PEDOMAN PROGRAM
PENGENDALIAN PENYAKIT ( P2 )
“ TUBERKULOSIS “
PUSKESMAS PERTIWI
DINAS KESEHATAN KOTA MAKASSAR
PUSKESMAS PERTIWI
Jl. Cenderawasih III No.II Telepon : ( 0411 ) 857230 Makassar
PEDOMAN PROGRAM P2PL TB
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
TB sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi DOTS
telah diterapkan di banyak negara sejak tahun 1995.
Dalam laporan WHO tahun 2012 diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB.
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang produktif secara
ekonomis (15 tahun – 50 tahun).
Penyebab utama meningkatnya masalah TB antara lain :
Kemiskinan pada berbagi kelompok masyarakat
Masyarakat masih mengalami masalah kondisi sanitasi, pangan,
papan dan sandang yang buruk
Kegagalan program TB
Besarnya masalah kesehatan lain yang dapat mempengaruhi
sehinga kasus TB meningkat
Pandemik HIV yang merupakan koinfeksi utamanya adalah TB
Munculnmya kasus kekebalan terhadapa obat anti TB akibat kasus
yang tidak berhasil ditangani membuat TB menjadi epidemi yang
sulit ditangani
Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif melalui percik dahak yang
dikeluarkannya. Namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan hasil
pemeriksaan BTA negatif tidak mengandung kuaman didalamnya. Tingkat
penularan pasien TB BTA positif adalah 65%, pasien TB BTA negatif dengan
kultur ( biakan ) adalah 26% sedangkan pasien TB BTA negatif dengan foto
thoraks positif adalah 17%.
B. TUJUAN
1. Tujuan jangka panjang
a. Menurunkan terjadinya kasus penyakit TB baru dan kasus
penularan TB
b. Maksimalnya program penanggulangan TB mulai dari penemuan
kasus, pengobatan sampai sembuh
2. Tujuan jangka pendek
a. Memaksimalkan penemuan kasus TB di masyarakat dan fasilititas
pelayanan kesehatan
b. Memaksimalkan pemeriksaan TB secara mikroskopis demi
menegakkan diagnosis TB
c. Penatalaksanan pengobatan yang sesuai dan tepat
d. Pencatatan dan pelaporan yang tepat demi mendapatkan gambaran
kasus TB di wilayah puskesmas
C. RUANG LINGKUP PELAYANAN
a. Pelayanan pengendalian TB dalam gedung
Pelayanan berupa identifikasi terduga TB, pemeriksaan dahak,
penegakan diagnosis serta pengobatan mulai dari poli umum sampai ke
layanan TB
b. Pelayanan pengendalian TB di masyarakat
Pelayanan berupa deteksi dini dan pelacakan kasus TB di puskesmas
keliling.
D. BATASAN OPERASIONAL
a. Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman dari kelompok Mycobacterium tuberculosis
b. Mycobacterium tuberculosis adalah kuman berbentuk batang yang
bersifat tahan asam, tahan terhadap suhu rendah tapi peka atau mati
terhadap panas dan sinar matahari
c. OAT adalah obat anti tuberculosis yang sediaanya dalam bentuk paket
atau lepas
d. DOTS atau Directly Observed Treatment, Shortcourse chemotherapy
e. Pasien TB baru adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan
TB sebelumnya atau pernah menelan OAT tapi kurang dari 1 bulan ( 28
hari )
f. Pasien kambuh adalah pasien TB yang pernah dinyatakan sembuhatau
pengobatan lengkap tetapi saat ini berdasarkan pemeriksaan di
diagnosis TB
g. Pasien yang diobati kembali setelah gagal adalah pasien TB yang pernah
di obati dan dinyatakan gagal pada pengobatan akhir
h. Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat adalah pasien yang
pernah diobati dan sekarang diobati kembali setelah putus berobat /
default
i. Multi Drug Resisten ( TB MDR ) adalah resisten terhadap Isoniazid ( H )
dan Rifampisin ( R )
j. Tuberkulosis ekstra paru adalah TB yang terjadi pada organ selain paru
misalnya : pleura, kelenjar limfe, sendi, selaput otak, tulang dll
E. LANDASAN HUKUM
a. Undang undang kesehatan no. 36 tentang kesehatan
b. PERMENKES No. 75 tahun 2014 tentang Puskesmas
c. Keputusan menteri kesehatan RI No. 128/Menkes/SK/I/2004 tentang
kebijakan dasar puskesmas
d. Buku Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, Kemenkes RI,
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Tahun 2014
BAB II
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Tata laksana Penderita
a. Penemuan Penderita
Penemuan penderita yang datang ke puskesmas dengan keluhan
yang terduga TB seperti batuk berdahak selama ≥ 2 minggu atau
disertai dengan keluhan batuk campu darah, batuk darah, sesak
nafas, keringat pada malam hari walaupun tanpa disertai kegiatan
b. Diagnosis TB
Untuk menentukan diagnosis perlu dilaksanakan dengan :
1. Pemeriksaan dahak
Pemeriksaan dahak dilakukan dengan mengumpulkan dahak
sebanyak 3 kali dalam waktu 2 hari
1.1S ( Sewaktu ) : dahak ditampung pada saat terduga
TB datang berkunjung ke puskesmas pertama kali
1.2P ( Pagi ) : terduga disuruh menampung dahak pada
pagi hari kedua, setelah bangun tidur
1.3S ( Sewaktu ) : dahak ditampung di puskesmas pada
hari kedua, saat terduga menyerahkan dahak pagi
2. Pemeriksaan biakan
Dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis pada kasus TB
tertentu :
2.1Pasien TB ekstra paru
2.2Pasien TB anak
2.3Pasien TB dengan hasil pemeriksaan dahak
mikroskopis langsung BTA negatif
3. Pemeriksaan uji kepekaan obat
Uji kepekaan obat bertujuan untuk menentukan ada tidaknya
resistensi terhadap OAT. Tes ini termasuk tes cepat yaitu
GeneXpert di laboratorium RS diantaranya RS Labuang Baji di
makassar
c. Klasifikasi dan tipe pasien TB
1. Berdasarkan konfirmasi hasil pemeriksaan
1.1Pasien TB berdasarkan konfirmasi pemeriksaan
bakteriologis
Adalah seorang pasien TB yang dikelompokkan berdasar
hasil pemeriksaan mikroskopis langsung, buiakan atau test
diagnostik cepat.
Termasuk didalam kelompok ini adalah
a. Pasien TB paru BTA positif
b. Pasien TB paru hasl biakan M.tb positif
c. Pasien TB paru hasil test cepat M.tb positif
d. Pasien TB ekstraparu terkonfirmasi secara bakteriologis,
baik dengan BTA, biakan maupun test cepat
e. TB anak terdiagnosis dengan pemeriksaan bakteriologis
1.2Pasien TB terdiagnosis secara klinis
Adalah pasien yang tidak memenuhi kriteria terdiagnosis
secara bakteriologis tetapi didiagnosis sebagai TB aktif oleh
dokter, dan diputuskan untuk diberikan pengobatana TB.
Termasuk didalam kelompok ini adalah
a. Pasien TB paru BTA negatif dengan hasil foto thoraks
mendukung TB
b. TB anak yang terdiagnosis sistem skoring.
2. Berdasarkan lokasi
2.1Tuberkulosis paru
Adalah TB yang terjadi pada parenkim ( jaringan ) paru
karena adanya lesi pada jaringan paru
2.2Tuberkulosis ekstra paru
Adalah TB yang terjadi pada organ selain paru, misalnya
pleura, kelenjar limfe, abdomen, sendi, selaput otak dan
tulang.
3. Berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya
3.1Pasien baru TB
Adalah pasien yang belum pernah mendapatkan
pengobatan TB sebelumnya atau sudah pernah menelan
OAT namun kurang dari 1 bulan ( < dari 28 dosis ).
3.2Pasien yang pernah di obati
Adalah pasien yang sebelumnya pernah menelan OAT
selama 1 bulan atau lebih ( ≥ dari 28 dosis ).
Pasien ini selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan hasil
pengobatan TB terakhir :
a. Pasien kambuh adalah pasien TB pernah dinyatkan
sembuh atau pengobatan lengkap dan saat ini
terdiagnosis TB berdasarkan hasil pemeriksaan
bakteriologis atau klinis
b. Pasien yang diobati kembali setelah gagal adalah pasien
TB yang pernah diobati dan dinyatakan gagal pada
pengobatan terakhir
c. Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat ( lost
to follow up ) adalah pasien yang pernah diobati dan
dinyatakan putus berobat.
d. Lain – l;ain adalah pasien TB yang pernah diobati
namun hasil akhir pengobatan sebelumnya tidak
diketahui.
4. Berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat
4.1Mono resistan ( TB RR ) adalah resisten terhadap salah
satu jenis OAT lini pertamasaja
4.2Poli resisten ( TB PR ) adalah resisten terhadap salah satu
jenis OAT lini pertamaselain isoniazid ( H ) dan Rifampisin
( R ) secara bersamaan.
4.3Multi Drug Resisten ( TB MDR ) adalah resisten terhadap
isoniazid ( H ) dan Rifampisin ( R ) secara bersamaan
4.4Extensive Drug Resisten ( TB XDR ) adalah TB MDR
sekaligus juga resisten terhadap salah satu OAT golongan
fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini kedua
serta suntikan ( kanamisin )
4.5Resisten Rifampisin ( TB RR ) adalah resisten terhadap
rifampisin dengan atau tanpa resistensi terhadap OAT lain
yang terdeteksi menggunakan test cepat.
5. Berdasarkan status HIV
5.1Pasien TB positif dengan HIV positif ( pasien ko-infeksi
TB/HIV )
5.2Pasien TB dengan HIV negatif
5.3Pasien TB dengan status HIV tidak diketahui
d. Pengobatan
1. Paduan OAT KDT Lini Pertama dan Peruntukannya
a) Kategori I : 2(HRZE) / 4(HR)3
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru :
1) Pasien TB Paru terkonfirmasi bakteriologis
( dahak SPS Positif }
2) Pasien TB Paru terdiagnosis klinis ( rontgen )
3) Pasien TB ektra paru
b) Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA Positif yang
pernah diobati sebelumnya ( pengobatan ulang ) :
1) Pasien kambuh
2) Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan
OAT kategori I sebelumnya
3) Pasien yang diobati kembali setelah putus
berobat
2. Paduan OAT pada anak
Paduan OAT anak yang digunakan oleh Program Nasioanl
Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia adalah : 2HRZ / 4 HR
B. Tata laksana program
1. Penemuan suspek TB Paru
2. Pengantaran slide
3. Penemuan pasien BTA positif
4. Pemeriksaan rapid test hiv dengan pasien TB yang diobati
BAB III
LOGISTIK
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan OAT
A. Kebutuhan OAT diberikan dalam bentuk blister berdasarkan
kategori I dan II dengan memperhatikan berat badan pasien dan
riwayat pengobatan sebelumnya
B. Untuk penyimpanan di puskesmas, obat disimpan oleh pengelola
dan disimpan dalam suhu ruangan
C. Obat diberikan sesuai dengan pencatatan pada TB 01
BAB IV
PENCATATAN DAN PELAPORAN
1. Pencatatan
1.1TB 01 : kartu pengobatan pasien
1.2TB 02 : kartu identitas pasien
1.3TB 03 : register TB fasilitas kesehatan
1.4TB 04 : register laboratorium TB untuk laboratorium
faskes mikroskopis dan atau tes cepat
1.5TB 05 : formulir permohonan laboratorium
pemeriksaan dahak
1.6 TB 06 : daftar terduga TB
1.7TB 09 : formulir rujukan / pindah pasien
2. Pelaporan
Pelaporan dilakukan setiap triwulan sekali ke supervisor di dinkes
kota serta pelaporan melalui aplikasi berbasis online SITT ( sistem
informasi tuberkulosis terpadu ).
BAB V
PENUTUP
Demikian pedoman ini dibuat dengan harapan sebagai acuan
dalam pelayanan P2TB di Puskesmas Pertiwi.