Anda di halaman 1dari 8

Komplikasi Tonsilitis Akut

Meskipun jarang, tonsilitis akut dapat menimbulkan komplikasi lokal yaitu abses
peritonsil, abses paraIaring dan otitis media akut. Komplikasi lain yang bersiIat sistemik dapat
timbul terutama oleh kuman Streptokokus beta hemolitikus berupa sepsis dan inIeksinya dapat
tersebar ke organ lain seperti bronkus (bronkitis), ginjal (neIritis akut & glomeruloneIritis akut),
jantung (miokarditis & endokarditis), sendi (artritis) dan vaskuler (plebitis).
Terapi Tonsilitis Akut
1. %onsilitis akut pada dasarnya termasuk penyakit yang dapat sembuh sendiri (selI-limiting
disease) terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh yang baik.
2. Pasien dianjurkan istirahat dan makan makanan yang lunak.
3. Berikan pengobatan simtomatik berupa analgetik, antipiretik, dan obat kumur yang
mengandung desinIektan.
4. Pemberian antibiotika tidak dianjurkan karena penyebab tonsilitis sebagian besar karena
virus. Pemberian antibiotika hanya diberikan bila dicurigai penyebab inIeksinya adalah
bakteri (yang paling sering streptokokus). Pada kenyataannya sebagian besar penderita
tonsilitis mendapatkan pemberian antibiotika yang tidak perlu.
!encegahan
%ak ada cara khusus untuk mencegah inIeksi tonsil (amandel). Secara umum disebutkan
bahwa pencegahan ditujukan untuk mencegah tertularnya inIeksi rongga mulut dan tenggorokan
yang dapat memicu terjadinya inIeksi tonsil. Namun setidaknya upaya yang dapat dilakukan
adalah :
1. Mencuci tangan sesering mungkin untuk mencegah penyebaran mikro-organisme yang
dapat menimbulkan tonsilitis.
2. Menghindari kontak dengan penderita inIeksi tanggorokan, setidaknya hingga 24 jam
setelah penderita inIeksi tenggorokan (yang disebabkan kuman) mendapatkan antibiotika.
%onsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil / mandel / amandel. Operasi ini
merupakan operasi %%-KL yang paling sering dilakukan pada anak-anak. Para ahli belum
sepenuhnya sependapat tentang indikasi tentang tonsilektomi, namun sebagian besar membagi
alasan (indikasi) tonsilektomi menjadi: Indikasi absolut dan Indikasi relatiI. %onsilektomi
merupakan pembedahan yang paling banyak dan biasa dilakukan di bagian %% (%elinga,
idung dan %enggorok), oleh karena itu sering dianggap sebagai pembedahan kecil saja. %etapi
bagaimanapun juga, tonsilektomi adalah suatu pembedahan yang merupakan tindakan
manipulasi yang dapat menimbulkan trauma dengan risiko kerusakan jaringan. Komplikasi mulai
dari yang ringan bahkan sampai mengancam kematian atau gejala subyektiI pada pasien berupa
rasa nyeri pasca bedah dapat saja terjadi.
Sumber : Copyright 2010, Children Allergy Center Information Education Network. All rights
reserved. http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2010/10/06/tonsilitis-akut-atau-penyakit-
amandel/
perasi Amandel atau Tonsilektomi : Komplikasi dan Kontroversi
Indikasi
$eringkali orangtua bingung dalam menghadapi anak yang diadviskan untuk operasi
amandel atau tonsilektomi. Bingung karena seringkali terfadi perbedaan pendapat antara
pendapat dokter anak yang seringkali mengadviskan untuk menunda operasi karena berbagai
alasan medis tetapi sebaliknya pendapat dokter THT untuk segera melakukan operasi amandel
segera karena berbagai alasan medis yang lain.
Kondisi ini wajar terjadi dalam setiap keputusan dan tindakan dokter seringkali banyak
kasus terjadi perbedaan pendapat. Karena setiap kasus berlatar belakang kondisi yang berbeda.
Dalam melakukan tindakan medis dokter selalu memakai indikasi medis dengan rujukan
evidance base medicine (Kejadian Ilmiah berbasis Bukti atau berdasar penelitian), kondisi pasien
dan kepentingan pasien. Menjadi tidak wajar apabila dalam tindakan medis bukan demi
kepentingan pasien tetapi demi kepentingan individu dokter. Seharusnya perbedaan pendapat
tersebut harus dikomunikasikan antara dokter anak dan dokter %% dengan baik. Kalau perlu
antara dokter anak dan dokter %% melakukan komunikasi langsung baik lewat surat atau lewat
kontak langsung. Namun hal ini seringkali tidak dilakukan, yang terjadi malahan kedua pihak
saling menyalahkan. Dokter Anak menganggap dokter %% terburu-buru dalam melakukan
tindakan operasi, tetapi sebaliknya dokter %% bahkan ada yang mengatakan bahwa sebaiknya
dokter anak harus sering mengikuti seminar tentang ilmu %%. Fakta ini benar-benar seringkali
terjadi, justru malah merugikan pasien dan dokter saling mendiskriditkan.
$eringkali terjadi pada penderita Alergi.
Pada penderita alergi seringkali mengalami inIeksi berulang karena bila alergi tidak
dikendalikan akanmengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan mudah terserang inIekasi
saluran naIas khususnya tonsilitis atau amandel. Bila inIeksi batuk, pilek atau demam seringkali
berulang setiap bulan atau bahkan sebulan dua kali, maka akibat yang paling sering terjadi
adalah tonsil membesar atau yang seringkali disebut amandel hingga mengganggu pernapasan
dan gangguan tidur.
Pada banyak kasus, saat alergi dikendalikan maka daya tahan tubuh membaik sehingga
resiko untuk terjadi inIeksi saluran anapas atas baik berupa batuk, pilek, demam (inIeksi
tenggorok, tonsilitis dan sebagainya) akan semakin berkurang. Sebaliknya bila alergi sulit
dikendalikan maka inIeksi berulang akan seriung terjadi mengakibatkan salah satunya tonsil
membesar (amandel), resiko sinuitis meningkat dan resiko otitis media juga meningkat.
KA!AN !#& !#A$I
Berdasarkan The American Academy of OtolaryngologyHead and Neck $urgery (AAO-
HN$, operasi tonsillitis (tonsillectomy) perlu dilakukan jika memenuhi syarat-syarat berikut:
INDIKA$I AB$&T:
1. %onsil (amandel) yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernaIasan, nyeri telan
yang berat, gangguan tidur atau sudah terjadi komplikasi penyakit-penyakit
kardiopulmonal.
2. Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan dengan
pengobatan. Dan pembesaran tonsil yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan wajah
atau mulut yang terdokumentasi oleh dokter gigi bedah mulut.
3. %onsillitis yang mengakibatkan kejang demam.
4. %onsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan gambaran
patologis jaringan.
INDIKA$I #ATIF:
1. ika mengalami %onsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan
respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.
2. Bau mulut atau bau naIas tak sedap yang menetap pada %onsilitis kronis yang tidak
menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
3. %onsilitis kronis atau %onsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman Streptokokus
yang tidak menunjukkan repon positiI terhadap pengobatan dengan antibiotika.
4. Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan dengan
keganasan (neoplastik)
Alasan Yang Tidak benar yang dijadikan !ertimbangan perasi
1. Bila tidak operasi kecerdasan menurun
2. Bila tidak dioperasi mengakibatkan sakit jantung dan sakit paru-paru
3. Bila tidak di operasi maka oksigen ke otak berkurang anak jadi kurang konsentrasi dan
kurang cerdas
KNT#AINDIKA$I
Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi melakukan pembedahan tonsil
karena bila dikerjakan dapat terjadi komplikasi pada penderita, bahkan mengancam kematian.
eadaan tersebut adalah kelainan hematologik, kelainan alergi-imunologik dan infeksi akut.
Kontraindikasi pada kelainan hematologik adalah anemi, gangguan` pada sistem hemostasis dan
lekemi. Pada kelainan alergi-imunologik seperti penyakit alergi pada saluran pernapasan,
sebaiknya tidak dilakukan tonsilektomi bila pengobatan kurang dari 6 bulan kecuali bila terdapat
gejala sumbatan karena pembesaran tonsil. Pembedahan tonsil sebagai pencetus serangan asthma
pernah dilaporkan. %onsilektomi juga tidak dikerjakan apabila terdapat inIeksi akut lokal, kecuali
bila disertai sumbatan jalan napas atas. %onsilektomi sebaiknya baru dilakukan setelah minimal
23 minggu bebas dari inIeksi akut. Di samping itu tonsilektomi juga tidak dilakukan pada
penyakit-penyakit sistemik yang tidak terkontrol seperti diabetes atau penyakit jantung pulmonal
NI$ TKNIK !#A$I
1) ara Guillotine Diperkenalkan pertama kali oleh Philip Physick (1828) dari Philadelphia,
sedangkan cara yang masih digunakan sampai sekarang adalah modiIikasi Sluder. Di
negara-negara maju cara ini sudah jarang digunakan dan di Indonesia cara ini hanya
digunakan pada anak-anak dalam anestesi umum. Teknik
a. Posisi pasien telentang dalam anestesi umum. Operator di sisi kanan berhadapan
dengan pasien.
b. Setelah relaksasi sempurna otot Iaring dan mulut, mulut diIiksasi dengan
pembuka mulut. Lidah ditekan dengan spatula.
c. Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut kiri.
d. Ujung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub bawah
tonsil dimasukkan ke dalam Iubang guillotine. Dengan jari telunjuk tangan kiri
pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil masuk ke dalam Iubang
guillotine.
e. Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit.
I. Setelah diyakini seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine, dengan
bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat keluar.
Perdarahan dirawat.
ara diseksi ara ini diperkenalkan pertama kali oleh Waugh (1909). ara ini digunakan
pada pembedahan tonsil orang dewasa, baik dalam anestesi umum maupun lokal. Teknik .
a. Bila menggunakan anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala sedikit
ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien.
b. Dipasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag.
c. %onsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial
d. Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari
Iosanya secara tumpul sampai kutub bawah dan selanjutnya dengan menggunakan
jerat tonsil, tonsil diangkat. Perdarahan dirawat.
3) ryogenic tonsilectomy %indakan pembedahan tonsil dapat menggunakan cara
cryosurgery yaitu proses pendinginan jaringan tubuh sehingga terjadi nekrosis. Bahan
pendingin yang dipakai adalah Ireon dan cairan nitrogen.
4) lectrosterilization of tonsil Merupakan suatu pembedahan tonsil dengan cara koagulasi
listrik pada jaringan tonsil.
K!IKA$I
Komplikasi tonsilektomi dapat terjadi saat pembedahan atau pasca bedah.
1. Komplikasi saat pembedahan dapat berupa perdarahan dan trauma akibat alat. umlah
perdarahan selama pembedahan tergantung pada keadaan pasien dan Iaktor operatornya
sendiri.Perdarahan mungkin lebih banyak bila terdapat jaringan parut yang berlebihan
atau adanya inIeksi akut seperti tonsilitis akut atau abses peritonsil. Pada operator yang
lebih berpengalaman dan terampil, kemungkinan terjadi manipulasi trauma dan
kerusakan jaringan lebih sedikit sehingga perdarahan juga akan sedikit. Perdarahan yang
terjadi karena pembuluh darah kapiler atau vena kecil yang robek umumnya berhenti
spontan atau dibantu dengan tampon tekan. Pendarahan yang tidak berhenti spontan atau
berasal dari pembuluh darah yang lebih besar, dihentikan dengan pengikatan atau dengan
kauterisasi. Bila dengan cara di atas tidak menolong, maka pada Iosa tonsil diletakkan
tampon atau gelfoam, kemudian pilar anterior dan pilar posterior dijahit. Bila masih juga
gagal, dapat dilakukan ligasi arteri karotis eksterna. Dari laporan berbagai kepustakaan,
umumnya perdarahan yang terjadi pada cara guillotine lebih sedikit dari cara diseksi.
%rauma akibat alat umumnya berupa kerusakan jaringan di sekitarnya seperti kerusakan
jaringan dinding belakang Iaring, bibir terjepit, gigi patah atau dislokasi sendi
temporomandibula saat pemasangan alat pembuka mulut.
2. Komplikasi pasca bedah dapat digolongkan berdasarkan waktu terjadinya yaitu
immediate, intermediate dan late complication.
3. Komplikasi segera (immediate complication) pasca bedah dapat berupa perdarahan dan
komplikasi yang berhubungan dengan anestesi. Perdarahan segera atau disebut juga
perdarahan primer adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pasca bedah.
Keadaan ini cukup berbahaya karena pasien masih dipengaruhi obat bius dan reIleks
batuk belum sempurna sehingga darah dapat menyumbat jalan napas menyebabkan
asIiksi. AsIiksi inilah yang dapat mengakibatkan tersumbatnya saluran napas dan
membuat komplikasi yang berat dan mengancam jiwa. Penyebabnya diduga karena
hemostasis yang tidak cermat atau terlepasnya ikatan.
Yang penting pada perawatan pasca tonsilektomi adalah
1. baringkan pasien pada satu sisi tanpa bantal,
2. ukur nadi dan tekanan darah secara teratur,
3. awasi adanya gerakan menelan karena pasien mungkin menelan darah yang terkumpul di
Iaring dan
4. napas yang berbunyi menunjukkan adanya lendir atau darah di tenggorok. Bila diduga
ada perdarahan, periksa Iosa tonsil. Bekuan darah di Iosa tonsil diangkat, karena tindakan
ini dapat menyebabkan jaringan berkontraksi dan perdarahan berhenti spontan. Bila
perdarahan belum berhenti, dapat dilakukan penekanan dengan tampon yang
mengandung adrenalin 1:1000. Selanjutnya bila masih gagal dapat dicoba dengan
pemberian hemostatik topikal di Iosa tonsil dan hemostatik parenteral dapat diberikan.
Bila dengan cara di atas perdarahan belum berhasil dihentikan, pasien dibawa ke kamar
operasi dan dilakukan perawatan perdarahan seperti saat operasi.Mengenai hubungan
perdarahan primer dengan cara operasi, laporan di berbagai kepustakaan menunjukkan
hasil yang berbeda-beda, tetapi umumnya perdarahan primer lebih sering dijumpai pada
cara guillotine. Komplikasi yang berhubungan dengan tindakan anestesi segera pasca
bedah umumnya dikaitkan dengan perawatan terhadap jalan napas. Lendir, bekuan darah
atau kadang-kadang tampon yang tertinggal dapat menyebabkan asIiksi.
O Pasca bedah, komplikasi yang terjadi kemudian (interme-diate complication dapat
berupa perdarahan sekunder, hematom dan edem uvula, inIeksi, komplikasi paru dan
otalgia. Perdarahan sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pasca
bedah. Umumnya terjadi pada hari ke 5 10. arang terjadi dan penyebab tersering
adalah inIeksi serta trauma akibat makanan; dapat juga oleh karena ikatan jahitan yang
terlepas, jaringan granulasi yang menutupi Iosa tonsil terlalu cepat terlepas sebelum
luka sembuh sehingga pembuluh darah di bawahnya terbuka dan terjadi perdarahan.
Perdarahan hebat jarang terjadi karena umumnya berasal dari pembuluh darah
permukaan.
O ara penanganannya sama dengan perdarahan primer. Pada pengamatan pasca
tonsilektomi, pada hari ke dua uvula mengalami edem. Nekrosis uvula jarang terjadi,
dan biladijumpai biasanya akibat kerusakan bilateral pembuluh darah yang mendarahi
uvula. Meskipun jarang terjadi, komplikasi inIeksi melalui bakteremia dapat mengenai
organ-organ lain seperti ginjal dan sendi atau mungkin dapat terjadi endokarditis.
Gejala otalgia biasanya merupakan nyeri alih dari Iosa tonsil, tetapi kadang- kadang
merupakan gejala otitis media akut karena penjalaran inIeksi melalui tuba Eustachius.
Abses paraIaring akibat tonsilektomi mungkin terjadi, karena secara anatomik Iosa
tonsil berhubungan dengan ruang paraIaring. Dengan kemajuan teknik anestesi,
komplikasi paru jarang terjadi dan ini biasanya akibat aspirasi darah atau potongan
jaringan tonsil.
O ate complication pasca tonsilektomi dapat berupa jaringan parut di palatum mole.
Bila berat, gerakan palatum terbatas dan menimbulkan ri nolalia. Komplikasi lain
adalah adanya sisa jaringan tonsil. Bila sedikit umumnya tidak menimbulkan gejala,
tetapi bilacukup banyak dapat mengakibatkan tonsilitis akut atau abses peritonsil
$umber . http.//childrenallergyclinic.wordpress.com/2010/04/02/operasi-amandel-tonsilektomi-
kapan-harus-dilakukan-dan-bahaya-komplikasi-operasi/