0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
184 tayangan12 halaman

Aturan Rantai dalam Diferensial Parsial

Tugas kelompok ini membahas aturan rantai untuk mengganti turunan dalam kasus perubahan variabel pada fungsi. Teorema aturan rantai menghubungkan turunan parsial baru dengan turunan lama. Contoh penerapan meliputi menurunkan persamaan gelombang menjadi bentuk yang dapat diintegrasikan.

Diunggah oleh

yayaboboboy48
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
184 tayangan12 halaman

Aturan Rantai dalam Diferensial Parsial

Tugas kelompok ini membahas aturan rantai untuk mengganti turunan dalam kasus perubahan variabel pada fungsi. Teorema aturan rantai menghubungkan turunan parsial baru dengan turunan lama. Contoh penerapan meliputi menurunkan persamaan gelombang menjadi bentuk yang dapat diintegrasikan.

Diunggah oleh

yayaboboboy48
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS RIIL II

TUGAS KELOMPOK

Disusun oleh :

Muhamad Hafidz Massugi

Erna Bugis

Rudi Wahyudi

IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA

FAKULTAS TARBIYAH

TADRIS MATEMATIKA

2024
8.3 ATURAN RANTAI

Cukup sering dalam matematika, perubahan variabel untuk suatu fungsi diperlukan.
Perubahan variabel yang tepat dalam persamaan integral atau diferensial yang tepat
dalam sebuah persamaan integral atau diferensial mungkin cukup untuk menyelesaikan
masalah. Kami menggunakan aturan rantai untuk menggantikan turunan dalam kasus
seperti itu.

Pertimbangkan untuk mengubah variabel dari fungsi z=F { x , y ¿ dengan substitusi


x=f (u , p), y=g {u , v ¿. Teorema berikut ini menghubungkan turunan parsial yang baru
turunan baru dengan turunan yang lama.

Teorema 8.13

Asumsikan bahwa z=F ( x , y ) , x=f ( u , v ) , dan y=g (u , v ) dengan f dan g berada di


C ( D) untuk beberapa daerah terbuka D ⊆ R2dan F ∈ C ( D), dimana D 1 adalah sebuah
1 1

daerah terbuka di R2 yang berisi himpunan ¿ Kemudian pada setiap ( u 0 , v 0 ) ∈ D

∂z ∂z ∂x ∂z ∂ y ∂z ∂z ∂x ∂z ∂ y
= + = +
∂ u ∂ x ∂ u ∂ y ∂u ∂ v ∂ x ∂ v ∂ y ∂ v

Bukti Untuk mencari ∂ z /∂ u di sebuah titik ( u 0 , v 0 ) ∈ Dmisalkan

x 0=f ( u0 , v 0 ) y 0=g ( u0 , v 0 ) x=f ( u , v 0 ) y=g ( u , v 0 )

Karena F mempunyai turunan-turunan parsial orde satu yang kontinu, maka F dapat
didiferensialkan di (x o , y 0) dan

F ( x , y )−F ( x o , y 0 )=F x ( x o , y 0 )( x −x0 ) + F y ( x o , y 0 )( y− y 0 )

√ 2
+η ( x , y ) ( x−x 0 ) + ( y− y 0 )
2

Dimana lim ⁡(x , y )→ (x 0 , y 0) η ( x , y )=0 untuk u ≠ u0

F ( x , y )−F ( y 0 , x 0 ) f ( u , v 0 ) −f ( u 0 , v 0 )
=F x ( x 0 , y 0 )
u−u 0 u−u0

g ( u , v 0 ) −g ( u0 , v 0 )
+ F y ( x0 , y 0 )
u−u0

+η( x, y) 2 1 /2

u−u0
( [ 2
f ( u , v 0 )−f ( u0 , v 0 ) ) + ( g ( u , v 0 )−g ( u0 , v 0 ) ) ]
Untuk menunjukkan bahwa suku terakhir lenyap ketika u mendekati u0 perhatikan

1
| +η ( x , y )
u−u0 ([ 2
f ( u , v 0 )−f ( u0 , v 0 ) ) + ( g ( u , v 0 )−g ( u 0 , v 0 ) )
2 1 /2
] |

[( )]
2 1 /2

)(
2
f ( u , v 0 )−f ( u 0 , v 0 ) g ( u , v 0 )−g ( u 0 , v 0 )
|η ( x , y )| +
u−u0 u−u 0

Dengan kontinuitas f dan g, saat umendekati u0 , kita memiliki (x , y ) mendekati (x 0 , y 0)


dan η ( x , y ) mendekati nol. Radikal di atas mendekati

[( f u ( u 0 , v 0 ) ) + ( gu ( u0 , v 0 ) ) ]
2 2 1 /2

dan karenanya produk mendekati nol. Oleh karena itu

F ( x , y )−F ( y 0 , x 0 )
lim =¿ F x ( x 0 , y 0 ) f u ( u0 , v 0 ) + F y ( x 0 , y 0 ) gu ( u0 , v 0 ) ¿
u →u0 u−u0

atau

∂z ∂z ∂x ∂z ∂ y
= + pada ( u 0 , v 0 )
∂ u ∂ x ∂ u ∂ y ∂u

Argumen serupa menunjukkan bahwa

∂z ∂z ∂x ∂z ∂ y
= + pada ( u0 , v 0 )
∂v ∂x ∂ v ∂ y ∂v

Contoh 8.10 Diberikan z=x 2 y 2 , x=cos v dan y=u sin v , gunakan Teorema 8.13 untuk
mencari ∂ z /∂ u dan ∂ z /∂ v

Solusi

∂z ∂z ∂x ∂z ∂ y 2
= + =2 x cos v −2 y sin v−2 u sin v
∂ u ∂ x ∂ u ∂ y ∂u

∂z ∂z ∂x ∂z ∂ y
= + =−2 xu sin v−2 yu cos u
∂v ∂x ∂ v ∂ y ∂v
2 2 2
¿−2u cos v sin v−2 u cos v sin v=4 u cos v sin v

Perhatikan bahwa ini dapat diverifikasi dengan terlebih dahulu mengganti x dan y dalam
2 2
z=x − y dan kemudian mendiferensialkannya.

2
Cara yang berguna untuk mengingat aturan rantai ini adalah dengan menulis rantai
ketergantungan sebagai berikut:

di mana panah ditarik dari satu variabel ke variabel lainnya; misalnya, u → y jika
variabel kedua bergantung pada variabel pertama, yaitu y bergantung pada u. Kemudian
aturan rantai untuk ∂ z /∂ uditemukan dengan menelusuri anak panah secara terbalik dari
z ke u di sepanjang semua jalur yang mungkin. Sebuah produk dari turunan-turunan
parsial dibentuk untuk setiap jalur, dan kemudian hasil-hasil ini ditambahkan. Jalur
z ← x ← umenghasilkan ( ∂ z /∂ u ) ( ∂ x /∂ v )dan jalur z ← x ← umenghasilkan produk
( ∂ z /∂ y )( ∂ y /∂u ). Dengan menjumlahkan, kita mendapatkan

∂z ∂z ∂x ∂z ∂ y
= +
∂ u ∂ x ∂ u ∂ y ∂u

Hubungan ketergantungan lainnya menghasilkan aturan rantai lainnya. Rantai


ketergantungan dapat digunakan untuk menurunkan aturan-aturan ini. Tentu saja,
sebuah turunan dari jenis ini jenis ini bukan merupakan sebuah bukti. Persyaratan
kontinuitas yang sesuai harus harus diterapkan pada turunan-turunan parsial dan sebuah
bukti yang mirip dengan Teorema 8.13 diberikan.

Contoh 8.11 Turunkan aturan rantai untuk hubungan-hubungan

z=F (x , y )dan y=g ( x , t )

Solusi Rantai ketergantungannya adalah

3
Oleh karena itu, z pada akhirnya merupakan fungsi dari x dan t . Untuk mencari ∂ z /∂ x,
kita menggunakan jalur z ← x dan z ← y ← x . Dari jalur-jalur ini

∂z ∂y
=F 1 + F 2
∂x ∂x

di mana F 1 adalah parsial dari z terhadap x sebelum substitusi untuk y dalam rumus
untuk z dan ∂ z /∂ x adalah parsial dari z terhadap x setelah setelah substitusi. F 2, tentu
saja, adalah ∂ z /∂ y .

Turunan parsial ∂ z /∂ t ditemukan dari jalur tunggal z ← y ←t dan karenanya


adalah

∂z ∂y
=F 2
∂t ∂t

Contoh berikut adalah aplikasi dari Teorema 8.13 untuk menyelesaikan persamaan
diferensial parsial. Karena turunan parsial kedua digunakan, kita akan mencari untuk
solusi-solusi yang berada di C 2 ( D ) untuk beberapa daerah terbuka D ⊆ R2.

Contoh 8.12 Sebuah persamaan diferensial parsial yang penting dalam matematika
fisika adalah persamaan gelombang
2 2
∂ y 1 ∂ y
2
= 2 2
∂ x c ∂t

dengan y=F ¿) dan dengan c adalah konstanta positif yang nilainya ditentukan oleh
sifat aplikasi fisika. Dengan menggunakan substitusi u=x+ ct dan v=x−ct , kita
menurunkan persamaan tersebut menjadi persamaan yang dapat diintegrasikan dua kali,
dan kemudian kita mendapatkan solusi umum. Rantai ketergantungan yang kita
gunakan adalah

Turunan parsial kedua diperoleh dengan dua aplikasi dari aturan rantai

4
∂ y ∂ y ∂u ∂ y ∂v ∂ y ∂y
= + = ( 1) + ( 1)
∂ x ∂u ∂ x ∂v ∂ x ∂u ∂v

( ) ( )
2
∂ y ∂ ∂y ∂ ∂y ∂y
2
= = +
∂x ∂ x ∂ x ∂ x ∂u ∂ v

¿ (
∂ ∂ y ∂ y ∂u ∂ ∂ y ∂ y ∂v
+ = + +
∂u ∂ u ∂ v ∂ x ∂ v ∂ u ∂ v ∂ x ) ( )
2 2 2 2
∂ y ∂ y ∂ y ∂ y
¿ 2
+ + + 2
∂u ∂u ∂ v ∂ v ∂ u ∂ v
2 2 2
∂ y ∂ y ∂ y
¿ 2
+2 +
∂u ∂ u ∂ v ∂ v2

(Dalam Teorema 9.10 kita buktikan bahwa jika parsial campuran: ∂2 y / ( ∂ u ∂ v ) dan
2
∂ y / ( ∂ v ∂ u ) kontinu maka keduanya sama).

∂ y ∂ y ∂u ∂ y ∂ v ∂ y
= + =
∂ t ∂ u ∂ t ∂ v ∂t ∂ u
c+
∂y
∂v
(−c )=c
∂y ∂ y
+
∂u ∂ v ( )
∂2 y ∂ ∂ y
∂t
2
=
∂ t ∂ t
=


t
c ( )
∂y ∂y
+
∂u ∂ v [( )]
¿

∂u
c
[(
∂y ∂y
+
∂u ∂v
=
∂u ∂
∂t ∂v
c
∂y ∂ y ∂v
+
∂ u ∂ v ∂t )] [( )]
[( )] [ ( )]
2 2 2 2
∂ y ∂ y ∂ y ∂ y
¿ c 2
+ c+ c + (−c )
∂u ∂u∂v ∂u ∂ v ∂ v 2

( )
2 2 2
2 ∂ y ∂ y ∂ y
c 2
−2 +
∂u ∂ u ∂ v ∂ v2

sekali lagi dengan asumsi bahwa bagian yang tercampur adalah sama. Persamaan
2 2
∂ y 1 ∂ y
2
= 2 2
∂ x c ∂t

menjadi
2
∂ y
=0
∂u∂v

5
Dengan mengintegrasikan satu kali sambil mempertahankan v konstan, kita
memperoleh

∂y
=f ( v )
∂v

di mana f ( v ) adalah fungsi sembarang dari v . Dengan mengintegrasikan sekali lagi,


dengan menahan u kita memiliki y=g (v )+h(u)dimana gdan h adalah fungsi sembarang
dengan g '(v)=f (v ). Mengganti kembali u dan v, kita memperoleh

y=g ( x−ct ) + h ( x +ct )

Dalam aplikasi fisis dari persamaan gelombang, kondisi-kondisi tambahan biasanya ada
yang menentukan fungsi g danh

Aturan Rantai

Aturan rantai (chain rule) menyatakan bahwa turunan dari f ( g ( x ) ) adalah


f ' ( g ( x ) ) . g ' ( x) Dengan kata lain, aturan rantai digunakan untuk mencari turunan
komposisi dua fungsi atau lebih.

Aturan rantai memungkinkan kita untuk mencari turunan komposisi dua fungsi atau
lebih. Komposisi fungsi yang biasanya diturunkan dengan aturan rantai adalah bentuk
pangkat dari fungsi aljabar yang terdiri dari beberapa suku.

Sebagai contoh, bayangkan usaha untuk mencari turunan dari fungsi berikut:

60
f ( x )=( 2 x −4 x +1 )
2

Tanpa aturan rantai, pertama anda harus mengalikan bersama ke 60 faktor-faktor


kuadrat 2 x 2−4 x +1dan kemudian mendiferensialkan atau menurunkan polinom (suku
banyak) berderajat 120 yang dihasilkan.
Tentu saja kita tidak perlu melakukan itu, karena terdapat cara yang lebih baik. Setelah
anda mempelajari aturan rantai ini, anda akan mampu menuliskan jawabannya dengan
cepat berikut ini.

59
F ' ( x ) 60 ( 2 x −4 x +1 ) ( 4 x−4 )
2

Teorema A : Aturan Rantai

Andaikan y=f ( u ) dan u=g ( x )

6
Jika g terdiferensialkan di x dan f terdeferensialkan di u=g ( x ) , maka fungsi komposit
f ∘ g, didefinisikan oleh ( f ∘ g ) ( x ) =f ( g ( x ) ) , terdeferensialkan di x dan

( f ∘ g )' (x )=f ' ( g ( x ) ) g ' ( x )

Yakni,

D x ( f ( g ( x ) ) )=f ' ( g ( x ) ) g ' ( x )

Atau dapat dituliskan juga sebagai

dy dy du
=
dx du dx

Contoh 1
60
Perhatikan kembali fungsi ( 2 x 2−4 x +1 ) yang diperkenalkan pada bagian awal diatas.
Carilah D x y .

Penyelesaian:

Kita pikirkan ini sebagai


60 2
y=u dan u=2 x −4 x +1

Fungsi yang luar adalah


60 2
f ( u )=u dan fungsi dalamnya adalah u=g ( x ) ¿ 2 x −4 x +1

Dengan demikian,

D x y=D x f ( g ( x ) )

¿ f ' (u ) g ' ( x )

¿ ( 60 u59 ) ( 4 x −4 )
59
¿ 60 ( 2 x −4 x +1 ) ( 4 x−4 )
2

Contoh 2

Jika

1
y= 3
( 2 x 5−7 )
carilah dy /dx

7
Penyelesaian:

Pikirkanlah begini

1 −3 5
y= 3
=u dan u=2 x −7
u

Sehingga

dy dy du
=
dx du dx

¿ (−3 u−4 ) ( 10 x 4 )

−3 4
¿ 4
⋅10 x
u
4
−30 x
¿ 4
( 2 x 5−7 )
Contoh 3

Carilah

( )
3 13
t
Dt 4
t +3

Penyelesaian:

Kita bisa memikirkan ini sebagai ` y=u 13 , dimana u=( t 3 −2t +1 ) / ( t 4 +3 ) .

Dengan menerapkan aturan rantai dan aturan hasil bagi memberikan

( ) ( ) ( )
3 13 3 13−1 3
t −2 t+1 t −2t +1 t −2 t+ 1
Dt = 4
=13 4
Dt 4
t +3 t +3 t +3

( ) ( t 4 +3 )( 3t 2−2 ) −( t 3−2 t+1 ) ( 4 t 3)


3 12
t −2 t+1
¿ 13 4 2
t +3 ( t 4 +3 )

( )
3 12 6 4 3 2
t −2 t+1 −t +6 t −4 t + 9 t −6
¿ 13 4 2
t +3 ( t 4 +3 )
TEOREMA 8.17 TEOREMA FUNGSI INVERS

8
Misalkan x=f (u , v ) dan y=g (u , v )dengan f , g ∈C 1 ( D ) , D adalah sebuah daerah
terbuka di R2. Misalkan ( u 0 , v 0 ) ∈ Dmemenuhi x 0=f ( u0 , v 0 ) y 0=g ( u0 , v 0 ) dan

∂ ( f , g)
J= ≠ 0 pada ( u0 , v 0 )
∂ (u , v )

Kemudian ada lingkungan-lingkungan N δ ( x 0 , y 0 ) , N c 1 ( u0 )dan N c 2 ( v 0 ) sedemikian rupa


sehinggauntuk setiap pasangan ( x , y ) ∈ N δ ( x 0 , y 0 )terdapat pasangan unik
( u , v ) , u∈ N c 1 ( u 0 ) v ∈ N c 2 ( v 0 ) sedemikian sehingga

f ( u , v )=x dan g ( u , v ) = y

Oleh karena itu, ini mendefinisikan fungsi yang unik

u=φ ( x , y ) dan v =ψ ( x , y )

dengan φ , ψ ∈C ( N δ ( x 0 , y 0 ) ).Turunan parsial orde pertama dariφ dan ψ diberikan oleh


1

1 −1 −1
φ x= g v φ y= f v ψ x= g
J J J u

Bukti Teorema ini adalah konsekuensi langsung dari Teorema 8.16 dengan

F=( x , y , u , v )=f ( u , v )−x=0

G= ( x , y ,u , v )=g (u , v )− y=0

Kami menunjukkan penurunan rumus untuk salah satu turunan parsial φ x :

φ x=
|
−1 −1 f v
J 0 gv |
dari Teorema 8.16

1
¿ v
J

Contoh 8.14 Tentukan Jacobian dari transformasi

x=u cos v y=u sin v

dan tentukan di mana terdapat transformasi invers.

Solusi Jelas fungsi-fungsi ini memiliki turunan-turunan parsial yang kontinu dan

J= |cos v
sin v
−u sin v
u cos v |
=u

9
Oleh karena itu, jika ( u 0 , v 0 ) adalah sebuah titik dimana u0 ≠ 0 maka ada sebuah
ketetanggaan dari ( u 0 , v 0 ) dimana x 0=u 0 cos v 0 , y 0=u0 sin v 0yang di dalamnya terdapat
sebuah transformasi invers yang ada.

Teorema fungsi invers hanya menjamin sebuah transformasi invers pada suatu
lingkungan, yaitu invers lokal. Hipotesis dari Teorema 8.17 tidak cukup kuat untuk
menjamin keberadaan suatu invers untuk seluruh wilayah, yaitu invers global.
Transformasi dari Contoh 8.14 tidak dapat dibalik di seluruh daerah yang mencakup
titik-titik( u , 0 ) , ( u ,2 π ) u ≠ 0, sebagai contoh, meskipun J ≠ 0 , karena transformasinya
tidak satu-ke-satu pada daerah tersebut. Sebuah kondisi perlu dan cukup untuk sebuah
transformasi T untuk memiliki invers global adalah bahwa transformasi tersebut adalah
satu-ke-satu.

10
Daftar Pustaka

Introduction To Mathematical Analysis William R. Parzynski Philip W. Zipse


Department Of Mathematics And Computer Science Montclair State College

Purcell, Edwin J., dan Dale Verberg. (1987). Calculus with Analytic Geometry, ed 5.
Terjemahan Susila, I Nyoman, dkk. Kalkulus dan Geometri Analitis. Indonesia:
Penerbit Erlangga.

Purcell, Edwin J., Dale Verberg., dan Steve Rigdon. (2007). Calculus, ed 9. Penerbit
Pearson.

11

Anda mungkin juga menyukai