PENDEKATAN PERSON CENTERED
(Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori-Teori BK))
Dosen Pengampu :
Fatmah K, M.Pd
Penyusun :
Zulfatus Sholikha (20181930432010)
Novi Kumalasari (20181930432009)
Ita Novia (20181930432015)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN KALIJOGO MALANG
SEPTEMBER 2020
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah “Person Centered” ini dengan lancar. Penulisan makalah
ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang di berikan oleh dosen mata
kuliah “Teori-Teori BK”.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah
“Teori-Teori BK” atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini,
sehingga dapat diselesaikannya makalah ini dengan baik.
Kami mengharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat
bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai “Teori-
Teori BK”, khususnya bagi kami sendiri. Kritik dan saran dari pembaca akan
kami terima sebagai perbaikan untuk karya ilmiah selanjutnya.
Penyusun
1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3
1.1 Latar Belakang..............................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................3
1.3 Tujuan.............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................5
2.1 Pengertian Pendekatan Person Centered........................................................5
2.2 Konsep Dasar Pendekatan Person Centered...................................................5
2.3 Tujuan Ponseling Pendekatan Person Centered.............................................6
2.4 Kondisi dan Peran Konselor dalam Pendekatan Person Centered......Error!
Bookmark not defined.
2.5 Tahapan dan Teknik Konseling pada Pendekatan Person Centered..............9
2.6 Kelebihan dan Kelemahan Pendektanan Person Centered...........................10
BAB III PENUTUP..............................................................................................11
3.1 Kesimpulan...................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................12
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di zaman yang modern ini, manusia banyak dihadapkan dengan berbagai
masalah yang kompleks, baik masalah pribadi maupun masalah sosial. Masalah
yang dihadapi oleh banyak orang menuntut penyelesaian yang baik untuk
tercapai kehidupan yang tenang. Penyelesaian masalah dapat diselesaikan dengan
berbagai pendekatan. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pendekatan
Person Centered Theraphy (PCT). Person Centered Therapy ditemukan oleh Carl
Rogers bahwa pemecahan masalah berpusat pada klien, yang berarti individu
sendiri yang harus menyelesaikan masalahnya.
Pada dasarnya konseli berakhlak baik dan cenderung bertindak konstruktif.
Semua itu lama kelamaan akan muncul dengan sendirinya dan membawa konseli
dalam pemecahan masalah yang menguntungkan dirinya dan orang lain. Untuk
memudahkan dan memperlancar proses yang berlangsung dalam diri konseli,
konselor harus menciptakan beberapa kondisi yang mendukung, bahwa semua
kondisi tertentu dipenuhi maka akan berlangsung suatu proses dalam diri konseli
yang akan menghasilkan perubahan dalam konsep diri dan tingkah laku.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Pendekatan Person Centered?
2. Bagaimana konsep dasar Pendekatan Person Centered?
3. Bagaimana tujuan Pendekatan Person Centered?
4. Bagaimana kondisi dan peran konselor pada Pendekatan Person Centered?
5. Bagaimana tahapan dan teknik Pendekatan Person Centered?
6. Apa kelebihan dan kelemahan konseling Pendekatan Person Centered?
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami pengertian Pendekatan Person Centered?
2. Untuk Memahami konsep dasar Pendekatan Person Centered?
3
3. Untuk Memahami tujuan Pendekatan Person Centered?
4. Untuk Memahami kondisi dsn peran konselor pada Pendekatan Person
Centered?
5. Untuk Memahami teknik konseling pada Pendekatan Person Centered?
6. Untuk Memahami kelebihan dan kelemahan Pendekatan Person Centered?
4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendekatan Person Centered Therapy
Pendekatan person centered dikembangkan oleh Carl Rogers. Sebagai
hamparan keilmuan merupakan cabang dari psikologi humanistik yang
menekankan model fenomenologis. Konseling person centered mula-mula
dikembangkan pada 1940 an sebagai reaksi terhadap konseling psikoanalitik.
Semula dikenal sebagai model nondirektif, kemudian diubah menjadi person
centered. Menurut Rogers konsep inti person centered adalah konsep tentang diri
dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.
Rogers mengembangkan terapi person centered sebagai reaksi terhadap apa
yang disebutnya keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Terapis berfungsi
terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan
membantunya dalam menemukan kesanggupan untuk memecahkan masalanya.
Pendekatan person centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada diri konseli
untuk mengikuti jalan terapi.
2.3 Konsep Dasar Pendekatan Person Centered
Person Centered Theory atau biasa disebut dengan teori nondirektif yang
dikemukakan oleh Carl Rogers. Rogers percaya pentingnya pengamatan
subyektif, ia percaya bahwa pemikiran yang teliti dan validasi penelitian
diperlukan untuk menolak kecurangan diri (self-deception). Yang mana Rogers
tidak hanya berisi pertanyaan teori tentang kepribadian dan psikoterapi, tetapi juga
suatu pendekatan, suatu orientasi atau pandangan tentang kehidupan.
Rogers beranggapan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mebimbing,
mengatur dan mengendalikan dirinya. Hakikat manusia menurut Rogers adalah
sebagai berikut:
a. Manusia tumbuh melalui pengalamannya, baik melalui perasaan, berfikir,
kesadaran ataupun penemuan.
5
b. Hidup adalah kehidupan saat ini dan lebih dari pada perilaku-perilaku otornatik
yang ditentukan oleh kejadian-kejadian masa lalu, nilai-nilai kehidupan adalah
saat ini dari pada masa lalu, atau yang akan datang.
c. Manusia adalah makhluk subyektif, secara, esensial manusia hidup dalam
pribadinya sendiri dalam dunia subjektif
d. Keakraban hubungan manusia merupakan salah satu cara seseorang paling
banyak memenuhi kebutuhannya.
e. Pada umumnya. setiap manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan untuk bebas,
spontan, bersama-sama dan saling berkomunikasi.
f. Manusia memiliki kecenderungan ke arah aktualisasi, yaitu tendensi yang
melekat pada organisme untuk mengembangkan keseluruhan kemampuannya
dalam cara memberi pemeliharaan dan mempertinggi aktualisasi diri.1
2.3 Tujuan Pendekatan Person Centered
Pendekatan person centered bertujuan agar konseli mencapai tinggkat
yang lebih tinggi secara mandiri, fokus pada konseli tidak pada penyajian masalah
konseli. Rogers menjelaskan bahwa tujuan terapi bukan sekedar pemecahan
masalah, tetapi untuk membantu klien untuk masuk ke dalam proses bertumbuh,
belajar dari masalah yang dihadapinya saat ini dan akan membuatnya mampu
menghadapi masalah-masalah yang akan datang.
Menurut Rogers tujuan dasar dari terapi person centered sebagai berikut.
1. Keterbukaan pada pengalaman
Sebagai lawan dari kebertahanan, keterbukaan pada pengalamam
menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana kenyataan itu
hadir di luar dirinya.
2. Kepercayaanpada organisme sendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu konseli dalam membangun rasa
percaya terhadap diri sendiri. Dengan meningknya keterbukaan konseli terhadap
pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan kilen kepada dirinya sendiri pun
muali timbul.
3. Tempat Evaluasi Internal
1
Latipun, Psikologi Konseling (UMM,2015) hlm 67-68
6
Tempat evaluasi internal ini berkaitan dengan kepercayaan diri, yang berarti
lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah
keberadaannya. Orang semakin menaruh perhatian pada pusat dirinya dari pada
mencari pengesahan bagi kepribadiannya dari luar. Dia mengganti persetujuan
universal dari orang lain dengan persetujuan dari dirinya sendiri. Dia menetapkan
standar-standar tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat
putusan-putusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
4. Kesediaan untuk menjadi satu proses.
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian merupakan lawan dari
konsep diri sebagai produk. Walaupun klien boleh jadi menjalani terapi untuk
mencari sejenis formula guna membangun keadaan berhasil dan berbahagia, tapi
mereka menjadi sadar bahwa peretumbuhan adalah suatu proses yang
berkesinambungan. Para konseli dalam terapi berada dalam proses pengujian
persepsi dan kepercayaan serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman baru,
bahkan beberapa revisi.
5. Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri
sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya.
6. Membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaan yang
lebih besar kepada dirinya,keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan
meningkatkan spontanitas hidupnya.
7. Menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling
sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk
self-exploration, menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
8. Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih
besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan
lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal
untuk apa ia perlu menjadi.
9. Mampu memandirikan klien untuk mengatasi permasalahannya, serta
membantu klien untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam
hidupnya.2
http://konselingindonesiabaru.blogspot.com/2013/05/konseling-client-
2
centered.html diakses pada 25/09/2020
7
Dapat disimpulkan bahwa tujuan konseling mencakup tentang terbukanya
terhadap pengalaman, adanya kepercayaan organismenya sendiri, kehidupan
eksistensial yaitu sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan, perasaan bebas,
dan kreatif.
2.4 Kondisi dan Peran Konselor dalam Pendekatan Person Centered
Menurut Rogers (dikuti dari Latipun, 2015, 72-73) konselor lebih banyak
berperan sebagai pathner konseli dalam memecahkan masalahanya. Dalam
hubungan konsling, konselor ini lebih banyak memberikan kesempatam terhadap
konseli untuk mengungkapkan segala permaslahan, perasaan dan pesepsinya, dan
konselor mereflesikan segala yang diungkapkan oleh konseli.
Agar peran ini dapat tercapai tujuan konseling, maka konselor perlu
menciptakan kondisi yang bisa menumbuhkan hubungan konseling. Berikut ini
kondisi yang perlu diciptakan menurut Rogers:
1. Konselor dan konseli berada dalam hubungan psikologis
2. Konseli adalah orang yang mengalami kecemasan, penderitaan dan
keseimbangan.
3. Konselor menunjukan adanya rasa empati dan memahami kerangka acuan
konseli dan memberitahukan pemahamanya kepada konseli.
4. terapis merasakan pengertian yang empatikterhadap kerangka acuan internal
client dan berusaha mengkomunikasikan perasaannya ini kepad terapis.
5. Komunikasi pengertian empatik dan rasa hormat yang positif tak bersyarat dari
terapis kepada konseli setidak-tidaknya dapat dicapai.
2.5 Tahapan dan Teknik Konseling dalam Pendekatan Person Centered
Proses yang terjadi dalam konseling dengan menggunakan pendekatan
Person Centered adalah sebagai berikut :
1. Konseling memusatkan pada pengalaman individual.
2. Konseling berupaya meminimalisir rasa diri terancam, dan memaksimalkan
dan serta menopang eksplorasi diri. Perubahan perilaku datang melalui
8
pemanfaatan potensi individu untuk menilai pengalamannya, membuatnya
untuk memperjelas dan mendapat tilikan pearasaan yang mengarah pada
pertumbuhan.
3. Melalui penerimaan terhadap konseli, konselor membantu untuk menyatakan,
mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelunya ke dalam
konsep diri.
4. Dengan redefinisi, pengalaman, individu mencapai penerimaan diri dan
menerima orang lain dan menjadi orang yang berkembang penuh.
5. Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan
hubungan timbal balik.
Adapun Teknik – teknik dalam pendekatan konseling person centered antara lain:
1. Acceptance (penerimaan)
2. Respect (rasa hormat)
3. Understanding (pemahaman)
4. Reassurance (menentramkan hati)
5. Eencouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas
6. Reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan)
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat
memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik serta dapat
mengambil keputusan yang tepat dan mengarahkan diri maupun mewujudkan
dirinya.
2.6 Kelebihan dan Kelemahan Pendektanan Person Centered
Kelebihan Pendekatan Person Centered
1. Pemusatan pada konseli dan bukan pada konselor dalam konseling
2. Iddentifikasi dan pnekanan hubungan konsling sebagai wahana utama dalam
mengubah kepribadian
3. Lebih menekankan pada sikap konselor dari pada teknik
4. Penekanan emosi, perasaan dan afektif alam konseling
9
Kelemahan Pendekatan Person Centered
1. Sulit bagi konselor untuk benar-benar bersifat netral dalam situasi hubungan
interpersonal
2. Tujuan untuk setiap konseli yaitu untuk memeksimalkan diri ,dirasa terlalu luas
,umum dan longgar sehingga sulit untuk menilai individu
3. Terlalu menekankan pada aspek afektif, emosionl, perasaan sebagai penentu
perilaku, tetapi melupakan faktor intelektif, kognitif dan rasional
4. Tujuan seharusnya ditetepkan oleh konseli tapi kadang dibuat tergantung
konselor dan konseli
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa terapi person centered
menempatkan tanggung jawab utama terhadap arah terapi pada konseli. tujuan
umumnya ialah: menjadi lebih terbuka pada pengalaman, mempercayai
10
organismenya sendiri, mengembangkan evaluasi internal, kesediaan untuk
menjadi suatu proses, dan dengan cara-cara lain bergerak menuju taraf-taraf yang
lebih tinggi dari aktualisasi diri. Terapis tidak mengajukan tujuan dan nilai yang
spesifik kepada konseli, konseli sendirilah yang menetapkan tujuan dan nilai
hidupnya spesifik
DAFTAR PUSTAKA
Latipun, Psikologi Konseling, Malang: UMM Press, 2015
Sobur, Alex, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2014
Lubis, Namora Lumongga, Memahami Dasaar-Dasar Konseling Dalam
Teori Dan Praktek, Jakarta: Kencana, 2011
http://konselingindonesiabaru.blogspot.com/2013/05/konseling-client-
centered.html
https://docplayer.info/60622726-Client-centered-therapy-bab-i-pendahuluan.html
11
12