LP Hipertensi
LP Hipertensi
Tugas Mandiri
Disusun Oleh:
YUNINGSIH
231FK09073
2023
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI
A. Definisi
Hipertensi atau yang biasa disebut tekanan darah tinggi merupakan peningkatan
tekanan darah sistolik di atas batas normal yaitu lebih dari 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik lebih dari 90 mmHg (WHO, 2013; Ferri, 2017).
Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu jenis penyakit yang
mematikan di dunia dan faktor risiko paling utama terjadinya hipertensi yaitu faktor
usia sehingga tidak heran penyakit hipertensi sering dijumpai pada usia senja/ usia
lanjut (Fauzi, 2014),
Sedangkan menurut Setiati (2015), hipertensi merupakan tanda klinis
ketidakseimbangan hemodinamik suatu sistem kardiovaskular, di mana penyebab
terjadinya disebabkan oleh beberapa faktor atau multi faktor sehingga tidak bisa
terdiagnosis dengan hanya satu faktor tunggal (Setiati, 2015).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah
peningkatan tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus menerus lebih
dari satu periode. Hal ini terjadi bila arteriole-arteriole konstriksi. Kontriksi arteriole
membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri.
Peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan diastolik ≥90 mmHg.
D. Patofisiologi
Meningkatnya tekanan darah dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara yaitu
jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap
detiknya arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut.
Darah pada setiap denyut jantung di paksa untuk melalui pembuluh yang sempit dari
pada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut,
dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklirosis (Triyanto,
2014).
Dengan cara yang sama tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi
vasokontriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut
karena perangsangan saraf atau hormone di dalam darah. Bertambahnya cairan dalam
sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat
kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari
dalam tubuh, volume darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga
meningkat (Triyanto, 2014).
Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami
pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi, maka tekanan darah akan menurun.
Penyesuaian terhadap faktor – faktor tersebut dilaksankan oleh perubahan di dalam
fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur
berbagai fungsi tubuh secara otomatis). Perubahan fungsi ginjal, ginjal
mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara : jika tekanan darah meningkat,
ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air yang akan menyebabkan
berkurangya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal (Triyanto,
2014).
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang untuk
sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight
(reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar) meningkatnya arteriola di daerah
tertentu (misalnya otot rangka yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak
mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal sehingga akan meningkatkan
volume darah dalam tubuh melepaskan hormone epinefrin (adrenalin) dan
norepinefrin (noradrenalin) yang merangsang jantung dan pembuluh darah. Faktor
stress merupakan satu faktor pencetus terjadinya peningkatan tekanan darah dengan
proses pelepasan hormone epinefrin dan norepinefrin (Triyanto, 2014).
E. Pathway
F. Klasifikasi
Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu :
1. Hipertensi Sistolik
Campuran. Hipertensi Sistolik (isolated systolic hypertension) merupakan
peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan diastolik dan umumnya
ditemukan pada lansia.
2. Hipertensi Diastolik
Diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan diastolik tanpa
diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada anak-anak dan
dewasa muda.
3. Hipertensi Campuran
Campuran merupakan peningkatan kedua tekanan darah yang ada.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada penderita hipertensi menurut (Frista Nodi, 2011)
dilakukan dua cara yaitu :
a. Pemeriksaan yang segera seperti :
a) Darah rutin (hematokrit/hemoglobin) : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko
seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
b) Blood unit nitrogen/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi
ginjal.
c) Glukosa : hiperglikemi (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin (meningkatkan hipertensi).
d) Kalium serum : hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
e) Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan
hipertensi.
f) Kolesterol dan trigliserid serum : peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ).
g) Pemeriksaan tiroid : hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan
hipertensi.
h) Kadar aldosteron urin/serum : untuk mengkaji aldosteronisme primer
(penyebab).
i) Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada
DM.
j) Asam urat : hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
k) Steroid urin : kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.
l) EKG : 12 lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel
kiri ataupun gangguan koroner dengan menunjukan pola regangan, dimana
luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi.
m) Foto dada : apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan
terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,
pembesaran jantung.
b. Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang
pertama) :
a) IVP : dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal/ureter.
b) CT Scan : mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c) IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : batu ginjal, perbaikan
ginjal.
d) Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi : spinal tab, CAT
scan.
e) (USG) untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien
3) Olahraga
Olahraga teratur seperti berjalan, lari,berenang, bersepeda bermanfaat untuk
menurunkan tekanan darah dan memperbaiki keadaan jantung.
4) Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat
Berhenti merokok dan tidak mengonsumsi alcohol, penting untuk mengurangi
efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran
darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung. (Aspiani,
2016)
I. Komplikasi
Menurut Ardiansyah, M. (2012) komplikasi dari hipertensi adalah :
1. Stoke
Stroke akibat dari pecahnya pembuluh yang ada di dalam otak atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh nonotak. Stroke bisa terjadi pada hipertensi
kronis apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan
penebalan pembuluh darah sehingga aliran darah pada area tersebut berkurang.
Arteri yang mengalami aterosklerosis dapat melemah dan meningkatkan
terbentuknya aneurisma.
2. Infark Miokardium
Infark miokardium terjadi saat arteri koroner mengalami arterosklerotik tidak
pada menyuplai cukup oksigen ke miokardium apabila terbentuk thrombus yang
dapat menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut. Karena terjadi
hipertensi kronik dan hipertrofi ventrikel maka kebutuhan okigen miokardioum
tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
3. Gagal Ginjal
Kerusakan pada ginjal disebabkan oleh tingginya tekanan pada kapiler-kapiler
glomerulus. Rusaknya glomerulus membuat darah mengalir ke unti fungsionla
ginjal, neuron terganggu, dan berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Rusaknya
glomerulus menyebabkan protein keluar melalui urine dan terjadilah tekanan
osmotic koloid plasma berkurang sehingga terjadi edema pada penderita
hipertensi kronik.
4. Ensefalopati
Ensefalopati (kerusakan otak) terjadi pada hipertensi maligna (hipertensi yang
mengalami kenaikan darah dengan cepat). Tekanan yang tinggi disebabkan oleh
kelainan yang membuat peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke
dalam
ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat. Akibatnya neuro-neuro
disekitarnya terjadi koma dan kematian
J. Diagnosa Banding
Menurut tim Pokja SDKI PPNI (2017)
1. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan peningkatan tekanan darah
2. Resiko jatuh berhubungan dengan gangguan penglihatan
3. Gangguan pola tidur berhubunga dengan kurang kontrol tidur
2. Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup
dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
Tanda : Kenaikan tekanan darah, denyutan nadi jelas dari karotis, jugularis,
radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit
pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin
lambat/bertunda.
c. Integritas Ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple
(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue perhatian,
tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola
bicara.
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat penyakit
ginjal pada masa yang lalu).
e. Makanan/cairan
Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak
serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan berat badan akhir-akhir ini
(meningkat/turun), riwayat penggunaan diuretic
Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya edema, glikosuria.
f. Neurosensori
Gejala: Keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala, suboksipital (terjadi
saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam), gangguan
penglihatan diplobia, penglihatan kabur, epistakis).
Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek,
proses piker, penurunan kekuatan genggaman tangan.
g. Nyeri/ ketidaknyaman
Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung), sakit kepala.
h. Pernafasan
Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea,
dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori, bunyi nafas tambahan
(krekels/mengi), sianosis.
i. Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural
3. Analisa data
No Data Masalah
1. Intolerasi Aktifitas (D.0056) Intolerasi Aktifitas
a. Definisi : ketidakcukupan energi untuk berhubungan dengan
melakukan aktifitas sehari – hari. kelemahan
b. Penyebab:
1) Ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
2) Tirah baring
3) Kelemahan
4) Imobilisasi
5) Gaya hidup monoton
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
- Mengeluh lelah
2) Objektif
- Frekuensi jantung meningkat
>20% dari kondisi istirahat
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
- Dipsnea saat/setelah aktifitas
- Merasa lemah
2) Objektif
- Tekanan darah berubah >2% dari
kondisi istirahat
- Gambaran EKG menunjukan
aritmia saat/setelah aktifitas
- Gambara EKG menunjukan
iskemia
- Sianosis
e. Kondisi klinis terkait
1) Anemia
2) Gagal jantung kongestif
3) Penyakit jantung koroner
4) Penyakit katup jantung
5) Aritima
6) Penyakit paru obstruktif (PPOK)
7) Gangguan metabolik
8) Gangguan muskuluskeletal
2 Nyeri Akut (D.0077) Nyeri akut berhubungan
a. Definisi : dengan agen pencederaan
Pengalaman sensorik atau emosional fisiologi (mis. Iskemia)
yang berkaitan dengan kurusakan jaringan
actual atau fungsional, dengan onset
mendadak atau lambat dan berintensitas
ringan hingga berat yang berlangtsung
kurang dari 3 bulan.
b. Penyebab :
1) Agen pencedera fisiologis (mis.
Inflamasi, iskemia, neoplasma)
2) Agen pencedera kimiawi (mis.
Terbakar, bahan kimia, iritan)
3) Agen pencedera (mis. Abses,
amputasi, terbakar, terpotong,
mengakat berat, prosedur operasi,
trauma, latihan fisik berlebihan)
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
- Mengeluh nyeri
2) Objektif
- Tampak meringis
- Bersikap protektif (mis. Waspada,
posisi menghindari nyeri )
- Gelisah
- Frekuensi nadi meningkat
- Sulit tidur.
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif :
-
2) Objektif
- Tekanan darah meningkat
- Pola nafas berubah
- Nafsu makan berubah
- Proses berpikir terganggu
- Menarik diri
- Berfokus pada diri sendiri
- Diaforesi
e. Kondisi klinis terkait
1) Kondisi pembedahan
2) Cedera traumatis
3) Infeksi
4) Syndrome coroner akut
5) Glukoma
4. Diagnosa Keperawatan
Menurut tim Pokja SDKI PPNI (2017)
a. Intolerasi Aktifitas berhubungan dengan kelemahan
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencederaan fisiologi (mis. Iskemia)
c. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
5. Rencana tindakan keperawatan
No Diagnosa (SDKI) Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI) Intervensi
Anisa, A. N., Sari, M., & Yani, S. (2022). Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Rasa
Nyaman Nyeri Kepala Dengan Pemberian Terapi Akupresur Pada Lansia Yang
Mengalami Hipertensi Diwilayah Kerja Puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu.
Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia, 1(5), 49-56.
http://journal-mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/242
Ardiansyah, M. 2012. Medikal Bedah. Yogyakarta: DIVA Press.
Aspiani, R. Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskuler
Aplikasi NIC & NOC. Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo
Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.
Fitriyana, M., & Wirawati, M. K. (2022). Penerapan Pola Diet Dash Terhadap Tekanan Darah
Pada Penderita Hipertensi Di Desa Kalikangkung Semarang. Jurnal Manajemen Asuhan
Keperawatan, 6(1), 17-24.
https://jurnal-d3per.uwhs.ac.id/index.php/mak/article/view/126/98
Kowalak JP, Welsh W, Mayer B. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Alihbahasa oleh Andry
Hartono. Jakarta: EGC.
Muttaqin A. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.MKes, W. S. A. K. (2020). Asuhan Keperawatan
Hipertensi pada Lansia dengan Fokus Studi Intoleransi Aktivitas di RSUD Dr. R.
Soetijono Blora. Jurnal Studi Keperawatan, 1(2).
https://journals.stikim.ac.id/index.php/jiiki/article/view/332/260
Salma. (2020). Tetap Sehat Setelah Usia 40: 100 Artikel Kesehatan Pilihan (J. Haryani (ed.)).
Gema Insani. Jakarta.
Setiani, A., & Priansa, D. J. (2015a). Manajemen Peserta Didik dan Model Pembelajaran (A.
Kasamana (ed.)). Bandung: Cv. Alfabeta.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019) . Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018) . Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017) . Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI
Triyanto, Endang. 2014. Pelayanan Keperawatan bagi Penderita Hipertensi Secara Terpadu.
Yogyakarta : Graha Ilmu
WHO. (2013). A Global Brief on Hypertension: Silent killer, global public health crises (World
Health Day 2013). Geneva
Widiana, I. G. R. (2010). Beberapa panduan terapi hipertensi dan implementasi pada pasien
hipertensi (pp. 1–12).
Sub Pokok Pembahasan : Pengertian Hipertensi, Penyebab Hipertensi, Tanda dan gejala
Hipertensi, Diet Hipertensi, Pencegahan Hipertensi
Sasaran : Keluarga
Waktu : 30 menit
Tanggal :
A. Tujuan Umum
Setelah diberikan pennyuluhan 30 menit, diharapkan keluarga mampu memahami dan
mengerti tentang hipertensi.
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan hipertensi selama 30 menit tentanh hipertensi, diharapkan
keluarga dapat :
1. Menjelaskan tentang hipertensi
2. Menyebutkan penyeban hipertensi
3. Menjelaskan tentang diet hipertensi
4. Menjelaskan tentang pencegahan hipertensi
C. Materi penyuluhan (terlampir)
1. Pengertian hipertensi
2. Penyebab hipertensi
3. Diet hipetensi
4. Pencegahan hipertensi
D. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Media
1. Leaflet
2. SOP
F. Kegiatan Penyuluhan
Tahap
No Waktu Kagiatan Penyuluhan Sasaran Media
Kegiatan
1 Pembukaan 5 menit a. Mengucapkan salam a. Menjawab salam Kata-kata/
b. Memperkenalkan diri b. Mendengarkan dan kalimat
c. Menyampaikan tentang c. menyimak
b. tujuan pokok materi d. Bertanya mengenai
a. Menyampaikan pokok e. perkenalan dan
c. pembahasan tujuan
d. Kontrak waktu f. jika ada yang
kurang jelas
2 Pelaksanaan 20 menit a. Penyampaian Materi a. Mendengarkan dan Leaflet
b. Menjelaskan tentang menyimak
c. pengertian hipertensi b. Bertanya mengenai
d. Menjelaskan penyebab hal-hal yang belum
hipertensi jelas dan dimengerti
e. Menjelaskan tanda dan
gejala hipertensi
f. Menjelaskan tentang
diet hipertensi
g. Menjelaskan
pencegahan hipertens
h. Tanya Jawab
i. Memberikan
kesempatan pada
peserta untuk bertanya
3 Penutup 5 menit a. Melakukan evaluasi a. Sasaran menjawab Kata-kata/
b. Menyampaikan tentang kalimat
kesimpulan materi b. pertanyaan yang
c. Mengakhiri pertemuan diajukan
dan menjawab salam c. Mendengar
d. Memperhatikan
c. Menjawab salam
G. Evaluasi
Diharapkan keluarga mampu :
1. Menjelaskan tentang pengertian hipertensi
2. Menjelaskan tentang penyebab hipertensi
3. Menjelaskan tanda dan gejala hipertensi
4. Menjelaskan tentang diet hipertensi
5. Menjelaskan tentang pencegahan hipertensi
H. DAFTAR PUSTAKA
http://www.antaranews.com/print/1188369274/hipertensi/7769001,id.html
hafifahparwaningtyas.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-lansia-
denganhipertensi.html/m=1
www.godiabetescare.com/hipertensi.html