Nama : Miftakhul Huda
NPM : 20231600215
Matku : Sistem Informasi dan Pengendalian Internal
l
PPAk Angkatan 16
Resume Bab XIII
Evaluasi dan Pelaporan Efektivitas ICoFR
13.1 Terminologi dalam Mengevaluasi Control Deficiency
Kelemahan dalam pengendalian (control deficiency) terjadi ketika desain atau
penerapan pengendalian tidak memberikan kesempatan manajemen dan karyawan, dalam
kondisi normal, untuk menjalankan fungsi yang ditugaskan untuk mencegah atau mendeteksi
salah saji secara tepat waktu.
Kelemahan dalam desain terjadi ketika:
1. Pengendalian yang diperllukan untuk mencapai tujuan pengendalian tidak ada.
2. Pengendalian yang ada saat ini tidak didesain secara tepat.
Kelemahan dalam operasional terjadi ketika:
1. Pengendalian yang sudah didesain dengan baik tidak dijalankan.
2. Personel yang melakukan pengendalian tidak memiliki otoritas atau kualifikasi yang
memadai untuk menjalankan pengendalian tersebut secara efektif.
Kelemahan signifikan (significant deficiency) adalah kelemahan pengendalian, atau
gabungan dari beberapa kelemahan pengendalian, yang berdampak negatif terhadap
kemampuan perusahaan untuk melakukan inisiasi, otorisasi, pembukuan, memproses dan
melaporkan data keuangan kepada pihak eksternal sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum; sehingga terdapat lebih dari kemungkinan kecil (remote likelihood) bahwa
salah saji dalam pelaporan keuangan tahunan atau interim terjadi tidak dapat dicegah atau
dideteksi.
Kelemahan material (material weakness) adalah kelemahan signifikan, atau kombinasi
beberapa kelemahan signifikan yang menghasilkan kemungkinan yang reasonable bahwa
salah saji material pada laporan keuangan tahunan atau interim tidak dapat dicegah atau
dideteksi.
Terdapat tiga terminologi yang digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan:
1. Probable: besar kemungkinan kejadian tersebut terjadi atau terjadi di masa depan (likely
to occure)
2. Reasonably possible: kemungkinan terjadinya hal tersebut di masa mendatang atau
kejadian tersebut terjadi lebih dari pada remote tetapi lebih kecil dari pada likely.
3. Remote: kemungkinan terjadinya kejadian tersebut di masa datang atau kejadian tersebut
terjadi relatif kecil (slight).
13.2 Kerangka dalam Mengevaluasi Control Exception dan Deficiency
Kerangka yang digunakan langkah untuk penilaian termasuk:
1. Definisi apakah temuan merupakan control exception atau control deficiency.
2. Menentukan apakah control deficiency tersebut dianggap sebagai deficiency atau material
weakness.
3. Kotak 1 dan kotak 3: tujuan pengujian terpenuhi dengan beberapa pertimbangan:
a. Tingkat deviasi terkait dengan frekuensi kinerja pengendalian.
b. Faktor kualitatif.
c. Apakah exception ini menghasilkan salah saji laporan keuangan.
4. Kotak 2: jika tujuan pengendalian tidak terpenuhi, terdapat dua pilihan:
a. Jika exception yang diobservasi dan menghasilkan tingkat deviasi yang diyakini tidak
dapat mewakili populasi, misalnya karena sampling eror, pengujian dapat direevaluasi
dan diperluas.
b. Jijka exception yang diobservasi dan menghasilkan tingkat deviasi yang diyakini dapat
mewakili populasi, exception tersebut dianggap sebagai control deficiency dan tingkat
signifikansinya dinilai.
Control defiency sebaiknya dievaluasi menggunakan secara kualitatif dengan
memperhatikan faktor berikut:
1. Compensating control
2. Kemungkinan terjadinya deficiency
3. Volume transaksi
4. Status deficiency sebelumnya
5. Jumlah lokasi pengujian
6. Asersi terkait deficiency
7. Fraud
8. Pemahaman terhadap dampak atas akun laporan keuangan
9. Pemahaman atas proses bisnis terkait laporan keuangan
13.3 Menarik Kesimpulan Akhir atas Kefektifan Pengendalian Internal atas Pelaporan
Keuangan
Kesimpulan secara menyeluruh atas efektivitas desain dan operasional pengendalian
internal atas pelaporan keuangan sebaiknya mempertimbangkan:
1. Bukti yang dikumpulkan selama evaluasi.
2. Hasil penilaian pengendalian tingkat entitas.
3. Hasil penilaian pengendalian umum TI.
4. Hasil evaluasi pengendalian desain pada level proses.
5. Hasil pengujian pengendalian pada level proses.
6. Hasil aktivitas pemantauan dan pengendalian pemantauan.
7. Kesenjangan pengendalian yang dapat diidentifikasi dan signifikansi dari dampaknya
terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.
8. Bukti yang memuaskan atas resolusi dari gap yang teridentifikasi.
9. Konsultasi dengan pihak terkait termasuk komite audit, tim ahli eksternal dan akuntan
publik independen.
13.4 Bagaimana Mengkomunikasikan Laporan Pengendalian Internal atas Pelaporan
Keuangan
Setelah pihak manajemen memformulasi kesimpulan akhir, komunikasi atas hasil
penelitian terkait hal berikut harus dikomunikasikan dengan baik:
1. Selurug significant deficiency dan material weakness pada level desaon dan operasional
pengendalian internal atas pelaporan keuangan yang dapat mempengaruhi secara negatif
kemampuan perusahaan untuk mencatat, memproses, menyimpulkan dan melaporkan
informasi keuangan.
2. Segala bentuk fraud, baik material maupun tidak, yang melibatkan manajemen atau
karyawan lain yang memiliki peran signifikan dalam perusahaan.
Tanggung jawab manajemen adalah mengkomunikasikan hasil evaluasi pengendalian
internal yang terdiri dari:
1. Tanggung jawab manajemen untuk mengembangkan dan memelihara kecukupan
pengendalian internal atas pelaporan keuangan dalam perusahaan.
2. Kerangka yang digunakan manajemen sebagai kriteria dalam melakukan evaluasi atas
efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan.
3. Kesimpulan manajemen atas efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan
perusahaan saat akhir tahun, termasuk pengungkapan kelemahan material dalam
pengendalian internal perusahaan yang diidentifikasi oleh manajemen.
4. Akuntan publik independen yang mengaudit laporan keuangan yang dimasukkan dalam
laporan tahunan juga telah melakukan atestasi dan melaporkan evaluasi manajemen atas
pengendalian internal atas pelaporan keuangan.
Pertimbangan lain yang perlu dikomunikasikan:
1. Ketika perusahaan mengidentifikasi adanya significant deficiency, perusahaan tidak
diwajibkan untuk mengungkapkan ke publik terkait eksistensi dan sifat significant
deficiency.
2. Ketika significant deficiency terjadi bersamaan dengan kelemahan pengendalian lainnya
dianggap sebagai material weakness, manajemen harus mengungkapkan kelemahan
material ini.
3. Perubahan apapun dalam pengendalian internal atas laporan keuangan perusahaan yang
timbul selama kuartal terakhir yang mempengaruhi secara material pengendalian internal
atas laporan keuangan wajib untuk diungkapkan.
13.5 Pendokumentasian Laporan Pengendalian Internal atas Pelaporan Keuangan
Laporan pengendalian internal atas pelaporan keuangan terdiri dari informasi
sistematis yang disajijkan meliputi:
1. Aturan pengendalian internal atas pelaporan keuangan perusahaan
2. Tujuan
3. Prosedur
4. Cakupan
5. Periode
6. Lokasi
7. Pendekatan dan metodologi
8. Summary of deficiency
9. Kesimpulan dan rekomendasi
Bahasa yang digunakan dalam laporan internal atas pelaporan keuangan:
1. Menghindari penggunaan frase yang subjektif
2. Tidak menggunakan kalimat negative assurance
3. Manajemen tidak diijinkan untuk menyimpulkan bahwa kesimpulan pengendalian internal
atas pelaporan keuangan adalah efektif, apabila terdapat satu atau lebih kelemahan
material.