan oksigen, batuk, dengan tanpa sputum purulen
(tergantung adanya infeksi/tidak).
Tanda: Batuk, dengan/ tanpa sputum pernafasan purulen (infeksi).
7. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis Keperawatan Indonesia (PPNI, 2017) diagnosa keperawatan yang
muncul sebagai berikut :
1) Defisit Nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makan
2) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kekurangan volume cairan
3) Hipovolemia berhubungan dengan kekurangan intake cairan
4) Diare berhubungan dengan proses infeksi
8. Intervensi keperawatan
DX Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi :
1
selama 3x24 jam, status nutrisi terpenuhi  Identifikasi status nutrisi
dengan menunjukkan kriteria hasil:  Monitor berat badan
1. Porsi makan menngkat
Terapeutik
2. Frekuensi makan meningkat
 Lakukan oral hygine sebelum
3. Nafsu makan meningkat
makan
 Sajikan makanan yang menarik

Edukasi
 Jelaskan jenis makannan yang
bergizi
 Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi yang cukup

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi :


2
selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan  Identifikasi penyebab gangguan
kulit atau jaraingan membaik dengan kulit integritas
menunjukan kriteria Hasil :
Terapeutik
1. Elastisitas membaik
 Gunakan produk berbahan
2. Hidrasi membaik
ringan/alami pada kulit sensitif
3. Perfusi jaringan membaik
Edukasi
 Anjurkan minum air yang
cukup
 Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi yang cukup
 Anjurkan mandi dan
menggunakan sabun
secukupnya

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi :


3
selama 3x24 jam, hipovelemia dapat  Periksa tanda dan gejala
teratasi dengan kriteria hasil: hipovolemia
1. Kekuatan nadi meningkat  Monitor intake dan cairan
2. Turgor kulit meningkat
Nursing :
3. Outpun urine meningkat
 Hitung kebutuhan cairan

Edukasi :
 Anjurkan memperbanyak cairan

Colaboration :
 Kolaborasi pembeian cairan IV
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi :
4
selama 3x24 jam,Diare dapat teratasi  Identifikasi penyebab diare
dengan kriteria hasil: (Inflamasi gastroentestinal,
1. Eliminasi BAB menurun. iritasi gastroentestinal, proses
2. Konsistensi feses membaik. infeksi, malabsopsi, ansietas,
3. Peristaltik usus membaik. stres, efek obat-obatan,
4. Kontrol pengeluaran feses. pemberian botol susu).
5. Nyeri abdomen menurun.  Identifikasi gejala invaginasi
6. Kram abdomen menurun. (mis. Tangisan keras, kepucatan
pada bayi)
 Monitor jumlah pengeluaran
diare
 Monitor warna, volume,
frekuensi dan konsistensi tinja
 Monitor tanda dan gejala
hipovolemia
 Monitor keamanan pemberian
makanan
Terapeutik :
 Berikan asupan cairan oral
 Pasang jalur intravena
 Berikan cairan intravena (mis.
Ringer asetat, ringer laktat),
jika perlu.
 Ambil sampel darah untuk
pemeriksaan darah lengkap
 Ambil sampel feses untuk
kultur, jika perlu.
Kolaborasi :
 Kolaborasi pemberian obat
antimotalitas
 Kolaborasi pemberian obat
pengeras feses
DAFTAR PUSTAKA

Ari. 2021. Upaya Pencegahan Diare Pada Anak.Gowa: Pustaka Taman Ilmu
Putra, Benedictus Aditya Permana, and Tuti Asrianti Utami. "Pengetahuan ibu berhubungan
dengan perilaku pencegahan diare pada anak usia preschool." Jurnal Surya Muda
2.1 (2020): 27-38
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan:
Dewan Pengurus Pusat.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan:
Dewan Pengurus Pusat.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan:
Dewan Pengurus Pusat.

Anda mungkin juga menyukai