Kolom Beton
Kolom Beton
DI SUSUN OLEH :
NIM : 209902028
DOSEN PENGAMPU :
UNIVERSITAS NIAS
Puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “ KOLOM
BETON “ ini tepat pada waktunya. Makalah ini di buat guna menunjukkan partisipasi kami
dalam menyelesaikan tugas pembuatan makalah sebagai salah satu penunjang nilai mata
kuliah Struktur beton.
Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi kepada mahasiswa prodi
teknik bangunan sebagai bekal pengalaman nyata. Dan tentunya makalah ini masihb sangat
jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami minta kepada dosen kami memberi masukan demi
perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang.
Penyusun,
Yuliman Dawolo
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Pendahuluan.............................................................................................................1
B. Rumusan masalah.....................................................................................................1
C. Tujuan.......................................................................................................................1
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Definisi Kolom Beton.............................................................................................2-4
B. Pelaksanaan kolom beton........................................................................................5-7
C. Perhitungan kolom beton.......................................................................................8-11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................13
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kolom adalah bangian terpenting dari sebuah bangunan. Selain bangian
komponen dari struktur bangunan, kolom juga berperan untuk menyalurkan beban
yang ada di atasnya pondasi. Sehingga perlu diperhatikan dalam mendesain bentuk
dan ukuran kolom agar kolom aman dari segi kekuatan dan kapasitas penampang
yang akan menahan beban diatasnya. Semakin besar penampang kolom maka
semakin besar pula kapasitasnya untuk menahan beban.
Dimensin kolom yang terlalu kecil dan tidak memenuhi standar yang sudah
ditetapkan akan berdampak pada kegagalan struktur. Dimensin struktur yang terlalu
besar juga berdampak pada biaya dan durasi pengerjaan. Semakin besar dimensi
struktur maka semakin besar pula biaya dan durasi pengerjaannya. Sehingga
diperlukan dimensi kolom yang cocok agar aman, hemat biaya, dan hemat waktu.
Kolom merupakan elemen vertikal struktur rangka yang berfungsi meneruskan beban-
beban seluruh elemen bangunan kepondasi. Kolom sebagai penerus beban seluruh
elemen bangunan kepondasi. Kolom sebagai penerus beban seluruh bangunan tegak
lurus dengan titik pusat bumi (sesuai dengan gravitasi bumi) ke pondasi dimana
struktur dalam kolom tersebut dibuat dari besi dan beton. Besi adalah material yang
tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan. Gabungan dari
kedua material ini dalam struktur beton memungkinkan kolom atau bangian struktural
lain sepertin sloof dan balok bisa menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana defenisi kolom beton.
2. Bagaimana metode pelaksanaan pekerjaan kolom beton.
3. Bagaimana cara perhitungan kolom beton.
C. Tujuan
1. Mengatahui defenisi dan pengertian kolom beton.
2. Mengetahui metode pelaksanaan pekerjaan kolom beton.
3. Mengetahui cara perhitungan kolom beton.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kolom Beton
Pekerjaan kolom merupakan pekerjaan beton bertulang struktur kolom yang
merupakan batang vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok.
Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari
suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang
dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh
total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996).
SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur
bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian
tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. Fungsi kolom
adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan,
kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri.
Kesimpulannya, sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila besar dan jenis
pondasinya sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar- benar
sudah mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan
meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk
konstruksi rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila
tanah ambles atau terjadi gempa tidak mudah roboh.
Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan
antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang tahan
tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan, sloof dan balok bisa
menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan.
2
Jenis- jenis Kolom
Kolom di klasifikasikan berdasarkan bentuk dan susunan tulangnya, cara
pembebanan, posisi beban pada penampang dan panjang kolom dan hubungannya
dengan dimensi lateral.
Menurut Wang (1986) dan Ferguson (1986) jenis- jenis kolom ada tiga:
1. Kolom ikat (tie column)
2. Kolom spiral (spiral column)
3. Kolom komposit (composite column)
3
Untuk kolom pada bangunan sederhan bentuk kolom ada dua jenis yaitu kolom utama
dan kolom praktis, dapat kita lihat di gambar dibawah :
4
Fungsi kolom
Merujuk SK SNI T-15-1991-03, fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh
bangunan ke pondasi. Beban sebuah bangunan yang dimulai dari atap akan diterima
oleh kolom. Seluruh beban yang diterima oleh kolom kemudian didistribusikan ke
permukaan tanah di bawahnya.
Dengan begitu, kolom pada sebuah bangunan memiliki fungsi yang sangat vital.
Jika melihat penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kolom termasuk
struktur utama bangunan untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti
beban hidup (manusia dan barang-barang), maupun beban hembusan angin.
Keruntuhan dan kegagalan struktur pada kolom menjadi titik kritis yang dapat
menyebabkan runtuhnya bangunan. Namun yang perlu diingat juga, selain harus
melalui proses perhitungan yang tepat, kondisi tanah pun harus benar-benar mampu
menerima beban dari pondasi. Untuk itu, peran penyedia jasa desain struktur
bangunan profesional sangat dibutuhkan untuk memastikan perencanaan dan
pelaksanaan proyek bangunan dapat berjalan memenuhi standar.
B. Pelaksanaan kolom beton
Pada proyek Apartement kolom yang digunakan ada 2 bentuk, yaitu persegi dan
silender. Prosedur pelaksanaan pekerjaan kolom dalam proyek ini secara keseluruhan
sama, meskipun dimensi dan jumlah tulangan pada masing-masing tipe kolom
berbeda-beda.Langkah teknis pada pekerjaan kolom adalah sebagai berikut:
1. Penentuan As kolom
Titik-titik dari as kolom diperoleh dari hasil pengukuran dan pematokan. Hal ini
disesuaikan dengan gambar yang telah direncanakan. Cara menentukan as kolom
membutuhkan alat-alat seperti: theodolit, meteran, tinta, sipatan dll. Proses
pelaksanaan:
a. Penentuan as kolom dengan Theodolit dan waterpass berdasarkan shop
drawing dengan menggunakan acuan yang telah ditentukan bersama dari titik
BM (Bench Mark) Jakarta.
b. Buat as kolom dari garis pinjaman
c. Pemasangan patok as bangunan/kolom (tanda berupa garis dari sipatan).
2. Pembesian kolom
Proses pekerjaan pembesian dalam proyek ini adalah sebagai berikut:
a. Pembesian atau perakitan tulangan kolom adalah precast atau dikerjakan di
tempat lain yang lebih aman
b. Perakitan tulangan kolom harus sesuai dengan gambar kerja.
c. Selanjutnya adalah pemasangan tulangan utama. Sebelum pemasangan
sengkang, terlebih dahulu dibuat tanda pada tulangan utama dengan kapur.
5
d. Selanjutnya adalah pemasangan sengkang, setiap pertemuan antara tulangan
utama dan sengkang diikat oleh kawat dengan sistem silang.
e. Setelah tulangan selesai dirakit, untuk besi tulangan precast diangkut dengan
menggunakan Tower Crane ke lokasi yang akan dipasang.
f. Setelah besi terpasang pada posisinya dan cukup kaku, lalu dipasang beton
deking sesuai ketentuan. Beton deking ini berfungsi sebagai selimut beton.
3. Pemasangan bekisting kolom
Pemasangan bekisting kolom dilaksanakan apabila pelaksanaan pembesian
tulangan telah selesai dilaksanakan. Berikut ini adalah uraian singkat mengenai
proses pembuatan bekisting kolom.
a. Bersihkan area kolom dan marking posisi bekisting kolom.
b. Membuat garis pinjaman dengan menggunakan sipatan dari as kolom
sebelumnya sampai dengan kolom berikutnya dengan berjarak 100cm dari
masing-masing as kolom.
c. Setelah mendapat garis pinjaman,lalu buat tanda kolom pada lantai sesuai
dengan dimensi kolom yang akan dibuat, tanda ini berfungsi sebagai acuan
dalam penempatan bekisting kolom.
d. Marking sepatu kolom sebagai tempat bekisting
e. Pasang sepatu kolom pada tulangan utama atau tulangan sengkang.
f. Pasang sepatu kolom dengan marking yang ada.
g. Atur kelurusan bekisting kolom dengan memutar push pull.
h. Setelah tahapan diatas telah dikerjakan, maka kolom tersebut siap dicor
4. Pengecoran kolom
Langkah kerja pekerjaan pengecoran kolom adalah sebagai berikut:
a. Persiapan pengecoran Sebelum dilaksanakan pengecoran, kolom yang akan
dicor harus benar-benar bersih dari kotoran agar tidak membahayakan
konstruksi dan menghindari kerusakan beton.
b. Pelaksanaan pengecoran Pengecoran dilakukan dengan menggunakan bucket
cor yang dihubungkan dengan pipa tremi dengan kapasitas bucket sampai
0,9m3. Bucket tersebut diangkut dengan menggunakan Tower crane untuk
memudahkan pengerjaan. Penuangan beton dilakukan secara bertahap, hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya segregasi yaitu pemisahan agregat
6
yang dapat mengurangi mutu beton. Selama proses pengecoran berlangsung,
pemadatan beotn menggunakan vibrator. Hal tersebut dilakukan untuk
menghilangkan rongga-rongga udara serta untuk mencapai pemadatan yang
maksimal.
5. Pembokaran bekisting kolom
Setelah pengecoran selesai, maka dapat dilakukan pembongkaran bekisting.
Proses pembongkarannya adalah sebagai berikut:
a. Setelah beton berumur 8 jam, maka bekisting kolom sudah dapat dibongkar.
b. Pertama-tama, plywood dipukul-pukul dengan menggunakan palu agar lekatan
beton pada plywood dapat terlepas.
c. Kendorkan push pull (penyangga bekisting), lalu lepas push pull.
d. Kendorkan baut-baut yang ada pada bekisting kolom, sehingga
rangkaian/panel bekisting terlepas.
e. Panel bekisting yang telah terlepas, atau setelah dibongkar segera diangkat
dengan tower crane ke lokasi pabrikasi awal.
6. Perawatan beton kolom
Perawatan beton kolom setelah pengecoran adalah dengan sistem kompon, yaitu
dengan disiram 3 kali sehari selama 3 hari.
C. Perhitungan kolom beton
Dalam merancang dan menggambar bangunan, kita sering dihadapkan dengan
masalah perhitungan berapa besar ukuran kolom dan balok yang diperlukan untuk
menopang ruang yang kita rancang. Apalagi bila bangunan bertingkat yang pasti
memiliki beban lantai sehingga lebih berat.
Menurut SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung, adapun dasar-dasar dalam melakukan perhitungan kolom pada
bangunan adalah sebagai berikut:
1. Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang bekerja pada
semua lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada
satu bentang terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Adapun kombinasi
pembebanan yang menghasilkan rasio maksimum dari momen terhadap beban aksial
juga harus diperhitungkan secara baik.
7
2. Pada sistem konstruksi rangka atau struktur menerus, pengaruh dari adanya beban
yang tak seimbang pada lantai atau atap terhadap kolom luar ataupun dalam harus ikut
3. diperhitungkan. Demikian pula pengaruh beban eksentris (ganjil atau tidak wajar)
karena sebab lainnya juga harus diperhitungkan.
4. Selanjutnya, dalam menghitung momen yang diakibatkan beban gravitasi yang
bekerja pada kolom, ujung-ujung terjauh kolom dapat dianggap terjepit selama ujung-
ujung tersebut menyatu (monolit) terhadap komponen struktur lainnya.
5. Momen-monen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus didistribusikan
pada kolom di atas dan di bawah lantai berdasarkan pada kekakuan relatif kolom
dengan ikut memperhatikan kondisi kekangan pada ujung kolom
1.4 menghitung dimensi kolom dan dimensi balok serta tebal pelat lantai.
Sejatinya, dimensi kolom dan balok termasuk pondasi dan sloof serta pelantaian
adalah tanggung jawab ahli struktur. Untuk bangunan skala menengah hingga besar
wajib hukumnya menyertakan alhi struktur dalam perancangan. Arsitek, meskipun
mungkin bisa menghitung namun tidak memiliki tanggung jawab untuk hal tersebut.
Jadi perhitungan berikut adalah murni untuk tahap perancangan saja.
Perhitungan besaran dimensi kolom dan balok sangat berpengaruh saat
merancang gambar denah maupun tampak apalagi potongan. Jika kita bisa
memprediksi lebih awal maka kita bisa mengantisipasi posisi maupun bentukan
kolom/balok yang relatif besar dan menggangu kelegaan ruang. Sehingga kita dapat
membuat gambar yang lebih akurat.
8
Adapun besaran dimensi kolom dan balok ditentukan oleh panjang bentangan antar
kolom. Misalnya sebuah rumah bertingkat yang memiliki bentangan 6 meter, maka
perhitungan dimensi kolom dan baloknya adalah sebagai berikut :
Contoh Kasus Perhitungan Dimensi Balok dan Kolom :
1. Bentangan antar kolom berjarak 6 meter
2. Tentukan dimensi kolom
3. Tentukan dimensi balok induk dan balok anak
4. Tentukan tebal pelat lantai
Setelah mengetahui bentangan, kita tidak langsung menentukan besaran kolom. Hal
yang pertama yang dihitung adalah balok karena balok lah yang menanggung beban
bentangan.
9
b. Menghitung Dimensi Kolom
3. Rasio tulangan Rasio Tulangan tidak boleh kurang dari 0.01 (1%) dan tidak
boleh lebih dari 0.08 (8%). Sementara untuk kolom pemikul gempa, rasio
maksiumumnya adalah 6%. Kadang di dalam prakteknya, tulangan terpasang
kurang dari minimum, misalnya 4D13 untuk kolom ukuran 250 × 250 (rasio
0.85%).
10
4. Tebal selimut beton
Tebal selimut beton adalah 40 mm. Toleransi 10 mm untuk d sama dengan 200
mm atau lebih kecil, dan toleransi 12 mm untuk d lebih besar dari 200 mm. d
adalah jarak antara serat terluar beton yang mengalami tekan terhadap titik pusat
tulangan yang mengalami tarik.
Misalnya kolom ukuran 300 x 300 mm, tebal selimut (ke titik berat tulangan
utama) adalah 50 mm, maka d = 300-50 = 250 mm.
c. Menghitung Tebal Pelat Lantai
tebal pelat lantai tergantung struktur dan pembesian yang digunakan, namun
umumnya berlaku rumus sebagai berikut :
Tebal pelat lantai = 1/40 bentang --> 1/40 x 6 m = 0,15 m = 15 cm
Jadi tebal pelat lantainya adalah 15 cm.
Khusus untuk tebal pelat beton, maka sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia
(1971) Bab 9 pada bagian-bagian konstruksi, dinyatakan aturan mengenai ketebalan
pelat beton sebagai berikut :
1. Untuk pelat beton bertulang yang digunakan sebagai pelat lantai, jika tidak ada
ketentuan lain yang mempengruhi perhitungan struktur maka tebal beton minimal
untuk pelat lantai adalah 12 cm
2. Untuk pelat beton bertulang yang digunakan sebagai atap dan bukan merupakan
lantai yang dipijak setiap saat, jika tidak ada perhitungan struktur lain yang
mengatur maka tebal beton minimal untuk pelat atap adalah 7 cm.
11
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini, masih terdapat kekurangan.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun dari para pembaca.
Selain itu, kami pun menyarankan kepada pembaca sekalian, sekiranya dapat
mempelajari dan berusaha mencari tahu lebih jauh lagi tentang ilmu-ilmu struktur
beton (kolom beton) dan tidak hnya terpaku dalam makalah ini.
12
DAFTAR PUSTAKA
Asroni, A., 2010. Kolom, Fondasi dan Balok´T´ Beton Bertulang, , Graha Ilmu,
Yogyakarta.
Dipohusodo, Istimawan. 1994. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
13