Anda di halaman 1dari 10

LAJU DIGESTI PADA IKAN

Oleh : Nama : NIM : Rombongan : Kelompok : Asisten : Iva Akmalasari B1J008113 IV 4 Mei Lita Fitriani

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2009

A. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil

Tabel 1. data pengamatan kelompok 1 2 3 4 5 6 x(gr) 0,38 0,363 0,31 0,43 0,386 0,317 % BLx 100% 100% 100% 100% 100% 100% Y(gr) 0,34 0,286 0,307 0,4 0,45 0,376 %BLy 89,4% 78,7% 99% 93,02% 117,36% 118,61% Z(gr) 0,31 0,233 0,25 0,3 0,37 0,38 %BLz 81,5% 61,4% 80,6% 69,8% 71,5% 119,87%

Perhitungan: Bobot lambung awal = 0,41 gr = 0,42 gr = 0,43 gr Bobot lambung 20 = 0,6 gr =0,2 =0,4 Bobot lambung 80 = 0,28gr =0,28 gr =0,3 gr %BLx = BLx BLx x 100% = 0,43 x 100% = 100% 0,43 z= 0,3 y= 0,4 x= 0,43

%BLy = BLy x 100% = 0,4 x 100% = 93,02 % BLx 0,43

% BLz = BLz x 100% = 0,3 x 100% = 69,8 % Bly 0,4

B. Pembahasan
Semua hewan yang hidup di berbagai habitat membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Makanan yang diingesti oleh hewan harus mengandung zat penghasil energi dan nutrien yang dibutuhkan untuk sintesis protein dan molekul kompleks lainnya (Effendie, 1979). Molekul pakan yang besar dan kompleks dipecah menjadi molekul yang lebih kecil dan sederhana agar dapat diabsorpsi dan selanjutnya digunakan dalam tubuh hewan. Pemecahan molekul ini terjadi di sepanjang saluran digesti hewan. Pakan tubuh hewan mengalami pemecahan menjadi molekul sederhana dalam suatu proses yang disebut digesti. Berdasarkan perangkat yang digunakan digesti terjadi secara mekanik maupun kimiawi yang melibatkan enzim (protease, lipase, karbohidrase) sebagai katalisator (Yuwono, 2001). Digesti merupakan proses pemecahan zat makanan yang komplek menjadi zat yang lebih sederhana. Proses digesti memerlukan waktu dalam mencernakan makanannya, dan waktu yang diperlukan untuk mencernakan makanan itu disebut laju digesti. Pakan yang dikonsumsi oleh ikan akan mengalami proses digesti didalam sistem pencernaan sebelum nutrisi pakan tersebut diabsorpsi yang akan dimanfaatkan untuk proses biologis pada tubuh ikan. Proses digesti pada sistem pencernaan ikan tersebut akan melibatkan enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh tubuh. Hasil proses digesti tersebut berupa asam amino, asam lemak, dan monosakarida yang akan diabsorpsi oleh epitel intestin kemudian disebarkan keseluruh tubuh oleh sistem sirkulasi (Kay,1998). Digesti adalah proses pemecahan zat makanan yang komplek menjadi zat yang lebih sederhana. Proses digesti memerlukan waktu dalam mencernakan makanannya, dan waktu yang diperlukan untuk

mencernakan makanan itu disebut laju digesti (Santoso, 1994). Pencernaan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus.

Bermula setelah pengambilan makanan dan berakhir dengan pembuangan sisa makanan. Sistem pencernaan makanan Ikan Lele (Clarias batrachus.) dimulai dari mulut, rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus, rektum, dan anus. Struktur anatomi mulut ikan erat kaitannya dengan cara mendapatkan makanan. Sungut terdapat di sekitar mulut lele yang berperan sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan dan ini terdapat pada ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Rongga mulut pada ikan lele diselaputi sel-

sel penghasil lendir yang mempermudah jalannnya makanan ke segmen berikutnya, juga terdapat organ pengecap yang berfungsi menyeleksi makanan. Faring pada ikan (filter feeder) berfungsi untuk menyaring makanan, karena insang mengarah pada faring maka material bukan makanan akan dibuang melalui celah insang (Fujaya, 2002). Ikan lele (Clarias batrachus) termasuk kedalam golongan omnivora. Pakan alaminya terdiri plankton, udang-udangan kecil, siput, cacing, jentik nyamuk dan sebagainya. Jika dibudidayakan di kolam, makanan tambahannya dapat berupa dedak halus, sisa-sisa dapur, daging berkicot, belatung dan pelet. Oleh karena itu, lele digolongkan sebagai pemakan segala baik makhluk yang masih hidup atupun sudah mati, sehingga ia juga digolongkan sebagai pemakan bangkai (scavenger). Walaupun secara alami ia bersifat noktural, namun dalam usaha budidaya lele sanggup beradaptasi. Tingkah laku lainnya yang menonjol, yaitu apabila menemui suasana baru misalnya perubahan suasana mendadak dari tempat gelap ke terang, lele cenderung meninggalkan tempat dan pada penebaran yang terlalu tinggi, maka dalam keadaan lapar dapat menimbulkan sifat saling memangsa (kanibal) (Santoso, 1993).. Ikan yang dipakai untuk mengetahui laju digesti pada ikan adalah ikan lele (Clarias batrachus). Berdasarkan hasil pengamatan ikan lele (Clarias batrachus) yang diberi makan 2,5% dari bobot tubuhnya setelah dibiarkan 0 menit, rata-rata bobot lambungnya adalah 0,43 g, sedangkan ikan yang dibiarkan selama 20 menit rata-rata bobot lambungnya adalah 0,4 g dan ikan yang dibiarkan selama 80 menit rata-rata bobot lambungnya adalah 0.3 g. Menurut Wood et al. (2007), bobot lambung yang semakin bertambah setelah pemberian pakan pada ikan disebabkan karena meningkatnya sekresi lambung.

Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencerna pakan maka semakin kecil pakan yang terdapat dalam lambung, sehingga bobot lambungnya semakin kecil Proses digesti yang terjadi di dalam lambung, laju digestinya dapat diukur dari laju pengosongan lambung. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju digesti atau laju pengosongan lambung adalah temperatur air, suhu, musim, waktu siang dan malam, intensitas cahaya, ritme internal dan kualitas pakan yang dikonsumsi (Halver, 1989). Temperatur 30 400 C akan terjadi peningkatan metabolisme yang sangat cepat

Grafik Hubungan Bobot Lambung dengan Lama Waktu Pengamatan :

0.5 0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 15' 30'
Waktu

Kelompo k1 Kelompo k2 Kelompo k3 Kelompo k4

Bobot Lambung

60'

Menurut Fujaya (2002), laju digesti pakan pada umumnya berkolerasi dengan laju metabolisme yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya ukuran tubuh hewan dan temperatur. Laju metabolisme diukur dengan menentukan konsumsi O2 yang diperlukan oleh tubuh dan dimanfaatkan oleh sistem-sistem dalam tubuh. Proses metabolisme memerlukan energi yang didapatkan dari luar tubuh. Maka laju digesti dapat terjadi dari adanya konsumsi O2 yang langsung berhubungan dengan adanya laju metabolisme pada ikan. Sulistiono et al., (2001), menyatakan bahwa hasil pengamatan terhadap isi lambung beberapa jenis ikan buntal didapatkan bahwa jenis Tetraodon reticularis jantan memiliki makanan utama berupa Balanus sp. makanan pelengkap berupa bivalve, serasah, dan makanan tambahan berupa ikan, gastropoda dan kepiting, sedangkan untuk ikan betina makanan utama berupa Balanus sp. makan pelengkap berupa serasah, bivalve dan makanan tambahan berupa udang, kepiting, dan gastropoda. T. Fluviatilis jantan memiliki makanan utama berupa Balanus sp. makanan pelengkap berupa gastropoda, udang, bivalve dan ikan. Ikan betina makanan utamanya berupa Balanus sp. makanan pelengkap berupa gastropoda, kepiting, ikan dan bivalve. Laju digesti pakan pada umumnya berkorelasi dengan laju metabolisme, pada kondisi temperatur air yang optimal bagi ikan maka laju metabolisme ikan akan meningkat dan meningkatnya laju metabolisme ini akan diimbangi dengan pasokan pakan yang diperoleh dari lingkungannya. Umumnya ikan yang bersifat poikiloterm, maka pada temperatur yang meningkat nafsu makan ikan mengalami peningkatan, sedangkan apabila terjadi penurunan temperatur air

maka nafsu makan ikan juga menurun. Proses digesti pakan yang diperoleh ikan akan dimulai dari lambung. Ikan yang mempunyai lambung dan dilanjutkan pada intestin yang akan berakhir hingga anus, yang merupakan lubang pembuangan bahan sisa. Proses digesti yang terjadi di dalam lambung , laju digestinya dapat diukur dari laju pengosongan lambung. Laju digesti atau laju pengosongan lambung selain dipengaruhi oleh temperatur air juga dipengaruhi oleh kualitas pakan yang dikonsumsi. Perbedaan komponen penyusun pakan, dan perbedaan kualitas pakan pada akhirnya akan berakibat pada perbedaan laju dan kemampuan digesti pakan (Kimball,1988). Makanan diperlukan untuk menghasilkan energi sebagai bahan pembentuk tubuh, penambah cairan tubuh, metabolisme dasar, pergerakan, produksi organ seksual, perawatan bagianbagian tubuh, penambah cairan tubuh, mengganti sel-sel tubuh yang rusak dan membantu proses lain yang berlangsung di dalam tubuh. Zat-zat gizi dibutuhkan adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air. Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk menghasilkan tenaga maupun untuk pertumbuhan. Protein

merupakan sumber tenaga yang paling utama, mutu protein dipengaruhi oleh sumber asalnya serta oleh kandungan asam aminonya. Protein nabati lebih sukar dicerna dari pada protein hewani. Hal itu disebabkan karena protein nabati terbungkus di dalam dinding selulose yang sukar dicerna (Miller, 1997). Pakan ikan adalah campuran berbagai bahan yang biasa dengan bahan mentah atau bahan baku yang baik bagi pertumbuhan ikan, baik pakan yang bersifat nabati maupun pakan yang bersifat hewani, yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah untuk dimakan dan dicerna oleh tubuh ikan dan sekaligus sebagai nutrisi bagi ikan. Pakan ikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan tubuh ikan. Fungsi pakan terhadap ikan sudah jelas adalah pakan sebagai sumber energi bagi ikan dalam pertumbuhannya dan dalam mempertahankan kelangsungan hidup. Faktor utama yang mempengaruhi kebutuhan energi pada ikan adalah spesies, pertumbuhan, ukuran ikan, aktifitas fisiologi ikan, dan suhu lingkungan (Susanto,1987). Fungsi pakan yang paling utama adalah untuk menjaga kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih. Pakan yang dikonsumsi oleh ikan mula-mula digunakan untuk menjaga kelangsungan dan apabila ada kelebihan energi akan digunakan untuk pertumbuhan. Pakan merupakan salah satu faktor input bersama-sama dengan faktor pengelolaan yang baik dan hal itu akan membuat

ikan yang dipelihara akan terjaga dan memberikan hasil yang baik. Selain itu makan juga merupakan kebutuhan dasar bagi ikan untuk kelangsungan hidupnya dan merupakan kebutuhan biaya terbesar bagi pertumbuhan ikan dalam proses biologis (Mujiman, 1984). Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pakan ikan antara lain temperatur (pada kondisi temperatur yang optimal bagi ikan maka laju metabolismenya meningkat), umur ikan, ukuran tubuh, aktivitas, stress, jenis kelamin, kekeruhan (pada visibilitas dan kandungan oksigen), pH dan Alkalinitas. Biasanya semakin banyak aktivitas ikan, maka akan semakin banyak membutuhkan energi sehingga proses metabolismenya tinggi dan membutuhkan energi sehingga proses metabolismenya tinggi dan membutuhkan makanan yang mutunya jauh lebih baik dan lebih banyak jumlahnya (Mujiman, 1984).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju digesti atau adalah temperatur air, suhu lingkungan, musim, waktu siang dan malam, intensitas cahaya, ritme internal dan kualitas pakan yang dikonsumsi. 2. Ikan lele yang diberi pakan pelet 2,5 % dari bobot tubuhnya dan setelah dibiarkan selama 0 menit diperoleh berat lambung sebesar 0,43 gr, 20 menit kemudian diperoleh berat lambung sebesar 0,4 gr, dan 80 menit berikutnya dihasilkan berat lambung sebesar 0,3 gr. 3. Laju digesti juga dipengaruhi oleh zat kimia yang terdapat dalam perairan yaitu, kandungan O2, CO2, H2S, pH dan alkalinitas. Biasanya semakin

banyak aktivitas ikan, maka akan semakin banyak membutuhkan energi sehingga proses metabolismenya tinggi dan membutuhkan makanan yang mutunya jauh lebih baik dan lebih banyak jumlahnya.

DAFTAR REFERENSI Effendie, M. Ichsan. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor. Fujaya, Y. 2002. Fisiologi Ikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Nasional, Makasar. Halver, J. A. 1989. Fish Nutrition. Academy Press, New York Kay, I. 1998. Inttoduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publiher Limited, Spinger-Verlag New York. USA. Kimball, J. W. 1988. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Miller. 1997. Ictyologi. John Wiley and Sons, New York. Mujiman, A. 1984. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. Santoso, B. 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Lele Dumbo dan Lokal. Kanisus. Yogyakarta. Sulistiono, D. Lubis, R. Affandi dan S. Watanabe. 2001. Pengamatan Isi Lambung Beberapa Jenis Ikan Buntal (Tetraodon reticularis, T. Fluviatilis) di Perairan Ujung Pangkah, Jawa Timur. Jurnal Iktiologi Indonesia, Vol. 1. No. 1: 27-33. Susanto, H. 1987. Budidaya Ikan di Pekarangan. Swadaya, Jakarta. Wood, C. M, M. Kajimura, C. Bucking, dan P. J. Walsh. 2007. Osmoregulation, ionoregulation and acidbase regulation by the gastrointestinal tract after feeding in the elasmobranch (Squalus acanthias). The Journal of Experimental Biology. 210 : 1335 1349. Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.