Makalah Askep Keluarga Nazla
Makalah Askep Keluarga Nazla
D
i
S
U
S
U
N
Oleh
Nazla Anzalina
Difani
2201080
A. Latar Belakang
Duvall dan Logan (1986) menunjukkan dalam Setyowati dan Murwani
(2018) bahwa keluarga adalah sekumpulan orang yang memiliki hubungan
perkawinan, kelahiran, dan adopsi, bertujuan untuk menciptakan,
memelihara budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, psikologis,
emosional dan sosialnya dalam setiap anggota keluarga.
Menurut Friedman (2003), dalam Nadirawati (2018) keluarga adalah
dua orang atau lebih yang dipersatukan melalui kesatuan emosional dan
keintiman serta memandang dirinya sebagai bagian dari keluarga.
Whall (1986) mengemukakan dalam Nadirawati (2018) bahwa keluarga
yaitu sekelompok dua orang atau lebih yang disatukan oleh persatuan dan
ikatan emosional tidak hanya berdasarkan keturunan atau hukum, tetapi
mungkin atau mungkin tidak Dengan cara ini, mereka menganggap diri
mereka sebagai keluarga dan mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian
dari keluarga.
Adapun rencana pertemuan I tanggal 28-12-2024 akan bertemu dengan
keluarga untuk mendapatkan data umum keluarga antara lain: nama kepala
keluarga, alamat, komposisi anggota keluarga, tipe keluarga, suku, agama,
status kelas sosial; riwayat tumbuh kembang keluarga diantaranya: tahap
perkembangan keluarga saat ini, tingkat pencapaian tugas perkembangan
keluarga, riwayat keluarga inti, riwayat keluarga sebelumnya; struktur
keluarga antara lain: tingkat komunikasi, struktur kekuatan keluarga, nilai dan
norma keluarga; fungsi keluarga antara lain: fungsi afektif, fungsi sosialisasi,
fungsi perawatan kesehatan; keadaan lingkungan meliputi: karakteristik
rumah,karakteristiktetanggadanmasyarakat
B. Rencana Keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan
Belum dapat ditetapkan karena pengkajian belum dilakukan
2. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kondisi keluarga dengan
lengkap melalui kepala keluarga dan anggota keluarga yang lain
3. Tujuan Khusus
Setelah 45 menit interaksi, diharapkan:
a. Dapat membina hubungan saling percaya antara perawat dan keluarga
b. Mendapatkan data keluarga secara umum
c. Mendapatkan data tentang tugas pencapaian keperawatan keluarga
d. Mendapatkan data pengkajian fisik secara umum
4. Kriteria Evaluasi
a. Kriteria struktur
Tersedia media: format pengkajian untuk
panduan selama pengkajian
Tersediannya tempat pertemuan
Adanya kontrak waktu selama 45
menit b. Kriteria Proses
Keluarga mengikuti kegiatan dari awal hingga selesai
Seluruh anggota keluarga dapat hadir
Keluarga berpatisipasi aktif dalam menyampaikan informasi
Keluarga ikut memfasilitasi pada saat perawat
mengobservasi disekitar rumah
Keluarga dapat membina hubungan saling percaya
dengan perawat c. Kriteria hasil
Terbinanya hubungan saling percaya antara perawat
dengan seluruh anggota keluarga
Didapat data pengkajian keluarga sesuai dengan yang diharapkan
Didapatkan data pengkajian fisik
C. RENCANA KEGIATAAN
1. Topik : Pengkajian keperawatan keluarga
2. Metode : Wawancara, Observasi dan pemeriksaan fisik
3. Media : Format pengkajian keluarga,
4. Hari/tanggal : Sabtu, 28-12-2024
5. Waktu : 45 menit
D. STRATEGI PELAKSANAAN
Alokasi
No. Kegiatan
Waktu
1. 12.00 – 12.10 Fase orientasi
Mengucapkan salam
Membuat kontrak waktu
Menjelaskan maksud dan bagian interaksi
2. 12.10 – 12.40 Fase interaksi: melakukan wawancara & observasi
meliputi:
Data umum
Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
Struktur dan fungsi keluarga
Stres dan koping keluarga
Lingkungan
Pemeriksaan fisik
3. 12.40 – 12.45 Fase terminasi
Membuat kesimpulan hasil pertemuan
Membuat kontrak waktu pertemuan
selanjutnya
Mengucapkan salam
LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN
KELUARGA
PERTEMUAN II : Minggu 28 desember 2024
I. Pengkajian
Pada pertemuan pertama, perawat telah menjalin komunikasi yang baik
dengan keluarga bapak S. Keluarga bapak S menanggapi secara baik sehingga
terbina hubungan saling percaya antara perawat dengan keluarga bapak S.
Ibu L istri dari bapak S terlihat terbuka dan mau menceritakan masalahnya
sesuai yang ditanyakan oleh perawat terutama tentang kesehatan ibu L yang
mengalami Hipertensi. Pada pertemuan tersebut, perawat mendapatkan
informasi tentang data umum yaitu identitas bapak S dan ibu L , riwayat
tumbuh kembang keluarga di mana bapak S adalah keluarga yang tinggal
bersama ibu S dan mempunyai 4 orang anak 2 cewek 2 cowok , Bapak bekerja
sebagai polisi dan ibu L bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Saat ini
keluarga menempati rumah milik sendiri, Keadaan lingkungan disekitar
tempat bapak L tinggal terlihat bersih dan tenang.
Dari hasil wawancara dan pemeriksaan fisik dengan keluarga pada bapak
S tersebut didapatkan data TD 120/80 mmHg, Nadi 88 x/m, RR 20 x/m dan
Suhu 36,7°C.dan Ibu L didapatkan data TD 140/90 mmHg, Nadi 88 x/m, RR
20 x/m dan Suhu 36,6°C KGD 250 mg/dl. ibu juga mengatakan tidak
pernah mau memeriksa akan penyakit yang dialaminya.
Selanjutnya pada pertemuan ke- II ini, perawat dan keluarga akan sama-
sama berdiskusi tentang penyakit yang dialami ibu S baik yang dirasakan
maupun yang tidak diketahui oleh keluarga khususnya pada ibu S tersebut
serta pengkajian terutama pemerikaan fisik pada bapak S dan ibu L.
II. Rencana Keperawatan
Diagnosa keperawatan :
1. Nyeri kronis berhubungan dengan tekanan emosional.
2. .Defisit pengetahuan berhubungan dengan keluaraga kurang
terpapar informasi
Tujuan umum:
- Keluarga dapat mengenal masalah pada keluarga bapak S khususnya Ibu
L dengan Hipertensi
- Keluarga mampu mengidentifikasi anggota keluarga dengan
Hipertensi.
Tujuan khusus
Selama 1 x 45 menit kunjungan, keluarga dapat :
- Menjelaskan pengertian Hipertensi
- Menjelaskan gejala- gejala Hipertensi
- Menjelaskan penyebab Hipertensi
- Menjelaskan macam – macam Hipertensi
- Menjelaskan komplikasi Hipertensi
- Menjelaskan pencegahan Hipertensi
- Dapat melakukan perawatan Hipertensi
Kriteria Evaluasi
Kriteria Struktur
- Tersedianya tempat pertemuan
- Adanya kontrak waktu selama 45
menit Kriteria proses
- Keluarga mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir selama 45 menit
- Keluarga berpartisipasi aktif dalam menyampaikan informasi
- Keluarga yang menghadiri proses interaksi adalah ibu
A Kriteria Hasil
- Keluarga dapat menyebutkan pengertian Hipertensi
- Keluarga dapat menjelaskan 3 gejala diabetes dari 5 gejala Hipertensi.
- Keluarga dapat menjelaskan 3 dari 5 penyebab Hipertensi
- Keluraga dapat menjelaskan 3 dari 5 akibat Hipertensi.
- Keluraga dapat menjelaskan 3 dari 5 komplikasi Hipertensi
- Keluraga dapat menjelaskan 3 dari 5 pencegahan Hipertensi
- Keluraga dapat menjelaskan macam – macam Hipertensi
- Keluraga dapat menjelaskan perawatan Hipertensi.
Fase kerja
Menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan
gejala hipertensi
Memberikan kesempatan keluarga untuk
2. 13.05 – 13.30 bertanya
Menanyakan kembali materi yang diberikan
Memberi reinforment kepada keluarga
Fase terminasi
Membuat kesimpulan hasil pertemuan
3. 13.30 – 14.00
Membuat kontrak waktu pertemuan
selanjutnya
Mengucapkan salam
BAB 2
KONSEP TEORI HIPERTENSI
A. Definisi HIPERTENSI
B. Klasifikasi HIPERTENSI
Hipertensi Esensial (Primer) 90% penderita hipertensi mengalami hipertensi
esensial (primer). Penyebabnya secara pasti belum diketahui. Beberapa faktor
yang mempengaruhi terjadinya hipertensi esensial yaitu, faktor genetik, stres, dan
psikologis, faktor lingkungan, dan diet (peningkatan penggunaan garam dan
berkurangnya asupan kalium atau kalsium). 2) Hipertensi Sekunder Hipertensi
sekunder lebih mudah dikendalikan dengan penggunaan obat-obatan. Penyebab
hipertensi sekunder diantaranya adalah berupa kelainan ginjal, seperti obesitas,
retensi insulin, hipertiroidisme, dan pemakaian obat-obatan seperti, kontrasepsi
oral dan kortikosteroid. (Majid, 2017) 8 b. Klasifikasi Berdasarkan Derajat
Hipertensi Klasifikasi derajat hipertensi berdasarkan JNC-8
a. Hipertensi Primer:
Pada umumnya, penderita hipertensi primer tidak memiliki keluhan. Namun, beberapa
keluhan yang mungkin muncul antara lain:
1. Nyeri kepala
2. Gelisah
3. Palpitasi
4. Pusing
5. Leher kaku
6. Penglihatan kabur
7. Nyeri dada
8. Mudah lelah
9. Lemas dan impotensi
b. Hipertensi sekunder
Komplikasi kardiovaskuler, dan gaya hidup pasien. Perbedaan hipertensi esensial dan
sekunder evaluasi jenis hipertensi dibutuhkan untuk mengetahui penyebab. Peningkatan
tekanan darah yang berasosiasi dengan peningkatan berat badan. Faktor gaya hidup
(perubahan pekerjaan menyebabkan penderita bepergian makan diluar rumah), penurunan
frekuensi atau intensitas aktivitas fisik, atau usia tua pada pasien dengan Riwayat keluarga
dengan hipertensi kemungkinan besar mengarah ke hipertensi esensial. Labilitas tekanan
darah, mendengkur, prostatisme, kram otot, kelemahan, penurunan berat badan,
palpitasi intoleransi, panas, edema, gangguan berkemih, Riwayat perbaikan koarktasio
obesitas sentral, wajah membulat, mudah memar penggunaan obat-obatan terlarang atau zat
terlarang, dan tidak adanya Riwayat hipertensi pada keluarga mengarah pada hipertensi
sekunder (Adrian, 2019).
1. Keturunan
Jika seseorang memiliki orang tua atau saudara yang mengidap hipertensi
maka besar kemungkinan orang tersebut menderita hipertensi.
2. Usia
Sebuah penelitian menunjukan bahwa semakin bertambah usia seseorang
maka tekanan darah pun akan meningkat.
3. Garam
Garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang.
4. Kolestrol
Kandungan lemak yang berlebih dalam darah dapat menyebabkan timbunan
kolestrol pada dinding pembuluh darah, sehingga menyebabkan bulu darah
mnyempit dan tekanan darah pun akan meningkat
5. Obesitas/Kegemukan
Orang yang memiliki 30% dari berat badan ideal memiliki resiko lebih tinggi
mengidap hipertensi.
6 Stress
Stress merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi dimana
hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten
(tidak menentu).
7. Rokok
Merokok dapat memicu terjadinya tekanan darah tinggi, jika merokok
dalam keadaan hipertensi maka akan dapat memicu penyakit yang berkaitan
dengan jantung dan darah.
8. Kafein
Kafein yang terdapat pada kopi, teh, ataupun minuman bersoda dapat
meningkatkan tekanan darah.
9. Alkohol
Mengkonsumsi alkohol berlebih dapat meningkatkan tekanan darah.
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi adalah diantaranya:
penyakit pembuluh darah seperti stroke, pendarahan otak, penyakit jantung seperti gagal
jantung, infark miocard akut (IMA). Penyakit ginjal seperti gagal ginjal, penyakit mata
seperti pendarahan retina, penebalan retina, oedema pupil (Ardiyansyah, M. 2012).
F. Diagnosis
Menurut Doengoes, dkk. (2012), diagnosa keperawatan pada pasien
hipertensi, yaitu :
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan
dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokardia,
hipertropi ventrikular
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
3. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral
4. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan berlebih sehubungan dengan kebutuhan metabolik, pola
hidup monoton
5. Koping individual inefektif berhubungan dengan sistem pendukung
tidak adekuat, nutrisi buruk, harapan yang tidak terpenuhi, metode koping
tidak efektif
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang
pengetahuan/daya ingat, keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa
G. Penatalaksanaan HIPERTENSI
Menurut Doengoes, dkk. (2012) rencana keperawatan pada pasien hipertensi yaitu :
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokardia, hipertropi ventricular 13
Hasil yang diharapkan:
a. Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah
b. Mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima
c. Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil.
H. Pengelolaan HIPERTENSI
Pengelolaan hipertensi dapat dilakukaan secara umum dan khusus.
Pengelolaan secara umum melalui evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan
pertama meliputi :
Aspiani pada 2016 menuturkan bahwa penanganan hipertensi terdapat dua macam,
yaitu penatalaksanaan secara farmakologis dan non farmakologis, sebagai berikut:
a. Penatalaksanaan farmakologis yang diterapkan untuk penderita hipertensi
adalah sebagai berikut
1) Terapi oksigen Terapi oksigen digunakan untuk membantu dalam mengatasi
hipoksia jaringan. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan pasokan oksigen dan
mengurangi kerja napas yang berlebih. Pada dasarnya, terapi oksigen digunakan untuk
membantu keseimbangan antara pasokan oksigen dan kebutuhan oksigen, karena kalau
terjadi ketidakseimbangan akan membuat terjadinya disfungsi organ. Ada beberapa
kelebihan dari terapi oksigen, yaitu pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis
(PPOK), dengan pemberian konsentrasi oksigen (O2) dapat mengurangi sesak napas pada
saat menjalani aktivitas, serta dapat meningkatkan kemampuan beraktivitas dan dapat
memperbaiki kualitas hidup (Nisa Amalia, 2022).
2) Pemantauan hemodinamik Pemantauan hemodinamik terbagi menjadi dua yaitu
pemantauan invasif yang meliputi: tekanan darah arteri, tekanan vena sentral, tekanan
arteri pulmonal. Dan satunya adalah Pemantauan hemodinamik non-invasif yang meliputi
penilaian vital sign antara lain tekanan darah, nadi, heart rate, pernapasan, indikator perfusi
perifer, produksi urin, saturasi oksigen, dan GCS (Nuraeni A., 2022).
3) Pemantauan jantung Pemantauan jantung terdiri dari dua jenis, yaitu pemeriksaan
noninvasif dan pemeriksaan invasif. Pemeriksaan non-invasif meliputi EKG,
ekokardiografi, uji tekanan (stress test), Holter monitoring, Tilttable test, dan pemeriksaan
radiologi (Rontgen dada, CT-Scan jantung, MRI jantung). Pemeriksaan invasif meliputi
angiografi (kateterisasi jantung) dan elektrofisiologi jantung (Herick A., 2021).
4) Obat-obatan dengan jenis:
a) Diuretik, bekerja dengan berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung
dengan mendorong ginjal meningkatkan ekskresi garam dan airnya, juga dapat
menurunkan total peripheral resistance (TPR). Contoh: furosemide, torsemide, dan
bumetanide.
b) Penyekat saluran kalsium untuk menurunkan kontraksi otot polos jantung atau
enzim dengan mengintervensi influx kalsium yang dibutuhkan untuk berkontraksi. Contoh:
amlodipine, diltiazem, felodipine, isradipine, nicardipine, nimodipine, nisoldipine, dan
verapamil.
c) Penghambat enzim untuk mengubah angiotensin II atau Angiotensin-converting
Enzyme Inhibitor (ACE) Inhibitor 14 berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan
menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II.
Contoh: benazepril, captopril, enalapril, fosinopril, lisinopril, perindopril, ramipril,
trandolapril, quinapril, dan moexipril.
d) Antagonis (penyekat) respektor beta (β-blocker), terutama penyekat selektif,
dengan bekerja pada reseptor beta dijantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan
curah jantung. Contoh: candesartan, eprosartan, irbesartan, losartan, olmesartan, telmisartan,
valsartan, dan azilsartan medoxomil.
e) Vasodilator arteriol digunakan untuk menurunkan total peripheral resistance
(TPR). Contoh: Atenolol, Acebutolol, Betaxolol, Bisoprolol, Metoprolol, Nadolol,
Propranolol, Sotalol, Timolol, Carvedilol, Labetalol, Nebivolol.
f) Antagonis reseptor alfa (α-blocker) untuk menghambat reseptor alfa. Contoh:
alfuzosin, doxazosin, indoramin, prazosin, dan tamsulosin.
g) Pemilihan obat anti hipertensi yang lebih spesifik sangatlah dianjurkan karena
bertujuan untuk meminimalkan dan mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap organ
target. Obat-obatan anti hipertensi parenteral yang dapat digunakan untuk hipertensi
emergency adalah nicardipine, clonidine, nitroglycerin, diltiazem, enalaprilat, esmolol,
labetalol, fenoldopram, na nitroprusside, hydralazine dan clevidipine. (Kemenkes RI,
2019).
b. Penanganan secara non-farmakologi sebagai berikut : (Aspiani, 2016) 1) Untuk
menurunkan tekanan darah
a) Menurunkan berat badan kalau terjadi gizi berlebih (obesitas).
b) Meningkatkan kegiatan atau aktifitas fisik seperti olahraga dan senam rutin.
Contoh: Senam hipertensi adalah salah satu terapi nonfarmakologis yang termasuk dalam
kategori olahraga sederhana yang bertujuan untuk meningkatkan aliran darah dan pasokan
oksigen ke dalam otot-otot dan rangka yang aktif sehingga dapat menurunkan tekanan
darah (Ni Putu Sumartini, 2019).
Tujuan dari senam hipertensi yaitu untuk melebarkan pembuluh darah, berkurangnya
hormon yang memacu peningkatan tekanan darah, dan menurunkan lemak kolesterol yang
tinggi. Senam hipertensi juga memiliki beberapa manfaat yaitu dapat meningkatkan daya
tahan jantung dan paru-paru serta membakar lemak yang berlebih yang ada di dalam tubuh
karena aktifitas gerakannya untuk menguatkan dan membentuk. Selain itu, senam
hipertensi juga mampu meningkatkan kelenturan tubuh, menjaga keseimbangan
koordinasi, meningkatkan kelincahan, serta dapat menambah daya tahan tubuh sehingga
mampu melakukan kegiatan-kegiatan atau olahraga lainnya (Santy Sianipar, 2019).
a) Mengurangi asupan natrium dengan cara diet rendah garam yaitu sekitar dari 100
mmol/hari (kira-kira 6 gr NaCl atau 2,4 gr garam/hari.
b) Mengurangi konsumsi kafein dan alkohol karena konsumsi alkohol berlebihan dapat
meningkatkan tekanan darah.
c) Mengonsumsi makanan olahan dan berlemak tinggi secukupnya saja. Contoh: Junk food,
keju, susu olahan, daging merah dan sebagainya.
d) Berhenti merokok atau terpapar dari asapnya langsung.
e) Hindari stress yang berlebihan. Penurunan stress dapat dilakukan dengan menciptakan
suasana yang menyenangkan bagi penderita hipertensi.
f) Mengatur pola tidur dan istirahat yang baik dan benar
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
PENGKAJIAN
A .Data- data identifikasi
1. Nama Kepala keluarga (KK) : Bapak S
2. Alamat : Desa Paya Bujok Tunong
3. Komposisi Keluarga : Keluarga Bapak S keseluruhannya
berjumlah 6 orang yaitu bapak S ,Ibu L
dan anaknya 4 orang,
Jenis
N Hub. kelami Pekerjaaa
Nama Umur Keadaan fisik
o dengan KK n n
Polisi
1 Bapak S KK ♂ 44 thn Sehat
Sehat
6 An N Anak ♂ 5 thn PAUD
Genogram Keluarga
Keterangan:
= Laki-laki
Ibu y
45 thn
Pr meninngal
hipertensi
= Anggota keluarga yg sakit
= Perempuan
= Tinggal serumah
1
4 Tipe bentuk keluarga :
Tipe keluarga bapak S adalah keluarga inti , dimana ada bapak,istri dan 4 orang
anak yaitu 2 perempuan dan 2 laki- laki.
5. Suku
Bapak S , ibu L dan keempat anaknya bersuku Aceh, bahasa sehari-hari
adalah
Bahasa Indonesia.
6 .Agama
Semua anggota keluarga beragam Islam dan menjalankan kewajiban shalat lima
waktu.
7 Status sosial ekonomi keluarga
Bapak S sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah sebagai Polisi,ibu L
seorang PNS ,dan 4 orang anaknya masih belum menikah. Penghasilan
keluarga berkisaran 6 juta / bulanya. Ibu L mengatakan hasil dari gaji cukup
untuk menghidupi keluarganya sehari-hari.
8 Rekreasi keluarga
Keluarga Ibu L hampir setiap hari bekerja,hanya libur seminggu sekali dan di
waktu luang dan setiap setahun sekali jalan ke pantai dan taman
2
Ibu Y anak kedua dari 6 bersaudara . ibu Y mempunyai 1 abang,3 adik laki
laki dan 1 adik perempuan
C. Pengkajian Lingkungan
13. Karakteristik Rumah
Rumah yang ditempati oleh Ibu Y adalah rumah suaminya, rumah terdiri atas
satu lantai, lantai dalam keadaan bersih. Penataan peralatan rumah tangga tertata
rapi. Ventilasi dan pencahayaan rumah baik keluarga memiliki kamar mandi
sendiri dan WC sendiri, keadaan bersih, sumber air berasal dari air PDAM, air
tidak berasa dan tidak berbau dalam keadaan bersih.
Denah:
K.Mandi Dapur
K. Tidur R .tamu
K.Tidur
kios teras
3
D. Struktur Keluarga
17. Pola komunikasi keluarga
Tingkat komunikasi fungsional dan disfungsional
Komnikasi dikeluarga bapak S dan ibu L sangatlah baik adanya saling
keterbukaan antara suami ,istri dan juga anak- anak ,sehingga ketika ada
masalah yang terjadi didalam keluarga,maka keluarga mampu menyelesaikan
dengan baik karena adanya komunikasi terbuka dan kejujuran dari keluarga .
Variabel kontekstual dan familia yang mempengaruhi
komunikasi Hubungan bapak S dan ibu L serta anak-anakny
harmonis.
5
Ibu L kadang-kadang lemas, sakit kepala Hal ini dan mudah lelah sangat
mengganggu aktivitas sehari-hari ibu L dan membuat ia cemas akan keadaanya.
Persepsi keluarga terhadap situasi yang sedang dialami
Keluarga ibu L adalah keluarga yang meyakini agama sehingga semua yang dialami
keluarga adalah pemberian Allah SWT
Strategi koping keluarga
Bagaimana reaksi keluarga terhadap stressor
Keluarga berusaha untuk merubah/mengurangi stressor dengan bertawaqal kepada
Allah dan berusaha berobat ke tempat pelayanan kesehatan.
Strategi koping internal
Berserah diri kepada Allah SWT dan berusaha semampunya
Strategi koping eksternal
Ibu L mengandalkan anaknya sebagai koping dalam keluarga.
Strategi koping disfungsional
Tidak ada strategi adaptasi disfungsional yagn dijumpai dalam keluarga ibu L
Adaptasi keluarga
Ibu L mengatakan setelah mendapat suatu masalah dia hanya pasrah dan
berserah diri kepada Allah serta berusaha sabar dalam menjalankannya. Dia
mengatakan hal itu membuatnya lebih dapat menerima masalah yang ada.
G. Harapan Keluarga
Ibu L mengatakan sangat senang dengan kehadiran perawat dan berharap bisa
membantu keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarganya.
6
H.PEMERIKSAAN FISIK
Pemerik Bapak S Ibu L An N An.A An.A An. N
- Rambut : - Rambut : - Rambut : - Rambut : - Rambut : - Rambut :
Ubanan hitam, lurus hitam, lurus hitam, lurus Hitam Hitam
lurus, Bersih Bersih Bersih , lurus , lurus
Bersih - Tidak ada Bersi Bersi
- Tidak ada nodul Tidak h h
Kepala - Tidak ada
nodul - Tidak - Tidak ada
ada nodul nodul
ada
nodul nodul
- Sakit
kepal
- Penglihata - Penglihatan - Penglihatan - Penglihatan - Penglihatan - Penglihatan
n (+) (- (+) (- (+) (+)
- Konjungtiv ) - Konjungtiv ) - -
a pucat (-) - a pucat (-) - Konjungti Konjungti
- Sklera Konjungti - Sklera Konjungti v a pucat v a pucat
Mata ikterik (-) v a pucat ikterik (-) v a pucat (-) (-)
- Simetris (-) - Simetris (+) (-) - Sklera - Sklera
(+) - Sklera - Sklera ikterik (-) ikterik (-)
ikterik (-) ikterik (-) - Simetris (+) - Simetris (+)
Simetris Simetris
- Polip (-) - Polip (-) - Polip (-) - Polip (-) - Polip (-) - Polip (-)
- Perdarahan - Perdarahan - Perdarahan - Perdarahan - Perdarahan - Perdarahan
(-) (-) (-) (-) (-) (-)
- Simetris(+) - Simetris (+) - Simetris (+) - Simetris (+) - Simetris (+) - Simetris (+)
- Sekret (-) - Sekret (- - Sekret (-) - Sekret (- - Sekret (-) - Sekret (-)
Hidun - Gigi tidak - Gigi tidak - Gigi - Gigi tidak
g dan ) Gigi ) Gigi lengkap
mulut lengkap lengkap tidak
lengkap
tidak tidak
lengkap lengkap
- Tidak ada - Tidak ada - Tidak ada - Tidak ada - Tidak ada - Tidak ada
pembengk pembengk pembengka pembengka pembengk pembengk
Leher akan a kan kan kelenjar kan a kan a kan
kelenjar kelenjar tyroid kelenjar kelenjar kelenjar
tyroid
7
tyroid tyroid tyroid
- Ronchi (-) - Ronchi (-) - Ronchi (-) - Ronchi (-) - Ronchi (-)
- Wheesing - Wheesing (- - Wheesing (- - Wheesing (- - Wheesing (-
(-) ) ) ) )
Dada/thorax - Simetris - Simetris (+) - Simetris (+) - Simetris (+) - Simetris (+)
(+)
DIAGNOSA
NO DATA Etiologi KEPERAWATAN
1. DS : Tekanan emosional Nyeri Kronis
- Klien mengeluh nyeri yang berkaitan
kepala dengan kerusakan
- Nyeri seperti di tusuk – jaringan aktual atau
tusuk fungsional.
- Nyeri dirasakan
kadangkadang dan durasi
tidak menentu.
- Klien mengatakan sedih
karena sakit yang
dideritanya
. - Klien mengatatakan
sering makan makanan asin
serta gorengan
DO :
- Skala nyeri 5 (0-10)
- Klien tampak meringis
- Klien tampak gelisah
- TTV :
TD : 140/90 mmHg
N : 88 x/ menit
R : 20 x / menit
S : 36,6 o C
2 DS : Keluarga kurang Defisit
- Klien tidak mengetahui terpapar informasi pengetahuan
penyebab masalah kesehatan
yang dialami
- Klien mengatakan tidak
tahu bagaimana diet
hipertensi
DO :
- Klien menunjukan
perilaku tidak sesuai anjuran
- Kesadaran compos mentis
SKORING DAN PRIORITAS MASALAH
10
Potensial Masalah
3/3x1 masih dapat
masalah dicegah
1 1
agar tidak
untuk
berlanjut
dicegah dengan cara
melakukan
tinggi perawatan
kesehatan
sesuai
anjuran
perawat,
dan jika
klien
melaksanak
an diet
hipertensi
sesuai yang
dianjurkan
Menonjolnyamasalah Masalah
Masalah berat harus 2/2x1= harus segera
segera diatasi 1 diatasi
1
karena akan
mempengaru
hi aktivitas
sehari-hari
klien.
Jumlah: 5
Menonjolnyamasalah Keluarga
dank klien
Ada masalahtetapitidak menyadari
peril ditangani
1 2/2 x 1
masalah dan
ingin segera
menangani
agar
kesehatan
dengan
cepat di
capai.
Jumlah: 5
12
INTERVENSI KEPERAWATAN PADA KELUARGA
2.2. Keluarga
mampumen Cara mengatasi 2.2.1. Diskusikan
yebutkan masalah bersama apa
caramengat kesehatan pada yangtelah
asi masalah ansietas yaitu: dilakukan keluarga
ansietas. terapi relaksasi dalammengatasi
banson ansietas
2.2.2. Beri penjelasan
yang singkat
dengan
bagaimana
caramengatasi
ansietas
2.2.3. Beri waktu
keluarga untuk
bertanya dan
menjawab
denganbahasa
yang mudah
dimengerti
2.2.4. Bimbing keluarga
untukmengulangi
penjelasanbagaim
ana cara
mengatasi
ansietas.
2.2.5. Berikan
reinforcement
positifterhadap
apa yang
telahdisampaikan.