Vol.I No.

2 April 2010

ISSN: 2086-3098

EDITORIAL
Pada penerbitan Volume I Nomor 2 ini, Dewan Redaksi menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberi dukungan, menulis hasil penelitian ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang kesehatan. Harapan kita semoga seluruh dukungan, bantuan yang sangat berarti untuk menuju inovasi bidang penelitian semakin nyata, guna meningkatkan pencerahan ilmu yang berkualitas. Pada publikasi kedua ini ditampilkan limabelas judul penelitian kesehatan dengan penambahan variasi tema yaitu dalam bidang profesi analis kesehatan di samping bidangbidang lain yang telah muncul pada edisi perdana yaitu pendidikan kesehatan, manajemen kesehatan, kebidanan, keperawatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan serta kesehatan masyarakat. Tentu saja hal di atas menjadi sumber kegembiraan bagi kita semua. Kami ucapkan terimakasih kepada para kontributor naskah ilmiah, khususnya rekan-rekan dari Prodi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Malang dan Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Depkes Surabaya yang telah turut serta melengkapi isi jurnal ini baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Rasa terimakasih juga kami sampaikan kepada para pembaca yang telah memberikan kepercayaan kepada jurnal ini sebagai sumber informasi penelitian kesehatan, semoga pada tahap-tahap berikutnya dapat memberikan sumbangsih yang semakin berarti bagi perkembangan dunia kesehatan di tanah air kita. Guna menjadikan sebuah jurnal penelitian kesehatan yang terus eksis dan berkembang, maka Dewan redaksi senantiasa membuka kesempatan kepada sejawat dan praktisi kesehatan, para dosen, untuk berperanserta secara aktif dalam pemuatan hasil penelitian. Redaksi

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

1

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

DAFTAR ISI
Resiko Terjadinya Gejala Klinis Campak Pada Anak Usia 1-14 Tahun Dengan Status Gizi Kurang dan Sering Terjadi Infeksi di Kota Kediri Suwoyo, Kokoeh Hardjito, Siti Asiyah Pengaruh Kadar Zat-Zat Terlarut di Dalam Air Bersih Terhadap Perkembangan Nyamuk Aedes aegypti Pra Dewasa Diah Titik Mutiarawati Peran Instalasi Pengolah Air Limbah Domestik Untuk Memperbaiki Kualitas Air Limbah Karno Efektifitas Metode Stimulai Satu Jam Bersama Ibu Terhadap Perkembangan Anak Usia 12-24 Bulan Siti Asiyah, Koekoeh Hardjito, Suwoyo Pengaruh Penyimpanan Urin Kultur Pada Suhu 2oC-8oC Selama Lebih Dari 24 Jam Terhadap Pertumbuhan Bakteri Dwi Krihariyani Studi Tentang Keadaan Sanitasi Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan Karno Perbedaan Perilaku Menjaga Personal Hygiene Saat Menstruasi Pada Remaja Putri Antara Sebelum dan Sesudah Pemberian Penyuluhan Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Koekoeh Hardjito, Suwoyo, Siti Asiyah Kinerja Sanitarian Lapangan Dalam Menurunkan Angka Kejadian DBD di Magetan Budi Yulianto Hubungan Antara Motivasi Stimulasi Toilet Training Oleh Ibu Dengan Keberhasilan Toilet Training Pada Anak Prasekolah Subagyo, Ani Sulasih, Siti Widajati Evaluasi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Pelayanan Antenatal Care dan Persalinan di Poskesdes Kabupaten Magetan Hery Sumasto, Nuwening Tyas Wisnu, Nuryani Hubungan Antara Kejadian Ketuban Pecah Dini dengan Kejadian Sepsis Neonatorum di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Madiun Tahun 2004-2007 Sunarto, Dwi Umiyati, Nurlailis Saadah Perbedaan Kekeruhan Air Sumur Gali Antara Sebelum dan Sesudah Pemberian Biji Kelor Sri Sulami Endah Astuti Pengaruh Pemberian Balikan dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Dalam Merawat Payudara Ibu Hamil Tumirah Analisa Kadar Klorida pada Kantong Teh Celup Serta Pengaruhnya Terhadap Mutu Teh Santi Setiorini, Handoyo Pengaruh Nilai ujian Masuk, IQ dan Motivasi Berprestasi Terhadap Prestasi Hasil Belajar Mahasiswa Suparji, Sunarto, Heru Santoso Wahito Nugroho 88-95

96-99

100-104 105-114

115-119

120-124

125-129

130-135 136-140

141-148

149-153

154-158

159-164

165-168 169-180

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

2

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

RESIKO TERJADINYA GEJALA KLINIS CAMPAK PADA ANAK USIA 1-14 TAHUN DENGAN STATUS GIZI KURANG DAN SERING TERJADI INFEKSI DI KOTA KEDIRI Suwoyo*, Koekoeh Hardjito*, Siti Asiyah* ABSTRACT Measles is infection disease caused by measles virus, which attacking many children. The other health problem in child is infectious disease. Infectious disease often concomitance with nutritional status. The frequent of child get infectious disease or under nutrition status is the risk of measles. The objective of this study was to analyse the level of measles risk at children 1-14 years old with under nutritional status and their experience of other infectious disease frequency. This study was observasional analytic using case control design. Case group in this research is children 1-14 years old with measles symptoms and control group is children 1-14 years old which do not suffer measles. hey were examined of serum albumin to determine the nutritional satus of Children. Meanwhile Ig M of measles was examined for the case group only. The research traces the record of other infectious diseases might be suffered by the members of both groups in the last three months. Data was collected by interview and observation. Data was analyzed by Chi square test with significantly level < 0.05. Result, there was not significant correlation between clinical measles with nutritional status, but there was significant correlation between clinical measles and frequency of other infectious disease. Result of risk test show that children which often get frequent other infectious disease have risk 2 times higher to happened measles than children which rarely get other infectious disease . All of the clinical measles cases didn’t have IgM for measles, but 9 cases among them have IgM positive for rubella Conclusion, the frequency of other infectious disease in children can increase the risk for the children to suffer measles. The high content of albumin in the blood serum does not guarantee that the children are safe from mesales. Laboratory Ig M of measles check up must be done for children with clinical measles symptoms to confirm the diagnosis. Sugestion, government should carry out the rubella immunization to prevent this disease to the children. Keywords : clinical measles, nutritional status, infection frequency *: Program Studi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Malang PENDAHULUAN Latar Belakang Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang banyak menyerang anak-anak. Angka kejadian campak di dunia masih cukup tinggi, yaitu 30.000.000 orang setiap tahun. Pada tahun 2002 dilaporkan 777.000 orang meninggal akibat campak di seluruh dunia. Di negara ASEAN terdapat 202.000 orang meninggal akibat campak, dan 15% (30.300) orang di antaranya dari Indonesia. Pada tahun 2005 dilaporkan terjadi 345.000 kematian di seluruh dunia akibat campak, dan berdasarkan laporan rutin dan kejadian luar biasa (KLB) kasus campak di Indonesia antara tahun 2002-2005 terdapat 30.000 anak meninggal akibat campak (Depkes R.I, 2007). Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2001, insiden

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

88

antara 1-4 tahun 7. Anak-anak yang sedang tumbuh umumnya mengalami lebih dari 100 macam infeksi sebelum dewasa. 12 kasus kelompok umur 1-4 tahun. Penyakit infeksi yang banyak menimbulkan kematian di Indonesia adalah infeksi saluran nafas atas. 2008). Surabaya (579 kasus).2 April 2010 ISSN: 2086-3098 campak berdasarkan kelompok umur kurang dari 1 tahun 9 per 10. dan Kabupaten Kediri (455 kasus) (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Komite Penanganan Kemiskinan (KPK) Pemerintah Propinsi Jawa Timur memprediksikan 50.64% gizi kurang dan 0. Berdasarkan Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Kediri. yang dibuktikan dengan ditemukannya penderita TBC sebanyak 79. pneumonia 114. belum dilaporkan. Penyakit tersebut memberikan kontribusi 75% kematian anak di Indonesia (Sampurno.09% gizi buruk. status gizi anak. penyakit infeksi pada anak mencapai 60% dari seluruh penyakit yang ada. Berdasarkan survei tersebut. 9. Kasus campak di Kota Kediri. umur.75% mengalami gizi baik.658 orang.07% gizi sedang.072 balita mengalami gizi buruk. termasuk virus. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 89 .000 penduduk. 150. Prediksi ini berdasarkan survei pemantauan gizi buruk oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Mikroorganisme patogen. nama orang tua dan alamat orangtua. komplikasi perinatal dan diare. Angka kejadian penyakit infeksi di Jawa Timur cukup tinggi. Pemantauan rutin oleh pemerintah melalui Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi buruk yang dilaporkan dari Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit semakin meningkat. 1.5 juta di antaranya menderita gizi buruk. 2006). Data hasil surveilan campak di Dinas Kesehatan Kota Kediri meliputi nama penderita. Angka kejadian penyakit infeksi di Indonesia masih tinggi dengan berbagai jenis penyakit infeksi yang telah dikenal. bila dibandingkan dengan pencapaian imunisasi yang telah melebihi target nasional 80%.4 per 10. prevalensi balita gizi buruk Jawa Timur 1. Permasalahan gizi buruk ini bila tidak dilakukan penanggulangan segera dapat mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya manusia. Imunisasi campak pada anak dapat memberikan kekebalan seumur hidup. Angka kejadian campak di Jawa Timur berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur tahun 2006 terdapat 1548 kasus yang tersebar di tiga kabupaten dan kota yaitu. kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor (Sampurno. Variabel lain yang terkait dengan kejadian campak seperti antropometri. jenis kelamin. Sidoarjo (514 kasus). serta sumber informasi kasus campak tersebut terjadi. 37 kasus kelompok umur 5-9 tahun. dan berbagai penyakit infeksi lain (Profil Kesehatan Profinsi Jawa Timur. diare 837. dll.858 orang.724 orang. 2007). Angka kejadian campak di Kota Kediri ini mengejutkan.000 penduduk.2007).072 anak ) (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur.000 anak menderita gizi buruk berat yaitu marasmus. Di antara penderita gizi buruk tersebut.Vol. 2005). Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Kediri pada tahun 2007 dari 14. dan 6 kasus kelompok umur 10-14 tahun. Jumlah kasus tersebut berdasarkan kelompok usia adalah sebagai berikut: 3 kasus pada kelompok kurang dari satu tahun. bakteri dan parasit lain dapat menginvasi manusia untuk memulai infeksi.7% (50. Jumlah kasus terbanyak terjadi pada bulan September yaitu 28 kasus. Pada tahun 2005 di Indonesia diduga terdapat 5 juta anak menderita gizi kurang 1.I No.000 penduduk dan antara 5-14 tahun 3.697 balita yang ditimbang didapatkan 84. Permasalahan penyakit anak di Indonesia selain penyakit infeksi adalah kasus gizi buruk.4 per 10. berdasarkan laporan rutin dari 46 Puskesmas yang ada pada tahun 2007 tercatat 58 kasus.

Variabel Status gizi Tabel 1. sedangkan data tentang status gizi diambil dengan cara pemeriksaan antropometri pada waktu kunjungan rumah dan ditegakkan dengan pemeriksaan albumin di laboratorium. Definisi operasional dari masing-masing vaiabel ditampilkan pada Tabel 1. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di wilayah Dinas Kesehatan Kota Kediri pada tanggal 1 Januari 2008 sampai dengan 30 Juni 2008 ini menggunakan rancangan case control untuk mempelajari hubungan antara status gizi dan frekuensi terkena penyakit infeksi pada anak usia 1-14 tahun dengan kejadian campak. sedangkan populasi kontrol adalah semua anak usia 1-14 tahun yang tidak menderita campak dan berdomisili di Kota Kediri.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 1. bulan terakhir Serangan penyakit campak pada Gejala klinis kuesioner anak yang ditunjukkan dengan penyakit gejala klinis penyakit campak campak Skala Data Nominal Frekuensi terkena penyakit infeksi Kejadian campak Nominal Nominal Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 90 . pada anak berstatus gizi kurang 3. dan imunisasi campak diambil dengan cara menggunakan kuesioner pada saat kunjungan rumah oleh peneliti.3 mg/dl (gizi kurang) kadar albumin dalam serum dalam serum 3. frekuensi terkena penyakit infeksi. pada anak berstatus gizi kurang dan menderita penyakit infeksi lain secara bersama-sama. Menganalisis besarnya resiko terjadi gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun. sedangkan sampel kontrol adalah anak usia 1-14 tahun yang tidak menderita campak yang berdomisisli di Kota Kediri dengan ibu yang bersedia diwawancarai dan anaknya boleh diperiksa. Sampel kasus adalah anak usia 1-14 tahun yang menderita campak yang berdomisili di Kota Kediri dengan ibu yang bersedia diwawancarai dan anaknya boleh diperiksa.Vol. pada anak yang menderita penyakit infeksi lain 4. Mempelajari diagnosis kejadian gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun. sebelum dalam tiga terkena penyakit campak saat ini. 2. Menganalisis besarnya resiko terjadi gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun.5–4.8 mg/dl (gizi lebih) Jumlah kejadian penyakit infeksi Kekerapan Kuesioner yang dialami anak dalam tiga terpapar ≥ 3X/3bl=sering bulan terakhir dan sudah infeksi lain < 3X/3bl=jarang dinyatakan sembuh. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Parameter Cara dan hasil pengukuran Kandungan gizi anak yang Pengukuran Brilian Cresyil Green ditunjukkan dengan kecukupan kadar albumin < 3. Status gizi dan frekuensi kejadian infeksi pada anak adalah variabel independen. sedangkan kejadian campak pada anak adalah variabel dependen. Spesimen untuk pemeriksaan albumin serum diambil oleh peneliti pada saat kunjungan rumah. Populasi kasus dalam penelitian ini adalah semua anak usia 1-14 tahun yang menderita campak dan berdomisili di Kota Kediri. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Menganalisis besarnya resiko terjadi gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun.8 mg/dl (gizi baik) darah darah > 4.I No. Data tentang umur.

Karena gejala klinis penyakit campak ini menyerupai gejala klinis Rubela.2 0 100 Tidak Campak n % Total 12 9 0 8 13 4 17 5 16 58 42 0 38 62 19 81 23. Diskripsi Jenis Kelamin. Kadar Albumin Menurut Jenis Kelamin Anak yang Terserang Campak Frekuensi terjadinya infeksi pada anak yang menderita campak dan tidak menderita campak menurut jenis kelamin dan umur dapat dilihat pada Tabel 3. Umur.8 76.2 25 17 5 17 20 10 32 22 20 Status gizi: Frekuensi infeksi: Hasil analisis deskriptif untuk jenis kelamin.I No. kadar albumin dan frekuensi kejadian infeksi dalam 3 bulan terakhir (Januari–Juni 2008) di Kota Kediri dapat dilihat pada Tabel 2. Kadar Albumin dan Frekuensi Kejadian Infeksi Status Responden Jenis Kelamin: Umur: Laki-laki Perempuan 1 – 5 tahun 6 – 10 tahun 11 – 14 tahun Baik Lebih < 3 X / 3 bulan ≥3 X / 3 bulan Campak n % 13 8 5 9 7 5 16 0 21 62 38 24 42 34 23. Selama 6 bulan dilakukan pengamatan terhadap 21 anak yang menderita campak dan 21 anak yang tidak menderita campak sebagai kontrol. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dari 21 serum darah responden dengan gejala klinis campak didapatkan hasil IgM campak negatif pada semua responden.Vol. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sebagian besar penderita campak adalah laki-laki (62%). yang menunjukkan bahwa 42 (100%) anak pernah menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada tiga bulan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 91 . Gambar 1 menampilkan kadar albumin lebih dan normal menurut jenis kelamin.8 76.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan klinis penderita campak. Pada 21 serum darah responden. umur. A L B U M I N 10 8 6 4 2 0 Laki-laki Perempuan Lebih Normal Gambar 1. Sebagian besar penderita campak (81%) mempunyai kadar albumin lebih. didapatkan IgM Rubela positif sebanyak 9 responden. maka peneliti mengadakan pemeriksaan laboratorium yang dilanjutkan pada pemeriksaan IgM Rubela. dan pengambilan serum darah untuk pemeriksaan IgM campak serta pemeriksaan protein albumin dalam serum darah. Tabel 2.

Tampak pula bahwa gejala klinis TBC pernah dialami oleh 21 (50%) responden.2 % ) 37 ( 88.6%) total 21 (100%) 21 (100%) 42 (100%) P = 1.2%) 9 (21.0% ) 33 (78.Vol.9%) total 21 (100%) 21 (100%) 42 (100%) P = 0.312 Tabel 5. M.8%) 4 (19. dan kebutuhan tinggi kalori pada anak memicu tingginya kadar albumin serum (Muscari . Keadaan ini dapat terjadi karena 80% responden berusia 6-14 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi pada 42 responden tersebut baik.599-3.2%) 17 (81.1% ) Tidak sering 0(0%) 5 (23. Jenis Penyakit Diare TBC DHF ISPA Tonsilitis Tabel 3.213 95% CI = 1. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan didapatkan hasil kadar protein serum dengan nilai normal dan protein serum lebih. pemberian makanan dalam bentuk junk food baik di rumah maupun di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi anak tidak cukup mampu untuk melawan infeksi virus. Status Gizi Campak Tidak Campak Total Sering 21 ( 100% ) 16 ( 6. Anak usia sekolah memiliki pola makan yang selalu ingin mencoba jenis makanan baru. Pertahanan tubuh terhadap infeksi virus memerlukan pertahanan yang Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 92 . Pemeriksaan kadar albumin dalam serum darah ini dilakukan pada 21 responden sebagi kasus dan 21 responden sebagai kontrol.171-3.753 95% CI = 0. yaitu masa sekolah. Hubungan Antara Status Gizi Dengan Gejala Klinis Campak Status Gizi Campak Tidak Campak Total Baik 5 (23. Frekuensi Kejadian Penyakit Infeksi pada Anak 1–14 Jenis Kelamin Umur Laki-laki Perempuan 1 – 5 Th 6 – 10 Th 11–14 Th Ɖ n % n % n % n % n % 8 50 8 50 16 2 12 6 38 8 50 13 62 8 38 21 5 24 9 42 7 34 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25 60 17 40 42 5 12 17 40 20 48 2 40 3 60 5 1 20 2 40 2 40 Ɖ 16 21 0 42 5 Hasil uji chi square (Tabel 4) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak (p = 1.4%) Lebih 16 (76.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 terakhir dan tidak ada (0%) responden yang menderita Dengue Hemoragie Fever (DHF). Besarnya resiko gejala klinis campak pada anak yang sering mengalami infeksi adalah dua kali lipat jika dibandingkan dengan anak yang tidak sering mendapatkan infeksi. Hubungan Antara Frekuensi Kejadian Infeksi Dengan Kejadian Klinis Campak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak. lemak dan kolesterol.00 OR = 0.345 Pembahasan Serum darah yang diambil.00). garam. Makanan tersebut banyak mengandung gula. Hasil uji chi square (Tabel 5) menunjukkan bahwa ada hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak (p = 0.2001). selain dilakukan pemeriksaan IgM campak juga dilakukan pemeriksaan protein albumin untuk menilai status gizi anak.8% ) 5 (11.048 OR = 2. Tabel 4.048).I No.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak. Seseorang yang sering mengalami infeksi akan mengakibatkan cadangan nitrogen dan lemak akan semakin tipis (Linder. Melnick. 2001). Hal ini terjadi karena anak yang tidak sering infeksi mempunyai cadangan nitrogen dan lemak yang lebih banyak. biasanya protein kapsid.1992). Aldelberg’s. Kesanggupan menghasilkan dan mempertahankan reaksi peradangan sangat penting dalam pertahanan tubuh. Pada infeksi virus akan terjadi infiltrasi sel berinti satu dan limfosit. C. Penyakit infeksi akut dapat meningkatkan metabolisme dan konsumsi oksigen tubuh. Kekebalan terhadap infeksi virus didasarkan pada pembentukan respon imun terhadap antigen khusus yang terletak pada permukaan partikel virus atau sel yang terinfeksi oleh virus. sehingga banyak cadangan nitrogen dan lemak yang dikeluarkan selama terjadi infeksi. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ditarik simpulan yaitu: 1) gejala klinis penyakit campak yang ditemukan. sedangkan protein serum merupakan pertahan tubuh yang bersifat non spesifik. maka diperlukan pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa cadangan nutrisi yang kurang dalam tubuh dapat berpengaruh negatif pada reaksi peradangan (Linder. yang berarti bahwa anak yang sering terkena penyakit infeksi akan lebih mudah terkena penyakit dengan gejala klinis campak. setelah dilakukan pemeriksaan laboratorum menunjukkan penyakit rubella. Perbaikan asupan tersebut memungkinkan kadar albumin darah menjadi normal. Kedua faktor tersebut akan terganggu oleh malnutrisi umum. Berdasarkan simpulan disarankan: 1) menegakkan diagnosis penyakit campak secara klinis saja belum cukup. 2) tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak. Virus akan menimbulkan respon jaringan yang berbeda dari respon terhadap bakteri pathogen.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bersifat spesifik. infiltrasi leukosit. Maria. merupakan sasaran dari respon imun. 4) anak yang sering mengalami infeksi lain mempunyai resiko 2 kali lipat untuk terkena gejala klinis campak. Sel-sel hati dan limfoid secara cepat meningkatkan tingkat sintesis proteinnya yang diperlukan untuk mekanisme defensif tuan rumah dan mempercepat proliferasi sel-sel fagositik dan limfoid. 3) ada hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak. Sel yang terinveksi oleh virus dapat menjadi lisis oleh limfosit T sitotoksik yang mengenali polipeptida-poipeptida virus pada permukaan sel. 1992). Keterbatasan pada penelitian ini adalah bahwa pengambilan darah pada responden dilakukan setelah fase penyembuhan sehingga asupan nutrisi responden sudah mulai membaik. Kesanggupan tubuh untuk merespon reaksi radang tergantung dari pada ketersediaan energi yang dibutuhkan untuk meningkatkan metabolisme seluler dan mekanisme yang dibutuhkan untuk kehilangan panas.Vol. 2) perlu vaksinasi rubella Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 93 . namun mekanisme katabolik terjadi lebih hebat. Resiko kejadian campak pada anak yang sering terkena infeksi adalah dua kali lipat jika dibandingkan anak yang tidak sering mengalami infeksi. akumulasi zatzat mediator yang berasal dari protein plasma.I No. C. Anak yang sering mengalami infeksi akan terjadi proses katabolisme yang lebih cepat. Respon ini merupakan reaksi yang sangat kompleks. Imunitas humoral akan melindungi inang terhadap infeksi ulang oleh virus yang sama (Jawetz. Protein yang disandikan oleh virus. Peningkatan anabolisme dan katabolisme terjadi secara simultan. yang memerlukan perubahan-perubahan lokal dalam aliran darah. Maria.

1999. 2006. 1992. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi. Jakarta: Ministry of Health Republic of Indonesia Arisman. Jakarta: UI. Lembaga Perlindungan Anak Tanggapi Tingginya Balita Gizi Buruk.inist.h. Jakarta: UI.html?news-id=492 Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. diperlukan peningkatan pemahaman kepada orang tua tentang gejala klinis.n. R E. dan pencegahan penyakit infeksi pada anak.1077. Maria C. Jakarta: EGC Handojo.go. 2006. Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang Wabah.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 pada anak. 3) karena banyaknya penyakit infeksi pada anak. Indro. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit.fr/?a modele=affi Che N& cpsidt: 1847461(Diakses 21 Pebruari 2008) Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 94 . Pengantar imunoasai dasar. http://cat. Jakarta: Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat Depkes RI. Hayatee. Pedoman Umum Gizi Seimbang. 1991. James. Lippincolt Nanan R. 2007.org/pres. 2007. Jakarta : Infomedika Danendro. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. faktor-faktor yang mempengaruhi. Buku Pegangan Pediatri.1997. http://www.go. 2001. 2008.yankes. 2008. K. Arthur. Melnick. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Demam Campak. Philadelpia. penanggulangan. Manual Pemberantasan Penyakit Menular .dinkesjatim.I No. Stanley. http://www. Interaction of Nutrition and Infection in Clinical Practice.id/html (Diakses 21 Pebruari 2008) Depkes RI. Jakarta : EGC Aritonang. Robert. Advanced Pediatric Clinical Assessment.Vol.nchi. Health Campaign to Protect Indonesian Children Succesfully Completed. http://www.00html (Diakses 21 Pebruari 2008) Hunardja. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Linder. 1996. Pemantauan Pertumbuhan Balita Petunjuk Praktis Menilai Status Gizi dan Kesehatan. 2003.html?news –id=124 Guyton. Jakarta: Salemba Medika Lemesho. 2004.id/berita-detail. Yogyakarta: Kanisius Bres. selain vaksinasi campak.release/0. 1995. http://www. http://www. Alderberg. Mary.Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Gizi Dalam Daur Kehidupan. 1987. Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya : Airlangga University Press Hasan. 2002.Press Markum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Brown. 2008. 1991.Jakarta: Widya Medika Jawetz.go. Biokimia Harper. Jakarta: Direktorat Jendral PPM & PLP Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Tindakan Darurat Kesehatan Masyarakat pada Kejadian Luar Biasa. C. Jakarta: EGC Muscari. Indonesia Health Profile. Mikrobiologi Kedokteran.mlm.id/berita-detail.dinkesjatim. 2004. New York.gov/pubmed/403498 (Diakses 21 Pebruari 2008) Chin. Measles Virus Infection Causes Transient Depletion of Activated t Cells From Peripheral Circulation. Syafii.redcross. 4) perlu penyegaran bagi petugas di lapangan melalui pelatihan tentang pengkajian klinis campak.0-314-7159.Press Murray.. MB.

1985. Jakarta: Universitas Indonesia Samik . Jakarta: EGC Ranuh I. Pedoman Imunisasi di Indonesia. 2003. Jakarta : EGC Notobroto. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNAIR Rampengan dan Laurentz.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Narendra. 2006. Jakarta: Binarupa Aksara Sampurno. Hari.Vol. 2006.N. B (dkk). A. Buku Ajar Pediatri. Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Badan Penerbit Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Rudolph .I No. 2002. 2005. http://strategic-manage. dkk.Wahab. Basuki. Jakarta: EGC Rusepno. Jakarta: EGC Sardjito. 1997. Hasan . Moersintowati .G. Penghitungan Besar Sampel dalam Materi Pelatihan Teknik Sampling dan Penghitungan Besar Sampel. Ilmu Kesehatan Anak. Mikrobiologi Kedokteran. 1994. 2007. Penyakit Infeksi Pada Anak.com/?p=40 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 95 . Buku Ajar Pediatri. Wajah Kesehatan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto Nelson.

calcium content. because this disease is always found along year. because well water still have micro bacteria and Micro organism with higher content than PDAM water that has been given chlorate. calcium content. tetapi sumur juga perlu diwaspadai sebagai tempat perindukan vektor DBD. that were given 15 Aedes Aegypti eggs each container and observed the growth of mosquitoes in pre-adult period and as control was used PDAM water. larva. turbidity. The charactertistics of the well water are pH. pot bunga. turbidity. vektor utama adalah Aedes aegypti (Lawuyan S. 1996). calcium content. dan sumur. Stadium pra dewasa (telur. Aedes aegypti lebih tertarik untuk Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 96 . Meskipun sumur merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi sebagian besar penduduk. padahal peluang menjadi habitat Aedes aegypti cukup besar. The water well was put in 9 containers. seperti tempat minum burung. This research aimed to find the content effect of dissolved substances in well water against Aedes Aegypti mosquito breeding in pre-adult period. Sedangkan penampungan air hujan belum mendapat perhatian. pelepah daun dan sumur. pH. the result of Anova analysis among endemic areas couldn’t find significant difference. Demikian juga di Kota Surabaya. in water well is predicted that may affect the growth and breeding Aedes Aegypti in pre-adult period.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH KADAR ZAT-ZAT TERLARUT DI DALAM AIR BERSIH TERHADAP PERKEMBANGBIAKAN NYAMUK AEDES AEGYPTI PRA DEWASA Diah Titik Mutiarawati* ABSTRACT The existence of Aedes Aegypti in some area is the indicator of the Aedes Aegypti population in that area. Dalam daur hidup nyamuk diperlukan dua lingkungan yaitu air dan di luar air (darah atau udara). ladang.Vol. Pengendalian perindukan Aedes aegypti lebih dititikberatkan pada penutupan dan abatisasi bak mandi. vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) yang penting adalah nyamuk Aedes aegypti (vektor utama). Keywords : pupa. Fe content dan total dissolved substances. Air bersih yang ditampung oleh penduduk berasal dari berbagai sumber. The research was done with water well sample collecting in 3 dengue fever endemic areas. Aedes aegypti menyukai penampungan air jernih dan terlindung dari sinar matahari langsung sebagai tempat perindukannya. Fe content and total dissolved substances *: Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Di Indonesia.I No. dan penguburan barang buangan di sekitar rumah yang dapat menampung air hujan. Penampungan air seperti itu umumnya banyak dijumpai di rumah dan sekitarnya. turbidity. Surabaya is the one of endemic cities for dengue fever. Fe content and total dissolved substances againts Mosquito’s pupa growth. Besides that composition of well water was checked in laboratory by using parameters such as pH. Aedes albopictus dan Aedes scutellacis. seperti air hujan. dan pupa) hidup di lingkungan air dan stadium dewasa di luar air. Well water has been proved as the potential place for breeding of Aedes Aegypti mosquito.

terbuka lebar.56 0. kandungan zat dalam air sumur pada daerah terpilih masih dalam batas yang diijinkan. kekeruhan. Kelurahan Tambaksari Kelompok III : Daerah dengan kasus demam berdarah sedang.87 1.4.84 340.72 0 8.60 0. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Populasi penelitian pra eksperimental ini adalah air sumur gali dan sumur pompa di Kecamatan Tambaksari Surabaya.01 0 5. 15 8 8 7.34 360. Tabel 1.1.53 0.02 105.67 0 9.0 ppm.87 0. kesadahan. sedang dan berat.30 117. 15 10 10 7. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Sembilan air sumur gali dan air PDAM masing-masing diberi 15 telur nyamuk.5-9. Terdapat perbedaan bermakna mengenai jumlah pupa antara air sumur dengan kontrol.09 101. kesadahan: 500 ppm dan Besi: 1. Rincian hasil penelitian disajikan pada Tabel 1.55 348.08 101.14 118.05 1.91 0 6.18 99. Hidayat C dkk (1997) dalam penelitiannya tentang pengaruh pH air perindukan terhadap perkembangbiakan Aedes aegypti melaporkan bahwa pada pH air perindukan 7. Dari hasil pemeriksaan laboratorium.95 0.29 561. Menurut Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990.09 109.7. Kelurahan Gading Kelompok II : Daerah dengan kasus demam berdarah rendah.8 0. terutama yang terlindung dari sinar matahari (Anonim.11 114.94 0. 15 11 2 7. kekeruhan: 25 NTU. Yoyo R dkk (2000) menyimpulkan bahwa air sumur adalah habitat terpenting bagi Aedes aegypti. Selanjutnya terjadi pertumbuhan nyamuk pra dewasa dalam bentuk pupa. masing-masing 3 sumur dengan 3 perlakuan (rumus Federer).21 121. Sampel 9 sumur diambil secara simple random sampling dari daerah endemik ringan. Pertumbuhan Nyamuk Pada Masing-Masing Sampel Air ∑ ∑ jentik ∑ pupa Kelompok TDS Kekeruhan Kesadahan Besi pemberian hari ke hari ke pH air sumur (ppm) (NTU) (ppm) (ppm) telur 3-4 12-14 1.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 meletakkan telur pada penampungan air yang berwarna gelap. 15 10 7 7. 15 2 2 7. 1990). Sebagai kontrol dipakai air PDAM Surabaya. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif dan uji Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 97 . 15 6 10 7. Kelurahan Pacarkembang.29 337. TDS: 1500 ppm. 15 8 5 7. 15 7 5 7.58 0 II.91 300.96 0 Kontrol (PDAM) 15 4 0 Keterangan : Kelompok I : Daerah dengan kasus demam berdarah tinggi. Lalu dilakukan pemeriksaan kimia terhadap air sumur serta pemberian telur nyamuk pada masing-masing sumur tersebut.96 0 III. batas maksimal kandungan dalam air bersih adalah: pH: 6. kandungan Fe (besi) dan bahan terlarut (total dissolved) diduga bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan larva Aedes aegypti. 15 7 2 7.92 0 3. lebih banyak didapati nyamuk daripada pH asam atau basa.I No.Vol.90 346. kemudian dieramkan pada suhu kamar sampai hari ke 14.66 325.49 241.15 0 2. Karakteristik air sumur antara lain pH.

Karena nilai kekeruhan air sumur masih dalam batas yang diijinkan.858 0.239.1356 351. sedang. 0. sehingga sesuai dengan anggapan selama ini bahwa nyamuk Aedes aegypti suka berkembang biak pada air bersih (jernih. Dari tabel tersebut terlihat bahwa data homogen (karena nilai SD tidak melebihi reratanya) dan semua data dinyatakan normal sehingga memenuhi syarat untuk uji regresi linier dan Anova. kekeruhan dan kesadahan masing-masing 0. dan tinggi di Kota Surabaya berkisar 241.29–1. bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan.319.340.30 tidak berpengaruh terhadap jumlah pupa. dan tinggi di Kota Surabaya mempunyai pH 7.949 Uji regresi linier ganda dengan metode Enter. artinya H0 diterima atau tidak ada pengaruh kandungan air sumur terhadap jumlah pupa. dilakukan untuk semua parameter air sumur terhadap jumlah pupa pada hari ke 12-14. Kisaran pH tersebut merupakan pH 6. mungkin zat besi baru diperlukan pada nyamuk Aedes Aegypti. Kadar pH 7.5 (Hidayat. Kandungan zat terlarut (TDS) dalam air sumur daerah endemik DBD rendah. bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No. Keberadaan ion logam Ca dan Mg dalam air diperlukan oleh larva untuk memperlancar metabolisme dalam tubuhnya (Murray.0–7.0835 86.91 – 561.92 ppm.02–7.1300 8. pH. sedang dan tinggi di Kota Surabaya berkisar 0. Analisis Deskriptif dan Uji Normalitas Data Uji Deskriptif ∑ pupa Kekeruhan pH Kesadahan Rerata 5.8078 7. Kekeruhan air sumur daerah endemik DBD rendah.3523 0. 0. Hasil data di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada tiap-tiap kelompok.2787 0. 0.827. Uji Anova dilakukan untuk melihat adanya perbedaan antar kelompok daerah endemik ringan.944 0.324. Hal ini mungkin disebabkan oleh range pH terlalu sempit. 1999). sehingga air sumur merupakan media yang baik untuk perkembangbiakan nyamuk dari segi pH. Tabel 2.30 yang bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan. Dari uji regresi linier ganda. Nilai signifikansi untuk jumlah pupa.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 normalitas data (One-sample Kolmogorou-Smirnov test) yang ditampilkan pada Tabel 2.I No. Kesadahan air sumur derah endemik DBD rendah. TDS.6667 0. dan tinggi di Kota Surabaya mempunyai nilai 0 ppm. dan berat. didapatkan tidak ada pengaruh kesadahan air sumur daerah endemik dengan jumlah pupa. sedang dan tinggi di Kota Surabaya bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No 416/Menkes/Per/XI/1990 masih dalam batas yang diijinkan.857 dan 0. 5422 SD 3.220 TDS 110. dengan signifikansi 0. Kadar besi dalam air sumur daerah endemik DBD rendah. Kalau dilihat data di atas maka keberadaan zat besi dalam air tidak berpengaruh terhadap jumlah pupa. sedang. 1997).5496 Uji Normalitas Sig (2 tailed) 0. sedang. Tidak ada pengaruh Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 98 .34 NTU. sedang. bila 416/Menkes/Per/IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan.2194 0.969 0.02-7.Vol. kekeruhan rendah). Uji regresi linier menyatakan tidak ada pengaruh kekeruhan air sumur terhadap jumlah pupa. 416/Menkes/Per IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan. Pembahasan Air sumber daerah endemik DBD rendah.

Din. Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Soegijanto. F Harwood.Vol. 1996. Sumur Sebagai Habitat Yang Penting Untuk Perkembangbiakan Nyamuk Aedes aegypti. 1989. 1999.I No. Air sumur terbukti merupakan habitat yang potensial untuk tempat perindukan Aedes aegypti.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bermakna antara kandungan TDS dalam air sumur dengan jumlah pupa karena nilai TDS masih dalam batas yang diijinkan sebagai air bersih. T and R. Surabaya: Airlangga University Press. 1999. Jakarta: UI Press Suroso T. Demam Berdarah Dengue di Kotamadya Surabaya. Soebari. Penelitian Epidemiologi Demam Berdarah Ditinjau dari Sudut Bionomik Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus dan Sudut Lokasi Kontak antara Manusia dan Nyamuk di Daerah Perkotaan dan Pedesaan di Jawa Timur. Epidemiologi dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia saat ini. Pengaruh pH Air Perindukan Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangbiakan Aedes aegypti Pra Dewasa. Demam Berdarah Dengue. kekeruhan. Masyarakat pengguna air sumur sebaiknya lebih berhati-hati karena resiko adanya telur dan jentik Aedes aegypti yang perkembangbiakannya lebih banyak di dalam air sumur. Cerminan Dunia Kedokteran. Pada bahan kontrol (air PDAM). bila dibandingkan dengan air PDAM. Seminar Sehari Demam Berdarah Dengue. Entomologi Medik. No. hal ini disebabkan karena air PDAM sudah mengalami proses pengolahan hingga jumlah mikroorganisme dalam air tersebut sudah diminimalisir. Jakarta: Buletin Penelitian Kesehatan No. Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. 3th. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 99 . Dwiko Susapto dkk. James M. Murray. 1969. Surabaya: Tropical Desease Center Universitas Airlangga. Rineka Cipta. 29 Hidayat C. Herm’s Medical Entomology. Lawuyan S. 2004. 2001. DAFTAR PUSTAKA Gionar YR. Martono. 2004. Surabaya: Dinkes Dati Prop Jatim. 2001). Surabaya: Dinkes Kota Surabaya Sumarno. 2002. meskipun pernyataan ini diperlukan penelitian lebih lanjut. Sixth The MacmillanCompany USA. Hal ini mungkin disebabkan air sumur tidak mengalami pengolahan seperti PDAM sehingga kandungan mikroba dan organisme renik lain yang relatif tinggi sebagai sumber makanan utama bagi jentik (Gionar. Soedarto. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dapat ditarik simpulan bahwa pH. Hadi Suwasono. Ali Imran Umar. Saproto Rusmianto. 1997. kesadahan. 1988. P2M. Jakarta: EGC Notoatmodjo S. FKUI. 119. Biokomia Harper. tidak didapatkan pupa pada hari ke 12-14. Selanjutnya disarankan agar diteliti tentang kandungan mikroorganisme di dalam air sumur dan menempatkan kontainer/toples di ruang bebas nyamuk. Metodologi Penelitian Kesehatan. Ludfi Santoso. Demam Berdarah (Dengue) Pada Anak. Sub. 1985. misalnya ruang ber-AC. kadar besi dan kadar TDS air sumur daerah endemik DBD tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan Aedes aegypti pra dewasa.

TSS Oil and Fat. Pembangunan perumahan juga tidak terlepas dari permasalahan lingkungan hidup. while measurement of BOD. harus disertai upaya meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif termasuk dalam pembangunan perumahan dan permukiman. serasi dan teratur ”.Vol. This research type is descriptive quantitative which is existence control to free variable. Data collected by taking sample wastewater at influent and effluent from processor instalation wastewater counted 12 intake during 1 month various variation of intake time. ther no difference while the rate of BOD difference between effluent and influent. mengendalikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. BOD. TSS. Data result of measurement of parameter at effluent is compared to standart quality of domestic wastewater. Pursuant to research is concluded that pH rate. Selain memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup. antara lain pencemaran air. TSS. repairing the quality of wastewater with indicator pH. quality of wastewater. Pada kenyataannya yang dihadapi dalam pembangunan perumahan dengan berpedoman pada penataan lingkungan yang sehat masih sulit Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 100 . merehabilitasi kerusakan lingkungan. After compared to standart quality of domestic wastewater hence it still reside in below is standard quality. manfaat sumber daya alam secara keseluruhan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PERAN INSTALASI PENGOLAH AIR LIMBAH DOMESTIK UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS AIR LIMBAH Karno* ABSTRACT Role of installation processor domestic wastewater in the effect improve the quality of wastewater.I No. pembangunan perumahan haruslah memperhatikan hak-hak setiap orang untuk hidup sehat seperti yang telah diamanatkan pada Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman yang berbunyi: ”Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. Analysis of data from various variation of time is done by using percentage and t test for which once indicator utilize to know there is do not it him difference between influent and effluent. Keywords : Instalation processor domestic wastewater. Oil and fat. Ini mengandung arti bahwa setiap aktivitas pembangunan apapun bentuknya. Measurement of pH is conducted in field and in laboratory. Oil and fat in laboratory. *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan lingkungan hidup bertujuan untuk meningkatkan mutu. Target of research is know role of processor installation domestic wastewater in the effort improve. aman. tanah maupun udara serta penurunan mutu lingkungan hidup bila pengelolaannya tidak memperhitungkan atau memperhatikan aspek kesehatan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Dalam penelitian ini tidak dibuat rancangan sendiri karena instrumen yang diteliti yaitu instalasi pengolah air limbah domestik telah tersedia dilokasi penelitian yaitu Perumahan Tekad Makmur II Desa Joho Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah. TSS. Sampel penelitian adalah air limbah domestik di instalasi pengolah air limbah domestik yang mencakup parameter pH. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian observasional ini dilakukan melalui observasi terhadap faktor-faktor yang dijumpai dengan mengambil sampel tanpa berkesempatan untuk mengatur kondisi atau memanipulasi variabel-variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang dijumpainya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Keseluruhan hasil penelitian ditampilkan secara lengkap pada Tabel 1. TSS. Rumusan Masalah Apakah instalasi pengolah air limbah domestik berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah dengan mengetahui perubahan nilai indikator pH. TSS. minyak dan lemak. BOD.I No.00–17.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dilaksanakan dengan masih dibangunnya sarana pembuangan kotoran dan air limbah rumah tangga yang mengalir pada tanah dan mencemari air tanah dangkal melalui rembesan dari septic tank untuk menampung kotoran yang dibangun di setiap unit rumah. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 101 .00 WIB) selama 12 kali pengambilan.Vol. perlu dipikirkan untuk membangun sarana pengolah air limbah rumah tangga atau air limbah domestik secara kolektif di setiap perumahan. minyak dan lemak pada influent dan efluent-nya. Untuk mengurangi pencemaran tanah dan air tanah oleh kotoran manusia. minyak dan lemak? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah mengetahui peran instalasi pengolah air limbah domestik dalam upaya memperbaiki kualitas air limbah dengan indikator pH.00 WIB) dan sore (Jam 16. BOD. siang (jam 12. digunakan T test (sampel < 30 ). Perumahan Tekad Makmur yang berlokasi di Desa Joho Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah merupakan salah satu perumahan yang memiliki instalasi pengolah air limbah domestik yang dihasilkan oleh rumah tangga dan telah dioperasikan. TSS. BOD. Untuk membuktikan hipotesis yaitu adanya perbedaan yang signifikan pada setiap variasi waktu. Hal ini selaras dengan Pasal 8 Ayat (a) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 112 Tahun 2003 tentang Baku mutu air limbah domestik yang menyatakan bahwa setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan permukiman (real estate) wajib melakukan pengolahan air limbah domestik sehingga mutu air limbah domestik yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui baku mutu air limbah domestik yang telah ditetapkan. BOD.00 WIB). Atas dasar latar belakang tersebut.00–07. minyak dan lemak yang diambil baik sebelum (influent) maupun setelah melalui IPAL (efluent) untuk diperiksa di laboratorium dengan rentang waktu pagi (jam 06. maka dilakukan penelitian tentang peran instalasi pengolah air limbah domestik dalam upaya memperbaiki kualitas air limbah dengan mengetahui perbedaan nilai indikator pH.00–13. Semua hasil pengukuran terhadap parameter tersebut ditabulasi secara manual dan selanjutnya dikelompokkan dalam variasi waktu yang meliputi variasi harian dan mingguan.

3 50 7. Ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai BOD pada influent dan efluent. Kondisi ini penting karena proses dekomposisi bahan organik yang terkandung dalam air limbah domestik berlangsung secara terus menerus baik proses aerobik maupun an-aerobik.29 255.5 29.15 60 6. 2 = Siang. BOD.42 70 6.76 7.5 117.55 2 20. Tidak ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai pH pada influent maupun efluent.12 60 6.3 1 Rabu 1 2 Sabtu 2 3 Minggu 3 4 Rabu 2 5 Sabtu 3 6 Minggu 1 7 Rabu 3 8 Sabtu 1 9 Minggu 2 10 Rabu 1 11 Sabtu 2 12 Minggu 3 JUMLAH RATA-RATA PARAMETER INFLUENT M&L BOD TSS pH 5.75 3.5 99.16 7. Ketidak berhasilan IPAL dalam memperbaiki kualitas pH dapat membawa dampak negatif antara lain dapat mengganggu kehidupan ikan dan hewan air disekitarnya.84 3.67 49.8 55 7. Minyak & lemak = 10 mg/L Hasil dari uji hipotesis diuraikan sebagai berikut: 1.Vol.5 201. 3.09 2.87 3 261.3 75 6.96 5. Tidak ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai minyak dan lemak pada influent maupun efluent Tidak adanya perbedaan pH pada influent maupun efluent menunjukkan bahwa IPAL domestik tidak berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter pH. 4.4 70 6. Adanya perbedaan secara signifikan mengenai besaran nilai BOD pada influent dan efluent menunjukkan bahwa IPAL domestik berperan efektif dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter BOD. BOD = 100 mg/L .5 411.27 5875 7.2 25 7.71 5. Telah diketahui bahwa Total Suspended Solid atau padatan tersuspensi total merupakan zat padat dalam suspensi yang dalam keadaan tenang dapat mengendap setelah Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 102 .5 12.38 3 15. Baku mutu air limbah domestik (Kep.03 63.5 16.I No.2.16 1.62 45 7.62 2 219. 1 = Pagi. Selain itu air limbah yang mempunyai pH rendah bersifat korosif terhadap logam yang mengakibatkan karat.4 85 6.5 40 7.4 20 7.05 4.97 5. Minyak dan Lemak WAKTU NO Hari 1. TSS = 100 mg/L .86 8 339.74 4 28.95 5 399.22 2 25. 112 Tahun 2003 ) pH = 6 – 9 .07 Keterangan : M & L = Minyak dan Lemak.26 705 84. 2.08 PARAMETER EFLUENT M&L BOD TSS pH 3 37.18 50 6.33 10 393.18 65 7.18 55 6.8 65 6.9 50 6.25 26.98 4.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 1. Tidak ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai TSS pada influent maupun efluent.93 6 207. TSS.91 2 48.13 39 320.Neg LH No.3 55 7.07 590 84.5 50 7.6 50 6.96 7 31.93 3 243 55 7.50 3063. Tidak adanya perbedaan nilai TSS pada influent maupun efluent menandakan bahwa IPAL domestik tidak berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter TSS.94 2 33. Hal ini mungkin terjadi karena air yang ada dalam air limbah domestik berfungsi sebagai cairan atau larutan penyangga (buffer) yang berperan sebagai penetral pH.18 30 6. Hasil Pengukuran pH.5 55 6.5 20.Men. 3 = Sore.5 171.4 60 7.

1999:82) Tampak dari hasil penelitian bahwa IPAL di Perumahan Tekad Makmur II Desa Joho Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah hanya berperan efektif untuk parameter BOD. Intisari Edisi Oktober 2001. TSS. padahal parameter air limbah domestik sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 112 Tahun 2003 tentang Baku mutu air limbah domestik dan digunakan untuk mengetahui pengaruh kinerja instalasi pengolah air limbah domestik meliputi 4 (empat) parameter yaitu pH. restaurant. Tidak adanya perbedaan nilai minyak dan lemak pada influent maupun efluent menunjukkan bahwa IPAL domestik tidak berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter minyak dan lemak. MCK Terpadu datang. Got Jorok Hilang. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 103 . baik pada lingkungan abiotik (polusi tanah. Padatan tersuspensi total akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air. namun memerlukan waktu yang cukup lama (Wisnu Arya. perkantoran.Vol. Hal ini dimungkinkan karena dari sifat minyak dan lemak yang sulit didekomposisi oleh mikro-organisme atau kalaupun dapat didekomposisi oleh mikroorganisme tentu memerlukan waktu yang cukup lama. minyak dan lemak. melainkan akan mengapung di atas permukaan air.I No. Jakarta. Jakarta. Azrul Azwar. Saran yang diajukan adalah: 1) Developer perumahan baru seyogyanya melengkapi Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) domestik rumah tangga di perumahan yang dibangun. Air limbah yang mengandung minyak dan lemak bila dibuang ke lingkungan seperti sungai akan mengapung menutupi permukaan air. perniagaan. sehingga dapat mempengaruhi regenerasi oksigen secara fotosintesis (Pramudya Sunu. DAFTAR PUSTAKA Agus Gunardi. Minyak dan lemak dapat dijumpai dalam air limbah domestik yang berasal dari makanan. Minyak dan lemak tidak dapat larut di dalam air.1983. BOD. apartemen dan asrama yang masih menggunakan sistem septictank secara individual guna mengurangi dan mencegah pencemaran tanah dan air tanah yang makin meluas. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari hasil penelitian adalah bahwa peran instalasi pengolah air limbah domestik dengan jauh lebih baik dalam memperbaki kualitas air limbah domestik khususnya dalam menurunkan parameter BOD. Lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat juga terdegradasi oleh mikro-organisme tertentu. Menurut Duncan Mara (1994) kondisi ini beresiko menimbulkan dampak terhadap lingkungan. 2001 : 135 ). 1987: 141). 2) Perlu adanya Peraturan Daerah tentang kewajiban mengolah air limbah domestik bagi usaha atau permukiman (real estate). infeksi cacing tambang serta dampak sosial budaya misalnya rasa jijik). Mutiara. PT. 2001.Intisari Mediatama.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 waktu tertentu karena pengaruh gaya berat dan alat yang digunakan untuk analisanya adalah kerucut Im Hoff ( Sri Sumesti. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. air dan udara) maupun lingkungan biotik (infeksi cacing gilig dari rumput yang terkena limbah tak terolah yang dimakan oleh ternak yang selanjutnya dikonsumsi oleh manusia.

2000. Sugiharto. Sri Sumesti. Metode Penelitian Air. 1982. 1987. Polusi Air dan Udara. Media Informasi Alumni Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Soebagio. Yogyakarta. Geneva :WHO. Yogyakarta :Andi Offset. Edmund G Wagner.Salvato. Rajawali. Jakarta: Grasindo. Surabaya.Vol.Srikandi.1992. 2001. Sungai di Jakarta. Bandung: Penerbit ITB Bandung dan Penerbit Universitas Udayana. Fardiaz . Berlin. Dewats Indonesia. Teknik Pengolahan Air Limbah Secara Biologis. UI Press. Wisnu Aria. 1997. 1959. Joseph A. Jakarta. Instalasi Pengolah Air Limbah Tepat Guna. Modul Tutorial Pendayagunaan Aset Prasarana dan Sarana Penyehatan Lingkungan Permukiman Bidang Air Limbah. Hygiene dan Sanitasi. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 104 . Duncan Mara. Water Supply for Rural Areas and Small Communities. Jakarta : Akademi Penilik Kesehatan Teknologi Sanitasi. 1999. Pemanfaatan air limbah dan Ekskreta.1992. Pramuda Sunu.1994. WC Terpanjang di Dunia. DEWATS Indonesia. Metodologi Penelitian.I No. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah.Direktorat Jenderal Cipta Karya. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Dampak Pencemaran Lingkungan. 2000. New York : Jhon Wiley and Sons. Sumardi Suryabrata. Yogyakarta : Kanisius.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Bowo. 1987. Jakarta. Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 1400. Undang-undang Nomor 23 Tahun 997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.2003. Environmental Engeneering and Sanitation. Biotechnology 2000 Vol 3 . Harian Umum Kompas 5 Mei 2004. Departemen Pekerjaan Umum. 2002. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Unpublished. The World Conggress on Biotechnology 11 th International Biotechnology Symposium and Exhibition. Hal 19. Lusiana Indriasari. Jesus Cordova. Jakarta. Reksosoebroto. Surabaya : Usaha Nasional.

c Nemar that the result was not significant achieve p=1.05. infant *: Prodi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Malang PENDAHULUAN Latar Belakang Anak merupakan generasi penerus bangsa dan menjadi tumpuan serta harapan orangtua. Suwoyo* ABSTRACT A child is a next generation and as anexpectation of his/her parents. by using Wilcoxon Signed Rank Test the range of scores was p=0. Pesantren I. In order to solve the problem. It can be sharn by M.005 (p<0. 2001). The data was analyzed by descriptive and statistic method to differentiate between both group by using Wilcoxon Rank sum test with the significant average 0. Koekoeh Hardjito*. the control group can achieve p=0. The research was done in nine Public Health Center/ Puskesmas in Kediri East Java: Puskesmas Campurejo.020<0.05).I No.000>0.posttest design was conducted which is adapted from experimental quasi. It is proved that by using Man Whitney. dkk. Sukorame. Ini berarti Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 105 . The results showed that there was a difference of the infant development before and after the method. Balowerti.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 EFEKTIFITAS METODE STIMULASI SATU JAM BERSAMA IBU TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-24 BULAN Siti Asiyah*. Because of its importance. This designed program was analyzed by using Probability Proportionate to Size and Simple Random Sampling.001<0. the Non Randomized Control Group pretest.05. Mrican. The aim of this research is to identify the effectiveness of the method to infant age 12-24 months. Masa ini merupakan peletakan pondasi dalam perkembangan anak karena pada saat itulah pembentukan kepribadian anak terjadi. Pengaruh yang sangat besar dan sangat menentukan kepribadian anak kelak adalah ketika anak berusia di bawah enam tahun. this method was said no to effective for the mother and infant intimacy.05 and this also happened by using Fisher’s Exact Test that can only achieve p=1. dan orangtua mempunyai peranan yang amat penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas tersebut (Sholichin.05. But.05 and on the otherside. It meant that this methode was not effective for the intimacy. Kota Wilayah Utara.000>0. Keyword: an hour stimulation. effectiveness can active significantly 0.Vol. mereka perlu dipersiapkan agar kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berperan aktif dalam pembangunan nasional. before and after treatment. development. In the treatment group. It this distributed to 80 people which is divided by 40 of treatment group and 40 of control group. The data was collected twice. Pesantren II and Puskesmas Ngletih. Upaya itu harus dimulai sejak dini. they need to be prepared early and their parent also have an important role to realize their great quality expectation. Kota Wilayah Selatan ( North and South city area). Two instruments were adopted here. They were development Pra Screening Questionnaire for the infant and also the observation sheet. Oleh karena itu.

dengan anak usia 0-2 tahun sebanyak 6895 orang (39.Vol. bicara-bahasa dan sosialisasi-kemandirian anak usia 12-24 bulan pada kedua kelompok sesudah diberikan metode stimulasi satu jam bersama ibu. Mengidentifikasi perkembangan motorik. Hasil analisis Tim Pendidikan Untuk Semua (Education for All) Indonesia tahun 2001 menyebutkan bahwa dari 26. terdiri atas 9. Jika anak tidak mendapatkan rangsangan sejak dini akan mempengaruhi kecerdasan anak.2007). Karena kurang menggali potensi kecerdasan anak usia dini. Tujuan Penelitian 1. 1.9% di sekolah dasar (Susanti. dkk.60%) dari seluruh balita dan jumlah Posyandu 322 buah.4% di Raudhatul Athfal. Cara ini dapat dilakukan dengan mewajibkan setiap ibu yang memiliki anak balita untuk menyediakan waktu satu jam bersama dengan anak tanpa diganggu aktifitas lain. 0. Keberhasilan pendidikan anak usia dini akan sangat berperan besar bagi keberhasilan anak di masa-masa selanjutnya (Yuliana. jumlah balita usia 0-5 tahun di Kota Kediri adalah 17.3% anak-anak prasekolah di pedesaan belum mengakses program pendidikan yang ada baik di jalur formal maupun jalur non formal. 2005). 2006).1 juta atau 28% anak yang mendapat pendidikan.I No. diperoleh 86. Metode ini sangat membantu dalam menstimulasi otak anak untuk menghasilkan hormon yang diperlukan dalam perkembangan. Dari penelitian yang dilakukan Yuliana dkk. bicara-bahasa dan sosialisasi-kemandirian anak usia 12-24 bulan pada kedua kelompok sebelum diberikan metode stimulasi satu jam bersama ibu. 0. Mahalnya biaya pendidikan dan kemampuan ekonomi keluarga diduga menjadi faktor penyulit anak-anak untuk mendapatkan kesempatan belajar terutama untuk anak usia dini.4 juta anak belum mendapatkan pendidikan untuk anak usia dini (Suryadi. Anak yang sudah menjalani deteksi dini tumbuh kembang adalah 7952 orang (46%). penyimpangan tumbuh kembang 22 orang (0.27%) dan masalah mental emosional 1 orang (0. Solusi lain untuk mengatasi masalah perkembangan anak adalah pemberian metode sentuhan ibu. 2001).1 juta anak yang ada di Indonesia. Berdasarkan studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kota Kediri tahun 2007.01%).06%). 6. Human Development Indeks (HDI) atau tingkat pengembangan sumber daya manusia tahun 2004.05% di tempat penitipan anak lainnya dan 9. dari Kelompok Peduli Ibu dan generasi pada tahun 2004 dan 2005 di Pulau Jawa. maka tingkat pendidikan Indonesia di mata dunia berada di kasta terendah (Taufik. 2.13% di kelompok bermain. 2006).2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bahwa lingkungan keluarga memegang peranan penting dan sangat menentukan kepribadian anak di kemudian hari (Sholichin. Berbagai terobosan telah dilakukan sebagai langkah peningkatan dan pencapaian target salah satunya adalah program PAUD berbasis keluarga (metode home schooling group). Cara ini paling murah dan efektif dalam mengoptimalkan dan meningkatkan perkembangan otak. Cara ini terbukti memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan anak (Taufik. 2007). Mengidentifikasi perkembangan motorik. 2007). Sementara 73% atau sekitar 20.410 orang. Indonesia berada di peringkat 111 dari 175 negara. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 106 . dengan kelainan lingkar kepala 5 orang (0. Pendidikan pada usia dini akan sangat membekas hingga anak dewasa.5% di Taman Kanak-kanak.2% (Ma’ruf. baru sekitar 7.6% terlayani di Bina Keluarga Balita. Persentase ini jauh lebih besar dibanding di daerah perkotaan yaitu 73.

ada sembilan (9) wilayah Puskesmas di Kota Kediri yang dipakai sebagai PSU (Primary Sampling Unit). Uji Mann-Whitney tentang homogenitas pendidikan ibu. Pengukuran dilakukan dengan melakukan observasi langsung dan wawancara dengan ibu berdasarkan instrumen Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) dari Depkes tahun 2006 sebanyak 10 soal untuk masing-masing kelompok usia anak yakni usia 12 bulan. stabilitas keluarga.05. Pada kelompok perlakuan. Mayoritas ibu berumur 25-30 tahun (47. sedangkan kelompok kontrol didominasi oleh perempuan (57. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pada kelompok perlakuan.5% pada kelompok perlakuan dan 40% pada kelompok kontrol).2 April 2010 ISSN: 2086-3098 3.158 > 0. jumlah saudara. Untuk anak yang telah mampu melakukan satu tugas perkembangan sesuai aspek KPSP di beri skor 1 dan jika anak gagal diberi skor 0. 18 bulan. diberi skor 10.5% pada kelompok Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 107 . Menganalisis efektifitas metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu terhadap perkembangan motorik. Variabel bebas berupa metode stimulasi perkembangan 1 jam bersama ibu. 15 bulan. Mayoritas ibu memiliki pendidikan SMP/SMA (75% pada kelompok perlakuan dan 80% pada kelompok kontrol).I No. lembar observasi.Vol. bicara-bahasa dan sosial-kemandirian anak usia 12-24 bulan dan variabel perancu berupa faktor keluarga dan adat istiadat: pekerjaan. kuesioner.5% pada kelompok perlakuan dan 82. berarti pendidikan ibu balita homogen antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. sedangkan pada kelompok kontrol. dengan besar sampel 80 orang. bicara-bahasa dan sosialisasi-kemandirian pada anak usia 12-24 bulan. Skor 9-10 berarti anak memiliki perkembangan sesuai dengan usianya. umur terbanyak adalah 12-14 bulan (45%). menunjukkan nilai p=0. umur anak terbanyak adalah sama (30%) masing-masing dari kelompok 12-14 bulan dan 18-20 bulan. dan 21 bulan. skor 7-8 berarti perkembangan anak meragukan dan skor ≤ 6 berarti anak mengalami keterlambatan perkembangan. Bahan penelitian adalah materi stimulasi perkembangan untuk anak usia 12-24 bulan. pendidikan orang tua. Sampel dipilih dengan teknik probability proportionate to size (PPS) yaitu simple random sampling. Dalam penelitian ini. variabel tergantung adalah perkembangan motorik. jenis kelamin anak terbanyak adalah laki-laki (60%). Analisis dilakukan dalam 2 langkah yaitu menggunakan metode statistik deskriptif dan metode statistik analitik (Wilcoxon Signed Ranks Test untuk menilai perbedaan perkembangan anak antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok). BAHAN DAN METODE PENELITIAN PENELITIAN Penelitian kuasi eksperimen yang menerapkan non randomized control group pretespostest design ini menggunakan populasi yaitu ibu yang memiliki anak balita usia 12-24 bulan di sembilan wilayah Puskesmas Kota Kediri.5%). kepribadian orangtua. Pekerjaan ibu yang paling dominan adalah ibu rumah tangga (67. Instrumen penelitian berupa KPSP untuk anak usia 12-24 bulan dari Depkes tahun 2006. Jika anak mampu melakukan semua tugas perkembangan. yang dibagi dalam dua kelompok.

5 40 100 Kelompok Kontrol Frekuensi % 7 17. menunjukkan nilai p=1.5%). peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek sosialisasi dan kemandirian anak. Hasil penelitian tentang perkembangan anak sebelum dan sesudah perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Pada kedua kelompok. menjadi 100% sesudah Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 108 . Tabel 3 menunjukan bahwa pada kelompok usia 12-15 bulan.5 23 57. sebagian besar responden memiliki keluarga yang stabil.05.927>0. Hasil Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p=0. Mayoritas anak pada kelompok kontrol juga memiliki perkembangan normal (57. Tetapi pada kedua kelompok kepribadian ibu yang dominan adalah kepribadian terbuka. Hasil uji homogenitas dengan Mann-Whitney juga menunjukkan bahwa kedua kelompok penelitian ini homogen dengan nilai p=0. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0.I No.5% anak memiliki perkembangan normal. berarti kepribadian ibu pada kedua kelompok tersebut adalah homogen. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek bicara dan bahasa.5 23 57. Tabel 4 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 15-18 bulan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 kontrol). yakni dari 8% sebelum perlakuan. Tabel 5 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 18-21 bulan.05.05.5% dibandingkan dengan ibu pada kelompok kontrol. Perbedaan Perkembangan Anak Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Sebelum perlakuan Frekuensi % 6 15. yakni dari 58% sebelum perlakuan.000>0.0 1 2.05. 18 bulan dan 21 bulan) secara berurutan disajikan pada Tabel 3 sampai dengan Tabel 6.5 40 100 Tabel 2. berarti jenis pekerjaan pada kedua kelompok penelitian adalah homogen. berarti kedua kelompok memiliki kestabilan keluarga yang homogen.5 10 25.000>0.0 23 57. Tabel 1. Dari Tabel 1 terlihat bahwa pada kelompok perlakuan terdapat 57.0 11 27.5% pada kelompok perlakuan dan 85% pada kelompok kontrol. Hasil Fisher’s Exact Test.0 11 27. menjadi 92% sesudah perlakuan (meningkat 84%). berarti jumlah anak yang dimiliki oleh ibu pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan adalah homogen. 15 bulan.Vol. Perkembangan Anak Sebelum Perlakuan Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Kelompok perlakuan Frekuensi % 6 15. Pada kelompok perlakuan ibu yang memiliki kepribadian terbuka lebih banyak 2. perbedaan perkembangan anak berdasarkan aspek perkembangan pada masing-masing kelompok usia (12 bulan. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik halus. menjadi 100% sesudah perlakuan (meningkat 17%).5 37 92. yakni dari 83% sebelum perlakuan. Sebagian besar ibu memiliki 1-2 anak yaitu 87. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=1.197 > 0.675> 0.5 40 100 Sesudah Perlakuan Frekuensi % 2 5.5 40 100 Pada kelompok perlakuan.05.

peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik kasar.Vol.Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 12 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 12 bulan) Frekuensi % 9 75 % 1 8% 4 33 % 10 83 % Sesudah ( Usia 15 bulan) Frekuensi % 10 83 % 11 92 % 12 100 % 12 100 % Tabel 4. yakni dari 90% sebelum perlakuan. Tabel 3.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 perlakuan (meningkat 42%). Dari gambar tersebut terlihat bahwa para ibu telah mampu menerapkan metode stimulasi satu jam 50% pada minggu ke 7 atau setelah observasi ke 3 oleh peneliti.Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 21 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 21 bulan) Frekuensi % 9 90 % 9 90 % 8 80 % 10 100 % Sesudah ( Usia 24 bulan) Frekuensi % 10 100 % 6 60 % 9 90 % 8 80 Kemajuan pencapaian skor ibu dalam menerapkan metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu berdasarkan observasi ditampilkan pada Gambar 1. menjadi 100% sesudah perlakuan (meningkat 10%).Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 15 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 15 bulan) Frekuensi % 4 67 % 5 83 % 5 83 % 4 67 % Sesudah ( Usia 18 bulan) Frekuensi % 5 83 % 5 83 % 6 100 % 5 83 % Tabel 5.Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 18 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 18 bulan) Frekuensi % 10 83 % 8 67 % 11 92 % 7 58 % Sesudah ( Usia 21 bulan) Frekuensi % 12 100 % 12 100 % 12 100 % 12 100 % Tabel 6. Di akhir pengamatan.I No. Sedangkan Tabel 6 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 2124 bulan. para ibu rata-rata Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 109 .

15 bulan.0 40 100 Untuk kelompok kontrol.5 25. kecuali responden nomer 27 & 34 yang sejak awal pengamatan memiliki skor yang rendah. 18 bulan dan 21 bulan) secara berurutan disajikan pada Tabel 8 sampai dengan Tabel 11.5 100 Sesudah Frekuensi % 1 2. Tabel 10 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 110 . Perubahan Perilaku Ibu Dalam Menerapkan Metode Stimulasi Satu Jam 20 15 10 5 0 0 Minggu 1 10 Minggu 3 20 Responden30 Minggu 5 Minggu 7 40 Minggu 9 50 Minggu 12 Gambar 1. Tabel 8 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 12-15 bulan. perbedaan perkembangan secara umum disajikan pada Tabel 7 yang memperlihatkan adanya perubahan perkembangan anak pada kelompok kontrol. Perbedaan Perkembangan Kelompok Kontrol Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian Kategori Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Sebelum Frekuensi 7 10 23 40 % 17. Tabel 7. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik halus. perbedaan perkembangan anak berdasarkan aspek perkembangan pada masing-masing kelompok usia (12 bulan. menunjukkan nilai p=0.5 26 65.020< 0. Perubahan Skor Penerapan Metode Stimulasi Satu Jam Bersama Ibu di Wilayah Puskesmas Kota Kediri Pada kelompok kontrol.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 telah mampu ≥ 75%.I No.0 57. yakni dari 40% menjadi 70% (meningkat 30%). peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik kasar. Misalnya pada awal penelitian ada 7 anak yang mengalami keterlambatan.05 yang berarti ada perbedaan perkembangan antara sebelum dan sesudah penelitian pada kelompok kontrol. yakni dari 11% menjadi 89% (meningkat 78%). Tabel 9 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 15-18 bulan.5 13 32. Wilcoxon Signed Ranks test.Vol. tetapi sesudah tiga bulan berkurang tinggal 1 anak.

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

menunjukkan bahwa pada kelompok usia 18-21 bulan, peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik halus, yakni dari 33% menjadi 83% (meningkat 50%). Di awal penelitian, pada aspek motorik halus dari 6 anak, hanya 2 anak yang lulus perkembangan 100% dan setelah 3 bulan menjadi 5 anak. Sedangkan Tabel 11 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 21-24 bulan, tidak terjadi peningkatan perkembangan pada setiap aspek.
Tabel 8. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 12 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 12 bulan) Frekuensi % 11 61 % 2 11 % 8 44 % 13 72 % Sesudah ( Usia 15 bulan) Frekuensi % 4 22 % 16 89 % 18 100 % 17 94 %

Tabel 9. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 15 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 15 bulan) Frekuensi % 4 40 % 5 50 % 10 100 % 9 90 % Sesudah ( Usia 18 bulan) Frekuensi % 7 70 % 5 50 % 10 100 % 10 100 %

Tabel 10. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 18 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 18 bulan) Frekuensi % 5 83 % 2 33 % 5 83 % 6 100 % Sesudah ( Usia 21 bulan) Frekuensi % 5 83 % 5 83 % 6 100 % 4 67 %

Tabel 11. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 21 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 21 bulan) Frekuensi % 5 83 % 4 67 % 4 67 % 6 100 % Sesudah ( Usia 24 bulan) Frekuensi % 5 83 % 4 67 % 4 67 % 6 100 %

Efektifitas Metode Stimulasi Perkembangan Satu Jam Bersama Ibu untuk meningkatkan perkembangan anak disajikan pada Tabel 12. Setelah 3 bulan diterapkan metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu dan dilakukan pengukuran perkembangan ulang

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

111

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

terhadap kedua kelompok, dapat dilihat bahwa pada kedua kelompok terjadi perbedaan peningkatan jumlah anak yang memiliki perkembangan normal. Pada kelompok perlakuan lebih tinggi yaitu 92,5% jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 65%. Mann-Whitney Test menunjukkan nilai p=0,005<0,05, berarti metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu terbukti efektif untuk meningkatkan perkembangan anak usia 12-24 bulan.
Tabel 12. Perbedaan Perkembangan Anak Setelah Diberi Simulasi Satu Jam Bersama Ibu Antara Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Kategori Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Kelompok perlakuan Frekuensi % 2 5,0 1 2,5 37 92,5 40 100 Kelompok Kontrol Frekuensi % 1 2,5 13 32,5 26 65,0 40 100

Pembahasan Pada kedua kelompok, terjadi perbedaan perkembangan anak antara sebelum dan sesudah diberikan metode stimulasi perkembangan. Pada masa anak-anak, bermain merupakan unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas maupun sosial. Bagi anak-anak, bermain merupakan seluruh aktifitasnya termasuk bekerja, untuk kesenangan dan merupakan metode bagaimana mereka mengenal dunia (Soetjiningsih,2002). Pemberian metode stimulasi satu jam bersama ibu memberikan hasil yang bermakna dilihat dari perubahan perkembangan yang terjadi antara sebelum dan sesudah perlakuan. Intervensi yang diberikan kepada ibu-ibu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan dengan pemantauan yang intensif dari peneliti. Melalui metode ini, ibu diharuskan meluangkan waktu untuk bisa bersama-sama dengan anak dan tidak terganggu dengan aktifitas yang lain. Meskipun singkat, metode tersebut betul-betul diisi dengan kegiatan yang berpengaruh banyak terhadap perkembangan anak. Faktor terpenting dalam mengoptimalkan perkembangan anak adalah kualitas perhatian dari orangtua kepada anaknya. Mencintai dan mengasuh anak dengan penuh kasih sayang sangat berperan untuk mengembangkan intelegensia anak secara optimal (Kusnandi, 2008). Nilai p=0,005< 0,05 pada uji Mann-Whitney, menandakan adanya perbedaan perkembangan anak secara bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Berarti, metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu terbukti efektif untuk meningkatkan perkembangan anak usia 12-24 bulan. Walaupun pada kedua kelompok menunjukkan hasil yang sama-sama bermakna, akan tetapi metode stimulasi perkembangan satu jam lebih efektif dibanding pendekatan stimulasi perkembangan yang ditunjukkan pada kelompok kontrol. Mengapa demikian? Metode ini tidak membutuhkan waktu yang banyak karena setiap hari ibu hanya perlu menyiapkan waktu satu jam bersama anaknya untuk memberikan stimulasi. Metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu juga merupakan metode yang murah. Dalam metode ini, ibu dapat mempergunakan alat permainan yang sederhana dan benda-benda yang ada di sekitar anak. Ibu juga dapat menanamkan nilai-nilai

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

112

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

luhur yang dianut, yang kelak akan sangat berguna bagi kelangsungan hidup anak (Puspita, 2007). Selain murah, metode ini juga bersifat fleksibel. Artinya, pemberian stimulasi dapat disesuaikan dengan kesibukan ibu dengan tetap menyesuaikan dengan kebutuhan anak. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian ini adalah: 1) ada perbedaan perkembangan antara sebelum dan sesudah pemberian metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu pada anak usia 12-24, 2) metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu lebih efektif untuk meningkatkan perkembangan anak usia 12-24 bulan. Berdasarkan simpulan penelitian, saran yang diajukan antara lain: 1) anak perlu mendapatkan stimulasi perkembangan yang memadai melalui sentuhan ibu, kepedulian para kader, serta petugas kesehatan karena masa lima tahun pertama perkembangan bagi seorang anak merupakan masa yang kritis, 2) metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu dapat dipilih sebagai alternatif untuk memberikan stimulasi kepada anak di samping cara-cara yang sudah ada, misalnya melalui Bina Keluarga Balita. DAFTAR PUSTAKA Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC Depkes RI. 2005. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat Jendral Bina kesehatan Masyarakat Depkes RI Depkes RI. 2006. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat Jendral Bina kesehatan Masyarakat Depkes RI Herdjoko, SU. 2007. 16 Juta Anak Tidak Punya Akses ke Pendidikan. Harian Umum Sore Sinar Harapan No. 5511 Sabtu, 27 Januari Mc Cartney, K& Dearing, E, (Ed).2002. Child Development. Mc Millan Refference USA Notobroto, Basuki Hari. 2007. ”Penghitungan Besar sampel” Dalam Materi Pelatihan Teknik Sampling dan Penghitungan Besar Sampel. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNAIR Purnomo, Windhu. 2002. Handout & bahan Kuliah Statistika Dan Statistika Manajemen. Tidak dipublikasikan Rusmil, Kusnandi. 2008. Pertumbuhan dan Perkembangan anak. http://www.aqilaputri.rachdian.com. Akses 21 Juli 2008. Setyaningsih, T (dkk).2005. Pengaruh Pelatihan BKB terhadap Perkembangan Anak 0-1 tahun.dalam Jurnal Kesehatan Vol 3 No. 2 November 2005. Malang: Poltekkes Malang Soedjatmiko, 2006. Pentingnya stimulasi dini untuk merangsang perkembangan bayi dan balita. Sari pediatri, Vol.8, no.3, Desember 2006.www.IDAI.or.id. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak.Jakarta: EGC Sholichin, Juni Ichsan, Ieda Purnomo Sigit Sidi, Anindita K. Budiman, 2001. Pola Asuh Yang mendukung perkembangan anak. Jakarta: Direktorat kesehatan Jiwa masyarakat, Direktorat jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Depkes RI

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

113

Surabaya: Airlangga University Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 114 . Jumat 11 Pebruari 2008 Sutcliffe. Widya (dkk). Republika Onlinehttp://www. Laporan Review Kebijakan: Pendidikan dan Perawatan Anak Usia Dini di Indonesia. Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Masih Rendah.Vol. 2000. Pendidikan Anak Usia Dini. membentuk Ikatan Batin dengan Bayi.republika. Jakarta: Dirjen pendidikan Luar Sekolah dan pemuda Depdiknas Puspita. Surabaya: Balai pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) Regional IV Yuliana.wordpress. Baby Bonding. 2006.Pikiran rakyat Cyber Media. 2007.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Surana. Home Schoolling Bagi Anak Usia Dini.id UNESCO.co. Jakarta: Taramedia & Restu Agung Taufik. J. Ibuku Guruku (Metode Home Schooling Group. http://www.I No. 2005.republika. 2005. M.id/koran Suryadi.co. Meningkatkan Kecerdasan Anak balita dengan Cepat dan Pasti. 2002. 2007. Laporan Analisis Sistemik penyelenggaraan Homeschooling di Jawa Timur.T. http://baitijannati.com/2007/05/23/ibuku-gurukumetode-home-schooling-group-alternatif-model-pendidikan-anak-usia-dini/ akses 4 Pebruari 2008 Zainuddin. Jurnalnet. 2007.com 20/7/2007 diakses 4 januari 2008 Susanti. Metodologi Penelitian.2007. Alternatif model PendidikanAnakUsiaDini).

Kata kunci: urin kultur. Jika sampel yang dikirim serta diproses melebihi 24 jam.8ºC SELAMA LEBIH DARI 24 JAM TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Dwi Krihariyani* ABSTRAK Salah satu penegakan diagnosis infeksi saluran kemih adalah pemeriksaan urin kultur. Mengingat alasan jarak. sehingga waktu dan suhu penyimpanan dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH PENYIMPANAN URIN KULTUR PADA SUHU 2ºC .8ºC. Metode pengolahan data yang digunakan adalah uji ANOVA. spesimen harus disimpan di lemari es (20C-80C) segera setelah pengambilan. Pada pemeriksaan urin kultur. dan materi organik yang dapat menjadi media bagi pertumbuhan bakteri. tidak sedikit sampel yang dirujuk ke laboratorium membutuhkan melebihi 24 jam. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh lama penyimpanan urin kultur pada suhu 2ºC. Secara ideal spesimen kultur harus sudah sampai di laboratorium dan diproses dalam waktu 2 jam setelah pengambilan. sehingga Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 115 . pertumbuhan bakteri *: Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Laboratorium berperan penting dalam penegakan diagnosis dan infeksi. atau disimpan dalam suhu 40C untuk dapat dikirim ke laboratorium dan diproses tidak lebih dari 18 jam (Vandepitte. Adapun menurut SOP in Microbiology Dir Lab Kes Dep Kes RI. dengan salah satu pemeriksaan yaitu biakan atau kultur. Hingga kini tak semua laboratorium dapat memberikan pelayanan kultur karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh laboratorium tersebut. sehingga diperlukan laboratorium rujukan untuk kultur. Penelitian eksperimental komparatif ini menggunakan sampel spesimen yang diambil dari penderita perempuan berusia 25–50 tahun dan belum mendapat pengobatan.05.80C. Jika hal ini tidak mungkin. dengan nilai signifikansi < 0. secara teoritis akan mengalami perubahan dalam pertumbuhan. waktu dan suhu penyimpanan harus diperhatikan. Urin mengandung sisa metabolisme. Hal ini tentu tidak sesuai dengan prosedur dasar laboratorium yang menyarankan waktu pengiriman sampel hingga proses tidak lebih dari 18 jam setelah pengambilan (Dir Lab Kes Dep Kes RI. garam terlarut. waktu penyimpanan. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari adanya kenaikan jumlah bakteri yang signifikan antara perlakuan spesimen yang diproses kurang dari 2 jam dan setelah penyimpanan 24 jam pada suhu 20C .I No. terutama Infeksi Saluran Kemih (ISK). Penelitian dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2009. 2003). Selanjutnya harus sudah diproses di laboratorium dalam waktu 18 jam. 2000 semua spesimen harus sudah sampai di laboratorium dalam waktu 1 jam setelah pengambilan. 2000). sesuai dengan SOP in Microbiology Dir Lab Kes Dep Kes RI 2000 bahwa semua spesimen urin harus sudah diproses kurang dari 2 jam setelah pengambilan atau disimpan pada suhu 20C-80C selama maksimum 18 jam. Hal yang perlu diperhatikan saat mengirim ke laboratorium rujukan adalah waktu penyimpanan spesimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan urin kultur pada suhu 20 C-80 C selama lebih dari 24 jam.Vol.

Vol. urin disimpan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam diinokulasi pada media CLED.000 c 2. diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Untuk Kelompok III dan IV.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 proses pemeriksaan dikhawatirkan mengalami kegagalan. Hasil Pengamatan Pertumbuhan Bakteri pada 4 Kelompok dengan 6 Kali Replikasi Spesimen urin A B C D E F Total I <2 540.000 c 12.000 c 2. Pada masing-masing kelompok diamati dan dihitung jumlah bakteri yang tumbuh.735.000 a 3. Urin dikelompokkan menjadi 4 perlakuan berdasarkan waktu dan suhu penyimpanan. Penghitungan koloni menggunakan teknik yang umum dilakukan yaitu loop (ose) yang dikalibrasi (volume ose adalah 1/1000 ml). Diperlukan 6 replikasi pada masing-masing perlakuan.400.135.000 d 1.000a 850.400.265.225. Selanjutnya dilakukan uji Anova untuk mengetahui adanya signifikansi perbedaan. Metode statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan pertumbuhan bakteri pada 6 spesimen dari masing-masing kelompok perlakuan. suhu penyimpanan 2ºC-8º C selama 48 jam dan 72 jam. Pada Kelompok II (b). Pada kelompok II.000 c 140.120.000 d 9. Urin porsi tengah diambil oleh penderita. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian mengenai pertumbuhan bakteri disajikan pada Tabel 1. Tabel 1.000 a 650.000 d 1.955.850.650. Pada Kelompok III (c) Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 116 .450. Pada kelompok I.000 b 13.400. lalu diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.000b 2.I No.000 b 3.745. Sampel penelitian adalah spesimen urin penderita perempuan berusia 25–50 tahun dan belum mendapat pengobatan.427. Pemeriksaan dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya. Prosedur yang direkomendasikan menggunakan ose metal atau plastik yang dikalibrasi untuk menanam 1 l (1 mata ose/sengkelit) urin ke medium CLED.000 a Perlakuan (jam) II = 24 III = 48 2.000 d Pada Kelompok I (a) terjadi pertumbuhan bakteri. diambil 2 jam setelah BAK terakhir.025.000 d 105.000 c 2. diperlukan penelitian yang mampu menjelaskan pengaruh penyimpanan terhadap tingkat pertumbuhan bakteri pada pemeriksaan urin kultur. Disarankan spesimen diambil pada pagi hari (tidak buang air kecil/BAK pada jam 22.000.000d 2.000 a 750.000 c IV = 72 1.700.000 b 150. urin < 2 jam setelah pengambilan diinokulasi mengunakan ose standard (1 l) pada media CLED. Berdasarkan hal tersebut.000 d 2. dengan penyajian berbentuk tabel frekuensi. yang sebelumnya telah diberi penjelasan agar didapatkan spesimen yang baik.900. terjadi peningkatan jumlah bakteri secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok I. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian eksperimental komparatif ini bertujuan membandingkan pengaruh perlakuan penyimpanan spesimen terhadap pertumbuhan bakteri.00 hingga bangun tidur) dan bila tak dapat.000c 3.000 b 2.000 b 3.000 b 2.000 a 600.000 a 37.520.

maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang. yang menunjukkan bahwa pada penyimpanan 24 jam dan 48 jam terjadi peningkatan pertumbuhan bakteri.017. Pembahasan Pemeriksaan urin kultur adalah salah satu diagnosa untuk menentukan infeksi saluran kemih dan pemberian jenis antibiotik yang sesuai. yaitu suhu yang memungkinkan bakteri tumbuh dengan cepat dan optimum.I No.862 1. Suhu dapat mempengaruhi metabolisme bakteri.167 2. garam terlarut dan bahan organik (nitrat).499 untuk lama penyimpanan. Media CLED adalah media untuk mendeteksi adanya bakteri dalam urin kultur. protein. Untuk mengetahui kelompok amatan yang berbeda. sehingga disimpulkan data memiliki varians homogen.624.473 Uji Anova menunjukkan nilai p=0. Hasil Kolmogrov-Smirnov Test menunjukkan p=0. Bakteri yang tumbuh pada media CLED dapat dibedakan antara bakteri pemfermentasi laktose dan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 117 .541 806. sehingga Ho ditolak.Vol.013 atau < 0.138. Penyimpanan kurang dari 2 jam berbeda dengan penyimpanan 48 jam.80 C ).166. Nilai Rerata dan Simpangan Baku dari 4 Perlakuan (Lama Penyimpanan) Lama penyimpanan kurang dari 2 jam 24 jam 48 jam 72 jam Rerata 571. Semakin cepat metabolisme.368 atau >0. 48 jam dan 72 jam) terhadap pertumbuhan bakteri. Ketiga asumsi telah terpenuhi sehingga uji Anova dapat dilakukan. maka data dianalisis dengan uji Anova dengan memperhatikan beberapa asumsi yaitu data berdistribusi normal. yaitu bakteri yang mempunyai suhu optimum 30ºC-37ºC dan suhu minimum 5ºC-10ºC. Bakteri mempunyai suhu optimum (suhu inkubasi) untuk pertumbuhannya. Selain nutrisi.167 1. Deskripsi rerata dan simpangan baku untuk tiap kelompok tertera pada Tabel 2. semakin cepat pertumbuhan bakteri.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 terjadi peningkatan jumlah bakteri secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok II.410. Bakteri enterik termasuk kelompok bakteri mesofil. artinya ada perbedaan pertumbuhan bakteri menurut perlakuan yang diberikan. pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh suhu.077. namun pada penyimpanan 72 jam mengalami penurunan.929.289.159. Di dalam urin terkandung banyak sisa metabolisme.688 untuk pertumbuhan bakteri dan p=0.553. Kedua nilai p tersebut > 0. dilakukan uji perbandingan berganda dengan LSD untuk mencari perbedaan terkecil. Tabel 2. Hasil Levene’s Test menunjukkan nilai p=0. maka bila ada sedikit saja bakteri di dalam urin.05.863 1. Penyimpanan kurang dari 2 jam berbeda dengan penyimpanan 24 jam 2.67 2. pada spesimen urin kultur sebagian besar bakteri penyebab infeksi saluran kemih adalah bakteri enterik. 24 jam.05. sehingga disimpulkan terdistribusi normal.05. Untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan urin kultur (< 2 jam. berskala interval atau rasio dan bervarians homogen. Bahan-bahan yang terkandung di dalam urin tersebut menjadi nutrisi atau media bagi pertumbuhan bakteri. Post Hoc Test mendapatkan hasil sebagai berikut: 1. Pada Kelompok IV (d) terjadi penurunan jumlah bakteri secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok III (setelah pengambilan dalam waktu 48 jam pada suhu 20 C .167 Simpangan Baku 283. Lain halnya untuk spesimen urin kultur.

000 koloni/ml urin) pada perlakuan kurang dari 2 jam setelah pengambilan tidak menunjukkan adanya infeksi saluran kemih. Darkuni. Sedangkan jumlah bakteri pada perlakuan setelah penyimpanan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam dapat menunjukkan adanya infeksi saluran kemih. Collee J. Jumlah bakteri (37. Berdasarkan hasil penelitian di atas. maka bakteri pemfermentasi laktose memberi warna kuning. Mikrobiologi. yang kemudian akan berhenti karena nutrisi sudah tidak memadai. 18 Juni 2009 Anonim 2.com. New York Edinburgh London Madrid Melbourne San Fransisco and Tokyo.Ed by Cattel.co. Makckie & McCartney Practical Medical Microbiology.wordpress. Pada Kelompok II. Dapat dikatakan bahwa peningkatan jumlah bakteri ini terjadi hampir 4 kali lipat daripada Kelompok I.Definitions and Classifications. B.WR. Hal ini sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP). Medical Microbiology. Hal ini terjadi sesuai dengan kurva pertumbuhan bakteri yaitu apabila satu bakteri diinokulasikan pada suatu medium.. www. Jawetz.2008.Fraser Andrew G. E dan F) memiliki jumlah bakteri >100. Dalam penelitian ini.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 non pemfermentasi. 2000 yang menyatakan bahwa adanya jumlah bakteri 100. Pada Kelompok IV terjadi penurunan jumlah bakteri.000 koloni/ml.. Urinary Tract Infections.I No. terdapat peningkatan jumlah bakteri yang sangat signifikan (>100. dari 6 spesimen urin yang telah disimpan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam dan diinokulasikan pada media CLED. pengantar-tentang-bakteri. Simmons Anthony 1996. Jumlah bakteri yang tumbuh pada spesimen urin kultur dapat menentukan adanya infeksi saluran kemih. DAFTAR PUSTAKA Adelberg.000 koloni/ml urin dan 1 penderita (spesimen C) memiliki jumlah bakteri <100.kalbe.000 koloni/ml). maka bakteri akan memperbanyak diri dengan kecepatan yang konstan pada waktu tertentu.Oxford University Press. Anonim 1. D. 2008 Anonim 3 Mikro-organisme penyebab Infeksi Saluran Kemih. Cattel WR. diperoleh hasil: 5 penderita (spesimen A. Melnick . pada Kelompok I dari 6 (enam) spesimen urin yang diinokulasikan pada media CLED kurang dari 2 jam.id.000 atau lebih/ml urin dapat menentukan adanya infeksi saluran kemih.filzahazny. edisi 23. 1996. Peningkatan jumlah bakteri juga terjadi pada Kelompok III. Hal ini sesuai dengan signifikasi pembuktian (uji Anova) menunjukkan adanya perbedaan lama penyimpanan urin kultur pada suhu 2ºC-8ºC. sehingga akan terjadi penurunan jumlah bakteri dan akhirnya terjadi kematian dari bakteri itu. Dengan demikian. Penilaian hasil pemeriksaan urine.Vol. Noviar 2001.. Setelah diperlakukan dengan penyimpanan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam didapatkan jumlah pertumbuhan bakteri sebesar 140. Marmion Berrie P. terdapat satu spesimen urin kultur dengan kode C yang diinokulasi pada media CLED kurang dari 2 jam setelah pengambilan dan didapatkan jumlah pertumbuhan bakteri sebesar 37. fourteenth edition. Dengan adanya indikator brom thymol blue pada media CLED.000 koloni/ml.In Infectionsof The Kidney and Urinary Tract.Gerald.000 koloni/ml. Malang JICA Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 118 . Jakarta penerbit Buku Kedokteran EGC. penyimpanan spesimen urin kultur pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam dapat memberikan hasil diagnosa yang sangat berbeda dengan spesimen urin kultur yang diproses kurang dari 2 jam setelah pengambilan spesimen.

Seri ringkasan.. 2009. Lukasewycz Omelan. Second edition Standard Operating Procedures in Microbiology. Female. Arthur G. University of Chicago J. penerbit PT Gramedia.1994. Rohner P.I No. Hans dengan bantuan Karin Schmidt. Engbaek K. MD.C. Pengantar Mikrobiologi. Basic Laboratory Procedures in Clinical Bacteriology. Melnick & Adelberg. Saifuddin AB. Schlegel. Piot P. Faktor Risiko Infeksi Saluran Kemih Pada Pertolongan Persalinan Spontan di R. Hawley Louise . Yogyakarta penerbit Gajah Mada University Press. Petunujuk Praktikum Mikrobiologi.kalbe. edisi 23. Jakarta Shaver DC. Oriputra D. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 119 .. Medical Microbiology. Fauzi A 2008. Universitas Negeri Malang. Phelan ST. Edisi kedua. Beckman CRB. Gerard Bonang. 2003. Heuck C. Mikrobiologi Umum. Jakarta penerbit Binarupa Aksara. Enggar S.. Jeneng 1998. Jakarta. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik. New Gupte Satish. Mohammad Hoesin Palembang. 2005. Ziegler Riechard. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Howes. MD.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 G. Utami Sri.Verhaegen. 2001. 2008 . Mikrokrobiologi Dasar.Vol. Aryani A. Malang.1993. edisi ketiga. Clinical Manual of Obstetrics. Urinary Tract Infection.Koeswardono 1982. Fitzgerald Thomas J. Hastuti.1994. edisi keenam.id .Vandepitte and J. Jakarta . Direktorat Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan RI Tarigan. Mikrobiologi dan Imunologi.co. Davis S. Johnson.2000.1990 . Geneva World Health Organization. Ling FW.2008. www. Jakarta penerbit Binarupa Aksara. Jawetz. Infeksi saluran kemih.S.

sebanyak 14.. Obyek penelitian deskriptif ini adalah 7 rumah penderita TB Paru dan menggunakan data primer yaitu pengukuran keadaan fisik rumah.29% dan kurang sebanyak 28. sedang 14.Rp.29%.000 orang meninggal setiap tahun (Harian Umum Kompas. jumlah kasus baru TB meningkat di seluruh dunia. Di dalam Piramida Mesir Kuno juga ditemukan gambar relief manusia bongkok yang kemungkinan menderita TB tulang belakang atau gibbus pada spondilitis TB.000. TB Paru. observasi.sebanyak 85. Sepanjang dasawarsa terakhir pada abad XX. setelah India dan China. yaitu 95% kasus terjadi di negara sedang berkembang dan Indonesia menduduki peringkat ke-3 penyumbang kasus TB terbanyak di dunia. dan keadaan sanitasi rumah berperan dalam hal penularan penyakit TB Paru.000 dalam bentuk aktif yang dapat menular kepada orang lain serta sekitar 140. Kata kunci : Sanitasi rumah. 200.Vol.000.I No. Gambaran TB telah ada sejak lama. Selain pengobatan secara rutin.57%. sedangkan tingkat pendapatan < Rp. *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang sudah sangat tua dan bahkan mungkin lebih tua daripada sejarah manusia. misalnya dalam salah satu tokoh cerita The Hunchback of Notre Dame yang terkenal karya sastrawan besar Vector Hugo. wawancara dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder dari puskesmas dan kantor desa.14%). 500. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 120 . perbaikan sanitasi rumah menjadi satu cara untuk memutus mata rantai penularan penyakit..2 April 2010 ISSN: 2086-3098 STUDI TENTANG KEADAAN SANITASI RUMAH PENDERITA TB PARU DI DESA BANJAREJO KECAMATAN PANEKAN KABUPATEN MAGETAN *Karno ABSTRAK Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan penularan melalui udara yang terpercik dahak penderita sewaktu batuk maupun bersin. Hasil penelitian menunjukkan sanitasi rumah semua (100%) dalam kategori kurang. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular berbasis lingkungan dengan salah satu sebab yaitu sanitasi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan rumah ini dapat menjadi mata rantai penularannya. tingkat pendidikan sebagian besar tamat SD (57. tingkat pengetahuan dan tingkat pendapatan dengan keadaan sanitasi rumah. tingkat pengetahuan dengan kriteria baik 57.000. 14 Maret 2002 ). sehingga menjadi program prioritas pemerintah melalui strategi DOTS untuk pemberantasannya...000 kasus baru di Indonesia dengan sekitar 262. Penelitian ini dilakukan di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan mengenai keadaan sanitasi rumah seluruh penderita penderita TB Paru BTA positif sebanyak 7 penderita. Penyakit TB Paru menyerang sebagian besar kelompok usia produktif. setiap tahun ada 583.14%.71% dan antara Rp. WHO memperkirakan. Ditemukan pula kuman TB pada sebagian mumi Mesir dan sebagian fosil dinosaurus. Kesimpulan penelitian adalah ada keterkaitan antara pendidikan. 200.

2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Program Pemberantasan penyakit TB Paru saat ini menggunakan strategi pengobatan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse ) yang direkomendasikan oleh WHO yang selanjutnya berkembang dengan pembentukan GERDUNAS-TB (Gerakan Terpadu Nasional Tuberkulosis). informasi dan menjadi bahan pertimbangan dan masukan dalam upaya pemberantasan TB Paru. Tabel 2 dan Tabel 3. yang masingmasing ditampilkan pada Tabel 1. namun sebaliknya rumah yang tidak memenuhi syarat dapat berperan dalam penularan berbagai penyakit menular berbasis lingkungan termasuk TB Paru. Persentase Persyaratan Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Keadaan fisik Memenuhi Syarat Tidak memenuhi syarat Jumlah rumah Jumlah % Jumlah % Jumlah % Pencahayaan 0 0 7 100 7 100 Kelembaban 7 100 0 0 7 100 Suhu (< 18º C) 1 14. pencahayan. Tabel 1. Rumah yang sehat akan mendukung kelangsungan hidup serta kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya. khususnya perumahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit TB Paru secara epidemiologi selain agent dan penjamu (host). persentase persyaratan fisik rumah. Rumusan Masalah. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Keadaan Sanitasi Rumah Data keadaan sanitasi rumah terdiri atas hasil pengukuran keadaan fisik rumah. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian deskriptif lapangan ini bertujuan memperoleh gambaran keadaan sanitasi rumah dan penderita TB Paru dari total populasi yaitu seluruh rumah dan penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan sebanyak 7 rumah.29 6 85. dan hasil penilaian keadaan sanitasi rumah. Lingkungan.Vol. Tujuan dan Manfaat Penelitian Rumusan masalah penelitian adalah: ”Bagaimana keadaan sanitasi rumah penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan ?” Sedangkan tujuan penelitian adalah menilai keadaan sanitasi rumah (ventilasi.6 7 m x 11 m 5 54 51 17 1 7 m x 11 m 6 50 53 18 12 7 m x 11 m 7 40 50 17 0 4mx6m No 1 2 3 4 Tabel 2. pengetahuan dan pendapatan. Hasil Pengukuran Keadaan Fisik Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo No Pencahayaan (Lux) Kelembaban (%) Suhu (ºC) Luas Ventilasi (m²) Luas Lantai (m²) 1 37 60 15 0 5mx6m 2 58 58 16 2 5mx7m 3 34 56 16 0 4mx6m 4 59 55 17 0. suhu dan kelembaban serta kepadatan penghuni) dan gambaran penderita TB Paru meliputi tingkat pendidikan.71 7 100 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 121 .29 6 85. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan.I No.71 7 100 Luas Ventilasi 1 14.

00 Jumlah 7 100. Distribusi Golongan Umur Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Golongan Umur Jumlah Persentase 30 – 45 tahun 4 57.I No. pekerjaan dan pendapatan) disajikan pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 9.29 2 Tamat SD 4 57. jumlah jiwa. Distribusi Tingkat Pendidikan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Nomor Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase 1 Tidak Sekolah 1 14. pengetahuan.29 Kurang 2 28. Keadaan Sanitasi Rumah Jumlah Persentase ( % ) Baik 0 0 Sedang 0 0 Kurang 7 100 Jumlah 7 100 Berdasarkan data di atas.29 5 Tamat Perguruan Tingi 0 0. Nomor 1 2 3 Tabel 4. Karakteristik Penderita TB Paru Karakteristik penderita TB Paru (umur.57 Jumlah 7 100. Distribusi Tingkat Pengetahuan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Pengetahuan Jumlah Persentase Baik 4 57. Hasil Penilaian Keadaan Sanitasi Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo.00 Tabel 7.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 3. diketahui bahwa keadaan sanitasi rumah penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan semua dalam kategori kurang.29 4 Tamat SMA 1 14.14 46 – 61 tahun 1 14.00 Tabel 5.14 Sedang 1 14.57 Jumlah 7 100 Nomor 1 2 3 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 122 .29 62 – 77 tahun 2 28. pendidikan. Distribusi Jumlah Jiwa Dalam Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Nomor Jumlah Jiwa Dalam Rumah Penderita TB Bukan Penderita TB 1 5 1 4 2 6 1 5 3 5 1 4 4 7 1 6 5 3 1 2 6 6 1 5 7 5 1 4 Jumlah 37 7 30 Tabel 6.Vol.14 3 Tamat SMP 1 14.

Ketiga. jumlah jiwa di dalam rumah cukup banyak. 2) ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. resiko terjadinya TB paru pada balita yang rumahnya lembab adalah 18 (dibulatkan) kali dibandingkan dengan balita yang rumahnya tidak lembab.perbulan. resiko terjadinya TB paru pada balita yang menempati rumah padat penghuni (pebih besar atau sama dengan 9 meter persegi per orang) adalah 42. kecuali anak di bawah umur 5 tahun dan 4) kualitas udara (di dalam rumah tidak boleh melebihi ketentuan yaitu: untuk suhu udara nyaman berkisar 18º–30 ºC sedang kelembaban udara berkisar antara 40%–70%). berpendidikan SD. Jelaslah bahwa keadaan sanitasi rumah maupun karakteristik penderita TB Paru di Desa Banjarejo berada dalam kondisi beresiko. 500. 3) kepadatan hunian ruang tidur.000 1 14.71 Wiraswasta 1 14.Rp. 500. Kedua.Vol. Secara lengkap kesimpulan penelitian mereka adalah sebagai berikut: Pertama. 200.71 Rp.29 Rp. Penelitian tentang faktor resiko terhadap kejadian penyakit TB Paru telah dilakukan oleh Suhardi dkk.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 No 1 2 Tabel 8. Distribusi Pekerjaan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Pekerjaan Jumlah Persentase Tani 6 85.000.I No.29 JUMLAH 7 100 Tabel 9.000. (2006) di Salatiga menunjukkan bahwa sebagian besar faktor resiko terjadinya penyakit TB Paru adalah berasal dari keadaan sanitasi rumah. resiko terjadinya TB paru pada Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 123 .8 kali dibandingkan balita yang memiliki suhu ruangan rumahnya memenuhi syarat kesehatan. bekerja sebagai petani dan memiliki pendapatan < Rp. Keempat.000.... memiliki tingkat pengetahuan yang baik.476 kali dibandingkan balita yang memiliki luas ventilasi memnuhi standar kesehatan (lebih besar atau sama dengan 10% dari luas lantai rumah).000. di samping faktor resiko lainnya.6 85. resiko terkenanya penyakit TB paru pada balita yang memiliki luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan (lebih kecil dari 10% luas lantai rumah) adalah 15. 200. Kelima. Keadaan tersebut mungkin tidak perlu terjadi jika sanitasi terjaga kualitasnya.14 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang tidak menempati rumah padat penghui. Berkaitan dengan hal tersebut APHA dan Winslow telah memaparkan bahwa salah satu persyaratan dari rumah sehat adalah dapat mencegah terjadinya penularan penyakit dan kecelakaan.keatas 0 0 JUMLAH 7 100 Nomor 1 2 3 Tampak bahwa sebagian besar penderita TB Paru berada pada golongan umur 30-45 tahun. minimal 8 meter persegi dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang tidur dalam satu ruang tidur. sesungguhnya penularan TB dapat dicegah dengan mempraktekkan pola hidup sehat termasuk menjaga lingkungan dan sanitasi rumah. 200.. resiko terkenanya penyakit TB paru pada balita yang memiliki suhu ruangan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu 9. karenan menurut WHO. Distribusi Pendapatan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Pendapatan Jumlah Persentase < Rp. Pentingnya rumah yang sehat ini juga dikemukakan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan yang isinya antara lain mencakup: 1) pencahayaan (seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan).

go. Hari Tuberkulosis Sedunia ”Salah Kaprah Tuberkuilosis Anak”. Jakarta : Depkes RI Indrarto Wikan. Slamet Juli Soemirat.198 kali lebih besar dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif.id/risbinkes Tabloid ” Senior ”. ventilasi dan pemasangan genteng kaca agar pencahayaan alami dari sinar matahari masuk secara maksimal. resiko terjadinya penyakit TB pada baita yang tidak memperoleh imunisasi BCG yaitu 16. 1989. Kesehatan Lingkungan. Hal 31. Saran yang diajukan adalah: 1) institusi kesehatan baik dinas kesehatan maupun puskesmas diharapkan melakukan pengawasan. 200. Kesembilan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 829 /Menkes/ SK/VII/ 1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ditarik simpulan sebagai berikut: keadaan sanitasi penderita TB Paru seluruhnya berada dalam kategori kurang. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 124 . DAFTAR PUSTAKA Anonim.667 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang mempunyai status gizi lebih baik di masa lampau.Vol.762 kali dibandingkan dengan balita yang rumahnya tidak ada penderita TB yang lain. Kedelapan. Nomor 558/ 26 Maret – 1 April 2010. jumlah jiwa di dalam rumah cukup banyak. Hubungan Faktor Resiko Kondisi Rumah Terhadap Kejadian TB Paru Pada Balita Di Wilayah Kota Salatiga Tahun 2006. 2010. resiko terjadinya TB paru pada balita yang di rumahnya ada penderita TB yang lain adalah sebesar 49. pemantauan dan penyuluhan secara rutin tentang sanitasi rumah kepada penderita TB Paru dan anggota keluarganya secara lebih intensif sehingga tujuan program pemberantasan TB paru dengan Strategi DOTS dapat berhasil dan rumah tidak menjadi tempat mata rantai penularan penyakit ini. Suhardi. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Aditama Candrayoga. Gaya Hidup Sehat Nomor 137/22-28 Februari 2002. bekerja sebagai petani dan memiliki pendapatan kurang dari Rp..2 April 2010 ISSN: 2086-3098 anak yang rumahnya tidak cukup pencahayaan adalah 4 kali dibandingkan dengan balita yang cukup pencahayaan. 2) Penderita TB Paru selain berobat secara tepat dan teratur diharapkan juga lebih memperhatikan masalah sanitasi rumah khususnya masalah jendela. Sanropie.000. Direktorat Jenderal PPM dan PLP Depkes RI. 2002. Kompas 28 Maret 2010. Bandung. berpendidikan SD. Karakteristik penderita TB Paru adalah: sebagian besar berada pada golongan umur 30-45 tahun.depkes.litbang. Djasio. 2001.673 kali dibandingkan balita yang memperoleh imunisasi BCG. memiliki tingakat pengetahuan yang baik. Keenam. UGM Press. Tabloid “ Gaya Hidup Sehat. Nuryadani SA dan Triana AA. Windarsih DW. resiko terjadinya TB paru pada balita yang mempunyai status gizi kurang pada masa lampau adalah 11. TB bisa dicegah. Pedoman Nasional Penanggulangan TBC. Gerdu TB Perlu Revitalisasi dan Komitmen Politik. Harian Umum Kompas 24 Maret 2010 Hal 14. Jakarta: Depkes RI.perbulan. Harian Umum Kompas 14 Maret 2002 . http://www. Ketujuh. TB bisa disembuhkan. 2010. resiko terjadinya penyakit TB paru pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif adalah 9.I No. 1994.

Kata kunci: perilaku. penyuluhan.Vol. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0. personal hygiene. Masa remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam rentang kehidupan individu. Suwoyo*. Masa preadolescence pada wanita terjadi pada usia 11–13 tahun. perlu diberikan pendidikan kesehatan khususnya kesehatan reproduksi.001 > α 5% atau ada perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi antara sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi. emosional dan sosial (IDAI. untuk itu pendidikan kesehatan perlu diberikan agar kebersihan diri bisa dijaga dengan baik. tidak menyebarkan kotoran atau menularkan penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain. Analisis menggunakan uji Wilcoxon pada α 5%. yang jika kurang dijaga kebersihannya akan berpotensi untuk timbul infeksi pada organ reproduksi (Yusuf. yang menuntut remaja putri mampu merawat organ reproduksi dengan baik terutama dalam hal kebersihan pribadi (personal hygiene). Untuk menghindari infeksi vagina. mental.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PERBEDAAN PERILAKU MENJAGA PERSONAL HYGIENE SAAT MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN PENYULUHAN TENTANG PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI Koekoeh Hardjito*. kebersihan diri harus dijaga termasuk saat manusia memasuki masa remaja. 2002). tidak bau. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra eksperimen dengan One Group Pre test–post test design. ada kerjasama antara pihak sekolah dan petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan pendidikan kesehatan reproduksi sehingga perilaku dalam menjaga personal hygiene khususnya saat menstruasi lebih meningkat. Hal ini disebabkan oleh peristiwa menstruasi yang merupakan darah kotor. Siti Asiyah* ABSTRAK Dalam rentang kehidupan manusia. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik. kesehatan reproduksi *: Program Studi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Malang PENDAHULUAN Latar belakang Manusia perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar sehat. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui perbedaan perilaku dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri di SDN Jamsaren I Kota Kediri sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan tentang pendidikan kesehatan reproduksi. dengan tujuan agar terbentuk pengetahuan tentang perlunya personal Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 125 .I No. Guna menciptakan perilaku tersebut. Masa remaja (adolescence/puberty) dimulai pada usia 11 atau 13 sampai usia 21 tahun. termasuk saat seorang remaja putri mengalami menstruasi. remaja putri perlu memiliki perilaku yang baik dalam kebersihan diri. Sampel penelitian sebanyak 22 remaja putri yang diambil secara purposif. Sepanjang siklus kehidupan manusia. Melalui kegiatan ini dapat disampaikan hal-hal yang terkait dengan organ reproduksi termasuk personal hygiene alat reproduksi. menstruasi. khususnya kebersihan alat reproduksi. 2002). Secara fisik pada masa ini terjadi perubahan organ seksual. seseorang perlu mampu menjaga kebersihan diri. Diharapkan dari penelitian ini. Salah satu perubahan fisik yang dialami remaja putri adalah menstruasi pertama.

Setelah itu kuesioner diambil dan dilanjutkan dengan pemberian penyuluhan tentang kesehatan reproduksi. 2) masukan bagi masyarakat. Diharapkan penelitian ini membawa manfaat sebagai: 1) sumbangsih pemikiran dalam memilih. sekolah. sesuai dengan permasalahan yang belum teridentifikasi. Studi pendahuluan di SDN Jamsaren I Kota Kediri memperoleh hasil bahwa 3 dari 5 siswa yang telah menstruasi mengatakan tidak mengerti cara menjaga kebersihan diri yang benar. dan sampel diambil secara purposif sebanyak 22 siswa. yang masing-masing didefinisikan pada Tabel 1. Jika pengetahuan meningkat. 3) tambahan informasi bagi para akademisi dan praktisi yang terkait dengan Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan. yang menjadi dasar terbentuknya perilaku menjaga personal hygiene. dan perilaku siswa dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi merupakan variabel terikat. Rumusan Masalah. Tujuan dan Manfaat Penelitian Rumusan masalah penelitian ini adalah: “Adakah perbedaan perilaku dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri Di SDN Jamsaren I Kota Kediri antara sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan tentang pendidikan kesehatan reproduksi ?” Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengidentifikasi perilaku remaja putri dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan. puskesmas dan pemerintah dalam memfasilitasi pengembangan perilaku sehat remaja putri.76 Skor < 56 Ordinal Penyuluhan kesehatan reproduksi merupakan variabel bebas. diharapkan timbul sikap positif dalam menjaga personal hygiene.Vol. 4) bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian pra eksperimen di SDN Jamsaren I Kediri pada bulan April-Mei 2009 ini menerapkan one group pre test–post test design. Kemudian dilanjutkan dengan penyebaran kuesioner yang sama setelah diberikan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 126 . 2) menganalisis perbedaan perilaku dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi antara sebelum dan sesudah mendapatkan penyuluhan tentang pendidikan kesehatan reproduksi.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 hygiene. Menstruasi awal sering dijumpai pada anak kelas 5–6 SD berusia 11–13 tahun.I No. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner tentang hal-hal yang dikerjakan oleh siswi dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi I. Definisi Operasional Variabel Pengertian Proses penyampaian pesan tentang kesehatan reproduksi dari penyuluh kepada sasaran penyuluhan yaitu anak perempuan kelas 5 dan 6 SD yang sudah menstruasi. yaitu mengungkapkan perbedaan dengan melibatkan satu kelompok subyek. dengan metode tanya jawab dan simulasi Perilaku menjaga Perilaku menjaga personal hygiene personal hygiene yang dilakukan oleh remaja saat saat menstruasi mendapatkan menstruasi Variabel Penyuluhan kesehatan reproduksi Kategori Kriteria Skala Pre Sebelum Nominal diberi penyuluhan Post Setelah diberi penyuluhan Baik Cukup Kurang Skor > 76 Skor 56 . menyusun dan merencanakan metode pengembangan perilaku sehat remaja putri. Tabel 1. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas 5 dan kelas 6 yang sudah menstruasi.

artinya ada perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi pada siswi SDN Jamsaren I Kota Kediri antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan reproduksi. Tampak bahwa tak ada peningkatan nilai minimum yaitu 60 sesudah pendidikan. Skor perilaku sebelum HE 7 6 5 4 3 2 Freq uency 1 0 60. sedangkan sisanya adalah dalam kategori cukup.46 Mean = 66.Vol. hanya ada 1 siswi yang memiliki perilaku menjaga personal hygiene dalam kategori baik. Tabel. Berikutnya dilakukan pengolahan data dan analisis data menggunakan uji beda untuk 2 sampel berpasangan yaitu uji Wilcoxon menggunakan SPSS versi 11.5 21 95.0 67. Satu siswi tersebut telah mengalami menstruasi paling lama yaitu 2 tahun.5 Std.5 75. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perilaku siswi sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan reproduksi ditampilkan pada Tabel 2. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p 0. perilaku sebelum pendidikan kesehatan meningkat dari 78 menjadi 80.001 < α 0.5 0 0 22 100 Sesudah Penyuluhan Frekuensi Persentase 4 18 18 82 0 0 22 100 Perbedaan perilaku siswi antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan reproduksi disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2.I No. Pada nilai maksimum.00 Skor perilaku sebelum HE Gambar 1 Skor Perilaku Remaja Putri Sebelum Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Sebelum diberi penyuluhan. maka Ho ditolak.2 N = 22. 2 Perilaku Remaja Putri Sebelum dan Sesudah Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Kategori Perilaku Baik Cukup Kurang Total Sebelum Penyuluhan Frekuensi Persentase 1 4.05.0 62.5 70. (2000) bahwa sikap seseorang melakukan personal hygiene Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 127 .2 April 2010 ISSN: 2086-3098 penyuluhan. hal ini sesuai dengan pendapat Potter dan Perry.0 77.5 65.05.0 72. Dev = 4.

juga keterbatasan fisik. Pembelajaran praktik tertentu yang diharapkan dan menguntungkan dalam mengurangi resiko kesehatan dapat memotivasi seseorang untuk memenuhi perawatan yang diperlukan. nilai dan kebiasaan. namun masih dijumpai beberapa remaja yang melakukan dengan cara yang belum benar. 2005). sehingga secara keseluruhan memberikan hasil perilaku yang cukup. Perilaku yang baik ditunjukkan dengan kemampuannya membersihkan organ reproduksi dengan cara yang benar.0 80. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan nilai rata-rata siswi dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi. kebudayaan. Kendati demikian. pilihan pribadi dan kondisi fisik. Dev = 5. Tidak ada dua orang yang melakukan perawatan kebersihan dengan cara yang sama.0 Mean = 68. sesudah buang air kecil atau buang air besar atau empat jam sekali.15 2 0 60.7 N = 22. motivasi juga harus dilakukan untuk memelihara perawatan diri.0 70.0 65. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 128 . Lamanya waktu seseorang mengalami menstruasi menjadikan pengetahuannya tentang menstruasi termasuk bagaimana cara mengelola kebersihan diri meningkat.I No. Secara terperinci meliputi citra tubuh.0 75. Perawatan alat reproduksi bisa dilakukan minimal dua kali sehari dan waktu yang lebih baik adalah pagi dan sore hari sebelum mandi.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dipengaruhi oleh sejumlah faktor. praktik sosial. 1999). terutama pada perineum (Cristina. Keterpaparan seseorang terhadap informasi dapat merubah pengetahuan.Vol. status sosioekonomi.00 Skor perilaku setelah HE Gambar 2 Skor Perilaku Remaja Putri Sesudah Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Sesudah diberi penyuluhan. sikap dan perilaku yang dimiliki (Notoatmodjo. terdapat 4 siswi yang memiliki perilaku yang baik dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi. Beragam faktor pribadi dan sosial budaya mempengaruhi praktek hygiene. kepercayaan. Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. pengetahuan. Skor perilaku setelah HE 16 14 12 10 8 6 Frequency 4 Std. pengetahuan tidaklah cukup.

Vol. yang terlihat sebagai perilaku sehari-hari. (1980). Jakarta: Depkes RI. (2005). (1997). yaitu perilaku sasaran berubah seperti apa yang diharapkan dan berlangsung terus-menerus.I No. Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktek. 3) ada perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi antara sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan pada siswi SDN Jamsaren I Kota Kediri. Begitu penyuluh berpisah dengan sasaran atau sasaran tak lagi merasakan manfaatnya. 2) petugas kesehatan diharapkan meningkatkan pemberian pemahaman kepada masyarakat tentang cara menjaga personal hygiene pada saat menstruasi dengan berbagai pendekatan. Jakarta: Rineka Cipta. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dengan Pendekatan Antropologi . DAFTAR PUSTAKA Munir. keberhasilan semu atau keberhasilan sesungguhnya dalam suatu penyuluhan. Menurut Munir (1997). mereka kembali keperilaku lama. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. yaitu sasaran menolak secara total inovasi baru yang disampaikan. dalam proses penyuluhan ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi yaitu: 1) Keberhasilan sesungguhnya. hubungan sosial yang baik. Theory and Practice in Health Education Arikunto. kemudian mendasari seseorang untuk dapat menginterpretasikan obyek dan dijadikan acuan baginya untuk bertindak terhadap obyek tersebut. pengetahuan yang melatarbelakangi perilaku masing-masing individu. Mico. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian ini adalah: 1) sebagian besar siswi memiliki perilaku cukup dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi. 2) terdapat peningkatan frekuensi perilaku cukup menuju perilaku baik pada siswi setelah mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi. tentu juga efektivitas penyuluhan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. 3) Kegagalan total. Berdasarkan simpulan diajukan saran antara lain: 1) sekolah hendaknya memantau kemampuan siswi dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi dan menyiapkan pemahaman menjaga personal hygiene pada siswi yang akan mengalami menstruasi I. paling tidak menimbulkan lima hal. Jakarta: Rineka Cipta. 2) keberhasilan semu. Syamsu Yusuf. Suharsimi. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 129 . 2005.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Hasil penelitian membuktikan adanya perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi siswi SDN Jamsaren I Kota Kediri sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan. Helen S. Pendidikan kesehatan reproduksi yang dilakukan masih sebagian kecil dapat menimbulkan tindakan. Pengetahuan yang didapat dari hasil belajar kepada lingkungan selama perjalanan hidupnya.S. pengaruh pada sikap dan tindakan. Helen dan Paul (1980) mengemukakan bahwa efektivitas komunikasi. Mengapa terjadi kegagalan. yaitu perubahan perilaku baru terjadi dalam waktu terbatas yaitu selama si penyuluh berada bersama sasaran atau selama mereka masih merasakan manfaat dari perilaku itu. Notoatmodjo. pengertian. yaitu: kesenangan. (1998).Ross and Paul R. B. Kondisi yang terjadi pada remaja putri setelah mendapatkan pendidikan kesehatan dapat disebabkan oleh ketiga hal di atas. ini sangat tergantung dari individu dari tingkat pendidikan.

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

KINERJA SANITARIAN LAPANGAN DALAM MENURUNKAN ANGKA KEJADIAN DBD DI MAGETAN Budi Yulianto* ABSTRAK Selama tiga tahun terakhir angka kejadian DBD cenderung meningkat tajam baik ditinjau dari peningkatan kelompok usia, kewilayahan, serta kematian. Tenaga Sanitasi di lapangan mempunyai tugas berkaitan dengan pemberantasan DBD di antara tugas lain yang melekat. Peran dan fungsi tenaga sanitasi diharapkan memberikan kontribusi menurunkan kejadian DBD di wilayahnya. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh kinerja tenaga sanitasi lapangan terhadap kejadian DBD di Kabupaten Magetan. Sampel diambil dari sebagian petugas sanitasi lapangan sebanyak 21 orang. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dokumen kejadian DBD selama dua tahun. Hasil analisis menunjukan petugas sanitasi lapangan yang mempunyai kinerja baik (76,2%), kurang baik (23,8%). Kejadian DBD di Puskesmas menunjukan kategori kurang baik atau terjadi peningkatan (85,7%), dan 14,3% kejadian DBD baik atau tidak ada peningkatan. Uji regresi logistik (p)=0,905, artinya tidak ada pengaruh kinerja sanitasi lapangan terhadap angka kejadian DBD. Kata kunci : sanitasi lapangan, DBD. *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Demam Berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue melalui vektor nyamuk Aedes aegypti. Dalam tiga tahun terakhir kasus DBD meningkat secara tajam baik apabila ditinjau dari peningkatan angka kejadian DBD berdasarkan kelompok usia dari penderita, juga terjadi peningkatan angka kejadian DBD berdasarkan batas teritorial kewilayahan, maupun peningkatan jumlah kematian dari penderita DBD. Seiring dengan peningkatan angka kejadian dan angka kematian akibat DBD sebenarnya di tiap-tiap wilayah kerja puskesmas telah tersedia tenaga sanitasi di lapangan baik secara kuantitatif maupun kualitatif (kualifikasi pendidikan) sudah lebih baik apabila dibandingkan dengan kuantitas maupun kualitas pada tahun-tahun sebelumnya. Keberadaan tenaga sanitasi di lapangan diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk mencegah dan menurunkan penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan khususnya DBD. Fakta menunjukan bahwa akhir-akhir ini terjadi peningkatan kejadian dan kematian akibat DBD hampir diberbagai daerah di Indonesia. Di Kabupaten Magetan juga terjadi peningkatan angka kejadian DBD dan kematian dari tahun ke tahun. Dalam 4 tahun terakhir perkembangan angka kejadian DBD di Kabupaten Magetan adalah: tahun 2001 terdapat 341 penderita DBD dan 2 orang di antaranya meninggal, tahun 2002 terdapat 244 penderita dan 4 orang di antaranya meninggal, tahun 2003 terdapat 136 penderita, dan tahun 2004 terdapat 260 penderita dan 2 orang di antaranya meninggal (Subdin PPM Dinkes Kab. Magetan 2005).

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

130

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

Peningkatan angka kejadian dan angka kematian akibat DBD kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: 1) Faktor lingkungan (meningkatnya populasi Aedes aegypti) yang dipengaruhi pula oleh perubahan pola hidup nyamuk serta terjadinya kekebalan pada tubuh nyamuk akibat penggunaan bahan-bahan insektisida. 2) Faktor keberadaan virus dengue pada tubuh penderita maupun pada tubuh vektor. 3) Faktor karakteristik manusia termasuk perilaku dan kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari. 4) Faktor pelayanan kesehatan termasuk sarana- prasarana, tenaga, asustibilitas pelayanan. 5) Faktor alam (musim). Dari beberapa faktor di atas, terutama adalah keberadaan tenaga sanitasi di lapangan yang merupakan salah satu tenaga dengan tugas berkaitan dengan penanggulangan DBD di wilayahnya, yaitu melaksanakan monitoring atau pemeriksaan jentik nyamuk (Aedes aegeypti) yang kegiatannya sering diintegrasikan dengan kegiatan Survey Rumah Tangga. Selain itu jika terjadi kasus DBD di wilayahnya, ikut melaksanakan tindakan-tindakan di lingkungan penderita serta memberikan penyuluhan tentang DBD, sehingga diharapkan tidak terjadi peningkatan angka kejadian dan kematian akibat DBD di wilayah kerjanya. Mengingat pentingnya peran dan fungsi petugas ini, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh kinerja petugas sanitasi di lapangan terhadap angka kejadian DBD di wilayah kerjanya. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Populasi penelitian cross sectional ini adalah petugas sanitasi lapangan yang bekerja di seluruh puskesmas di Kabupaten Magetan sebanyak 22 orang. Besar sampel dengan nilai p = 50% , dan α = 0,05 sebanyak 21 orang, diambil dengan teknik simple random sampling.Data dikumpulkan dengan metode tanya jawab terpimpin dan pengamatan meliputi kinerja petugas, data kejadian DBD dikumpulkan dengan metode dokumentasi yaitu melalui dokumen pada setiap puskesmas. Analisis deskriptif diterapkan untuk menggambarkan kinerja petugas, angka kejadian DBD, sarana, dan prasarana. Uji Regresi Logistik digunakan untuk menguji pengaruh kinerja sanitarian terhadap kejadian DBD. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil PenelitianHAELITIAN Karakteristik pendidikan sanitarian adalah: SPPH (DI) 8 orang (38,1%), D III Kesehatan Lingkungan 2 (57,1%), dan D III + SKM 1 orang (4,8%). Karakteristik masa kerja sanitarian adalah: 15–20 tahun 13 orang (61,9 %), < 15 tahun 2 orang (9,5 %). Sedangkan karakteristik jarak tempat tinggal sanitarian dengan puskesmas adalah: tak lebih dari 10 km sebanyak 13 orang (61,9%), dan lebih dari 10 km sebanyak 8 orang (38,1 %). Distribusi kinerja sanitarian adalah: baik: 16 orang (23,8 %), dan kurang: 5 orang (23,8%). Angka kejadian DBD yang menurun atau tetap daripada tahun sebelumnya: 3 puskesmas (14,3%), dan yang meningkat: 18 puskesmas (85,7%). Peningkatan kejadian DBD terendah: 1 kasus dan tertinggi: 29 kasus. Rerata peningkatan kejadian DBD per-puskesmas adalah 6 kasus. Serta terjadi peningkatan jumlah penderita yang meninggal (2 orang). Angka kejadian DBD menurut pendidikan sanitarian disajikan pada Tabel 1, angka kejadian DBD menurut masa kerja sanitarian disajikan pada Tabel 2, sedangkan angka kejadian DBD menurut kinerja sanitarian disajikan pada Tabel 3.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

131

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

Tabel 1 menunjukan bahwa tenaga sanitasi dengan pendidikan D III kesehatan lingkungan, yang mempunyai angka kejadian DBD kurang baik di wilayah kerjanya (terdapat peningkatan kasus DBD) sebanyak 10 (83,3%), sedangkan yang mempunyai angka kejadian DBD baik (terjadi penurunan kasus DBD) sebanyak 2 (16,7%). Tenaga sanitasi berpendidikan S-1 seluruhnya memiliki wilayah dengan angka kejadian DBD kurang baik. Tabel 2 menunjukan bahwa tenaga sanitasi dengan masa kerja 15–20 tahun, yang mempunyai angka kejadian DBD kurang baik di wilayah ada 10 orang (76,9%), sedangkan yang mempunyai angka kejadian DBD baik ada 3 orang (23,1%). Tenaga sanitasi dengan masa kerja >20 tahun, seluruh wilayah kerjanya memiliki angka kejadian DBD kurang baik. Tenaga sanitasi dengan masa kerja <15 tahun, seluruh wilayah kerjanya memiliki angka kejadian DBD kurang baik. Tabel 3 menunjukan bahwa tenaga sanitasi dengan kinerja baik, yang mempunyai angka kejadian DBD kurang baik di wilayah kerjanya ada 13 orang (81,3%), sedangkan yang mempunyai angka kejadian DBD baik ada 3 orang (18,7%). Tenaga sanitasi dengan kinerja kurang baik, seluruhnya memiliki angka kejadian DBD kurang baik di wilayah kerjanya.
Tabel 1. Angka Kejadian DBD Menurut Tingkat Pendidikan Sanitarian Tingkat Pendidikan SPPH D III Kesling D III Kesling + S-1 Total Angka kejadian DBD Kurang baik Baik Jumlah % Jumlah % 7 87,5 1 12,5 10 83,3 2 16,7 1 100 18 85,7 14,3 Total Jumlah 8 12 1 21

% 100 100 100 100

Tabel 2 Angka Kejadian DBD Menurut Tingkat Pendidikan Sanitarian Masa kerja < 15 tahun 15 – 20 tahun > 20 tahun Total Angka kejadian DBD Kurang baik Baik Jumlah % Jumlah % 2 100 10 76,9 3 23,1 6 100 18 85,7 14,3 Tabel 3. Angka kejadian DBD Menurut Kinerja Sanitarian Kinerja Baik Kurang baik Total Angka kejadian DBD Kurang baik Baik Jumlah % Jumlah % 13 81,3 3 18,7 5 100 18 85,7 14,3 Total Jumlah 16 5 21 Total Jumlah 2 13 6 21

% 100 100 100 100

% 100 100 100

Uji regresi logistik mendapatkan nilai p = 0,905 > (α = 0,05), berarti tidak ada pengaruh kinerja sanitarian terhadap angka kejadian DBD di Wilayah Dinas Kesehatan Kab. Magetan.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

132

Vol. virus ini ditularkan kepada orang yang sehat melalui gigitan hingga timbul gejala atau atau gangguan dalam bentuk sakit. Meningkatnya angka kejadian DBD tersebut mungkin disebabkan oleh: 1. Dengan demikian terjadinya peningkatan jumlah penderita DBD maupun terjadinya kematian akibat DBD bukan dipengaruhi oleh kinerja petugas sanitasi di lapangan. mudah Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 133 . Peningkatan jumlah penderita baru di tempat tersebut sangat dipengaruhi oleh frekuensi terjadinya perpindahan virus dari reservoir kepada host baru. Kemungkinan tidak sedikit penderita yang sudah merasa sehat namun di dalam tubuhnya masih mengandung virus dengue sudah melakukan mobilitas. maka mempunyai potensi terjadinya perpindahan virus dari orang yang sakit (karier) kepada orang yang sehat hingga timbul gejala atau gangguan. Berpindahnya penderita dari satu tempat ke tempat lain sama artinya dengan hadirnya sumber atau reservoir virus dengue di tempat tersebut. juga terjadi peningkatan luasnya jangkauan wilayah dari masyarakat yang menderita DBD. Penyebab DBD adalah terdapatnya virus dengue dalam tubuh penderita yang ditularkan melalui vektor Aedes aegypti. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tidak ada pengaruh kinerja petugas sanitasi lapangan terhadap angka kejadian DBD di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan. Perlindungan atau barier ini dapat dipilih dari bahan yang banyak dipasarkan yang bersifat melindungi dan mengusir nyamuk Aedes aegypti pada siang hari. Tingginya mobilitas penderita Mobilitas adalah salah satu aktifitas seseorang atau masyarakat yang ditandai dengan berpindah-pindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan melaksanakan aktifitas sehari-hari. selain itu juga dipengaruhi oleh jumlah vektor Aedes aegypti di tempat tersebut yang mempunyai kesempatan untuk memindahkan virus dengue dari reservoir kepada host baru. Maksud pemberian barier kepada penderita dari gigitan agar tidak terjadi transmisi virus dengue oleh vektor kepada host baru. Selain peningkatan jumlah penderita. Demikian pula terjadinya transmisi pada penyakit ini.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Pembahasan DBD merupakan merupakan penyakit yang berasal dari lingkungan yang dalam tiga tahun terakhir ini cenderung mengalami peningkatan baik secara kuantitas maupun kualitas.I No. Demikian juga dengan penderita DBD yang merupakan sumber atau resevoir virus dengue mempunyai peran sangat besar terhadap penularan DBD kepada orang lain. Dari dalam tubuh vektor. Terdapatnya reservoir atau sumber virus di tempat tersebut didukung oleh adanya vektor Aedes aegypti. artinya dari jumlah penderita mengalami peningkatan termasuk semua kelompok usia mempunyai resiko untuk terkena DBD. Konsep yang ditawarkan ini sebenarnya lebih murah biayanya. Untuk mencegah perpindahan virus dari dalam tubuh melalui vektor Aedes aegypti kepada host baru di tempat lain. Keadaan ini juga mempunyai potensi terjadi penularan DBD kepada orang lain. virus dengue yang berasal dari penderita DBD atau penderita yang bersifat karier melalui gigitan vektor Aedes aegypti berpindah ke dalam tubuh nyamuk. dari hasil penelitian ini diperlukan perlindungan atau barier pada tubuh penderita sampai virus dengue dalam tubuh penderita benar-benar sembuh dan tidak mengandung virus dengue. setelah melalui proses yang disebut propogatif dalam tubuh nyamuk dan menyebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk dalam kelenjar liurnya.

Pemberantasan sarang nyamuk sebenarnya mudah dikerjakan oleh masyarakat. kesadaran masyarakat melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk. Konsep ini membutuhkan kesadaran dari dari penderita.Vol. Konsep yang ditawarkan dari hasil penelitian ini adalah penerapan sanksi kepada masyarakat apabila didapati jentik Aedes aegypti. Dengan demikian. Diduga breading please dari vektor ini banyak terdapat di dalam rumah penduduk. mengingat topografi di wilayah kerja Puskemas banyak yang berbeda. Biasanya DBD terjadi menjelang musim hujan. tetapi jarang dilakukan follow up. Terdapatnya penderita DBD sepanjang tahun. Saran relevan yang diajukan adalah: 1) perlu dilakukan perlindungan atau pemberian barier pada penderita sampai mereka benar-benar sembuh dengan menggunakan bahan yang bersifat mengusir nyamuk terutama pada waktu siang hari. 2. serta pada container di sekitar lingkungan rumah yang mudah terisi air.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dikerjakan. maka diperlukan dukungan tenaga untuk melakukan monitoring keberadaan jentik di lingkungan pemukiman. sehingga Aedes aegypti mudah berkembang biak. 2) perlu dipertimbangkan pemberian sanksi terhadap warga yang didapati jentik nyamuk di lingkungan rumahnya. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 134 . bukan petugas yang melaksanakan pengawasan keberadaan jentik di lingkungan pemukiman tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara petugas dan masyarakat. 3) perlu dilakukan penelitian tentang perilaku masyarakat berkaitan dengan DBD. hal ini mungkin disebabkan oleh warna container yang mendekati gelap. baik yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. 4) perlu dilakukan penelitian tentang topografi setiap wilayah kerja Puskesmas. di antaranya adalah musim. keberadaan vektor DBD di lingkungan pemukiman banyak dipengaruhi oleh banyak faktor.I No. Sebaliknya. berkaitan dengan musim. sehingga menjadi tempat untuk perberkembangbiakan vektor ini. 2) angka kejadian DBD di masing-masing puskesmas sebagian besar mengalami peningkatan. Terdapatnya container di dalam rumah sulit diawasi oleh penduduk. dan pada saat musim penghujan sudah mulai berakhir. Kelebihan dari konsep ini adalah pemberantasan sarang nyamuk yang sudah dicanangkan oleh pemerintah sehingga benar–benar dilaksanakan oleh masyarakat. langsung melindungi faktor penyebab pada fokusnya. Terdapatnya vektor Nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegypti merupakan vektor yang berperan sangat penting dalam pemindahan virus dengue dari tubuh penderita ke tubuh host baru hingga timbul gejala atau gangguan. 3) peningkatan angka kejadian DBD tidak dipengaruhi oleh kinerja petugas. Jika konsep ini dilaksanakan. Meskipun banyak kita jumpai vektor ini. tetapi kalau tidak mengandung virus dengue kemungkinan besar tidak akan timbul gejala atau gangguan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian antara lain: 1) sebagian besar sanitarian mempunyai kinerja baik. dan pengawasan terhadap lingkungan masing-masing. Keberadaan vektor Aedes aegypti hampir di seluruh daerah atau pelosok. Baik Aedes aegypti maupun virus dengue keduanya merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam menimbulkan DBD. dewasa ini diduga karena kualitas lingkungan pemukiman yang menurun.

Surabaya Rineka Cipta Zainudin. 1992. Epidemiologi. Dirjend PPM-PLP Didik. 1999.Dirjend PPM-PLP Depkes RI. Jakarta. Surabaya. Jakarta. 1990. Jakarta. Metodologi Penelitian.2000. Petunjuk Teknis Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. Airlangga Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 135 . Pengantar SPSS 10. Penanggulangan Seperlunya dan Penyemprotan Masal Dalam Pemberantasan Penyakit DBD.0.2001. 2004. Petunjuk Teknis Pengamatan Penyakit DBD. Pertolongan.I No. Dirjend PPM dan PLP Depkes RI. Meotologi Penelitian.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. dkk.Unit PPM Poltekes Surabaya Slamet Ryadi AL. 1990. 1992. Pedoman Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD.Dirjend PPM-PLP Depkes RI. Dirjend PPM-PLP Depkes RI. Jakarta Depkes RI. Petunjuk Teknis Pendidikan Epidemiologi. 1992. Surabaya. Petunjuk Teknis Penemuan. Pedoman Pembinaan Kerja Puskesmas Jilid III. Jakarta.1997.Dirjend PPM-PLP Depkes RI. Jakarta. Jakarta .Vol. Pelaporan Penderita Penyakit DBD. 1992. AKL Surabaya Sugiyo. Surabay. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.

2005). 10% anak berumur 6 tahun. Sekitar 30% anak berumur 4 tahun. Stimulasi perkembangan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 136 .Vol. dan pelatihan BAK ketika anak pada umur 3 sampai 4 tahun. pelatihan BAB biasanya mulai umur 2 sampai 3 tahun. 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih buang air kecil tidak disengaja.4% dan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah kategori baik 75%. 2008). Toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAB dan BAK di tempat yang telah ditentukan.05.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI STIMULASI TOILET TRAINING OLEH IBU DENGAN KEBERHASILAN TOILET TRAINING PADA ANAK PRASEKOLAH Subagyo*.I No. 2005). dan r=0. toilet training. Ani Sulasih**. Anak harus mampu mengenali dorongan untuk melepaskan atau menahan dan mampu mengkomunikasikannya (Nursalam dkk. Hasil penelitian menggambarkan bahwa motivasi stimulasi toilet training oleh ibu kategori baik 84. diperlukan motivasi orang tua melakukan stimulasi agar anak terbiasa melakukan secara bertahap dan mandiri. Siti Widajati* ABSTRAK Toilet training pada anak merupakan suatu cara untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. Dapat disimpulkan ada hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah. Selain itu. yang menunjukkan tingkat hubungan agak rendah. Kata kunci : Motivasi stimulasi. anak prasekolah *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya **: Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk PENDAHULUAN Latar belakang Toilet Training pada anak merupakan cara untuk melatih anak agar mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar (Hidayat. Sampel diambil dengan teknik Simple Random Sampling sebesar 32 orang tua anak. 2005). Konsep menstimulasi anak untuk melakukan toilet training diperkenalkan pada si kecil sejak dini yaitu usia 1 s/d 3 tahun. Jenis penelitian analitik yang bersifat Cross Sectional. toilet training juga mengajarkan anak dapat membersihkan kotoran sendiri dan memakai kembali celananya (Mufattahah. Agar toilet training berhasil. 2008). Latihan buang air besar atau buang air kecil membutuhkan kematangan otot-otot pada daerah pembuangan kotoran (anus dan saluran kemih). Anak-anak harus dilatih menguasai otot-otot alat pembuangan pada waktu buang air besar dan buang air kecil (Anonim. Pengumpulan data melalui pengisian kuesioner dan wawancara terstruktur. Walaupun bukan pekerjaan sederhana. serta buang air besar pada tempatnya. Hasil uji korelasi adalah p ≤ 0. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Toilet training dilakukan pada anak ketika masuk fase kemandirian (Hidayat. 2008). kemudian dilakukan pengolahan dan analisis statistik Spearman rank. namun orang tua harus tetap termotivasi untuk merangsang anaknya agar terbiasa BAK atau BAB sesuai waktu dan tempatnya (Mufattahah.597.

Data keberhasilan toilet training dikumpulkan dengan pedoman wawancara terstruktur (structured or interview). Hasil observasi penulis terhadap ibu yang mengantar anak bahwa sejumlah 6 (10. Anak umur 5 tahun kebanyakan dapat melakukan BAB sendiri. perlu dikaji lebih mendalam mengenai “Hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah”. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasi motivasi stimulasi toilet training oleh ibu. Populasi penelitian adalah semua ibu beserta anak prasekolah usia 5-6 tahun di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo. pada saat mengantar anak. serta tidak BAB/BAK di tempat yang telah tersedia sejumlah 10 anak (16. Pengumpulan data motivasi stimulasi toilet training menggunakan kuesioner dengan pertanyaan bentuk tertutup. Untuk membuktikan hipotesis penelitian adanya Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 137 . 2). sedangkan variabel dependen adalah keberhasilan toilet training pada anak prasekolah. berskala Likert. Hasil survei pendahuluan tanggal 9-21 Juni 2008 terhadap 10 anak dari 59 anak di TK Pertiwi Desa Plosoharjo Pace Nganjuk adalah 8 anak BAB dan BAK di sembarang tempat. apabila anak tidak diajarkan toilet training sejak dini dapat berakibat akan susah mengubah pola yang telah menjadi perilaku dan anak tidak dapat segera mandiri. b) anak tidak sedang sakit. dengan kriteria: a) di rumah tersedia fasilitas toilet. Atas dasar fakta tersebut. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian analitik ini menggunakan rancangan cross sectional. 2005). dan memberikan pertanyaan kepada ibu anak/pengasuh. 2005). Kes. yaitu dengan mengajari anak untuk memberitahu orang tua bila ingin BAK atau BAB dan mendampingi anak saat BAK atau BAB serta memberitahu cara membersihkan diri dan menyiram kotoran (Dep. 2) mengidentifikasi keberhasilan toilet training anak 5-6 tahun. jadi tidak bisa mengontrol BAB dan BAK. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan program toilet training antara lain: 1). Sekitar 30% anak berumur 4 tahun. 2008). 3) menganalisis hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training anak prasekolah. c) anak diasuh sendiri oleh orang tua. d) ibu yang tidak bekerja/ibu rumah tangga. Variabel independen penelitian yaitu motivasi stimulasi toilet training oleh ibu. melepas dan memakai pakaian dalam sendiri.95%). Nganjuk. Kesiapan anak secara fisik.I No. yang diambil dengan cara probability sampling. Motivasi orang tua. 10% anak berumur 6 tahun. Pace. Selain itu. 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih mengompol atau BAK secara tak sengaja (Anonim. Teknik pengumpulan data melaui observasi terhadap anak setiap hari.2%) ibu meskipun mengetahui anaknya ingin BAB dan BAK namun tidak termotivasi untuk mengarahkan anaknya BAB/BAK di tempat yang telah disediakan. mulai bulan Juni 2008 sampai dengan Januari 2009 sebesar 32 anak beserta orang tuanya. Training BAK mungkin menjadi tidak sempurna sampai anak usia 4-5 tahun terutama pada malam hari. kesiapan orang tua mengajari anak dan pola asuh orang tua juga penting (Supartini. BAB di celana 1 anak. 2004).2 April 2010 ISSN: 2086-3098 anak dalam kemampuan bersosialisasi dan kemandirian dengan melatih BAK dan BAB di kamar mandi/WC. BAK di celana 1 anak. Melihat banyaknya faktor yang mempengaruhi keberhasilan toilet training.Vol. psikologis maupun secara intelektual (Hidayat. Sampel sebesar 32 orang. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara deskriptif berupa distribusi frekuensi. RI. cara simple random sampling.

sehingga adanya keinginan dari dalam diri seorang ibu dalam hal melakukan stimulasi kepada anak. dengan α 0. 2. hal ini sebagai penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.3 6 18. terlihat pada Tabel 1. Dapat disimpulkan bahwa motivasi ditunjang oleh usia. Uji Spearman rank menunjukkan nilai p=0. atau orang dewasa lain di sekitar anak. Nganjuk. Keberhasilan Toilet Training Menurut Motivasi Stimulasi Toilet Training pada Anak Prasekolah di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk Nopember 2008 Keberhasilan Toilet Training pada Anak Prasekolah Total Kurang Cukup Baik N % N % N % N % Cukup 2 40 2 40 1 20 5 100 Baik 0 0 4 14.2%). sehingga ibu akan mempunyai motivasi yang baik.Vol. Mendorong manusia untuk berbuat. memiliki tingkat keberhasilan toilet training kategori cukup sebanyak 6 (18.4%).05.6%). menandakan bahwa hubungan antar variabel agak rendah.I No. Nilai koefisien korelasi (0. Pelaksanaan stimulasi yang demikian akan menciptakan anak yang tumbuh dan berkembang dengan optimal.8%) dan mempunyai tingkat keberhasilan toilet training kategori kurang sebanyak 2 (6.8 24 75 32 100 1.4%).00 (<0. 4.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 hubungan antara variabel independen dan dependen. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Data yang meliputi motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dan keberhasilan toilet training anak prasekolah diuraikan sebagai berikut: Tabel 1. Ibu yang mempunyai motivasi toilet training kategori baik sebanyak 27 (84. maka keberhasilan toilet training akan terwujud. digunakan uji korelasi Spearman rank. mandiri. Stimulasi ini dapat dilakukan oleh orang luar. akan memberikan stimulasi yang teratur dan terus menerus tentang tugas perkembangan anak.2%). Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar motivasi stimulasi toilet training oleh ibu kategori baik (84. Ibu yang mempunyai tingkat keberhasilan toilet training kategori baik sebanyak 24 (75%). sehingga ibu akan mudah menerima dan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang disebabkan oleh adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. dan yang memiliki motivasi stimulasi toilet training kategori cukup sebanyak 5 (15. Dengan motivasi yang baik untuk melakukan stimulasi toilet training. Dengan motivasi stimulasi toilet training kategori baik dengan keberhasilan toilet training baik sejumlah 23 (85. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 138 Motivasi Toilet Training oleh Ibu . orang tua hendaknya menyadari pentingnya memberikan stimulasi bagi perkembangan anak (Nursalam. anggota keluarga.05). 2005). maka Ho ditolak. artinya ada hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo Pace.597).2 27 100 Total 2 6. 3. Nilai koefisien korelasi dihitung guna menentukan tingkat hubungan.8 23 85. Stimulasi adalah perangsangan dan latihan-latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari lingkungan di luar anak.

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan toilet training. sikap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ibu yang memiliki motivasi stimulasi toilet training baik 85% memiliki keberhasilan toilet training baik. seperti kesiapan fisik. 2) mayoritas anak berhasil baik dalam melakukan toilet training. kemampuan motorik kasar seperti duduk. misalnya orang tua melakukan latihan kebersihan secara berlebih dengan kemarahan dan hukuman. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian adalah: 1) mayoritas ibu mempunyai motivasi baik dalam stimulasi toilet training. komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih dan defekasi. perceraian. kesiapan psikologis (duduk atau jongkok di toilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu. 3) Uji Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 139 . merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat di celana. ada gerakan usus yang regular. Hal ini dapat diasumsikan bahwa motivasi stimulasi ibu yang baik dapat memberi kontribusi yang baik terhadap keberhasilan toilet training. dan mudah beradaptasi. Keberhasilan toilet training pada anak prasekolah pada hasil penelitian sebagian besar dengan kategori baik. Hal ini dapat ditunjukkan anak mampu duduk atau berdiri sehingga memudahkan anak untuk dilatih BAB dan BAK. maka anak akan membalas dengan meretensi tinja sambil menunjukkan kekuasaan dirinya kepada orang tua. ada keinginan untuk meluangkan waktu yang diperlukan untuk latihan berkemih dan defekasi pada anaknya. Sebaliknya.I No. dan tidak mengalami konflik atau stres keluarga yang berarti misalnya.Vol. keadaan mental. keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku orang lain). Dari hasil penelitian didapatkan keberhasilan toilet training pada anak kategori baik sebanyak 75%. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan toilet training pada anak terkait dan ditentukan oleh berbagai faktor.24 bulan. kesiapan mental (mengenal rasa yang datang tiba-tiba untuk berkemih dan defekasi. agar mampu mengontrol dan konsentrasi dalam merangsang untuk BAB atau BAK. Menurut Widayatun (1999). berjalan. dan kematangan usia. (usia telah mencapai 18. jika orang tua salah menerapkan pola asuh. meliputi pertama kesiapan fisik. Namun ada beberapa faktor yang ikut menentukan ada tidaknya atau besar kecilnya motivasi. mempunyai rasa penasaran atau rasa ingin tahu terhadap kebiasaan orang dewasa dalam buang air. dapat duduk atau jongkok kurang lebih 2 jam. Terbukti juga bahwa ada hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah. ketika kemampuan anak secara fisik sudah kuat dan mampu. Kedua. demikian juga kesiapan psikologis di mana anak membutuhkan suasana yang nyaman. hal ini karena pada usia 5-6 tahun anak sudah dapat melepas pakaian luar dan pakaian dalam sendiri. membersihkan kotoran sendiri. Keempat kesiapan orang tua (mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan defekasi. serta memakai pakain dalam dan luar sendiri.2%. dan ingin diganti segera). dan kemampuan motorik halus seperti membuka baju).2 April 2010 ISSN: 2086-3098 serta memiliki emosi yang stabil. salah satunya adalah factor intrinsik. yang merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang yaitu berupa pengetahuan. Ketiga. Hasil kajian data ditemukan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah kategori cukup sebanyak 18.8% dan kategori kurang sebanyak 6. lingkungan. sedangkan faktor ekstrinsik antara lain sarana dan prasarana. Hidayat (2005) mengatakan bahwa toilet training tergantung pada kesiapan yang ada pada diri anak dan keluarga. jongkok sendiri saat BAB. seperti yang dicontohkan oleh Freud.

Tumbuh Kembang. Metodologi Riset Keperawatan.Multiply. .org/content/view/1163/57/. Aziz Alimul. Fitriyah. Jakarta : CV. Saran-saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah: 1. 1999. Tri Rusmi. Mengajak Si Kecil Berlatih Bak-Bab dengan Toilet Training.id/hottopics/detil. Masalah Pelatihan Buang Air. cuci kaki dll. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Diharapkan ada kelanjutan dari penelitian yang lain tentang faktor yang mempengaruhi motivasi misalnya kelemahan fisik.co. Jakarta : PT. http://jawaban. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Motivasi Melakukan Toilet Training pada Anak Usia 1-3 Tahun di Dusun Templek Jatirejo . Jakarta : Salemba Medika. Arikunto. Mariatul. RI.. http://wrmindonesia. Sagung Seto Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 140 . lingkungan dan sosial budaya yang berhubungan dengan motivasi stimulasi untuk melakukan toilet training pada anak. 2006. 1998.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Spearman rank membuktikan bahwa ada hubungan bermakna antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah. 2004. ALFABETA. 2008. Ilmu Perilaku. Mufattahah. 2007. cuci tangan. Jakarta : EGC. Metodologi Penelitian Kesehatan.com/jowinal/item/362/Toilet Training. Soegiyono. 2008. http://medicastore. Dep. 2. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Hidayat. Kes.php?idktg=19&iddtl:92. Diharapkan ibu dengan motivasi stimulasi kategori cukup dan kurang dalam melakukan toilet training mendorong anak melakukan kegiatan ke kamar mandi seperti cuci muka saat bangun tidur. . Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.Nganjuk. Notoatmodjo.php?.idai. 2008. 2001.com/ cybermed/detail.id/arc/2007/9/23/. Utami Sri. Susiloningrum Rekawati. 2008. Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak. Bandung : CV. Jakarta : Rineka Cipta. http//www. Caroline. IDAI.or. . Sagung Seto. 2008. 2005. Sukidjo. Diharapkan lembaga pendidikan TK tahun ajaran berikutnya selalu melakukan motivasi stimulasi toilet training oleh ibu sehingga keberhasilan toilet training pada anak tetap baik 3. 2008. tidak memarahi anak mengalami kegagalan DAFTAR PUSTAKA Anonim. Jakarta : Press Gravindo. http://www. 2005.com/news/relationship/jujur-aja. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi. Jakarta : Salemba Medika. . Jakarta : CV. Pariani. Konsep Dasar Keperawatan Anak. A.I No. Statistik untuk Penelitian. Soetjiningsih. Toilet Training. 2003. Supartini. 2004.Vol. Stimulasi Dini untuk Optimalkan Perkembangan Balita. usia.antara. Jakarta : PT. Jakarta : EGC. 2007. . Toilet Training. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. S. http://k34437h. Nursalam dan S. Yupi. 2006. Sardiman. Stimulasi Terus Menerus pada Balita dapat Ciptakan Anak Cerdas. 2005. Rineka Cipta. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Interaksi dan Motivasi Belajar.pyk.asp?q:35. Jakarta : Salemba Medika. Widayatun. Rineka Cipta. 2005. Mulawi.

prosedur perjanjian (SR=5. Diharapkan kinerja Poskesdes dapat diperbaiki. SE= 13. Permasalahannya adalah bagaimanakah kepuasan masyarakat atas pelayanan yang diberikan oleh Poskesdes.9%. SE=8.43). saat ini belum ada kajian penelitian yang menjadi bahan evaluasi.097+0.057X3+0.Vol. Kata kunci : kepuasan.219X1+0. fasilitas umum. sisanya menggunakan layanan ANC di tempat lain.7%.194X6 +0. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Poskesdes belum teruji. SE=11.I No. outcome terapi perawatan yang diterima terhadap tingkat kepuasan responden yaitu ibu hamil dan melahirkan di Poskesdes Wilayah Kabupaten Magetan. waktu tunggu. Apakah masyarakat merasa upaya dari.94) dan fasilitas klien (SR= 4. Persamaan regresi berdasarkan unstandardized coefficient adalah: Y= -.9%. prosedur perjanjian. fasilitas umum.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 EVALUASI TINGKAT KEPUASAN KLIEN TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE DAN PERTOLONGAN PERSALINAN DI POSKESDES KABUPATEN MAGETAN Hery Sumasto*. outcome terapi. fasilitas umum (SR=19. fasilitas klien. Hasil penelitian menunjukkan: semua variabel prediktor memiliki persentase selisih antara kinerja dengan harapan masih di bawah 100%. SE=2. SE=3. SE=10. 45% menggunakan layanan ANC di Poskesdes.7%.4. Poskesdes. waktu tunggu. Sumbangan efektif (SE) seluruh variabel adalah 51. pendekatan. mutu informasi (SR=15. mutu informasi yang diterima.159X2+0. Poskesdes dibentuk dalam rangka menurunkan angka kematian ibu. *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Poskesdes Sumberdukun dan Poskesdes Banjarpanjang.070X4+0. Poskesdes Sidowayah. SE= 2.01). pendekatan (SR=21. mutu informasi. Teknik analisis dengan menggunakan jendela kepuasan dan analisis regresi.3).257X7. terutama pada aspek outcome terapi keperawatan.7%. waktu tunggu (SR=7.21). prosedur perjanjian. 2008). fasilitas klien. Nurwening Tyas Wisnu*. Semua variabel prediktor berpengaruh terhadap tingkat kepuasan klien. Nuryani* ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan petugas. Dari 33 ibu bersalin pada Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 141 . oleh dan untuk masyarakat ini sudah mendapatkan tempat di hatinya? Fakta menunjukkan bahwa dari 77 ibu hamil di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan.15). Jenis penelitian adalah analitik dengan populasi seluruh ibu hamil yang melakukan ANC dan persalinan di Poskesdes Banjarejo. sehingga diperlukan beberapa langkah guna meningkatkan akses pada sarana dan pelayanan kesehatan ibu (Retno D. Ketiga prediktor ini memiliki sumbangan yang paling tinggi. meningkatkan pendekatan terapeutik serta perbaikan fasilitas umum.047X5+0.61).6% dan sumbangan relatifnya (SR) secara berurutan adalah outcome terapi (SR=25.

fasilitas untuk klien. fasilitas umum. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Pendekatan dan Perilaku Petugas di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 41 34 0 75 % 0 54. Menurut Kotler dalam Wijono (2000). fasilitas klien.7 0 100 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 142 . Tabel 1. Variabel dependen yaitu tingkat kepuasan ibu hamil dan ibu bersalin terhadap pelayanan di Poskesdes. Variabel independen adalah pendekatan dan perilaku petugas. waktu tunggu. hanya 37% yang bersalin di Poskesdes. outcome terapi dan perawatan yang diberikan.8). sebesar 75 orang. tingkat kepuasan terhadap pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh pendekatan dan perilaku petugas.6 45.I No. fasilitas umum dan outcome terapi perawatan terhadap tingkat kepuasan ibu terhadap pelayanan ANC dan persalinan di Poskesdes. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh secara bersama-sama antara pendekatan petugas.3 48 50. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian analitik observasional ini menerapkan rancangan cross sectional dengan point time approach. mutu informasi yang diterima. fasilitas umum yang tersedia.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bulan Juni-Juli 2008. prosedur perjanjian. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepuasan (r=0. prosedur.Vol. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Mutu Informasi yang Diterima Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 1 36 38 0 75 % 1. Analisis data dengan uji regresi linier ganda dan metode jendela kepuasan. Populasi adalah semua ibu hamil (75 orang) yang melakukan ANC dan ibu bersalin normal di 4 Poskesdes di Kab. fasilitas klien.4 0 100 Tabel 2. outcome terapi dan perawatan yang diterima. prosedur perjanjian. mutu informasi yang diterima. waktu tunggu. Magetan bulan Agustus-Oktober 2009. mutu informasi. HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian Deskripsi data penelitian disajikan pada Tabel 1 sampai dengan Tabel 7 dan Gambar 1. waktu tunggu.

7 0 100 Tabel 5 Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Fasilitas Klien di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 38 36 1 75 % 0 50.6 0 100 Tabel 7.3 46.Vol. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Fasilitas Umum di Poskesdes Kabupaten Magetan tahun 2009 Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 5 29 41 0 75 % 6.6 48 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Terhadap Outcome Terapi Perawatan Yang Diterima di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 39 36 0 75 % 0 52 48 0 100 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 143 .I No.6 54. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Prosedur Perjanjian di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 16 9 0 75 % 0 64 36 0 100 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Waktu Tunggu di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 40 35 0 75 % 0 53.6 38.3 100 Tabel 6.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 3.

516 = 13.000 0.7 19.000 0.332 0.3 15.425 19.19 2.9 x 0.516 = 2.000 0.I No.7 7.13 3.497 0.49 93.Hubungan rendah Signifikan.39 2.596 Kesimpulan Signifikan. Koefisien Regresi.3 . Tabel 10.91 2.9 15. ditampilkan pada Tabel 8.2 93.98 3.9 x 0.29 3.2 .5 .98 2. Hasil Analisis Korelasi dari Pearson Variabel Pendekatan (X1) Mutu informasi (X2) Prosedur Perjanjian X3) Waktu Tunggu (X4) Fasilitas Klien (X5) Fasilitas Umum (X6) Outcome terapi (X7) Sig (P) 0.516 = 3.219 .2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Y X 2.31 X 0 1 2 3 4 Gambar 1.7 x 0.07 2.7 x 0. Diagram Tebar Tingkat Kepentingan dan Kinerja Poskesdes Hasil analisis korelasi dan regresi.000 0.76 2.Hubungan cukup kuat Signifikan. Tabel 8.4 Pendekatan perilaku petugas Mutu informasi yg diterima waktu tunggu prosedur perjanjian Fasilitas klien Fasilitas umum Outcome mean 3.057 .587 0.12 90.7 x 0.56 88. Hubungan cukup kuat Signifikan.69 93. Hubungan cukup kuat Tabel 9.41 3.95 1 2 3 .78 3. Hubungan rendah Signifikan.21 = 51.79 0.257 21.472 0.000 Koefisien Korelasi 0.00 Sumbangan relatif dan sumbangan efektif dari masing-masing variabel terlihat pada Tabel 10.9 5.516 = 10. Hubungan cukup kuat Signifikan.1 .7 100% 21.99 2.4 x 0.516 = 2.460 0.0 x 0.941 7.7 4 5 Y= 6 3.516 = 11.65 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 144 .612 4.19 3.Vol.516 = 8.002 0.05 3.4 25. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif Konstanta &Variabel Nilai B SR SE=SRXR square (Constant) Pendekatan (X1) Mutu informasi (X2) Prosedur Perjanjian (X3) Waktu Tunggu (X4) Fasilitas Klien (X5) Fasilitas Umum (X6) Outcome terapi (X7) Jumlah -. Model Summary dan Hasil F test/ANOVA(b) Model-1 R Square F Sig .070 .159 .01 25.516 12.392 0.6 .047 .097 . Tabel 9 dan Tabel 10.29 93.95 93.0 4.000 0.21 3.21 7 4 3 2 1 .153 5.194 . Hubungan cukup kuat Signifikan.

7). dan memberikan perhatian. dan mutu informasi (15. Sumbangan relatif yang paling bermakna secara berurutan adalah outcome terapi keperawatan (25. Petugas perlu untuk memberikan pelayanan yang benar-benar memberikan dampak kesembuhan atau upaya penyelesaian masalah yang dihadapi pasien ketika datang.Vol. Sedangkan yang 48.9%). waktu tunggu. fasilitas umum yang tersedia.219X1+0.6% kepuasan pasien atas layanan Poskesdes dapat dijelaskan oleh 7 variabel independen yaitu pendekatan dari pelaku petugas. menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara menghargai. Artinya. hubungan antar manusia yang baik. fasilitas untuk klien. Petugas Poskesdes juga dituntut melakukan pendekatan yang bagus kepada masyarakat dalam memberikan layanan kesehatan kepada pasien.070X4+0. Yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan pemberian fasilitas umum pasien dan peningkatan mutu informasi yang diterima oleh masyarakat. mendengarkan keluhan dan komunikasi secara efektif juga penting. supaya ada rasa puas dari klien. maka konstanta kepuasan klien adalah negatif. Nilai konstanta menunjukkan angka negatif (-0.159X2+0.97). mutu informasi yang diterima. Empat variabel prediktor ini memberi sumbangan lebih dari 82% terhadap tingkat kepuasan pasien. menjaga rahasia. Dalam konteks ini sangat peka untuk terjadi kesalahan penafsiran atau kekeliruan harapan atas layanan yang diterimanya. Menurut Wiyono (2000).I No.057X3+0. kepuasan pelanggan merupakan satu determinan kunci dari tingkat permintaan pelayanan (Triatmojo. Hubungan antar manusia yang kurang baik akan mengurangi efektifitas dari kepuasan. fasilitas umum (19. Sedangkan 3 variabel lainnya yaitu prosedur perjanjian. Pendekatan petugas memegang peran penting karena hakekatnya pendekatan sangat menentukan mutu layanan kesehatan. sehingga nilai konstanta plus (didownload tgl 20 Oktober 2009).047X5+0.6%) dijelaskan oleh sebab lain. pendekatan dan perilaku petugas merupakan aspek yang dianggap penting oleh pasien dengan kinerja layanan sudah di atas rata-rata kinerja layanan kesehatan. Penentu kebutuhan pasien bukanlah dia sendiri. maka empat faktor ini merupakan fokus garapan paling penting.4%). prosedur perjanjian. pendekatan petugas (21. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 145 . Kepuasan responden terhadap pendekatan dan perilaku petugas menurut jendela kepuasan berada pada kuadran II. Sehingga yang dibutuhkan adalah pendekatan untuk secara bersama-sama menentukan kebutuhan pasien (Pohan. 2007).257X7 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51. outcome terapi dan perawatan yang diterima.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Persamaan Regresi berdasarkan unstandardized coefficient adalah: Y= -.4% (100%-51. yaitu tenaga kesehatan. jika pihak pengelola Poskesdes ingin meningkatkan kepuasan pasien. namun di dalam mendapatkan kebutuhannya ditentukan oleh orang lain. Artinya. dan fasilitas klien hanya memberikan sumbangan relatif sebesar 28% saja. Empat variabel ini dapat menjadi fokus upaya memperbaiki tingkat kepuasan pengguna layanan Poskesdes. menghormati.194X6+0. Pada kondisi persaingan sempurna yaitu pelanggan mampu untuk memilih informasi yang memadai. Artinya mesti harus berbuat sesuatu sehingga dapat memberikan nilai kepuasan yang positif.097+0. Untuk memunculkan respon minimal terhadap kepuasan layanan. responsif. Petugas tidak boleh memberi layanan asal-asalan. maka tidak boleh berada pada skala nol. berarti bila variabel prediktor memiliki kekuatan skala 0.9%). waktu tunggu. sehingga layanan kesehatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

kemampuan teknis. kemampuan menyelesaikan masalah. Wiyono (2000) menerangkan bahwa mutu dapat dilihat dari berbagai perspektif. kualitas dan harga yang sepadan (Triatmojo. mutu pelayanan yang baik menurut (Sabarguna. Walau waktu tunggu masih perlu ditingkatkan. mutu pelayanan berarti respek dan tanggap akan kebutuhannya masyarakat. Artinya fasilitas bagi klien dinilai penting bagi klien. Penilaian terhadap outcome adalah hasil akhir dari kesehatan atau kepuasan. 2006). Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional terhadap pasien. kemungkinan sembuh di masa datang. dan kinerja layanan kesehatan atas fasilitas klien telah sejalan dengan keinginan masyarakat. tepat kebutuhan. tepat sumber daya. 2004) adalah: tersedia dan terjangkau. Kinerja layanan dalam memberikan waktu tunggu yang baik oleh petugas kesehatan juga belum memadahi karena masih di bawah rata-rata penilaian kinerja layanan kesehatan. Dengan demikian. Mutu pelayanan kesehatan dapat ditinjau dari sudut pandang pasien yaitu layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselenggarakan dengan cara yang sopan dan santun. Namun fasilitas umum bagi pasien prioritasnya rendah dalam peningkatan kinerja layanan kesehatan. 2006) apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan. Faktor-faktor yang akan dipergunakan di dalam mengukur kinerja pelayanan.Vol. 2006). kemudahan dihubungi. dan lain-lain. Menurut (Triatmojo. tepat standar profesi/etika profesi. Berdasarkan dari penilaian di atas. Bila suatu pelayanan tidak memuaskan klien dapat menjadikan kepuasan klien menjadi jelek. Fasilitas umum bagi pasien yang datang ke Poskesdes dinilai kurang penting. dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. dan fasilitas yang dimiliki. 2006:13). karena berada di atas rata-rata kinerja layanan kesehatan. ketepatan waktu. prioritasnya masih di bawah aspek layanan kesehatan yang terdapat pada kuadran I. dapat dipercaya. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa outcome terapi dan perawatan yang diterima tingkat kinerjanya kurang dari harapan. tepat waktu tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit (Pohan. 2000:38-39). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan responden terhadap fasilitas klien berada pada kuadran kanan atas atau kuadran II. Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional terhadap pasien. dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif dan negatif (Wiyono. pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan mereka dan diberikan dengan cara yang ramah waktu mereka berkunjung. pemberian fasilitas pasien di Poskesdes perlu terus ditingkatkan dan dipertahankan. sedangkan kinerja layanan kesehatan atas fasilitas umum juga belum sesuai dengan harapan pasien. yaitu ketepatan waktu. Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal sehingga memaksimalkan pelayanan kepada pasien dan masyarakat (Pohan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut: Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 146 . Ini sesuai dengan pernyataan Wiyono (2000) bahwa puas bila kinerja sebanding dengan harapan. Untuk masyarakat.I No. Wiyono (2000) menerangkan bahwa mutu dapat dilihat dari berbagai perspektif. cacat. artinya kinerja atau mutu fasilitas harus ditingkatkan sejalan dengan harapan klien.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 2006). misalnya tingkat keahlian. Ada beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan oleh pelanggan dalam menilai suatu pelayanan. Outcome jangka pendek seperti sembuh dari sakit. Outcome jangka panjang seperti kemungkinan-kemungkinan kambuh.

Suharsimi. Prosedur perjanjian berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0. Fasilitas klien berpengaruh rendah terhadap kepuasan klien (P=0.9%. agar penelitian dapat lebih baik dan sempurna.000. waktu penelitian serta instrumen yang digunakan. Belum memuaskan. Depkes RI.3). K=0. 8. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi 5.7%.(diakses 25 Maret 2008. pukul 11. K=0. 2007. Prosedur perjanjian (SR=5. Mutu informasi yang diterima berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0.057X3+0. SE= 13.00 WIB) Arikunto.com. Tingkat kepuasan pasien terhadap outcome terapi dan keperawatan yang diterima adalah 93.070X4+0.159X2+0.I No. Pasien belum puas terhadap prosedur perjanjian (93.tenaga kesehatan. Daftar Tilik Pelayanan Kesehatan Dasar.000.00 WIB) Anonim. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja. http://rigco-geovano.219X1+0. SE=3. 4. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 3. Jakarta: PT Rineka Cipta. (diakses 28 Maret 2008.392) dan berada pada kuadran II. waktu tunggu (SR=7. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja Jakarta.6% dan sumbangan relatif adalah pendekatan (SR=21. Tingkat kepuasan pasien terhadap fasilitas adalah 88.or.002.43).9%. K=0. Fasilitas umum berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0. Dalam upaya meningkatkan kepuasan ibu hamil dan melahirkan terhadap pelayanan ANC di Poskesdes diperlukan parbaikan outcome terapi dan pendekatan petugas.000. 6. Perlu penelitian lanjutan dengan menambah besar populasi. Depkes RI. Polindes.co. Tingkat kepuasan pasien terhadap fasilitas klien adalah 93.Vol.31%. 2002.4.94).01). fasilitas umum (SR=19. SE=8.332).15). Waktu tunggu pasien berpengaruh rendah terhadap kepuasan klien (P=0.43%.blogspot.55%) 5.097+0.61). SE=10.257X7 Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah: 1. SE=2.Balipost.000. Persamaan Regresi berdasarkan unstandardized coefficientregresi adalah: Y= -.047X5+0. K=0.2% (belum memuaskan).000.(diakses 25 maret 2008. www. Prioritas Pada Penurunan Angka Kematian Ibu Dan Bayi.21). SE= 2.460). Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 147 .id. K=0. 9. dan kinerja layanan kesehatan atas fasilitas klien telah sejalan dengan keinginan masyarakat. Artinya fasilitas bagi klien dinilai penting bagi klien. artinya waktu tunggu masih di bawah harapan pasien.596). WIB) Anonim. http://www. Sumbangan efektif adalah 51. pukul 10. Outcome terapi perawatan yang diterima berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0. 7.194X6+0.12% (belum memuaskan). 2. 2. 2006.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 1. Diharapkan ibu hamil dapat mengetahui tingkat kepuasannya terhadap fasilitas kesehatan tersebut dan tetap malakukan ANC secara teratur serta memanfaatkan Poskesdes sebagai tempat melahirkan agar tetap dalam keadaan yang sehat baik bagi Ibu maupun bayi.29%.000. Fasilitas klien (SR= 4. Metode Penelitian. 1999.7%. Bidan Desa di Polindes. Belum memuaskan.pukul 09. 2007. Tingkat kepuasan pasien 90.472).40. Pendekatan dan perilaku petugas berpengaruh cukup kuat terhadap tingkat kepuasan klien (P=0. K=0.49). Tingkat kepuasan pasien terhadap pendekatan 93. SE=11. outcome terapi (SR=25. K=0. mutu informasi (SR=15. 3.7%. 1993.587).id.

Promkes Depkes RI. (diakses 28 Maret 2009. D.com. Simamora Bilson. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja. Mengatur Kepuasan Pelanggan. Nursalam. Poerwadarminta. Jakarta. 2005. Subiyati (2005). Standart Kualitas Kemampuan KIP & K Bagi Bidan dalam Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir di Polindes. 1995. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Metodologi Riset Keperawatan. diakses tgl 12 Oktober 2009 Sugiyono. 2002. pukul 09. 1998. Kusmiati. Salemba Medika. Notoatmodjo S.blogs. Metode Teknik Menyusun Tesis. 2006. Depkes RI. 2002. 2000. Metodologi Penelitian. Pohan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 148 . Murwantorezky 2007. S. 2006. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Depkes RI. EGC. Edisi ke 5. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. 2001. C. Libido Kekuasaan Sigmund Frend. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung. 2002. S. Yogyakarta. Buku Saku Bidan di Desa. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. Dasar-dasar Perilaku. Metodologi Penelitian Administrasi. Edisi VI. pukul 09. 1990. Tasrif S.Panduan Riset Perilaku Konsumen. EGC Jakarta.2003. S. Jakarta.wordpress.00 WIB) Hamilton Mary P. www.I No. Pedoman Teknis Andil Maternal-Perinatal di Tingkat Kabupaten/Kota.triatmojo. 1993. 1997.frinster. (diakses 12 Oktober 2009. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja. Direktorat Jendral Promosi Kesehatan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Bandung: CV. http://www. 2002. Rineka Cipta. PT Gramedia Pustaka Utama. Manuaba Ida Bagus. Triatmojo. Jakarta. 2002.D. 1999. Jakarta. Jakarta: EGC. Rineka Cipta. Gklinis. 1995. Alfa Beta. Agung Seto.Vol. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (diakses 25 Maret 2008. 2001.net. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dan KB. Baliitbangkes Depkes RI.com. Nursalam dan Pariani S. Notoatmojo. Erlangga : Jakarta. Surabaya: Airlangga University Press. 2003. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kematian. Saifudin A. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap di Puskesmas.00 WIB) Narbuko. Rineka Cipta. 1998. Tarawang. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta Bumi Aksara.00 WIB) Wiyono. Notoatmodjo S. Balai Pustaka : Jakarta. 2005. Kematian Ibu Melahirkan Dan Bayi Masih Tinggi. G. http://Murwantorezky. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarana Prawiroharjo : Jakarta. Studi Tingkat Kepuasan Klien tentang Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Poskesdes Majasem Sudibyo et all. Jakarta. gizi. EGC: Jakarta. 2004. Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. Editor: Palupi Widyastuti. Riduan./. Alfabea. Stuart dan Suandeen. dan Ahmadi. pukul 10. 2000. Imbalo S. Jakarta.

Upaya untuk mengurangi angka kesakitan ini adalah dengan pemberian antibiotika segera.05). Data were collected by using observation paper. Prevalensi sepsis neonatorum di RSU Kabupaten Madiun cukup tinggi (11%). and 25.I No. Ketuban Pecah Dini (KPD) terjadi sekitar 2. tanpa memperdulikan waktu kehamilan. Adequate to premature rupture membrane therapy and caring born to decreased mortality and morbidity maternal and neonatal. sepsis neonatorum *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya **: Rumah Sakit Daerah Kabupaten Madiun PENDAHULUAN Latar Belakang Sepsis neonatorum adalah suatu infeksi bakteri berat yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Prevalensi kejadian ini adalah < 1% dari bayi baru lahir. Nurlailis Saadah* ABSTRACT Premature rupture membrane can cause infection to childbirth or sepsis neonatorum. Penyebab dari 30% kematian bayi adalah sepsis neonatorum. Conclution. 1998). 1100 samples were recruited by totally population.003. asfiksia. Seberapa besar sepsis neonatorum disebabkan oleh efek KPD di Madiun belum pernah dilaporkan. observasi detak jantung janin dan pembatasan pemeriksaan dalam (vaginal toucher).16 largest to sepsis neonatorum with childbirth. prematur. The population is all chilbirth at Madiun Hospital between 2004-2007. Penyebab utama kematian bayi tersebut antara lain. observasi vital signs. Menurut Elva (2002).3%) to exposure with PRM. the pregnant women with PRM8. 2007).2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI RUMAH SAKIT DAERAH KABUPATEN MADIUN TAHUN 2004-2007 Sunarto*. premature rupture membrane (PRM). ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban yang terjadi sebelum terjadinya persalinan. Data were analyzed by Chi-Square test (p<0. The analyzed of the exposure with odd ratio. The objective of this study was to analyze correlation premature rupture membrane into sepsis neonatorum. The independent variable was premature rupture membrane and the dependent variable was sepsis neonatorum. dan sepsis neonatorum. Ketiga faktor ini diperberat jika ibu hamil mengalami KPD sebelum masa inpartu. 366 (33. dan ditunggu satu jam belum ada tanda-tanda awal persalinan (Manuaba. Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum tanda-tanda persalinan.7-17% kehamilan dan pada kebanyakan kasus terjadi secara spontan. and there were relationship between PRM and sepsis neonatorum with value level of p=0. The result showed that there were 1100 childbirth.1% was sepsis neonatorum. Efek KPD pada bayi disebabkan oleh infeksi dalam rahim (Mochtar.Vol. Design of the research retrospective. Dwi Umiyati**. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 149 . Istilah KPD digunakan untuk menyatakan peristiwa pecahnya ketuban pada sembarang waktu sebelum terjadi persalinan. Keywords: pregnant women.

Teknik analisis data menggunakan pendekatan statistik Chi-Square dengan α ≤ 0. Infeksi selama kehamilan akibat TORCH. dampak ketuban pecah dini dapat berakibat pada faktor ibu dan faktor janin. ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Aliran cairan tidak terlalu deras. Dari seluruh bayi baru lahir tersebut. infeksi intra uterin. dan 734 (66. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari 1100 persalinan hidup didapatkan. didapatkan. Pengaruh pada ibu berupa infeksi intra partum. 366 (33. Proses persalinan lama. Teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder. ibu hamil dengan diabetus mellitus dan penyakit bawaan diduga merupakan faktor resiko sepsis neonatorum. yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. selebihnya 979 (89%) tidak mengalami sepsis neonatorum (Tabel 2). 92 di antaranya (76%) berasal dari ibu hamil dengan KPD. persalinan dengan tindakan. asfiksia neonatorum. 2) mengidentifikasi prevalensi kejadian KPD.05. angka kesakitan dan kematian bayi meningkat. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasi prevalensi kejadian sepsis neonatorum.3%) persalinan didahului KPD.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Ketuban pecah dini ada dua macam kemungkinan yaitu premature rupture of membrane dan preterm rupture of membrane. dari akibat ini maka angka kesakitan dan angka kematian ibu meningkat. Pengaruh pada janin berupa prematuritas. sejumlah 1100 bayi. bayi kurang kalori protein. Menurut Saifuddin (2002). air ketuban keruh juga diduga sebagai faktor resiko sepsis neonatorum. prolapsus funikuli. Ibu akan merasakan sakit bila janin bergerak-gerak. infeksi nifas. 3) menganalisis hubungan antara kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum BAHAN DAN METODE PENELITIAN PENELITIAN Penelitian analitik observasional dengan rancangan kasus kontrol (retrospektif) ini berlokasi di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Madiun. Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 121 bayi yang sepsis. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 150 .7%) persalinan normal (Tabel 1). Data dikelompokkan dalam data resiko (KPD) dan data efek (sepsis neonatorum). Sedangkan Tabel 4 menggambarkan bahwa dari 1100 persalinan hidup. Populasi penelitian adalah semua bayi lahir hidup di RSUD Kabupaten Madiun selama tahun 2004-2007. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum usia kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. perdarahan post partum. Tanda-tanda khasnya KPD adalah keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit.I No. Keduanya memiliki gejala yang sama. ibu hamil dengan eklamsia. ada 121 (11%) mengalami sepsis neonatorum. ketuban pecah dini. Menurut Ratih Rochmat (2007). bayi lahir dengan trauma. Variabel bebas penelitian adalah kejadian KPD. Faktor lain yang menyebabkan sepsis neonatorum adalah.Vol. Analisis pengaruh paparan terhadap efek menggunakan odds ratio. selebihnya 29 (24%) berasal dari ibu hamil tidak dengan KPD. bayi lahir kurang bulan. Vagina toucher yang dilakukan petugas dengan frekuensi sering juga mengakibatkan sepsis neonatorum. sedangkan variabel terikat adalah kejadian sepsis neonatorum. tidak disertai perasaan mulas atau sakit perut. bayi dengan hipitermia.

3 66. Distribusi Frekuensi Kejadian KPD pada Sepsis Neonatorum No 1 2 Riwayat Bayi dan Persalinan Bayi Sepsis neonatorum dengan KPD (+) Bayi Sepsis Neonatorum tanpa KPD (-) Jumlah Frekuensi 92 29 121 Persentase 76 24 100 Tabel 4. Diketahui bahwa 40% ibu bersalin yang didahului KPD akan melahirkan bayi beresiko sepsis neonatorum. Ketuban pecah dini terjadi karena beberapa faktor resiko yaitu. infeksi kehamilan. serviks inkompeten. pecahnya membran karena koitus. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum Menurut Kejadian KPD Sepsis Neonatorum + 92 274 29 705 121 979 Total 366 734 1100 KPD + Total Uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0.003. Sebaliknya 6.9%) persalinan tanpa KPD dan bayi tidak mengalami sepsis neonatorum. bayi yang dilahirkan akan mengalami sepsis neonatorum 8. Artinya bila ibu bersalin didahului KPD.Vol. antenatal care yang rutin minimal 4 kali selama Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 151 . Distribusi Frekuensi Kejadian KPD Riwayat Persalinan Frekuensi KPD (+) 366 KPD (-) 734 Jumlah 1100 Tabel 2. No 1 2 Tabel 1. dan OR = 8. 29 (4. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum No 1 2 Riwayat Bayi Sepsis Neonatorum (+) Sepsis Neonatorum (-) Jumlah Frekuensi 121 979 1100 Persentase 11 89 100 Persentase 33. Upaya untuk mengurangi resiko antara lain.1 95.9 100 Hubungan antara kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum disajikan pada Tabel 5.16.7 100 Tabel 3. dan kelainan presentasi janin.1%) persalinan tanpa KPD dan bayi mengalami sepsis neonatorum.53% ibu bersalin yang tidak didahului KPD akan melahirkan bayi beresiko sepsis neonatorum.16 kali lebih besar daripada yang tidak didahului KPD. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum pada Persalinan Tanpa KPD No 1 2 Riwayat Persalinan KPD (-) dan Sepsis Neonatorum (+) KPD (-) dan sepsis neonatorum (-) Jumlah Frekuensi 29 676 705 Persentase 4.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 676 (95.I No.

3) keadaan bayi prematur. dan pengobatan yang tepat. besarnya odd ratio 8. proses kelahiran yang lama dan sulit. Keadaan sosial ekonomi dan stress diduga memudahkan terjadinya infeksi saat kehamilan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil kehamilan antara lain. infeksi janin. Kemampuan bidan dalam membuat keputusan klinik sangat tergantung dari intelectual skill. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 152 . bahwa gangguan hasil kehamilan disebabkan oleh ibu hamil yang mengalami anemia. demam yang terjadi pada ibu.1998). demografi. toksemia gravidarum. Oleh karenanya diduga ada hubungan antara tingkat pendidikan petugas dengan kejadian KPD. dan ilmu kedokteran klinik. Bidan juga dituntut mampu menguasai ilmu fisiologi manusia. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada nenonatus antara lain. perdarahan. 1998). organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses persalinan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 kehamilan. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. ketuban pecah dini. Faktor sosial ekonomi masyarakat secara tidak langsung juga menjadi penyebab sepsis neonatorum (Manuaba. KPD sebelum 37 minggu kehamilan. atau jamur dapat menyebabkan infeksi berat yang mengarah ke terjadinya sepsis. dan sistem rujukan yang memadai. Ada hubungan antara ketuban pecah dini dengan keadaan anemia (Mochtar. Upaya-upaya tersebut tidak berhasil mengurangi prevalensi KPD bila petugas kesehatan enggan melakukan pendidikan dan pelatihan yang kontinu. kelainan pertumbuhan konsepsi. Bidan diharuskan mampu mengambil keputusan klinik dengan baik. infeksi pada uterus atau plasenta. Upaya lain dari petugas kesehatan (bidan) adalah melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur. dan 4) standar pelayanan di unit perawatan intensif khusus anak jelek. 1) riwayat obstetrik ibu yang jelek. patuh melakukan tidakan pencegahan infeksi (UPI) pada setiap melakukan perawatan. 2005).Vol. dan hal ini perlu diteliti lebih lanjut.16 kali jika terpapar faktor KPD. Resiko sepsis neonatorum menjadi 8. penyakit. Angka kesakitan infeksi postnatal ini cukup tinggi (Wiknjosastro. Berbagai kuman seperti bakteri. 4) faktor lain yang belum diketahui. Prosedur tetap penanganan KPD adalah ibu inpartu didahului KPD kurang dari 24 jam harus sudah mendapatkan perawatan di RS. kelainan plasenta. Kuman Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. parasit. Bidan harus mampu menguasai ilmu epidemiologi. perihal faktor resiko kejadian sepsis neonatorum. Penelitian Florentina. status gizi. kehamilan ganda. technical skill dan interpersonal skill yang dimiliki. H. kelainan persalinan. 2) faktor kehamilan.2003). 2) KPD. kelainan letak janin. S (2003) menyebutkan bahwa proporsi terbesar dari hasil kehamilan terganggu akibat kelainan pada kehamilan. virus. dan 3) faktor janin. Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. ilmu kebutuhan dasar manusia. Ketiga kemampuan ini merupakan konsep profesional seorang bidan. Infeksi postnatal adalah infeksi yang diperoleh setelah bayi lahir (aquired infection).I No. Perdarahan ante partum dan post partum juga lebih sering dijumpai pada wanita yang anemia (Notobroto.81 kali. Beberapa faktor penyebab antara lain. pendidikan kesehatan pada PUS. 1) faktor ibu. atau karena infeksi silang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hamdah (2006). R. perdarahan antepartum. Infeksi ini terjadi akibat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak steril. perawatan oleh petugas yang tidak berdasarkan prinsip universal precaution. nifas dan efeknya adalah infeksi pada anak.

September 2007. 2002. bila ditemukan kasus di tempat terpencil. memberikan peluang pada mikroorganisme (bakteri) masuk ke tubuh janin melalui vagina. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian ini adalah: 1) persalinan yang didahului oleh KPD adalah 33. Mochtar Rustam. Angka paparan KPD terhadap sepsis neonatorum pada kelompok kasus sebesar 40%. Jakarta Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 153 . adanya faktor resiko tersebut. meskipun perawatan kehamilan sudah dilakukan dengan baik. 2002. Untuk itu diperlukan kewaspadaan bidan setiap menolong persalinan. RSD Kabupaten Madiun. Rachim Hadhi. Siregar.15 wib. Wiknjosastro. Prosedur Tetap Perawatan Ketuban Pecah Dini. EGC. Jakarta. Jakarta. Ilmu Kebidanan. Diakses 12 Pebruari 2008. Saran yang diajukan adalah diperlukan teknik keputusan klinik yang tepat saat perawatan kehamilan sesuai standar operasional prosedur ANC. EGC. maka diupayakan adanya sistem rujukan yang baik sebelum 24 jam.16 kali lebih besar melahirkan bayi dengan sepsis neonatorum. Saifuddin. Untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan pada ibu hamil untuk mampu menjaga agar kejadian KPD bisa ditekan. Manuaba. Jakarta. resiko sepsis pada neonatorum tetap ada. Lama ketuban pecah berhubungan dengan infeksi neonatal. 40% bayi yang dilahirkan akan mengalami sepsis neonatorum. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Sinopsis Obstetri. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Nailor. 4) ibu bersalin yang didahului oleh KPD memberikan resiko 8. Kedua. 2007. guna menekan angka kejadian sepsis neonatorum akibat resiko KPD. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Obstetri Ginekologi. hal ini dihubungkan dengan peningkatan koloni kuman. www. ascending infection dan jumlah vaginal toucher. Para ahli kebidanan telah menyepakati bahwa lama ketuban pecah lebih dari 18 jam dianggap sebagai resiko terjadinya infeksi neonatus.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 KPD yang tidak segera diikuti dengan adanya tanda persalinan.53%. 2005. jam 09. Jakarta. Grasindo. YB-SP. Madiun.I No. YBPSP. Ketiga. 2) 25. Saifuddin. 1998.3%. EGC. C Scott.13% dari persalinan yang didahului oleh KPD menimbulkan dampak sepsis neonatorum pada bayi yang dilahirkan.medicastore. 2005. 3) Ada hubungan bermakna antara kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum.com Ditulis. maka dalam waktu kurang dari 24 jam harus segera diberikan pengobatan yang adekuat. Statistik Terapan.Vol. Artinya bahwa ibu hamil yang didahului KPD sebelum persalinan. Jakarta. Upaya-upaya ini hanya bisa dilakukan bila masing-masing petugas dan masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk mengurangi kejadian infeksi pada bayi setelah dilahirkan. Sepsis Neonatorum. 1998. Angka paparan KPD terhadap sepsis neonatorum pada kelompok kontrol sebesar 6. Fakta ini memberikan peringatan pada petugas. bila ditemukan kasus KPD.

000 (<0. 15mg. baik langsung maupun tidak langsung dan manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air dari pada makanan. 10 mg. pemadam kebakaran. Sebanyak 5 sumur gali masing masing diambil 6 liter untuk djadikan bahan peneltian. 15 mg. dan masing-masing bahan dilakukan 6 kali pemeriksaan yaitu sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg. Melalui Post Hoc Test diperoleh nilai significant sebelum dan sesudah perlakuan pemberian biji kelor 5mg. Kata Kunci: Kekeruhan. tempat rekreasi. maka dilakukan peningkatan kualitas air melalui pengolahan pada air yang diperlukan. Berpedoman pernyataan tersebut.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PERBEDAAN KEKERUHAN AIR SUMUR GALI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN BIJI KELOR Sri Sulami Endah Astuti* ABSTRAK Biji kelor kelor bermanfaat sebagai pengendap (koagulan) atau penjernih. air permukaan dan air tanah. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks di antaranya adalah untuk minum. memasak. 20 mg dan 25 mg. Sedangkan kuantitas air merupakan syarat kedua setelah kualitas karena semakin maju tingkat hidup seseorang. Biji Kelor *: Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Air adalah zat yang sangat penting untuk kelangsungan semua makhluk hidup. Besar sampel adalah 30. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedaan kekeruhan pada air sumur gali antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor di Desa Gabahan Sidoklumpuk Sidoarjo.000. bahkan berkasiat sebagai anti bakteri pada kotoran yang terkandung di dalam air. berarti ada perbedaan kekeruhan antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor pada air sumur gali. 20mg. Air merupakan bahan pokok mutlak yang dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa.Vol. Secara umum masyarakat di Indonesia dalam memenuhi kebutuhannya masih banyak yang memanfaatkan sumber-sumber air yang berasal dari air hujan. pertanian. Hasil uji One Way Anova menunjukkan nilai signifikansi 0. Terlihat nilai mean difference dari kelima perlakuan tersebut semakin meningkat yang berarti bahwa kekeruhan semakin menurun dan penurunan tertinggi yaitu pada pemberian biji kelor 25 mg. maka semakin tinggi pula tingkat kebutuhan air masyarakat (Sutrisno. mencuci dan mandi serta diperlukan untuk keperluan industri.I No. Kekeruhan di dalam air sumur gali dapat dijernihkan dengan cara penambahan biji kelor karena biji kelor berfungsi sebagai pengendap/penggumpal (koagulan) pada kotoran yang terkandung di dalam air. air yang sesuai dengan kebutuhan manusia merupakan faktor penting yang menentukan kesehatannya. Penelitian eksperimen ini menggunakan bahan berupa air sumur gali yang berjarak 1 meter dari sungai Desa Gabahan. Secara kuantitas dan kualitas. 25mg adalah 0. 10mg. 2004).05) yang berarti terdapat perbedaan kekeruhan secara nyata pada air sumur gali. Tetapi masyarakat lebih banyak yang memanfaatkan kualitas air tanah dibandingkan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 154 . transportasi dan lain-lain. terutama pada manusia dan fungsinya bagi kehidupan tersebut tidak akan dapat digantikan oleh senyawa lain.

Besar sampel adalah 30 dan masing-masing bahan dilakukan 6 kali pemeriksaan yaitu sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dengan sumber yang lain.net. perlu diteliti tentang penurunan kekeruhan air sumur gali dengan pemberian ekstrak biji kelor (moringa oleifera). tempat sampah) dan kandang hewan. coli dalam seliter air sungai dalam waktu 20 menit. Bahkan biji kelor ini juga berkasiat sebagai antibakteri yaitu mampu membersihkan 90% dari total bakteri E. yang sumber pencemarannya berada dekat dengan air tanah (Alumni.iptek. Bahan seperti inilah yang dapat menyebabkan kekeruhan di dalam air tanah. dan hasilnya terjadi degradasi warna hingga 98%. Berdasarkan pernyataan di atas. penurunan BOD 62% dan kandungan lumpur 70 ml/liter. Yogyakarta pada proses pengolahan limbah cair dari pabrik. anorganik (lumpur dan bakteri).id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=5&doc=5b5) Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 155 . Kekeruhan air sumur gali dapat dijernihkan dengan cara penambahan biji kelor karena biji kelor berfungsi sebagai pengendap atau penggumpal (koagulan) pada kotoran yang terkandung di dalam air. 20 mg dan 25 mg. 10 mg. seperti pada penelitian yang dilakukan di Universitas Gajah Mada.1996).I No.Vol. dan zat-zat kimia (garam-garam yang terlarut). Gambar 1. 15 mg. padahal di air tanah itu sendiri masih banyak mengandung zat tersuspensi seperti: bahan-bahan organik. Biji Kelor (Sumber: http://www. Sedangkan dari segi estetika kekeruhan air dapat disebabkan oleh pencemaran baik melaui pembuangan (limbah. Sebanyak 5 sumur masing-masing diambil 6 liter untuk dijadikan bahan penelitian. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian eksperimen pada bulan Juni 2008 di BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan) Surabaya ini menggunakan bahan berupa air sumur gali yang berjarak 1 meter dari sungai di Desa Gabahan Kecamatan Sidoklumpuk Kabupaten Sidoarjo.

One Way Anova digunakan untuk menguji perbedaan varians kekeruhan air sumur antara sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian 5 mg. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 156 . diputar tombol sampai bintik dalam alat merata. kemudian ditumbuk sampai halus betul. menyaringnya dengan corong. karena setiap sampel mendapat 5 perlakuan. dan air sumur gali yang keruh. dimasukkan ke dalam alat turbidimetri hellige. timbangan analitik. dilihat dalam tabel akan mendapatkan hasil unit skala TCU. uji homogenitas varians dengan tes Homogeneity of variances dan terakhir uji One Way ANOVA jika data terdistribusi normal dan memiliki varians homogen.05. mengaduk kembali secara perlahan dan beraturan selama 5 menit dengan kecepatan 15-20 putaran permenit. kemudian air diendapkan selama 1-2 jam. 15 mg. 20 mg dan 25 mg biji kelor.I No. Perlakuan terhadap sampel sebelum pemberian biji kelor yaitu dengan menuang sampel air masing-masing 1 liter ke dalam tabung pada alat turbidimetri dan diberi tanda A sampai dengan E. yaitu: tabung ditutup dengan kaca pencelup (plunger) sampai tidak ada udara. dimasukkan dalam tabung pada alat turbidimetri. 15 mg. Sedangkan perlakuan sampel sesudah pemberian biji kelor yaitu dengan menuangkan sampel air masingmasing 1 liter dalam beaker glass dan diberi tanda 1 sampai dengan 5. 10 mg. 20mg. mengaduk dengan menggunakan batang pengaduk secara cepat 30 detik dengan kecepatan 55-60 putaran permenit. dan 25mg. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil pemeriksaan kekeruhan pada 5 sampel air sumur gali sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 5mg. Alat dan bahan terdiri atas mortil. mengukur dengan alat turbidimetri. dilihat alat yang didapat dan dilihat dalam tabel untuk mendapatkan hasil unit skala TCU.Vol. 10 mg. petridish. 20 mg dan 25 mg pada masing-masing beaker glass sesuai dengan urutan. turbidimeter. kemudian menimbang biji kelor sebanyak 5 mg. disajikan data pada Tabel 1. Sedangkan untuk mengetahui besarnya perbedaan dilihat dari nilai mean difference apabila positif terjadi penurunan dan apabila negatif berarti terjadi kenaikan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Metode pemeriksaan yang digunakan adalah metode Turbidimetri dengan prinsip pemeriksaan didasarkan pada perbandingan intensitas cahaya dan efek tyndall yang terjadi. mengupas biji kelor dan membersihkan kulitnya. 10mg. kemudian diukur dengan alat turbidimeri. memasukkan serbuk biji kelor sebanyak 5 mg. kemudian kaca filter diatur dan pintu ditutup. 15 mg. Perbedaan secara nyata dapat dilihat apabila nilai signifikan <0. beaker glass. diputar tombol sampai bintik dalam alat merata. 10 mg. 15 mg. Hasil pengujian One Way Anova kemudian dilanjutkan dengan Post Hoc Test dengan metode Least Significant Difference (LSD) yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan secara nyata dari kekeruhan air sumur gali sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg. dilihat alat yang didapat. yaitu: tabung ditutup dengan kaca pencelup (plunger) sampai tidak ada udara. dimasukkan ke dalam alat turbidimetri hellige. tabung. Prosedur pembuatan serbuk biji kelor yaitu menyiapkan biji kelor yang sudah tua dan kering. biji kelor yang sudah kering. 20 mg dan 25 mg. 15mg. 20 mg dan 25 mg. batang pengaduk. Data hasil penelitian yang diperoleh kemudian diuji dengan bantuan Program SPSS for Windows Version 13 meliputi uji normalitas dengan Kolmogrov-Smirnov Test. tumbukan biji kelor yang tua dan kering. kemudian kaca filter diatur dan pintu di tutup. 10 mg.

25mg. antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 15 mg terjadi penurunan sebesar 2.84 25 mg 1.604 (> 0.18 2.735 (> 0.28 1. 15mg. Uji One Way Anova memperoleh nilai F hitung=26.74 0.000. p=0.909 dengan taraf signifikansi sebesar 0. semakin tinggi dosis biji kelor maka semakin tinggi penurunan kekeruhan yang terjadi.89 1. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 157 .000 (< 0. A B C D E Rata-rata Sebelum 4.97.553 dan nilai signifikansi 0.33 1.07 0.93 3.05) sebesar 2.12 1.92 2.53.45 3.06 2. Hal di atas dapat terjadi karena biji kelor mempunyai manfaat sebagai pengedap atau koagulan yang terkandung di dalam air dan berkhasiat sebagai antibakteri yaitu membersihkan 90% dari total bakteri E.42 1. maka pengujian dapat dilanjutkan ke uji One Way Anova. Pembahasan Dari uji One Way Anova diketahui bahwa ada perbedaan kekeruhan air sumur gali antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor dengan berbagai variasi dosis. maka Ho ditolak.93.I No. sedangkan nilai F tabel (df=29. Dari uji One Way Anova tersebut.940 (> 0.05).13. berarti ada perbedaan varians kekeruhan air antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor dengan 5 perlakuan yaitu 5mg.88 1.18 2. dan variabel kekeruhan sebesar 0. 10mg.02 Kekeruhan (mg/l) Sesudah Pemberian Biji Kelor 10 mg 15 mg 20 mg 2. Kekeruhan antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg terjadi penurunan sebesar 1.89 3. 20mg.47 2.02 2.50 1. antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 20 mg terjadi penurunan sebesar 2. Nilai mean difference dari ke 5 perlakuan tersebut semakin meningkat yang berarti bahwa kekeruhan semakin menurun dan penurunan tertinggi yaitu pada pemberian biji kelor 25 mg.05) yang berarti bahwa data tersebut memiliki varians homogen.94 2.19 1.94 1.58 5 mg 2. diketahui bahwa ada perbedaan kekeruhan air sumur gali antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor.05) yang berarti data berdistribusi normal. dan antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 25 mg terjadi penurunan sebesar 2. Karena nilai F hitung > F tabel dan taraf signifikansi 0. Test Homogeneity of Variances menunjukkan nilai Levene Statistic sebesar 0.84 1. Dalam hal ini. Dari nilai mean difference dari masing-masing perlakuan diperoleh nilai positif yang berarti terjadi penurunan kekeruhan.05 Hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan nilai asymptod significant variabel pemberian biji kelor sebesar 0. antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 10 mg terjadi penurunan sebesar 1.39 1. Post Hoc Test membuktikan adanya perbedaan secara nyata mengenai kekeruhan pada air sumur gali tersebut.45. Post Hoc Test dengan metode Least Significant Difference (LSD) menunjukkan nilai signifikansi 0.Vol. dalam hal ini berupa penurunan kekeruhan.48 2.000 (< 0.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel Hasil Pemeriksaan Kekeruhan Air Sumur Gali Sampel No.05) yang berarti terdapat perbedaan secara nyata kekeruhan pada air sumur gali.56 2.59 3.40 2.20 3.98 4.87 3.31 1.76 2. coli dalam air seliter.18. Karena data berdistribusi normal.05) yang berarti data berdistribusi normal.

Jakarta.I No. 2004. Budiman. 1989. 2005. Air Dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat (Depkes RI Akademi Kesehatan Lingkunagan Surabaya). tanjungkarang jakarta. Universitas Indonesia.. Jakarta..EGC. Jakarta. Jakarta. Kementrian Negara Riset dan Teknologi. ijuk.. kapur. Malang . Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 2003. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 158 . Sutrisno. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. DAFTAR PUSTAKA Andi. Yokyakarta. .. Bandung. Penerbit Tarsito..iptek. PT Rineka Cipta.. Penyediaan air bersih bagi masyarakat.net. arang sekam padi.Totok.Vol. 2) kekeruhan air sumur gali menurun dengan peningkatan dosis biji kelor yang diberikan. Bandung. dan lain-lain. Jakarta. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian ini adalah: 1) ada perbedaan tingkat kekeruhan air sumur gali secara bermakna antara sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian biji kelor dengan peningkatan dosis. Kimia Lingkungan. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolahan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan.. Di antara bahan-bahan tersebut adalah biji kelor di samping batu. Kimia lingkungan. 1983. Buku Pengantar Bidang Studi Penyediaan Air Bersih. Alumni. Waluyo. Kimia analisis kuantitatif an organik edisi 4. Max Rizald. Universitas Muhammadiyah Malang.. PERMENKES RI No. Bandung.. 416/Menkes/Per/IX/1990 Saptoraharjho. .. Sudjana. yang menyatakan bahwa: kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum. 2005. Konsep Dasar Kimia Analitik. memasak . pasir. Teknologi Penyediaan air Bersih.. proyek pengembangan pendidikan tenaga sanitasi pusat. Ilmi Kesehatan Masyarakat. 2002. 2003... Sugiharto. Metode Statistika. tanah liat.. Mikrobiologi lingkungan.A. Tarsito. mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. 2004.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Pemakaian biji kelor ini relevan dengan saran yang pernah diberikan melalui artikel: Teknologi Tepat Guna yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Pengelolaan air dan sanitasi yaitu tentang penjernihan air dengan biji kelor. Bandung. Vogel. Rineka Cipta. Departemen Kesehatan RI. Rompas. kaporit. Pengelolaan Air dan sanitasi: Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa oleifera). Buku Kedokteran EGC.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg =5&doc=5b5 Margono.. 1998. Selanjutnya disarankan agar masyarakat memanfaatkan biji kelor sebagai teknologi tepat guna dalam upaya penjernihan air untuk keperluan rumah tangga. Notoatmodjo Soehidjo. 1996. kerikil.. tawas. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri.. 1990. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Candra. buku kedokteran.. Kimia Air. http://www. arang tempurung kelapa. Kanisius.

I No. in the significance of p=0. The research brings about conclusion that there is interaction between. term 1999. Presumably. Unair Surabaya. The motivations of the students are scored in result of questionnaires. motivation to achievement in pregnant woman’s breast treatment. the results drawn results states that there is interaction between the learning method. motivation to achievement. Student with higher motivation to achievement get the better average achievement than those with low one. the Faculty of Medicine. achievement in breast treatment. The student achievements are scored through checklist taken from Sudy Program DIV Nursing Teacher. Based on t-test. *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan pembelajaran laboratorium adalah peningkatan aspek pengetahuan dan keterampilan peserta didik.000. The research treatment on the research subjects is the subject’s skill in doing phantom of treating pregnant woman’s breasts.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH PEMBERIAN BALIKAN DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP HASIL BELAJAR DALAM MERAWAT PAYUDARA IBU HAMIL Tumirah* ABSTRACT This research is aimed at bringing about proof that variative direct feed-back and motivation for achievement have the significant influence on the pregnant woman’s breast treatment. 08. Demikian juga tenaga pengajar kurang memahami secara benar tentang cara merancang pembelajaran Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 159 . Based on the analysis of multivariate anova. ech action. This research is designed experimentally spesifically factorial research design. Keterampilan yang diperoleh pada pembelajaran laboratorium ini menjadi bekal pada penyesuaian profesionalisasi di lapangan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada klien secara nyata. with frequency of 3X60 minutes. The drawn sample is 36 students consisting of 18 students belong to experiment group and 18 students belong to control group. The treatment of the research is given in the form of direct feed-back method during two weeks. provision of feed back.Vol. Permasalahannya adalah selama ini masih banyak rancangan pembelajaran laboratorium tidak sesuai dengan kurikulum.000.00. learning motivation. motivation is the most dominant factor in that achievement.0009. The population are the students of the semester II Midwifery Program Magetan. both in experiment group and control group. in the significance of p=0. students with the high motivation to achievement get the better average achievement than those with low one. Key words: direct feed-back. The analysis of this research brings about conclusion that the average achievement in pregnant women’s breast treatment is better obtained within the provision of direct feed-back than that within independent learning method . wich sum to 40 person.

6%) dan 79. 2) dosen kurang sesuai dalam memberikan sistem evaluasi pembelajaran laboratorium. Pendekatan ini untuk membuktikan perbedaan hasil belajar mahasiswa setelah diberikan metode balikan dan motivasi. Hasil penelitian Sunarto dkk (2001) tentang profil dosen Program Studi Kebidanan Magetan menunjukkan bahwa keengganan tenaga pengajar dalam membuat rancangan pembelajaran laboratorium disebabkan oleh: 1) dosen kesulitan membuat silabus pembelajaran laboratorium. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian eksperimental dengan rancangan faktorial 2X2 ini dilakukan di Prodi Kebidanan Magetan Politeknik Kesehatan Surabaya. efisien. Data motivasi berprestasi diperoleh melalui kuesioner. sehingga pemenuhan target keterampilan bagi peserta didik tidak sesuai dengan harapan. data disajikan secara deskriptif berupa distribusi frekuensi dan tendency central. Sebagai gambaran kurang terprogramnya pembelajaran laboratorium tampak dari tingkat kepuasan mahasiswa yaitu 52% dari 109 responden tidak puas terhadap pedoman praktika di laboratorium. 3) alokasi waktu pembelajaran laboratorium sering tidak sesuai. Penerapan balikan ini khusus pada pokok bahasan perawatan payudara ibu hamil sebagai salah satu target kompetensi dasar.I No. Oleh sebab itu. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 160 . Kondisi di atas adalah dampak dari pola pembelajaran yang belum standar. dan sampel diambil dengan teknik simple random sampling sejumlah 36 orang yang selanjutnya dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 18 orang. 3) membuktikan interaksi antara pemberian balikan dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil. Mereka juga kurang puas terhadap buku panduan (59. tujuan pembelajaran yaitu perubahan perilaku yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku berkat pengalaman dan latihan-latihan tidak tercapai secara maksimal (Hamalik. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1) membuktikan perbedaan hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil menurut pemberian balikan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 laboratorium. sedangkan data hasil belajar diperoleh melalui checklist teknik perawatan payudara Prodi DIV Perawat Pendidik FK Unair Surabaya. 2) membuktikan perbedaan hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil menurut tingkat motivasi berprestasi. sedangkan hasil belajar merawat payudara merupakan variabel terikat.Vol. selanjutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan uji Multivariate Anova dengan terlebih dahulu memenuhi asumsi yang dipersyaratkan. Dosis perlakuan diberikan kepada kedua kelompok yaitu kelompok perlakuan diberi balikan disertai modul dan kelompok kontrol diberikan perlakuan latihan mandiri. 1985:25). Populasi penelitian adalah mahasiswa Prodi Kebidanan Magetan sejumlah 40 orang. Pada penelitian ini akan diterapkan metode balikan pada pembelajaran laboratorium karena cukup relevan. murah dan lebih memberikan suasana interaksi belajar mengajar yang harmonis antara mahasiswa dan pembimbing. Variabel bebas penelitian adalah pemberian balikan dan motivasi berprestasi. Setelah terkumpul.7% juga kurang puas terhadap pembelajaran klinik.

mahasiswa bermotivasi tinggi Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 161 .38 84 73 65.78 7.12 94.23 2 4 3.12) daripada mahasiswa bermotivasi rendah (103.43 11.8).62 Data tentang hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara disajikan berupa tendency central (Tabel 3).1 103.74 13. Distribusi Motivasi Berprestasi Mahasiswa Kelompok Perlakuan Kontrol Jumlah Tinggi 13 (72%) 11 (61%) 24 (66.Vol.38 28.1 Kontrol 116. Unsur-Unsur Tendency Central Motivasi Berprestasi Mahasiswa Kelompok Mean Perlakuan 121.56 57.75 Variance 168. mereka yang bermotivasi tinggi memiliki nilai rerata lebih tinggi (126.I No.3).3 SD 12.76 138.5) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (70. Unsur-Unsur Tendency central Hasil Belajar Mahasiswa Dalam Merawat Payudara Variabel Perlakuan Kontrol Motivasi Rendah Motivasi Tinggi Motivasi Tinggi Kelompok Perlakuan Motivasi Rendah Kelompok Perlakuan Motivasi Tinggi Kelompok Kontrol Motivasi Rendah Kelompok Kontrol Rerata 91. Tabel 1. proporsi mahasiswa dengan motivasi tinggi lebih besar (72%) dibandingkan dengan kelompok kontrol (61%).67%) Motivasi Rendah 5 (28%) 7 (39%) 12 (33.97 5.69 7. Pada tabel ini data motivasi berprestasi belum dikategorikan dan kelompok perlakuan memiliki nilai rerata yang lebih tinggi (121. Terlihat bahwa nilai rerata hasil belajar kelompok perlakuan (91.57 Simpangan Baku Varians 5.1) dibandingkan dengan kelompok kontrol (116.98 5.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Deskripsi perbandingan motivasi berprestasi antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Tabel 1.8 126.52 3. Tabel 2.61 31. Berdasarkan tingkat motivasi dari seluruh mahasiswa.16 26. Tampak bahwa pada kelompok perlakuan.15 2. Pada masing-masing kelompok.5 70.33%) Jumlah 18 (100%) 18 (100%) 36 (100%) Tendency central motivasi berprestasi mahasiswa disajikan pada Tabel 2.23 Median 122 120 Mode 106 125 Min 98 98 Maks 147 135 Tabel 3.99 11.1).

impuls akan dipersepsikan.003 untuk kelompok kontrol.Dari Uji tersebut juga diketahui bahwa ada interaksi antara motivasi belajar dengan hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil.I No. perlu dilakukan uji T untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Karena nilai p dari masing-masing kelompok tersebut >0. intensitas belajar yang berulang-ulang dipandang sebagai stimulator yang baik. dengan nilai 7. Oleh karena itu. Karena nilai p dari kedua kelompok >0.775 dengan p=0.472 pada kelompok kontrol. sehingga pada kelompok kontrol sudah terbentuk memori yang sangat baik. otak juga berfungsi menyimpan hasil jawaban rangsangan berupa memori yang sewaktu-waktu bisa di-recall kembali jika ada rangsangan yang sama. Dalam hal ini.05. Selain itu. sehingga meskipiun tidak dibimbing. Karena nilai p<0.57 pada kelompok kontrol.846 dan p=0. 1988). Terbentuknya memori berasal dari rangsangan yang diterima oleh reseptor yang selanjutnya disalurkan berupa impuls melalui neuron sensorik menuju otak.05.937 dan p=0. Hasil uji Multivariate Anova untuk kelompok perlakuan menunjukkan F=60.643 pada kelompok perlakuan dan p=0. Latihan berulang-ulang diyakini dapat menumbuhkan persepsi dam motivasi positif dan memperbaiki mekanisme pertahan diri. dan sebaliknya motivasi yang rendah akan menurunkan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 162 . Respon emosi positif dan mekanisme pertahanan diri yang positif dapat mengurangi reaksi stress.05. Pada kasus ini.550 dengan p=0. dalam hal ini mempengaruhi hasil belajar (Folkman & Lazarus. Pembahasan Meski hasil belajar mahasiswa tidak jauh berbeda antara kelompok yang diberi balikan dan kelompok belajar mandiri.000. maka kedua data dari kelompok perlakuan dan kelompok kontrol berdistribusi normal.38 melebihi 84 pada kelompok perlakuan dan 73 melebihi 65.133 pada kelompok kontrol. maka data pada kedua kelompok memiliki varians homogen. motivasi dipandang sebagai stimulasi untuk menumbuhkan respon emosional. masing-masing 94.003. diinterpretasikan kemudian dijawab. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh dosis perlakuan yang berlebihan. Levene’s test untuk menguji homogenitas varians menunjukkan nilai p=0.448 dan p=0. Di otak. rangsangan yang berulang-ulang akan memberikan memori yang kuat dan tahan lama dibanding dengan rangsangan yang cepat. namun kelompok yang diberi balikan memiliki hasil belajar yang lebih baik. Memori yang baik tersebut berasal dari latihan berulang-ulang meskipun tak dibimbing. maka Ho ditolak. mahasiswa mampu merubah persepsi dan atau meningkatkan kondisi yang dianggap mengancam. Motivasi berprestasi atau motivasi belajar untuk meningkatkan prestasi mampu menumbuhkan respon emosionl yang positif.000 untuk kelompok perlakuan dan nilai 3. pengaruh motivasi sangat dominan pada kelompok perlakuan.Vol. Sedangkan pada kelompok kontrol F=12.602 dan p=0. artinya ada perbedaan hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara antara mahasiswa yang diberi balikan dan tak diberi balikan. Dengan demikian. Hasil uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai 0. Karena Ho ditolak.344 pada kelompok perlakuan dan nilai 0. Kelompok mahasiswa dengan motivasi berprestasi lebih tinggi memiliki hasil belajar yang lebih baik.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 juga mendapatkan nilai rerata hasil belajar yang lebih tinggi pula. Stimulasi yang kuat akan meningkatkan respon emosional.

Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Malang: FKIP IKIP Malang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Depkes RI. 1988. Manual For The Ways of Coping Questionnaire. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Simpulan dari penelitian ini adalah: Terdapat perbedaan hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil antara mahasiswa yang diberi balikan dan tidak diberi balikan Terdapat perbedaan hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil antara mahasiswa bermotivasi tinggi dan bermotivasi rendah Terdapat interaksi antara pemberian balikan dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil. 1999. 1990. Asuhan Kebidanan pada Ibu dalam Konteks Keluarga. DAFTAR PUSTAKA Arikunto Suharsimi. Lazarus RS. 1987. Edisi I. Jakarta: Pusdiknakes Folkman S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara pemberian balikan dan motivasi berpreastasi terhadap hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil. 1988. sehingga teknik perawatan payudara sebagaimana keduapuluh delapan langkahnya dipandang oleh mahasiswa yang bermotivasi rendah sebagai stressor belajar. 1993. CA: Consulting Psychologist Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 163 . Yogyakarta: Pustaka Pelajar ______. Jakarta: Binarupa Aksara Azwar Syaifuddin. Oleh karenanya. 2. 2. Berdasarkan simpulan. 3. Palo Alto. 2000.Vol. khususnya pada pembelajaran laboratorium sesuai beban SKS yang telah ditentukan agar pencapaian target kompetensi sesuai dengan kemampuan awal mahasiswa. Aswar Azrul. Diduga variabel motivasi merupakan faktor dominan yang sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh karena itu hasil penelitian ini kurang signifikan untuk membedakan mana yang lebih baik di antara kedua kelompok terhadap hasil belajar.I No. frekuensi. Jakarta: Bumi Aksara Ardhana. dan waktu. Apakah kelompok perlakuan lebih baik ataukan sebaliknya. Test Prestasi. 1. Atribut Terhadap Sebab-Sebab Keberhasilan dan Kegagalan serta Kaitannya dengan Motivasi untuk Berprestasi. dengan menambah variabel dan besar sampel. tepat bila variabel motivasi merupakan faktor dominan yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar dalam merawat payudara ibu hamil.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 respon emosional. diajukan beberapa saran sebagai berikut: Motivasi belajar dapat digunakan sebagai faktor input pengajar dalam menerapkan metode pengajaran untuk memperbaiki respons emosional belajar mahasiswa Perlunya penetapan dosis bimbingan tepat meliputi intensitas. 3. Pidato Pengukuhan Guru Besar. SIMPULAN DAN SARAN 1. Diperlukan penelitian lanjutan tentang pengaruh dosis bimbingan terhadap kemampuan mahasiswa dalam merawat payudara.

1996. & Pariani Siti. USA Halt. In Essential of Neural Science and Behavior. 1984. 1998. Textbook of medical Physiology. Perencanaan Pengajaran. Rudiati. Robert M. Metodologi Penelitian.al. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Surabaya: Airlangga University Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 164 . Gramik. Metodologi Penelitian. Tingkat Kepuasan Mahasiswa dalam Praktek. Kelompok Studi Psikoneuroimunologi. Strategi Pengelolaan Sekolah Pasca Penghapusan Ebtanas. Makalah. 2002. March. Motivation and Immune Function in Health and Disease. 25-26 September 1999. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Prentice Hall inc. Jakarta Zainuddin Mohammad. Psikologi Pendidikan. Paper Presented at the Amal Meeting of The Society of Behavioral Medicine.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Gagne. Suparji. Jakarta: Gramedia Soekartawi. 1988. Clelland DC. & Kupferman. Surabaya: Unair Sardiman AM. Lieben Paulus. 1986. Metologi Penelitian Kesehatan. New Orleans. 1998. et.2002. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Widjajakusumah MD. Sulikah. disampaikan pada acara Seminar Nasional Pendidikan. Hadi Sutrisno. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. Pendekatan Praktik Metodologi Riset Keperawatan. 1995. 1967. Jakarta: Pustaka Jaya Sudjana. Neurotransmitter dan Hormon dalam Psikoneuroimunologi. Metodologi Pengajaran. 1999. Learning and Memory. Surabaya: FK Unair Mc. Tesis. 2000. Surabaya: Airlangga University Press PSIK FK Unair. 1981. Makalah. Tesis. Philadelphia: WB Saunders Co. 1985. Makalah Workshop Psikoneuroimunologi. 1993. Surakarta: UNS Siegel Sydne. Pedoman Penyelenggaraan Program Keprofesian Keperawatan pada Program Pendidikan Ners. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM Karhami S Karim. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Keperawatan Tanggal 20-21 Desember 1999. Jakarta: Sagung Seto Prijambodo Bambang. Semarang: IKIP Semarang Press Sumar. Jakarta: Rajawali Press Sauman Muhammad. Guyton AC. Newyork: The Free Press ______. Bandung: Transito Sugandi Achmad. Bandung: Publikasi Jurusan PPB FIP IKIP Bandung Wahjosumidjo. 1994. Principle of Instructional Design.1998. Surabaya: FK Unair Putra Suhartono Taat. Surakarta: UNS Sunarto. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dan Pemanfaatan Sumber Belajar dengan Prestasi Belajar. 1985. 1980. Agenda Bersama Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran. Magetan: Urusan Penelitian Program Studi Kebidanan Magetan Syamsudin Abin. The Achieving Society. Menyelenggarakan Pendidikan Bermutu dan Pelayanan Prima di Rumah Sakit. 2002. 1985. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. 2001. Kepemimpinan dan Motivasi. Statistik Jilid III. 1985 Notoatmodjo S. 25 Mei 2002 Madiun. et al.I No. Pengaruh Metode Mengajar dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Siswa SMU. 1999. Kendel E. 2002. Rinehart and Winston Inc. Semarang: FKIP IKIP Semarang Sugito Sukewi. Magetan: Urusan Penelitian Program Studi Kebidanan Magetan Sunarto. Metode Statistika. 1994.Vol. Manajemen Pendidikan. 1999. Profil Mengajar Dosen Prodi Kebidanan Magetan. 1995.

VI(0. dan yang diambil sebagai sampel adalah jenis teh hitam celup. IV (0.708 %). quality of the tea *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Aneka produk olahan dari bahan baku teh banyak dijumpai di pasaran dewasa ini. aroma serta kenampakan teh yang dikemas dalam kantong teh celup. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan metode volumetri (argentometri ) untuk mengetahui kadar klorida dan organoleptik untuk mengetahui kualitas teh celup. Produk tersebut merupakan bentuk lanjut dari teh seperti bentuk teh yang lebih praktis yaitu teh celup atau dalam bentuk yang siap minum seperti teh kotak. Key word: chloride. aroma dan kenampakan teh yang dikemas. warna dan kenampakan teh merupakan variabel terikat. the tea bag. warna. tea appearance and infusion leave.728%). sedangkan rasa.508%).988 % ).828 %). the chloride in the tea bag influences the quality of the tea bag is analyzed organoleptically.508 %). Apparently. Populasi penelitian adalah semua merk teh celup.1974). Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar klorida dalam kantong teh celup dan pengaruhnya terhadap rasa.V (0.I No. Selain itu untuk mengetahui pengaruhnya terhadap mutu teh perlu diamati rasa. II (0. Handoyo* ABSTRACT The determination of chloride content in the tea bagpaper from several sample such as. using Kalium Khromat indicator The content of chloride of each sample are: I (0. Klorida adalah senyawa yang mudah terurai dalam air sehingga diduga akan mempengaruhi rasa. I-VI has been done by volumetric methode. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 165 . Kadar klorida dalam kantong teh celup merupakan variabel bebas penelitian.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 ANALISA KADAR KLORIDA PADA KANTONG TEH CELUP SERTA PENGARUHNYA TERHADAP MUTU TEH Santi Setiorini*. All of the samples wich are analyzed are black type. Untuk mengetahui seberapa besar kadar klorida yang masih tertinggal pada kantong teh celup maka perlu dilakukan analisa senyawa klorida dalam kantong teh celup. teh celup merupakan suatu produk yang sudah dikenal dan sangat digemari oleh masyarakat karena sangat praktis penggunaannya (Werkhoven. warna dan aroma teh. teh botol dan lain-lain. Pada proses pengolahannya. III (0. Di antara produk tersebut. The chloride in the tea bag paper extracted and then titrated with standar solution AgNO3. kantong kertas teh celup sering dipucatkan dengan senyawa klorida. warna.Vol.involving the taste. colour. Teh kemasan yang satu ini menggunakan kertas tipis sebagai pengemas yang berfungsi ganda. Pemakaian kantong teh celup sangat beragam dari yang berwarna putih sampai yang kurang putih sebagai akibat beragamnya proses pemucatan. aroma.

788 Keterangan: +++++: sangat putih +++ : putih + : agak putih ++++ : putih sekali ++ : putih sedang 0 : buram Hasil uji organoleptik untuk warna dan kenampakan disajikan pada Tabel 2. Uji organoleptik dari warna dan Kenampakan Warna Kenampakan Dengan kantong Tanpa kantong Dengan kantong Tanpa kantong 5 5 A A 5 5 B B 4 4 C C 4 4 C C 5 5 B B 5 4 C C Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 166 . dengan persamaan reaksi sebagai berikut: A+ + B.8 ++++ 0.528 VI 6.8 ++ 0. sedangkan untuk aroma kertas.AB Pada tercapainya titik akhir titrasi.988 II 6. Tabel 1.8 0 0.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Volumetri adalah suatu analisa kuantitatif yaitu jumlah suatu zat dicari dengan mereaksikan suatu volume larutan zat itu dengan larutan suatu zat standar yang telah diketahui konsentrasinya. Pada penelitian ini digunakan titrasi pengendapan.8 +++++ 0. ion mentitrasi akan berlebihan dan dapat dinyatakan dengan indikator yang sesuai.708 III 6. Reaksi pada cara titrasi ini hampir selalu antara Ag+ dengan ion halida dan tiosianat.5 x 100% Keterangan: C X: kadar klorida dinyatakan dalam persen (%) a: larutan AgNO3 untuk titrasi contoh b: larutan AgNO3 untuk titrasi blanko N: normalitas larutan AgNO3 c: berat kering contoh (mg) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil pengujian kadar klorida pada kantong teh celup disajikan pada Tabel 1. dan sering disebut argentometri. Kunci keberhasilan suatu titrasi adalah mendapatkan secara tepat volume zat mentitrasi yang dapat bereaksi dengan suatu volume zat dititrasi hingga dari perbandingan volume itu dapat dihitung konsentrasi zat yang diketahui.8 + 0.8 +++ 0. Hasil Pengujian Kadar Klorida pada Kantong Teh Celup Sampel Teh Celup pH Warna Putih Kantong Klorida (%) I 6. yaitu suatu titrasi antara dua zat yang menghasilkan endapan. Sampel Teh I II III IV V VI Tabel 2. ampas dan rasa disajikan pada Tabel 3.Vol.828 V 6.508 IV 6.I No. Selanjutnya kadar klorida dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: X = (a-b) ± N x 35.

Hal ini menandakan bahwa nilai kenampakan teh kering dari tiap sampel teh celup telah memenuhi syarat standar mutu teh. Pada teh tanpa kantong. III. juga dapat disebabkan oleh sisa-sisa klorida yang tertinggal pada bubuk teh. Hal ini disebabkan oleh adanya zat yang menghalangi warna.I No. nilai warna. warna dan aroma walaupun dalam jumlah yang sedikit. belum tentu bersisa sedikit. Walaupun ada sebagian dari teh celup yang tidak terpengaruh oleh kadar klorida seperti teh I. Hal ini dapat disebabkan oleh sifat adsorben teh yang mudah menyerap bau. Ternyata untuk kenampakan teh kering rata-rata dari tiap sampel teh celup memiliki kualitas cukup baik. V dan VI. pada ketiga teh celup tersebut kadar klorida tidak mempengaruhi rasa. dan ternyata warna putih kertas tidak bisa mengindikasikan kadar klorida tinggi. Adanya kertas penyaring dapat juga berfungsi untuk menjaga kualitas air seduhan agar rasa.Vol. Untuk kualitas aroma kertas yang terdapat pada air seduhan. III dan VI dapat dilihat bahwa warna. Selain disebabkan oleh kadar klorida. tiap sampel kantong teh celup mempunyai kualitas warna yang berbeda dilihat dari paling putihnya kertas. rasa dan aroma. Tabel 2 dan Tabel 3 yang menunjukkan bahwa ternyata kantong teh celup secara berurutan mulai dari yang paling putih adalah teh celup I. sehingga aroma kertas pada teh yang tidak Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 167 . kualitas aroma teh tanpa kantong lebih rendah daripada teh dengan kantong. warna. dan aroma tidak terpengaruhi. Tabel 2 yang menunjukkan bahwa teh dengan kantong ataupun tidak. Kondisi ini dapat dilihat pada Tabel 1. warna dan aromanya tetap baik. Pada Tabel 2 dapat dilihat kualitas kenampakan teh kering dan ampas seduhan dari tiap sampel. rasa dan aroma mengalami penurunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air seduhan ternyata dapat dipengaruhi oleh kadar klorida. Dapat dilihat bahwa klorida ternyata dapat mempengaruhi rasa. rasa dan aroma mengalami penurunan yang nyata. V dan VI. jika klorida yang digunakan sedikit. dilihat dari warna kantong yang dipakai sebagai penyaring. kualitas fisik teh juga perlu dilihat. yaitu teh II. semakin putih kantong tersebut. Menurut teori. II. semakin tinggi kloridanya. Uji organoleptik dari Aroma Kertas. IV. Ampas dan Rasa Sampel Teh I II III IV V VI Aroma Kertas Tanpa Dengan Kantong Kantong 4 4 5 5 3 5 5 5 3 3 4 3 Ampas Tanpa Dengan Kantong Kantong c c c c d d c c b b c c Rasa Tanpa Kantong 37 37 35 35 39 39 Dengan Kantong 37 37 35 35 39 39 Pembahasan Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai klorida dari tiap sampel berbeda. artinya belum tentu jika klorida yang digunakan banyak. malah ada yang memiliki kualitas sangat baik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kualitas kertas yang digunakan. Pada teh yang lain. Ini dapat disebabkan oleh banyaknya klorida yang digunakan pada kantong tidak sejalan dengan kadar klorida yang tersisa. warna dan aroma. Dengan demikian. sisanya juga akan banyak. Sebaliknya. variabel rasa.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 3. Kadar klorida pada tiap kantong teh celup beragam. Dalam hal ini.

. III (0.. Pengemasan Teh Indonesia Saat Ini dan Masa Datang. Beberapa Pandangan Terhadap Pengemas Teh Hitam. 1987.. Distribusi Dalam Negeri Dan Ekspor Pangan. IV (0. K. Kalman Media Pustaka.I No. Bandung Bambang. Kesesuaian Mutu Teh Hitam Celup Di Indonesia Dengan Standar ISO 3720.. sehingga mempengaruhi warna air seduhan. 1982. Ciwidey. W. TAPPI Monograph . Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. Sumur Bandung.A dan Wilkinson. kenampakan teh kering.A. PPTK. 1989. Cetakan Ke-tiga . F. 1993.1963.. Bercocok Tanam Teh. Jakarta Rapson. Seminar Intern BPTK Gambung.828 % ). Dari hasil penelitian dapat ditarik simpulan sebagai berikut: Kadar klorida masing-masing sampel adalah: I (0. hal ini dapat disebabkan oleh kualitas kertas penyaring kurang baik. Bandung Tim Penulis. warna serta air seduhan. Sodo Ali. 1986. 1993-1994. New York Suryatmo. F. Ternyata terjadi penurunan pada satu sampel. PT. Gambung.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 menggunakan kantong terjadi penurunan.988 %). Jakarta. 2. R. Perkebunan dan Pengolahan. II (0.528 %) dan VI (0. misalnya sulfat yang juga sering dipakai sebagai bleaching agent DAFTAR PUSTAKA Bambang.788 % Kadar klorida tidak selalu sejalan dengan putihnya kertas Kadar klorida pada kertas teh celup dapat mempengaruhi kualitas air seduhan (nilai warna.708%). Kimia Anorganik Dasar.Vol.508 %). Teh. Bandung Tim Gambung. K dan Sukapto P. Cotton. Seminar Alternatif Pengepakan Teh. Bambang. aroma kertas air seduhan serta kenampakan ampas) Selanjutnya diajukan beberapa saran sebagai berikut: Perlu dilakukan analisa klorida pada kantong teh celup dengan metode yang lain agar dapat dijadikan bahan referensi Diharapkan ada penelitian lebih lanjut tentang kemungkinan adanya senyawa lain yang ada pada kantong teh celup. 1985. SIMPULAN DAN SARAN 1. K. The Bleaching of Pulp. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Untuk warna air seduhan dari tiap sampel rata-rata tidak terjadi penurunan yang berarti. 3. 1990. Ini menunjukkan bahwa kualitas warna air seduhan yang menggunakan kantong dengan yang tanpa kantong adalah baik. Bandung Sewojo. Universitas Indonesia. V (0.. Jakarta Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 168 . Jakarta Vogel. rasa. 2.. padahal warna air seduhan sangat menentukan tingkat kesegaran. Risalah Seminar Pengemasan Dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan Industri. 1. G . Badan Penelitian dan Pengembangan Perkebunan di Indonesia. Hoeard. Aroma kertas yang terdapat pada air teh sangat penting dinilai untuk mengetahui apakah kertas yang mengandung klorida yang dipakai sebagai penyaring dapat mempengaruhi rasa.

RI. Raw input calon mahasiswa DIII Kebidanan berasal dari lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat. Variabel terikat adalah indeks prestasi semester I dengan skala variabel non metrik.962-1. IQ. nilai sipensimaru di atas rerata dan motivasi berprestasi cukup memadai. IQ DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP PRESTASI HASIL BELAJAR MAHASISWA Suparji*.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH NILAI UJIAN MASUK.257). Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh nilai sipensimaru. Serangkaian kegiatan dalam penjaringan calon mahasiswa baru di antaranya adalah.230-1. Salah satu proses awal pendidikan adalah penjaringan calon mahasiswa baru. Instrumen test berasal dari data sekunder print out hasil sipensimaru.041: 0. Motivasi Berprestasi. Probabilitas pencapaian indeks prestasi sebesar 1. dengan α ≤ 0.05. seleksi administrasi. Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional ini mengambil lokasi di Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya. dan motivasi berprestasi dengan skala variabel metrik dan non metrik. dan tidak berhubungan secara bermakna dengan nilai sipensimaru (OR=1. IQ.Vol. Kesimpulan penelitian adalah pencapaian indeks prestasi mahasiswa dipengaruhi oleh faktor tingkat IQ.640: 0. Sesuai dengan hasil penelitian.224-4. Tujuan seleksi seperti ini memberi dampak Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 169 . Variabel bebas adalah. print out psikotes dan daftar nilai semester I. Heru Santoso Wahito Nugroho* ABSTRAK Masalah mendasar dalam penelitian ini adalah kemanfaatan dan keberterimaan psikotest sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII kebidanan dalam hubungannya dengan kesuksesan hasil belajar.780). Kata Kunci: Nilai Sipensimaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapaian hasil belajar berhubungan bermakna dengan tingkat IQ (OR=2. Tujuan seleksi ini bukan mengukur tingkat kemampuan calon.127) dan motivasi berprestasi (OR=0. maka psikotes sebaiknya dipertahankan sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII Kebidanan. Teknik analisis data dengan uji regresi logistik biner. Sunarto*. Kualitas tenaga kesehatan dihasilkan dari proses pendidikan tenaga kesehatan yang memenuhi standar jaminan mutu lulusan. Indeks Prestasi *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Pelayanan kesehatan yang bermutu perlu ditunjang oleh ketersediaan tenaga kesehatan yang berkualitas. seleksi uji tulis dan seleksi uji kesehatan. Jumlah subyek keseluruhan sebanyak 77 mahasiswa. Calon mahasiswa dinyatakan lulus bila ketiga seleksi itu bisa dilalui dengan baik dan memenuhi standar kelulusan yang telah ditetapkan (Depkes. IQ dan motivasi berprestasi terhadap pencapaian indeks prestasi. nilai sipensimaru.44 kali pada mahasiswa dengan tingkat IQ rata-rata 100-109. tetapi lebih menitikberatkan pada seleksi calon yang diprediksi memiliki kemampuan akademik yang lebih baik dibanding dengan calon yang lain. Rendahnya pencapaian indeks prestasi kumulatif tingkat I menjadi dasar apakah motivasi berprestasi mahasiswa menjadi faktor pengaruh kesuksesan hasil belajar.I No. 2007).282: 1. Populasi penelitian adalah mahasiswa semester I tahun akademik 2007-2008 dan 2008-2009 sebanyak 80 mahasiswa.

rancangan pembelajaran.I No. Sebagus apapun rancangan dan metode PBM yang disiapkan oleh seorang dosen. Fakta memberikan gambaran bahwa indeks prestasi mahasiswa < 2. Hasil penelitian ini sebagai titik awal untuk meningkatkan motivasi mahasiswa bagi mereka yang tingkat motivasi berprestasinya rendah. Oleh karena itu proses pendidikan harus dilihat dan dievaluasi secara utuh mulai dari input-proses-outputoutcome. Dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Psikotes hanya sebagai alat mengukur. dan bakat calon mahasiwa. Kesuksesan hasil belajar dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu. sehingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam belajar sampai akhir pendidikan. maka untuk mencapai target pencapaian IPK ≥ 2. metode mengajar. karena mereka telah melakukan proses belajar mengajar selama enam bulan. Diketahuinya faktor-faktor ini juga sangat bermanfaat sebelum memberikan penilaian kepada mahasiswa apakah mereka mengalami kesulitan belajar.75 di atas 80% maka institusi pendidikan membuat langkah-langkah standarisasi manajemen pembelajaran. Dari berbagai fakta tersebut kelemahan selama proses belajar mengajar di Semester I dan II tidak pernah melihat latar belakang apakah mahasiswa memiliki minat yang tinggi. Hasil belajar mahasiswa berhubungan dengan proses belajar mengajar. Pada tahun akademik berikutnya terdapat 2. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah rendahnya evaluasi pelaksanaan standarisasi proses pendidikan dari segi input-proses-output. Serangkaian standarisasi proses pendidikan ini telah dilaksanakan. kenyamanan ruang belajar. maka identifikasi hubungan faktor nilai sipensimaru. 5% dari 40 mahasiswa terpaksa harus mengambil cuti akademik karena motivasi kurang dalam mengikuti kegiatan klinik. alat ukur hasil belajar. belum dijadikan alat untuk motivasi mahasiswa.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 permasalahan adanya kesulitan mengidentifikasi faktor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan hasil belajar. faktor motivasi. Solusi ini dilakukan dengan mengetahui seberapa besar nilai probabilitas dan odd ratio masing-masing faktor terhadap hasil belajar Semester I. Solusi ini diharapkan mampu memberikan sumbangan untuk memutuskan keberterimaan psikotes sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII Kebidanan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan mahasiswa dalam belajar antara lain. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 170 .Vol. minatnya rendah dan adanya kesulitan belajar karena tingkat IQ mereka di bawah rerata. gangguan belajar atau hambatan dalam belajar.6% dari 40 mahasiswa pada tahun akademik 2006-2007. apabila mahasiswa tidak memiliki motivasi dan minat tentunya tidak memberikan hasil yang baik. ketersediaan sarana dan prasarana belajar. karena mahasiswa sudah dianggap mampu beradaptasi dengan dunia kampus. kemampuan intelektual dilihat dari pencapaian indeks prestasi. dan kepuasan mahasiswa terhadap kegiatan PBM.00 sebanyak 2. Namun evaluasi manajemen atas pelaksanaan standarisasi ini terkadang tidak dilakukan. tingkat IQ calon mahasiswa. Rasional menggunakan angka prestasi hasil belajar Semester I. faktor minat.5% mahasiswa gagal dalam studi. kualitas tenaga pengajar. tingkat IQ dan tingkat motivasi berprestasi perlu diketahui lebih dulu. motivasi yang tinggi dan tingkat IQ yang rata-rata dalam studinya. kemampuan teknikal dilihat dari pencapaian uji ketrampilan dan kemampuan interpersonal dilihat dari sikap perilaku sehari-hari mahasiswa selama menjalani proses belajar mengajar di dalam dan di luar kampus.

kurang sekali. varians: 62. Variabel bebas adalah. Gambaran tingkat motivasi Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 171 .2 Low average 8 10. Mengidentifikasi gambaran tingkat IQ calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan 3. median: 49.0. below average. cukup bawah. dengan populasi terjangkau yaitu mahasiswa semester III dan semester V Prodi Kebidanan Magetan angkatan tahun 2007-2008 dan 2008-2009 sebanyak 80 mahasiswa. average.0. Tingkat Intelligence Quotient (IQ). hasil psikotes dan daftar nilai semester I.5 Total 77 100 Tingkat motivasi berprestasi dikategorikan menjadi tujuh tingkatan yaitu. tingkat IQ dan tingkat motivasi berprestasi calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan terhadap nilai indeks prestasi semester I BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross-sectional ini mengambil lokasi di Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Nilai sipensimaru dari 77 mahasiswa adalah. Teknik analisis data menggunakan uji statistik regresi logistik biner. borderline.0 dan nilai minimal: 36.03. baik dan baik sekali. Menganalisis pengaruh faktor nilai hasil uji tulis sipensimaru.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 1. Gambaran lengkap disajikan pada Tabel 1. Mengidentifikasi gambaran nilai hasil uji tulis sipensimaru calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di Program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan 2. Variabel terikat adalah indeks prestasi semester I dengan skala data non metrik. Tabel 1.4 Average 29 37. cukup atas. low average.I No. high average. kurang.Vol. rerata: 48.0.7%). yang menunjukkan bahwa proporsi terbanyak pada tingkat IQ average yaitu 29 (37.3 Above average 15 19. Khusus psikotes diukur oleh dari lembaga psikotes Unair Surabaya. dengan tingkat kesalahan yang ditetapkan (α ≤ 0. nilai sipensimaru. simpangan baku: 7. berdasarkan hasil print out psikogram dikategorikan menjadi delapan tingkatan yaitu. Alat ukur adalah data sekunder hasil print out nilai sipensimaru. nilai maksimal: 62.05).87. superior dan very superior. above average. Modus: 38. tingkat IQ dan tingkat motivasi berprestasi dengan skala data non metrik dan metrik. cukup.7 High average 21 27.0. Jumlah subyek keseluruhan sebanyak 77 mahasiswa yang diperoleh secara simple random sampling. Mengidentifikasi gambaran tingkat motivasi berprestasi calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di Program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan 4. Distribusi Frekuensi Tingkat IQ Mahasiswa Baru Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Skor IQ Frekuensi Persentase Below average 4 5.

2%).0 29.9%) 61 Total 7 47 23 77 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 172 . dan di bawah sangat memuaskan sebanyak 16 (20.9 100 Nilai indeks prestasi dikategorikan menjadi dua yaitu nilai kurang dari 2.8%). Dari Tabel 5 diketahui bahwa 57.0%) 61 Total 4 8 29 21 15 77 Tabel 5.8% dari 61 mahasiswa memiliki indeks prestasi >2.75 memiliki motivasi berprestasi pada kategori cukup memadai. yang menunjukkan bahwa proporsi terbesar dari tingkat motivasi berprestasi berada pada tingkat C (cukup memadai) sebesar 47 (61%).75.4%) 19 (29.8%) 20 (32.2%) 20 (32.5%) 35 (57. Tabel 4. Namun demikian ada 75.75 dengan tingkat motivasi cukup memadai.Vol.75 Total Frekuensi 16 61 77 Persentase 20.8%) 14 (23. Distribusi Frekuensi Indeks Prestasi Menurut Tingkat Motivasi Berprestasi Mahasiswa Prodi Kebidanan Magetan Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Motivasi Berprestasi Total Perlu Optimalisasi Cukup Memadai Relatif Berkembang IP < 2.75.3%) 1 (6.5%) 3 (18. Distribusi Frekuensi Indeks Prestasi Mahasiswa Prodi Kebidana Magetan Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Indeks Prestasi < 2. Indeks prestasi >2.75 0 (0%) 12 (75. yang menunjukkan bahwa indeks prestasi di atas sangat memuaskan sebanyak 61 (79.3%) 16 ≥2.1 61. Distribusi Frekuensi Indeks Prestasi Menurut IQ Mahasiswa Prodi Kebidanan Magetan Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 IQ Total Below Average Low Average Average High Average Above average IP < 2.8%) 9 (56.I No.75 dan lebih dari atau sama dengan 2.3%) 1 (6.0% dari 16 mahasiswa dengan indeks prestasi <2. Tabel 3.0%) 16 ≥ 2.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 berprestasi disajikan pada Tabel 2.75 7 (11.4% dari 61 mahasiswa memiliki indeks prestasi >2. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Tingkat Motivasi Berprestasi Mahasiswa Baru Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Motivasi Berprestasi Cukup bawah Cukup Cukup atas Total Frekuensi 7 47 23 77 Persentase 9.3%) 5 (8.2 100 Dari Tabel 4 diketahui bahwa 32.3% dari 16 mahasiswa merupakan mahasiswa dengan IQ rata-rata tetapi memiliki indeks prestasi <2. Gambaran indeks prestasi disajikan pada Tabel 3.1% dari 61 mahasiswa.75 ≥ 2.75 dan memiliki IQ rata-rata dan di atas rata-rata.75 2 (12.8 79.75 2 (3.0%) 4 (25.75 yang berasal dari mahasiswa dengan motivasi berprestasi relatif berkembang sebanyak 31. Informasi lain adalah 56.

berdasarkan uji Chi-square diperoleh nilai p=0.75. Hasil Overall Model Fit (uji kecocokan model dengan data) menggunakan pendekatan uji Chi-square menunjukkan nilai X2 hitung = 10. Dari uji akurasi model menggunakan persamaan garis regresi melalui tabel klasifikasi. Untuk variabel IQ. Berdasarkan hasil pada Tabel 7 tersebut.780 Konstanta -2.04 pada interval kepercayaan 0.163+0.Vol.127 Tingkat IQ 0. Model Akhir Pengaruh Nilai Sipensimaru.I No.257 Tingkat Motivasi Berprestasi -0. sedangkan dari 61 mahasiswa yang IP ≥ 2.009 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara IQ dengan indeks prestasi.78.962-1. IQ dan tingkat motivasi berprestasi terhadap indeks prestasi mahasiswa Semester I Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan Tahun Akademik 2008-2009. Odds Ratio (OR) sebesar 2.5%. sebanyak 96% dapat diprediksi oleh model. maka model (persamaan regresi) yang dipakai untuk menentukan probabilitas telah cocok. didasarkan pada hasil uji regresi logistik sebagaimana disajikan pada Tabel 7.014 0.75.041 0.75% 2 59 61 96. Secara keseluruhan akurasi model adalah 80.445 (Motivasi Berprestasi) Tabel 7.163 0. Hasil uji regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa berdasarkan analisis uji Chi-square.5% Dari 16 mahasiswa dengan IP < 2. variabel nilai sipensimaru memperoleh nilai p = 0.230-1.392 yang artinya tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat motivasi berprestasi dengan indeks prestasi.114 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 173 .040 0.282 1. berdasar analisis Chi-square diperoleh nilai p=0.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Rangkaian proses pengujian hipotesis dijelaskan sebagai berikut: 1.392 0.558 dengan p=0.25.014.825 (IQ)-0. IQ dan Tingkat Motivasi Berprestasi Terhadap Indeks Prestasi Mahasiswa Semester I Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Variabel P OR 95% CI β Nilai Sipensimaru 0.445 0.040 (Nilai Sipensimaru)+0. 2. 3. Odds Ratio (OR) sebesar 0. Untuk variabel motivasi berprestasi.12.72% 5 72 77 Observed 0 1 Overall = 80. sebanyak 18 % dapat diprediksi oleh model. Odds Ratio (OR) sebesar 1. persamaan model regresi logistik dapat :ditulis sebagai berikut: Logit Indeks Prestasi = -2. diperoleh hasil sebagaimana tercantum pada Tabel 6.96-1.314 1.23-1. Karena α <0.22-4.825 0.224-4. Model akhir tentang pengaruh nilai sipensimaru.05.314 yang berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara nilai sipensimaru dengan indeks prestasi.640 0. Tabel 6.009 2.28 pada interval kepercayaan 1.64 pada interval kepercayaan 0. Hasil Uji Akurasi Model Predicted Total Percent Correct 0 1 3 13 16 18.

2007).Vol. antara lain. IQ dan tingkat motivasi berprestasi di atas rerata. maka harus digunakan seperangkat alat ukur yang Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 174 . tes dan penilaian dalam pendidikan.= 0.00 dengan predikat dengan pujian atau cum laude (Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya.040 (1)+0. sehingga menjadi sangat penting seseorang mahasiswa untuk memperoleh capaian IPK seoptimal mungkin.0.163+0. Sumber bahan belajar terkaya adalah diri sendiri. dan 7) pengembangan ilmu.103 Makna persamaan ini menyebutkan bahwa probabilitas pencapaian indeks prestasi >2. dibandingkan nilai sipensimaru.51-4. 5) memotivasi dan membimbing belajar. Menurut Syah (2006) prestasi akademik sangat ditentukan oleh faktor internal (sikap.314.= 0. 6) perbaikan kurikulum dan program pendidikan.0.103 1 + e –(-2.75.75.163+0.44 P0 (Y) 0.= 1. Dari ketiga faktor tersebut. 4) umpan balik. Zainul (2005) menyatakan ada beberapa alasan untuk menggunakan pengukuran. skill dan behavior atau attitude. Penentuan standar indeks prestasi didasarkan pada predikat kelulusan program DIII Kebidanan Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya yaitu.75 dengan predikat memuaskan. Indikator target ini menyesuaikan dengan tuntutan pasar dunia kerja bahwa lulusan kebidanan yang bisa diterima di beberapa pasar kerja bila indeks prestasi kumulatif mereka minimal 2. 2) penempatan.04 kali dapat mencapai indeks prestasi di atas 2. bakat.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Persamaan model regresi logistik tersebut dapat digunakan untuk memprediksi probabilitas pencapaian indeks prestasi mahasiswa semester I sebagai berikut: 1 P1(Y) = ---------------------------------------------------------------.50 dengan predikat sangat memuaskan. mahasiswa dengan nilai sipensimarudi atas rerata berpeluang 1. 3) diagnosa dan remedial.75 sebesar 1.148 1 + e –(-2. Berdasarkan nilai odds ratio.040 (0)+0. motivasi dan intelegensi).00-2.445(1)) 1 P0(Y) = --------------------------------------------------------------. 1) seleksi. Berdasarkan penentuan predikat kelulusan ini. 2) IPK 2. menurut Lunandi (1993) faktor internal paling dominan berpengaruh terhadap prestasi belajar. IQ dan tingkat motivasi berprestasi di bawah rerata.44 kali apabila nilai sipensimaru. Prodi Kebidanan mengharapkan target bahwa 80% output lulusan harus memiliki indeks prestasi di atas 2. Sebenarnya penilaian kompetensi seseorang ahli madya kebidanan sangat ditentukan oleh tiga domain penilaian yaitu. Namun ketiga domain tersebut masih dituangkan dalam bentuk IPK.75-3. faktor eksternal (lingkungan sosial dan non sosial) serta faktor pendekatan belajar. Nilai sipensimaru digunakan untuk mengambil keputusan tentang orang yang akan diterima atau ditolak dalam suatu proses seleksi.75.= ---------. 1) IPK 2.445(0)) P1(Y) 0.148 RR = -----------.825 (1).825 (0). dan 3) IPK 3. minat. Keputusan menerima atau menolak ini sangat berat.I No. SPMB menggunakan serangkaian uji tulis yang bermanfaat untuk seleksi. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara nilai sipensimaru dengan indeks prestasi mahasiswa Semester I dengan nilai p=0. knowledge.

Maknanya adalah bahwa semua subyek dalam penelitian adalah calon mahasiswa yang memiliki kemampuan di atas rerata calon yang lain. Nilai sipensimaru tidak menentukan keberhasilan seseorang dalam pekerjaan atau program (Zainul. Berdasarkan nilai odds ratio.Vol. Indeks prestasi (IP) merupakan indikator apakah mahasiswa mendapat predikat berprestasi atau tidak berprestasi. Standar kelulusan adalah semua mata uji harus di atas rerata (4L) karena ada empat mata uji.04 kali dapat mencapai indeks prestasi di atas 2. dan kebutuhan. diperoleh gambaran bahwa hanya 2025% mahasiswa yang betul-betul memiliki minat tinggi menjadi bidan. Perkembangan dunia pendidikan menuntut setiap individu untuk berprestasi dengan baik. memiliki daya beda tinggi. keingintahuan.75. tidak ada mahasiswa yang memiliki predikat dengan pujian atau cum laude. motivasi berprestasi. motivasi. dkk (2006) bahwa pencapaian indeks prestasi kumulatif mahasiswa sangat ditentukan oleh faktor internal berupa minat. menjelaskan kegunaan materi untuk masa depan setelah menjadi bidan. serta pengkondisian ketrampilan yang benar-benar dinikmati dan disenangi oleh para mahasiswa melalui pembelajaarn laboratorium klinik. memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara IQ Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 175 . dan IQ seseorang. bukan ditentukan dari kemampuan mengerjakan soal ujian masuk/seleksi masuk. Rendahnya minat menjadi bidan menjadi problem tersendiri bagi institusi untuk lebih mempromosikan tujuan pendidikan DIII Kebidanan. sehingga mampu menyelesaikan pendidikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan (Zainul. serta menggunakan metode mengajar yang atraktif dalam setiap pemecahan masalah. menurut Dalyono (1997) dalam Djamarah (2002) minat yang tinggi terhadap sesuatu cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi. setiap pendidik harus selalu menyampaikan interkorelasi antar mata kuliah. Tidak adanya pola tertentu yang menduga keterkaitan hubungan positif maupun negatif antara nilai sipensimaru dan indeks prestasi. Dari hasil wawancara langsung dengan subyek. Ada perbedaan signifikan mengenai persentase jumlah mahasiswa yang mendapatkan predikat kelulusan sangat memuaskan dan memuaskan yaitu 1:4.I No.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 tepat. Meskipun kurang populer dalam ranah psikologis. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Nadzirudin. Menurut Reber (1988) dalam Syah (2006). pemusatan perhatian. semakin tinggi pula indeks prestasi yang dicapai. 2005). Di samping itu tidak ada pola tertentu yang menyatakan bahwa semakin tinggi nilai ujian sipensimaru. Syarat kelulusan uji tulis dan uji kesehatan bukan untuk mengukur kemampuan seseorang. Makna peluang ini memberikan gambaran bahwa pencapaian indeks prestasi baik tidak mutlak dipengaruhi oleh kemampuan mereka mengerjakan soal tes ujian masuk. namun lebih dititikberatkan pada penjaringan mahasiswa yang diprediksi memiliki kemampuan akademik yang baik. Meskipun animo pendaftar tinggi. Prestasi akademik yang baik menjadi tolok ukur keberhasilan mahasiswa. Bila merujuk data asli. Untuk menumbuhkan minat mahasiswa baru yang duduk di semester I. diduga karena masing-masing mahasiswa memiliki minat berbeda-beda untuk menjadi bidan. belum tentu mereka betul-betul berminat tinggi menjadi Bidan. 2005). mahasiswa dengan nilai sipensimaru di atas rerata berpeluang 1. minat kurang populer dalam psikologis karena memiliki banyak ketergantungan pada faktor internal seperti.04 kali dibandingkan dengan mereka yang tidak lulus. Hal ini dibuktikan dengan analisis bahwa mereka yang lulus hanya memiliki peluang 1.

Tentunya penelitian lanjutan yang perlu diperhatikan adalah mengetahui keterkaitan antara variabel sikap. EQ. tidak ada motivasi untuk bersaing karena mereka merasa tidak minat kuliah di Kebidanan. dkk (2006) melaporkan bahwa faktor internal memberikan kontribusi sangat besar terhadap pencapaian indeks prestasi kumulatif mahasiswa program sarjana keperawatan di Universitas Padjajaran Bandung. kreativitas. SQ. minat. efektivitas proses belajar mengajar. Menurut Suwardjono (2009). pengembangan aspek kejujuran. dan kemampuan dalam berkelompok merupakan strategi motivasi dosen dalam meningkatkan minat mahasiswa. mengenal emosi orang lain. Megawangi (2006) juga menyatakan bahwa seseorang yang bisa lulus ke perguruan tinggi memiliki IQ berada di atas 120.28 dapat mencapai indeks prestasi ≥ 2. dan membina hubungan dengan orang lain (Goleman.75. temu kelas merupakan waktu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. pengembangan aspek ketrampilan teknis. 2009).75.Vol. mengelola emosinya.825. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki IQ pada tingkat ratarata dan ada kecenderungan bahwa mahasiswa yang memiliki IQ di atas rata-rata. integritas. Informasi ini didukung oleh penelitian para ahli yang menyebutkan bahwa faktor dominan yang menentukan prestasi seseorang adalah intelegensi (Widayatun. inovasi.28 yang berarti bahwa mahasiswa dengan IQ di atas rata-rata berpeluang 2. kemampaun interaksi. Namun perlu disadari bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata (Husaini. Sebagian besar mahasiswa memiliki indeks prestasi sangat memuaskan. Nadziruddin. Persamaan Logit indeks prestasi sebagaimana hasil analisis regresi logistic menerangkan bahwa setiap kenaikan satu tingkat dari kategori penilaian IQ. Kecerdasan emosi (emotional intelligence) mencakup kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengenal emosinya.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dengan indeks prestasi dengan Odds Ratio 2. 1999). daya pikir Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 176 . Kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual juga memberikan andil yang justru lebih tinggi dalam memberikan kesuksesan pada seseorang. Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan pernyataan Goleman (2000) bahwa kontribusi IQ dalam menunjang kehidupan seseorang tidak lebih dari 20% dan sisanya 80% berasal dari faktor lain yaitu emotional quotient (EQ). 2000). pengembangan kepribadian. Harus dicarikan solusi terhadap masalah di atas agar mereka termotivasi dan memiliki sikap positif terhadap kuliah di kebidanan. maka indeks prestasi mahasiswa naik 0. minat. Seseorang yang memiliki IQ di atas rata-rata tetapi memiliki indeks prestasi di bawah rata-rata dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal. perbaikan interaksi dosen-mahasiswa. Hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa dengan indeks prestasi rendah menggambarkan bahwa. Maka test psikotes masih diperlukan dan sangat relevan sebagai penentu lulus tidaknya calon mahasiswa diterima menjadi mahasiswa baru DIII Kebidanan.I No. kesulitan belajar karena mata kuliah yang benar-benar baru dan belum pernah diajarkan di sekolah lanjutan. merasa kurang mampu beradaptasi dengan dunia kampus. mereka malas membaca. memotivasi diri. Hasil penelitian ini memberikan gambaran fakta nyata bahwa indeks prestasi mahasiswa utamanya di semester I sangat dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual (IQ). Kelemahan dalam penelitian ini tidak mengikutsertakan variabel EQ dan SQ. kepuasan dalam PBM terhadap indeks prestasi dirasa cukup relevan. memiliki indeks prestasi di atas 2. mereka kebingungan mempersepsi makna kuliah. sehingga kesuksesan mahasiswa dalam bidang akademik hanya diukur dari variabel IQ saja.

mereka memilih sesuatu yang mereka pikir mampu mereka raih.64.I No. dan motivasi berprestasi. 1) orang dengan n-Ach tinggi memilih untuk menghindari tujuan prestasi yang mudah atau sulit. tidak memiliki kecenderungan pencapaian indeks prestasi tertentu. Kekurangan dalam penelitian ini adalah tidak mengikutsertakan analisis faktor kecemasan sebagai variabel antara terhadap motivasi berprestasi. Menurut Mc Clelland ada beberapa karakteristik orang yang memiliki kebutuhan berprestasi yaitu. Ini berarti mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi di atas cukup memadai berpeluang 0. Hal ini berbeda dengan laporan penelitian Hastuti D (2007) bahwa ada pengaruh motivasi berprestasi secara signifikan terhadap kreativitas belajar mahasiswa FKIP UNS Surakarta. dan kesulitan lainnya.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 kongkrit. Sebagian besar mahasiswa dengan motivasi berprestasi cukup atas (C+) atau relatif berkembang. sehingga dosen hendaknya berupaya meningkatkan motivasi mahasiswa dengan cara. 1) facilitating anxiety. menurut Mc Clelland (1953) dipengaruhi oleh faktor hambatan dari dalam diri dan luar individu. Menurut Djamarah (2002). sehingga tingkat motivasi berprestasi pada penelitian ini cenderung masih murni (belum pernah mengikuti kegiatan belajar mengajar). pengukuran motivasi berprestasi menyatu dengan psikotest. menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk berpendapat agar mereka selalu merasa senang belajar dan menerima tugas sebagai tantangan untuk berprestasi. Menurut Syah (2006) motivasi berprestasi tinggi cenderung menghasilkan prestasi optimal. ada dua kecemasan yaitu. 2) debilitating anxiety yaitu kecemasan yang menghambat aktivitas belajar. sehingga diduga faktor kecemasan mahasiswa sebagai pemicu motivasi berprestasi tidak berhubungan secara bermakna dengan indeks prestasi mahasiswa. Hasil penelitian menggambarkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki motivasi berprestasi di atas cukup memadai dengan indeks prestasi lebih dari 2.75. Kesemua variabel ini ada di dalam test psikologi. belum merasakan sulit tidaknya belajar di perguruan tinggi. Perbedaan hasil penelitian ini terletak pada cara pengukuran variabel motivasi berprestasi. yaitu kecemasan yang menstimulasi aktivitas belajar. Tidak adanya perbedaan indeks prestasi secara signifikan berdasarkan tingkat motivasi berprestasi. Pada kedua penelitian tadi. daya tangkap. keberadaan motivasi berprestasi pada diri mahasiswa cukup berpengaruh terhadap kemampuan intelektual. dengan Odds Ratio 0. Namun rekomendasi hasil psikotest 97% dari 40 calon mahasiswa yang diterima semuanya disarankan masuk kuliah di Kebidanan. Sedangkan pada penelitian ini. Nadziruddin. Menurut Herman (1967) motivasi berprestasi sangat dipengaruhi oleh kecemasan seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara tingkat motivasi berprestasi dengan indeks prestasi. Dalam proses belajar mengajar. pengukuran variabel motivasi berprestasi pada awal semester dan tengah semester.75. 2) orang dengan n-Ach tinggi memilih umpan balik langsung dan dapat diandalkan mengenai bagaimana mereka berprestasi. menciptakan suasana kelas yang kompetitif agar mahasiswa puas dalam belajar. penalaran. Maka test psikologi sangat dianjurkan untuk diberlakukan terus sebagai penentu keputusan calon mahasiswa diterima atau tidak selain test uji tulis. kemampuan berhitung.64 dapat mencapai indeks prestasi ≥ 2. 3) orang dengan n-Ach tinggi menyukai tanggung jawab Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 177 . dkk (2006) juga melaporkan bahwa motivasi berprestasi mahasiswa program sarjana keperawatan sangat mempengaruhi indeks prestasi. kepribadian. daya ingat. kemandirian. Nadziruddin juga melaporkan bahwa mahasiswa dengan IPK cum laude memiliki motivasi sangat tinggi.Vol.

Penelitian ini kurang mampu mengidentifikasi persentase mahasiswa dengan karakteristik di atas karena pengukurannya inklud dengan test psikologi. pembimbing atau orang tua sebagai role model atau panutan bagi pengembangan diri mahasiswa. 1999). Variabel motivasi untuk berprestasi sangat berkaitan dengan semangat dalam diri untuk belajar. Oleh karena itu motivasi berprestasi mahasiswa yang kurang masih bisa ditingkatkan pada saat mereka mengikuti kegiatan perkuliahan di kampus. Kemandirian belajar harus dimulai sejak pertama kali mahasiswa memasuki perguruan tinggi. 2006). komitmen dan integritas tinggi. Pengharapan akan sukses dan ketakutan akan kegagalan juga merupakan motif dasar seseorang untuk berprestasi (Monk. Apakah mereka kuliah untuk mendapatkan nilai IP bagus/cum laude atau mereka kuliah untuk tahu. Sebagai solusi untuk mengatasi tujuh mahasiswa yang memiliki motivasi C. 2003). Kemandirian belajar adalah hasil suatu proses pengalaman belajar itu sendiri. 3) mampu menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan (Rivai.5 tahun dan pada usia dewasa justru lebih nyata.75. karena prestasi identik dengan maskulinitas.Vol. Suwardjono (2008) menyatakan bahwa perkuliahan harus mementingkan proses bukan hasil. Maka dalam hubungan variabel motivasi berprestasi dengan capaian indeks prestasi sebenarnya Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 178 . Dua fenomena menarik berkaitan dengan motivasi berprestasi dan indeks prestasi sebenarnya terdapat pada motif mahasiswa tentang manfaat kuliah. 4) pengakuan dan prestasi. Kalau proses belajar mandiri diciptakan dengan baik maka kuliah di perguruan tinggi akan mampu mengubah perilaku. 3) jenis kelamin. Untuk meraih prestasi yang baik harus ditanamkan motivasi dan keyakinan diri yang kuat (Marwaty. Mahasiswa dengan motivasi berprestasi di atas cukup memadai berpeluang 0. seseorang akan bekerja keras apabila dipedulikan atau diperhatikan orang lain (Morgan. pola asuh orang tua dan lingkungan sosial tempat mereka tinggal sangat mewarnai motivasi mereka untuk berprestasi. 1) keluarga dan lingkungan sosial. 1999. sikap dan ketrampilan mahasiswa. maka diperlukan sosok dosen. 2) menentukan arah tujuan yang ingin di capai. Solusi atas permasalahan ini adalah pengendalian proses belajar mengajar menjadi perhatian utama jaminan mutu institusi pendidikan. 2003). 1986. Fernald & Fernald. Siregar. seorang diri yang percaya diri atas kemampuan biasanya berpikir optimis untuk berprestasi sehingga mempengaruhi perilaku mereka.I No. tetapi kemandirian belajar sebagai motif dasar harus ditanamkan seorang dosen.(perlu optimalisasi). Menurut Mc Clelland (dalam Rivai. motivasi berprestasi mahasiswa sangat penting karena dapat berfungsi sebagai. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi seseorang antara lain. 2) konsep diri. Oleh karena itu seyogyanya dosen atau pembimbing yang memberikan tutorial di semester I harus memiliki kemampuan. perilaku dan sikap mahasiswa. banyak perempuan dengan motivasi berprestasi tinggi namun tidak berpenampilan seperti laki-laki.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 pemecahan masalah. Eastwood. 2003) motivasi berprestasi seseorang mulai muncul saat berusia 3. Dalam perkuliahan. Meskipun hasil penelitian membuktikan tidak ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan indeks prestasi. 1) motor penggerak belajar. tetapi bukan ukuran keberhasilan pencapaian tujuan dalam mengubah pengetahuan. Oleh karena itu harus ada persepsi yang sama antara dosen dan mahasiswa tentang tujuan perkuliahan atau tujuan belajar di perguruan tinggi. 1983. pengetahuan. Nilai yang diperoleh oleh mahasiswa memang merupakan indikator kesuksesan dalam menempuh kuliah.64 dapat mencapai indeks prestasi ≥ 2.

www. Daftar Nilai Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009.id. 2007. DAFTAR PUSTAKA Azwar S. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sipensimaru Diknakes. New York Appleton Century Crof. www.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 lebih dititik beratkan pada motif dasar individu mahasiswa untuk mandiri dalam belajar. Keseimbangan IQ. 2008. Prodi Kebidanan Magetan. Pendidikan Berbasis Karakter.akhlaq. diajukan saran bahwa dalam Sipensimaru.Vol.ac.co. 2008. Arikunto S. Mc. Kontribusi Kecerdasan Emosi Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa. Akses 25 Nopember 2009. Hidayat S. Hasil Psikogram Mahasiswa Baru Prodi Kebidanan Magetan tahun 2007-2008 dan tahun 2008-2009. Suciati. www. Rineka Cipta. Depkes RI. sikap dan ketrampilan mahasiswa itu sendiri. A. Djamarah. -------------------------------------. Test Prestasi. Rineka Cipta. 1994.I No. EQ dan SQ dalam Perspektif Islam. 1953. Surabaya. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bahri S. Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya. Bumi Aksara.xl. Yang baik adalah motivasi untuk berprestasi merupakan tujuan memperoleh atribut sukses bagi seseorang. 2000. Rineka Cipta. Lembaga Psikologi Unair. Jakarta. Yogjakarta. Hubungan Minat Terhadap Profesi Guru dan Motivasi Berprestasi dengan Ketrampilan Mengajar. The Achivement Motive. bukan sekedar memperoleh nilai yang bagus. 2005. Yogjakarta. Akses tanggal 29 Nopember 2009. Teori Belajar dan Motivasi. Kusumawardani P. Pedoman Akademik DIII Kebidanan. Huanaini. Megawangi R. Sesuai dengan simpulan penelitian. Irawan P. 2009. www. selanjutnya ditarik tiga simpulan sebagai berikut: 1. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Akses 25 Nopember 2009.com.Clelland DC. Akses 27 Pebruari 2007. 2007. PAU-PPAI-UT. Surabaya. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. IQ berpengaruh terhadap indeks prestasi mahasiswa 3. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. 2006.id. Suryabrata S. Psikologi Belajar. Jakarta. BPPSDM. SB.usu. Pustaka Pelajar. Print Out Nilai Sipensimaru Diknakes Jurusan Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan. Nilai yang bagus tidak ada artinya bila tidak mampu mengubah pengetahuan. Jakarta. perilaku.2002. 2007. 2006. Jakarta.id. 2008. 1997. 1996. Jakarta. psikotes sebaiknya dipertahankan sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII Kebidanan.lemlit-unsulat.2009. Nilai sipensimaru tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi mahasiswa 2. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 179 . 2007.ac. Motivasi berprestasi tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi mahasiswa.

2005. www. Motivasi Berprestasi Mahasiswa Ditinjau dari Pola Asuh.ac.usu. Akses 25 Nopember 2009.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Suwardjono. PAU-PPAI-UT. 2004. Penilaian Hasil Belajar. Zainul AN.Vol. Jakarta Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 180 .I No.id.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful