Anda di halaman 1dari 7

Lutfiana Ulfa

XI MIA 2

TEMA : Penyalahgunaan Narkoba Dikalangan remaja


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Narkoba sering sekali kita dengar dan bukan menjadi barang yang awam dalam kehidupan sekarang
ini, apalagi di dunia pendidikan di Indonesia. Banyak dari siswa – siswi yang kurang mengetahui akan
bahaya narkoba bagi masa depan mereka, yang lebih parah lagi banyak sekali siswa mencoba
narkoba karena sifat penasaran. Hal ini dikarenakan banyaknya jenis narkoba yang telah beredar di
seluruh wilayah Indonesia.
Tidak hanya dikonsumsi oleh remaja di lingkungan sekolah, narkoba juga bahkan dikonsumsi oleh
para pejabat pemerintahan dan aparat negara.
Narkoba sangat cepat menyebar, mulai dari kota – kota besar hingga sekarang ini mungkin
penyebarannya sudah masuk ke desa – desa. Narkoba mudah masuk dan berkembang di dunia
pendidikan. Hal itu dikarenakan pada zaman sekarang ini para siswa terlalu bebas dalam pergaulan
kurangnya kontrol dari orang tua siswa.
Narkoba dan Narkotika kini menjadi permasalahan yang kompleks karena tidak saja hanya
mengancam pelakunya namun juga berdampak pada lingkungan sosial dengan meningkatnya
kriminalitas yang diakibatkan pengaruh dari zat yang terkandung di dalam narkoba.

1
Narkoba sangat mengancam keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia, hal ini dikarenakan apabila
seluruh generasi muda di Indonesia telah hancur dan rusak maka akan menghancurkan masa depan
Negara Indonesia di masa yang akan datang. Seperti Ada banyak kasus belakangan ini tentang
penyalahgunaan narkoba. Sebut saja baru-baru seperti dialami oleh Seorang Artis, Jupiter Fortissimo
yang harus berurusan dengan aparat. (Seperti Dikutip di Media Phylo Post). Persoalan narkoba ini
perlu mendapat perhatian kita semua.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan narkoba?
2. Apa saja jenis – jenis narkoba?
3. Apa yang menyebabkan seseorang mengkonsumsi narkoba?
4. Bagaimana penyebaran narkoba di Indonesia?
5. Bagaimana bahaya narkoba bagi penggunanya?
6. Bagaimana upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya narkoba?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan Karya Tulis ini adalah:
1. Mengetahui pengertian narkoba.
2. Mengetahui jenis – jenis narkoba.
3. Mengetahui penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba.
4. Mengetahui penyebaran narkoba di Indonesia.
5. Mengetahui bahaya narkoba bagi penggunanya.
6. Untuk mengetahui upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya narkoba
D. Sistematika Penulisan
Komposisi bab ini dapat memudahkan penulis dalam memahami materi karya tulis ini. Karena itu
penulis menguraikan garis besarnya sebagai berikut :
Bab pertama merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah,
tujuan, dan sistematika penulisan.
Bab kedua merupakan pembahasan yang terdiri dari, pengertian narkoba, jenis – jenis narkoba,
penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba, penyebaran narkoba di Indonesia, bahaya narkoba
bagi penggunanya, upaya dalam mencegah dan menanggulangi bahaya narkoba.
Bab ketiga adalah penutup, dimana penulis akan memberikan kesimpulan dari pembahasan dan
beberapa saran.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain
yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang
merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.
Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok senyawa yang
umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba
sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat
hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan
akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.
Narkotika yang sama sekali tidak boleh digunakan dalam pengobatan adalah narkotika golongan 1
(Kokain, Heroin, Ganja) dan psikotropika golongan 1(LSD , Ekstasi ) karena bukan tergolong obat,
dan menyebabkan ketergantungan tingkat tinggi.

4
Narkotika menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika, yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan.
Psikotropika yaitu zat atau obat, baik alami maupun sintesis bukan narkotik yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf dan menyebabkan perubahan khas pada
aktifitas mental dan perilaku.
B. Jenis – Jenis Narkoba
1. Morfin
Morfin berasal dari kata morpheus (dewa mimpi) adalah alkaloid analgesik yang sangat kuat yang
ditemukan pada opium. Zat ini bekerja langsung pada sistem saraf pusat sebagai penghilang rasa
sakit.
2. Heroin
Heroin dihasilkan dari pengolahan morfin secara kimiawi. Akan tetapi reaksi yang ditimbulkan heroin
menjadi lebih kuat dari pada morfin itu sendiri, sehingga mengakibatkan zat ini sangat mudah
menembus ke otak.
3. Ganja
Ganja adalah tumbuhan budidaya yang menghasilkan serat, kandungan zat narkotika terdapat pada
bijinya. Narkotika ini dapat membuat si pemakai mengalami euforia (rasa senang yang
berkepanjangan tanpa sebab).
Tumbuhan ini telah dikenal manusia sejak lama, seratnya digunakan sebagai bahan pembuat
kantung, dan bijinya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan minyak.
Awalnya, tanaman ini hanya ditemukan di negara-negara beriklim tropis. Namun belakangan ini, di
negara-negara beriklim dingin pun telah banyak membudidayakan tanaman ini, yaitu dengan cara
dikembangkan di rumah kaca.
4. Kokain
Kokain merupakan berasal dari tanaman Erythroxylon coca di Amerika Selatan. Biasanya daun
tanaman ini dimanfaatkan untuk mendapatkan efek stimulan, yaitu dengan cara dikunyah. Kokain
dapat memicu metabolisme sel menjadi sangat cepat.
C. Penyebab Seseorang Mengkonsumsi Narkoba
Terdapat 3 faktor (alasan) yang dapat dikatakan sebagai pemicu seseorang dalam penyalahgunakan
narkoba. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri, faktor lingkungan, dan faktor kesediaan narkoba
itu sendiri.
a. Faktor Diri
Faktor diri adalah faktor atau dorongan yang berasal dari diri seseorang itu sendiri yang
menyebabkan dirinya mengkonsumsi narkoba. Faktor diri terdiri dari beberapa macam sebagai
berikut :
1. Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berfikir panjang tentang akibatnya
di kemudian hari.
2. Keinginan untuk bersenang – senang.
3. Lari dari masalah dan kebosanan hidup.
4. Keinginan untuk dapat diterima dalam suatu kelompok atau lingkungan tertentu.
5. Kecanduan rokok dan minuman keras, hal ini yang merupakan gerbang ke arah
penyalahgunaan narkoba.
6. Pemahaman yang salah bahwa mengkonsumsi narkoba sekalli saja tidak akan menimbulkan
masalah.
b. Faktor Lingkungan
Faktor Lingkungan adalah faktor yang berasal dari lingkungan dimana orang itu tinggal, sekolah, dan
bergaul. Faktor lingkungan terdiri dari beberapa jenis sebagai berikut :
1. Masalah dalam keluarga
2. Lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
3. Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan ketidakpastian.
4. Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk.
5. Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa anggotanya menjadi
penyalahguna atau pengedar narkoba.
6. Teman sekolah yang menjadi pengguna atau pengedar narkoba.
7. Hilangnya pengawasan masyarakat dari lingkungan social.
c. Faktor Ketersediaan Narkoba
Narkoba itu sendiri menjadi pendorong seseorang untuk mengkonsunsi narkoba dikarenakan
beberapa hal sebagai berikut :
1. Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli.
2. Harga narkoba semakin murah dan dijangkau oleh daya beli masyarakat.
3. Narkoba semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian, dan bentuk kemasan.
4. Bisnis narkoba menjanjikan keuntungan yang besar.
5. Perdangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yang kuat dan profesional.
D. Penyebaran Narkoba di Indonesia
Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah, dengan maraknya narkotika dan
obat-obatan terlarang telah banyak mempengaruhi mental, sekaligus pendidikan bagi para pelajar
saat ini. Masa depan bangsa yang besar ini bergantung sepenuhnya pada upaya pembebasan kaum
muda dari bahaya narkoba. Narkoba telah menyentuh lingkaran yang semakin dekat dengan kita
semua. Teman dan saudara kita mulai terjerat oleh narkoba yang sering kali dapat mematikan.
Di Indonesia, perkembangan pencandu narkoba semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada
umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia
pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya
dengan rokok. Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan
pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut
bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya
mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.
E. Bahaya Narkoba Bagi Penggunanya
Penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda kian meningkat, maraknya penyimpangan
perilaku tersebut dapat membahaykan kehidupan bangsa di kemudian hari, karena pemuda sebagai
generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa. Semakin hari generasi muda yang mengkonsumsi
narkoba semakin rapuh karena di gerogoti narkoba dan zat – zat adiktif yang menghancurkan syaraf
sehingga generasi muda tidak dapat berpikir jernih.
Bagaimana pemuda akan menjadi generasi penerus bangsa jika bila mengurus diri sendiri sudah
tidak bisa. Akibatnya generasi harapan penerus bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal
harapan.
Penyalahgunaan obat jenis narkoba sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi susunan syaraf,
mengakibatkan ketagihan, dan ketergantungan, karena mempengaruhi susunan syaraf. Narkoba
menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, persepsi,dan kesadaran.
Pemakaian narkoba secara umum dan psikotropika yang tidak sesuai dengan aturan dapat
menimbulkan efek yang membahayakan tubuh. Beberapa dampak penggunaan narkoba adalah
sebagai berikut :
1. Depresan, yaitu menekan sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional tubuh
sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila
kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain opioda, dan
berbagai turunannya seperti morphin dan heroin. Contoh yang populer sekarang adalah Putaw.
2. Stimulan, merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Jenis
stimulan: kafein, kokain, amphetamin. Contoh yang sekarang sering dipakai adalah shabu-shabu dan
ekstasi.
3. Halusinogen, efek utamanya adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi.
Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari
jamur-jamuran. Selain itu ada jugayang diramu di laboratorium seperti LSD. Yang paling banyak
dipakai adalah marijuana atau ganja.
F. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Narkoba
Upaya pencegahan penyebaran narkoba di kalangan generasi muda sudah seharusnya menjadi
tanggung jawab bersama, dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat
harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman dari narkoba.
Adapun upaya – upaya lebih kongkret yang dapat dilakukan adalah melakukan kerja sama dengan
pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba, atau mungkin
mengadakan razia mendadak secara rutin.
Kemudian pendampingan dari orang tua siswa itu sendiri dengan memberikan perhatian dan kasih
saying.
Pihak sekolah harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya, karena
biasanya penyebaran (transaksi) narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan sekolah.
Yang tak kalah penting adalah, pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan kepada
siswa.
Karena salah satu penyebab terjerumusnya anak - anak ke dalam jerat narkoba ini adalah kurangnya
pendidikan moral dan keagamaan yang mereka pelajari dan mereka serap, sehingga perbuatan
tercela seperti ini pun, akhirnya mereka lakukan.

1. Upaya Pencegahan Bahaya Narkoba


Berikut ini beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah/ menghindari bahaya narkoba :
a. Jangan pernah untuk mencoba menggunakan narkoba, kecuali atas dasar pertimbangan medis
atau dokter.
b. Mengetahui dampak buruk dari narkoba.
c. Memilih pergaulan yang baik.
d. Memiliki kegiatan – kegiatan yang positif.
e. Bila mempunyai masalah cari jalan keluar yang baik dan jangan narkoba sebagai jalan pelarian.
Masih banyak lagi upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah generasi muda memakai narkoba.
dan untuk mencapainya harus ada kekompakan antara individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat
sekitar. Yang semuanya memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan
narkoba.
Pendekatan penanggulangan penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini belum benar-benar
terpadu dan terlihat setiap instansi atau kelompok masyarakat bekerja sendiri-sendiri sehingga hasil
yang diperoleh belum optimal. Sebenarnya banyak instansi selain Polri yang memiliki tugas
memberantas penyalahgunaan Narkoba.Belum ada upaya pembinaan khusus terhadap pengguna
sebagai korban, karena masih beranggapan bahwa para pengguna itu adalah penjahat dan tanpa
mendalami lebih jauh mengapa mereka sampai mengkonsumsi atau menyalahgunakan Narkoba.
Peran serta masyarakat sangat rendah karena mereka masih berpan-dangan bahwa pemberantasan
penyalahgunaan Narkoba adalah tugas dan tanggung jawab polisi. Dengan demikian mereka kurang
peduli dan kurang berpartisipasi aktif dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba. Ada
beberapa LSM yang peduli dalam penyalahgunan narkoba. Namun sayangnya kegiatan mereka
masih cenderung belum konsisten dan belum berkesinambungan. Mereka lebih banyak untuk
menyoroti dan mencari kelemahan dan kesalahan yang dilakukan oleh penyidik/aparat penegak
hukum dari pada melakukan kemitraan, dengan kata lain kadar kemitraannya dengan aparat
penegak hukum masih meragukan.
Sedangkan di lingkungan internal Polri sendiri, kegiatan antar fungsi masih belum terpadu dan belum
terencana secara baik. Yang terkesan hanya kegiatan represif saja oleh fungsi Reserse. Fungsi
Binamitra, Intelijen dan Samapta kurang proaktif dalam melakukan upaya pre-emtif dan preventif,
sebagai contoh bahwa penyuluhan atau komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat lebih
banyak menunggu jika ada permintaan dari pihak lain (kelompok masyarakat).
Fungsi Dokkes belum berperan secara maksimal dalam upaya kuratif dan rehabilitatif, yaitu
membantu korban atau pengguna untuk keluar dari ketergantungan terhadap Narkoba untuk dapat
hidup produktif kembali dalam masyarakat.
Dengan dibentuknya BKNN (Badan Koordinasi Narkotika Nasional) yang kemudian diubah menjadi
BNN (tahun 2002), yang lebih bersifat operasional, maka terlihat jelas bahwa penanganan kasus
penyalagunaan Narkoba menjadi lebih terkoordinasi, lebih banyak kasus terungkap dan juga lebih
banyak barang bukti dapat disita. Dan yang lebih penting lagi adalah akan lebih banyak lagi generasi
muda terselamatkan dari bahaya Narkoba.
2. Penanggulangan Bahaya Narkoba
Jika seseorang telah mengkonsumsi narkoba, maka orang itu akan kecanduan. Oleh karena itu,
berikut ini adalah beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi bahaya narkoba:
a. Langkah Represif
Upaya pemberantasan jalur gelap dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif
lainnya diperlukan upaya terpadu baik lingkungan nasional regional, maupun internasional. Bagi
Indonesia yang kondisi geografisnya terdiri dari ribuan pulau dengan garis pantai yang terbuka lebar
disadari sebagai wilayah yang amat rawan bagi lalu lintas gelap narkotika. Pemberantasan jalur
perdagangan gelap dan produksi narkotika di wilayah sumatera, jawa dan daerah lain selama ini
telah lebih intensif dilakukan oleh aparat. Bagi Indonesia yang kondisi geografisnya terdiri dari ribuan
pulau dengan garis pantai yang terbuka lebar disadari sebagai wilayah yang amat rawan bagi lalu
lintas gelap narkotika.
b. Pengobatan
Bagi korban penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya, pengobatan yang dilakukan dari segi
medis, dalam arti melepaskan ketergantungan secara fisik tidak begitu sulit yaitu dengan
pengobatan yang disebut dengan detoksifikasi yang memerlukn waktu sedikitnya tiga minggu.
Namun terkadang kekambuhan datang kembali dikarenakan faktor psikologis, atau kepribadian si
penderita, dan faktor lingkungan.
Biasanya pengobtan yang dijalankan pada rumah sakit yang khusus menangani korban narkotika dan
zat adiktif lainnya meliputi pengobatan detoksifikasi dilakukan dengan cara psikoterapi dengan
maksud dapat memperkuat kepribadian, kepercayaan diri, harga diri dan mengetahui arti hidup yng
berarti bagi si penderita, yang terakhir adalah dengan rehabilitasi medis. Para pecandu narkotika
biasanya mempunyai permasalahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, penyembuhan melalui sistem
pendekatan kemudian harus lihat dari berbagai segi dan faktor. Sejalan dengan pengobatan medis,
pembinaan mental spiritual terus dilakukan. Bimbingan psikiater secara kontinu sangat dibutuhkan
untuk menghindari kekambuhan kembali. Selanjutnya partisipasi masyarakat sangat diperlukan
teruatama dalam hal penerimaan bekas korban narkotika untuk kembali ke tengah masyarakat
untuk memulai hidup dengan wajar. Sedangkan bagi penderita yang sudah kritis secara fisik,
hendaknya dibawa ke rumah sakit yang khusus menangani penderita penyalahgunaan narkotika dan
zat adiktif lainnya.
c. Rehabilitasi
Tempat rehabilitasi dan sekaligus pengobatan terhadap korban penyalahgunaan narkotika dan zat
adiktif lainnya telah tersedia di berbagai tempat. Namun begitu yang lebih penting adalah
bagaimana si korban dapat bertahan dari kesembuhan, tidak kmbuh lagi sepulang dari panti
pengobatan dan rehabilitasi tersebut. Hal ini sangat memerlukan perhatian orang tua serta partisipsi
masyarakat untuk memberikan dorongan, kesempatan bergaul, semangat baru, dan harapan-
harapan baru diberikan kepadanya dan pendalaman agama untuk lebih bertaqwa kepada Tuhan
YME. Tanpa motivasi, bayang-bayang menuju kekambuhan akan lebih cepat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari isi dari karya tulis di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Narkoba adalah zat yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecanduan.
2. Jenis narkoba sudah banyak sekali, baik dari segi bentuknya maupun efeknya terhadap si
pengguna.
3. Penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba terdiri atas beberapa faktor, yaitu faktor diri,
faktor lingkungan, dan faktor ketersediaan narkoba.
4. Penyebaran narkoba di Indonesia sangat berkembang pesat. Narkoba tidak hanya ditemukan di
tempat hiburan malam dan kafe, namun narkoba juga dapat ditemukan di sekolah – sekolah.
5. Penyalahgunaan obat jenis narkoba sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi susunan
syaraf, mengakibatkan ketagihan, dan ketergantungan, karena mempengaruhi susunan syaraf.
6. Pencegahan bahaya narkoba dapat dilakukan oleh orang tua, pihak sekolah, dan lingungan
masyarakat. Jika telah menjadi pecandu narkoba, upaya yang dilakukan untuk menanggulangi
bahayanya adalah dengan langkah represif, pengobatan, dan rehabilitasi.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat memberi saran sebagai
berikut.
1. Jangan sekali – kali mengkonsumsi narkoba, karena jika telah mengkonsumsi narkoba maka
akan mengakibatkan kecanduan.
2. Orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat harus bekerja sama dalam mencegah
pelajar/seseorang mengkonsumsi narkoba.

Anda mungkin juga menyukai