Anda di halaman 1dari 21

2 Teori Etika: Utilitarisme dan Deontologi

Salah satu cabang filsafat yaitu filsafat moral. Tampaknya filsafat moral tidak begitu lazim terdengar di telinga dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari jarang sekali yang menyebut filsafat moral tetapi etika. Benar, nama lain dari filsafat moral adalah etika. Jadi tidak usah dibingungkan dengan apa perbedaan filsafat moral dengan etika karena perbedaannya hanya terletak pada tulisannya saja. Pada tulisan sebelumnya sudah dibedakan antara etika dengan etiket, jadi silakan terlebih dahulu membaca Definisi Etika: Pengenalan Terhadap Filsafat Moral.

Ada 2 teori besar etika yang harus diketahui dan dipelajari terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kasus nyata yang erat dengan persoalan etika. Pembelajaran teori etika terlebih dahulu berguna untuk memperoleh kemudahan dalam mengupas persoalan etika. Jadi akan tahu betul teori etika apa yang sebaiknya digunakan untuk meninjau suatu kasus.

Utilitarisme
Teori ini menjadi terkenal sejak disistematisasikan oleh filsuf Inggris bernama John Stuart Mill dalam bukunya yang berjudul On Liberty. Sesuai dengan namanya utilitarisme berasal dari kata utility dengan bahasa latinnya utilis yang artinya bermanfaat. Teori ini menekankan pada perbuatan yang menghasilkan manfaat, tentu bukan sembarang manfaat tetapi manfaat yang paling banyak membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Dikaitkan dengan demokrasi tampaknya teori ini erat kaitannya. Dalam pemilihan suara pada Pemilihan Umum (PEMILU) suatu negara yang menganut asas demokrasi, calon presiden dengan suara terbanyak adalah presiden yang memenangkan pemilu. Meski pun perbandingannya hanya 49% dengan 51% tetap saja calon yang memperoleh suara terbanyak akan menang. Demikian pula dengan implementasi utilitarisme

Meski pun sudah dialami manfaat dari utilitarisme bukan berarti utilitarisme secara teoritis tidak memiliki masalah. Jika semua yang dikategorikan sebagai baik hanya diperoleh dari manfaat terbanyak bagi orang

terbanyak, maka apakah akan ada orang yang dikorbankan? Anggap saja ada anjing gila, anjing tersebut suka menggigit orang yang lewat. 7 dari 10 orang menyarankan anjing tersebut dibunuh sedangkan 3 lainnya menyarankan dibunuh. Penganut utilitarisme akan menjawab tentu yang baik jika anjing itu dibunuh. Lalu saran 3 orang tadi dikemanakan? Apakah mereka harus menerima itu begitu saja? Kalau menurut teori ini YA.

Kasus di atas hanyalah sebatas anjing bagaimana jika manusia? Bukan tidak mungkin hal ini terjadi bahkan sudah terjadi, tentu dalam perkembangan peradaban ada sejarah diskriminasi ras mau pun etnis. Kasus diskriminasi ras kulit hitam dan diskriminasi etnis Tionghoa sebelum tahun 1997 tampaknya tidak terdengar asing lagi di telinga. Salah satu sebab mereka didiskriminasikan karena mereka minoritas, dan mayoritas berhak atas mereka. Oleh utilitarisme hal ini dibenarkan selama diskriminasi membawa manfaat.

Dibalik kengerian dari aplikasi teori utilitarisme ini, ada pula hal yang melegakan. Salah satunya adalah ketika berkenaan dengan bisnis dan keuangan. Perhitungan ala utilitaris ini dapat berlaku sebagai tinjauan atas keputusan yang akan diambil. Mengingat dalam keuangan yang ada kebanyakan adalah angka-angka, jadi keputusan dapat diambil secara mudah berdasarkan jumlah terbanyak bagi manfaat terbanyak.

Teori ini juga dikatakan sebagai konsekuensionalisme karena segala keputusan diambil atas tinjauan konsekuensi. Konsekuensi paling menguntungkan adalah konsekuensi yang akan diambil.

Deontologi
Teori deontologi sebenarnya sudah ada sejak periode filsafat Yunani Kuno, tetapi baru mulai diberi perhatian setelah diberi penjelasan dan pendasaran logis oleh filsuf Jerman yaitu Immanuel Kant.

kata deon berasal dari Yunani yang artinya kewajiban. Sudah jelas kelihatan bahwa teori deontologi menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban berarti sudah melakukan kebaikan. Deontologi tidak terpasak pada konsekuensi perbuatan, dengan kata lain deontologi melaksanakan terlebih dahulu tanpa memikirkan akibatnya. Berbeda dengan utilitarisme yang mempertimbangkan hasilnya lalu dilakukan perbuatannya.

Lalu apa itu kewajiban menurut deontologi? Sulit untuk mendefinisikannya namun pemberian contoh mempermudah dalam memahaminya. Misalnya, tidak boleh menghina, membantu orang tua, membayar hutang, dan tidak berbohong adalah perbuatan yang bisa diterima secara universal. Jika ditanya secara langsung apakah boleh menghina orang? Tidak boleh, apakah boleh membantu orang tua? Tentu itu harus. Semua orang bisa terima bahwa berbohong adalah buruk dan membantu orang tua adalah baik. Nah, kirakira seperti itulah kewajiban yang dimaksud.

Jika dibandingkan dengan utilitarisme coba perhatikan lagi contoh anjing yang akan dieksekusi karena voting terbanyak mengatakan demikian. Dalam deontologi tidak demikian, jumlah terbanyak bukanlah ukuran yang menentukan kebaikan tetapi prinsiplah yang menentukan yaitu prinsip bahwa pembunuhan adalah perbuatan buruk dan bagaimana pun juga anjing itu tidak boleh dibunuh.

Thursday, November 25, 2010

Teori Utilitarianisme, Teori Egoisme, Teori Prinsip Kewajipan dan Teori Eksistentialisme.
Definisi dan ciri-ciri Teori Utilitarianisme, Teori Egoisme, Teori Prinsip Kewajipan dan Teori Eksistentialisme.

1.0 Pengenalan Teori Etika Teleologi: Utilitarianisme dan Egoisme.

Teori teleologi mengatakan bahawa nilai betul atau salah bergantung kepada kesan sesuatu perbuatan yang dikenali sebagai konsekuensialisme (consequentalism). Jadi, kriteria dan piawai asas tentang sesuatu (tindakan atau peraturan) yang baik, benar, salah, jahat dan sebagainya ialah penghasilan nilai bukan moral yang dianggap baik. Bagi teori ini, kebaikan atau kejahatan sesuatu ditentukan oleh nilai instrumentalnya. Seterusnya, sesuatu tindakan atau peraturan dianggap bermoral jika jumlah kebaikan yang dihasilkan melebihi kejahatan. Namun, pandangan ahli teleologi yang berbeza tentang apa yang dikatakan baik dan jahat telah menyebabkan wujudnya dua jenis teori teleologi yang berbeza iaitu Utilitarianisme dan Egoisme.

1.1 Teori Utilitarianisme: 1.1.1 Definisi: Utilitarianisme berpegang kepada prinsip bahawa seseorang itu sepatutnya melakukan sesuatu tindakan yang akan menghasilkan kebaikan yang paling banyak kepada setiap orang atau kebahagiaan yang paling banyak kepada sejumlah insan yang paling ramai. Kebahagiaan yang dimaksudkan ialah kesenorokan (sesuatu yang bukan bersifat moral).

1.1.2 Pengasas-pengasas: Jeremy Bentham (1748-1832) merupakan pengasas bagi teori ini dan seterusnya dikembangkan oleh anaknya, John Stuart Mill (1806-1873).

Jeremy Bentham, mengatakan bahawa manusia dikuasai dan dipengaruhi kesenorokan serta kesakitan, manakala kemoralan ialah usaha mencari kebahagiaan, iaitu kesenorokan.

Bagi John Stuart Mill (1806-1873) pula, beliau membezakan antara keseronokan dengan memasukkan aspek kualiti. Mill mengukur kualiti dan kuantiti sekaligus. Menurut Mill, petunjuk kualiti keseronokan adalah seperti tinggi/rendah, baik/buruk, baru/lama objektif/subjektif, dan. Faktor yang boleh mempengaruhi keseronokan pula ialah kecerdikan, pendidikan, sensitiviti, bermoral dalam tindakan dan kesihatan yang baik.

Beliau memperihalkan utilitarianisme seperti berikut: Prinsip Kebahagiaan Terbanyak yang menekankan bahawa sesuatu perlakuan itu benar atau baik mengikut kadar atau perimbangan kebahagiaan yang dimajukan dan dihasilkan oleh perlakuan itu. Kesenorokan (bebas daripada kesakitan) sebagai natijah atau hasil yang benar, baik dan yang diidamkan.

1.1.3 Penyokong: Quinton (1973), menggangap bahawa kebaikan sesuatu tindakan atau perlakuan ditentukan oleh nilai natijah daripada tindakan itu sendiri. Penentu nilai berkenaan ialah kesenorokan dan kesakitan yang wujud bersamanya.

1.1.4 Jenis dan Ciri-ciri: Utilitarianisme menggangap bahawa sesuatu perbuatan baik atau jahat bolehnya disukat. Pada peringkat paling rendah dipanggil act utilitarinisme. Kita harus bertanya kepada diri sendiri mengenai kesan akibat sesuatu tindakan dalam keadaan tertentu ke atas pihak-pihak yang terlibat sebelum sebarang tindakan diambil. Sekiranya tindakan tersebut menghasilkan kebaikan maka ia dianggap betul.

Jenis-jenis Utilitarianism:

Act utilitarianism: Ciri yang pertama adalah merekodkan akibat sesuatu perbuatan sama ada bermoral atau sebaliknya berdasarkan kajian kes. Ciri ini dipanggil act utilitarianism. Misalnya aktiviti riadah dengan menonton televisyen mungkin dianggap tidak bermoral kerana masa tersebut sepatutnya digunakan untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat seperti kerja kebajikan.

Hedonistic utilitarianism: Ciri yang kedua pula ialah mengambil kira kegembiraan, kesan daripada suatu tindakan dianggap bermoral. Ini kerana Bentham berpendapat, untuk menentukan benar atau salah (moraliti) tingkah laku individu, ianya perlu mengambil kira kesan dan akibatnya. Misalnya tindakan atau perbuatan yang boleh meningkatkan ciri kesetiaan dan persahabatan, sehingga mencetuskan ciri kegembiraan. Memutuskan persahabatan tetapi membahagiakan kedua-dua pihak yang terlibat adalah suatu yang dianggap bermoral.

Istilah yang selalunya dikaitkan dengan Teori Utilitarianisme adalah seperti berikut:

(a.) Istilah kebaikan: Pengalaman kesenorokan mestilah dikaitkan dengan kebaikan dan pengalaman kesakitan dikaitan dengan kejahatan. (b.) Istilah kebahagiaan: Menyamakan kesenorokan dengan kebahagiaan.

1.1.5 Contoh yang berkaitan: (a.) Pandangan peperangan dalam konsep Utilitarianisme Dalam memutuskan kemoralan melancarkan peperangan tertentu, seseorang itu mesti menimbangkan kemudaratan dan kebaikan yang mungkin terhasil. Peperangan dianggap wajar dari segi moral jika hasilnya membawa kebahagiaan dan kelebihan yang melebihi kesengsaraan dan penderitaan. Contohnya, utilitarianisme menyokong tindakan mengebom bandar Hiroshima (walaupun banyak yang tidak berdosa berkoban) untuk menamatkan perang dunia kedua. Hal ini kerana jika pihak jepun menang, dunia ini akan hilang sifat kemanusiaan dan kezaliman yang berleluasa. (b.) Pandangan tentang peraturan yang bermoral Sesuatu peraturan yang ditentukan mesti memaksimunkan keseronokan bagi semua yang terlibat. Misalnya, peraturan memakai seluar pendek di dalam kampus perguruan.

(c.) Tindakan mencuri Contohnya kalau seseorang itu mencuri wang daripada seseorang yang kaya dan kedekut dan kemudian di agihkan kepada si miskin di anggap baik, kerana bilangan orang yang beruntung adalah melebihi daripada seseorang kaya yang kena curi.

1.1.6 Kelemahan-kelemahan teori ini: 1. Intensiti keseronokan atau kesakitan adalah sesuatu perkara yang subjektif dan sukar untuk diukur. Intensiti ini adalah subjektif kerana perasaan setiap individu adalah berbeza. 2. Kualiti keseronokan atau kesakitan yang dialami oleh seseorang individu adalah tidak sama dengan orang lain.

1.2 Teori Egoisme: 1.2.1 Definisi:

Egoisme ditakrifkan sebagai teori yang menggangap nilai itu baik menguntungkan diri sendiri dan nilai itu buruk jika sesuatu itu merugikan diri sendiri.

jika

1.2.2 Pengasas: Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844 1900), ialah seorang ahli falsafah yang mengkritik utilitarianisme. Bagaimanapun, beliau lebih kuat menentang kemoralan sosial iaitu yang berasaskan tradisi dan peraturan masyarakat.

Nietzche mengenal pasti dua kumpulan besar manusia iaitu kumpulan rakyat jelata yang miskin dan kumpulan bangsawan yang kaya. Kumpulan rakyat jelata adalah ramai dan lemah. Manakala golongan bangsawan ini minoriti tetapi kuat. Oleh itu, rakyat jelata ini selalunya menyimpan perasaan benci dan dendam terhadap gologan bangsawan ini.

Hal ini telah menyebabkan kaum bangsawan melihat diri mereka sebagai durjana dan jahat. Mereka melihat nilai asal mereka (individualisme atau egoisme) sebagai salah. Usaha rakyat memperkenalkan peraturan moral ini mengandungi konsep seperti pengorbanan diri, rasa bersalah, suara batin, kepercayaan agama dan lain-lain. Bagi Nietzsche, mencipta tuhan atau menyedarkan wujudnya tuhan dan agama yang melindungi golongan rakyat ini adalah hasil daripada pemberontakan. Jadi, rakyat berjaya menjadikan etika dan kemoralan yang salah itu menjadi benar yang berpunca daripada perundangan tuhan.

Jadi, sesuatu tindakan itu mesti menguntungkan diri. Nietzsche ialah seorang egois yang mahu melihat kaum bangsawan untuk berkembang dan menjadi tuan kepada kod etika, peraturan dan undang-undang moral.

1.2.3 Jenis dan ciri-ciri: Egoisme boleh dibahagikan kepada Egoisme Psikologi atau Egoisme Etika. Egoisme Psikologi Egoisme Etika

satu teori deskriptif mengatakan Memberitahu (pescribe) bagaimana bagaimana orang melakukan tindakan. mereka perlu bertindak.

Berpendapat bahawa semua orang adalah selfish.

Berpendapat bahawa semua orang perlu selfish.

Rajah 2

Egois biasanya mementingkan diri sendiri sahaja dan tidak mengambil kira kepentingan orang lain, sebaliknya menindas dan mengeksploitasi orang lain. Egois tiada iltizam untuk berbakti kepada masyarakat dan menjalankan kerja sukarela. Mereka ini benci kepada pertubuhan atau organisasi. Nietzsche memperakui nilai sesuatu sistem peraturan tetapi beliau menentang peraturan mutlak. Peraturan mestilah bersifat individualistik.

1.2.4 Contoh yang berkaitan: a) Tindakan membantu orang lain Contohnya, dalam kemalangan kebakaran, kita tidak sepatutnya menyelamatkan mangsa kerana dikhuatiri akan membahayakan nyawa diri. Bagi contoh lain, Seseorang itu dianggap tidak beretika apabila tindakannya menolong orang buta melintasi jalan raya, tetapi berkesudahan dengan kecelakaan.

b) Tindakan peperangan Kajian kes British menakluki negeri-negeri Melayu sebelum Malaysia merdeka, tindakan British mengeksploitasi bahan mentah di negeri-negeri melayu untuk tujuan kepentingan diri. Dalam situasi ini, British dianggap golongan bangsawan yang kuat. Manakala orang tempatan dianggap lemah dan selalunya memberontak mengunakan prinsip ketuhanan (hak mereka sebagai pemilik) untuk mempertahankan diri. Jadi, peperangan British untuk menakluki tanah melayu adalah bermoral. c) Tindakan kegiatan pertubuhan Kegiatan pertubuhan yang wujud adalah tidak bermoral kerana ianya dianggap sebagai suatu fahaman baru untuk mempengaruhi orang lain. Contohnya, pertubuhan parti-parti politik.

1.2.5 Kelemahan-kelemahan: 1. Egoisme tidak mengutamakan kemurahan hati kerana mengejar kepentingan diri sendiri, hal ini memudaratkan orang lain. 2. Peraturan yang bersifat individualistik ini menyebabkan tiada satu piawaian atau ukuran untuk menghakimi sesutau tindakan.

1.2.6 Kesimpulan:

Prinsip Utilitarianisme yang dikemukakan mendukung bahawa kita seharusnya memaksimunkan kebahagiaan dan meminimunkan kesakitan. Manakala pengajaran Egoisme pula menyokong etika individualisme. Oleh itu, dalam kehidupan seharian, kita mestilah berjaga-jaga dan berwaspada dalam menerima fahaman atau pendapat daripada mana-mana pihak.

2.0 Pengenalan Teori Deontologi: Prinsip Kewajipan dan Eksistensialisme

Deontologi berasal dari perkataan Yunani "deon" yang bermaksud "yang diharuskan atau diwajibkan". Teori deontologi terdiri daripada pelbagai jenis pandangan yang berbeza. Teori deontologi menafikan atau menolak apa yang diperakui teori telelogi. Teori deontologi menegaskan bahawa ada pertimbangan dan fakta yang lain bernilai intrinsik yang menyebabkan seseuatu perlakuan atau peraturan itu patut, baik, benar dan diwajibkan. Teori deontologi mementingkan sifat perlakuan atau ciri peraturan itu sendiri. Seperti Teori Teleologikal, terdapat beberapa jenis teori deontologi iatu teori deontologi-lakuan (eksistensialisme) dan teori deontolofi-peraturan (prinsip kewajiban).

Deontologi selalu dikaitkan dengan Immanuel Kant, seorang ahli flasafah German (1724-1804) yang pernah mengajar di University of Konigsberg di bahagian barat Rusia. Kant percaya bahawa apa yang memberi nilai moral kepada sesuatu tindakan bukan akibatnya kerana akibat-akibat tindakan kita tidak sentiasa berada di bawah kawalan kita. Akan tetapi motif (niat) tindakan kita adalah di bawah kawalan kita dan, oleh itu, kita harus bertanggungjawab secara moral atas motif kita untuk membuat kebaikan atau keburukan.

Thursday, November 25, 2010

Teori Utilitarianisme, Teori Egoisme, Teori Prinsip Kewajipan dan Teori Eksistentialisme.
Definisi dan ciri-ciri Teori Utilitarianisme, Teori Egoisme, Teori Prinsip Kewajipan dan Teori Eksistentialisme.

1.0 Pengenalan Teori Etika Teleologi: Utilitarianisme dan Egoisme.

Teori teleologi mengatakan bahawa nilai betul atau salah bergantung kepada kesan sesuatu perbuatan yang dikenali sebagai konsekuensialisme (consequentalism). Jadi, kriteria dan piawai asas tentang sesuatu (tindakan atau peraturan) yang baik, benar, salah, jahat dan sebagainya ialah penghasilan nilai bukan moral yang dianggap baik. Bagi teori ini, kebaikan atau kejahatan sesuatu ditentukan oleh nilai instrumentalnya. Seterusnya, sesuatu tindakan atau peraturan dianggap bermoral jika jumlah kebaikan yang dihasilkan melebihi kejahatan. Namun, pandangan ahli teleologi yang berbeza tentang apa yang dikatakan baik dan jahat telah menyebabkan wujudnya dua jenis teori teleologi yang berbeza iaitu Utilitarianisme dan Egoisme.

1.1 Teori Utilitarianisme: 1.1.1 Definisi: Utilitarianisme berpegang kepada prinsip bahawa seseorang itu sepatutnya melakukan sesuatu tindakan yang akan menghasilkan kebaikan yang paling banyak kepada setiap orang atau kebahagiaan yang paling banyak kepada sejumlah insan yang paling ramai. Kebahagiaan yang dimaksudkan ialah kesenorokan (sesuatu yang bukan bersifat moral).

1.1.2 Pengasas-pengasas:

Jeremy Bentham (1748-1832) merupakan pengasas bagi teori ini dan seterusnya dikembangkan oleh anaknya, John Stuart Mill (1806-1873).

Jeremy Bentham, mengatakan bahawa manusia dikuasai dan dipengaruhi kesenorokan serta kesakitan, manakala kemoralan ialah usaha mencari kebahagiaan, iaitu kesenorokan.

Bagi John Stuart Mill (1806-1873) pula, beliau membezakan antara keseronokan dengan memasukkan aspek kualiti. Mill mengukur kualiti dan kuantiti sekaligus. Menurut Mill, petunjuk kualiti keseronokan adalah seperti tinggi/rendah, baik/buruk, baru/lama objektif/subjektif, dan. Faktor yang boleh mempengaruhi keseronokan pula ialah kecerdikan, pendidikan, sensitiviti, bermoral dalam tindakan dan kesihatan yang baik.

Beliau memperihalkan utilitarianisme seperti berikut: Prinsip Kebahagiaan Terbanyak yang menekankan bahawa sesuatu perlakuan itu benar atau baik mengikut kadar atau perimbangan kebahagiaan yang dimajukan dan dihasilkan oleh perlakuan itu. Kesenorokan (bebas daripada kesakitan) sebagai natijah atau hasil yang benar, baik dan yang diidamkan.

1.1.3 Penyokong: Quinton (1973), menggangap bahawa kebaikan sesuatu tindakan atau perlakuan ditentukan oleh nilai natijah daripada tindakan itu sendiri. Penentu nilai berkenaan ialah kesenorokan dan kesakitan yang wujud bersamanya.

1.1.4 Jenis dan Ciri-ciri: Utilitarianisme menggangap bahawa sesuatu perbuatan baik atau jahat bolehnya disukat. Pada peringkat paling rendah dipanggil act utilitarinisme. Kita harus bertanya kepada diri sendiri mengenai kesan akibat sesuatu tindakan dalam keadaan tertentu ke atas pihak-pihak yang terlibat sebelum sebarang tindakan diambil. Sekiranya tindakan tersebut menghasilkan kebaikan maka ia dianggap betul.

Jenis-jenis Utilitarianism:

Act utilitarianism: Ciri yang pertama adalah merekodkan akibat sesuatu perbuatan sama ada bermoral atau sebaliknya berdasarkan kajian kes. Ciri ini dipanggil act utilitarianism. Misalnya aktiviti

riadah dengan menonton televisyen mungkin dianggap tidak bermoral kerana masa tersebut sepatutnya digunakan untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat seperti kerja kebajikan.

Hedonistic utilitarianism: Ciri yang kedua pula ialah mengambil kira kegembiraan, kesan daripada suatu tindakan dianggap bermoral. Ini kerana Bentham berpendapat, untuk menentukan benar atau salah (moraliti) tingkah laku individu, ianya perlu mengambil kira kesan dan akibatnya. Misalnya tindakan atau perbuatan yang boleh meningkatkan ciri kesetiaan dan persahabatan, sehingga mencetuskan ciri kegembiraan. Memutuskan persahabatan tetapi membahagiakan kedua-dua pihak yang terlibat adalah suatu yang dianggap bermoral.

Istilah yang selalunya dikaitkan dengan Teori Utilitarianisme adalah seperti berikut:

(a.) Istilah kebaikan: Pengalaman kesenorokan mestilah dikaitkan dengan kebaikan dan pengalaman kesakitan dikaitan dengan kejahatan. (b.) Istilah kebahagiaan: Menyamakan kesenorokan dengan kebahagiaan.

1.1.5 Contoh yang berkaitan: (a.) Pandangan peperangan dalam konsep Utilitarianisme Dalam memutuskan kemoralan melancarkan peperangan tertentu, seseorang itu mesti menimbangkan kemudaratan dan kebaikan yang mungkin terhasil. Peperangan dianggap wajar dari segi moral jika hasilnya membawa kebahagiaan dan kelebihan yang melebihi kesengsaraan dan penderitaan. Contohnya, utilitarianisme menyokong tindakan mengebom bandar Hiroshima (walaupun banyak yang tidak berdosa berkoban) untuk menamatkan perang dunia kedua. Hal ini kerana jika pihak jepun menang, dunia ini akan hilang sifat kemanusiaan dan kezaliman yang berleluasa. (b.) Pandangan tentang peraturan yang bermoral Sesuatu peraturan yang ditentukan mesti memaksimunkan keseronokan bagi semua yang terlibat. Misalnya, peraturan memakai seluar pendek di dalam kampus perguruan.

(c.) Tindakan mencuri Contohnya kalau seseorang itu mencuri wang daripada seseorang yang kaya dan kedekut dan kemudian di agihkan kepada si miskin di anggap baik, kerana bilangan

orang yang beruntung adalah melebihi daripada seseorang kaya yang kena curi.

1.1.6 Kelemahan-kelemahan teori ini: 1. Intensiti keseronokan atau kesakitan adalah sesuatu perkara yang subjektif dan sukar untuk diukur. Intensiti ini adalah subjektif kerana perasaan setiap individu adalah berbeza. 2. Kualiti keseronokan atau kesakitan yang dialami oleh seseorang individu adalah tidak sama dengan orang lain.

1.2 Teori Egoisme: 1.2.1 Definisi: Egoisme ditakrifkan sebagai teori yang menggangap nilai itu baik menguntungkan diri sendiri dan nilai itu buruk jika sesuatu itu merugikan diri sendiri. jika

1.2.2 Pengasas: Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844 1900), ialah seorang ahli falsafah yang mengkritik utilitarianisme. Bagaimanapun, beliau lebih kuat menentang kemoralan sosial iaitu yang berasaskan tradisi dan peraturan masyarakat.

Nietzche mengenal pasti dua kumpulan besar manusia iaitu kumpulan rakyat jelata yang miskin dan kumpulan bangsawan yang kaya. Kumpulan rakyat jelata adalah ramai dan lemah. Manakala golongan bangsawan ini minoriti tetapi kuat. Oleh itu, rakyat jelata ini selalunya menyimpan perasaan benci dan dendam terhadap gologan bangsawan ini.

Hal ini telah menyebabkan kaum bangsawan melihat diri mereka sebagai durjana dan jahat. Mereka melihat nilai asal mereka (individualisme atau egoisme) sebagai salah. Usaha rakyat memperkenalkan peraturan moral ini mengandungi konsep seperti pengorbanan diri, rasa bersalah, suara batin, kepercayaan agama dan lain-lain. Bagi Nietzsche, mencipta tuhan atau menyedarkan wujudnya tuhan dan agama yang melindungi golongan rakyat ini adalah hasil daripada pemberontakan. Jadi, rakyat berjaya menjadikan etika dan kemoralan yang salah itu menjadi benar yang berpunca daripada perundangan tuhan.

Jadi, sesuatu tindakan itu mesti menguntungkan diri. Nietzsche ialah seorang egois yang mahu melihat kaum bangsawan untuk berkembang dan menjadi tuan kepada kod etika, peraturan dan undang-undang moral.

1.2.3 Jenis dan ciri-ciri: Egoisme boleh dibahagikan kepada Egoisme Psikologi atau Egoisme Etika. Egoisme Psikologi Egoisme Etika

satu teori deskriptif mengatakan Memberitahu (pescribe) bagaimana bagaimana orang melakukan tindakan. mereka perlu bertindak.

Berpendapat bahawa semua orang adalah selfish.

Berpendapat bahawa semua orang perlu selfish.

Rajah 2

Egois biasanya mementingkan diri sendiri sahaja dan tidak mengambil kira kepentingan orang lain, sebaliknya menindas dan mengeksploitasi orang lain. Egois tiada iltizam untuk berbakti kepada masyarakat dan menjalankan kerja sukarela. Mereka ini benci kepada pertubuhan atau organisasi. Nietzsche memperakui nilai sesuatu sistem peraturan tetapi beliau menentang peraturan mutlak. Peraturan mestilah bersifat individualistik.

1.2.4 Contoh yang berkaitan: a) Tindakan membantu orang lain Contohnya, dalam kemalangan kebakaran, kita tidak sepatutnya menyelamatkan mangsa kerana dikhuatiri akan membahayakan nyawa diri. Bagi contoh lain, Seseorang itu dianggap tidak beretika apabila tindakannya menolong orang buta melintasi jalan raya, tetapi berkesudahan dengan kecelakaan.

b) Tindakan peperangan Kajian kes British menakluki negeri-negeri Melayu sebelum Malaysia merdeka, tindakan British mengeksploitasi bahan mentah di negeri-negeri melayu untuk tujuan kepentingan diri. Dalam situasi ini, British dianggap golongan bangsawan yang kuat. Manakala orang tempatan dianggap lemah dan selalunya memberontak mengunakan prinsip ketuhanan (hak mereka sebagai pemilik) untuk mempertahankan diri. Jadi, peperangan British untuk menakluki tanah melayu adalah bermoral. c) Tindakan kegiatan pertubuhan

Kegiatan pertubuhan yang wujud adalah tidak bermoral kerana ianya dianggap sebagai suatu fahaman baru untuk mempengaruhi orang lain. Contohnya, pertubuhan parti-parti politik.

1.2.5 Kelemahan-kelemahan: 1. Egoisme tidak mengutamakan kemurahan hati kerana mengejar kepentingan diri sendiri, hal ini memudaratkan orang lain. 2. Peraturan yang bersifat individualistik ini menyebabkan tiada satu piawaian atau ukuran untuk menghakimi sesutau tindakan.

1.2.6 Kesimpulan: Prinsip Utilitarianisme yang dikemukakan mendukung bahawa kita seharusnya memaksimunkan kebahagiaan dan meminimunkan kesakitan. Manakala pengajaran Egoisme pula menyokong etika individualisme. Oleh itu, dalam kehidupan seharian, kita mestilah berjaga-jaga dan berwaspada dalam menerima fahaman atau pendapat daripada mana-mana pihak.

2.0 Pengenalan Teori Deontologi: Prinsip Kewajipan dan Eksistensialisme

Deontologi berasal dari perkataan Yunani "deon" yang bermaksud "yang diharuskan atau diwajibkan". Teori deontologi terdiri daripada pelbagai jenis pandangan yang berbeza. Teori deontologi menafikan atau menolak apa yang diperakui teori telelogi. Teori deontologi menegaskan bahawa ada pertimbangan dan fakta yang lain bernilai intrinsik yang menyebabkan seseuatu perlakuan atau peraturan itu patut, baik, benar dan diwajibkan. Teori deontologi mementingkan sifat perlakuan atau ciri peraturan itu sendiri. Seperti Teori Teleologikal, terdapat beberapa jenis teori deontologi iatu teori deontologi-lakuan (eksistensialisme) dan teori deontolofi-peraturan (prinsip kewajiban).

Deontologi selalu dikaitkan dengan Immanuel Kant, seorang ahli flasafah German (1724-1804) yang pernah mengajar di University of Konigsberg di bahagian barat Rusia. Kant percaya bahawa apa yang memberi nilai moral kepada sesuatu tindakan bukan akibatnya kerana akibat-akibat tindakan kita tidak sentiasa berada di bawah kawalan kita. Akan tetapi motif (niat) tindakan kita adalah di bawah kawalan kita dan, oleh itu, kita harus bertanggungjawab secara moral atas motif kita untuk membuat kebaikan atau keburukan.

2.1 Prinsip Kewajipan: 2.1.1. Definisi: Menegaskan duty for the sake of duty, iaitu tanggungjawab dilaksanakan semata-mata kerana amalan itu merupakan satu tanggungjawab.

2.1.2. Pengasas: Immanuel Kant (1724 - 1804)

2.1.3. Ciri-ciri: a) Konsep tekad baik (Goodwill) Sesuatu tindakan yang datang daripada kesedaran untuk menunaikan tanggungjawab akan melahirkan perbuatan yang benar dari segi moral.Kant menyatakan perkara-perkara yang baik ialah membuat sesuatu bakat minda seperti kebijaksanaan dan kecerdasan pemikiran, keberanian dan kesederhanaan pemikiran. Dalam konteks ini, Kant tidak mahu menganggap sesuatu tekad itu baik atas sebab apa yang telah atau ingin atau boleh dicapai dan dihasilkan oleh tekad itu. Motif tunggal tekad baik hanya berlaku apabila menganggap ia sebagai mengamalkan kewajipan. Ini kerana untuk mengamalkan kewajipan, sesuatu tekad itu baik kerana batinnya atau semangat dalamannya. Dengan kata lain, yang baik dan patut diberi pujian moral ialah mengamalkan kewajipan itu semata-mata kerana amalannya ialah suatu kewajipan. Kant juga menjelaskan bahawa mengamalkan kewajipan sedemikian adalah serupa dengan bertingkah laku wajar kerana memuliakan atau menghormati undang-undang.

b) Perintah Mutlak Tanpa Syarat (Categorical Imperative) Apabila sesuatu peraturan dibentuk, setiap orang mesti mematuhinya setiap masa tanpa sebarang pengecualian dan persoalan. Kant menjelaskan bahawa individu yang baik dari segi moral dengan tekad baik yang mutlak ialah individu yang sentiasa berkelakuan atau bertindak atas dasar kewajipan atau kerana menghormati undang-undang. Individu ini akan memilih kewajipan dan kepatuhan kepada undang-undang dan tidak akan memilih kecenderungan tertentu jika dia terpaksa membuat sesuatu pilihan.

Kewajipan atau undang-undang mutlak ini dikenali, diperihalkan, diperaku dan digambarkan oleh Kant sebagai satu set prinsip moral (yang lebih dikenali sebagai categorical imperative atau perintah mutlak atau tanpa syarat). Prinsip moral yang ditetapkan oleh individu untuk dirinya sendiri (seperti tidak cakap bohong) mesti dipatuhi oleh orang lain. Dengan kata lain, individu itu mesti bertindak sebagaimana dia inginkan orang lain bertindak. Secara rumusnya, prinsip moral individu itu sewajarnya melambangkan undang-undang yang objektif dan sejagat. Dengan ini menjelaskan bahawa Kant

meletakkan konsep pematuhan kepada prinsip sendiri sebagai suatu undang-undang sejagat adalah formula asas prinsip kemoralan.

2.1.4. Contoh yang berkaitan: a) GOOD WILL Seseorang yang menyambung pelajaran selepas mendapat keputusan SPM atas kesedaran diri sendiri kerana memikirkan ianya satu tanggungjawab adalah satu perbuatan yang beretika, manakala belajar kerana terpaksa boleh dianggap tidak beretika. Seseorang pelajar belajar bersungguh-sungguh atau tekun untuk mendapatkan markah yang tinggi dalam peperiksaaan atas kesedaran diri sendiri kerana dia memikirkannya ialah satu tanggungjawab. Dengan ini, ia merupakan satu perbuatan yang beretika. b) CATEGORICAL IMPERATIVE Menipu dalam peperiksaan adalah satu kesalahan kerana rasionalnya adalah walaupun menipu boleh membantu anda mendapat markah yang tinggi dalam peperiksaan, ia tetap dihina orang kerana ia adalah satu tindakan yang tidak adil. Mencuri merupakan satu kesalahan tidak kira bahan yang dicuri itu besar atau kecil, mahal atau murah dan sebagainya. Walapun mencuri boleh membantu kita mendapatkan bahan yang diinginkan atau wang, tetapi kita akan dihina oleh orang lain atau disalahkan di sisi undang-undang. Membohong merupakan satu amalan atau tingkah laku yang salah secara rasionalnya. Ia adalah satu kesalahan kerana ia mungkin akan menimbulkan masalah kepada orang yang kita bohong dan kehilangan kepercayaan orang lain terhadap kita. Oleh itu, sejak kecil lagi kita dididik supaya tidak cakap bohong

2.1.5. Kritikan terhadap Prinsip Kewajipan Walaupun telah ditegaskan dari awal bahawa tanggungjawab dilaksanakan sematamata kerana amalan itu ialah tanggungjawab tetapi apabila timbul keadaan di mana dua kewajipan berkonflik, sukar untuk memilih mana yang perlu diutamakan. Ini merupakan satu kelemahan dalam Prinsip Kewajipan.

Rajah 7

Dalam situasi di atas, pelajar tersebut mempunyai dua kewajipan iaitu sebagai pelajar dia perlu menyiapkan tugasnya dan sebagai anak, dia perlu membantu ibu dengan kerja rumah kerana ibunya tidak sihat. Apabila terdapat konflik di antara dua tanggungjawab, Prinsip Kewajipan kurang jelas dan tanggungjawab diutamakan mengikut prinsip etika yang lain.

2.2 Eksistensialisme: 2.2.1. Definisi: Menegaskan bahawa nilai buruk mesti berasaskan pilihan individu secara bebas. Sebaliknya, pilihan individu menjadi nilai buruk jika kerana dipaksa. Eksistensialisme boleh ditakrifkan dengan senang, tetapi apa yang menjadikannya sukar difahami ialah terdapat dia aliran eksistensialisme yang berlainan pandangan iaitu: a) Eksistensialisme yang beragama kristian, termaksuk Karl Jaspers dan Gabriel Marcell, kedua-duanya katolik; b) Eksistensialisme ateistik (ateis ialah orang yang tidak percaya kewujudan Tuhan), termasuk Martin Heidegger dan beberapa oranga eksistensialis Perancis serta Sarte sendiri.

2.2.2. Pelopor: Jean-Paul Sartre (1905-1980)

Menurut Sarte, manusia tidak mempunyai penciptanya dan fungsi manusia sudah ditentukan. Bagaimana manusia itu menjadi bermoral atau tidak bermoral bergantung kepada pilihan yang dibuatnya dalam pelbagai peringat kehidapannya.

2.2.3. Ciri-ciri: Eksistensialisme melemahkan peraturan tradisional dan mutlak yang berfungsi sebagai panduan moral. Bagi eksistensialisme, kemoralan berasaskan andaian "kebebasan". Menurut Satre, jika individu mematuhi peraturan masyarakat secara buta tuli, dia mempunyai pandangan "mitologi" yang menjejaskan kebebasannya. Mitos ini mesti dihapuskan dari alam kemoralan.

Tidak dapat dinafikan bahawa individu tidak dapat membuat apa-apa terhadap hakikat bahawa dia telah lahir, bagaimana dia lahir, dalam abad berapa dia lahir, ibu bapanya dan lain-lain, tetapi dia boleh menentukan bagaimana dia hendak hidup.Individu mesti bertanggungjawab terhadap pertimbangan dan tingkah laku moralnya sendiri. Aspek ini sama dengan pandangan Heideggar yang memperkenalkan konsep "kewujudan sah". Kewujudan ini merujuk kepada individu membuat pilihan dan keputusan moral yang tulen dan tidak membenarkan dirinya dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan orang lain dalam membuat pilihan dan keputusan moral. Apabila individu itu membenarkan orang lain membuat pilihan moral untuk dirnya, dia dianggap berada dalam kewujudan yang tidak sah.

Golongan eksistensialisme menitikberatkan kebebasan memilih (freedom of choice) dalam situasi yang mereka berada. Terdapat tiga bentuk kebebasan: Kebebasan jasmani Kebebasan kehendakKebebasan moral Kebebasan moral bermaksud kebebasan bertindak tanpa amanah, paksaan dan larangan. Mengikut eksistensialisme, seseorang itu merasakan kewajipannya bukan suatu yang dipaksa dari luar, tetapi sesuatu yang dikehendaki olehnya sendiri. Dengan menjauhi semua prinsip dan peraturan moral, individu mesti menggunakan kebebasannya untuk mendapat fakta yang betul berhubung dengan situasi yang dihadapinya, iaitu menilai secar teliti situasi berkenaan, kemudian membuat pilihan dan keputusan moralnya sendiri. Eksistensialisme menekankan pilihan terus daripada sumber asal (first hand choice).

2.2.4. Contoh yang berkaitan: 1. Menderma kepada institusi agama adalah nilai baik jika dilakukan kerana pilihan sendiri tetapi menjadi nilai buruk jika kerana terpaksa. 2. Seseorang tidak dilahirkan sebagai seorang guru. Sebaliknya, dia memilih untuk menjadi guru. Ia adalah nilai baik jika dilakukan kerana pilihan sendiri tetapi menjadi nilai buruk jika kerana terpaksa. Oleh itu, setiap individu bebas memilih atau menentukan apa yang disukainya.

3.

Menjalankan khidmat sosial di rumah-rumah orang yatim atau orang tua adalah nilai baik jika ia dilakukan atas pilihan sendiri. Ia akan menjadi nilai buruk jika ia dilakukan atas paksaan.

1.2.5. Kritikan terhadap Prinsip Kewajipan Oleh kerana Prinsip Eksistensialisme memegang pada prinsip bahawa nilai baik atau nilai buruk mesti berasaskan kepada pilihan individu secara bebas, isu tentang relativisme akan timbul. Menurut Satre, peraturan dan prinsip adalah terlalu abstrak dan tidak ada peraturan yang boleh digunakan oleh manusia untuk menentukan apa tindakan yang akan diambil atau apa yang betul. Dalam keadaan ini, relativisme individu dianggap sebagai mutlak.

Rajah 9

Dalam situasi di atas, Jaysha telah membuat keputusan berasaskan keadaan persekitaran dan ingin memilih keputusan hendak menjadi GRO yang pada anggapannya meringankan beban kewangan ibu bapa dan pada masa yang sama memberinya pendapatan yang lumayan. Tetapi keputusan ini mungkin tidak baik dari segi moral sebab ibu baoa Jaysha san masyarakat setempat mungkin mempunyai standard moral yang berbeza dengan Jaysha.

2.2.6. Kesimpulan: Prinsip kewajipan menegaskan bahawa tanggungjawab yang kita dilaksanakan semata-mata kerana amalan itu merupakan satu tanggungjawab. Manakala Eksistensialisme menyatakan pilihan seseorang individu adalah penting dan untuk menentukan sama ada nilai tersebut adalah baik atau buruk. Oleh itu, kita haruslah bijaksana dalam membuat keputusan atau pilihan dalam kehidupan seharian.