0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
200 tayangan22 halaman

Governance Dan CSR

Makalah ini membahas tentang tiga topik utama yaitu Good Governance, CSR, dan SDGs. Good Governance adalah tata kelola pemerintahan yang baik sesuai prinsip-prinsip demokrasi dan efisiensi pasar. CSR adalah tanggung jawab sosial perusahaan untuk masyarakat dan lingkungan. SDGs adalah tujuan pembangunan berkelanjutan PBB untuk mencapai tujuan-tujuan global pada tahun 2030.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
200 tayangan22 halaman

Governance Dan CSR

Makalah ini membahas tentang tiga topik utama yaitu Good Governance, CSR, dan SDGs. Good Governance adalah tata kelola pemerintahan yang baik sesuai prinsip-prinsip demokrasi dan efisiensi pasar. CSR adalah tanggung jawab sosial perusahaan untuk masyarakat dan lingkungan. SDGs adalah tujuan pembangunan berkelanjutan PBB untuk mencapai tujuan-tujuan global pada tahun 2030.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

SUMMARY TENTANG GOVERNANCE, CSR DAN SDGs

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


GOVERNANCE DAN CSR

DOSEN PENGAMPU:

Dr. INDARTI, SE., MM., Ak, CA

DISUSUN OLEH:

RINI RAHAYU (2362201107)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
T.A 2023/2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatnya
penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu tanpa ada halangan yang berarti dan sesuai
dengan harapan.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Dr. Indarti, SE., MM., Ak, CA sebagai dosen
pengampu mata kuliah Governance dan CSR yang telah membantu memberikan arahan dan
pemahaman dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.

Pekanbaru, 29 Desember 2023

Rini Rahayu

2
DAFTAR ISI

COVER……................................................................................................... i
KATA PENGANTAR……............................................................................ ii
DAFTAR ISI……........................................................................................... iii
BAB I: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ……................................................................... 4
A. Good Governance................................................................................. 4
B. CSR (Corporate Social Responsibility)................................................ 5
C. Sustainable Development Goals (SDGs).............................................. 6
1.2 Rumusan Masalah.……............................................................................ 7
1.3 Tujuan Penulisan.…….............................................................................. 7
1.4 Sistematika Penulisan……....................................................................... 7
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Good Governance................................................................. 7
1. Prinsip Good Governance.................................................................... 12
2 Penerapan Good Governance di Indonesia)........................................
B. Pengertian CSR (Corporate Social Responbility)…………………….
1. Fungsi CSR (Corporate Sosial Responbility)..................................... 13
2. Manfaat jika sebuah perusahaan memiliki program CSR................... 15
C. Pengertian SDGs (Sustainable Development Goals)…........................ 16
1. Sejarah SDGs………………..…….................................................... 16
2. Tujuan SDGs 2030……...................................................................... 17
BAB III: PENUTUP
Kesimpulan…….............................................................................................. 21
Saran……......................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA……............................................................................. 22

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


A. Good Governance
Tata Kelola Pemerintahan yang baik dalam suatu Negara adalah setiap Negara giat
melakukan perubahan paradigma pemerintahan dan pembangunan berdasarkan konsep Good
Governance. Good Governance merupakan suatu peyelegaraan manajemen pembangunan yang
solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien,
penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun
secara administratif menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan politican framework
bagi tumbuhnya aktifitas usaha.
Menurut Bank Dunia yang di kutip Wahab (2002:34). Good Governance adalah suatu
konsep dalam penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab
sejalan dengan demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaraan salah alokasi dan investasi yang
langka dan pencegahan korupsi, baik secara politik maupun secara administratif, menjalakan
disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktifitas
kewiraswastaan. Selain itu bank dunia juga mensinonimkan good governance sebagai hubungan
sinergis dan konstruktif di antara Negara, sektor dan masyarakat (effendi, 1996 :47).
Good Government Governance merupakan tata kelola pemerintahan yang baik yang
sudah diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia. Menurut Komite Nasional Kebijakan
Governance berpendapat bahwa pemerintahan di Indonesia mempunyai tanggung jawab dalam
menerapkan standar Good Government Governance (tata kelola pemerintahan yang baik) yang
telah diterapkan standar internasional (Sutedi, 2011 :3).
Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses
pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan secara bersama.
Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan sektor swasta bagi
penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara. Tantangan dalam merealisasikan tujuan
Penerapan Good Governance sangatlah sulit, mengingat pelayanan publik yang dilakukan
pemerintah selama kurun waktu yang panjang telah tercemar berbagai bentuk praktik KKN
(Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Good governance adalah bukan tujuan akan tetapi merupakan
metode atau cara untuk menjalankan suatu tata kepemerintahan yang baik. Oleh karena itu

4
indikatornya sangat variatif dan tidak mutlak, sangat tergantung pada kondisi sosial ekonomi dan
budaya daerahnya masing-masing. Sehingga Penerapan Good Governance antara daerah satu
dengan yang lain sressing-nya bisa berbeda-beda. Sebenarnya penerapan Good Governance dalam
Pemerintahan Daerah adalah merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditunda lagi jika ingin
daerah tersebut maju dan masyarakatnya sejahtera. Namun demikian sampai sekarang tampaknya
masih akan menemui berbagai kendala baik yang bersifat struktural maupun kultural (Said dan
Widiyahseno, 2005).
Penelitian yang dilakukan oleh Munaf, Yusri (2020) dengan judul Penerapan Good
Governance Di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru (Studi Kasus Pada Pelayanan
Pertanahan) membahas tentang dimensi akuntabilitas masih ditemukan kelemahan yaitu ketidak
pastian waktu pelayanan, masih kurangnya kedisiplinan pegawai, dan masih ditemukan ketidak
adilan perlakuan. Sedangkan peneliti membahas tentang peneliti membahas kurangnya perhatian
terhadap kondisi ekonomi masyarakat dan kondisi sosial masyarakat, dimana kondisi ekonomi
menjadi permasalahan Good Governance. teori yang digunakan dengan penelitian ini memiliki
kesamaan, yaitu membahas tentang kinerja pelayanan, sosial dan ekonomi masyarakat demi
terwujudnya Good Governance.

B. CSR (Corporate Social Responsibility)


CSR (Corporate Social Responsibility) saat ini sudah tidak asing lagi di kalangan
masyarakat umum, sebagai respon perusahaan terhadap lingkungan masyarakat. CSR berkaitan
dengan tanggung jawab sosial, kesejahteraan sosial dan pengelolaan kualitas hidup masyarakat.
Industri dan korporasi dalam hal ini berperan untuk mendorong perekonomian yang sehat dengan
mempertimbangkan faktor lingkungan hidup. Melalui CSR perusahaan tidak semata
memprioritaskan tujuannya pada memperoleh laba setinggi-tingginya, melainkan meliputi aspek
keuangan, sosial, dan aspek lingkungan lainnya. Konsep tanggung jawab sosial perusahaan yang
telah dikenal sejak 1970-an, merupakan kumpulan kebijakan dan praktik yang berhubungan
dengan stakeholders, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat,
lingkungan, serta komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan secara
berkelanjutan. CSR ini merupakan kewajiban perusahaan untuk memiliki peran dan fungsi
terhadap pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar wilayahnya. Dengan kata lain
CSR merupakan upaya sungguh-sungguh entitas bisnis untuk meminimumkan dampak negatif
dan memaksimumkan dampak positif operasi perusahaan terhadap seluruh pemangku kepentingan

5
dalam bidang ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai tujuan pembangunan
berkelanjutan. Dengan demikian, perusahaan diwajibkan mengetahui secara mendetail dampak
operasinya terhadap semua pemangku kepentingannya dan seluruh regulasi pemerintah yang
relevan sebagai batas kinerja minimum, dan berupaya sedapat mungkin untuk melampauinya
berlandaskan norma etika berlomba menjadi yang terbaik.
Di Indonesia CSR belum menjadi kewajiban, karena banyak perusahaan yang menganggap
sebagai sekaedar bantuan seadanya . Namun, di era informasi dan teknologi serta desakan
globalisasi, tuntutan menjalankan CSR semakin besar. Selain itu, pelaksanaan CSR merupakan
bagian dari good corporate governance (GCG), yakni fairness, transparan, akuntabilitas, dan
responsibilitas, termasuk tanggung jawab terhadap lingkungan fisik dan sosial, yang mestinya
didorong melalui pendekatan etika pelaku ekonomi. Oleh karena itu, di dalam praktik, penerapan
CSR selalu disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dan kebutuhan masyarakat. CSR itu
sendiri merajuk pada semua hubungan yang terjadi antara perusahaan dengan pelanggan
(customers), karyawan (employers), komunitas masyarakat, investor, pemerintah, dan pemasok
(supplier) serta kompetitornya sendiri. CSR adalah gambaran nyata dari berdirinya suatu
perusahaan di suatu wilayah tertentu, gambaran itu dapat dilihat dari konsiri lingkungan, seperti
limbah perusahaan, pembangunan wilayah sekitar, seperti infrastruktur lalulintas atau jalan
diwilayah perusahaan, dan juga kemakmuran rakyat sekitar, apakah perusahaan berdampak dalam
mengurangi penganguran dan memanfaatkan tenaga kerja sekitar perusahaan.

C. Sustainable Development Goals (SDGs)


Program Sustainable Development Goals (SDGs) adalah sebuah program pembangunan
berkelanjutan yang memiliki tujuan untuk mensejahterakan masyarakat dunia dan melestarikan
alam. Ruang terbuka publik termasuk dalam Sustainable Cities and Communities yang bertujuan
untuk mengakomodir kegiatan, keinginan dan minat pengguna, memiliki keterkaitan antara ruang
dan manusia dalam konteks sosial, serta ruang terbuka publik menjadi paru-paru kota guna
mendukung perwujudan sebagai kota yang berkelanjutan. Sustainable Development Goals
(SDGs) menyoroti ruang publik sebagai sasaran penting dalam pembangunan global
(Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2015).

6
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Penerapan Good Governance di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru,
dilihat dari aspek transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan Value For Money?.
2. Bagaimanakah pengaturan Hukum tentang CSR (Corporate Social Responsibility) oleh
Perusahan?
3. Bagaimanakah Peran masyarakat serta pemerintah dalam pengawasan berjalanya CSR
(Corporate Social Responsibility) dalam suatu wilayah?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penerapan good governance di Kecamatan
Marpoyan Damai Kota Pekanbaru;
2. Untuk Mengetahui Peran masyarakat serta pemerintah dalam pengawasan berjalanya CSR
(Corporate Social Responsibility) dalam suatu wilayah;

1.4 Sistematika Penulisan


Penulisan makalah ini terdiri dari empat Bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan
Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi tentang Landasan Teori
BAB III : PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan hasil makalah

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN GOOD GOVERNANCE


Good Governance adalah suatu peyelegaraan manajemen pembangunan yang solid dan
bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah
alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun secara administratif
menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan politican framework bagi tumbuhnya
aktifitas usaha.
Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses
pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan secara bersama.
Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan sektor swasta bagi
penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara.
Good Governance diIndonesia sendiri mulai benar – benar dirintis dan diterapkan sejak
meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi perombakan sistem
pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih sehingga Good Governancemerupakan
salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam pemerintahan baru. Akan tetapi, jika dilihat
dari perkembangan Reformasi yang sudah berjalan selama 15 tahun ini, penerapan Good Governance
di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita – cita Reformasi
sebelumnya. Masih banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan
akuntansi yang merupakan dua produk utama Good Governance.

1. Prinsip Good Governance


Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas prinsip-prinsip di
dalamnya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu pemerintahan.
Baik-buruknya pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan dengan semua unsur prinsip-
prinsip good governance. Menyadari pentingnya masalah ini, prinsip-prinsip good governance diurai
satu persatu sebagaimana tertera di bawah ini:

8
a. Partisipasi Masyarakat (Participation)
Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan,
baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili
kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan
berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk berpartisipasi secara
konstruktif. Partisipasi bermaksud untuk menjamin agar setiap kebijakan yang diambil
mencerminkan aspirasi masyarakat. Dalam rangka mengantisipasi berbagai isu yang ada,
pemerintah daerah menyediakan saluran komunikasi agar masyarakat dapat
mengutarakan pendapatnya. Jalur komunikasi ini meliputi pertemuan umum, temu
wicara, konsultasi dan penyampaian pendapat secara tertulis. Bentuk lain untuk
merangsang keterlibatan masyarakat adalah melalui perencanaan partisipatif untuk
menyiapkan agenda pembangunan, pemantauan, evaluasi dan pengawasan secara
partisipatif dan mekanisme konsultasi untuk menyelesaikan isu sektoral.

b. Tegaknya Supremasi Hukum (Rule of Law)


Partisipasi masyarakat dalam proses politik dan perumusan-perumusan
kebijakan publik memerlukan sistem dan aturan-aturan hukum. Sehubungan dengan itu,
dalam proses mewujudkan cita good governance, harus diimbangi dengan komitmen
untuk menegakkan rule of law dengan karakter-karakter antara lain sebagai berikut:
Supremasi hukum (the supremacy of law), Kepastian hukum (legal certainty), Hukum
yang responsip, Penegakkan hukum yang konsisten dan non-diskriminatif, Indepedensi
peradilan. Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk
di dalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia.

c. Transparansi (Transparency)
Transparansi adalah keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang
diambil oleh pemerintah. Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Tranparansi
dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan, lembaga-
lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan
informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Sehingga

9
bertambahnya wawasan dan pengetahuan masyarakat terhadap penyelenggaraan
pemerintahan. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan,
meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan dan
berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan.

d. Peduli pada Stakeholder/Dunia Usaha


Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani
semua pihak yang berkepentingan. Dalam konteks praktek lapangan dunia usaha, pihak
korporasi mempunyai tanggungjawab moral untuk mendukung bagaimana good
governance dapat berjalan dengan baik di masing-masing lembaganya. Pelaksanaan
good governance secara benar dan konsisten bagi dunia usaha adalah perwujudan dari
pelaksanaan etika bisnis yang seharusnya dimiliki oleh setiap lembaga korporasi yang
ada didunia. Dalam lingkup tertentu etika bisnis berperan sebagai elemen mendasar dari
konsep CSR (Corporate Social Responsibility) yang dimiliki oleh perusahaan. Pihak
perusahaan mempunyai kewajiban sebagai bagian masyarakat yang lebih luas untuk
memberikan kontribusinya. Praktek good governance menjadi kemudian guidence atau
panduan untuk operasional perusahaan, baik yang dilakukan dalam kegiatan internal
maupun eksternal perusahaan. Internal berkaitan dengan operasional perusahaan dan
bagaimana perusahaan tersebut bekerja, sedangkan eksternal lebih kepada bagaimana
perusahaan tersebut bekerja dengan stakeholder lainnya, termasuk didalamnya publik.

e. Berorientasi pada Konsensus (Consensus)


Menyatakan bahwa keputusan apapun harus dilakukan melalui proses
musyawarah melalui konsesus. Model pengambilan keputusan tersebut, selain dapat
memuaskan semua pihak atau sebagian besar pihak, juga akan menjadi keputusan yang
mengikat dan milik bersama, sehingga ia akan mempunyai kekuatan memaksa
(coercive power) bagi semua komponen yang terlibat untuk melaksanakan keputusan
tersebut. Paradigma ini perlu dikembangkan dalam konteks pelaksanaan pemerintahan,
karena urusan yang mereka kelola adalah persoalan-persoalan publik yang harus
dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Semakin banyak yang terlibat dalam proses
pengambilan keputusan secara partisipasi, maka akan semakin banyak aspirasi dan
kebutuhan masyarakat yang terwakili. Tata pemerintahan yang baik menjembatani

10
kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus
menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok masyarakat, dan bila
mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur.

f. Kesetaraan (Equity)
Kesetaraan yakni kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan. Semua
warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan
kesejahteraan mereka. Prinsip kesetaraan menciptakan kepercayaan timbal-balik antara
pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di
dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Informasi adalah suatu
kebutuhan penting masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan daerah.
Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah daerah perlu proaktif memberikan informasi
lengkap tentang kebijakan dan layanan yang disediakannya kepada masyarakat.
Pemerintah daerah perlu mendayagunakan berbagai jalur komunikasi seperti melalui
brosur, leaflet, pengumuman melalui koran, radio serta televisi lokal. Pemerintah
daerah perlu menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi.

g. Efektifitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency)


Untuk menunjang prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas, pemerintahan
yang baik dan bersih juga harus memenuhi kriteria efektif dan efisien yakni berdaya
guna dan berhasil-guna. Kriteria efektif biasanya di ukur dengan parameter produk
yang dapat menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai
kelompok dan lapisan sosial. Agar pemerintahan itu efektif dan efisien, maka para
pejabat pemerintahan harus mampu menyusun perencanaan-perencanaan yang sesuai
dengan kebutuhan nyata masyarakat, dan disusun secara rasional dan terukur. Dengan
perencanaan yang rasional tersebut, maka harapan partisipasi masyarakat akan dapat
digerakkan dengan mudah, karena program-program itu menjadi bagian dari kebutuhan
mereka. Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai
kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada
seoptimal mungkin.

11
h.Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas adalah pertangungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat
yang memberinya kewenangan untuk mengurusi kepentingan mereka. Para pengambil
keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat
bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang
berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya
tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan. Instrumen dasar akuntabilitas
adalah peraturan perundang-undangan yang ada, dengan komitmen politik akan
akuntabilitas maupun mekanisme pertanggungjawaban, sedangkan instrumen-instrumen
pendukungnya adalah pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja
penyelenggara pemerintahan dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan
tegas.

i. Visi Strategis (Strategic Vision)


Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi masa
yang akan datang. Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh
ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan
akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu
mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan
sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.

2. Penerapan Good Governance di Indonesia


Good Governance diIndonesia sendiri mulai benar – benar dirintis dan diterapkan sejak
meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi perombakan sistem
pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih sehingga Good Governance merupakan
salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam pemerintahan baru. Akan tetapi, jika dilihat
dari perkembangan Reformasi yang sudah berjalan selama 12 tahun ini, penerapan Good Governance
diIndonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita – cita Reformasi
sebelumnya. Masih banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan
akuntansi yang merupakan dua produk utama Good Governance.

Akan tetapi, Hal tersebut tidak berarti gagal untuk diterapkan, banyak upaya yang dilakukan
pemerintah dalam menciptaka iklim Good Governance yang baik, diantaranya ialah mulai

12
diupayakannya transparansi informasi terhadap publik mengenai APBN sehingga memudahkan
masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menciptakan kebijakan dan dalam proses pengawasan
pengelolaan APBN dan BUMN. Oleh karena itu, hal tersebut dapat terus menjadi acuan terhadap
akuntabilitas manajerial dari sektor publik tersebut agar kelak lebih baik dan kredibel kedepannya.
Undang-undang, peraturan dan lembaga – lembaga penunjang pelaksanaan Good governance pun
banyak yang dibentuk. Hal ini sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan sektor publik pada era
Orde Lama yang banyak dipolitisir pengelolaannya dan juga pada era Orde Baru dimana sektor publik
di tempatkan sebagai agent of development bukannya sebagai entitas bisnis sehingga masih kental
dengan rezim yang sangat menghambat terlahirnya pemerintahan berbasis Good Governance.

Diterapkannya Good Governance diIndonesia tidak hanya membawa dampak positif dalam
sistem pemerintahan saja akan tetapi hal tersebut mampu membawa dampak positif terhadap badan
usaha non-pemerintah yaitu dengan lahirnya Good Corporate Governance. Dengan landasan yang
kuat diharapkan akan membawa bangsa Indonesia kedalam suatu pemerintahan yang bersih dan
amanah.

B. Pengertian CSR (Corporate Social Responbility)


CSR(Corporate Sosial Responbility)adalah suatu mekanisme sebuah perusahaan untuk secara
sadar mengintegrasikan perhatiannya terhadap lingkungan sosial ke dalam operasi dan interaksinya
denganstakehilderyang melampaui tanggung jawab sosial khususnya di bidang hukum. Secara
sederhanya, CSR adalah sebuah konsep dan tindakan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan sebagai
rasa tanggung jawabnya terhadap sosial dan lingkungan sekitar dimana perusahaan tersebut berdiri.
Seperti dengan melaksanakan suatu kegiatan yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau
penduduk sekitar, menjaga lingkungan sekitar, memberikan beasiswa pendidikan kepada masyarakat
yang kurang mampu, membangun fasilitas umum, dan memberikan bantuan berupa dana ataupun
kebutuhan pokok untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.
Pada dasarnya CSR adalah bentuk tanggung jawab sebuah perusahaan
terhadapstakeholderatau pemangku kepentingan. Menurut para ahli, CSR memiliki 3 definisi, yakni :
1.Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup
yang diharuskan dalam peraturan perundangan- undangan. 2.Komitmen usaha yang dilakukan secara
etis, beroperasi secara resmi, serta dapat berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang di iringi
dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta

13
masyarakat luas. 3.Komitmen bisnis untuk turut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga karyawan, komunitas lokal, serta
masyarakat luas dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup bersama.

1. Fungsi CSR(Corporate Sosial Responbility)


Berikut ini adalah beberapa penjelasan mengenai fungsi CSR sebagai bentuk tanggung jawab
kepada berbagai pihak yang terlibat.

1. Izin Sosial untuk Beroperasi Bagi sebuah perusahaan, masyarakat merupakan salah satu
faktor yang membuat perusahaan itu bisa berkembang atau tidak. Dengan adanya CSR,
masyarakat yang bertempat tinggal disekitar perusahaan tersebut akan mendapatkan
manfaat dari perusahaan yang bersangkutan. Tentunya hal ini akan menguntungkan bagi
masyarakat sekitar. Sehingga lama kelamaan masyarakat akan menjadi loyal dengan
perusahaan tersebut. Jika sudah seperti ini perusahaan akan jauh lebih mudah untuk
menjalankan program atau kegiatannya di daerah yang bersangkutan.
2. CSR Dapat Memperkecil Resiko Bisnis Perusahaan CSR(Corporate Sosial
Responbility)akan membuat hubungan antara perusahaan dengan pihak yang terlibat
semakin menjadi lebih baik lagi, sehingga resiko bisnis seperti adanya kerusuhan bisa
diatasi dengan mudah. Jika seperti itu maka biaya pengalihan resiko bisa digunakan untuk
suatu hal yang lebih bermanfaat untuk masyarakat atau perusahaan.
3. CSR Dapat Melebarkan Akses Sumber Daya CSR(Corporate Sosial Responbility)jika
dikelola dengan baik akan menjadi keunggulan tersendiri untuk dapat bersaing dan untuk
memudahkan perusahaan untuk mendapatkan sumber daya yang diperlukan.
4. CSR Memudahkan Akses Menuju Market Seluruh investasi serta biaya yang telah
dikeluarkan untuk program CSR(Corporate Sosial Responbility)sebenarnya bisa menjadi
sebuah peluang yang baik untuk mendapatkan market yang lebih besar lagi. Termasuk di
dalamnya bisa membangun loyalitas konsumen serta bisa menembus pangsa pasar yang
baru. Hal ini dikarenakan program CSR bisa membuat nama atau brand perusahaan
menjadi lebih terkenal dan di kagumi oleh masyarakat luas.
5. CRS Bisa Memperkecil Biaya Pengeluaran Program CSR(Corporate Sosial
Responbility)juga bisa menghemat biaya perusahaan seperti menerapkan konsep daur
ulang dalam perusahaan. Sehingga limbah yang dihasilkan akan berkurang dan biaya
untuk produksi juga akan lebih berkurang.

14
6. CSR Dapat Memperbaiki Hubungan dengan Stakeholder Pelaksanaan program
CSR(Corporate Sosial Responbility)bisa membantu atau memudahkan komunikasi
dengan stakeholder. Dimana hal tersebut akan menambahtruststakeholder kepada
perusahaan yang bersangkutan.
7. CSR Bisa Memperbaiki Hubungan dengan Regulator Perusahaan yang melakukan
program CSR pada umumnya akan turut meringankan beban pemerintah sebagai
regulator. Dimana pemerintahlah yang sebenarnya memiliki tanggung jawab besar
terhadap kesejahteraan lingkungan dan masyarakatnya.
8. CSR Meningkatkan Semangat dan Produktivitas Karyawan Reputasi sebuah perusahaan
yang baik adalah perusahaan yang bisa berkontibusi besar kepada stakeholder,
masyarakat sekitar, dan lingkungannya. Hal ini tentunya akan menambah kebanggan
tersendiri untuk karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut yang mana hal ini akan
berdampak pada peningkatan etos kerja dan produktivitas para karyawannya.
9. CSR Memperbesar Peluang Mendapatkan Penghargaan Perusahaan yang memberikan
kontribusi yang besar bagi masyarakat luas dan lingkungan sekitar melalui program
CSR(Corporate Sosial Responbility)akan berpeluang lebih besar untuk mendapatkan
sebuah penghargaan. Tentunya hal ini akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi
perusahaan tersebut. Manfaat CSR(Corporate Sosial Responbility).

2. Manfaat jika sebuah perusahaan memiliki program CSR


Ada beberapa manfaat jika sebuah perusahaan memiliki program CSR. Berikut ini adalah
ulasan lebih lengkapnya.
A. Manfaat CSR untuk Perusahaan
1. Meningkat citra perusahaan di mata masyarakat.
2. Mengembangkan kerja sama dengan perusahaan lain.
3. .Membedakan perusahaan tersebut dengan para kompetitornya.
4. Memperkuat brand merk perusahaan di mata masyarakat.
5. Mmberikan inovasi bagi perusahaan tersebut.

15
B. Manfaat CSR untuk Masyarakat.
1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan meningkatkan kelestarian lingkungan
hidup sekitar.
2. Adanya beasiswa untuk anak tidak mampu di daerah tersebut.
3. Meningkatnya pemeliharaan fasilitas umum.
4. Adanya pembangunan fasilitas masyarakat yang sifatnya sosial dan berguna untuk
masyarakat banyak khususnya untuk masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut.

C. Pengertian SDGs (Sustainable Development Goals)


Sustainable Development Goals atau SDGs adalah tujuan pembangunan berkelanjutan yang
disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di seluruh dunia. Secara umum, program ini memiliki tujuan untuk menyelesaikan
permasalahan sosial dan ekonomi di negara yang membutuhkan bantuan.

1. Sejarah SDGs
Sejarah SDGs ternyata sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu atas kerja sama dari
berbagai negara di dunia dan PBB. Fondasi awal SDGs bisa ditelusur sejak 1992 dalam KTT Bumi di
Rio de Janeiro, Brasil, sebagaimana dilansir dari situs web Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial.
Dalam KTT ini, 178 negara mengadopsi Agenda 21 yang berisi rencana aksi komprehensif
membangun kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan guna meningkatkan kehidupan
manusia dan melindungi lingkungan.

Pembicaraan mengenai pembangunan berkelanjutan terus berlanjut dan digodok dalam


sejumlah KTT pada tahun-tahun mendatang. Pada 2013, Majelis Umum PBB membentuk Kelompok
Kerja Terbuka beranggotakan 30 orang untuk mengembangkan proposal tentang tujuan pembangunan
berkelanjutan. Pada Januari 2015, Majelis Umum PBB memulai proses negosiasi untuk agenda
pembangunan pasca-2015. Pada 25 September 2015, bertempat di Markas Besar PBB, kurang lebih
193 kepala negara secara resmi mengesahkan SDGs yang berisi 17 tujuan.

16
D. Tujuan SDGs 2030
SDGs memuat 17 tujuan untuk tahun 2030 yang dideklarasikan para kepala negara, baik
negara maju maupun negara berkembang, pada September 2015. Apa saja tujuan SDGs 2030?
Berikut 4 (empat) tujuannya antara lain :
1. No. 6 Air bersih dan sanitasi layak (clean water and sanitation)
Clean water and sanitation atau air bersih dan sanitasi layak adalah upaya untuk
memastikan setiap orang untuk bisa mendapatkan air bersih dan sanitasi yang layak. Pada
tahun 2030, PBB menargetkan seluruh manusia untuk memiliki akses air minum yang
aman dan terjangkau serta mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat.

Target nya :
 Pada tahun 2030, mencapai akses universal dan adil terhadap air minum yang aman
dan terjangkau untuk semua. Pada tahun 2030, mencapai akses terhadap sanitasi dan
kebersihan yang layak dan adil untuk semua dan mengakhiri buang air di tempat
terbuka, dengan memberikan perhatian khusus pada kebutuhan perempuan dan anak
perempuan serta mereka yang berada dalam situasi rentan.
 Pada tahun 2030, memperbaiki kualitas air dengan mengurangi polusi,
menghapuskan pembuangan limbah dan meminimalisir pembuangan bahan kimia
dan materi berbahaya, mengurangi separuh dari proporsi air limbah yang tidak
diolah dan secara substansial meningkatkan daur ulang dan penggunaan ulang yang
aman secara global.
 Pada tahun 2030, secara substantif meningkatkan penggunaan air secara efisien di
semua sektor dan memastikan pengambilan dan suplai air bersih yang berkelanjutan
untuk mengatasi kelangkaan air dan secara substansial mengurangi jumlah orang
yang mengalami kelangkaan air.
 Pada tahun 2030, mengimplementasikan pengelolaan sumber air yang terintegrasi
pada setiap level, termasuk melalui kerjasama antarbatas selayaknya. Pada tahun
2020, melindungi dan memperbaiki ekosistem terkait air, termasuk pegunungan,
hutan, rawa, sungai, resapan air dan danau.

17
2. No. 8 Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (decent work and economic
growth)
Decent Work and Economic Growth atau pekerjaan layak dan pertumbuhan
ekonomi adalah tujuan ke-8 dalam program SDGs yang dicanangkan PBB. Mereka
berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di seluruh negara sehingga bisa
menjamin setiap orang mendapatkan pekerjaan yang layak.

Target nya :
 Memelihara pertumbuhan ekonomi perkapita sesuai dengan situasi nasional dan,
khususnya, setidaknya mempertahankan 7 persen pertumbuhan produk domestik
bruto pertahunnya di negara-negara kurang berkembang.
 Mencapai level yang lebih tinggi untuk produktivitas ekonomi melalui disertifikasi,
peningkatan mutu teknologi dan inovasi, termasuk melalui fokus terhadap sektor-
sektor yang mempunyai nilai tambah lebih dan padat karya.
 Mendorong kebijakan yang berorientasi pembangunan yang mendukung aktivitas-
aktivitas produktif, penciptaan lapangan kerja, kewirausahaan, kreativitas dan
inovasi, dan mendorong pembentukan dan pertumbuhan usaha mikro, kecil dan
menengah, termasuk melalui akses terhadap layanan pendanaan/permodalan.
 Memperbaiki secara progresif, sampai tahun 2030, efisiensi sumberdaya global
dalam hal konsumsi dan produksi dan berupaya untuk memisahkan pertumbuhan
ekonomi dari degradasi lingkungan, sesuai dengan kerangka kerja 10 tahun program
tentang konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, dengan dipelopori negara-
negara maju.
 Pada tahun 2030, mencapai ketenagakerjaan secara penuh dan produktif dan
pekerjaan yang layak bagi seluruh perempuan dan laki-laki, termasuk untuk kaum
muda dan orang dengan disabilitas, juga kesetaraan upah bagi pekerjaan yang
mempunyai nilai yang sama.
 Pada tahun 2020, secara substansial mengurangi proporsi usia muda yang tidak
bekerja, tidak berpendidikan atau terlatih.
 Mengambil langkah-langkah segera dan efektif untuk mengentaskan kerja paksa,
mengakhiri perbudakan modern dan perdagangan manusia dan menegakkan
larangan dan eliminasi bentuk terburuk dari tenaga kerja anak, termasuk perekrutan

18
dan pemanfaatan serdadu anak, dan pada tahun 2025 mengakhiri segala bentuk
tenaga kerja anak.
 Melindungi hak-hak pekerja dan mendukung lingkungan kerja yang aman bagi
seluruh pekerja, khususnya bagi perempuan buruh migran, dan pekerja dalam situasi
genting.
 Pada tahun 2030, merancang dan mengimplementasikan kebijakan yang mendukung
turisme yang berkelanjutan yang dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus
mendukung budaya dan produk lokal.
 Menguatkan kapasitas institusi keuangan domestik untuk mendorong dan melauskan
akses terhadap perbankan, asuransi dan layanan pendanaan untuk semua.

3. No. 9 Industri, inovasi, dan infrastruktur (industry, innovation and infrastructure)


Industy, Innovations, dan Infrastructure adalah upaya untuk membangun
infrastruktur yang baik, mendukung industrialisasi yang inklusif, serta membantu
perkembangan inovasi. Hal ini adalah salah satu cara untuk menciptakan kehidupan yang
lebih baik bagi masyarakat dunia.
Target nya :
 Membangun infrastruktur yang berkualitas, dapat diandalkan, berkelanjutan dan
tahan lama, termasuk infrastruktur regional dan antar batas, untuk mendukung
pembangunan ekonomi dan kesejahteraan manusia, dengan berfokus pada akses
yang terjangkau dan sama rata bagi semua.
 Mendorong industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dan, pada tahun 2030,
secara signifikan meningkatkan bagian industri terhadap penciptaan lapangan kerja
dan produk domestik bruto, sejalan dengan situasi nasional, dan menggandakan
bagian industri di negara kurang berkembang.
 Meningkatkan akses industri skala kecil dan usaha skala kecil lainnya, khususnya di
negara-negara berkembang terhadap layanan pendanaan, termasuk kredit yang
terjangkau dan digabungkan dengan value chains dan pasar.
 Pada tahun 2030, meningkatkan mutu infrastruktur dan menambahkan komponen
pada industri agar dapat berkelanjutan, dengan ditambahkan efisiensi penggunaan
sumber daya dan mengadopsi teknologi bersih dan ramah lingkungan dan proses

19
industrial, dimana semua negara melakukan aksi ini disesuaikan dengan kemampuan
masing-masing.
 Menambah penelitian ilmiah, meningkatkan kemampuan teknologi dari sektor
industri di semua negara, khususnya negara berkembang, termasuk, pada tahun
2030, mendorong inovasi dan secara substantif meningkatkan jumlah riset dan
tenaga pembangunan per 1 juta orang dan juga riset publik dan swasta serta
pengeluaran pembangunan.

4. No. 13 Penanganan perubahan iklim (climate action)


Perubahan iklim adalah masalah yang serius dan bisa menimbulkan berbagai
permasalahan seperti bencana. Program SDGs adalah salah satu langkah untuk melakukan
adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim untuk mencegah hal-hal buruk terjadi dalam
tujuan ke-13, yaitu climate action.
Target nya :
 Menguatkan daya tahan dan kapasitas adaptasi terhadap bahaya hal-hal yang
berkaitan dengan iklim dan bencana alam di semua negara.
 Mengintegrasikan ukuran-ukuran perubahan iklim ke dalam kebijakan, strategi dan
perencanaan nasional.
 Memperbaiki pendidikan, penyadaran dan juga kapasitas baik manusia maupun
institusi terhadap mitigasi perubahan iklim, adaptasi, pengurangan dampak dan
peringatan dini.

Tujuan SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan termaktub di dalam Perpres No 111
Tahun 2022 yang berisi empat poin yaitu

1. Menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan.


2. Menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat.
3. Menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif.
4. Terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu
generasi ke generasi berikutnya.

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berikut kesimpulan yang dapat diambil :
1. Good Corporate Governance (GCG) berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai
perusahaan. Artinya besarnya nilai GCG tidak mampu memprediksi besarnya nilai
perusahaan.
2. Coporate Social Responsibility (CSR) tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Artinya pelaksanaan dan pengungkapan CSR tidak mampu memprediksi besarnya nilai
perusahaan.

3.2 Saran
Good Corporate Governance (GCG) dan Coporate Social Responsibility (CSR) mampu
memperkuat pengaruh profitabilitas (ROE) terhadap nilai perusahaan. Maka dari itu, disarankan
kepada perusahaan untuk memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik dan pengungkapan
CSR untuk mendukung kenaikan nilai perusahaan. Kepada para investor juga disarankan untuk
meninjau penerapan GCG dan pelasanaan CSR sebelum melakukan investasi, diharapkan dengan
memilih perusahaan yang memiliki tata kelola yang baik dan berpihak pada masyarakat melalui
CSR, maka nilai perusahaan akan meningkat seiring peningkatan profitabilitas.

21
DAFTAR PUSTAKA

Wahab, Solichin Abdul. 2002. Analisis Kebijaksanaan: dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan
Negara. Jakarta: Sinar Grafika.
Sunyoto Danang dan Wika Harisa Putri. 2016. Etika Bisnis. Cetakan ke-1. Yogyakarta : Penerbit
CAPS, Media Presindo Group
Effendi, Muh, Arief., S.E., M.Si., Ak., QIA. 2016. The Power Of Good CorparateGovernance : Teori
dan Implementasi (Edisi 2). Jakarta : Salemba Empat.
https://sdgs.un.org/goals
https://lestari.kompas.com/read/2023/05/02/080000486/mengenal-17-tujuan-sdgs-pembangunan-
berkelanjutan-beserta-penjelasannya?page=all

22

Anda mungkin juga menyukai