0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
436 tayangan11 halaman

Teori Struktur Modal dan Kebijaksanaan

Diunggah oleh

sunan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
436 tayangan11 halaman

Teori Struktur Modal dan Kebijaksanaan

Diunggah oleh

sunan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB TEORI DAN KEBIJAKSANAAN

STRUKTUR MODAL
15
A. PENTINGNYA KEBIJAKSANAAN STRUKTUR MODAL
Struktur modal merupakan imbangan antara modal asing atau hutang dengan
modal sendiri. Misalnya perusahaan mempunyai hutang baik jangka pendek
maupun hutang jangka panjang sebesar Rp 200.000.000,- sementara modal sendiri
yang dimiliki sebesar Rp 300.000.000,-, maka struktur modalnya adalah sebesar
40%, artinya aktiva yang dimiliki oleh perusahaan 40% dibelanjai dengan hutang
dan 60% dibelanjai dengan modal sendiri. Perubahan struktur modal bisa
menyebabkan perubahan nilai perusahaan, sehingga muncul beberapa teori
struktur modal. Teori struktur modal menjelaskan apakah ada pengaruh perubahan
struktur modal terhadap nilai perusahaan. Dalam kaitannya dengan struktur modal
ini, nilai perusahaan bisa diukur dengan harga saham atau biaya modal yang
dikeluarkan oleh perusahaan dalam memperoleh sumber dana yang bersangkutan.
Teori struktur modal ini penting karena (1) setiap ada perubahan struktur
modal akan mempengaruhi biaya modal secara keseluruhan, hal ini disebabkan
masing-masing jenis modal mempunyai biaya modal sendiri-sendiri (2) Besarnya
biaya modal keseluruhan ini, nantinya akan digunakan sebagai cut of rate pada
pengambilan keputusan investasi. Oleh karena itu kebijaksanaan struktur modal
akan mempengaruhi keputusan investasi.
Penggunaan dari masing-masing jenis modal mempunyai pengaruh berbeda
terhadap laba yang diperoleh perusahaan. Penggunaan modal asing akan
menurunkan keuntungan perusahaan sebab harus membayar bunga dan bunga
sebagai pengurang laba. Bunga sendiri juga dimanfaatkan sebagai pengurang pajak
yang harus ditanggung oleh perusahaan. Sedangkan modal sendiri yang
kompensasinya berupa pembayaran dividen diambilkan dari keuntungan setelah
pajak, sehingga tidak mengurangi pembayaran pajak. Beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam penentuan kebijaksanaan struktur modal adalah:
1. Persesuaian atau suitability
Merupakan persesuaian antara cara pemenuhan dana dengan jangka waktu
kebutuhannya. Jika yang dibutuhkan perusahaan dana berjangka pendek, bila
dibelanjai dengan hutang obligasi atau dengan mengeluarkan modal sendiri

Bab 15 Teori dan Kebijaksanaan Struktur Modal 1


kurang sesuai. Sebaiknya cara pemenuhan dana disesuaikan dengan jangka
waktu kebutuhannya, artinya bila kebutuhan dana berjangka pendek, maka
sebaiknya dipenuhi dari sumber dana jangka pendek, dan bila kebutuhan dana
jangka panjang sebaiknya dipenuhi sumber dana jangka panjang.
2. Pengawasan atau control
Pengendalian atau pengawasan perusahaan ada di tangan para pemegang
saham. Manajemen perusahaan mengemban tugas untuk menjalankan hasil
keputusan pemegang saham. Biasanya sebuah perusahaan dimiliki oleh
beberapa pemegang saham, sehingga bila diperlukan tambahan dana perlu
dipertimbangkan apakah fungsi pengawasan dari pemilik lama tidak akan
terkurangi. Oleh sebab itu dengan pertimbangan tersebut, biasanya pemilik
lama lebih menginginkan mengeluarkan obligasi dibanding dengan menambah
saham.
3. Laba atau earning per share
Memilih sumber dana apakah dari saham atau hutang, secara finansial
harusnya yang bisa menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham atau
earning per share lebih besar. Seperti diuraikan pada bab sebelumnya bahwa
apabila rentanbilitas ekonomis yang diperoleh lebih besar dibanding dengan
tingkat bunga hutang, maka sebaiknya memilih hutang, karena akan
menghasilkan EPS lebih besar, dan sebaliknya bila rentabilitasnya lebih rendah
dibanding dengan bunga hutang lebih baik memilih modal sendiri.
4. Tingkat risiko atau riskness
Hutang merupakan sumber dana yang mempunyai risiko tinggi, sebab
bunganya tetap harus dibayarkan baik pada saat perusahaan mendapatkan laba
maupun dalam kondisi merugi. Apabila keuntungan yang diperoleh perusahaan
besar, penggunaan hutang lebih baik sebab akan menghasilkan EPS lebih
besar, namun bila keuntungan perusahaan kecil apalagi rugi, maka sumber
dana hutang kurang baik. Oleh karena itu semakin besar penggunaan dana dari
hutang mengindikasikan perusahaan mempunyai tingkat risiko yang besar.

B. TEORI STRUKTUR MODAL


Teori struktur modal yang dikembangkan oleh beberapa ahli, terutama
digunakan untuk mengetahui apakah perusahaan bisa meningkatkan kemakmuran
pemegang saham melalui perubahan struktur modal. Dalam pembahasan
selanjutnya akan digunakan beberapa notasi yang akan digunakan dalam berbagai
formulasi.
O = Laba bersih operasi (EBIT)
F = Bunga hutang yang dibayarkan oleh perusahaan
E = Laba yang tersedia bagi pemilik
S = Nilai pasar modal sendiri
B = Nilai pasar hutang

2 Manajemen Keuangan, Sutrisno


V = Total nilai perusahaan yakni S + B
Ke = Biaya modal sendiri atau return diharapkan
Kd = Biaya modal hutang atau tingkat bunga hutang
Ko = Biaya modal rata-rata tertimbang
Selain notasi-notasi yang digunakan seperti di atas, dalam pembahasan
struktur modal juga ada asumsi-asumsi yang kemungkinan besar tidak dijumpai
dalam kenyataan. Asumsi-asumsi ini diberikan dalam rangka mempermudah
pembahasan teori struktur modal. Asumsi-asumsi tersebut adalah:
1. Keuntungan yang diperoleh perusahaan dianggap konstan, artinya perusahaan
tidak mengadakan perubahan terhadap investasinya.
2. Seluruhan keuntungan yang diperoleh merupakan hak pemegang saham,
sehingga akan dibagikan semuanya kepada para pemegang saham.
3. Hutang yang digunakan bersifat permanen, dengan arti bahwa bila ada hutang
yang jatuh tempo harus di roll-over atau segera diganti dengan hutang baru.
4. Perusahaan dapat mengubah struktur modalnya secara langsung, misalnya
mengubah obligasi menjadi saham dan sebaliknya saham menjadi obligasi
dengan mudah dan tidak ada biaya transaksi.
Dengan beberapa asumsi tersebut, analisis struktur modal bisa dilakukan
dengan melihat besarnya nilai perusahaan atau biaya modal. Bila tujuan
perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan artinya sama dengan
menurunkan biaya modal.
Dari uraian di atas untuk mengetahui besarnya biaya modal, bisa
diformulasikan sebagai berikut:
a. Biaya modal saham biasa
E
Ke =
S

b. Biaya modal dari hutang


F
Kd =
R

c. Biaya modal rata-rata tertimbang

 S   S 
Ko = Ke   + Kd  
 B+S   B+S 
Atau
O EBIT
Ko = =
V Nilai Perusahaan

Bab 15 Teori dan Kebijaksanaan Struktur Modal 3


C. PENDEKATAN TRADISIONAL
Pendekatan tradisional ini berpendapat bahwa pada pasar modal yang
sempurna dan tidak ada pajak, maka perubahan struktur modal akan
mempengaruhi besarnya nilai perusahaan.
Misalnya PT. ABADI dalam beroperasi hanya menggunakan modal sendiri,
dan memperoleh keuntungan operasi sebesar Rp 25.000.000,- per tahun. Return
diharapkan dari pemilik adalah sebesar 20% per tahun. Dengan data tersebut, maka
nilai perusahaan dan biaya modal perusahaan akan nampak sebagai berikut:

O EBIT Rp 25 juta
F Bunga -
E Laba untuk pemegang saham Rp 25 juta
Ke Biaya Modal sendiri 0,20
S Nilai Pasar Modal Sendiri Rp 125 juta
B Nilai Pasar Hutang -
V Nilai Pasar Perusahaan Rp 125 juta
Ko Biaya Modal Perusahaan
= 0,2 (125/125)+0(0/125) 0,20

Nilai pasar modal sendiri = 25 juta : 0,20 = Rp 125 juta, sedangkan biaya modal
perusahaan bisa juga dihitung dengan cara:
Ke = 25 juta/125 juta = 0,20
Misalkan, perusahaan akan mengganti sebagian modalnya dengan hutang. Biaya
hutang yang diminta oleh kreditor adalah sebesar 16%. Bunga yang harus
dibayarkan atas penggunaan hutang tersebut adalah Rp 10.000.000,-. Karena
sebagian dananya dibiayai dengan hutang, berarti perusahaan semakin berisiko.
Untuk itu pemilik mengharapkan tingkat keuntungannya menjadi 22%. Dengan
demikian nilai perusahaan dan biaya modalnya adalah sebagai berikut:

O EBIT Rp 25,00 juta


F Bunga Rp 10,00 juta
E Laba untuk pemegang saham Rp 15.00 juta
Ke Biaya Modal sendiri 0,22
S Nilai Pasar Modal Sendiri Rp 68,18 juta
B Nilai Pasar Hutang (10/0,16) Rp 62,50 juta
V Nilai Pasar Perusahaan Rp 130,68 juta
Ko Biaya Modal Perusahaan
= 0,22(68,18/130,68)+0,16(62,5/130,68) = 0,191

4 Manajemen Keuangan, Sutrisno


Dari perhitungan di atas, nampak terjadi penurunan biaya modal perusahaan dari
semula sebesar 0,20 setelah diubah struktur modalnya dengan mengganti sebagian
modal sendiri dengan hutang menjadi 0,191. Dengan demikian perusahaan akan
menjadi lebih baik setelah perubahan struktur modal tersebut. Misalnya jumlah
lembar saham yang beredar sebesar 5000 lembar, maka sebelum perubahan
struktur modal harga per lembar saham sebesar Rp 125.000.000/5000 = Rp
25.000,- setelah ada perubahan struktur modal harga per lembar saham menjadi Rp
130.680.000/5000 = Rp 26.136,-.

D. PENDEKATAN MODIGLIANI DAN MILLER


Pendekatan tradisional ini dibantah oleh Franco Modigliani dan Merton H.
Miller yang lebih dikenal dengan Pendekatan Modigliani dan Miller (MM
approaches) melalui artikelnya yang terkenal pada tahun 1958 yang berjudul The
Cost of Capital, Corporation Finance and The Theory of Investment, menyatakan
bahwa tidak ada hubungannya antara nilai perusahaan dan biaya modal dengan
struktur modalnya. Pernyataan tersebut didukung dengan adanya proses arbitrase.
Melalui proses arbitrase akan membuat harga saham atau nilai perusahaan baik
yang tidak menggunakan hutang atau yang menggunakan hutang, akhirnya sama.
Proses arbitrase ini muncul karena investor bersifat rasional, artinya investor
lebih menyukai investasi yang sama tetapi menghasilkan keuntungan yang lebih
besar atau dengan investasi yang lebih kecil menghasilkan keuntungan yang sama.
Misalnya ada dua perusahaan yang identik, PT. ABADI yang dalam
operasinya hanya menggunakan modal sendiri dan PT. AGUNG yang dalam
beroperasinya sebagian menggunakan hutang. Nilai perusahaan kedua perusahaan
tersebut nampak sebagai berikut:
PT. ABADI PT. AGUNG
EBIT Rp 25,00 juta Rp 25,00 juta
Bunga - Rp 10,00 juta
Laba untuk pemegang saham Rp 25,00 juta Rp 15.00 juta
Biaya Modal sendiri 0,20 0,22
Nilai Pasar Modal Sendiri Rp 125,00 juta Rp 68,18 juta
Nilai Pasar Hutang 0 Rp 62,50 juta
Nilai Pasar Perusahaan Rp 125,00 juta Rp 130,68 juta
Biaya Modal Perusahaan 0,20 0,191
Misalkan Tn. Rifki mempunyai 20% saham PT. AGUNG yang menggunakan hutang,
berarti Tn Rifki mempunyai kekayaan sebesar 0,2 x Rp 68,18 juta = Rp 13,64 juta.
Karena ada PT. ABADI yang tidak mempunyai hutang, maka Tn. Rifki akan menjual
sahamnya di PT. AGUNG untuk dibelikan saham di PT. ABADI, maka:

a. Tn. Rifki menjual sahamnya dan akan menerima dana Rp 13,64 juta.

Bab 15 Teori dan Kebijaksanaan Struktur Modal 5


b. Pinjam uang sebesar Rp 12,5 juta dengan bunga sama dengan 16%, nilai
pinjaman tersebut sebesar 20% dari nilai hutang PT. AGUNG. Dengan demikian
Tn. Rifki mempunyai dana sebesar = Rp 13,64 + Rp 12,5 juta = Rp 26,14 juta.
c. Membeli 20% saham PT. ABADI yakni senliai 20% x Rp 125 juta = Rp 25 juta.
d. Dengan demikian Tn. Rifki masih mempunyai sisa dana sebesar Rp 1,14 juta,
yakni selisih dana yang dipunyai dengan harga beli saham PT. ABADI.
Pada saat Tn Rifki masih mempunyai 20% saham PT. AGUNG, akan mendapat
keuntungan sebesar = 20% x Rp 15 juta = Rp 3 juta.
Sedang pada saat mempunyai 20% saham PT. ABADI, keuntungan Tn. Rifki
adalah:
Keuntungan dari saham PT. ABADI = 20% X Rp 25 juta = Rp 5 juta
Bunga yang dibayar = 16% x Rp 12,5 juta = Rp 2 juta
Keuntungan bersih = Rp 3 juta
Dengan demikian, atas pembelian saham PT. ABADI tersebut Tn. Rifki
mendapatkan keuntungan yang sama dengan bila tetap memiliki saham PT.
AGUNG yakni Rp 3 juta, tetapi bisa menghemat investasi sebesar Rp 1,14 juta.
Artinya dengan investasi yang lebih rendah akan menghasilkan keuntungan yang
sama. Bila semua investor menyadari hal ini, maka mereka akan melakukan hal
yang sama dengan Tn. Rifki. Pengalihan pemilikan saham seperti yang dilakukan
oleh Tn. Rifki dan investor lain inilah yang dinamakan dengan proses arbitrase.
Proses arbitrase ini berlangsung sampai pada tingkat tidak ada lagi penghematan
investasi bila menjual saham PT. AGUNG untuk membeli saham PT. ABADI.

E. STRUKTUR MODAL BILA ADA PAJAK


Pendekatan yang dibahas di atas dengan asumsi tidak ada pajak. Namun
pada kenyataannya di setiap negara dapat dipastikan ada pajak. Menurut Modigliani
dan Miller apabila ada pajak, maka perubahan struktur modal menjadi relevan. Hal
ini disebabkan karena bunga yang dibayarkan berfungsi sebagai pengurang pajak
atau sebagai tax deductable. Apabila ada dua perusahaan yang menghasilkan laba
operasi yang sama, yang satu perusahaan tidak menggunakan hutang dan
perusahaan satunya lagi menggunakan hutang, maka pajak penghasilan yang
dibayarkan tidak akan sama. Perusahaan yang menggunakan hutang akan
membayar pajak lebih kecil dibanding dengan perusahaan yang tidak menggunakan
hutang. Bagi perusahaan yang menggunakan hutang bisa menghemat pajak, dan
tentunya akan bisa meningkatkan kesejahteraan pemilik atau akan meningkatkan
nilai perusahaan. Seperti pada contoh PT. ABADI dan PT. AGUNG di atas, bila ada
pajak 30%, maka:

PT. ABADI PT. AGUNG

6 Manajemen Keuangan, Sutrisno


EBIT Rp 25,00 juta Rp 25,00 juta
Bunga - Rp 10,00 juta
Laba untuk pemegang saham Rp 25,00 juta Rp 15,00 juta
Pajak 30% Rp 7,50 juta Rp 4,50 juta
EAT Rp 17,50 juta Rp 10,50 juta
Dari contoh di atas terlihat bahwa PT. AGUNG yang menggunakan hutang
membayar pajak lebih rendah dibanding dengan PT. ABADI yang tidak
menggunakan hutang. Perbedaan pajak yang dibayarkan sebesar Rp 3 juta
tersebut disebabkan bunga yang dibayarkan sebagai pengurang pajak, yakni
sebesar 30% x Rp 10 juta. Berarti perusahaan yang menggunakan hutang akan
memperoleh penghematan pajak. Penghematan pajak ini tentunya mendatangkan
manfaat bagi perusahaan. Bila asumsi hutangnya permanen, maka setiap tahun
akan memperoleh penghematan pajak sebesar Rp 3 juta selamanya. Dengan
demikian penghematan pajak yang diperoleh oleh perusahaan bisa dihitung dengan
cara menghitung persent value dari penghematan pajak sebagai berikut:
Rp 3 juta
PV penghematan pajak = 
(1+ r) t
r adalah tingkat bunga yang relevan, atau bisa menggunakan biaya modal dari
hutang. Karena penghematan pajak diterima selamanya, maka t = , maka PV
penghematan pajak dapat dihitung dengan formulasi:
Penghematan pajak setahun
PV penghematan pajak =  Kd
Karena perusahaan yang menggunakan hutang mendapatkan manfaat berupa
penghematan pajak, maka MM berpendapat bahwa nilai perusahaan yang
menggunakan hutang lebih besar dibanding dengan nilai perusahaan yang tidak
menggunakan hutang. Adapun selisihnya adalah sebesar PV penghematan pajak
tersebut. Oleh karena itu nilai perusahaan yang menggunakan hutang (VL) bisa
diformulasikan sebagai berikut:
VL = Vu + PV penghematan pajak
Vu adalah nilai perusahaan yang tidak menggunakan hutang.
Misalnya biaya modal sendiri PT. ABADI yang tidak menggunakan hutang (Keu)
sebesar 20%, dan biaya hutang (Kd) sebesar 16%, maka nilai PT. ABADI bisa
dihitung sebagai berikut.
Vu = Rp 17,5 juta/0,20
= Rp 87,5 juta
PV penghematan pajak = Rp 3 juta/0,16
= Rp 18,75 juta
Dari perhitungan tersebut, nilai PT. AGUNG yang menggunakan hutang dapat
dihitung.
VL = Rp 87,5 juta + Rp 18,75 juta

Bab 15 Teori dan Kebijaksanaan Struktur Modal 7


= Rp 106,25 juta.
Apabila dihitung biaya modal masing-masing perusahaan akan nampak sebagai
berikut:
PT. ABADI PT. AGUNG
EBIT Rp 25,00 juta Rp 25,00 juta
Bunga - Rp 10,00 juta
Laba untuk pemegang saham Rp 25,00 juta Rp 15,00 juta
Pajak 30% Rp 7,50 juta Rp 4,50 juta
EAT Rp 17,50 juta Rp 10,50 juta
Biaya hutang - 0,16
Nilai hutang - Rp 62.50 juta
Biaya modal sendiri 0,20 0,24
Nilai modal sendiri Rp 87,50 juta Rp 43,75 juta
Nilai perusahaan Rp 87,50 juta Rp 106,25 juta
Biaya modal perusahaan 0,20 0,1647

Bagi PT. ABADI laba yang diperoleh untuk pemegang saham sebesar Rp 17,5 juta
dengan biaya modal sendiri sebesar 0,20, sehingga nilai modal sendiri adalah = Rp
17,5 juta/0,20 = Rp 87,5 juta. Karena hanya menggunakan modal sendiri, maka nilai
perusahaannya juga Rp 87,5 juta.
Sedangkan untuk PT. AGUNG bunga yang dibayarkan adalah sebesar Rp 10 juta
dengan biaya hutang sebesar 0,16. Berarti nilai hutangnya sebesar = Rp 10
juta/0,16 = Rp 62,5 juta. Nilai PT. AGUNG yang menggunakan hutang seperti pada
perhitungan di atas diperoleh VL = Rp 106,25 juta, dengan demikian nilai modal
sendiri = Rp 106,25 juta – Rp 62,5 juta = Rp 43,75 juta, oleh karena itu biaya modal
sendirinya adalah = Rp 10,5 juta/Rp43,75 juta = 0,24.
Untuk menghitung biaya modal perusahaan dapat digunakan rumusan
(a) Ko = EBIT (1-t)/V. Dengan demikian besarnya biaya modal perusahaan:
Ko = Rp 25 juta (1-0,3)/106,25 = 16,47% atau
(b) Ko = Ke (S/V) + Kd (1-t)(B/V)
Ko = 0,24 (43,75/106,25) + 0,16(1 – 0,3)(62,5/106,25)
= 16,47%
Biaya hutang (Kd) perlu disesuaikan dengan pajak yakni Kd (1 – t), karena bunga
berfungsi sebagai pengurang pajak, sehingga bunga yang diperhitungkan setelah
pajak adalah sebesar Rp 10 juta (1 – 0,3) = Rp 7 juta. Dengan demikian biaya
bunga setelah pajak atau cost of debt after tax sebesar Rp 7 juta/Rp62,5 juta =
11,2%. Perhitungan ini sama dengan Ko (1 –t) = 16% (1 – 0,3) = 11,2%.
Dari hasil perhitungan, Modigliani dan Miller berpendapat bahwa perusahaan
akan bisa meningkatkan nilai perusahaannya jika menggunakan hutang sebesar-
besarnya. Hal ini memunculkan berbagai kritik dari kalangan praktisi, namun juga

8 Manajemen Keuangan, Sutrisno


disadari karena asumsi yang digunakan oleh MM memang sulit diterapkan dalam
dunia praktek.
Pendapat MM tentang struktur modal dan kaitannya dengan biaya modal,
dapat digambarkan sebagai berikut.

Biaya Modal (%)

Ke Ke

20 Ko 20

Kd 12
Kd (1-t)

0 B/S 0
Tidak Ada Pajak Ada Pajak

Gambar 15.1. Biaya modal menurut MM

Dari gambar tersebut bisa terlihat bahwa bila tidak ada pajak biaya modal
perusahaan selalu konstan, sedangkan bila ada pajak biaya modal perusahaan
cenderung menurun sesuai dengan komposisi hutang terhadap modal sendiri.

F. SOAL DAN PENYELESAIAN


Soal Satu
Perusahaan TRAKINDO diperkirakan akan mendapatkan laba operasi (EBIT)
sebesar Rp 50.000.000,-. Perusahaan mempunyai aktiva sebesar Rp 500.000.000,-
dengan beberapa alternatif struktur modal sebagai berikut:
Hutang Bunga Return diharapkan
Rp 100.000.000,- 10% 15%
Rp 200.000.000,- 11% 16%
Rp 300.000.000,- 12% 17%
Dari data tersebut di atas:
a. Hitunglah nilai pasar perusahaan dan biaya modal masing-masing struktur
modal.
b. Tentukan struktur modal yang optimal

Jawab:
a. Menghitung besarnya nilai perusahaan
Hutang Hutang Hutang
Keterangan

Bab 15 Teori dan Kebijaksanaan Struktur Modal 9


Rp 100.000,- Rp 200.000,- Rp 300.000,-
Laba Operasi Rp 50.000,- 50.000,- 50.000,-
Bunga 10.000,- 22.000,- 36.000,-
Laba untuk pemilik Rp 40.000,- 28.000,- 14.000,-
Biaya modal sendiri 0,15 0,16 0,17
Nilai pasar MS 266.667 175.000 82.353,-
Biaya Hutang 0,10 0,11 0,12
Nilai pasar hutang 100.000,- 200.000,- 300.000,-
Nilai Perusahaan 366.667,- 375.000,- 382.253,-
Biaya modal perush. 13,64% 13,33% 13,08%

b. Dari perhitungan tersebut di atas ternyata struktur modal yang optimal adalah
yang menggunakan hutang Rp 300.000.000,-, karena menghasilkan nilai
perusahaan paling besar dan biaya modal paling kecil.
Soal dua
Ada dua perusahaan yang identik, PT. SHAFA menggunakan hutang, sedangkan
PT. MARWA tidak menggunakan hutang. Berikut ini adalah taksiran laba dari kedua
perusahaan tersebut.
PT. Marwa PT. Shafa
EBIT Rp 50,00 juta Rp 50,00 juta
Bunga - Rp 18,00 juta
Laba untuk pemegang saham Rp 50,00 juta Rp 32,00 juta
Pajak 25% Rp 12,50 juta Rp 8,00 juta
EAT Rp 37,50 juta Rp 24,00 juta
PT. MARWA yang tidak menggunakan hutang dan mempunyai kapitalisasi modal
sendiri sebesar 20%. Dan biaya hutang 18%.
Diminta:
Menghitung nilai pasar masing-masing perusahaan berikut biaya modalnya
Jawab:
Nilai pasar PT. MARWA adalah
Vu = Rp 37,5 juta/0,20
= Rp 187,5 juta
PV penghematan pajak = Rp 4,5 juta/0,18
= Rp 25 juta
Nilai perusahaan PT. SHAFA adalah
VL = Rp 187,5 juta + Rp 25 juta
= Rp 212,5 juta.

Biaya modal kedua perusahaan tersebut adalah:


PT. MARWA PT. SHAFA
EBIT Rp 50,00 juta Rp 50,00 juta

10 Manajemen Keuangan, Sutrisno


Bunga - Rp 18,00 juta
Laba untuk pemegang saham Rp 50,00 juta Rp 32,00 juta
Pajak 30% Rp 12,50 juta Rp 8,00 juta
EAT Rp 37,50 juta Rp 24,00 juta
Biaya hutang - 0,18
Nilai hutang - Rp 100,00 juta
Biaya modal sendiri 0,20 0,2133
Nilai modal sendiri Rp 187,50 juta Rp 112,50 juta
Nilai perusahaan Rp 187,50 juta Rp 212,50 juta
Biaya modal perusahaan 0,20 0,1765

G. SOAL-SOAL LATIHAN
1. Perusahaan DWIKORA diperkirakan akan mendapatkan laba operasi (EBIT)
sebesar Rp 100.000.000,-. Perusahaan mempunyai aktiva sebesar Rp
800.000.000,- dengan beberapa alternatif struktur modal sebagai berikut:
Hutang Bunga Return diharapkan
Rp 200.000.000,- 10% 14%
Rp 300.000.000,- 10% 15%
Rp 400.000.000,- 11% 16%
Rp 500.000.000,- 12% 16%
Rp 600.000.000,- 13% 17%
Dari data tersebut di atas:
a. Hitunglah nilai pasar perusahaan dan biaya modal masing-masing struktur
modal.
b. Tentukan struktur modal yang optimal
2. Ada dua perusahaan yang identik, PT. ABC menggunakan hutang, sedangkan
PT. PQR tidak menggunakan hutang. Berikut ini adalah taksiran laba dari kedua
perusahaan tersebut.
PT.PQR PT. ABC
EBIT Rp 40,00 juta Rp 40,00 juta
Bunga - Rp 12,00 juta
Laba untuk pemegang saham Rp 40,00 juta Rp 28,00 juta
Pajak 25% Rp 10,00 juta Rp 8,00 juta
EAT Rp 30,00 juta Rp 21,00 juta
PT. PQR yang tidak menggunakan hutang mempunyai biaya modal sendiri
sebesar 24%. Dan biaya hutang 20%.
Diminta:
a. Menghitung Nilai pasar masing-masing perusahaan
b. Menghitung biaya modal masing-masing perusahaan

Bab 15 Teori dan Kebijaksanaan Struktur Modal 11

Anda mungkin juga menyukai