0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan58 halaman

Askep Keluarga

Laporan ini membahas asuhan keperawatan keluarga dengan salah satu anggotanya menderita hipertensi. Laporan ini berisi pendahuluan, tinjauan pustaka, tinjauan kasus, dan penutup yang mendokumentasikan proses keperawatan yang dilakukan."

Diunggah oleh

rika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan58 halaman

Askep Keluarga

Laporan ini membahas asuhan keperawatan keluarga dengan salah satu anggotanya menderita hipertensi. Laporan ini berisi pendahuluan, tinjauan pustaka, tinjauan kasus, dan penutup yang mendokumentasikan proses keperawatan yang dilakukan."

Diunggah oleh

rika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.

E DENGAN SALAH SATU


ANGGOTA KELUARGA MENDERITA HIPERTENSI DI RW 2 / RW 1
NGADILUWIH
KOTA KEDIRI

Disusun Oleh:
RIKA PUTRI PERMATA
NIM: 01.2.17. 00622

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RS. BAPTIS KEDIRI


PRODI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Halaman Judul.....................................................................................................................
Halaman pengesahan...........................................................................................................
Kata Pengantar.....................................................................................................................
Daftar Isi..............................................................................................................................
Daftar Gambar.....................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................
1.2 Batasan Masalah....................................................................................................
1.3 Tujuan Penyusunan Laporan.................................................................................
1.4 Metode dan Sistematika Penulisan........................................................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Keluarga...................................................................................................
2.2 Konsep Teori Kasus (sesuai kasus yang diperoleh)..............................................
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan................................................................................
BAB 3 TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian (dilengkapi dengan batasan mayor minor).........................................
3.2 Diagnosa Keperawatan..........................................................................................
3.3 Rencana Tindakan Keperawatan...........................................................................
3.4 Tindakan Keperawatan (meliputi upaya promotif, kuratif, rehabilitatif dan
pelaksanaan rujukan..............................................................................................
3.5 Evaluasi keperawatan............................................................................................
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan (berisi narasi singkat berdasarkan proses keperawatan yang telah
dilakukan.................................................................................................................
4.2 Saran ......................................................................................................................

Daftar Pustaka......................................................................................................................
Lampiran-lampiran..............................................................................................................
Berisi :
1) SAP
2) Lembar HE
3) Leaflet//poster/ Lembar Balik
4) Dokumentasi (berisi foto dokumentasi hasil pengkajian dan pelaksanaan tindakan
keperawatan)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah arteri secara
terus menerus lebih dari satu periode. Hipertensi merupakan factor resiko, primer
yang menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Hipertensi juga disbut the silent
disease karena tidak ditemukan tanda — tanda fisik yang dapat dilihat. Hipertensi
yang tidak terkontrol akan menyebabkan kerusakan organ tubuh seperti otak,
ginjal, mata dan jantung serta kelumpuhan anggota gerak, namun kerusakan yang
paling sering adalah gagal ginjal.
World Health Organization (WHO) dan Center Disease Control and
Prevention (CDC) memperkirakan jumlah penderita hipertensi di dunia terus
meningkat. Data pasien hipertensi di dunia sekitar satu milyar orang dan
meningkat setiap tahunnya. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2010,
prevalensi hipertensi di
Indonesia tahun 2004 sekitar 14% dengan kisaran 13,4 - 14,6%, sedangkan
pada tahun 2008 meningkat menjadi 16-18%. Secara nasional Provinsi Jawa
Tengah menempati peringkat ke-tiga setelah Jawa Timur dan Bangka Belitung.
Data Riskesdas (2010) juga menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian
nomor tiga setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari
proporsi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia (Depkes, 2010).
Tingkat prevalensi hipertensi diketahui meningkat seiring dengan peningkatan
usia dan prevalensi tersebut cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan
tingkat pendidikan rendah atau masyarakat yang tidak bekerja (Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan, 2013). Saat ini terdapat adanya kecenderungan
bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan
masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup
masyarakat kota yang berhubungan dengan resiko penyakit hipertensi seperti
stress, obesitas (kegemukan), kurangnya olahraga, merokok, alkohol, dan makan
makanan yang tinggi kadar lemaknya.
Untuk menghindari hal tersebut perlu pengamatan secara dini. Hipertensi
sering ditemukan pada usia lanjut atau kira — kira 65 tahun keatas. Apabila
dalam satu keluarga ada anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi,
maka dapat timbul beberapa masalah. Dalam pelaksanan tugas — tugas kesehatan
keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemeliharaan kesehatan
bagi anggota keluarga yang mnderita penyakit hipertensi.

1.2 Batasan Penulisan

Dalam penulisan laporan, penulis membatasi ruang lingkup dalam asuhan


keperawatan pada keluarga dengan anggota keluarga yang mengalami Hipertensi.
Penulis melakukan asuhan keperawatan keluarga pada masalah yaitu: “Hipertensi”
selama 2x24 jam.

1.3 Tujuan Penyusunan Laporan


1. Tujuan Umum
Penulis mampu mengembangkan pola fiker ilmiah dalam melakukan Asuhan
Keperawatan Keluarga dengan Hipertensi melalui proses keperawatan
keluarga.
1. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu menjelaskan pengertian Hipertensi pada anggota keluarga
b. Penulis mampu menjelaskan faktor resiko timbulnya Hipertensi
Menyebutkan tanda dan gejala Hipertensi
c. Penulis mampu menjelaskan pola makan yang harus diterapkan penderita
Hipertensi
d. Penulis mampu menjelaskan penatalaksanaan perawatan Hipertensi pada
keluarga
e. Penulis mampu menjelaskan cara mengatur lingkungan untuk penderita
Hipertensi

1.4 Manfaat Penulisan


1. Bagi Pelayanan Kesehatan Puskesmas
a. Dapat digunakan sebagai contoh dalam meningkatkan program keperawatan
keluarga dengan Hipertensi.
b. Karya ilmiah ini diharapkan sebagai contoh untuk dijadikan pemikiran untuk
pihak puskesmas dalam mengatasi nyeri akut pada kasus hipertensi.
2. Bagi Masyarakat
a. Dapat memberikan informasi tentang perawatan atau tindakan pada pasien
dengan masalah hipertensi.
b. Dapat mencegah terjadinya kekambuhan yang mengakibatkan komplikasi.
3. Bagi pengembang Ilmu Keperawatan..
Untuk memberikan refrensi tentang penanganan pada pasien reumatik.
1.5 Metode dan Sistematika Penulisan
1.5.1 Metode Penulisan
Dalam penyusunan penulisanlaporan ini penulis menggunakan metode
deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian,
prioritas masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dan tehnik penulisan
yang digunakan antara lain :
1. Wawancara
Wawancara merupakan pembicaraan terarah yang dilakukan bertatap
muka. Wawancara untuk memperoleh data dapat dilakukan secara formal
yaitu pada saat melakukan pengambilan riwayat kesehatan
keluarga.Wawancara informal yaitu pada saat melakukan implementasi
keperawatan yang memungkinkan keluarga memberikan informasi tentang
permasalahan kesehatan yang mungkin ada.
2. Observasi
Pengamatan yang dilakukan terhadap keluarga baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk memperoleh data, dimana penulis ikut serta
memberikan asuhan keperawatan keluarga melalui pengkajian, diagnosa,
perencanaan, implementasi dan evaluasi.
3. Metode
Menggunakan metode deskriptif yaitu tipe studi kasus dimana
penulis mengambil salah satu keluarga yang terdapat di wilayah kerja
puskesmas kukutio untuk diberikan asuhan keperawatan. Dalam pengumpulan
data metode yang digunakan adalah : wawancara, observasi dan
pengukuran terhadap seluruh anggota keluarga yang

1.5.2 Sistematika Penulisan


Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai laporan ini, maka
penulis menggunakan sistematika penulisan yang terdiri dari empat BAB
yaitu :
BAB I : Berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, batasan masalah,
tujuan penyusunan laporan, metode dan sistematika penulisan
BAB II : Berisi tentang tinjauan teori yang meliputi konsep keluarga, konsep
teori kasus Hipertensi (defisnisi, etiologi, manifestasi klinis,
pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan), dan konsep asuhan
keperawatan
BAB III : Berisi tentang tinjauan kasus yang meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, rencana tindakan keperawatan, tindakan
keperawatan, dan evaluasi keperawatan
BAB IV :Berisi kesimpulan dan saran dan akan disertai dengan llampiran
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Keluarga
2.1.1 Definisi
Menurut Depkes RI (2015) keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat
yang berdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan
tinggal dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan
perkawinan yang sah,mampu memenuhi kebutuhan kehidupan spiritual dan
material yang layak bertakwakepada Tuhan,memiliki hubungan yang selaras
dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya
(BKKBN,2018)
a. WHO (2016)
Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan
melaluipertalian darah,adopsi dan perkawinan.
b. Duval (2015)
Keluarga adalah sekumpulan oran yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan,adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional, dan social dari tiap anggota keluarga.
2.1.2 Tipe Keluarga

Menurut Friedman (1986) yang dikutip oleh Zaidin Ali (2010) membagi
tipe keluarga tradisional menjadi 8 tipe keluarga yaitu :
a. Nuclear Family (keluarga inti)
Terdiri dari orang tua dan anak yang masih menjadi tanggunganya dan tinggal
dalam satu rumah, terpisah dari sanak keluarga lainya.
b. Extended Family (keluarga besar)
Satu keluarga yang terdiri dari satu atau dua keluarga inti yang tinggal salam
satu rumah dan saling menunjang satu sama lain.
c. Single Parent Family
Satu keluarga yang dikepalai oleh satu kepala keluarga dan hidup
bersama dengan anak-anak yang masih bergantung kepadanya.
d. Nuclear dyed
Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri tanpa anak, tinggal
dalam satu rumah yang sama
e. Blanded Family
Suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan pasangan yang masingmasing
pernah menikah dan membawa anak dari hasil perkaawinan mereka
sebelumnya.
f. Three generation Family
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi, yaitu kakek, nenek, bapak, ibu,
dan anak dalam satu rumah.
g. Single adult living alone
Bentuk keluarga yang terdiri dari satu orang dewasa yang hidup dalam
rumahnya.
h. Middle age atau elderly couple
Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri paruh baya.

Tipe keluarga non tradisional menurut Sussman (1974) yang dikutip oleh
Santun Setiawati (2008) membagi keluarga non tradisional menjadi 6 yaitu:
a. Keluarga dengan orang tua yang memiliki anak tanpa menikah
b. Pasangan yang memiliki anak tanpa menikah
c. Pasangan yang hidup bersama tanpa menikah (kumpul kebo)
d. Keluarga gay
e. Keluarga lesbi
f. Keluarga komuni : keluarga dengan lebih dari satu pasangan monogami
dengan anak-anak yang secara bersama-sama menggunakan fasilitas, sumber dan
memiliki pengalaman yang sama

2.1.3 Struktur Kekuatan Keluarga


Menurut Friedman dalam EFendi, 2018 struktur keluarga terdiri dari:
a. Pola dan Proses Komunikasi
Komunikasi dalam keluarga ada yang berfungsi ada yang tidak \, hal ini bias
disebabkan oleh beberapa factor yang ada dalam omponen komunikasi
seperti serider, chanel media, message, environment, dan receiver.
Komunikasi keluarga yang berfungsi adalah:
1. Karakteristik pengirim yang berfungsi
a) Yakin ketika menyampaikan pendapat
b) Jelas dan berkualitas
c) Meminta feedback
d) Menerima feedback
2. Pengirim yang tidak berfungsi
a) Lebih menonjolkan asumsi(perkiraan tanpa menggunakan dasar dan
dat yang obyektif).
b) Ekspresi yang tidak jelas
c) Jugmental ekspresion yaitu ucapan yang memutuskan sesuatu yang
tidak didasari pertimbangan yang matang.
d) Tidak mampu mengemukakan kebutuhan.
e) Komunikasi yang tidak sesuai.
3. Karakteristik penerima yang berfungsi
a) Mendengar
b) Feedback
c) Memvalidasi
4. Penerima yang tidak berfungsi
a) Tidak bias mendengar dengan jelas
b) Diskualifikasi
c) Offensive
d) Kurang mengeksplorasi
e) Kurang memvalidasi
5. Pola komunikasi didalam keluarga yang berfungsi
a) Menggunakan emosional
b) Komunikasi terbuka dan jujur
c) Hirarki kekuatan dan peraturan keluarga
d) Konflik keluarga dan penyelesaianya
6. Pola komunikasi didalam keluarga yang tidak berfungsi
a) Fokus pembicaraan hanya pada satu orang
b) Semuamenyetujui tanpa adanya diskusi
c) Kurang empati
d) Selalu mengulang isu dan pendapat sendiri
e) Tidak mampu memfokuskan pada satu isu
f) Komunikasi tertutup
g) Bersifat negative
h) Mengembangkan gosip
b. Struktur Peran
Pesan adalah serangakaian perilaku yang diharpkan sesuai dengan posisi
sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi adalah posisi individu
dalam masyarakat, missal status sebagai suami atau istri atau anak. Perilaku
peran:
1. Peran Ayah
Pencari nafkah, pelindung dan pemberi rasa aman kepala keluarga,
sebagai anggota dan keompok social serta anggota masyarakat.
2. Peran Ibu
Mengurus anak, pengasuh dan pendidik anak, pelindung sebagai salah
satu anggota kelompok dan peran social serta sebagai anggota masyarakat
dari lingkunganya serta sebagai pencari nafkah tambahan.
3. Peran Anak
Melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat
perkembangannya, baik fisik, mental, social, dan spiritual.
c. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial atau aktual) dan individu.
Untuk mengendaliakn atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang
lain ke arah positif. Tipe struktur kekuatan :
1. Legitimate Power / authority (hak untuk mengontrol, seperti orang tua
terhadap anak)
2. Referent Power (seseorang yang ditiru)
3. Resounce or expert power (pendapat ahli)
4. Reward power (pengaruh kekuatan karena adanya harapan yang akan
diterima)
5. Coercive power (pengaruh yang dipaksakan sesuai keinginan)
6. Informational power (pengaruh yang dilalui melalui proses persuasi)
7. Affective power (pengaruh yang di berikan melalui manipulasi dengan
cinta kasih misalnya hubungan seksual)
Hasil dari kekuatan tersebut yang akan mendasari suatu proses dalam
pengambilan keputusan dalam keluarga seperti :
1. Konsesus
2. Tawar menawar atau akomodasi
3. Kompromi atau de facto
4. Paksaan
5. Nilai- Nilai Keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau
tidak mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga
juga merupakan suatu pendoman perilaku dan pedoman bagi perkembangan
norma dan peraturan. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut
masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga. Budaya adalah
kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan
dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah.

2.1.4 Fungsi Keluarga


Menurut Friedman (1986) yang dikutip oleh Santun Setiawati (2008),
fungsi keluarga dibagi menjadi lima, yaitu:
1. Fungsi afektif dan koping: keluarga memberikan kenyamanan emosional
anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan
mempertahankan saat terjadistress.
1. Fungsi sosialisasi: keluarga sebagai guru, menanamkan kepercayaan, nilai,
sikap, dan mekanisme koping; memberikan feedback, dan memberikan
petunjuk dalam pemecahan masalah.
2. Fungsi reproduksi: keluarga melahirkananaknya.
3. Fungsi ekonomi: keluarga memberikan financial untuk anggota keluarganya
dan kepentingan dimasyarakat.
4. Fungsi fisik atau perawatan kesehatan: keluarga memberikan keamanan,
kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan
dan istirahat termasuk untuk penyembuhan darisakit.

Indonesia membagi fungsi keluarga menjadi delapan dengan bentuk


operasional yang dapat dilakukan oleh setiap, yaitu:

1. Fungsi keagamaan
a. Membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh
anggota keluarga.
b. Menerjemahkan ajaran/norma agama ke dalam tingkah laku hidup sehari-
hari seluruh anggota keluarga.
c. Memberikan contoh konkret dalam hidup sehari-hari dalam pengalaman
dari ajaran agama.
d. Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak tentang
keagamaan yang tidak atau kurang diperolehnya disekolah dan
dimasyarakat.
e. Membina rasa, sikap, dan praktik kehidupan keluarga beragama sebagai
fondasi menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.

2. Fungsi budaya
a. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk meneruskan
norma-norma dan budaya masyarakat dan bangsa yang ingin
dipertahankan.
b. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk menyaring norma
dan budaya asing yang tidak sesuai.
c. Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga, anggotanya mencari
pemecahan masalah dari berbagai pengaruh negative globalisasi dunia.
d. Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras, dan seimbang dengan
budaya masyarakat/bangsa untuk menunjang terwujudnya norma
keluarga kecil bahagia sejahtera.
3. Fungsi cinta kasih
a. Menumbuh-kembangkan potensi kasih sayang yang telah ada antar-
anggota keluarga (suami-isteri-anak) ke dalam symbol- simbol nyata
(ucapan, tingkah laku) secara optimal dan terus menerus.
b. Membina tingkah laku saling menyayangi baik antar-anggota keluarga
maupun antar-keluarga yang satu dengan lainnya secara kuantitatif dan
kualitatif.
c. Membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan ukhrowi
dalam keluarga secara serasi, selaras, dan seimbang.
d. Membina rasa, sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu
memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju
keluarga kecil bahagia sejahtera.
4. Fungsi perlindungan
a. Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak
aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga.
b. Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai
bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar.
c. Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai
modal menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
5. Fungsi reproduksi
a. Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi
sehat baik bagi anggota keluarga maupun bagi keluarga sekitarnya.
b. Memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembentukan keluarga
dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental.
c. Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat, baik yang berkaitan
dengan waktu melahirkan, jarak antara dua anak dan jumlah ideal anak
yang diinginkan dalam keluarga.
d. Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang
kondusif menuju keluarga kecil bahagiasejahtera.
6. Fungsi sosialisasi
a. Menyadari, merencanakan, dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai
wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama.
b. Menyadari, merencanakan, dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai
pusat tempat anak dapat mencari pemecahan dari berbagai konflik dan
permasalahan yang di jumpainya, baik di lingkungan sekolah maupun
masyarakat.
c. Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal- hal yang
diperlukannya untuk meningkatkan kematangan dan kedewasaan (fisik
dan mental), yang tidak/kurang diberikan oleh lingkungan sekolah
maupun masyarakat.
d. Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga
sehingga tidak saja dapat bermanfaat positif bagi anak, tetapi juga bagi
orang tua dalam rangka perkembangan dan kematangan hidup bersama
menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.
7. Fungsi ekonomi
a. Melakukan kegiatan ekonomi baik di luar maupun di dalam lingkungan
keluarga dalam rangka menopang kelangsungan dan perkembangan
kehidupan keluarga.
b. Mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian, keselarasan,
dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran keluarga.
c. Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua di luar rumah dan
perhatiannya terhadap anggota keluarga berjalan secara serasi, selaras,
dan seimbang.
d. Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk
mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera.
8. Fungsi pelestarian lingkungan
a. Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan intern
keluarga.
b. Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan ektern
keluarga.
c. Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan yang
serasi, selaras, dan seimbang antara lingkungan keluarga dengan
lingkungan hidup masyarakat sekitarnya.
d. Membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkungan hidup
sebagai pola hidup keluarga menuju keluarga kecil bahagia sejahtera.

2.1.5 Tahapan dan perkembangan keluarga

Keluarga sebagaimana individu berubah dabn berkembang setiap saat.


Masing-masing tahap perkembangan mempunyai tantangan, kebutuhan, sumber
daya tersendiri dan meliputi tugas yang harus dipenuhi sebelum keluarga
mencapai tahap yang selanjutnya. Menurut Duval tahap perkembangan keluarga
adalah sebagai berikut :
a. Tahap pembentukan keluarga
Dimuali dari pernikahan yang dilanjutkan dengan membentuk rumah tangga.
b. Tahap menjelang kelahiran anak
Tugas utama untuk mendapatkan keturunan sebagai generasi penerus,
melahirkan anak merupakan kebanggan bagi keluarga yang merupakan saat-
saat yang dinantikan.
c. Tahap menghadapi bayi (0-1 th)
Keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih sayang kepada anak,
karena pada tahap ini kehidupan bayi sangat tergantung pada kedua orang
tuanya.
d. Tahap menghadapi anak pra sekolah (1-4 th)
Pada tahap ini anak mulai mengenal kehidupan sosialnya, sudah memulai
bergaul dengan teman sebayanya, tetapi sangat rawan dengan masalah
kesehatan. Anak sensitif terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga
adalah mulai menanamkan norma-norma kehidupan norma-norma agama,
norma-norma sosial budaya
e. Tahap menghadapi anak sekolah (5-12 th)
Tugas keluarga adalah bagaimana mendidik anak, mengajari anak untuk
mempersiapkan masa depannya, membiasakan anak belajar secara teratur,
mengontrol tugas-tugas sekolah anak dan meningkatkan pengetahuan umum
anak.
f. Tahap menghadapi anak remaja (12-18 th)sangat diperlukan. Komunikasi
Tahap ini paling rawan, karena pada tahap ini anak akan mencari identitas
diri dalam membentuk kepribadiannya, oleh karena itu suri tauladan dari
kedua orang tua sangat diperlukan. Komunikasidan saling pengertian antara
orang tua dengan anak perlu di pelihara dan dikembangkan.
g. Tahap melepas anak ke masyarakat (20-28 th)
Melepas anak ke masyarakat dalam memulai kehidupannya yang
sesungguhnya, dalam tahap ini anak memulai kehidupan berumah tangga.
h. Tahap berdua kembali (40-50 th)
Setelah anak besar dan menempuh kehidupan keluarga sendiri-sendiri
tinggalah suami dan istri berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan merasa
sepi, dan bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan
depresi dan stress.
i. Tahap masa tua (50-60 th)
Tahap ini masuk ketahap lansia, dan kedua orang tua mempersiapkan diri
untuk meninggalkan dunia fana ini.
Mc Goldrick dan Carter mengembangkan model tahap kehidupan keluarga
yang didasari oleh ekspansi, kontraksi dan penyusunan kembali (realigment) dari
hubungan keluarga yang memberikan support terhadap masuk, keluar dan
perkembangan anggota keluarga. Model ini diberikan dengan menggunakanaspek
emosional, transisi, perubahan dan tugas yang diperlukan untuk perkembangan
keluarga.
Tahap lingkaran kehidupan keluarga proses emosional transisi perubahan
status keluarga yang dibutuhkan untuk perkembangan :
a. Keluarga dengan anak dewasa yang belum menikah menerima pemisahan
dengan orang tua.
b. Mengembangkan hubungan saudara yang intim
c. Pemisahan dengan keluarga mampu bekerja sendiri.
d. Keluarga yang baru menikah komitmen dengan sistem baru.
e. Membentuk sistem keluarga.
f. Menyusun kembali hubungan dengan extended family dan teman-teman.
g. Keluarga dengan anak muda/anak yang masih kecil menerima generasi
baru dari anggota yang ada dalam sistem mengambil peran orang tua.
h. Menyusun kembali hubungan dengan extended family terhadap peran
orang tua dan kakek nenek.
i. Menyediakantempat untuk anaknya.
j. Keluarga dengan anak remaja meningkatkan fleksibilitas keluarga dan
ketergantungan anak.
k. Perubahan hubungan orang tua anak dari masuk remaja ke arah dewasa.
l. Memfokuskan kembali pada masa mencari teman dekat dan karir.
m. Memulai perubahan perhatian untuk generasi yang lebih tua.
n. Keluar dan pindahnya anak-anak menerima sistem yang keluar dan
masuk dalam jumlah yang banyak ke dalam keluarga.
o. Membicarakan kembali sistem perkawinan sebagai keluarga.
p. Mengembangkan hubungan orang dewasa ke orang dewasa diantara anak-
anak yang sudah besar dengan orangtua.
q. Menyesuaikan hubungan termasuk kepada menantu dan cucu.
r. Menerima ketidakmampuan dan kematian dari orangtua (kakek/nenek).
s. Keluarga lansia menerima perubahan dari peran generasi.
t. Mempertahankan diri sendiri dan atau pasangan dalam fungsi dan minat
dalam menghadapi penurunan fisiologis, eksplorasi terhadap keluarga
baru dan pilihan peran sosial.
u. Mendukung lebih banyak peran sentral untuk generasi pertengahan.
v. Membuat ruang sistem untuk hal-hal yang bijaksana dan pengalaman
pada saat dewasa akhir, mendukung generasi yang lebih tua tanpa
memberikan fungsi yang berlebihan kepada mereka.
w. Menerima kehilangan pasangan, sibling dan teman sebaya dan
mempersiapkan untuk kematian diri sendiri, menerima dengan pandangan
dan keutuhan.

2.1.6 Tugas keluarga pada bidang kesehatan


Tugas kesehatan keluarga menurut Friedman dan Setiadi (2018) adalah:
a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya.
b. Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat bagi
keluarganya.
c. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit, atau yang tidak dapat
membantu dirinya karena cacat atau usianya terlalu muda.
d. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan untuk kesehatan
dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-
lembaga kesehatan. Dengan kata lain pemanfaatan fasilitas kesehatan
yang ada.

2.2 Konsep Hipertensi


2.2.1 Definisi
Hipertensi didefinisikan adanya kenaikan tekanan darah yang persisten Pada
orang dewasa rata-rata tekanan sistolik sama atau di atas 140 mm Hg dan tekanan
diastolik sama atau di atas 90 mm Hg
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg (Nugroho.W. 2018).
Hipertensi merupakan tekanan darah persisten atau terus menerus sehingga
melebihi batas normal dimana tekanan sistolik diatas 140 mmhg dan tekanan diastole
diatas 90 mmhg. (Smeltzer & Bare, 2017)
Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 150 mmHg dan
tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. (Prof. Dr. dr. Budhi Setianto (Depkes, 2017)
Hipertensi adalah tekanan darah sistolok lebih dari 140 mmHg dan diastolik
lebih dari 90 mmHg.(Arief Mansjoer; 2018)
Hipertensi juga merupakan faktor utama terjadinya gangguan kardiovaskular.
Apabila tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan gagal ginjal, stroke,
dimensia, gagal jantung, infark miokard, gangguan penglihatan dan hipertensi
(Andrian Patica N Ejournal keperawatan volume 4 nomor 1, Mei 2016)
Sumber: (Triyanto,2014)

2.2.2 Etiologi
Menurut (Widjadja,2009) penyebab hipertensi dapat dikelompookan menjadi dua
yaitu:
a. Hipertensi primer atau esensial
Hipertensi primer artinya hipertensi yang belum diketahui penyebab dengan
jelas. Berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi
primer, seperti bertambahnya usia, sters psikologis, pola konsumsi yang tidak
sehat, dan hereditas (keturunan). Sekitar 90% pasien hipertensi diperkirakan
termasuk dalam kategori ini.
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder yang penyebabnya sudah di ketahui, umumnya berupa
penyakit atau kerusakan organ yang berhubungan dengan cairan tubuh,
misalnya ginjal yang tidak berfungsi, pemakaiyan kontrasepsi oral, dan
terganggunya keseimbangan hormon yang merupakan faktor pengatur tekanan
darah. Dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, dan
penyakit jantung.
Faktor-faktor resiko hipertensi ada yang dapat di kontrol dan tidak dapat
dikontrol menurut (Sutanto, 2010) antara lain :
a. Faktor yang dapat dikontrol :
Faktor penyebab hipertensi yang dapat dikontrol pada umumnya berkaitan
dengan gaya hidup dan pola makan. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Kegemukan (obesitas)
Dari hasil penelitian, diungkapkan bahwa orang yang kegemukan mudah
terkena hipertensi. Wanita yang sangat gemuk pada usia 30 tahun mempunyai
resiko terserang hipertensi 7 kali lipat dibandingkan dengan wanita langsing
pada usia yang sama. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita
hipertensi yang obesitas. Meskipun belum diketahui secara pasti hubungan
antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan
sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi
dibanding penderita hipertensi dengan berat badan normal.
2. Kurang olahraga
Orang yang kurang aktif melakkukan olahraga pada umumnya cenderung
mengalami kegemukan dan akan menaikan tekanan darah. Dengan olahraga
kita dapat meningkatkan kerja jantung. Sehingga darah bisa dipompadengan
baik keseluruh tubuh.
3. Konsumsi garam berlebihan
Sebagian masyarakat kita sering menghubungkan antara konsumsi garam
berlebihan dengan kemungkinan mengidap hipertensi. Garam merupakan hal
yang penting dalam mekanisme timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam
terhadap hipertensi adalah melalui peningkatan volume plasma atau cairan
tubuh dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekresi
(pengeluaran) kelebihan garam sehingga kembali pada kondisi keadaan sistem
hemodinamik (pendarahan) yang normal. Pada hipertensi primer (esensial)
mekanisme tersebut terganggu, disamping kemungkinan ada faktor lain yang
berpengaruh.
4. Merokok dan mengonsumsi alkohol
Nikotin yang terdapat dalam rokok sangat membahayakan kesehatan selain
dapat meningkatkan penggumpalan darah dalam pembuluh darah, nikotin
dapat menyebabkan pengapuran pada dinding pembuluh darah. Mengonsumsi
alkohol juga dapat membahayakan kesehatan karena dapat meningkatkan
sistem katekholamin, adanya katekholamin memicu naik tekanan darah.
5. Stres
Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara. Jika ketakutan,
tegang atau dikejar masalah maka tekanan darah kita dapat meningkat. Tetapi
pada umumnya, begitu kita sudah kembali rileks maka tekanan darah akan
turun kembali. Dalam keadaan stres maka terjadi respon sel-sel saraf yang
mengakibatkan kelainan pengeluaran atau pengangkutan natrium. Hubungan
antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis (saraf
yang bekerja ketika beraktivitas) yang dapat meningkatkan tekanan darah
secara bertahap. Stres berkepanjanngan dapat mengakibatkan tekanan darah
menjadi tinggi.

b. Faktor yang tidak dapat dikontrol


1. Keturunan (Genetika)
Faktor keturunan memang memiliki peran yang sangat besar terhadap
munculnya hipertensi. Hal tersebut terbukti dengan ditemukannya kejadian
bahwa hipertensi lebih banyak terjadi pada kembar monozigot (berasal dari
satu sel telur) dibandigkan heterozigot (berasal dari sel telur yang berbeda).
Jika seseorang termasuk orang yang mempunyai sifat genetik hipertensi
primer (esensial) dan tidak melakukan penanganan atau pengobata maka ada
kemungkinan lingkungannya akan menyebabkan hipertensi berkembang dan
dalam waktu sekitar tiga puluhan tahun akan mulai muncul tanda-tanda dan
gejala hipertensi dengan berbagai komplikasinya.
2. Jenis kelamin
Pada umumnya pria lebih terserang hipertensi dibandingkan dengan wanita.
Hal ini disebabkan pria banyak mempunyai faktor yang mendorong terjadinya
hipertensi seperti kelelahan, perasaan kurang nyaman, terhadap pekerjaan,
pengangguran dan makan tidak terkontrol. Biasanya wanita akan mengalami
peningkatan resiko hipertensi setelah masa menopause.
3. Umur
Dengan semakin bertambahannya usia, kemungkinan seseorang menderita
hipertensi juga semakin besar. Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang
timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor risiko terhadap timbulnya
hipertensi. Hanya elastisitas jaringan yang erterosklerosis serta pelebaran
pembulu darah adalah faktor penyebab hipertensi pada usia tua. Pada
umumnya hipertensi pada pria terjadi di atas usia 31 tahun sedangkan pada
wanita terjadi setelah berumur 45 tahun.

2.2.3 Manifestasi Klinis


Menurut (Ahmad, 2011) sebagian besar penderita tekanan darah tinggi
umumnya tidak menyadari kehadirannya. Bila ada gejala, penderita darah
tinggi mungkin merasakan keluhan-keluhan berupa : kelelahan, bingung,
perut mual, masalah pengelihatan, keringat berlebihan, kulit pucat atau
merah, mimisan, cemas atau gelisah, detak jantung keras atau tidak beraturan
(palpasi), suara berdenging di telinga, disfungsi ereksi, sakit kepala, pusing.
Sedangkan menurut(Pudiastuti,2011) gejala klinis yang dialami oleh para
penderita hipertensi biasanya berupa : pengelihatan kabur karena kerusakan
retina, nyeri pada kepala, mual dan muntah akibatnya tekanan kranial, edema
dependen dan adanya pembengkakan karena meningkatnya tekanan kapiler.

2.2.4 Pemeriksaan Penunjang


Menurut (Widjadja,2009) pemeriksaan penunjang pada penderita hipertensi
antara lain:
a. General check up
Jika seseorang di duga menderita hipertensi, dilakukan beberapa
pemeriksaan, yakni wawancara untuk mengetahui ada tidaknya riwayat
keluarga penderita. Pemeriksaan fisik, pemeriksan laboratorium,
pemeriksaanECG, jika perlu pemeriksaan khusus, seperti USG,
Echocaediography (USG jantung), CT Scan, dan lain-lain. Tujuan
pengobatan hipertensi adalah mencegah komplikasi yang ditimbulkan.
Langkah pengobata adalah yang mengendalikan tensi atau tekanan darah agar
tetap normal.
b. Tujuan pemeriksaan laboratolriun untuk hipertensi ada dua macam yaitu:
1. Panel Evaluasi Awal Hipertensi : pemeriksaan ini dilakukan segera setelah
didiagnosis hipertensi, dan sebelum memulai pengobatan.
2. Panel hidup sehat dengan hipertensi : untuk memantau keberhasilan terapi.

2.2.5 Penatalaksanaan
Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis
penatalaksanaan :
1) Penatalaksanaan Non Farmakologis
a) Diet pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat
menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin
dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
b) Aktivitas
c) Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan
dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan,
jogging,bersepeda atau berenang.
2) Penatalaksanaan Farmakologis
Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
a) Mempunyai efektivitas yang tinggi.
b) Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c) Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
d) Tidak menimbulakn intoleransi.
e) Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
f) Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi
seperti golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis
kalsium, golongan penghambat konversi rennin angiotensin.

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga


Pelayanan keperawatan keluarga merupakan salah satu area pelayanan
keperawatan yang dapat dilaksanakan dimasyarakat.Pelayanan keperawatan
keluarga yang saat ini dikembangkan merupakan bagian dari pelayanan
keperawatan kesehatan masyarakat.Keperawatan keluarga adalah proses
pemberian pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan keluarga dalam lingkup praktik
keperawatan. Pelayanan keperawatan keluarga merupakan pelayanan holistik
yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan
A. Pengkajian KeperawatanKeluarga
Pengkajian keperawatan keluarga dapat menggunakan metode observasi,
wawancara dan pemeriksaan fisik (Maglaya, 2009).
B. Variabel data dalam pengkajian keperawatan keluarga mencakup :
1. Data umum/Identitas keluarga mencakup nama kepala keluarga, komposisi
anggota keluarga, alamat, agama, suku, bahasa sehari-hari, jarak pelayanan
kesehatan terdekat dan alattransportasi.
2. Kondisi kesehatan semua anggota keluarga terdiri dari nama, hubungan dengan
keluarga, umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan saat ini, status gizi,
tanda-tanda vital, status imunisasi dasar, dan penggunaan alat bantu atau protesa
serta status kesehatan anggota keluarga saat ini meliputi keadaan umum,
riwayatpenyakit atau alergi.
3. Data pengkajian individu yang mengalami masalah kesehatan (Saat ini sedang
sakit) meliputi nama individu yang sakit, diagnosisi medis, rujukan dokter atau
rumah sakit, keadaan umum, sirkulasi, cairan, perkemihan, pernafasan,
musculoskeletal, neurosensori, kulit, istirahat dan tidur, status mental, komunikasi
dan budaya, kebersihan diri, perawatan diri sehari-hari, dan data penunjang medis
individu yang sakit (Lab, radiologi, EKG,USG) jika ada.
4. Data kesehatan lingkungan mencakup sanitasi lingkungan pemukiman antara lain
ventilasi, penerangan, kondisi lantai, tempat pembuangan sampahdll.
5. Struktur keluarga ; struktur keluarga mencakup struktur peran, nilai (value),
komunikasi,kekuatan.
6. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga. Variabel ini akan menjawab tahap
perkembangan keluarga, tugas perkembangan keluarga.
7. Fungsi keluarga terdiri dari aspek instrumental dan ekspresif. Aspek instrumental
fungsi keluarga adalah aktivitas hidup sehari-hari seperti makan, tidur,
pemeliharaan kesehatan. Aspek ekspresif fungsi keluarga adalah fungsi emosi,
komunikasi, pemecahan masalah, keyakinan dan lain-lain.
C. Rencana Keperawatan
1. Difisit Pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan menemukan
menemukan sumber informasi
SDKI
DEFISIT PENGETAHUAN
(D.0111)
Definisi : Ketiadaan atau kekurangan informasi yang berkaitan dengan
topik tertentu.
Penyebab :
1. Keteratasan kognitif
2. Gangguan fungsi kognitif
3. Kekeliruan mengikuti anjuran
4. Kurang terpapar informasi
5. Kurang minat dalam belajar
6. Kurang mampu mengingat
7. Ketidaktahuan menemukan sumber informasi
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif Objektif
 Menanyakan masalah yang  Menunjukan perilaku tidak
dihadapkan sesuai anjuran
 Menunjukan persepsi yang
keliru terhadap masalah

Gejala dan Tanda Minor


Subjektif Objektif
 Tidak tersedia  Menjalani pemeriksaan
yang tidak tepat
 Menunjukan prilaku yang
berlebihan (mis. Apatis,
bemusuhan, agitasi,
hysteria)
Kondisi klinis terkait :
1. Kondisi klinis yang baru dihadapi oleh klien
1. Penyakit akut
2. Penyakit kronik
Keterangan :
1. Gaya hidup sehat
1. Keamanan diri
2. Keamanan fisik anak
3. Kehamilan dan persalinan
4. Kesehatan maternal pasca persalinan
5. Kesehatan maternal prakonsepsi
6. Keterampilan psikomotorik
7. Konservasi energy
8. Latihan toileting
9. Manajemen arthritis rheumatoid
10. Manajemen asma
11. Manajemen berat badan
12. Manajemen demensia
13. Manajemen depresi
14. Manajemen disritmia
15. Manajemen gagal jantung
16. Manajemen gangguan lipid
17. Manajemen gangguan makan
18. Manajemen hipertensi
19. Manajemen kanker
20. Manajemen nyeri
21. Manajemen osteoporosis
22. Manajemen penyakit akut
23. Manajemen penyakit arteri perifer
24. Manajemen penyakit ginjal
25. Manajemen stroke
26. Manajemen waktu
27. Medikasi
28. Mekanika tubuh
29. Menyusui
30. Perilaku sehat
31. Program aktivitas
32. Program diet

SLKI
Tingkat Pengetahuan L.12111
Definisi : Kecukupan informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu
Ekspektasi : membaik
Kriteria hasil
Menuru Cukup Sedang Cukup Mening
n menurun meningk kat
at
SKALA OUTCOME 1 2 3 4 5
KESELURUHAN
Indikator:
Perilaku sesuai anjuran 1 2 3 4 5
Verbalisasi minat dalam belajar 1 2 3 4 5
Kemampuan menjelaskan 1 2 3 4 5
pengetahuan 1 2 3 4 5
Kemampuan menggambarkan
pengalaman yang sesuai dengan 1 2 3 4 5
topik
Perilaku sesuai dengan
pengetahuan

Mening Cukup Sedang Cukup Menuru


kat meningk menurun n
at
Pertanyaan tentang masalah yang 1 2 3 4 5
dihadapi 1 2 3 4 5
Persepsi yang keliru terhadap 1 2 3 4 5
masalah
Menjalani pemeriksaan yang tepat
Membur Cukup Sedang Cukup Membai
uk membur membai k
uk k
Perilaku 1 2 3 4 5
SIKI
Edukasi Kesehatan 1.12383
Definisi: : mengajarkan pengelolaan factor resiko penyakit dan perilaku hidup
bersih serta sehat
Tindakan :
Observasi
1. Indentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
1. Indentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan
motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
Terapeutik
1. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
1. Jadwalkan pendidikan kesehatan
2. Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
1. Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
1. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
2. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup
bersih dan sehat

2. risiko perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan hipertensi


SDKI
RISIKO PERFUSI PERIFER TIDAK EFEKTIF
(D.0015)
Definisi : Risiko mengalami penurunan sirkulasi darah pada level
kapiler yang dapat mengganggu metabolisme tubuh
Penyebab :
1. Hiperglemia
2. Gaya hidup kurang gerak
3. Hipertensi
4. Merokok
5. Prosedur endovaskuler
6. Trauma
7. Kurang terpapar informasi tentang faktor pemberat misal merokok ,
gaya hidup kurang gerak , obesitas, imobilitas
Kondisi klinis terkait :
1. Arterosklerosis
2. Raynaud s disease
3. Trombosis arteri
4. Atritis reumatoid
5. Leriches syndrome
6. Aneurisma
7. Buergers disease
8. Varises
9. Diabetes melitus
10. Hipotensi
11. Kanker

SLKI
Perfusi perifer L.020111
Definisi : Keadekuatan aliran darah pembuluh distal untuk menunjang fungsi jaringan
Ekspektasi : membaik
Kriteria hasil
Menuru Cukup Sedang Cukup Mening
n menurun meningk kat
at
SKALA OUTCOME 1 2 3 4 5
KESELURUHAN

1 2 3 4 5
Denyut nadi perifer
1 2 3 4 5
Penyembuhan luka
1 2 3 4 5
Sensasi

Mening Cukup Sedang Cukup Menuru


kat meningk menurun n
at
Warna kulit pucat 1 2 3 4 5
Edena perifer 1 2 3 4 5
Nyeri ekstremitas 1 2 3 4 5
Parastesia 1 2 3 4 5
Kelemahan otot 1 2 3 4 5
Kram otot 1 2 3 4 5
Bruit fernoralis 1 2 3 4 5
Nekrosis 1 2 3 4 5

Membur Cukup Sedang Cukup Membai


uk membur membai k
uk k
Pengisian kapiler 1 2 3 4 5
Akral 1 2 3 4 5
Turgor kulit 1 2 3 4 5
Tekanan darah sistolik 1 2 3 4 5
Tekanan darah diastolik 1 2 3 4 5
Tekanan arteri rata — rata 1 2 3 4 5
Indeks ankle — brachial 1 2 3 4 5

SIKI
Perawatan sirkulasi 1.02079
Definisi: : mengindentifikasi dan merawat area lokal dengan keterbatasan sirkulasi
perifer
Tindakan :
Observasi

1. peiksa sirkulasi perifer misal , nadi perifer, edema , penngisian kapiler ,


warna , suhu , ankle brachial index
2. indetifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi , misal diabetes , perokok ,
orang tua , hipertensi dan kadar kolesterol

Terapeutik :

1. hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area keterbatasan


perfusi
2. hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan keterbatasan
perfusi
3. hindari penekanan dan pemasangan tourniquet pada area yang cedera
4. lakukan pencegahan infeksi
5. lakukan hidrasi

Edukasi :

1. anjurkan berhenti merokok


2. anjurkan berolahraga rutin
3. anjurkan minum obat penurun tekanan darah tinggi
4. anjurkan minum obat pengontrol tekanan darah tinggi secara teratur
5. ajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi
STIKES RS. BAPTIS KEDIRI
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA
FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

1. PENGKAJIAN
1.1. Data Umum
1) Nama Kepala Keluarga : Tn. E
2) Alamat :Dsn paras banjarejo kec ngadiluwih
3) Pekerjaan :Wiraswasta
4) Pendidikan :SLTA
5) Komposisi keluarga
Status Imunisasi * Ket
Hub
Jenis B POLI D Hepatitis Campa
No Nama dengan Umur Pendidikan
kelamin C O P k
KK
G T
1 Tn . E L Ayah 49 SLTA Ö Ö Ö Ö Ö Sehat
2 Ny . T P Ibu 43 SLTA Ö Ö Ö Ö Ö Sehat
3. Nn . R P Anak 21 SMA Ö Ö Ö Ö Ö Sehat
4 Sdr .C L Anak 15 SMP Sehat
Ö Ö Ö Ö Ö

Ket : * diisi dengan menambahkan tanda cek (Ö)


6) Genogram : (dilengkapi dengan keterangan dan dibuat minimal 3 generasi)

: Perempuan
``` `: laki — laki
: tinggal serumah
: meninggal
: garis keturunan

7) Tipe Keluarga :
Keluarga inti terdiri dari Tn. E , Ny. T dan kedua anak kandung

8) Suku Bangsa :
Jawa — Indonesia. Tn. E  berasal dari jawa timur dan Ny.T  dari jawa timur

9) Agama :
Semua isi keluarga menganut agama Islam

10) Status Sosial Ekonomi Keluarga :


Tn. E dan Ny. T mengatakan penghasilan yang mereka dapat lebih dari cukup untuk
memenuhi kebutuhan setiap hari dan untuk membiayai kedua orang anknya yang
masih sekolah.dan kuliah

11) Aktifitas Rekreasi Keluarga :


Anak- anak mereka biasanya menghabiskan waktu liburannya dengan bermain dengan
teman sebayanya dan menonton TV dirumah , Kadang- kadang keluarga mereka pergi
ke rumah kakeknya  jika musim liburan panjang atau sekedar makan diluar bersama

1.2. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga


1) Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini :
Keluarga berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah

2) Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi :


Tidak ditemukannya tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.anak
pertama berusia 21 th  dan yang kedua berusia 15 th masih bersekolah masing-masing
kuliah dan SMP . Tn. E dan Ny. T mengatakan komunikasi dengan anak-anaknya
bersifat terbuka dan masing-masing anak tahu akan tugas dan kewajibannya sebagai
anak.

3) Riwayat Keluarga Inti :


Tn. E  mengatakan mempunyai riwayat penyakit keturunan yaitu darah tinggi karena
ayah TN.E   Ny. T dan kedua anaknya tidak pernah mengalami penyakit yang parah.
(sembuh dengan obat yang dibeli di toko).

4) Riwayat Keluarga Sebelumnya :


Keluarga mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit sebelumnya

1.3. Lingkungan
1) Karakteristik Rumah :
Memiliki sirkulasi udara yang baik, memiliki sistem sanitasi yang baik, dan memiliki
sistem penerangan ruang yang baik.

2) Denah Rumah
Kolam ikan lele Kanda
ng
Bagasi

Ruang tamu Ruang Kamar K.


keluarga sholat

area dapur

kamar kamar Kamar Meja makan kama


Kamar
mandi

3) Karakteristik Lingkungan :
Lingkungan bersih nyaman dan tenang

4) Mobilitas Geografis Keluarga


Semenjak menikah sampai sekarang Ny.T dan Tn. E tidak pernah bepindah-pindah
tempat.

5) Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Dengan Masyarakat :


Keluarga Tn. E  tergolong anggota masyarakat yang aktif dalam mengikuti
musyawarah dan kerja bakti yang diadakan di masyarakat. Serta dapat berinteraksi
dengan baik. Keluarga Ny. T  aktif dengan kegiatan keagamaan di lingkungan
rumahnya. Ny.T  aktif dengan Pengajian rutin yang dilaksanakan di masjid tiap
seminggu sekali. Sedangkan kedua anknya setiap sore mengaji di mushola dekat
rumah.
6) Sistem Pendukung Keluarga
Ketika anak-anaknya sakit  Ny.T sakit Tn.E yang merawat, meskipun kadang-
kadang Tn.A harus meninggalkan pekerjaanya. Ny.T dan Tn.E  mempunyai tabungan
yang digunakan untuk keperluan mendadak dan untuk biaya sekolah anaknya nanti
sehingga ketika berobat keluarga Ny.T dapat membiayai sendiri pengobatan baik
alternatif maupun secara medis (puskesmas,dokter serta layanan kesehatan yang
mendukung). Terdapat dokter desa yag letaknya sekitar 50 m dari rumah Ny.T dan
puskesmas yang letaknya cukup jauh yaitu 100 m dari rumah sehingga keluarga lebih
memilih ke dokter desa.

1.4. Struktur Keluarga


1) Pola Komunikasi
Keluaga Ny.T dan Tn. E melakukan komunikasi secara terbuka, sehingga ank-
anaknya dapat memberi masukan tentang suatu hal kepada mereka tanpa mengurangi
rasa hormat terhadap orang tua, Ny.T adalah ibu yang santai yang jarang memarahi
anak-anknya tapi Tn.E sangat tegas tehadap anak-anaknya dan tak segan memaraahi
ana-anaknya ketika mereka salah.

2) Struktur Kekuatan Keluarga


Ny.T adalah ibu sekaligus pembantu pencari nafkah bagi keluarga, dan Tn.E
menjadi seorang ayah dan pencari penghasilan utama bagi keluarga.

3) Struktur Peran (Formal Dan Informal)


Tn. E sebagai kepala keluarga bertanggung jawab dalam mengatur rumah tangga,
Ny. T sebagai istri yang bekerja membantu suami . Nn. R sebagai anak pertama
kuliah Sdr. C sebagai anak kedua sekolah SMP kelas 3

4) Nilai Dan Norma Keluarga


Tidak ada nilai dan norma dalam keluarga yang dapat mempengaruhi penyakit
menurut mereka . Sakit memang karena disebabkan oleh suatu penyakit bukan karena
hal-hal tertentu.sehingga mereka lebih memilih untuk memeriksakan kesehatannya ke
dokter atau dengan obat-obat tradisional ketida ada anggota keluarga yang sakit

1.5. Fungsi Keluarga


1) Fungsi Afektif
Ny.T dan Tn.Emenganggap anaknya sudah tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan
saling menghormati dalam keluarga,meskipun kadang-kadang ada pertengkaran kecil
antara anak-anak mereka dikarenakan hal yang sepele tapi dengan cepat mereka juga
berbaikan lagi.

2) Fungsi Sosial
Keluarga mereka semua muslim sehingga mereka aktif dengan kegiatan keagamaan
meskipun tidak mengikuti organisasi

3) Fungsi Perawatan Keluarga


a. Kemampuan untuk mengenal masalah
keluarga dapat mengidentifiksi penyakit meskipun secara awam

b. Kemampuan untuk mengambil keputusan


Ketika ada anggota yang sakit keluarga hanya membelikan obat di toko obat

c. Kemampuan untuk merawat anggota keluarga yang sakit


Keluarga hanya membelikan obat di toko obat

d. Kemampuan memelihara/memodifikasi lingkungan


Tn E dan Ny T menyedikan lingkungan yang nyaman dan tenang
e. Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
Tn E dan Ny T hanya menggunakan fasilitas pelayan kesehatan hanya tertentu
saja ketika anggota keluarga tidak mempan dengan obat yang di toko , apotik dll
baru di larikan ke puskemas

4) Fungsi Reproduksi :
Tn E dan Ny T mengatakan tidak ingin mempunyai anak lagi mereka sudah bersyukur
mempunyai dua orang anak yang baik-baik, Ny.T masih mengikuti program KB
dikarenakan masih haid dan melakukan hubungan suami istri. Mereka sepakat untuk
membesarkan anaknya dengan baik dan memberi pendidikan yang baik.

1.6. Stress Dan Koping Keluarga


1) Stress Jangka Panjang Dan Jangka Pendek
Tn . E  sering megalami pusing dan leher seperti nyeri dan tensinya selalu naik turun ,
Tn. E cemas penyakit keturunannya keluarganya menurun ke Tn. E , sedangkan Ny.T
hanya bisa bersabar dan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan suaminya
nya.

2) Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Situasi / Stressor


Keluarga berharap anak-anaknya dapat menjalani sekolahnya dengan baik dan kelak
menjadi anak yang berguna.

3) Strategi Koping Yang Digunakan


Keluarga Tn. E dan Ny. T selalu membicarakan masalah keluarga bersama dan
sesekali bersama anak-anaknya jika membicarakan tentang harapan-harapan mereka
terhadap anaknya
4) Strategi Adaptasi Disfungsional
Tidak pernah terdapat perselisihan antar anggota keluarga dalam mengambil suatu
keputusan.

1.7. Pemeriksaan Fisik


No Pemeriksaan Tn. E Ny.T Nn R Sdr. C
Fisik
1 Kepala Simetris, rambut Simetris,tidak ada Simetris, rambut Simetris, rambut
berwarna ketombe,Rambut berwarna hitam, berwarna hitam,
hitam,terapat uban berwarna hitam tidak ada ketombe. tidak ada ketombe.
, tidak ada
ketombe.
2. Leher tidak teraba tidak teraba adanya tidak teraba tidak teraba
adanya pembesaran adanya adanya
pembesaran kelenjar tiroid , pembesaran pembesaran
kelenjar tiroid , kelenjar tiroid , kelenjar tiroid ,
3. Mata Konjungtiva tidak Konjungtiva tidak Konjungtiva tidak Konjungtiva tidak
terlihat anemis, terlihat anemis, terlihat anemis, terlihat anemis,
tidak ada katarak, tidak ada katarak, tidak ada katarak, tidak ada katarak,
penglihatan jelas penglihatan jelas penglihatan jelas penglihatan jelas
4. Telinga Simetris, keadaan Simetris, keadaan Simetris, keadaan Simetris, keadaan
bersih,Fungsi bersih,Fungsi bersih,Fungsi bersih,Fungsi
pendengaran baik pendengaran baik pendengaran baik pendengaran baik
5. Hidung Simetris,keadaan Simetris,keadaan Simetris,keadaan Simetris,keadaan
bersih,Tidak ada bersih,Tidak ada bersih,Tidak ada bersih,Tidak ada
kelainan yang kelainan yang kelainan yang kelainan yang
ditemukan ditemukan ditemukan ditemukan
6. Mulut Mukosa mulut Mukosa mulut Mukosa mulut Mukosa mulut
lembab,keadaan lembab,keadaan lembab,keadaan lemb,keadaan
bersih,Tidak ada bersih,Tidak ada bersih,Tidak ada bersih,Tidak ada
kelainan kelainan kelainan kelainan
7. Dada Pergerakan dada Pergerakan dada Pergerakan dada Pergerakan dada
terlihat simetris, terlihat simetris, terlihat simetris, terlihat simetris,
suara jantung S1 suara jantung S1 suara jantung S1 suara jantung S1
dan S2 dan S2 dan S2 dan S2
tunggal,tidak tunggal,tidak tunggal,tidak tunggal,tidak
terdapat palpitasi, terdapat palpitasi, terdapat palpitasi, terdapat palpitasi,
suara mur-mur (-), suara mur-mur (-), suara mur-mur (-), suara mur-mur (-),
ronchi (-), ronchi (-), wheezing ronchi (-), ronchi (-),
wheezing (-) (-) wheezing (-) wheezing (-)
8. Abdomen Pada pemeriksaan Pada pemeriksaan Pada pemeriksaan Pada pemeriksaan
abdomen tidak abdomen tidak abdomen tidak abdomen tidak
didapatkan adanya didapatkan adanya didapatkan adanya didapatkan adanya
benjolan , bising benjolan , bising benjolan , bising benjolan , bising
usus 14x/mnt, usus 14x/mnt, ada usus 14x/mnt, usus 14x/mnt,
tidak ada bekas bekas luka operasi tidak ada bekas tidak ada bekas
luka operasi saat melahirkan luka operasi luka operasi
kedua anaknya
9. TTV dan  TD : 150/90 TD:110/90mmHg,  TD: 110/80 TD: 105/63 mmHg
ekstremitas mmHg, N : 80x/m, mmHg R: 18 x/mnt
N : 80x/m, S : 36,50C R: 18 x/mnt N: 72 x/mnt
S : 360C R: 20x/m N: 84 x/mnt S: 370C
R: 20x/m        S: 37,2OC
      
        
  

1.8. Harapan Keluarga


Keluarga berharap diberi kesehatan selalu

Kediri,.3.....Juni .... 2020


Mahasiswa

(.RIKA PUTRI PERMATA)

2. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


2.1 Analisa data
NO DATA MASALAH PENYEBAB
1 a. Subyektif : Defisit pengetahuan tentang Kurang terpapar
manajemen hipertensi informasi
Tn. E mengatakan kadang
merasakan kepala pusing, dan
leher terasa nyeri

b. Obyektif :
TD : 150/90 mmHg,
N : 80x/m,
S : 360C
R: 20x/m
Tn . E perokok aktif dan sering
minum kopi
2 a. Subyektif : Risiko perfusi perifer tidak Hipertensi
efektif tentang arterosklerosis
Tn. E mengatakan tensinya
kadang naik, kadang turun,
paling tinggi biasanya 180 dan
paling rendah 140.

b. Obyektif :
TD : 150/90 mmHg,
N : 80x/m,
S : 360C
R: 20x/m

2.2 Perumusan Diagnosa Keperawatan


1. Kurang pengetahuan tentang manajemen hipertensi penyebab kurang terpapar
informasi
2. Risiko perfusi perifer tidak efektif tentang arterosklerosis penyebab hipertensi

2.3 Prioritas Masalah


1. Kurang pengetahuan tentang manajemen hipertensi penyebab kurang terpapar informasi
No kriteria Nilai skor Pembenaran
1 Sifat masalah: 3/3 x 1 1 Ketidak pengetahuan keluarga untuk merawat
(aktual)
Tn. E dengan penyakit hipertensi merupakan
ancaman terjadinya penyakit

2 Kemungkinan 1/2 x 2 1 Sering terjadi namun di abaikan


masalah dapat
diubah :
(sebagian)
3 Potensial 3/3 x 1 1 Penyakit hipertensi terjadi bisa diobati dan
masalah untuk
dicegah dengan pola makan yang sehat dan
dicegah :
(Tinggi) prilaku yang sehat

4 Menonjolnya 2/2 x 1 1 Bila tidak segera di tangani maka bisa terjadi


masalah ( tidak hipertensi berlanjut.
segera
ditangani)
No kriteria Nilai skor Pembenaran
Total Skor 4

2. Risiko perfusi perifer tidak efektif tentang arterosklerosis penyebab hipertensi

No kriteria Nilai skor Pembenaran


1 Sifat masalah: 2/3 x 1 = 2/3 2/3 Memerlukan penanganan yang secepatnya untuk
(Risiko)
mencegah komplikasi sumber dan tindakan.
Dapat dijangkau keluarga

2 Kemungkinan ½x2=1 1 Terjadinya penyakit.


masalah dapat
diubah :
(Mudah)
3 Potensial 2/3 x 1 = 2/3 2/3 Komplikasi dapat dicegah bila segera ditangani
masalah untuk
dicegah :
(cukup)
4 Menonjolnya 2/2 x 1 = 1 1 Akan mengakibatkan stroke, gagal jantung.
masalah
( segera
ditangani)
Total Skor 3 1 /3

2.4 Daftar Prioritas Diagnosa Keperawatan


NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
1 Kurang pengetahuan tentang manajemen hipertensi penyebab kurang terpapar informasi

2 Risiko perfusi perifer tidak efektif tentang arterosklerosis penyebab hipertensi

6
7

8
III. RENCANA KEPERAWATAN KELUARGA
Diagnosa Keperawatan :
TUJUAN KRITERIA EVALUASI
NO INTERVENSI
UMUM KHUSUS KRITERIA STANDAR
1 Mampu mengenal Setelah dilakukan 1. Pengetahuan - Mampu O:
masalah Hipertensi tindakan menjelaskan arti - indentifikasi kesiapan kesiapan dan kemampuan menerima
pada anggota keperawatan hipertensi informasi
kelaurga selama 1-2 x - Mampu - indentifikasi faktor — faktor yang dapat meningkatkan dan
kunjungan rumah menjelaskan menurunkan motivasi perilaku hidup bersihdan sehat
diharapkan penyebab T:
pengetahuan hipertensi - sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
keluarga tentang - Mampu - jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
hipertensi menjelaskan - berikan kesempatan untuk bertanya
meningkat tanda dan gejala E:
hipertensi - jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
- Mampu - ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
menyebutkan - ajarkan strategi yang dapat di gunakan untuk meningkatan
cara pencegahan perilaku hidup bersih dan sehat
hipertensi
2. Sikap - Mampu
menyebutkan
salah satu
komplikasi dari
hipertensi

- Keluarga mampu
3. Perilaku untuk memutuskan
tindakan yang tepat
untuk mengatasi
masalah hipertensi
dengan membawa
anggota keluarga
yang sakit berobat
ke Rs atau
puskesmas

2 Keluarga mamapu
mengenal Risiko Setelah Pengetahuan - Keluarga mampu O:
perfusi perifer dilakukantindakan merawat anggota - peiksa sirkulasi perifer misal , nadi perifer, edema , penngisian
tidak efektif keperawatan keluarga yang kapiler , warna , suhu , ankle brachial index
selama 1-2 x sedang sakit. - indetifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi , misal diabetes ,
kunjungan rumah - Keluarga mampu perokok , orang tua , hipertensi dan kadar kolesterol
diharapkan Risiko menentukan T:
perfusi perifer status nutrisi /gizi - hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area
tidak efektif dapat sesuai dengan keterbatasan perfusi
dicegah. standar kesehatan - hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan
yang mengalami keterbatasan perfusi
hipertensi - hindari penekanan dan pemasangan tourniquet pada area yang
- Keluarga mampu cedera
mengontrol emosi - lakukan pencegahan infeksi
dan menata stress - lakukan hidrasi
E:
- hancurkan berhenti merokok
- anjurkan berolahraga rutin
Sikap - Keluarga dan - anjurkan minum obat penurun tekanan darah tinggi
klien mampu - anjurkan minum obat pengontrol tekanan darah tinggi secara
menyebutkan teratur
penyebab - ajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi
terjadinya
peningkatan
tekanan darah
- Keluarga mampu
menyebutkan
tanda
peningkatan
tekanan darah
- Keluarga mampu
menyebutkan
akibat yang
mungkin terjadi
dari peningkatan
tekanan darah.

Perilaku - Keluarga
amampu
merawat anggota
keluarga dengan
mengontrol
makanan yang
harus dipantangi
Keluarga

1. mampu
memanfaatkan
fasilitas
pelayanan
kesehatan yang
telah terseida
IV. TINDAKAN KEPERAWATAN KELUARGA
NO DIAGNOSA HARI PELAKSANAAN TINDAKAN TANDA
KEPERAWATAN KELUARGA /TANGGAL TANGAN
1 Kurang pengetahuan tentang manajemen Rabu , 10 juni 2020 Rika putri
O:
1 hipertensi penyebab kurang terpapar
- indentifikasi kesiapan kesiapan dan kemampuan
informasi menerima informasi
- indentifikasi faktor — faktor yang dapat meningkatkan
dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersihdan
sehat
T:
- sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
- jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
- berikan kesempatan untuk bertanya
E:
- jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi
kesehatan
- ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
- ajarkan strategi yang dapat di gunakan untuk
meningkatan perilaku hidup bersih dan sehat

2 Rabu , 10 juni 2020 O:


Risiko perfusi perifer tidak efektif tentang - peiksa sirkulasi perifer misal , nadi perifer, edema ,
Rika putri
arterosklerosis penyebab hipertensi penngisian kapiler , warna , suhu , ankle brachial index
- indetifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi , misal
diabetes , perokok , orang tua , hipertensi dan kadar
kolesterol
T:
- hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di
area keterbatasan perfusi
- hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas
dengan keterbatasan perfusi
- hindari penekanan dan pemasangan tourniquet pada
area yang cedera
- lakukan pencegahan infeksi
- lakukan hidrasi
E:
- hancurkan berhenti merokok
- anjurkan berolahraga rutin
- anjurkan minum obat penurun tekanan darah tinggi
- anjurkan minum obat pengontrol tekanan darah tinggi
secara teratur
- ajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi

V. EVALUASI
NO HARI / DIAGNOSA KRITERIA EVALUASI TANDA
TANGGAL KEPERAWATAN KELUARGA TANGAN
1 Rabu , 10 juni Kurang pengetahuan tentang S: Rika putri
2020 manajemen hipertensi penyebab Keluarga Tn. E mengatakan belum mengerti
tentang pengertian hipertensi, Penyebab
kurang terpapar informasi
hipertensi , Tanda dan gejala hipertensi
,Pencegahan hipertensi , Komplikasi hipertensi

O:
- Keluarga kooperatif
- Keluarga aktif bertanya saat diskusi
- Keluarga dan klien binggung menyebutkan
penyebab terjadinya peningkatan tekanan
darah
- Keluarga binggung menyebutkan tanda
peningkatan tekanan darah
- Keluarga binggung menyebutkan akibat
yang mungkin terjadi dari peningkatan
tekanan darah.

A:
Tujuan tercapai sebagian

P : intervensi di lanjutkan

Kamis, 11 juni Kurang pengetahuan tentang S: Rika putri


manajemen hipertensi penyebab Keluarga Tn. E mengatakan mengerti tentang
2020
pengertian hipertensi, Penyebab hipertensi ,
kurang terpapar informasi Tanda dan gejala hipertensi ,Pencegahan
hipertensi , Komplikasi hipertensi

O:
- Keluarga kooperatif
- Keluarga aktif bertanya saat diskusi
- Keluarga dan klien mampu menyebutkan
penyebab terjadinya peningkatan tekanan
darah
- Keluarga mampu menyebutkan tanda
peningkatan tekanan darah
- Keluarga mampu menyebutkan akibat yang
mungkin terjadi dari peningkatan tekanan
darah.

A:
Tujuan tercapai

P : intervensi di hentikan

2. Rabu , 10 juni Risiko perfusi perifer tidak efektif Rika putri


2020 tentang arterosklerosis penyebab S:
- Keluarga Tn. E mengatakan belum membawa
hipertensi
Tn. E ke dokter langganannya untuk selalu
kontrol

O:
- Keluarga kooperatif
- Keluarga belum mampu untuk memutuskan
tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah
hipertensi dengan membawa anggota keluarga
yang sakit berobat ke puskesmas atau dokter
praktik swasta
- Keluarga belum mampu merawat anggota
keluarga yang sedang sakit.
- Keluarga belum mampu menentukan status
nutrisi /gizi sesuai dengan standar kesehatan
yang mengalami hipertensi
- Keluarga belum mampu mengontrol emosi
dan menata stress
A:
Tujuan Tercapai sebagian

P : intervensi di lanutkan

Kamis, 11 juni Rika putri


S:
2020 Risiko perfusi perifer tidak efektif - Keluarga Tn. E mengatakan belum membawa
Tn. E ke dokter langganannya untuk selalu
tentang arterosklerosis penyebab
kontrol
hipertensi
O:
- Keluarga kooperatif
- Keluarga mampu untuk memutuskan tindakan
yang tepat untuk mengatasi masalah hipertensi
dengan membawa anggota keluarga yang sakit
berobat ke puskesmas atau dokter praktik
swasta
- Keluarga mampu merawat anggota keluarga
yang sedang sakit.
- Keluarga mampu menentukan status nutrisi
/gizi sesuai dengan standar kesehatan yang
mengalami hipertensi
- Keluarga mampu mengontrol emosi dan
menata stress

A:
Tujuan Tercapai

P : intervensi di hentikan
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Setelah penulis membahas asuhan keperawatan dengan perbandingan antara


teori dan kasus, kemudian penulis dapat mengambil kesimpulan dan saran
sebagai berikut: Hipertensi atau yang biasa disebut tekanan darah tinggi
merupakan peningkatan tekanan darah sistolik di atas batas normal yaitu lebih
dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg.

Saat pengkajian semua anggota keluarga Tn. E berkumpul, sehingga penulis


dapat melakukan pengkajian wawancara tatap muka pada semua anggota
keluarga. Di dapatkan kesenjangan di dalam pengkajian yaitu Tn. E tidak benar-
benar mengetahui hipertensi yang diderita salah satu anggota keluarganya.

Diagnosa yang penulis gunakan yaitu defisit pengetahuan dan Risiko perfusi
perifer tidak efektif pada keluarga Tn. E khususnya Tn . E. Perencanaan secara
umum sesuai dengan landasan teori, dan pada ssaat perencanaan dan skoring
semua keluargaterlibat. Dalam pelaksanaan semua anggota keluarga terlibat
dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Evaluasi keperawatan yang di
dapatkan adalah yaitu deficit pengetahuan pada keluarga Tn. E khususnya Tn .
E yang menderita Hipertensi dapat tercapai sebagian sesuai dengan
perencanaan.
4.2 Saran
Dari kesimpulan yang telah didapat, penulis menganggap perlu adanya
peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan terkhusus dalam memberikan
informasi pada masyarakat luas mengenai beragam penyakit agar dalm
penatalaksanaan keperawatan keluarga dapat lebih optimal.

1. Untuk penulis
Dalam penerapan asuhan keperawatan diharapkan mahasiswa dapat
melakukan pengkajian yang lebih lengkap untuk mendapatkan hasil yang
optimal dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang kompeten bagi
pasien.
2. Untuk Institusi
Diharapkan kepada institusi untuk melengkapi buku-buku sebagai referensi
dengan tahun penerbitan yang terbaru dengan masalah-masalah yang
berhubungan dengan masalah diatas, sehingga dapat memudahkan mahasiswa
dalam penyusunan penulisan laporan selanjutnya.
3. UntukK eluarga
Diharapkan dapat menjaga pola hidup sehat dan pola makan sesuai dengan
pembahasan, serta mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terjangkau
dan ekonomis seperti puskesmas, klinik ataupun Rumah sakit.
Daftar Pustaka
Achjar, Komang Ayu Heni. (2010). Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan
Keluarga. Jakarta: Sagung Seto.

Ahmad, N. 2011. Cara Mudah Mencegah Mengobati Asam Urat dan Hipertensi,
Dinamikamedia. Jakarta.

Anies. 2006. Waspada Ancaman Penyakit Tidak Menular. Jakarta: PT.Elex


Media
Komputindo

Ali, Zaidin. 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.

Casey A dan Benson H., 2012. Panduan Harvard Medical School : Menurunkan
Tekanan Darah, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer

Fauzi, Isma. 2014. Buku Pintar Deteksi Dini Gejala, & Pengobatan Asam Urat,
Diabetes & Hipertensi. Yogyakarta: Araska.

Pudiastuti, R. D. 2011. Penyakit Pemicu Stroke. Yogyakarta: Nuha Medika.

Ramayulis. (2008). Menu dan Resep Untuk Penderita Hipertensi, Penebar Plus.
Jakarta.

Setiati, Siti. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Ed. VI. Jakarta:
Interna Publishing.

Setiawati, Santun dan Agus Citra dermawan.2008. Penuntun Praktik Asuhan


Keluarga. Edisi 2 . Jakarta: Trans Info Medika.

Susanto, Tantut. (2012). Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Aplikasi Teori Pada
Praktik Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: Trans Info Media.

Triyanto, Endang. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi


Secara Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan


Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI
STIKES RS. BAPTIS KEDIRI
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : penyakit kardiovaskuler


Sub Pokok Bahasan : hipertensi
Sasaran : keluarga Tn . E
Hari/Tanggal : rabu / 3 Juni 2020
Waktu :19. 00 WIB
Tempat : Di rumah keluarga Tn . E
Penyaji :Rika putri p

I. Latar Belakang
Hipertensi adalah suatu penekanan darah sistolik — diastolik yang tidak
normal. Batas sistolik 140 — 190 mmHg dan diastolik 90 — 95 mmHg yang
merupakan garis batas hipertensi

II. Tujuan Umum :


Setelah dilakukan penyuluhan keluarga Tn. E diharapkan mampu
memahami tentang penyakit hipertensi dan penanganannya.
............... ..................... ................................................
.........................................................................................
III. Tujuan Khusus :
1. KeluargaTn. E dapat memahami pengertian hipertensi dan
klasifikasinya.
2. KeluargaTn. E dapat mengenal tanda — tanda dan gejala hipertensi
3. KeluargaTn. E dapat mengetahui penyebab hipertensi
4. KeluargaTn. E dapat mengetahui komplikasi / bahaya yang dapat
ditimbulkan
5. KeluargaTn. E dapat memahami pencegahannya dan diet pada
hipertensi
IV. Materi
Terlampir
V. Metode
Ceramah
VI. Media
Lembar balik
VII Rencana Kegiatan Penyuluhan
No Tahap Kegiatan Kegiatan Penyaji Kegiatan Peserta Media
1 Pembukaan  Salam pembuka Memperhatikan Ceramah dan
(5 menit)  Menjelaskan mendengarkan dan tanya jawab
maksud dan tujuan menjawab pertanyaan
penyuluhan.
 Memberi
pertanyaan perihal
yang akan
disampaikan
2 Penyajian Menyampaikan materi Memperhatikan dan Ceramah
(5 Menit ) : mendengarkan keterangan membagikan
 Menjelaskan leafleat
pengertian
hipertensi dalam
kehamilan
 Menyebutkan
klasifikasi
hipertensi
 Menjelaskan
faktor resiko
dalam kehamilan
Menjelaskan
penyebab
hipertensi
 Menjelaskan
pencegahan dari
penyakit hipertensi
dalam kehamilan
 Menjelaskan diet
bagi penderita
hipertensi
3 Penutup  Memberikan Bertanya Tanya jawab
( 5 menit ) kesimpulan Menjawab pertanyaan
bertanya pada penyuluhan
Keluarga
 Mengevaluasi
hasil penyuluhan
dan salam
VIII. Evaluasi
KeluargaTn. E sudah mengerti pengertian hipertensi dan
klasifikasinya., dapat mengenal tanda — tanda dan gejala hipertensi ,
mengetahui penyebab hipertensi , dan mengetahui komplikasi / bahaya yang
dapat ditimbulkan , dan sudah memahami pencegahannya dan diet pada
hipertensi

IX. Daftar Pustaka


Udjianti, Wajan Juni. (2011). Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta : Salemba
Medika
Herdman T.Heather. 2015. Diagnosa Keprawatan. Jakarta : EGC

Mengetahui, Kediri, 3 Juni 2020


Pembimbing Keperawatan Keluarga Mahasiswa,

(...................................................) ( RIKA PUTRI PERMATA )


STIKES RS. BAPTIS KEDIRI
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA
LEMBAR HEALTH EDUCATION (HE) / PENYULUHAN KESEHATAN

Diagnosa Keperawatan : Hipertensi Sasaran Penyuluhan : Keluarga Tn . E


Sub Pokok Bahasan : Hipertensi Hari/Tanggal :rabu , 3 juni 2020
Tempat : rumah Keluarga Tn . E
NO TUJUAN INSTRUKSIONAL AVA/
UMUM KHUSUS RINCIAN MATERI EVALUASI
. METODE*
1 Setelah di lakukan Setelah di lakakukan 1. pengertian leaflet S: Tn E sudah bisa mejelaskan
mengenai pengertian hipertensi .
penyuluhan kegiatan penyuluhan hipertensi adalah suatu penekanan darah
penyebab . dan tanda gejala hipertensi
diharapkan Keluarga di harapkan Tn . E sistolik — diastolik yang tidak normal. Batas .
TN . E dapat dapat menjelaskan sistolik 140 — 190 mmHg dan diastolik 90
O:
memahami tentang 1. Pengertian — 95 mmHg yang merupakan garis batas -  Keluarga kooperatif dan aktif
saat dijelaskan.
Hipertensi hipertensi hipertensi.
- Keluarga mendengarkan
2. Penyebab 2. penyebab hipertensi : penjelasan yang diberikan.
-
hipertensi  keluarga dengan riwayat hipertensi
A:Masalah teratasi
3. Gejala dan tanda  pemasukan sodium yang berlebihan P: intervensi di hentikan
hipertensi  konsumsi kalori yang berlebihan
4. Cara pencegahan
 kurangnya aktifitas fisik
 pemasukan alkohol yang berlebihan
 kurangnya potasium

3. Tanda dan gejala hipertensi


1. Kelelahan
2. Bingung
3. Mual
4. Muntah
5. Ansietas
6. Keringat berlebihan
7. Tremor
8. Nyeri dada
9. Pandangan kabur
10. Telinga berdenging (tinitus)
Keterangan:
* AVA/ Metode disesuaikan dengan pada saat pemberian HE dapat berupa leaflet, lembar bolak-balik atau metode lain.

Mengetahui, Kediri, Rabu , 3 juni 2020


Pembimbing Keperawatan Keluarga Mahasiswa

(................................................) (RIKA PUTRI PERMATA )


1. Tidak diketahui penyebabnya / keturunan Pusing
( hipertensi primer ) Rasa berat di tengkuk
Faktor — faktor resiko : Sukar tidur
ras / suku bangsa Rasa mudah lelah
umur Cepat marah
Oleh : kegemukan Telinga berdenging
RIKA PUTRI PERMATA asupan garam yang tinggi Mata berkunang — kunang
riwayat HT dalam keluarga Sesak napas
stress Gangguan penglihatan
merokok Mimisan
stikes rs. Baptis kediri banyak minum alkohol

APA DAN BAGAIMANA HIPERTENSI 2. Disebabkan oleh penyakit lain


(TEKANAN DARAH TINGGI) ( hipertensi skunder )
Antara lain penyakit :
Hipertensi adalah : Ginjal
Tekakan darah sistolik ³ 140 mmHg dan Saraf
tekanan darah diastolik ³ 90 mmHg. Tumor Perubahan gaya hidup antara lain dengan:

Suatu peningkatan tekanan darah sistolik Keracunan


dan / atau diastolik yang tidak normal. dll
- Penurunan berat badan (bila kegemukan)
- Pengurangan asupan garam (diit rendah
garam)
- Menghindari faktor resiko : merokok,
minum beralkohol, makanan berlemak,
stress
- Aktifitas fisik/jalan sehat

Gangguan jantung
Gangguan otak
Gangguan penglihatan
Gangguan ginjal
Dll.

Berobat / kontrol secara teratur ke fasilitas


kesehatan (Puskesmas, RS, Dokter Praktek)

Common questions

Didukung oleh AI

Hypertension is described as a persistent increase in blood pressure, with primary causes including genetics, lifestyle, and stress. Risk factors involve obesity, inactivity, excessive salt intake, smoking, and alcohol consumption. Understanding these factors is crucial for prevention and management. Families are encouraged to adopt healthier lifestyles, such as exercising regularly and modifying diets to mitigate these risks and improve overall health outcomes .

The document highlights the necessity for families to adapt their roles and relationships as members age. It involves embracing changes such as declining physiological functions and preparing for the loss of loved ones. Supporting middle and older generations, redistributing family roles wisely, and ensuring adequate space for wisdom and experience are essential for this adaptation, encouraging continued family cohesion despite personal losses .

The document identifies several stages: family formation begins with marriage, facing childbirth involves preparing for descendants, dealing with infants requires care and love, and handling preschool children involves introducing social life and instilling norms. Managing school-age children focuses on education and preparation for the future, while handling teenagers requires maintaining communication as children seek identity. The transition into society involves encouraging young adults to establish their households, and the return to a couple involves dealing with emptiness after children leave, culminating in old age where individuals prepare for life's end .

Maintaining a balance between family income and expenditure is crucial for family well-being, as it ensures the sustainability and growth of family life. Economic stability allows families to meet daily needs, prepare for emergencies, and invest in the future. Proper management of finances contributes to harmony and minimizes financial stress, fostering a conducive environment for a 'small, happy and prosperous family' .

Family history significantly influences hypertension risk due to genetic predispositions. Management requires proactive measures like regular monitoring, dietary adjustments, physical activity, and stress management to mitigate genetic risks. Early interventions can help deter complications, making understanding family history crucial in preventive health strategies .

A family’s role in environmental preservation positively impacts the larger community by promoting sustainable practices such as conservation and responsible usage of resources. Families facilitate this through fostering awareness and adopting practices that maintain harmony with their surroundings, encouraging community involvement in environmental efforts, and instilling these values in children, thus contributing to broader societal changes .

Family members should recognize and decide on appropriate health actions, provide care for sick or incapacitated members, maintain a conducive home environment for health, and ensure beneficial relationships with healthcare institutions. Effective health management in the family includes using healthcare facilities properly and maintaining reciprocal communication with health services .

Healthy reproduction involves practicing guidelines related to birth timing, spacing between children, and desired family size. It enhances the conducive development of a healthy reproductive life, acting as a foundation for a small, happy, prosperous family. By responsibly managing reproductive health, families can avoid excessive stress and financial strain, ensuring resources and attention for each child's development, thus contributing positively to the family environment .

Environmental preservation is prioritized by fostering awareness, attitudes, and practices for internal and external family environments. Families are encouraged to maintain harmony between home and community surroundings, integrating environmental care into everyday life. This approach aligns with the goal of creating a small, prosperous, happy family by ensuring a sustainable and balanced living environment .

Primary hypertension lacks a clear cause and involves factors like age, psychological stress, and hereditary influences, while secondary hypertension results from identifiable causes such as kidney diseases or hormonal imbalances. Distinguishing between them is clinically significant as it directs treatment strategies; secondary hypertension may require specific interventions beyond lifestyle changes .

Anda mungkin juga menyukai