Anda di halaman 1dari 23

KOMUNITAS II Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak NS Dengan Diagnosa Hipertensi Di Banjar Pesalakan Pejeng Kangin, Gianyar

Oleh
Ni Made Desy Pariani NIM: 11.321.1146 Kelas: A5C

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI POGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN 2013

Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak Ns. dengan Hipertensi di Br. Pesalakan, Pejeng Kangin, Gianyar (Pertemuan ke-1 tanggal 17 September 2013)

A. PENGKAJIAN Pegkajian dilakukan pada hari selasa 17 September 2013. I. Data Umum 1. Identitas kepala keluarga a. Nama KK b. Alamat c. Pekerjaan d. Pendidikan e. Umur : Bapak NS. : Br. Pesalakan, pejeng kangin, Gianyar. : Petani : Tidak sekolah : 78 tahun

2. Komposisi keluarga Nama Umur (tahun) MS 72 P Sex Hubungan dengan keluarga Istri Tidak sekolah WS NW 31 31 L P Anak kandung Menantu SMA D3 pariwisata Wiraswasta Sehat Wiraswasta Sehat Petani Sakit Pendidikan Pekerjaan Ket.

3. Genogram

NS 78 hipertensi

th,

MS

72th,buta

WS, 31th , sehat

NW ,se hat sehat

Keterangan: : laki-laki

: Kawin

: klien : wanita

: tinggal 1 rumah

: meninggal

4. Tipe keluarga Bapak NS memiliki tipe keluarga extended family, yaitu keluarga luas terdiri dari lebih dari satu kepala keluarga dalam satu rumah. 5. Suku Suku bapak NS dan keluarga adalah Suku Bali. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh bapak NS dan keluarga adalah bahasa Bali. Tidak ada kebiasaan suku yang mempengaruhi kesehatan bapak NS.

6. Agama Bapak NS Bergama Hindu dan semua anggota keluarga di rumahnya menganut agama Hindu. Bapak NS biasa bersembahyang sehari sekali di rumah bersama keluarga, yaitu pada malam hari.

7. Status social dan ekonomi a. Rata-rata penghasilan keluarga Rata-rata penghasilan keluarga adalah 5-6 juta perbulan. b. Jenis pengeluaran keluarga Keluarga bapak NS mengatan jenis pengeluaran tiap bulannya adalah untuk keperluan makan-minum, transportasi, biaya listrik dan asuransi kesehatan c. Tabungan khusus Bapak WS dan ibu NW memiliki tabungan khusus berupa asuransi kesehatan. 8. Aktivitas rekreasi Bapak NS mengatakan rekreasi dengan menonton tv bersama keluarga sering dilakukan dan rekreasi ke tempat wisata seperti pantai, pasar malam, danau, kurang lebih dilakukan sebulan sekali bersama keluarganya.

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga 1. Tahap perkembangan keluarga saat ini Bapak NS mengalami tahap perkembangan keluarga masa pensiun dan lansia. Adapun tugas keluarga dengan tahap perkembangan ini adalah sebagai berikut: a. Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti c. Para orang tua dan lansia, memperkokoh hubungan perkawinan d. Menjaga keintiman e. Merencanakan kegiatan yang akan datang f. Memperhatikan kesehatan masing-masing pasangan, g. Tetap menjaga komunikasi dengan anak-anak. 2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi Tidak ada tahap perkembangan yang belum terpenuhi.

3. Riwayat keluarga inti Bapak NS mengatakan dirinya menikah karena keinginan berdua dan tidak karena dijodohkan. Bapak NS mengatkan saudara kandungnyanya menderita hipertensi dan ada yang menderita hipertensi. 4. Riwayat keluarga sebelumnya Bapak NS memiliki hipertensi dan sempat 3x menjalani rawat inap di rumah sakit karena tekanan darahnya yang tinggi serta mengalmi retensi urine yang kemudian dipasang cateter oleh dokter. Setelah dinyatakan boleh pulang oleh dokter dan diberi sejumlah obat untuk dikonsumsi selama dirumah namun kondisi Bapak NS belum sehat. Bpak NS masih mengeluhkan beberapa gejala penyakit seperti, kaku kuduk, sakit kepala, kaki terasa dingin dan perut terkadangterasa nyeri dan dada terkadang seperti terbakar. Istri bapak NS, yaitu ibu MS mengalami kebutaan sejak 14tahun lalu. Pasien sempat melakukan pengobatan medis dan alternatif namun tidak berhasil. Setah 2 tahun menjalani pengobatan yang tidak menunjukan kemajuan akhirnya pengobatan dihentikan, walaupun ibu NS mengalmi kebutaan tapi masih bisa melakukan ADL tanpa bantuan orang lain. Ibu NS beraktivitasdibantu sebuah tongkat. Tiga kakak kandung dari bapak NS yaitu bapak WK(alm), bapak KS(alm), dan ibu JS(alm) memiliki riwayat dirawat di rumah sakit karena hipertensi. Anak tertua bapak NS meninggal karena kanker payudara.

III. Lingkungan 1. Karakteristik rumah Rumah bapak NS luasnya 12are. Bentuk bangunan adalah tradisional Bali, yaitu terdiri dari beberapa bangunan yang memiliki fungsi berbeda sesuai lokasinya. Ventilasi dari setiap bangunan bagus karena setiap kamar memiliki jendela. Setiap bangunan, dan halaman kebersihan terjaga dan mendapat sinar matahari yang cukup. Air yang dipakai untuk memasak, minum serta mandi adalah air PDAM yang kebersihannya terjaga. Keluarga bapak NS memiliki tempat pembuang sampah di halaman belakang rumahnya dan rutin di bakar 2kali seminggu. Sanitasi limbah

rumah tangga terjaga. Kamar bapak NS dan ibu MS cukup jauh jaraknya dengan kamar mandi, lantai kamar mandi cukup licin, penerangan kamar mandi redup.
U

3 2

4 3 5
Keterangan: 1: tempat ibadah 2: tempat pertemuan 3: tempat tidur 4: dapur

3 5

5: kamar mandi

2. Karakteristik tetangga dan komunikasi. Tetangga bapak NS dalam satu gang adalah suku bali dan menggunakan bahasa Bali jadim komunikasi berlangsung efektif. Hubungan bapak NS dan seluiruh keluarga dengan tetangga sangat baik. Setiap keluarga bapak NS memiliki acara seperti pernikahan, upacara agama tetangga selalu datang membantu, saat ada

anggota keluarga yang sakit tetangga mengujunginya begitu pula sebaliknya. Jika ada permasalahan maka akan diselesaikan secara kekeluargaan engan diskusi segera. 3. Mobilitas geografis Bapak NS tidak pernah bermukim berpindah, jadi tidak memiliki masalah dengan mobilitas geografis yang mengganggu kesehatannya. 4. Perkumpulan keluarga dan interaksi

Bapak NS, tidak mengikuti organisasi secara aktif. Bapak Ns hanya terlibat dalam kegiatan banjar seperti ngayah, ngoopin (membantu dalam upacara di rumah tetangga atau saudara). Ibu MS juga tidak mengikuti organisasi apapun dan juga tidak terlibat dalam kegiatan banjar karena keterbatasan fisik untuk mobilisasi, namun interaksi dalam komunikasi ibu MS bisa berkomunikasi dua arah dan ada feedback. Bapak WS mengatakan sebelum menikah aktif dalam organisasi sekha terunateruni dan sekha gong, karena telah menikah bapak WS hanya aktif di sekha gong saja. Komunikasi dan interaksi dengan keluarga, tetangga ataupun masyarakat sangat baik. Ibu NW mengatatakan dirinya sangat aktif di kegiatan sekha muda-mudi namun setelah menikah berhenti di organisasi tersebut dan mulai aktif di dalam organisasi PKK. Komunikasi dan interaksi Ibu Nw dengan keluarga, tetangga, ataupun masyarakat sangat baik. Jika dirinya libur bekerja dia akan mengunji kerabat di sekitar desanya untuk sekedar bersilaturmi dan bercanda dengan keponakankeponakanya.. 5. System pendukung keluarga Bila ada permasalahan dalam kelurga maka bapak NS akan mmembicarkan terlebih dahulu dengan keluarga besarnya, terutama keponakan-keponakan dari bapak NS yang dirasa mampu member option pemecahan serta membberi solusi dalam setiap permasalahan baikm dibidang ekonomi, kesehatan, agama, social dan pendidikan. IV. Struktu keluarga 1. Pola komunikasi Bapak NS dan keluarga biasa menggunakan komunikasi secara verbal yang berlangsung dua arah. Setiap anggota keluarga memiliki hak untuk memyampaikan pendapat, mengajukan saran serta menolak termasuk anak-anak. Keluarga bapak NS biasa melakukan rembug(rapat keluarga) untuk memutuskan suatu masalah. 2. Struktur kekuatan keluarga Bapak NS merupakan tipe keluarga luas, jika salah satu anggota keluarga ada membutuhkan bantuan misal financial dan kesehatan maka keluarga inti akan

mengusahakan terlebih dahulu meminta bantuan pada keluarga yang berada satu rumah. 3. Struktrur peran a. Bapak NS sebagai kepala keluarga, dianggap sebagai orang tertua yang berhak menimbang serta mengambil keputusan dari setiap saran di keluarga. Karena faktor usia yang sudah pensium dan terbatas oleh penyakit bapak NS tidak sebagai pencari nafkah b. Ibu MS tidak dapat menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga karena kondisi fisik yang tidak dapt melihat yang mengakibatkan keterbatasan dalam menjalani peran sebagai rumah tangga. c. Bapak WS berperan sebagai pencari nafkah utama keluarga dan berbagi pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah dengan istri. d. Ibu NM berperan sebagai istri yaitu memasak, membersihkan rumah dan membantu mencari nafkah. 4. Nilai dan norma keluarga Dalam keluarga bapak NS tidak ada nilai dan norma khusus yang diterapkan, hanya saja jika anggota keluarga tidak pulang/menginap diharapkan memberitahu anggota keluarga agar tidak muncul kekhawatiran dalam keluarga. V. Fungsi keluarga a. Fungsi afektif Bapak Ns dan keluarga biasa mengungkapkan kasih sayang demngan tindakan dan kata-kata. Saling member dukungan serta mau menerima kelemahan anggota keluarga. Jika ada anggota yang memilliki masalah atau kesusahan anggota keluarga lain akan berempati dan membatu menyelesaikannya. b. Fungsi sosialisasi Bapak NS sejak kecil meng ajarkan anaknya untuk aktif bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Anggota keluarga diberikan kebebebasan dalam bergaul namun dalam batasan wajar yang masih layak dalam norma seperti penggunaan bahasa yang sopan, tindakan yang tidak merugikan orang lain serta aturan lain seperti jika ada salah satu anggota keluarga

yang menginap dirumah teman harus meminta ijin atau menginformasikan kepada keluarga. c. Fungsi reproduksi Keluarga bapak NS selalu mengingatkan kepada anak dan menantunya untuk mempertimbangakan jumlah anak yang akan dilahirkan serta jarak kelahiran anak karena berkaitan perkembangan anak dan agar kedepanya tidak merugikan anak ataupun orang tua. d. Fungsi ekonomi Dalam pemenuhan ekonomi bapak WS yang bertugas sebagai pencari nafkah utama dan ibu NW sebagai pencari nafkah membantu suami. Bapak NS yang bekerja sebagai petani semenjak sakit tidak melakukan aktivitas bertani lagi. Bapak WS yang bekerja sebagai wiraswasta mendapt gajih setiap bulannya 2,5-3juta perbulan sedangkan istrinya ibu NW, mendapat gajih 2-2,7 juta perbulan. Tanggung jawab keungan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti makan, listrik air ditanggung bersama. e. Fungsi perawatan kesehatan Bapak NS dan keluarga mengatatkan hanya mengetahui sedikit tentang hipertensi. Bapak NS dan keluarga sering menyebut hipertensi dengan tensi tinggi. Namun karena kurangnya informasi, menjadikan pengetahuan keluarga bapak NS mengenai pengertian, penyebab, serta tanda dan gejala masih minimal. Mereka

mengatakan tidak tahu cara untuk mencegah meski sudah pernah dirawat di RS. Setiap bapak NS merasakan tidak enak badan yang tidak bisa di tahan atau dimanajemen lagi maka keluarga langsung membawa bapak NS ke dokter begitu pula dengan anggota kleuarga lain. Pemanfataan layanan puiskesmas, pengobatan alternative dan dukun tidak dilakukan oleh bapak NS dan keluarga karena pandangan dokter umum, dokter spesialis dalam dan rumah sakit lebih menjamin pengobatan merekua. Saat pengkajian bapak NS menunjukan obat anti hipertensi yang dikonsumsinya, yaitu dieuritik. Karena sibuk bekerja bapak WS dan ibu NW, bergantian menjaga bapak NS. Ibu NW bertugas membatu menyiapkan makan bapak NS, jika bapak NS dan ibu NW waktu bekerjanya bersamaan . maka anak laki-laki dan menantunya yang masih

berada satu rumah akan merawat bapak NS. Untuk ADL bapak NS melakukan sendiri, hanya jika bapak NS dirawat di rumah sakit maka ditunggui oleh anggota keluara. Pemanfaatan lingkungan dan keluarga dalam proses penyembuhan bapak NS masih sangat kurang. Pengonsumsian kopi yang pekat masih dilakukan oleh bapak NS dengan alasan sewaktu di RS dokter mengatkan bapak NS bebas mengonsumsi makanan apapun.

VI. Stress dan koping keluarga 1. Stressor jangka pendek dan panjang serta kekuatan keluarga Bapak NS mengatakan dirinya tidak pernah mengalami masalah yang membuatnya stress atupun mengganggu aktivitasnya. Jika bapak NS merasa kesal pada seseorang atau suatu hal mak ia akan menjadikannya bahan bercandaan dan melupakannya. Bapak NS mengatakan dirinya sering menonton tv bersama cucucucunya, karena hal tersebut dapat membuatnya merasa senang. Ibu MS mengatakan jika dirinya kesal maka ia akan melakukan aktivitas mejejaitan dan mekidung. Ibu MS sering didatangi oleh anak perempuan dan kerabatya jadi ia sering menceritakan masalahnya sehingga masalahnya tidak dirasakan lama. Bapak WS dan ibu NW bila memiliki masalah akan mencari solusi dengan berttukar pendapat dengan anggota keluarga serta teman-temannya. Untuk pengalihan mereka memilih jalan-jalan ke tempat wisata atau sekedar ke rumah makan yang jaraknya dekat dari rumah.

VII. Pemeriksaan fisik Aspek TB dan BB Bapak NS TB: 176cm BB: 72kg Vital sign TD: 150/100mmHg S: 35,8oC Ibu MS TB: 147cm BB: 43kg TD: 110/60mmHg S: 36,4oC Bapak WS TB: 172cm BB: 78kg TD: 120/80mmHg S: 36,7oC Ibu NW TB: 154cm BB: 51kg TD: 120/80mmhg S: 36oC RR: 17x/menit

RR: 24x/menit N: 93x/menit Kepala a. Bentuk kepala normo chepal, tidak terlihat adanya lesi, kebersihan rambut terjaga, tidak terlihat adnya ketombe, rambut beruban, tidak terlihat adanya benjolan, bapak NS mengeluhkan nyeri pada kedua sisi dahi. b. Alis dan bulu mata: persebaran bulu alis dan mata merata, warna beruban c. Mata: konjungtiva unanemis, sclera unikterik, pada mata kanan terlihat pengeruhan lensa(katarak), pupil unishokor

RR: 15x/menit N: 69x/menit a.Bentuk kepala normo chepal, tidak terlihat adanya lesi, kebersihan rambut terjaga, tidak terlihat adnya ketombe, rambut beruban, tidak terlihat adanya benjolan, b. Alis dan bulu mata: persebaran bulu alis dan mata merata, warna beruban c. Mata: konjungtiva unanemis, sclera unikterik, pupil unishokor miosis. Tidak teraba nyeri tekan, tidak teraba peningkatan tekanan bola

RR: 18x/menit N: 79x/menit

N: 74x/menit

a. Bentuk kepala a. Bentuk kepala normo chepal, rambut berwarna hitam, tidak terlihat adanya lesi, kebersihan rambut terjaga, tidak terlihat adnya ketombe, tidak terlihat adanya benjolan. b. Alis dan bulu mata: persebaran bulu alis dan mata merata, warna hitam. c. Mata: konjungtiva unanemis, sclera unikterik, pupil ishokor miosis 3-3. Tidak teraba nyeri tekan, normo chepal, warna rambut hitam, tidak terlihat adanya lesi, kebersihan rambut terjaga, tidak terlihat adnya ketombe, tidak terlihat adanya benjolan, Alis dan bulu mata: persebaran bulu alis dan mata merata, warna hitam b. Mata: konjungtiva unanemis, sclera unikterik, pupil ishokor miosis 3-3. Tidak teraba nyeri tekan, tidak teraba peningkatan tekanan bola mata.

miosis. Tidak teraba nyeri tekan, tidak teraba peningkatan tekanan bola mata. d. Hidung: terlihat simetris, persebaran bulu hidung merata, tidak terlihat adanya polip. Tidak teraba nyeri tekan pada sinus ethmoidalis, spleinoidalis, dan maxilaris. e. Mulut dan bibir: kebersihan mulut terjaga, tidak terlihat adanya caries, terlihat 2 gigi tanggal. Mukosa bibir lembab, tidak terlihat adanya pembengkakan tonsil. f. Telingga: telinga

mata. d. Hidung: terlihat simetris, persebaran bulu hidung merata, tidak terlihat adanya polip. Tidak teraba nyeri tekan pada sinus ethmoidalis, spleinoidalis, dan maxilaris. e. Mulut dan bibir: bibir dan mulut berwarna merah karena mengonsumsi sirih dan kapur, tidak terlihat adanya caries, terlihat 6 gigi tanggal. Mukosa bibir lembab, tidak terlihat adanya pembengkakan tonsil. f. Telingga: telinga terlihat simetris, telinga

tidak teraba peningkatan tekanan bola mata. d. Hidung: terlihat simetris, persebaran bulu hidung merata, tidak terlihat adanya polip. Tidak teraba nyeri tekan pada sinus ethmoidalis, spleinoidalis, dan maxilaris. e. Mulut dan bibir: kebersihan mulut terjaga, tidak terlihat adanya caries, Mukosa bibir lembab, tidak terlihat adanya pembengkaka n tonsil. f. Telingga: telinga terlihat

c. Hidung: terlihat simetris, persebaran bulu hidung merata, tidak terlihat adanya polip. Tidak teraba nyeri tekan pada sinus ethmoidalis, spleinoidalis, dan maxilaris. d. Mulut dan bibir: kebersihan mulut terjaga, tidak terlihat adanya caries. Mukosa bibir lembab, tidak terlihat adanya pembengkakan tonsil. e. Telingga: telinga terlihat simetris, telinga terlihat bersih, tidak adanya impaksi serumen, tidak teraba nyeri tekan pada area

terlihat simetris, telinga terlihat bersih, tidak adanya impaksi serumen, tidak teraba nyeri tekan pada area lobule,tragus dan

terlihat bersih, tidak adanya impaksi serumen, tidak teraba nyeri tekan pada area lobule,tragus dan

simetris, telinga terlihat bersih, tidak adanya impaksi serumen, tidak teraba nyeri tekan pada area lobule,tragus dan

lobule,tragus dan

Leher

Leher terlihat simetris, tidak terlihat adanya hiper pigmentasi, tidak teraba adanya pembengkakan kelenjar tiroid, teraba nyeri tekan pada tengkuk leher.

Leher terlihat simetris, tidak terlihat adanya hiper pigmentasi, tidak teraba adanya pembengkakan kelenjar tiroid, tidak teraba nyeri tekan

Leher terlihat simetris, tidak terlihat adanya hiper pigmentasi, tidak teraba adanya pembengkakan kelenjar tiroid, tidak teraba nyeri tekan

Leher terlihat simetris, tidak terlihat adanya hiper pigmentasi, tidak teraba adanya pembengkakan kelenjar tiroid, tidak teraba nyeri tekan

Thorax

I:Dada terlihat simetris saat inspirasi maupun ekspirasi, tidak telihat adanya hiperpigmentasi, tidak telihat adanya lesi,

I:Dada terlihat simetris saat inspirasi maupun ekspirasi, tidak telihat adanya hiperpigmentasi, tidak telihat

Dada terlihat simetris saat inspirasi maupun ekspirasi, tidak telihat adanya hiperpigmentasi , tidak telihat

Dada terlihat simetris saat inspirasi maupun ekspirasi, tidak telihat adanya hiperpigmentasi, tidak telihat

tidak terlihat adanya bekas trauma dada. Ictus cordis terlihat di ics 5. A: terdengar suara napas vesikuler. Terdengar suara S1-S2 tunggal lubdub. P: terdengar suara sonor P: tidak teraba adanya nyeri tekan.

adanya lesi, tidak terlihat adanya bekas trauma dada. Ictus cordis terlihat di ics 5. A: terdengar suara napas vesikuler. Terdengar suara S1-S2 tunggal lubdub. P: tidak teraba adanya nyeri tekan. P: tidak teraba adanya nyeri tekan.

adanya lesi, tidak terlihat adanya bekas trauma dada. Ictus cordis terlihat di ics 5. P: tidak teraba adanya nyeri tekan. A: terdengar suara napasvesikuler. Terdengar suara S1-S2 tunggal lubdub. P: tidak teraba adanya nyeri tekan.

adanya lesi, tidak terlihat adanya bekas trauma dada. Ictus cordis terlihat di ics 5. P: tidak teraba adanya nyeri tekan. A: terdengar suara napasvesikuler. Terdengar suara S1-S2 tunggal lubdub. P: tidak teraba adanya nyeri tekan.

Abdomen

I:perut terlihat simetris, tidak terlihat distensi abdomen, tidak terlihat adanya edema. Terlihat adanya benjolan hipocondria dextra A: terdengar bising usus 16x/menit.

I:perut terlihat simetris, tidak terlihat distensi abdomen, tidak terlihat adanya edema. A: terdengar bising usus 13x/menit. P: terdengar suara thympani pada area lambung

I:perut terlihat simetris, tidak terlihat distensi abdomen, tidak terlihat adanya edema. A: terdengar bising usus 9x/menit.

I:perut terlihat simetris, tidak terlihat distensi abdomen, tidak terlihat adanya edema. A: terdengar bising usus 13x/menit.

P: terdengar suara P: terdengar suara thympani pada area lambung thympani pada area lambung

P: terdengar suara thympani pada area lambung dan usus, terdengar suara pekak pada area hepar. P: tidak teraba nyeri tekan pada 9 regio, benjolan pada hipocondria dextra teraba kenyal, ukuran 5cm. benjolan telah ada sejak bapak NS berumur 16 tahun. Ekstremitas Atas: terlihat adanya bekas jahitan pada tangan kanan, kebersihan kuku terjaga, akral teraba dingin, tonus otot tangan kanan dan kiri tidak terdapat masalah. Bawah:

dan usus, terdengar suara pekak pada area hepar. P: tidak teraba nyeri tekan pada 9 regio.

dan usus, terdengar suara pekak pada area hepar. P: tidak teraba nyeri tekan pada 9 regio.

dan usus, terdengar suara pekak pada area hepar. P: tidak teraba nyeri tekan pada 9 regio.

Atas: warna kulit coklat, tidak terlihat adanya hiperpigmentas i, tidak terlihat adanya lesi, kuku terlihat kotor, tonus otot tangan kanan dan kiri tidak terdapat masalah. Bawah:

Atas:warna kulit coklat, kebersihan kuku terjaga, tonus otot tangan kanan dan kiri tidak terdapat masalah. Bawah: kebersihan kaki dan kuku kaki terjaga, tonus

Atas: kulit berwarna coklat, tidak terlihat adanya lesi, bekas trauma, kebersihan kuku terjaga, tonus otot tangan kanan dan kiri tidak terdapat masalah.

kebersihan kaki dan kuku kaki terjaga, kaki dari tibia sampai telapak kaki teraba dingin, tonus otot baik, masih bisa melawan gravitasi dan melawan gaya. Genitalia Tidak terkaji .

kebersihan kuku kaki tidak terjaga, tonus otot baik, masih bisa melawan gravitasi dan melawan gaya.

otot baik, masih bisa melawan gravitasi dan melawan gaya.

Bawah: kebersihan kaki dan kuku kaki terjaga, tonus otot baik, masih bisa melawan gravitasi dan melawan gaya.

tidak terkaji

Tidak terkaji

Tidak terkaji

Kesimpulan: 1. Vital sign bapak NS menujukan maladaptive :TD: 150/100mmHg, S: 35,8oC, RR: 24x/menit, Nadi: 93x/menit 2. Bapak NS merasakan nyeri kepala dan tengkuk leher seperti dipukul benda tumpul, nyeri hilang timbul skala 8 (0-10) 3. Bapak NS mengalami katarak di mata kanannya. 4. Terdapt benjolan pada abdomen bapak NS, benjolan berukuran 5cm, teraba kenyal. 5. Ekstemitas bapak NS teraba dingin 6. Ibu MS mengalmi kebutaan 7. Bapak NS dan keluarga kurang memahi tentang hipertensi, baik pengertian, tanda dan gejala, pencegahan serta perawatannya.

VIII. Harapan keluarga Bapak NS dan keluarga berharap, bapak NS cepat sembuh sehingga bisa beraktivitas bertani seperti dulu. Bapak NS mengatakan dirinya sudah tidak betah hanya dapat berjalan-jalan sedikit dan hanya berbaring di kamar karena merasakan sakit.

B. ANALISA DATA No Nama 1 Data Diagnosa Actual nyeri akut pada bapak NS

Bapak a. Ds: NS

Bapak NS mengatakan memiliki b/d ketidak mampuan keluarga tekanan darah tinggi. bapak NS mengenal masalah d/d pelaporan mengeluhkan nyeri kepala seperti nyeri dirasakan dikepala da dipukul benda tumpul, skala nyeri tengkuk leher secara verbal, skala 8(0-10), nyeri dirasakan hilang nyeri 8(0-10), nyeri dirasakan timbul hilang timbul, benda nyeri tumpul, seperti TD: bapak NS mengatakan merasakan dipukul kaku kuduk. Do:

150/100mmHg, S: 35,8oC, RR: 24x/menit, Nadi: 93x/menit,

TD: 150/100mmHg, S: 35,8oC, ekstremitas teraba dingin. RR: 24x/menit, Nadi: 93x/menit, Ekstremitas teraba dingin. Risiko tinggi jatuh pada bapak NS b/d koping keluarga tidak

b. DS: Bapak NS meneluhkan sakit kepala Keluarga mengetahui perawatannya. DO : Bapak NS mengalami katarak Bapak NS memiliki riwayat mengatakan hipertensi

kurang efektif dan

hipertensi Jarak kamar mandi cukup jauh Kondisi kamar mandi agak lici, penerangan redup TD: 150/100mmHg, S: 35,8oC, RR: 24x/menit, Nadi: 93x/menit, Ekstremitas teraba dingin.

Ibu MS

Ds: Do: Ibu NS mengalami kebutaan Jarak kamar mandi cukup jauh Kondisi kamar mandi agak lici, penerangan redup TD: 110/60mmHg, S: 36,4oC, RR:15x/menit, Nadi : 69x/menit

Risiko tinggi jatuh pada ibu MS b/d koping keluarga tidak efektif

C. PRIORITAS MALAH 1. Actual nyeri akut b/d ketidak mampuan keluarga mengenal masala hipertensi d/d pelaporan nyeri secara verbal oleh bapak NS, nyeri dirasakan dikepala, skala nyeri 8(0-10), nyeri dirasakan hilang timbul, nyeri seperti dipukul benda tumpul, TD: 150/100mmHg, S: 35,8oC, RR: 24x/menit, Nadi: 93x/menit, ekstremitas teraba dingin. Kriteria Sifat masalah Bobot 1x3/3 Skor 3 Pembenaran Pelaporan nyeri dirasakan dikepala secara verbal, skala nyeri 8(0-10), nyeri dirasakan hilang timbul, nyeri seperti dipukul benda tumpul, TD: 150/100mmHg, 24x/menit, S: 35,8oC, RR:

Nadi:

93x/menit,

ekstremitas teraba dingin.

Kemungkinan masalah untuk 2x2/1 diubah

Bapak NS dan keluarga berharap, bapak NS cepat sembuh sehingga bisa beraktivitas bertani seperti dulu. Bapak NS mengatakan dirinya sudah tidak betah hanya dapat berjalan-jalan sedikit dan hanya

berbaring

di

kamar

karena

merasakan sakit.

Potnsi masalah untuk dicegah

1x3/2

3/2

Mereka mengatakan tidak tahu cara untuk mencegah meski sudah pernah dirawat di RS

Menonjolnya masalah

1x2/2

Karena sibuk bekerja bapak WS dan ibu NW, bergantian menjaga bapak NS.

Total Skor

21/2

2. Risiko tinggi jatuh pada ibu MS b/d koping keluarga tidak efektif Kriteria Sifat masalah Bobot 1x2/1 Skor 2 Pembenaran Pelaporan nyeri dirasakan dikepala secara verbal, skala nyeri 8(0-10), nyeri dirasakan hilang timbul, nyeri seperti dipukul benda tumpul, TD: 150/100mmHg. Bapak NS memiliki riwayat Hipertensi, katarak bapak di NS mata

mengalami

kanannya. Jarak kamar mandi cukup jauh, lantai kamr mandi licin,

penerangan redup Kemungkinan masalah untuk 2x2/2 diubah Potensi masalah untuk dicegah Menonjolnya masalah Total Skor 1x3/3 1x1/1 1 1 6 2

3. Risiko tinggi jatuh ibu MS b/d ketidak mampuan keluarga mengenal masalah

Kriteria Sifat masalah

Bobot 1x2/1

Skor 2

Pembenaran Ibu NS mengalami kebutaan, jarak kamar mandi cukup jauh, lantai kamar mandi licin

Kemungkinan masalah untuk 2x2/2 diubah

Pasien

sempat

melakukan

pengobatan medis dan alternatif namun tidak berhasil. Setah 2 tahun menjalani pengobatan yang tidak menunjukan kemajuan akhirnya

pengobatan dihentikan, walaupun ibu NS mengalmi kebutaan tapi masih bisa melakukan ADL tanpa bantuan orang lain. Ibu NS

beraktivitasdibantu sebuah tongkat.

Potensi masalah untuk dicegah 1x3/3 Menonjolnya masalah Total Skor 1x1/1

1 1 6