0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
334 tayangan8 halaman

Format Proposal Kode Etik

Diunggah oleh

Rofiul Himam
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
334 tayangan8 halaman

Format Proposal Kode Etik

Diunggah oleh

Rofiul Himam
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

COVER TULISKAN JUDUL PENELITIAN PADA BAGIAN INI

UNTUK MEMENUHI TUGAS INDIVIDUAL


MATA KULIAH KODE ETIK PSIKOLOGI

LOGO UNIVERSITAS

NAMA DAN NIM

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2024
BAB I
LATAR BELAKANG
1.1. Pendahuluan

Pada bagian pendahuluan, silahkan jabarkan variabel psikologis apa yang akan diteliti. Cara
penjabarannya adalah dengan menemukan fenomena yang berkaitan dengan variabel
tersebut. Setelah memaparkan fenomena berkaitan dengan variabel, jelaskan variabel yang
akan diteliti (definisi berdasarkan teori) serta mengapa variabel tersebut penting untuk diteliti
(dampak baik atau dampak buruk yang berkaitan dengan variabel tersebut).
Contoh:
Fenomena
Berdasarkan pada data awal yang dikumpulkan, diketahui bahwa sebanyak 27 siswa SMA
dari total 43 responden (67%) menyatakan bahwa mereka merasakan emosi yang tidak
menyenangkan minimal dua hingga tiga hari dalam seminggu. Sembilan di antaranya (21%)
merasakan emosi negatif sebanyak empat hingga enam hari dalam seminggu dan tiga di
antaranya (7%) menyatakan merasakan emosi negatif setiap hari. Hal utama yang
menyebabkan siswa merasakan emosi negatif adalah berkaitan dengan kegiatan belajar
mengajar di sekolah. Kegiatan belajar mengajar di sekolah mencakup tugas yang banyak
dan waktu pengumpulan yang hampir bersamaan, materi pelajaran yang sulit untuk
dipahami, dan karakteristik pelajaran yang membosankan. Selain itu, hubungan dengan
teman, guru, dan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemunculan
emosi-emosi negatif pada siswa SMA. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa, afek
negatif berperan sebagai salah satu faktor penyebab siswa SMA membolos, baik pada SMA
Negeri (Siahaan, 2016) maupun SMA swasta di Surabaya (Damayanti & Setiawati, 2013).
Rasa jenuh dan rendah diri adalah dua faktor internal penyebab siswa menampilkan
perilaku membolos di sekolah (Damayanti & Setiawati, 2013; Siahaan, 2016).
Dalam kondisi yang lebih ekstrem, afek negatif dapat menjadi sebuah gangguan depresi.
Hasil screening dengan menggunakan Children’s Depression Inventory (CDI) pada tahun
2016 ditemukan bahwa 30% siswa yang duduk di bangku kelas 1 dan 2 SMA di Indonesia
berpotensi mengalami depresi (Sukmasari, 2016). Selain itu, dari sekitar sebelas ribu remaja
yang terlibat dalam global school-based student health survey (GSHS) pada tahun 2019
ditemukan lima persen di antaranya mengalami depresi. Beberapa keluhan yang ditemukan
berkaitan dengan rasa kesepian, ketakutan, kekhawatiran, bahkan intensi untuk bunuh diri
(Kangsaputra, 2019). Sepuluh tahun terakhir juga ditemukan bahwa prevalensi kasus
depresi pada remaja dengan usia 12 hingga 17 tahun meningkat dari 8,7% pada tahun 2005
menjadi 11,3% persen pada 2014 (Sulaiman, 2016).
Penelitian lain juga menemukan bahwa siswa yang tidak menyukai sekolah menunjukkan
fungsi psikososial dan akademik yang lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang puas
terhadap kehidupan sekolahnya. Remaja yang tidak menyukai sekolah menunjukkan
permasalahan perkembangan yang berkepanjangan termasuk dalam aspek interpersonal,
intrapersonal dan akademik. Siswa dengan tingkat kepuasaan sekolah yang tinggi
menunjukkan nilai yang lebih tinggi dalam pengukuran berkaitan dengan harapan, kepuasan
hidup umum, internal locus of control dan nilai dibandingkan dengan siswa yang memiliki
tingkat kepuasan sekolah sedang (Huebner & Gilman, Students who like and dislike school,
2006).
Variabel dan definisi variabel
Adanya gejolak emosi yang lebih mengarah pada emosi negatif dan penurunan kepuasan
hidup pada remaja mengindikasikan bahwa remaja berpotensi memiliki permasalahan
berkaitan dengan subjective well-being (SWB). Subjective well-being didefinisikan sebagai
evaluasi kognitif dan afektif seseorang terhadap kehidupannya. Evaluasi ini mencakup reaksi
emosi terhadap sebuah kejadian serta penilaian kognitif terkait kepuasaan dan pemenuhan
dalam hidup. Dengan kata lain, subjective well-being adalah konsep umum mencakup
pengalaman emosi yang menyenangkan, level perasan negatif yang rendah, dan kepuasan
hidup yang tinggi (Diener, Lucas, & Oishi, 2002). Berbeda dengan penelitian pada orang
dewasa, penelitian terkait subjective well-being pada anak-anak dan remaja masih cukup
tertinggal. Walaupun telah terdapat beberapa penelitian berkaitan dengan afek negatif
(contoh: depresi) pada anak-anak, penelitian berkaitan dengan kepuasan hidup dan afek
positif baru dikembangkan dewasa ini (Huebner & Diener, 2008).
Pentingnya Variabel Penelitian
Kondisi SWB pada siswa memprediksi pencapaian akademik yang didapatkan satu tahun
berikutnya. Siswa yang memiliki permasalahan kesehatan mental menunjukkan penurunan
pencapaian akademik yang lebih signifikan dibandingkan dengan siswa tanpa psikopatologi.
Siswa yang menunjukkan kehadiran, nilai, dan kemampuan matematika terbaik ditemukan
pada siswa yang memiliki SWB dalam tingkat rata-rata atau tinggi dan tingkat psikopatologi
rendah (Suldo, Thalji, & Ferron, 2011). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa terdapat
hubungan positif antara subjective well-being dan pencapaian akademik di sekolah
(Manzoor, Siddique, Riaz, & Riaz, 2014).

Jika penelitian terdiri atas lebih dari satu variabel, maka harus diberikan penjelasan mengenai
kaitan antara dua variabel.
Contoh
Mengingat bahwa SWB yang rendah cenderung menjadi faktor resiko berbagai
permasalahan psikologis maupun psikopatologi, intervensi peningkatan SWB menjadi suatu
hal yang tidak dapat diabaikan. Selain itu, intervensi untuk meningkatkan subjective well-
being penting untuk dilakukan karena menjadi bahagia adalah sesuatu yang menyenangkan
dan individu yang bahagia cenderung menunjukkan perilaku kerja yang positif dan
karakterististik-karakteristik positif lainnya (Diener, Lucas, & Oishi, 2002). Terdapat
berbagai alternatif cara untuk meningkatkan subjective well-being, termasuk positive
psychology intervention (PPI), cognitive behavior therapy (CBT), dan well-being therapy
(WBT). PPI adalah salah satu metode atau aktivitas yang sengaja dilakukan dalam rangka
menumbuh kembangkan perasaan, perilaku, dan kognisi yang positif (Sin & Lyubomirksy,
2009). Dibandingkan dengan
aktivitas PPI yang lain, individu yang terlibat dalam aktivitas counting blessings
menunjukkan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang terlibat
dalam aktivitas lainnya, baik dalam kepuasan umum maupun kepuasan domain (Froh,
Sefick, & Emmons, 2008). Di satu sisi, individu yang terlibat dalam three funny things
ditemukan mengalami peningkatan kebahagiaan dan, juga mendapatkan efek anti-depresan
yang tidak ditemukan pada aktivitas lain (Gandner, Proyer, Ruch, & Wyss, 2013).

1.2. Rumusan Masalah


Sampaikan pertanyaan penelitian yang akan dicoba dijawab melalui penelitian
Contoh
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan counting blessing dan three funny things
efektif dalam meningkatkan subjective well-being siswa SMA?”

1.3. Tujuan Penelitian


Sampaikan tujuan apa yang ingin anda capai melalui penelitian
Contoh
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas dari
penerapan counting blessings dan three funny things terhadap peningkatan subjective well-
being siswa SMA

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Manfaat Teoritis
Manfaat yang diberikan penelitian berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan
Contoh
Manfaat teoritis yang akan dibawa oleh penelitian ini berkaitan dengan pengembangan
ilmu psikologi terutama dalam topik subjective well being (SWB) dan positive psychology
intervention. Selain itu, penelitian ini akan turut memperkaya referensi empirik
penelitian- penelitian lain yang telah dilakukan sebelumnya dalam dua topik tersebut
1.4.2. Manfaat Praktis
Manfaat yang diberikan penelitian berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
Contoh
Hasil dari penelitian ini akan memberikan informasi baik kepada siswa, guru, maupun
pembuat kebijakan tentang efektivitas penggunaan counting blessings dan three funny
things terhadap peningkatan subjective well-being pada siswa SMA. Melalui informasi
ini guru atau bahkan pembuat kebijakan diharapkan dapat menerapkan program yang
serupa dalam cakupan populasi yang lebih luas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Variabel A

Definisi, aspek, dampak, dan pentingnya penelitian


2.2. Variabel B
Definisi, aspek, dampak, dan pentingnya penelitian
2.3. Hubungan antara variabel A dan B
2.4. Hipotesis
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tipe Penelitian

Sebutkan apakah penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif/kuantitatif dan


jelaskan apa yang disebut penelitian kualitatif/kuantitatif berdasarkan buku/jurnal.
3.2. Subjek Penelitian
Jelaskan siapa yang akan menjadi subjek dalam penelitian ini. Kriteria apa saja yang harus
dipenuhi agar seseorang bisa mengikuti penelitian ini
Contoh
Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas Counting blessings dan three funny things
pada remaja akhir. Remaja akhir dalam penelitian ini kemudian dispesifikkan menjadi siswa
SMA kelas X – XII yang memiliki rentang usia 15-19 tahun karena program yang diberikan
akan dijalankan di setting sekolah. Proses pemberian perlakuan akan diberikan
berkelompok berdasarkan kelas karena penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa
salah satu penerapan PPI yang paling efektif adalah dalam kelompok (Sin & Lyubomirksy,
2009; Bolier, Haverman, Westerhof, Riper, Fmit, & Bohlmeijer, 2013)
3.3. Prosedur Penelitian dan Analisis Data
Jelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti selama proses penelitian
berlangsung.
Contoh
1. Langkah pertama yang akan dilakukan sebelum memulai penelitian adalah terlebih
dahulu melakukan pengumpulan data pre-test berkaitan dengan kondisi subjective well-
being siswa menggunakan student’s life satisfaction scale (SLSS), brief multidimensional
students’ life satisfaction scale (BMSLSS), dan PANAS. Pengumpulan data dilakukan di
masing-masing kelas dengan meminta izin dan kesediaan dari sekolah
2. Setelah didapatkan data menggunakan tiga skala tersebut, dipilih dua kelas yang
memiliki nilai pengukuran serupa. Satu kelas nantinya akan dijadikan sebagai kelompok
kontrol sedangkan kelas yang lain akan dijadikan kelompok eksperimen
3. Pada kelas yang menjadi kelompok eksperimen, peneliti akan menjelaskan terlebih
dahulu tujuan penelitian dan proses apa saja yang akan dilalui oleh partisipan penelitian
4. Setelah peneliti menjelaskan proses yang akan dilakukan, peneliti meminta kesediaan
partisipan untuk mengikuti penelitian dengan menggunakan informed consent.
5. Penelitian akan dilakukan dengan melakukan dua intervensi yaitu counting blessing dan
three funny things. Dalam counting blessing, partisipan akan diminta untuk menuliskan lima
hal yang mereka syukuri sedari kemarin hingga hari pelaksanaan intervensi. Secara
spesifik, partisipan akan diberikan instruksi sebagai berikut “Terdapat banyak hal dalam
kehidupan kita, baik besar maupun kecil, yang dapat kita syukuri. Silahkan ingat kembali
apa yang terjadi kemarin dan tuliskan di kolom yang telah disediakan lima hal yang kamu
syukuri” Partisipan melakukan hal ini setiap hari selama dua minggu atau sepuluh hari
sekolah (Froh, Sefick, & Emmons, 2008).
6. Intervensi yang kedua berkaitan dengan three funny things. Intervensi three funny things
dilakukan dengan meminta partisipan untuk menuliskan tiga hal terlucu yang terjadi pada
diri mereka atau yang mereka lakukan dan menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi.
Partisipan diminta untuk menuliskannya setiap hari selama satu minggu (Gandner, Proyer,
Ruch, & Wyss, 2013)
7. Setelah seluruh partisipan pada kelompok eksperimen menyelesaikan rangkaian
intervensi, baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen kembali mengisi student’s
life satisfaction scale (SLSS), brief multidimensional students’ life satisfaction scale
(BMSLSS), dan PANAS sebagai bentuk post-test.
Analisis data yang akan digunakan
Contoh
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah analysis of covariance (ANCOVA).
ANCOVA adlaah uji statistik yang digunakan untuk menguji rancangan eksperimen yang
memilki pre- test dan lebih dari satu kelompok, seperti pretest-posttest control-group design
dan rancangan nonequivalent comparison-group. ANCOVA seringkali lebih sensitif dalam
melihat perbedaan antar rata-rata (Christensen, Johnson, & Turner, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

Tuliskan seluruh referensi yang digunakan sesuai dengan panduan APA edisi ke 7
Contoh
Aknin, L., & Dunn, E. (2011). Happiness runs in a circular motion: evidence for a positive
feedback loop between prosocial spending and happiness. Journal of Happiness Studies.
DOI:10.1007/s10902-011-9267-5
Allan, N. P., Lonigan, C. J., & Phillips, B. M. (2015). Examining the factor structure and
structural invariance of the PANAS across children, adolescents, and young adults.
Journal of Personality Assessments 97(6), 616-625. DOI:
10.1080/00223891.2015.1038388
Arnett, J. J. (1999). Adolescent storm and stress, reconsidered. American Psychologist, 317-326.
DOI: 10.1037//0003-066x.54.5.317
Arslan, G., & Renshaw, T. L. (2018). Student subjective well-being as a predictor of adolescent
problem behaviors: a comparison of first-order and second-order factor effects. Child
Indicator Research Vol. 11 Issues 2, 507-521. DOI: 10.1007/s12187-017-9444-0
Auerbach, R. P., Admon, R., & Pizzagalli, D. A. (2014). Adolescent depression: stress and
reward dysfunction. Harvard Review of Psychiatry, 139-148. DOI:
10.1097/HRP.0000000000000034

LAMPIRAN
1. Informed consent yang terdiri atas:
1.1. Information sheet
1.2. Lembar kesediaan
2. Lembar debrief
3. Surat ijin penelitian

Anda mungkin juga menyukai