Modul01 Mengetahui Konsep Diri
Modul01 Mengetahui Konsep Diri
1
MENERAPKAN
KONSEP DIRI
untuk meraih
kesuksesan
MENERAPKAN KONSEP DIRI UNTUK
MODUL
MERAIH KESUKSESAN
MODUL 1
TUJUAN UMUM
Unit kompetensi ini dapat digunakan untuk
mempersiapkan calon pekerja agar dapat
mengenal konsep diri untuk beradaptasi dan
berkontribusi secara produktif di tempat kerja.
DURASI
6 JP atau 270 Menit
SILABUS PELATIHAN
lihat halaman berikut.
Tujuan Khusus
1. . Peserta mampu mengidentifikasi sifat positif dan negatif pada
dirinya.
2. Peserta mampu mengidentifikasi tipe-tipe kepribadian.
3. Peserta mampu mengidentifikasi penyebab mental block.
4. Peserta mampu mempraktikkan langkah-langkah untuk
menghilangkan mental block.
5. Peserta mampu mengidentifikasi bakat dan minat diri.
Metode
1. . Permainan “Konsep Diri” – Mengenal Sifat dan Karakter Diri Sendiri
2. Ceramah
3. Curah pendapat
4. Kerja individu
Alat Bantu
1. . Kertas flipchart
2. Spidol
3. Selotip kertas
4. Kertas karton
5. Metaplan berwarna
6. 4 lembar poster karakter manusia
7. Lembar Johari Windows
8. Gambar-gambar profesi/
pekerjaan
Durasi
90 Menit
Pengantar
Instruktur menjelaskan bahwa:
• Dalam psikologi, sifat ini adalah ciri-ciri tingkah laku yang tetap (hampir
tetap) pada seseorang.
• Dengan mengenali sifat positif dan negatif dalam diri kita menjadi tahu
bagaimana mencapai tujuan hidup kita (lebih lengkap, lihat Bacaan
Penunjang).
Langkah-langkah
1. . Instruktur meminta setiap peserta menuliskan nama dan 1 nama unsur-
unsur alam (air, api dan lain-lain) yang bisa melambangkan diri peserta di kertas
metaplan.
2. Kemudian setiap peserta menyebutkan namanya dan nama unsur alam tersebut
beserta alasan memilihnya. Misalnya nama Adi unsur alam api, karena
karakter dia mirip dengan sifat api.
3. Dari permainan ini instruktur menjelaskan bahwa ketika memilih unsur alam
itu bisa jadi
menggambarkan karakter
diri sendiri seperti sifat
air/api dan lain-lain.
Misalnya memilih air. Sifat
air adalah tenang, cukup
adaptasi dengan
lingkungan (air akan
berbentuk sesuai dengan
wadahnya), tetapi
ketika air itu disentuh
dengan keras makan
akan berguncang dan
bisa sangat kuat
guncangannya. Jika
dianalogikan pada diri
manusia maka
kecenderungan orang yang
memilih air maka biasanya
orang ini tenang tetapi kuat
jika bereaksi
Kesimpulan
Pengantar
Instruktur memaparkan bahwa:
• karakter adalah cara berpikir dan perilaku yang menjadi ciri khas individu untuk
hidup baik dalam lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.
• karakter terbentuk dari 3 hasil pemahaman yang pasti dialami manusia
(triangle relationship) yaitu: (lihat gambar)
Ketiga hubungan tersebut akan memengaruhi nilai dan keyakinan yang terbentuk dalam
diri seseorang.
Tuhan
Manusia Lingkungan
Langkah-langkah
Kemudian Instruktur mengajak peserta untuk mengenal karakter dasar diri sendiri.
Terdapat 4 Karakteristik sifat mendasar manusia yaitu: Sanguinis, Melankolis,
Kholeris, dan Flegmatis (lebih lanjut buka Bacaan Penunjang).
Diri Sendiri
Diri Sendiri Tahu & Orang Lain Diri Sendiri Tidak Tahu & Orang
Tah
Diri Sendiri Tahu & Diri Sendiri Tidak Tahu & Orang
Orang Lain Tidak Tahu Lain Tidak Tahu
(Tersembunyi) (?)
Kesimpulan
Instruktur menyampaikan bahwa setiap orang dapat memiliki lebih dari 1 karakter dasar. Hal itu karena pada d
a. Setiap orang memiliki karakter sendiri
a. Setiap orang bisa berkembang sendiri
a. Setiap orang memiliki tingkat ‘external information control’ yang berbeda
a. Setiap orang memiliki kemampuan problem solving (pemecahan masalah)
Pengantar
Instruktur menyampaikan bahwa konsep diri adalah pandangan atau kesan individu
terhadap dirinya secara menyeluruh yang meliputi pendapatnya tentang dirinya sendiri
maupun gambaran diri orang lain tentang hal-hal yang dapat dicapainya yang
terbentuk melalui pengalaman dan interpretasi dari lingkungannya, meliputi 3
dimensi yaitu:
• Pengetahuan tentang diri sendiri
• Harapan untuk diri sendiri
• Evaluasi diri sendiri
Konsep diri bukanlah sesuatu yang dibawa
sejak lahir. Bahkan ketika kita lahir, kita tidak
memiliki konsep diri, tidak memiliki
pengetahuan tentang diri, dan tidak memiliki
pengharapan bagi diri kita sendiri, serta tidak
memiliki penilaian apa pun terhadap diri kita
sendiri.
Konsep diri menurut Carl Rogers (1959)
ada 3 komponen yaitu:
Keterangan :
Self image: cara pandang kita terhadap diri sendiri Self
esteem: penghargaan terhadap diri sendiri Self ideal:
ideal diri
Dengan demikian, konsep diri terbentuk melalui proses belajar yang berlangsung sejak
masa pertumbuhan hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman, dan pola asuh orang tua
turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri
seseorang.
Ada suatu situasi di mana seseorang sulit melakukan perubahan pada dirinya.
Penyebabnya, selain konsep diri yang negatif juga terdapat psikologis yang tidak
membebaskan dirinya untuk melakukan perubahan. Saat hendak memulai atau mau
berubah ada hambatan mental yang menghalangi perubahan tersebut, itulah yang
disebut “mental block”.
Ilustrasi:
Kesulitan seseorang untuk
meraih sukses bisa
disebabkan karena
belenggu yang
menimbulkan rasa takut
gagal.
Pengantar
Dari permainan di sesi sebelumnya, instruktur menyampaikan bahwa mental block
merupakan belenggu yang sulit dilepaskan sehingga menghambat pencapaian tujuan
hidup. Oleh karena itu mental block harus dihilangkan sehingga diri kita bebas
bergerak dan melakukan perubahan.
Selanjutnya, instruktur menjelaskan beberapa cara untuk membebaskan diri dari
belenggu (mental block).
Langkah-langkah
Ada 3 alternatif metode yang bisa digunakan dalam mengatasi mental block:
Refleksi
K etika kita takut terhadap
sesuatu (mental block) maka lawanlah dengan melakukan hal yang
ditakutkan!
di depan forum.
Kesimpulan
Pengantar
Instruktur menyampaikan bahwa banyak orang hingga pada masa tuanya tidak
mengetahui minat dan bakat dirinya. Meskipun seseorang tergolong sukses dalam
menjalani hidupnya namun jika dia tahu minat dan bakat dirinya maka dia akan lebih
menikmati hidupnya. Bekerja sesuai dengan minat dan bakat akan membuat pekerjaan
lebih mudah dan menyenangkan.
Mengembangkan minat dan bakat bertujuan agar seseorang dapat bekerja di bidang
yang diminatinya dan sesuai dengan kemampuan serta bakat dan minat yang
dimilikinya.
Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu
dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan.
Jenis-jenis bakat antara lain :
• Kesehatan : olah raga, dokter
• Seni: musik, lukis, tari
• Pendidikan : guru, pelatih, motivator
• Klerikal: staf administrasi, petugas
perpustakaan
Minat berarti:
• Menuju pada perhatian
• Adanya keinginan untuk
memperhatikan
• Kemauan untuk melakukan
sesuatu
• Berminat, artinya: ada
ketertarikan -
Langkah-langkah:
Instruktur mengajak peserta untuk lebih mengenal bakat dan minat diri, mulai dari
pendidikan di BLK maupun jenis pekerjaan yang diinginkan.
1. Instruktur mengajak peserta untuk bermain “Di mana saya?”
• Instruktur menyiapkan gambar-gambar jenis pekerjaan yang kemudian
ditempelkan di dinding kelas secara acak.
• Kemudian setiap peserta diminta menempatkan diri sesuai jenis pekerjaan yang
dipilihnya. Jika jumlah peserta cukup besar maka hal ini bisa dilakukan
bergantian per kelompok.
Ilustrasi:
Bermain “Di
Mana Saya?”
membantu
peserta untuk
merefleksikan
kembali, apakah
pilihan
hidupnya
saat ini sudah
selaras dengan
bakat atau
minatnya
selama ini.
• Dari permainan ini instruktur mengajak peserta untuk mendiskusikan antara pilihan,
bakat dan minat. Bisa saja pekerjaan yang dilakukan bukan sebuah bakat tetapi ada
minat atau ketertarikan terhadap jenis pekerjaan tersebut.
2. Instruktur mengajak peserta untuk melakukan tes bakat sederhana.
• Instruktur membagikan soal-soal tes bakat kepada setiap peserta.
• Tes bakat ini dilakukan secara individu dengan memberikan skor pada setiap
pertanyaan. Besarnya skor telah ada ketentuannya.
• Setelah peserta memberikan skor pada setiap pertanyaan atau pernyataan,
instruktur meminta peserta menghitung jumlah skor di setiap tabel kecerdasan
untuk mengetahui tabel dengan skor tertinggi. Setiap tabel kecerdasan mempunyai
analisis masing-masing terhadap jenis profesi.
• Instruktur memberikan informasi/lembaran tentang jenis profesi yang cocok di
setiap jenis kecerdasan kepada peserta.
• Instruktur mengajak peserta untuk menganalisis jenis profesi pekerjaan yang
cocok berdasarkan bakatnya.
Konsep Diri
Lingkungan
Konsep Diri Lingkungan
Individu dengan Konsep Diri yang baik Individu dengan Konsep Diri yang buruk
Tujuan Khusus
1. . Peserta mampu menjelaskan makna sukses.
2. Peserta mampu mengidentifikasi jenis-jenis kesuksesan.
3. Peserta mampu menjabarkan langkah-langkah perubahan diri untuk
mencapai sukses yang sesuai dengan capaian kesuksesan pada diri.
Metode
1. . Studi kasus
2. Curah pendapat
3. Ceramah
4. Permainan
5. Pemutaran audiovisual “tentang kesuksesan atau motivasi untuk
sukses”
Alat bantu
1. . Kertas flipchart
2. Spidol
3. Isolasi kertas
4. Kertas karton
5. Metaplan berwarna
Durasi
60 menit
Makna Sukses
Pengantar
Instruktur menyampaikan bahwa setiap manusia pasti ingin sukses. Ada yang ingin
memperoleh kesuksesan dari usahanya, karirnya, atau bahkan dalam membina rumah
tangganya. Namun, masih banyak dari kita yang belum tahu betul makna dari sebuah
kesuksesan. Bahkan sebagian besar orang selalu mengaitkan kesuksesan hidup dengan
keberhasilan secara finansial.
Langkah-langkah
1. . Instruktur menanyakan kepada siswa; “Siapa yang mau sukses, silakan
angkat tangan sambil ucapkan … ‘SAYA’…”
2. Instruktur menunjuk 3 orang siswa secara bergantian untuk menjelaskan apa
arti SUKSES yang ada dalam pikiran mereka.
3. Instruktur memperlihatkan sejumlah UANG (atau uang mainan) dan
membuat ilustrasi tentang; “Apakah orang yang memiliki banyak uang dapat
dikatakan sebagai orang yang SUKSES?”
4. Instruktur membuat ilustrasi adegan dengan menunjuk 2 orang siswa agar maju
ke depan.
Kesimpulan
Jenis-jenis Kesuksesan
Pengantar
Instruktur menyampaikan, tidak dapat dipungkiri bahwa materi adalah kebutuhan
dasar manusia yang harus dipenuhi, sehingga kekurangan materi dapat memengaruhi
kesuksesan di bidang lain. Dan kesuksesan juga bukan hanya terletak pada materi saja.
Ukuran kesuksesan sejati bukanlah dari penilaian orang lain tetapi adalah apa yang kita
jalani dan kita rasakan.
Langkah-langkah
1. . Instruktur kemudian membagi peserta menjadi 2 kelompok dan masing-
masing kelompok diberikan contoh kasus.
2. Instruktur meminta kepada setiap kelompok mendiskusikan kasus tersebut dan
menjawab pertanyaan :
a. Apakah kasus tersebut bercerita tentang sebuah kesuksesan? Apa
alasannya?
b. Apa yang menjadi kunci kesuksesan dari kasus tersebut?
Berikut contoh kasus yang akan dibagikan kepada peserta:
uatu ketika ada sebuah pesawat melintas di atas samudra yang luas.
S Karena cuaca sedang tidak bersahabat, pesawat tersebut lepas kendali dan
akhirnya jatuh ke laut. Semua awak dan penumpangnya mati tenggelam kecuali
seorang penumpang yang berhasil selamat. Sebelum pesawat tercebur ke laut, dia
secara tidak sengaja terpental ke luar dan akhirnya terapung-apung berhari-hari di
tengah samudra. Ombak membawanya terdampar di sebuah pulau kecil tak
berpenghuni. Begitu siuman, dia berusaha mencari bantuan di sekeliling pulau
tersebut namun tidak berhasil. Akhirnya dia memutuskan untuk bertahan hidup di
sana. Dia bangun tempat tinggal dari dahan dan ranting seadanya. Dia makan
tumbuhan dan hewan laut yang diperolehnya dari berburu. Akhirnya tidak terasa 5
tahun sudah dia tinggal di pulau. Selama itu, dia senantiasa menjaga keseimbangan
alam di mana dia hidup. Dia tidak membunuh hewan yang memang tidak dapat dia
makan atau mengganggunya. Dia tidak merusak bebatuan dan tidak pula menebang
pohon jika tidak dibutuhkan. Bahkan dia bercocok tanam dari biji- bijian buah yang
disantapnya. Dengan perkataan lain, dia selalu bersahabat dengan alam pulau yang
ditinggalinya itu. Di sana pula ia tutup usia tanpa ditemani sahabat dan
kerabatnya.
Pengantar
Instruktur menyampaikan bahwa faktor internal diri sangat berpengaruh dalam
mencapai kesuksesan, seperti tujuan hidup, kebutuhan, nilai, motivasi, pengalaman
dan pengetahuan yang dimiliki. Hal inilah yang juga dapat membedakan proses
pencapaian kesuksesan yang sesuai dengan tujuan hidup antara orang yang satu
dengan yang lain.
Demikian halnya dengan tujuan hidup itu sendiri, tidak semua orang mampu
mendefinisikan tujuan hidupnya dengan baik. Ketidakjelasan dalam menentukan
tujuan hidup ini akan mempengaruhi tingkat kesuksesan yang diraihnya.
Dalam menyusun tujuan hidup dapat menggunakan prinsip SMART, yaitu :
M
Measurable atau dapat diukur;
tujuan hidup harus dapat diukur tingkat keberhasilannya, bukanlah
abstrak.
R
Realistic atau nyata;
tujuan hidup harus nyata bukan sesuatu yang sulit dimaknai secara
logika.
Contoh:
• Ratna akan membeli sepeda motor bermerek XX dengan cara
mencicil setiap bulan Rp700.000 selama 3 tahun.
• Untuk mengisi waktu libur kerja dan menambah
keterampilan, Santi mendaftar kursus Bahasa Inggris di AB
Course yang berjangka waktu 6 bulan dengan biaya
Rp300.000/bulan untuk 4 jam pertemuan.
Tujuan Khusus
1. . Peserta mampu mengidentifikasi sebab-sebab
kegagalan dan langkah-langkah penyelesaian
permasalahan.
2. Peserta mampu mempraktikkan kemampuan
mengendalikan emosi dalam menyelesaikan masalah.
Durasi
60 Menit
Metode
1. . Ceramah
2. Curah gagasan
3. Simulasi relaksasi dengan musik
Alat bantu
1. . Kertas flipchart
2. Isolasi kertas
3. CD/MP3 player untuk memutar musik
4. Metaplan
5. Spidol
Pengantar
Instruktur menyampaikan bahwa setiap orang pasti pernah mengalami sebuah
kegagalan dalam hidupnya. Kegagalan terjadi karena kita mempunyai masalah.
Namun tidak semua orang mampu mengidentifikasi kegagalan dan masalah yang
dialaminya. Sebagai contoh ketika orang ditanya; “Apakah Anda mempunyai
masalah? Pasti jawabannya adalah; “Ya, punya.” Namun, ketika diminta untuk
mendefinisikan masalahnya, orang sering kali mengalami kesulitan. Hal ini bisa
ditanyakan kepada peserta.
Langkah-langkah
1. . Instruktur menanyakan kepada peserta; “Apakah Anda mempunyai masalah?”
Dan ketika dijawab “Ya”, pertanyaan selanjutnya adalah “Apa masalahnya?”
Kemudian instruktur bisa mengamati jawaban peserta.
Biasanya orang akan menjawab; “Tidak tahu”.
2. Kemudian instruktur mulai menjelaskan tentang “Apa Itu Masalah”.
• Masalah adalah kesenjangan yang terjadi antara apa yang terjadi tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan.
• Masalah tidak selalu berarti negatif, masalah dapat berarti positif. Ini akan
sangat tergantung pada cara pandang diri kita terhadap masalah.
• Ketika kita kalah dalam pertandingan, kita justru memacu diri untuk
meningkatkan latihan agar memenangkan pertandingan berikut. (+)
• Ketika kita kalah dalam pertandingan, dan kita jadi stress lalu marah- marah
atau bahkan minum minuman keras. (-)
3. Instruktur kemudian kembali lagi melemparkan pertanyaan kepada peserta;
“Bagaimana cara peserta menyelesaikan masalah?” Gali jawaban dari peserta dan
semua jawaban dituliskan di kertas plano.
4. Instruktur memberikan informasi cara-cara yang biasa orang lakukan dalam
menyelesaikan masalah. Lihat gambar berikut:
pendekatan
keseimbangan
Penjelasan:
• Menghindari: Dalam hal ini orang cenderung tidak menyelesaikan
masalah tapi menjauh dari masalah
• Terlalu bergantung pada orang lain; Dalam menyelesaikan
masalah selalu mencari orang lain untuk membantunya
• Terlalu bergantung pada diri sendiri; Ada 2 alasan yang
mungkin ada adalah karena terlalu percaya pada diri sendiri atau tidak
berani meminta bantuan pada orang lain.
• Pendekatan kesimbangan; Bertindak berdasarkan situasi, apakah
menyelesaikan sendiri atau meminta bantuan orang lain.
masal
m/
ilustrasi
Tulang ikan sebagai akar masalah
Fishbone
Pengantar
Setiap orang dalam menyelesaikan masalah akan berbeda-beda, karena
keunikan karakter manusia. Namun masalah dapat timbul dari
ketidakmampuan orang dalam mengendalikan atau mengelola emosinya. Emosi
berlebihan sering dikeluarkan tanpa kendali bahkan disertai dengan kekerasan fisik
Contoh: tawuran pelajar, kekerasan dalam pacaran, kekerasan dalam rumah tangga,
dan lain-lain.
Langkah-langkah
Instruktur mengajak peserta untuk mempraktikkan metode pengendalian emosi. Ada 2
alternatif metode yang bisa digunakan:
Tujuan
1. . Peserta mampu mengidentifikasi target-target yang akan dicapai
dalam hidup.
2. Peserta mampu mengidentifikasi kegiatan-kegiatan untuk
memanfaatkan waktu secara positif.
Metode
1. . Simulasi
2. Curah pendapat
3. Ceramah
Alat Bantu
1. . Kertas flipchart
2. Spidol
3. Isolasi kertas
4. Kertas karton
5. Metaplan berwarna
6. Aquarium/wadah yang transparan
7. Batu, kerikil, pasir dan air
Durasi
60 menit
Pengantar
Setiap orang pasti mempunyai target dalam hidupnya, akan tetapi yang sering menjadi
persoalan adalah kesulitan orang dalam mencapai target hidup tersebut. Terkadang
waktu banyak terpakai tetapi target tetap belum tercapai sehingga dapat berakibat pada
gangguan psikologis seperti stress, depresi dan lain-lain.
Oleh karena itu penting kiranya setiap orang untuk dapat menentukan target hidup dan
mengetahui bagaimana cara mencapainya. Persoalan utama yang sering dialami orang
adalah ketika tidak bisa menentukan prioritas dalam hidupnya.
Langkah-langkah
1. . Instruktur kemudian mengajak peserta untuk memahami lebih dalam lagi
bagaimana menentukan skala prioritas dalam hidup.
2. Instruktur menggunakan metode “Bermain Kerikil” :
• Ambil aquarium /wadah transparan dengan ukuran menengah. Sediakan batu,
kerikil, pasir, dan air (jangan tunjukkan ke peserta).
• Isi aquarium pertama dengan batu. Biarkan aquarium terlihat penuh. Tanyakan
ke peserta, apakah ada ruang yang tersisa untuk diisi lagi oleh benda lain?
Kemungkinan peserta menjawab: “Tidak”.
• Sekarang ambil kerikil dan mulai mengisi aquarium dengan kerikil tersebut.
Setelah aquarium terlihat penuh, ajukan pertanyaan yang sama. Kemungkinan
peserta ada yang menjawab “Ya” dan “Tidak”.
• Sekarang masukkan pasir dalam aquarium dan kocok
sehingga pasir mengisi ruang antara kerikil. Tanyakan jika
masih ada ruang tersedia. Instruktur akan mendengar jawaban:
”Tidak”.
• Sekarang ambil air dan tuangkan ke dalam aquarium.
Berhenti ketika aquarium penuh, tanyakan sekali lagi kalau
ada sesuatu yang masuk ke dalamnya.
• Sekarang ambil air dan tuangkan ke dalam
aquarium. Berhenti ketika aquarium penuh,
tanyakan sekali lagi kalau ada sesuatu yang
masuk ke dalamnya.
Kesimpulan
Dalam menyelesaikan target dan tujuan hidup kita harus dapat memilah mana yang m
Pengantar
Pepatah mengatakan, “Time is money”. Ya, waktu adalah uang. Waktu dan uang
memang 2 hal yang sama berharganya dalam hidup namun mendapat perlakuan
berbeda. Orang cenderung lebih memedulikan dan memperhatikan uang dibanding
waktu. Orang akan lebih terlihat stress saat kehilangan uang, namun di sisi lain, begitu
santai jika kehilangan waktu. Padahal jika dianalisis lebih jauh, kehilangan waktu
berarti kita kehilangan kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali, hingga yang
terjadi sesal tiada guna. Uang yang hilang masih bisa dicari. Waktu hilang, tak akan
kembali.
Langkah-langkah
1. . Instruktur menyampaikan kepada peserta
bahwa waktu itu juga hal yang sangat
berharga dalam hidup oleh karena itu
pergunakanlah waktu yang ada dengan
kegiatan yang positif jika ingin mencapai
sebuah kesuksesan.
2. Instruktur kemudian membagikan selembar
kertas kosong kepada setiap peserta. Peserta kemudian diminta menuliskan alokasi
waktu dalam satu hari, dengan:
• Membuat jadwal kegiatan harian Anda saat hari kerja.
• Membuat ranking kategori kegiatan Anda (A=penting, B=biasa,
C=kurang penting).
• Pastikan waktu istirahat Anda cukup (negosiasikan dengan diri Anda).
3. Setelah peserta selesai menuliskan alokasi waktunya, instruktur mengajak peserta
untuk sama-sama melihat dalam 1 hari apakah kita sudah menggunakan dengan
kegiatan yang positif? Ataukah banyak waktu yang digunakan untuk hal-hal yang
negatif atau yang sebenarnya tidak penting dilakukan.
4. Instruktur meminta 2-4 peserta untuk berbagi pengalaman tentang alokasi
waktunya. Instruktur kemudian menggali lagi kegiatan-kegiatan peserta dalam 1
hari dan memotivasi mereka untuk kegiatan yang positif. Mintalah peserta untuk
mencoba meningkatkan jumlah kegiatan positif dalam keseharian mereka.
SiSi Sebelah
mana yang
menurutmu
memanfaatKan
waKtunya
Dengan baiK?
RRRR
Kesimpulan
Arcan. Fitts, H. William. (1971). The Self Concept and Self Actualization, Los Angeles, California.
Aziz A, Psikologi Agama, Kepribadian Muslim Pancasila, Sinar Baru, Bandung, 1991 Burns, R.
Dariyo Agoes, Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama (Psikologi Atitama),
Refika Aditama, Bandung, 2007
Dayakisni & Hudaniyah, Psikologi Sosial Edisi Revisi, Malang: UMM Press, 2003 Ghufron,
M Nur & Rini, Teori-teori Psikologi, Ar-Ruz Media, Jogjakarta, 2010 Gunarsah, Singgih,
Keliat, Budi Anna, Dkk. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. Jakarta: EGC
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC
Stuart, Gail & Sundeen, Sandra. 2005. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC Sobur. Alex,