MAKALAH RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Inovasi Psikoterapi
Dosen Pengampu: Erwanto, M.Psi, Psikolog
Disusun oleh :
Muhamad daffa 1931060092
Nur fadilah 1931060110
Peratiwi aprillia w 1931060050
JURUSAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI FAKULTAS
USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
TAHUN 2022M/1443H
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobilalamin bagi Allah SWT, yang telah memberikan begitu
banyak kenikmatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalahnya, untuk memenuhi mata kuliah Kuliah Inovasi Psikoterapi yang
berjudul ” Rational Emotive Behavior Therapy ”
Dalam penyelesaian makalah ini penulis banyak membutuhkan bimbingan yang
sangat berharga untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak
dosen pengapu mata kuliah psikologi transpersonal yang telah membimbing dan
memberi arahan kepada penulis.
Selanjutnya kepada teman-teman Tasawuf Psikoterapi terimakasih banyak telah
memberikan dukungan dan semangat kepada penulis hingga saat ini. Kemudian
penulis menyadari dalam makalah ini banyak sekali kekurangan dan jauh dari kata
sempurna, mengingat keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki, oleh karena itu,
kritik dan saran sangat butuhkan bagi penulis, untuk menjadi perbaikan dalam
penulisan selanjutnya.
Bandar Lampung, 15 oktober 2022
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
C. Tujuan Masalah .......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Rational-Emotive Behavior Therapy.......................................... 3
B. Konsep Dasar...........................................................................................3
C. Tujuan Konseling ....................................................................................... 8
D. Peran Dan Fungsi Konselor ........................................................................ 9
E. Tahap-Tahap Konseling ........................................................................... 10
F. TEKNIK TERAPI ..................................................................................... 11
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 15
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendekatan rational-emotive behavior therapy (REBT) adalah pendekatan
behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku
dan pikiran. Pendekatan rational-emotive behavior therapy (REBT) di kembangkan
oleh albert ellis melalui beberapa tahapan. Pandangan dasar pendekatan ini tentang
manusia adalah bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang salah
satunya didapat melalui belajar sosial. Di samping itu, individu juga memiliki
kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir rasional. Pendekatan ini bertujuan
untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran
yang rasional melalui teori ABC.
Banyak masalah yang terjadi pada manusia melalui pola pikir, tingkah laku dan
lingkungan yang mempengaruhi timbulnya rasa menyalahkan diri sendiri atau
ketidak percayaan diri manusia. Oleh sebab itu psikoterapi dengan rational-emotive
behavior therapy, akan membantu menyelesaikan masalahnya dengan teknik-teknik
terapinya.
Selain itu juga upaya dalam integrasi keilmuan dalam bidang konseling dapat
dilakukan dengan integrasi pendekatan konseling dengan kajian Islam. Misalnya
dengan mengintegrasikan pendekatan Rasional Emotif Behavior Therapy (REBT)
dengan Islam. Hal ini berdasarkan pada (1) intervensi berasal teori REBT jarang
bertentangan dengan tradisi agama klien apalagi dalam konteks masyarakat
Indonesia yang mayoritas beragama Islam. (2) Intervensi REBT begitu spesifik fokus
pada keyakinan, begitu juga agama (Islam) yang menjadikan keyakinan (keimanan)
sebagai pondasi dalam beragama. (3) Dalam pendekatan konseling REBT Islami
mengintegrasikan materi keagamaan dengan Intervensi Rasional Emotif yang dapat
membuat hidup klien sangat pribadi, kuat, dan mendalam khususnya bagi klien yang
religious (beragama). (4) Sebagai seorang konselor REBT Islami tidak
diperkenankan mengakomodasi keyakinan agama konselor kepada klien selama
1
terapi, berikan kebebasan kepada klien untuk mengintegrasikan keyakinan
agamanya. Oleh karena itu REBT sangat cocok untuk mengintegrasikan keyakinan
agama klien dalam intervensinya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa saja yang dibahas tentang Rational-Emotive Behavior Therapy ?
2. Bagaimana Teknik Rational-Emotive Behavior Therapy ?
C. Tujuan
1. Untuk lebih mengetahui tentang Rational-Emotive Behavior Therapy.
2. Untuk lebih mengetahui Bagaimana Teknik Rational-Emotive Behavior
Therapy.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Rational-Emotive Behavior Therapy
Menurut George & Cristiani Rational Emotif Behavior Therapy (REBT)
adalah pendekatan bersifat direktif, yaitu pendekatan yang membelajarkan
kembali konseli untuk memaham input kognitif yang menyebabkan gangguan
emosional, mencoba mengubah pikiran konseli agar membiarkan pikiran
irasionalnya atau belajar mengantisipasi manfaat atau konsekuensi dari tingkah
laku.
Menurut Albert Ellis REBT (Rational Emotif Behavior Therapy) adalah
suatu rancangan terapeutik, dalam konseling atau psikoterap, pemakaian
rancangan ini mementingkan berpikir irasional sebagai tujuan terapeutik,
menekankan modifikasi atau pengubahan keyakinan irasional yang telah
merupakan berbagai konsekuensi emosional dan tingkah laku. Sependapat
dengan Ellis yang menjelaskan tentang REBT (Rational Emotif Behavior
Therapy), Latipun perasaan cemas, mengganggap ada bahaya yang sedang
mengancam, dan pada akhirnya akan melakukan atau mereaksi peristiwa itu
tidak realistis
B. Konsep Dasar
1. Asumsi Dasar
Ellis (1993) mengatakan beberapa asumsi dasar rebt yang dapat
dikategorisasikan pada beberapa postulat, antara lain:
- Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling
berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain .
- Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan
- Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan
individu juga secara mengaja mempengaruhi orang lain di sekitarnya.
3
- Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional, dan tingkah
laku.individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain
- Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu cenderung
menciptakan keyakinan yang irasional tentang kejadian tersebut.
- Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu
- Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk
membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya
- Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri (self-
defeating behavior)
Menurut nelson dan jones (1995) pendekatan rational-emotive behavior
therapy (rebt) memiliki tiga hipotesis fundamental yang menjadi landasan
berpikir dari teori ini, yaitu:
- Pikiran dan emosi saling berkaitan
- pikiran dan emosi biasanya saling mempengaruhi satu sama lain,
keduanya bekerja seperti lingkaran yang memiliki hubungan sebab-
akibat, dan pada poin tertentu, pikiran dan emosi menjadi hal yang
sama.
- Pikiran dan emosi cenderung berperan dalam self-talk (perbincangan
dalam diri individu yang kerap kali diucapkan oleh individu sehingga
menjadi pikiran dan emosi). Sehingga pernyataan internal individu
sangat berarti dalam menghasilkan dan memodifikasi emosi individu
Menurut ellis, terdapat enam prinsip teori rational-emotive behavior
therapy, antara lain:
- Pikiran adalah penentu proksimal yang paling penting terhadap emosi
individu.
- Disfungsi berpikir adalah penentu utama stres emosi.
- Cara terbaik untuk mengatasi stress adalah dengan mengubah cara
berpikir
4
- Percaya atas berbagai faktor yaitu pengaruh genetik dan lingkungan
yang menjadi penyebab pikiran yang irasional.
- Menekankan pada masa sekarang (present) dari pada pengaruh masa
lalu . Perubahan tidak terjadi dengan mudah
2. Proses Berpikir
Menurut pandangan pendekatan rational-emotive behavior therapy
(REBT), individu memiliki tiga tingkatan berpikir, yaitu berpikir tentang apa
yang ter jadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti (inferences), mengadakan
penilaian terhadap fakta dan bukti (evaluation), dan keyakinan terhadap
proses inferences dan evaluasi (core belief). Ellis berpendapat bahwa yang
menjadi sumber terjadinya masalah-masalah emosional adalah evaluative
belief yang dikenal dalam istilah rational-emotive behavior therapy (rebt)
adalah irrational belief yang dapat dikategorik menjadi empat, yaitu
- Demands (tuntutan) adalah tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis
dan absolut terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenali dengan
kata-kata seperti, harus, sebaiknya, dan lebih baik.
- Awfulising adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu
situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak
menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan.
- Low frustation tolerance (lft) adalah kelanjutan dari tuntutan untuk
selalu berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan
ketidaktoleransian terhadap ketidaknyamanan.
- Global evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri
sendiri dan orang lain. Hal ini bermakna bahwa individu dapat diberi
peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi beberapa orang lebih
buruk atau tidak berharga dari yang lain.
5
3. Rasionalitas Sebagai Filosofi Personal (Rationality As A Personal
Philosopy)
Individu memiliki personal aturan-aturan atau filosofi hidup yang
dipengaruhi oleh pola asuh, ajaran agama, prinsip umum hidup atau opini
yang dipegang teguh secara umum. Karena dipegang teguh secara dogmatik,
prinsip ini dipaksakan secara kaku dapat menjadi masalah bagi individu yang
menghambat pencapaian tujuan untuk kesenangan dan bertahan hidup.
Prinsip-prinsip ini yang menjadi fokus untuk diubah.
rational-emotive behavior therapy (rebt) membantu individu untuk
mengembangkan filosof hidup yang baru yang dapat membantu mengurangi
stres dan meningkatkan kebahagiaan. Pandangan rational-emotive bebquior
therapy (rebt) bahwa individu dapat memilih untuk menyakiti diri sendiri
dengan pikiran yang tidak logis dan tidak ilmiah atau mengembangkan
kebahagiaan hidup dengan berpikir rasional berdasarkan bukti-bukti dan
fakta. Tujuan-tujuan prinsip rasional ada lah untuk meningkatkan keyakinan
dan kebiasaan yang sesuai dengan prinsip untuk bertahan hidup, mencapai
kepuasan dalam hidup, berhubungan dengan orang lain dengan cara yang
positif, dan mencapai keterlibatan yang intim dengan beberapa orang.
Konselor membantu konseli untuk selalu ingat bahwa semua orang adalah
bisa salah dan terpeleser, mengurangi tuntutan untuk menjadi perfeksionis,
mengembangkan penerimaan diri dan penerimaan terhadap orang lain yang
positif. Perubahan ini dilandasi oleh pikiran yang logis dan ilmiah yang
menghasilkan perubahan yang mendalam pada filosofi hidup dan sikap
individu.
4. Teori ABC
Teori abc adalah teori tentang kepribadian individu dari sudut pandang
pendekatan rational-emotive behavior therapy (rebt), kemudian ditambahkan
d dan e untuk mengakomodasi perubahan dan hasil yang diinginkan dari per
6
ubahan tersebut. Selanjutnya, ditambahkan g yang diletakkan di awal untuk
memberikan konteks pada kepribadian individu:
G: (goals) atau tujuan-tujuan, yaitu tujuan fundamental ecoparente
A: (activating events in a person's life) atau kejadian yang mengakiikan atau
mengakibatkan
B: (beliefs) atau keyakinan baik rasional maupun irasional
C: (consequences) atau konsekuensi baik emosional maupun tingkah laku
D: (disputing irrational belief) atau melakukan dispute pikiran rasional
E: (effective new philosophy of life) atau mengembangkan filosofi hidup
yang efektif
F. (further action/new feeling) atau aksi yang akan dilakukan lebih lanjut dan
perasaan baru yang dikembangkan.
Selanjutnya, ellis menegaskan bahwa irrational thinking (berpikir irasional)
menjadi masalah bagi individu karena:
- Menghambat individu dalam mencapai tujuan-tujuan, menciptakan
emosi yang ekstrim yang mengakibatkan stres dan menghambat
mobilitas dan mengarahkan pada tingkah laku yang menyakiti diri
sendiri.
- Menyalahkan kenyataan (salah menginterpretasikan kejadian yang
terjadi atau tidak didukung oleh bukti yang kuat)
- Mengandung cara yang tidak logis dalam mengevaluasi diri, orang lain
dan lingkungan sekitar (froggatt, 2005, p. 1)
Pendekatan rebt berpendapat bahwa individu mengalahkan atau
mengganggu dirinya dengan dua cara, yaitu dengan memegang teguh
keyakinan irasional tentang self (diri) yang disebut dengan ego disturbance
dan dengan memegang teguh keyakinan irasional tentang emosi dan
kenyamanan fisik, hal ini disebut juga dengan discomfort disturbance
7
(froggatt, 2005, p. 2). Ego disturbance merepresentasikan kecemasan dan
kemarahan terhadap citra diri (self-image) Sedangkan discomfort disturbance
dihasilkan dari tuntutan atas orang lain. Discomfort disturbance terdiri dari
dua tipe, yaitu:
- Low Frustration Tolerance
Hal ini dihasilkan dari tuntutan terhadap lingkungan yang tidak terpenuhi,
diikuti oleh kejadian buruk. Seperti: "lingkungan harus seperti yang saya
inginkan, atau saya tidak bisa bertahan bila lingkungan sekitar tidak seperti
yang saya inginkan".
- Low Discomfort Tolerance
Hal ini timbul dari tuntutan individu bahwa ia tidak boleh memiliki
pengalaman yang tidak nyaman secara emosi dan fisik. Seperti keyakinan,
ketidaknyamanan dan cenderung menghindari dari situasi yang membuatnya
tidak nyaman".
C. Tujuan Konseling
Tujuan utama konseling dengan pendekatan rational-emotive behavior therapy
(REBT) adalah membantu individu menyadari bahwa mereka dapat hidup dengan
lebih rasional dan lebih produktif. Secara lebih gamblang, rational emotive
behavior therapy (REBT) mengajarkan individu untuk mengoreksi kesalahan
berpikir untuk mereduksi emosi yang tidak diharapkan. Selain itu, rational-emotive
behavior therapy (REBT) membantu individu untuk mengubah kebiasaan berpikir
dan tingkah laku yang merusak diri. Secara umum, rational-emotive behavior
therapy (REBT) mendukung konseli untuk menjadi lebih toleran terhadap diri
sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Ellis dan Benard (1986) mendeskripsikan
beberapa sub tujuan yang sesuai dengan nilai dasar pendekatan rational-emotive
behavior therapy (REBT). Sub tujuan ini dapat membantu individu mencapai nilai
untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). Tujuan tersebut
adalah:
8
- Memiliki minat diri (self interest)
- Memiliki minat sosial (social interest)
- Memiliki pengarahan diri (self direction)
- Toleransi (tolerance)
- Fleksibel (flexibility)
- Memiliki penerimaan (acceptance)
- Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)
- Dapat menerima diri sendiri (self acceptance) .
- Dapat mengambil risiko (risk taking)
- Memiliki harapan yang realistis (realistic expectation)
- Memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi (high frustration tolerance)
- Memiliki tanggung jawab pribadi (self responsibility)
D. Peran Dan Fungsi Konselor
Peran konselor dalam pendekatan rational-emotive behavior therapy (rebt)
adalah;
- Aktif-direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk memberikan pen
jelasan terutama pada awal konseling
- Mengkonfrontasi pikiran irasional konseli secara langsung
- Menggunakan berbagai teknik untuk menstimulus konseli untuk berpikirdan
mendidik kembali diri konseli sendiri
- Secara terus menerus "menyerang" pemikiran irasional konseling.
- Mengajak konseli untuk mengatasi masalahnya dengan kekuatan berpikir
bukan emosi
- Bersifat didaktif.
Dalam melaksanakan pendekatan rational-emotive behavior therapy, konselor
diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik karena rational-emotive
behavior therapy (rebt) banyak didominasi oleh teknik teknik yang menggunakan
pengolahan verbal. Selain itu, secara umum konselor harus memiliki keterampilan
untuk membangun hubungan konseling. Adapun keterampilan konseling yang
9
harus dimiliki konselor yang akan menggunakan pendekatan rational-emotive
behavior therapy (rebt), adalah Empati (empathy), menghargai (respect), ketulusan
(genuineness), kekongkritan (concreteness), konfrontasi (confrontation).
E. Tahap-Tahap Konseling
Dalam proses konseling dengan pendekatan REBT terdapat beberapa tahap
yang dikerjakan oleh konselor dan konseli, yaitu:
- Tahap 1
Proses di mana konseli diperlihatkan dan disadarkan bahwa mereka tidak logis
dan irasional. Proses ini membantu konseli memahami bagaimana dan mengapa
dapat menjadi irasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka memiliki
potensi untuk mengubah hal tersebut.
- Tahap 2
Pada tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan
negatif tersebut dapat ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli mengeksplorasi
ide ide untuk menentukan tujuan-tujuan rasional. Konselor juga mendebat pikiran
irasional konseli dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide
tentang diri, orang lain dan lingkungan sekitar. Pada tahap ini konselor
menggunakan teknik-teknik konseling rational-emotive behavior therapy (rebt)
untuk membantu konseli mengembangkan pikiran rasional.
- Tahap 3
Tahap akhir ini, konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan
pikiran rasional serta mengembangkan filosofi hidup yang rasional sehingga
konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikiran irasional.
Tahap-tahap konseling ini merupakan proses natural dan berkelanjutan. Tahap-
tahap ini menggambarkan keseluruhan proses konseling yang dilalui oleh konselor
dan konseli. Dari tahap-tahap terdapat dua tugas utama konselor yaitu:
10
Interpersonal, yaitu membangun hubungan terapeutik, membangun rapport, dan
suasana yang kolaboratif dan Organisational, yaitu bersosialisasi dengan konseli
untuk memulai terapi, mengadakan proses asesmen awal, menyetujui wilayah
masalah dan mem bangun tujuan konseling.
F. TEKNIK TERAPI
Teknik konseling dengan pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy
(REBT) dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu: teknik kognitif, teknik
imageri dan teknik behavioral atau tingkah laku.
A. Teknik Kognitif
Adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien.
Dewa Ketut menerangkan ada empat tahap dalam teknik-teknik kognitif:
a. Tahap Pengajaran
Dalam REBT, konselor mengambil peranan lebih aktif dari pelajar. Tahap ini
memberikan keleluasaan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu
kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidak logikaan berfikir itu secara
langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.
b. Tahap Persuasif
Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya karena pandangan yang ia
kemukakan itu tidak benar. Dan Konselor juga mencoba meyakinkan, berbagai
argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.
c. Tahap Konfrontasi
Konselor mengubah ketidak logikaan berfikir klien dan membawa klien ke
arah berfikir yang lebih logika.
11
d. Tahap Pemberian
Tugas Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan
tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan
anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan atau
membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.
B. Teknik Imageri
a. Dispute Imajinasi (Imaginal Disputation)
Strategi imaginal disputation melibatkan penggunakan imageri. Setelah
melakukan dispute secara verbal, konselor meminta konseli untuk
membayangkan dirinya kembali pada situasi yang menjadi masalah dan melihat
apakah emosinya telah berubah. Bila ya, maka konselor meminta konseli untuk
mengatakan pada dirinya sebagai individu yang berpikir lebih rasional dan
mengulang kembali proses di atas. Bila belum maka keyakinan irasionalnya
masih ada.
b. Kartu Kontrol Emosional (The Emotional Control Card-Ecc)
Adalah alat yang dapat membantu konseli menguatkan dan memperluas
praktik rational-emotive behavior therapy (rebt). Ecc biasa digunakan untuk
memperkuat proses belajar, secara lebih khusus perasaan marah (anger), kritik
diri (self-criticism), kecemasan (anxiety), dan depresi (depression). Ecc berisi
dua kategori perasaan yang paralel, yaitu (1) perasaan yang tidak seharusnya
atau yang merusak diri dan (2) perasaan yang sesuai dan tidak merusak diri.
c. Proyeksi Waktu (Time Projection)
Meminta konseli untuk memvisualisasikan kejadian yang tidak
menyenangkan ketika kejadian itu terjadi, setelah itu membayangkan semi
sebulan kemudian, enam bulan kemudian, setahun kemudian, 6/12 nya.
Bagaimana konseli merasakan perbedaan tiap waktu yang dibayangkan. Konseli
dapat melihat bahwa hidup berjalan terus dan membutuhkan penyesuaian.
12
d. Teknik Melebih-Lebihkan (The "Blow-Up" Technique)
Adalah variasi dari teknik "worst case imagery". Meminta konseli
membayangkan kejadian yang menyakitkan atau kejadian yang menakutkan,
kemudian melebih lebihkannya sampai pada taraf yang paling tinggi. Hal ini
bertujuan agar konseli dapat mengontrol ketakutannya.
C. Teknik Behavioral
a. Dispute Tingkah Laku (Behavioral Disputation)
Behavioral dispute atau risk taking, yaitu memberi kesempatan kepada
konseli untuk mengalami kejadian yang menyebabkannya berpikir irasional dan
melawan keyakinannya tersebut. Contoh, bila konseli memiliki keyakinan
bahwa ia harus sempurna mengerjakan tugas, maka konseli diminta untuk
mengerjakan tugas seadanya.
b. Bermain Peran (Role Playing)
Dengan Bantuan Konselor Konseli Melakukan Role Play Tingkah Laku Baru
Yang Sesuai Dengan Keyakinan Yang Rasional.
c. Peran Rasional Terbalik (Rational Role Reversal)
Yaitu Meminta Konseli Utnuk Memainkan Peran Yang Memiliki Keyakinan
Rasional Sementara Konselor Memainkan Peran Menjadi Konseli Yang
Irasional Konseli Melawan Keyakinan Irasional Konselor Dengan Keyakinan
Rasional Yang Diverbalisasikan.
d. Pengalaman Langsung (Exposure)
Konseli Secara Sengaja Memasuki Situasi Yang Menakutkan. Proses Ini
Dilakukan Melalu Perencanaan Dan Penerapan Keterampilan Mengatasi
Masalah (Coping Skills) Yang Telah Dipelajari Sebelumnya.
e. Menyerang Rasa Malu (Shame Attacking)
13
Melakukan Konfrontasi Terhadap Ketakutan Untuk Malu Dengan Secara
Sengaja Bertingkah Laku Yang Memalukan Dan Mengundang Ketidaksetujuan
Lingkungan Sekitar. Dalam Hal Ini Konseli Diajarkan Mengelola Dan
Mengantisipasi Perasaan Malunya.
f. Pekerjaan Rumah (Homework Assignments)
Selain Melakukan Disputation Secara Verbal, Rational-Emotive Behavior
Therapy (REBT) Juga Menggunakan Homework Assignments (Pekerjaan
Rumah) Yang Dapat Digunakan Sebagai Self-Help Work. Terdapat Beberapa
Aktivitas Yang Dapat Dilakukan Dalam Homework Assignments Yaitu:
Membaca, Mendengarkan, Menulis, Mengimajinasikan, Berpikir, Relaksasi Dan
Distraction, Serta Aktivitas.
D. Teknik Emotif
Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi
klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:
a. Teknik Sosiodrama
Memberi peluang mengekspresikan berbagai perasaan yang menekan klien
itu melalui suasana yang didramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas
mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan
dramatis.
b. Teknik Self Modelling
Digunakan dengan meminta klien berjanji dengan konselor untuk
menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya.
c. Teknik Assertive Training
Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola
perilaku tertentu yang diinginkannya
14
DAFTAR PUSTAKA
Andi Thahir, Dede Rizkiyani, Pengaruh Konseling Rational Emotif Behavioral
Therapy (REBT) dalam Mengurangi Kecemasan Peserta Didik Kelas VIII SMP
Gajah Mada Bandar Lampung, Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol.3, No.2,
Agustus 2016, Hal.199-200
Dewa Ketut Sukardi. 1985. Pengantar Teori Konseling. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Gantina Komalasari, Eka Wahyuni, dan karsih. 2011. Teori Dan teknik Konseling.
Jakarta: Indeks.
Gerald Corey. 2013. Teori Dan Praktek Dan Psikoterapi. Bandung: PT.Refika.
Hasan Bastomi, Konseling Rational Emotif Behaviour Theraphy (Rebt)-Islami
(Sebuah Pendekatan Integrasi Keilmuan), Journal of Guidance and Counseling,
Vol. 2, No. 2, Juli-Desember 2018, Hal.37-42
15