0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan35 halaman

LP Hipertensi

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai asuhan keperawatan pada pasien hipertensi. Ringkasannya adalah: Dokumen tersebut membahas definisi hipertensi, gejala, penyebab, mekanisme, dan klasifikasi hipertensi serta peran angiotensin II dalam meningkatkan tekanan darah.

Diunggah oleh

entinprihatini52
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan35 halaman

LP Hipertensi

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai asuhan keperawatan pada pasien hipertensi. Ringkasannya adalah: Dokumen tersebut membahas definisi hipertensi, gejala, penyebab, mekanisme, dan klasifikasi hipertensi serta peran angiotensin II dalam meningkatkan tekanan darah.

Diunggah oleh

entinprihatini52
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPERTENSI

DI NURSE STATION 3A RS TMC TASIKMALAYA

Tugas Mandiri

STASE PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Disusun Oleh:

YUNINGSIH

231FK09073

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA PDSKU


TASIKMALAYA

2023
LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI

A. Definisi
Hipertensi atau yang biasa disebut tekanan darah tinggi merupakan peningkatan
tekanan darah sistolik di atas batas normal yaitu lebih dari 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik lebih dari 90 mmHg (WHO, 2013; Ferri, 2017).
Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu jenis penyakit yang
mematikan di dunia dan faktor risiko paling utama terjadinya hipertensi yaitu faktor
usia sehingga tidak heran penyakit hipertensi sering dijumpai pada usia senja/ usia
lanjut (Fauzi, 2014),
Sedangkan menurut Setiati (2015), hipertensi merupakan tanda klinis
ketidakseimbangan hemodinamik suatu sistem kardiovaskular, di mana penyebab
terjadinya disebabkan oleh beberapa faktor atau multi faktor sehingga tidak bisa
terdiagnosis dengan hanya satu faktor tunggal (Setiati, 2015).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah
peningkatan tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus menerus lebih
dari satu periode. Hal ini terjadi bila arteriole-arteriole konstriksi. Kontriksi arteriole
membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri.
Peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan diastolik ≥90 mmHg.

B. Tanda dan gejala


Seseorang yang mengidap hipertensi akan merasakan beberapa gejala yang timbul.
Gejala yang muncul akibat hipertensi menurut (Salma, 2020), antara lain:
a) Sakit kepala.
b) Pusing
c) Bising (bunyi berdenging) pada telinga
d) Jantung berdebar
e) Penglihatan Kabur
f) Mimisan
g) Tidak adanya perbedaan tekanan darah walaupun berubah posisi
C. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi
terjadi sebagai respons peningkatan curah jantung atau peningkatan tekanan perifer.
Akan tetapi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
1. Genetik : Respons neurologi terhadap stres atau kelainan ekskresi atau transpor
Na.
2. Obesitas : Terkait dengan tingkat insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
3. Stres karena lingkungan.
4. Hilangnya elastisitas jaringan dan aterosklerosis pada orang tua serta pelebaran
pembuluh darah.
Pada orang lanjut usia, penyebab hipertensi disebabkan terjadinya perubahan pada
elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung menebal dan menjadi kaku,
kemampuan jantung memompa darah, kehilangan elastisitas pembuluh darah, dan
meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer. Setelah usia 20 tahun kemampuan
jantung memompa darah menurun 1% tiap tahun shingga menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volume. Elastisitas pembuluh darah menghilang karena terjadi
kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi (Aspiani, 2014).
Sekitar 90% hipertensi dengan penyebab yang belum diketahui pasti disebut dengan
hipertensi primer atau esensial, sedangkan 7% disebabkan oleh kelainan ginjal atau
hipertensi renalis, dan 3% disebabkan oleh kelainan hormonal atau hipertensi
hormonal dan penyebab lain (Muttaqin A, 2009). Sebagai faktor predisposisi dari
hipertensi esensial adalah penuaan, riwayat keluarga, asupan lemak jenuh atau
natrium yang tinggi, obesitas, ras, gaya hidup yang menuntut sering duduk dan tidak
bergerak, stress, merokok (Kowalak JP, Welsh W, Mayer B, 2011).

D. Patofisiologi
Meningkatnya tekanan darah dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara yaitu
jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap
detiknya arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut.
Darah pada setiap denyut jantung di paksa untuk melalui pembuluh yang sempit dari
pada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut,
dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklirosis (Triyanto,
2014).
Dengan cara yang sama tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi
vasokontriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut
karena perangsangan saraf atau hormone di dalam darah. Bertambahnya cairan dalam
sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat
kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari
dalam tubuh, volume darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga
meningkat (Triyanto, 2014).
Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami
pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi, maka tekanan darah akan menurun.
Penyesuaian terhadap faktor – faktor tersebut dilaksankan oleh perubahan di dalam
fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur
berbagai fungsi tubuh secara otomatis). Perubahan fungsi ginjal, ginjal
mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara : jika tekanan darah meningkat,
ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air yang akan menyebabkan
berkurangya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal (Triyanto,
2014).
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang untuk
sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight
(reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar) meningkatnya arteriola di daerah
tertentu (misalnya otot rangka yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak
mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal sehingga akan meningkatkan
volume darah dalam tubuh melepaskan hormone epinefrin (adrenalin) dan
norepinefrin (noradrenalin) yang merangsang jantung dan pembuluh darah. Faktor
stress merupakan satu faktor pencetus terjadinya peningkatan tekanan darah dengan
proses pelepasan hormone epinefrin dan norepinefrin (Triyanto, 2014).
E. Pathway
F. Klasifikasi
Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu :
1. Hipertensi Sistolik
Campuran. Hipertensi Sistolik (isolated systolic hypertension) merupakan
peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan diastolik dan umumnya
ditemukan pada lansia.
2. Hipertensi Diastolik
Diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan diastolik tanpa
diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada anak-anak dan
dewasa muda.
3. Hipertensi Campuran
Campuran merupakan peningkatan kedua tekanan darah yang ada.

Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah


Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah
Klasifikasi Tekanan Darah
(mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal < 120 < 80
Pre-hipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi derajat I 140 – 159 90 – 99
Hipertensi derajat II ≥ 160 ≥ 100
Sumber : JNC VII 2003 dalam (Widiana, 2010)
Menurut The Seventh Report of The Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood
Pressure (JNC VII), klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi
menjadi kelompok normal, prehipertensi, hipertensi derajat I dan derajat II.
Tabel 2. Klasifikasi tekanan darah
Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah
Klasifikasi Tekanan Darah
(mmHg) Diastolik (mmHg)
Hipertensi berat ≥ 180 ≥ 110
Hipertensi sedang 160 – 179 100 – 109
Hipertensi ringan 140 – 159 90 – 99
Hipertensi Perbatasan 120 – 149 90 – 94
Hipertensi sistolik 120 – 149 < 90
Perbatasan
Hipertensi sistolik > 140 < 90
Terisolasi
Normotensi < 140 < 90
Optimal < 120 < 80
Sumber : (WHO/ ISH) 1999/2003 dalam (Widiana, 2010
a. Jenis Hipertensi
Berdasarkan penyebab terjadinya maka hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yakni :
1) Hipertensi Primer atau Hipertensi Esensial, yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya. Bisa disebut juga hipertensi idiopatik. Dipengaruhi oleh genetik, jenis
kelamin, usia, gaya hidup, dan lain-lain.
2) Hipertensi Sekunder atau Hipertensi Renal, yaitu hipertensi yang diketahui
penyebabnya. Penyebab tersebut dapat berupa penggunaan esterogen, penyakit
ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme, hipertensi yang berhubungan
dengan kehamilan dan lain-lain.
b. Mekanisme Hipertensi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme(ACE). Angiotensin II inilah yang
memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
1) Meningkatkan sekresi Anti-DiureticHormone(ADH) dan rasa haus. Dengan
meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.
Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan
cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat,
yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
2) Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Untuk mengatur volume
cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan
cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan
diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang
pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
e. Faktor penyebab Hipertensi
Hipertensi dapat disebabkan oleh faktor – faktor tertentu. Faktor tersebut dibagi menjadi
faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah.faktor – faktor tersebut
diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Faktor yang tidak dapat diubah
a) Genetik
Resiko menderita hipertensi akan lebih tinggi pada orang dengan keluarga dekat
yang memiliki riwayat hipertensi. Faktor keturunan juga berkaitan dengan
metabolisme pengaturan garam (NaCl) dan renin membran sel.
b) Usia
Semakin bertambah usia, maka akan semakin besar resiko terjadinya hipertensi.
Hal ini disebabkan adanya perubahan struktur pembuluh darah seperti
penyempitan lumen, dinding pembuluh darah menjadi kaku dan
c) Jenis Kelamin
Penderita hipertensi cenderung lebih banyak dialami oleh mereka yang berjenis
kelamin laki – laki. Hal ini disebabkan karena adanya dugaan bahwa lelaki
memiliki gaya hidup yang yang kurang sehat dibandingkan dengan perempuan.
Menurut beberapa penelitian, terdapat kecenderungan bahwa lelaki dengan usia >
45 tahun lebih rentan mengalami peningkatan tekanan darah, sedangkan
perempuan cenderung mengalami peningkatan tekanan darah pada usia 55 tahun
atau menopause.
2) Faktor yang dapat diubah
a) Konsumsi Makanan Berlebih
Konsumsi makanan berlebih dapat menyebabkan terjadinya penumpukkan lemak
berlebih dalam tubuh yang akan mengakibatkan terjadinya obesitas.
Penumpukkan lemak yang berlebih akan meningkatkan volume darah untuk
mencukupi kebutuhan kebutuhan oksigen dan nutrisi yang lebih banyak, sehingga
secara otomatis akan menaikkan tekanan darah.
b) Konsumsi Garam Berlebih
Garam (NaCl) mengandung natrium yang dapat menarik cairan di luar sel agar
tidak dikeluarkan sehingga menyebabkan penumpukkan cairan dalam tubuh. Hal
ini yang membuat peningkatan volume dan tekanan darah.
c) Gaya Hidup
Merokok dapat menyebabkan otot jantung mengalami peningkatan, sehingga akan
meningkatkan tekanan darah dan melukai arteri sekaligus mempercepat proses
pengerasannya. Konsumsi alkohol dan kafein berlebih dapat meningkatkan kadar
kortisol, peningkatan volume sel darah merah, dan kekentalan darah
mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Kurangnya aktivitas fisik cenderung
mempengaruhi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan otot
jantung bekerja keras pada setiap kontraksi. Semakin keras kerja jantung maka
semakin meningkat tekanan darah.
d) Stress
Stress emosional dapat merangsang timbulnya hormon adrenalin dan memicu
jantung berdetak lebih kencang sehingga memicu peningkatan tekanan darah.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada penderita hipertensi menurut (Frista Nodi, 2011)
dilakukan dua cara yaitu :
a. Pemeriksaan yang segera seperti :
a) Darah rutin (hematokrit/hemoglobin) : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko
seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
b) Blood unit nitrogen/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi
ginjal.
c) Glukosa : hiperglikemi (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin (meningkatkan hipertensi).
d) Kalium serum : hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
e) Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan
hipertensi.
f) Kolesterol dan trigliserid serum : peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ).
g) Pemeriksaan tiroid : hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan
hipertensi.
h) Kadar aldosteron urin/serum : untuk mengkaji aldosteronisme primer
(penyebab).
i) Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada
DM.
j) Asam urat : hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
k) Steroid urin : kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.
l) EKG : 12 lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi ventrikel
kiri ataupun gangguan koroner dengan menunjukan pola regangan, dimana
luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi.
m) Foto dada : apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah pengobatan
terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,
pembesaran jantung.
b. Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang
pertama) :
a) IVP : dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal/ureter.
b) CT Scan : mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c) IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : batu ginjal, perbaikan
ginjal.
d) Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi : spinal tab, CAT
scan.
e) (USG) untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien

H. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


1. Penatalaksanaan Medis pada hipertensi adalah sebagai berikut :
a. Terapi oksigen
b. Pemantauan hemodinamik
c. Pemantauan jantung
d. Obat-obatan :
1) Diuretik : Chlorthalidon, Hydromax, Lasix, Aldactone, Dyrenium Diuretic
bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung
dengan mendorong ginjal meningkatkan ekskresi garam dan airnya.
2) Antagonis (penyekat) respector beta (β-blocker), terutama penyekat selektif,
bekerja pada reseptor beta di jantung untuk menurunkan kecepatan denyut.
3) Antagonis reseptor alfa (α-blocker) menghambat reseptro alfa di otot polos
vaskuler yang secara normal berespons terhadap rangsangan saraf simpatis
dengan vasokonstriksi. Hal ini akan menurunkan TPR.
4) Vasodilator arteriol langsung dapat digunakan untuk menurunkan TPR.
Misalnya natrium, nitroprusida, nikardipin, hidralazin, nitrogliserin, dll.
(Brunner & Suddarth, 2002).

2. Penatalaksanaan Keperawatan pada Hipertensi


Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko
penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan
terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140
mmHg dan tekanan distolik dibawah 90 mmHg dan mengontrol factor risiko. Hal
ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja, atau dengan obat
antihipertensi (Aspiani, 2016).
Penatalaksanaan faktor risiko dilakukan dengan cara pengobatan setara non-
farmakologis, antara lain:
1) Pengaturan diet
Berbagai studi menunjukan bahwa diet dan pola hidup sehat atau dengan obat-
obatan yang menurunkan gejala gagal jantung dan dapat memperbaiki keadaan
hipertrofi ventrikel kiri. Beberapa diet yang dianjurkan:
a. Rendah garam
diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah pada klien hipertensi.
Dengan pengurangan konsumsi garam dapat mengurangi stimulasi system
renin-angiotensin sehingga sangat berpotensi sebagai anti hipertensi.
Jumlah asupan natrium yang dianjurkan 50-100 mmol atau setara dengan
3-6 gram garam per hari.
b. Diet tinggi kalium
dapat menurunkan tekanan darah tetapi mekanismenya belum jelas.
Pemberian kalium secara intravena dapat menyebabkan vasodilatasi, yang
dipercaya dimediasi leh oksidanitrat pada dinding vascular.
c. Diet kaya buah dan sayur
d. Diet rendah kolestrol sebagai pencegah terjadinya jantung koroner.
2) Penurunan berat badan
Mengatasi obesitas pada sebagian orang, dengan cara menurunkan berat badan
mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi beban kerja
jantung dan volume sekuncup. Pada beberapa studi menunjukan bahwa
obesitas berhubungan dengan
kejadian hipertensi dan hipertrofi ventrikel kiri. Jadi, penurunan berat badan
adalah hal yang sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah.

3) Olahraga
Olahraga teratur seperti berjalan, lari,berenang, bersepeda bermanfaat untuk
menurunkan tekanan darah dan memperbaiki keadaan jantung.
4) Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat
Berhenti merokok dan tidak mengonsumsi alcohol, penting untuk mengurangi
efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran
darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung. (Aspiani,
2016)

I. Komplikasi
Menurut Ardiansyah, M. (2012) komplikasi dari hipertensi adalah :
1. Stoke
Stroke akibat dari pecahnya pembuluh yang ada di dalam otak atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh nonotak. Stroke bisa terjadi pada hipertensi
kronis apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan
penebalan pembuluh darah sehingga aliran darah pada area tersebut berkurang.
Arteri yang mengalami aterosklerosis dapat melemah dan meningkatkan
terbentuknya aneurisma.
2. Infark Miokardium
Infark miokardium terjadi saat arteri koroner mengalami arterosklerotik tidak
pada menyuplai cukup oksigen ke miokardium apabila terbentuk thrombus yang
dapat menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut. Karena terjadi
hipertensi kronik dan hipertrofi ventrikel maka kebutuhan okigen miokardioum
tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
3. Gagal Ginjal
Kerusakan pada ginjal disebabkan oleh tingginya tekanan pada kapiler-kapiler
glomerulus. Rusaknya glomerulus membuat darah mengalir ke unti fungsionla
ginjal, neuron terganggu, dan berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Rusaknya
glomerulus menyebabkan protein keluar melalui urine dan terjadilah tekanan
osmotic koloid plasma berkurang sehingga terjadi edema pada penderita
hipertensi kronik.
4. Ensefalopati
Ensefalopati (kerusakan otak) terjadi pada hipertensi maligna (hipertensi yang
mengalami kenaikan darah dengan cepat). Tekanan yang tinggi disebabkan oleh
kelainan yang membuat peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke
dalam
ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat. Akibatnya neuro-neuro
disekitarnya terjadi koma dan kematian

J. Diagnosa Banding
Menurut tim Pokja SDKI PPNI (2017)
1. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan peningkatan tekanan darah
2. Resiko jatuh berhubungan dengan gangguan penglihatan
3. Gangguan pola tidur berhubunga dengan kurang kontrol tidur

K. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Data Fokus Pengkajian
Anamnesa
a. Keluhan utama
Tanyakan tentang gangguan terpenting yang dirasakan klien sehingga ia perlu
pertolongan. Keluhan yang harus diperhatikan antara lain sesak napas, nyeri
dada menjalar ke arah lengan, cepat lelah, batuk lendir atau berdarah, pingsan,
berdebar – debar, dan lainnya sesuai dengan patologi penyakitnya.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan tentang perjalanan penyakit sejak keluhan hingga klien meminta
pertolongan, seperti :
1) Tanyakan sejak kapan keluhan dirasakan
2) Berapa kali keluhan terjadi
3) Bagaimana sifat keluhan
4) Kapan dan apa penyebab keluhan
5) Keadaan apa yang memperburuk dan memperingan keluhan
6) Bagaimana usaha untuk mengatasi keluhan sebelum meminta pertolongan
7) Berhasilkan tindakan tersebut.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Tanyakan tentang penyakit yang pernah dialami sebelumnya :
1) Tanyakan apakah klien pernah dirawat sebelumnya
2) Dengan penyakit apa
3) Pernahkah mengalami sakit yang berat
4) Riwayat tambahan disesuaikan dengan patologi penyakitnya
5) Riwayat keluarga
6) Riwayat pekerjaan
7) Riwayat geografi
8) Riwayat alergi
9) Kebiasaan sosial
10) Kebiasaan merokok.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup
dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
Tanda : Kenaikan tekanan darah, denyutan nadi jelas dari karotis, jugularis,
radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit
pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin
lambat/bertunda.
c. Integritas Ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple
(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue perhatian,
tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola
bicara.
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat penyakit
ginjal pada masa yang lalu).
e. Makanan/cairan
Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak
serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan berat badan akhir-akhir ini
(meningkat/turun), riwayat penggunaan diuretic
Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya edema, glikosuria.
f. Neurosensori
Gejala: Keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala, suboksipital (terjadi
saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam), gangguan
penglihatan diplobia, penglihatan kabur, epistakis).
Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek,
proses piker, penurunan kekuatan genggaman tangan.
g. Nyeri/ ketidaknyaman
Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung), sakit kepala.
h. Pernafasan
Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea,
dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori, bunyi nafas tambahan
(krekels/mengi), sianosis.
i. Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural

3. Analisa data
No Data Masalah
1. Intolerasi Aktifitas (D.0056) Intolerasi Aktifitas
a. Definisi : ketidakcukupan energi untuk berhubungan dengan
melakukan aktifitas sehari – hari. kelemahan
b. Penyebab:
1) Ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
2) Tirah baring
3) Kelemahan
4) Imobilisasi
5) Gaya hidup monoton
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
- Mengeluh lelah
2) Objektif
- Frekuensi jantung meningkat
>20% dari kondisi istirahat
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
- Dipsnea saat/setelah aktifitas
- Merasa lemah
2) Objektif
- Tekanan darah berubah >2% dari
kondisi istirahat
- Gambaran EKG menunjukan
aritmia saat/setelah aktifitas
- Gambara EKG menunjukan
iskemia
- Sianosis
e. Kondisi klinis terkait
1) Anemia
2) Gagal jantung kongestif
3) Penyakit jantung koroner
4) Penyakit katup jantung
5) Aritima
6) Penyakit paru obstruktif (PPOK)
7) Gangguan metabolik
8) Gangguan muskuluskeletal
2 Nyeri Akut (D.0077) Nyeri akut berhubungan
a. Definisi : dengan agen pencederaan
Pengalaman sensorik atau emosional fisiologi (mis. Iskemia)
yang berkaitan dengan kurusakan jaringan
actual atau fungsional, dengan onset
mendadak atau lambat dan berintensitas
ringan hingga berat yang berlangtsung
kurang dari 3 bulan.
b. Penyebab :
1) Agen pencedera fisiologis (mis.
Inflamasi, iskemia, neoplasma)
2) Agen pencedera kimiawi (mis.
Terbakar, bahan kimia, iritan)
3) Agen pencedera (mis. Abses,
amputasi, terbakar, terpotong,
mengakat berat, prosedur operasi,
trauma, latihan fisik berlebihan)
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
- Mengeluh nyeri
2) Objektif
- Tampak meringis
- Bersikap protektif (mis. Waspada,
posisi menghindari nyeri )
- Gelisah
- Frekuensi nadi meningkat
- Sulit tidur.
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif :
-
2) Objektif
- Tekanan darah meningkat
- Pola nafas berubah
- Nafsu makan berubah
- Proses berpikir terganggu
- Menarik diri
- Berfokus pada diri sendiri
- Diaforesi
e. Kondisi klinis terkait
1) Kondisi pembedahan
2) Cedera traumatis
3) Infeksi
4) Syndrome coroner akut
5) Glukoma

3 Penurunan Curah jantung (D.0008) Penurunan curah jantung


a. Definisi berhubungan dengan
Ketidakadekuatan jantung memompa perubahan afterload
darah untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme tubuh.
b. Penyebab
1) Perubahan irama jantung
2) Perbahan frekuensi jantung
3) Perubahan kontraktilitas
4) Perbuhan preload
5) Perubahan afterload
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
Perubahan irama jantung
- Palpitasi
Perubahan preload
- Lelah
Perubahan afterload
- Dispnea
Perubahan kontraktilitas
- Paroxysmal nocturnal dyspnea
(PND)
- Ortopnea
- Batuk
2) Objektif
Perubahan irama jantung
- Bradikardia/takikardia
- Gambaran EKG aritmia atau
gangguan konduksi
Perubahan preload
- Edema
- Distensi vena jugularis
- Central venous pressure (CVP)
meningkat/menurun
- Hepatomegali
Perubahan afterload
- Tekanan darah meningkat/menurun
- Nadi perifer teraba lemah
- Capillary refill time > 3 detik
- Oliguria
- Warna kulit pucat dan sianosis
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
Perubahan preload
-
Perubahan afterload
-
Perubahan kontraktilitas
-
Perilaku emosional
- Cemas
- Gelisah
2) Objektif
Perubahan preload
- Murmur jantung
- Berat badan bertamabah
- Pulmonary artery wedge pressure
(PAWP) menurun
Perubahan afterload
- Pulmonary vascular resistance
(PVR)
- Systemic vascular resistance
(SVR) meningkat / menurun
Perubahan kontraktilitas
- Cardiac index (CI) menurun
- Left venticular stroke work index
(LVSWI) menurun
- Stroke volume index (SVI)
menurun
Perilaku emosional
e. kondisi klinis terkait
1) gagal jantung kongestif
2) sindrom koroner akut
3) stenosis mitral
4) reguritasi aorta
5) stenosis trikusdipal
6) stenosis pulmonal
7) regurgitasi pulmonal
8) aritmia
9) penyakit jantung bawaan

4. Diagnosa Keperawatan
Menurut tim Pokja SDKI PPNI (2017)
a. Intolerasi Aktifitas berhubungan dengan kelemahan
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencederaan fisiologi (mis. Iskemia)
c. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
5. Rencana tindakan keperawatan
No Diagnosa (SDKI) Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI) Intervensi

1 Intolerasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen energi (I.05178)


Aktifitas (D.0056) selama ...x... diharapkan toleransi aktifitas Observasi
membaik, dengan kriteria hasil : - Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
- Frekuensi nadi meningkat (5) kelelahan
- Satuarsi oksigen meningkat (5) - Monitor kelelahan fisik dan emosional
- Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari - Monitor pola dan jam tidur
– hari meningkat (5) - Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan
- Keceparan berjalan meningkat (5) aktivitas
- Jarak berjalan meningkat (5) Terapeutik
- Kekuatan otot bagian atas meningkat (5) - Sediakan lingkunga yang nyaman dan rendah stimulasi
- Kekuatan otot bawah atas meningkat (5) (mis. Cahaya, suara, kunjungan)
- Toleransi dalam menaiki tangga meningkat (5) - Lakukan latihan rentang gerak
- Keluhan lelah menurun (5)
- Dispnea saat aktivitas menurun
- Dispnea setelah aktivitas menurun (5)
- Persaan lemah menurun (5)
- Aritmia saat berkaktivtas menurun (5)
- Aritmia setelah aktivitas menurun (5)
- Sianosis menurun (5)
- Warna kulit membaik (5)
- Tekanan darah membaik (5)
- Frekuensi napas membaik (5)
- EKG iskemia membaik (5)
2 Nyeri Akut Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama Manajemen Nyeri (I.08238)
(D.0077) 3x24 jam masalah nyeri akut diharapkan menurun Tindakan :
dan teratasi dengan kriteria hasil : Observasi :
- Keluhan nyeri menurun (5) - Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
- Meringis menurun (5) intensitas nyeri.
- Sikap protektif menurun (5) - Identifikasi skala nyeri
- Gelisah menurun - Identifikasi respon nyeri non verbal
- Kesulitan tidur menurun (5) - Identifikasi faktor yang memperberat dan meringankan
- Menarik diri menurun nyeri
- Berfokus pada diri sendiri menurun (5) - Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
- Diaforesis menurun (5) - Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
- Perasaan defresi (tertekan) menurun (5) - Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
- Perasaan takut mengalami cedera menurun (5) - Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah
- Anoreksia menurun (5) diberikan.
- Perineum terasa tertekan menurun (5) - Monitor efek samping penggunaan analgetik
- Uterus teraba membulat menurun (5) Teurapeutik :
- Ketegangan otot menurun (5) - Berikan tekhnik non famakologis unutk mengurangi rasa
- Pupil dilatasi menurun (5) nyeri (mis TENS, Hipnotis, Akupuntur)
- Muntah menurun (5) - Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis.
- Mual menurun (5) Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
- Frekuensi nadi membaik (5) - Fasilitasi istirahat dam tidur.
- Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan
- Pola napas membaik (5) strategis meredakan nyeri.
- Tekanan darah membaik (5) Edukasi :
- Proses berpikir membaik (5) - Jelaskan penyebab periode, dan pemicu nyeri.
- Fokus membaik (5) - Jelaskan startegi meredakan nyeri.
- Fungsi berkemih membaik (5) - Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
- Perilaku membaik (5) - Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat.
- Nafsu makan membaik (5) - Anjurkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa
- Pola tidur membaik (5) nyeri.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgetik jika perlu
3 Penurunan curah Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama Perawatan Curah jantung (D.0011)
jantung (D.0011) 3x24 jam masalah nyeri akut diharapkan penurunan Tindakan
curah jantung teratasi dengan kriteria hasil : Observasi :
- Kekuatan perifer meningkat (5) - Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung
- Ejection fraction (EC) meningkat (5) (meliputi. Dispnea, kelelahan, edema, ortopnea, paroxymal
- Left venticular stroke work injek (LVSWI) noctural dyspnea, peningkatan CVP)
meningkat (5) - Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung
- Stroke volume injek (SVI) meningkat (5) (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi
- Palpitasi menurun (5) vena jugularis, palpitasi, ronki basah, oliguria, batuk, kulit
- Bradikardia menurun (5) pucat)
- Takikardia menurun (5) - Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik,
- Gambaran EKG aritmia menurun (5) jika perlu)
- Lelah menurun (5) - Monitor intake dan output cairan
- Edema menurun (5) - Monitor berat badan setia hari pada waktu yang sama
- Distensi vena jugularis menurun (5) - Monitor saturasi oksigen
- Dispea oliguria menurun (5) - Monito keluhan nyeri dada (mis. Intensitas, lokasi, radiasi,
- Pucat/sianosis menurun (5) durasi, presivitasi, yang mengurangi nyeri)
- Paroxymal nocturnal dyspnea (PND) menurun - Monitor EKG 12 sadapan
(5) - Monitor aritima (kelainan irama dan frekuensi)
- Ortopnea menurun (5) - Monitor nilai laboratorium jantung (mis. Elektrolit, enzim
- Batuk menurun (5) jantung, BNP, Ntpro,BNP)
- Suara jantung S3 menurun (5) - Monitor fungsi alat jantung
- Suara jantung S4 menurun (5) - Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum dan
- Murmur jantung menurun (5) sesudah aktifitas
- Berat badan menurun (5) - Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum pemberian
- Hepatomegali menurun (5) obat (mis. Beta blocker, ACE inhibitor, calcium channel
- Pulmonary vasicular resistance (PVR) blocker, digoksin)
menurun (5) Terapeutik
- Systemic vasicular resitance menurun (5) - Posisikan pasien semi fowler atau fowler dengan kaki ke
- Tekanan darah menurun (5) bawah atau posisi nyaman
- Capillary refill time (CRT) menurun (5) - Berikan diet jantung yang sesuai (mis. batasi asupan kafein,
- Pulmonary artery wedge pressure (PAWP) natrium, kolestrol, dan makanan tinggi lemak)
menurun (5) - Gunakan stocking elastis pneumatik intermiten, sesuai
- Central venous pressure menurun (5) indikasi
- Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup
sehat
- Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stres, jika perlu
- Berikan dukungan emosional dan spiritual
- Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen
>94%
Edukasi
- Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi
- Anjurkan terapi fisik secara bertahap
- Anjurkan berhenti merokok
- Anjurkan pasien dan keluarga mengukur berat badan harian
- Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output
cairan harian
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian antiaritmia, jika perlu
- Rujuk ke program rehabilitasi jantung

6. Evidence Based Practice

No Judul Jurnal Metode Hasil Rasional


1 Efektivitas Terapi Relaksasi Desain penelitian yang Hasil penelitian menunjukkan ρ Menurut peneliti hal tersebut
Otot Progresif Terhadap digunakan yaitu kuantitatif value 0,014 (ρ<0,05), maka Hο memberikan arti bahwa melakukan
Penurunan Tekanan Darah dengan rancangan one group di tolak dan ada perbedaan terapi relaksasi otot progresif terus
Pada Lansia Dengan prtest – posttest. antara penurunan tekananan menerus akan membantu penurunan
Hipertensi darah sebelum dan sesudah tekanan darah dan membuat
terapi relaksasi otot progresif seseorang mejadi rileks.keadaan
pada lansia dengan hipertensi rileks dapat membatu responden
atau ada pengaruh terapi dalam menurunkan tekanan darah.
relaksasi otot progresif terhadap Terapi relaksasi dapat dilakukan
penurunan tekanan darah pada saaat santai bahkan bisa dilakukan
lansia dengan hipertensi. sebelum tidur hal ini dapat membantu
responden dengan usia lanjut.
2 Asuhan keperawatan Metodelogi penelitian yang Hasil penelitian menunjukan bahwa terapi akupresur yang
pemenuhan kebutuhan rasa digunakan adalah penelitian bahwa terdapat penurunan skala dilakukan akan menstimulasi sel
nyaman nyeri kepala dengan deskriptif dengan menggunakan nyeri kepala dan tengkuk setelah saraf sensorik disekitar titik
pemberian terapi akupresur rancangan studi kasus. dilakukan terapi akupresur pada akupresur akan diteruskan kemedula
pada lansia yang mengalami pasien hipertensi. spinalis, kemudian ke mesensefalon
Hipertensi diwilayah kerja dan komplek pituitari hipothalamus
puskesmas telaga dewa kota yang ketiganya diaktifkan untuk
bengkulu melepaskan hormon endorfin yang
dapat memberikan rasa tenang dan
nyaman. Akupresur juga
menstimulasi pelepasan histamin
yang berpengaruh pada vasodilatasi
pembuluh darah, kedua manfaat
akupresur tersebut dapat menurunkan
tekanan darah.
3 Penerapan Pola Diet Dash Jenis metode penelitian yang Hasil penelitian menunjukkan Faktor usia tidak dapat dicegah,
Terhadap Tekanan Darah Pada digunakan adalah metode adanya penurunan tekanan karena usia seseorang secara alamiah
Penderita Hipertensi Di Desa deskriptif yang menggunakan darah serta beberapa perubahan akan terus bertambah namun faktor
Kalikangkung Semarang pendekatan asuhan keperawatan. lainnya. Pada subjek I terjadi usia dapat dikendalikan dengan cara
penurunan tekanan darah dari pola hidup sehat salah satunya
156/100 mmHg menjadi 140/95 dengan merubah pola makan, bahwa
mmHg, sementara pada subjek sebagian besar dari mereka yang
II juga terjadi penurunan menderita hipertensi disebabkan
tekanan darah dari 155/100 karena pola makan yang tidak sehat
mmHg menjadi 140/90 mmHg. meningkatkan risiko terjadi
Penelitian ini menunjukkan hipertensi.
bahwa pemberian terapi pola
makan diet DASH dapat
menurunkan tekanan darah pada
penderi hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA

Anisa, A. N., Sari, M., & Yani, S. (2022). Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Rasa
Nyaman Nyeri Kepala Dengan Pemberian Terapi Akupresur Pada Lansia Yang
Mengalami Hipertensi Diwilayah Kerja Puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu.
Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia, 1(5), 49-56.
http://journal-mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/242
Ardiansyah, M. 2012. Medikal Bedah. Yogyakarta: DIVA Press.
Aspiani, R. Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskuler
Aplikasi NIC & NOC. Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo
Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.
Fitriyana, M., & Wirawati, M. K. (2022). Penerapan Pola Diet Dash Terhadap Tekanan Darah
Pada Penderita Hipertensi Di Desa Kalikangkung Semarang. Jurnal Manajemen Asuhan
Keperawatan, 6(1), 17-24.
https://jurnal-d3per.uwhs.ac.id/index.php/mak/article/view/126/98
Kowalak JP, Welsh W, Mayer B. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Alihbahasa oleh Andry
Hartono. Jakarta: EGC.
Muttaqin A. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.MKes, W. S. A. K. (2020). Asuhan Keperawatan
Hipertensi pada Lansia dengan Fokus Studi Intoleransi Aktivitas di RSUD Dr. R.
Soetijono Blora. Jurnal Studi Keperawatan, 1(2).
https://journals.stikim.ac.id/index.php/jiiki/article/view/332/260
Salma. (2020). Tetap Sehat Setelah Usia 40: 100 Artikel Kesehatan Pilihan (J. Haryani (ed.)).
Gema Insani. Jakarta.
Setiani, A., & Priansa, D. J. (2015a). Manajemen Peserta Didik dan Model Pembelajaran (A.
Kasamana (ed.)). Bandung: Cv. Alfabeta.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019) . Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018) . Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017) . Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat PPNI
Triyanto, Endang. 2014. Pelayanan Keperawatan bagi Penderita Hipertensi Secara Terpadu.
Yogyakarta : Graha Ilmu
WHO. (2013). A Global Brief on Hypertension: Silent killer, global public health crises (World
Health Day 2013). Geneva
Widiana, I. G. R. (2010). Beberapa panduan terapi hipertensi dan implementasi pada pasien
hipertensi (pp. 1–12).

Tasikmalaya, 11 November 2023

Ns. H. Baharudin Lutfi S, M.Kes


ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Tindakan keperawatan yang akan dilakukan


Mobilisasi
2. Nama Klien
- Ny. N
- 60 tahun
3. Diagnosa Medis
Hipertensi
4. Diagnosa Keperawatan
Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum
5. Prinsip – prinsip tidakan rasional
a. Prinsip-Prinsip :
- Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi.
- Rencanakan jadwal antara aktifitas dan istirahat.
- Bantu dengan aktifitas fisik teratur : misal: ambulasi, berubah posisi, perawatan
personal, sesuai kebutuhan
- Minimalkan anxietas dan stress, dan berikan istirahat yang adekuat
b. Rasional : Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh
6. Bahaya – bahaya yang mungkin terjadi akibat tindakan tersebut dan cara
pencegahannya :
a. Bahaya :
Dengan membantu ambulasi dapat menyebabkan ketergantungan pada orang lain
dalam melakukan aktifitas
b. Pencegahannya
Ajarkan teknik ambulasi secara mandiri
7. Tujuan tindakan tersebut dilakukan
Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri tanpa bantuan atau dengan bantuan
minimal tanpa menunjukkan kelelahan
8. Hasil yang didapat dan maknanya
S : - Klien mengatakan aktifitas masih di bantu oleh keluarga
- klien mengatakan merasa lelah
O : - Ku lemah
- Klien nampak di bantu oleh keluarga
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
9. Identifikasi tindakan keperawatan lainnya yang dapat dilakukan untuk mengatasi
masalah atau diagnosa tersebut (mandiri dan kolaborasi)
- Bantu pasien dalam perawatan diri.
- Auskultasi bising usus, monitor kebiasaan eliminasi dan menganjurkan agar BAB
teratur.
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet tinggi protein, vitamin, dan
mineral.
SATUAN ACARA PENYULUHAN HIPERTENSI

Pokok pembahasan : Hipertensi

Sub Pokok Pembahasan : Pengertian Hipertensi, Penyebab Hipertensi, Tanda dan gejala
Hipertensi, Diet Hipertensi, Pencegahan Hipertensi

Sasaran : Keluarga

Waktu : 30 menit

Tanggal :

Tempat : Nurse Station 3A

A. Tujuan Umum
Setelah diberikan pennyuluhan 30 menit, diharapkan keluarga mampu memahami dan
mengerti tentang hipertensi.
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan hipertensi selama 30 menit tentanh hipertensi, diharapkan
keluarga dapat :
1. Menjelaskan tentang hipertensi
2. Menyebutkan penyeban hipertensi
3. Menjelaskan tentang diet hipertensi
4. Menjelaskan tentang pencegahan hipertensi
C. Materi penyuluhan (terlampir)
1. Pengertian hipertensi
2. Penyebab hipertensi
3. Diet hipetensi
4. Pencegahan hipertensi
D. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Media
1. Leaflet
2. SOP
F. Kegiatan Penyuluhan
Tahap
No Waktu Kagiatan Penyuluhan Sasaran Media
Kegiatan
1 Pembukaan 5 menit a. Mengucapkan salam a. Menjawab salam Kata-kata/
b. Memperkenalkan diri b. Mendengarkan dan kalimat
c. Menyampaikan tentang c. menyimak
b. tujuan pokok materi d. Bertanya mengenai
a. Menyampaikan pokok e. perkenalan dan
c. pembahasan tujuan
d. Kontrak waktu f. jika ada yang
kurang jelas
2 Pelaksanaan 20 menit a. Penyampaian Materi a. Mendengarkan dan Leaflet
b. Menjelaskan tentang menyimak
c. pengertian hipertensi b. Bertanya mengenai
d. Menjelaskan penyebab hal-hal yang belum
hipertensi jelas dan dimengerti
e. Menjelaskan tanda dan
gejala hipertensi
f. Menjelaskan tentang
diet hipertensi
g. Menjelaskan
pencegahan hipertens
h. Tanya Jawab
i. Memberikan
kesempatan pada
peserta untuk bertanya
3 Penutup 5 menit a. Melakukan evaluasi a. Sasaran menjawab Kata-kata/
b. Menyampaikan tentang kalimat
kesimpulan materi b. pertanyaan yang
c. Mengakhiri pertemuan diajukan
dan menjawab salam c. Mendengar
d. Memperhatikan
c. Menjawab salam
G. Evaluasi
Diharapkan keluarga mampu :
1. Menjelaskan tentang pengertian hipertensi
2. Menjelaskan tentang penyebab hipertensi
3. Menjelaskan tanda dan gejala hipertensi
4. Menjelaskan tentang diet hipertensi
5. Menjelaskan tentang pencegahan hipertensi
H. DAFTAR PUSTAKA
http://www.antaranews.com/print/1188369274/hipertensi/7769001,id.html
hafifahparwaningtyas.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-lansia-
denganhipertensi.html/m=1
www.godiabetescare.com/hipertensi.html

Anda mungkin juga menyukai