Anda di halaman 1dari 14

RESPONSI

Paederus Dermatitis

Oleh : Henry Tandow G0006091

Pembimbing : Prof. DR. dr. Harijono Kariosentono, SpKK.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2011
0

STATUS RESPONSI ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Pembimbing Nama Mahasiswa NIM : Prof.DR.dr. Harijono Kariosentono, Sp.KK. : Henry Tandow : G0006091 LAPORAN KASUS DERMATITIS KONTAK IRITAN A. ANAMNESIS 1. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Agama Alamat Tanggal Periksa No. RM : Nn. T : 30 th : Perempuan : Islam : Ngargoyoso 01/03 Karanganyar : 14 November 2011 : 01096357

2. KELUHAN UTAMA Kulit lecet

3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien datang dengan keluhan kulit lepuh. Pada bagian yang lepuh terasa perih dan juga gatal yang disertai dengan rasa panas, tidak nyeri. Kulit lepuh dirasakan sejak 2 hari sebelum pasien datang ke RSDM. Kulit yang lepuh awalnya dirasakan sebagai kulit lecet kemerahan 1 minggu yang lalu saat pagi hari setelah bangun tidur. Kulit terasa gatal, panas dan tidak bertambah gatal ketika berkeringat. Sebelum terjadi keluhan, pasien tidak merasakan adanya demam, badan pegal-pegal ataupun lemas. Pasien juga tidak memakai obat oles baru yang sebelumnya belum pernah dipakai. Pasien pun pergi ke bidan, dan diberikan

obat minum dan juga salep, diagnosa tidak diketahui. Namun pasien tidak merasakan keluhannya membaik. 4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU R. penyakit serupa R. alergi obat dan makanan R. asma, bersin-bersin pagi hari : disangkal : disangkal : disangkal

5. RIWAYAT KELUARGA R. sakit serupa R. alergi obat dan makanan R. asma, bersin-bersin pagi hari : disangkal : disangkal : disangkal

6. RIWAYAT KEBIASAAN Pasien tidur dengan pintu terbuka dan lampu dalam keadaan menyala.

B. PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Dermatologis R. Facial dan Colli : Vesikel multipel dengan dasar eritem bentuk linear, sebagian erosi

Gambar. Lesi kiri wajah dan leher

Gambar.Lesi kanan wajah dan leher

Gambar. Lesi linear leher

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan

D. USUL PEMERIKSAAN Tidak ada

E. DIAGNOSIS BANDING Dermatitis Venenata Dermatitis Kontak Alergi

E. DIAGNOSIS KERJA Dermatitis Venenata, Paederus Dermatitis

F. TERAPI Non medikamentosa Penjelasan mengenai penyakit dan terapinya : Mengetahui jenis serangga penyebabnya
3

Mengedukasi pasien agar tidak menggaruk luka yang ada

Medikamentosa Per Oral Dexamethasone Ceterizin Topikal Hydrocortison Cream 1% : 0,5 mg per hari : 10 mg per hari

G. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam Ad Kosmetikum : baik : baik : baik : baik

TINJAUAN PUSTAKA Paederus Dermatitis

I.

PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berinteraksi dengan bahan-bahan yang mungkin dapat menimbulkan iritan maupun alergi bagi seseorang dan belum tentu bagi individu lain. Bahan-bahan ini dapat menimbulkan kelainan pada kulit sesuai dengan kontak yang terjadi. Kelainan ini disebut dermatitis kontak.(1) Penyebab dermatitis kadang-kadang tidak diketahui, sebagian besar merupakan respon kulit terhadap agen eksogen maupun endogen. Dermatitis kontak ini dibagi menjadi Dermatitis Kontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang Dermatitis Kontak Iritan, khususnya dermatitis kontak akibat bahan aktif serangga dari genus Paederus. Serangga (Insecta) merupakan kelas dari filum Arthropoda. Ordo yang paling sering mengakibatkan masalah kulit adalah klas Lepidoptera (kupu-kupu), hemiptera (bed bug), Anoplura (Pediculus sp.), Diptera (nyamuk), Coleoptera (blister beetle atau Paederus), Hymenoptera (lebah, tawon, semut), Shiponaptera (flea). Kelas arthropoda lain yang bermakna secara dermatologis adalah myriapoda (kelabang) dan arachnida (laba-laba, tick, mite, kalajengking).(2)

II.

DEFINISI Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal.(3) Dermatitis Kontak Iritan adalah peradangan kulit yang disebabkan terpaparnya kulit dengan bahan dari luar yang bersifat iritan yang menimbulkan kelainan klinis efloresensi polimorfik berupa eritema, vesikula, edema, papul, vesikel, dan keluhan gatal, perih serta panas. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan hanya beberapa saja.

Dermatitis Venenata adalah Dermatitis Kontak Iritan yang disebabkan oleh terpaparnya bahan iritan dari beberapa tanaman seperti rumput, bunga, pohon mahoni, kopi, mangga, serta sayuran seperti tomat, wortel dan bawang. Bahan aktif dari serangga juga dapat menjadi penyebab.(1) Dermatitis yang disebabkan spesifik diakibatkan oleh bahan aktif yang dikandung oleh serangga genus Paederus, yakni pederin, disebut dengan paederus dermatitis atau dermatitis linearis(4) atau blister beetle dermatitis.(5)

III.

EPIDEMIOLOGI DKI adalah penyakit kulit akibat kerja yang paling sering ditemukan, diperkirakan sekitar 70%-80% dari semua penyakit kulit akibat kerja. DKI dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis kelamin. Jumlah penderita DKI diperkirakan cukup banyak terutama yang berhubungan dengan pekerjaan (DKI akibat kerja).(3) Insiden dari penyakit kulit akibat kerja di beberapa negara adalah sama, yaitu 5070 kasus per 100.000 pekerja pertahun. Pekerjaan dengan resiko besar untuk terpapar bahan iritan yaitu pemborong, pekerja industri mebel, pekerja rumah sakit (perawat, cleaning services, tukang masak), penata rambut, pekerjaindustri kimia, pekerja logam, penanam bunga, pekerja di gedung. Adapun pada DKI akibat serangga khususnya yang disebabkan kumbang Paederus kejadiannya meningkat pada musim penghujan, karena cuaca yang lembab merupakan lingkungan yang sesuai bagi organism penyebab dermatitis venenata (misal: Genus Paederus). Paederus dermatitis terjadi di seluruh bagian dunia, khususnya daerah beriklim tropis seperti Indonesia, dan pernah dilaporkan kejadian yang merebak di Australia, Malaysia, Srilanka, Nigeria, Kenya, Iran, Uganda, Okinawa, Sierra Leone, Argentina, Brazil, Venezuela, Ecuador, India.(6)

IV.

ETIOLOGI Penyebab munculnya dermatitis kontak iritan ini adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu.(3) Bahan aktif dari serangga juga dapat menjadi penyebab.(1)

Spesies serangga yang paling sering menyebabkan dermatitis venenata adalah dari genus Paederus. Spesies dari genus ini menyebabkan paederus dermatitis. Paederus dermatitis sendiri di Indonesia paling disebabkan oleh Pederus peregrines. Paederus dewasa panjang tumbuhnya 7-10 mm dan lebar 0,5 mm seukuran dengan nyamuk. Paederus berkepala hitam dengan abdomen di caudalnya dan juga elytral ( struktur yang membungkus sayap dan sepertiga atas segmen abdomen). Meskipun paederus dapat terbang, namun paederus lebih sering berlari dan meloncat. Paederus memiliki karateristik mengangkat bagian abdomennya ketika mereka lari ataupun merasa terganggu. Spesies yang biasa menyebabkan paederus dermatitis adalah Paederus melampus di India, Paederus brasiliensis di Amerika Latin, Paederus colombius di Venezuela, Paederus fusipes di Taiwan dan tentunya Paederus peregrinus di Indonesia.(6) Kumbang ini tidak menggigit atau menyengat, namun tepukan keras pada kumbang ini diatas kulit akan memicu pengeluaran bahan aktifnya yang berupa paederin.(7)

Gambar. Paederus sp Paederus merupakan makhluk nocturnal dan tertarik dengan cahaya putih dan terang. Hemolimfe dari paederus mengandung suatu bahan aktif yakni paederin yang kemudian menyebabkan keluhan gatal, rasa panas tebakar, kemerahan pada kulit yang timbul dalam 12-48 jam setelah kulit terpapar.(8) Paederin yang berumus kimia C25H45O9N adalah sebuah struktur amida dengan dua cincin tetrahydropyran.(6)

V.

PATOGENESIS Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi atau fisis.(1) Ada 4 mekanisme yang berhubungan dengan DKI. 1. Hilangnya membran lemak (Lipid Membrane) 2. Kerusakan dari sel lemak 3. Denaturasi keratin epidermal 4. Efek sitotoksik secara langsung(9) Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat (AA), diasilgliserida (DAG), platelet activating factor (PAF), dan inositida (IP3). AA dirubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan permeabilitas vaskular sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemoaktraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta mengaktifasi sel mas melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF, sehingga memperkuat perubahan vaskular. DAG dan second messengers lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis protein, misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GMCSF). IL-1 mengaktifkan sel T-helper mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2, yang menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut. Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel-1 (ICAM1). Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF, suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan pelepasan sitokin. Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya kontak di kulit berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan.(3)

VI.

TANDA DAN GEJALA Gejala klinis yang terjadi sangat beragam, bergantung pada sifat iritan. Iritan kuat memberi gejala akut, sedang iritan lemah memberi gejala kronis meskipun faktor individu dan lingkungan sangat berpengaruh. Kelainan kulit bergantung pada stadium penyakit, pada stadium akut kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel, atau bula, erosi dan eksudasi, sehingga tampak basah. Stadium sub akut, eritema berkurang, eksudat mengering menjadi krusta, sedang pada stadium kronis tampak lesi kronis, skuama, hiperpigmentasi, likenifikasi, papul, mungkin juga terdapat erosi atau ekskoriasi karena garukan. Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis demikian pula efloresensinya tidak selalu harus polimorfik. Mungkin hanya oligomorfik.(1) Pada paederus dermatitis, lesi biasanya terjadi pada bagian tubuh yang tidak tertutupi, misalnya tangan, kaki juga leher dan wajah, khususnya area periorbital, yang merupakan bagian tubuh paling sering menjadi predileksi paederus dermatitis.(10) Tidak berbeda jauh dengan jenis dermatitis kontak iritan lainnya, lesi yang biasa ditimbulkan oleh bahan aktif paederin berupa patch eritem linear yang kemudian berlanjut menjadi bula, terkadang bula dapat menjadi pustular. Pada pasien yang datang ke tenaga medis, bula dapat intak ataupun sudah terjadi erosi dengan dasar eritem.(10) Lesi mulai muncul setelah 12-48 jam pasca paparan paederin dan membaik dalam waktu seminggu.(6)

VII.

DIAGNOSIS Diagnosis DKI didasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis. DKI akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat sehingga penderita pada umumnya masih ingat apa yang menjadi penyebabnya. Sebaliknya, DKI kronis timbulnya lambat serta mempunyai variasi gambaran klinis yang luas, sehingga adakalanya sulit dibedakan dengan dermatitis kontak alergik. Untuk ini diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicurigai untuk menyingkirkan diagnosa bandingnya.(1, 3)

Kriteria Diagnostik DKI Mayor Subyektif Onset dimulai dari beberapa menit hingga beberapa jam kemudian dari paparan Pada awalnya terdapat rasa nyeri, rasa terbakar, perasaan tidak enak yang berlebih, gatal Obyektif Didominasi oleh macula eritem, Pada perubahan tingkat sedikit morfologi konsentrasi perbedaan Onset paparan Banyak orang mempunyai gejala sama pada lingkungan tersebut dimulai 2 minggu setelah Minor

hiperkeratosis, fissure Terdapat gambaran epidermis kering, seperti terbakar Proses penyembuhan dimulai dengan menghindari iritan Patch tes negatif

menunjukkan menghasilkan

sedangkan waktu kontak menghasilkan perbedaan yang banyak pada tingkat kerusakan kulit

Tabel. Kriteria Diagnostik DKI

VIII.

DIAGNOSIS BANDING DKI sering didiagnosis dengan berbagai jenis dermatitis termasuk DKA. Untuk menegakkan diagnosis perlu anamnesa detail, termasuk pekerjaan, hobi, riwayat pengobatan dan beberapa pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan. Perbedaan DKA dan DKI sebagai berikut :

Perbedaan Keluhan Lesi

DKI Gatal, nyeri, perih menyengat Batas tegas, terbatas pada daerah yang terpapar bahan iritan

DKA Nyeri, gatal Lesi dapat melebihi daerah yang terpapar nahan alergen,
10

biasanya berupa vesikel yang kecil Bahan Bahan iritan, tergantung pada konsentrasi dan letak kulit yang terpapar, semua orang bisa kena Bahan alergen, tidak tergantung konsentrasi bahan, hanya pada orang yang mengalami hipersensitifitas Reaksi yang muncul Tabel. Perbedaan DKA dan DKI Akibat kerusakan jaringan Proses reaksi hipersensitivitas tipe 4

IX.

PENATALAKSANAAN Penanganan dermatitis kontak yang tersering adalah menghindari bahan yang menjadi penyebab. Pengobatan medikamentosa terdiri dari:

A. Pengobatan sistemik : 1. Kortikosteroid, hanya untuk kasus yang berat dan digunakan dalam waktu singkat. Prednisone Dewasa Anak : 5-10 mg/dosis, sehari 2-3 kali p.o : 1 mg/KgBB/hari

Dexamethasone Dewasa Anak : 0,5-1 mg/dosis, sehari 2-3 kali p.o : 0,1 mg/KgBB/hari

Triamcinolone Dewasa Anak 2. Antihistamin Chlorpheniramine maleat Dewasa Anak : 3-4 mg/dosis, sehari 2-3 kali p.o : 0,09 mg/KgBB/dosis, sehari 3 kali : 4-8 mg/dosis, sehari 2-3 kali p.o : 1 mg/KgBB/hari

11

Diphenhydramine HCl Dewasa Anak Loratadine Dewasa : 1 tablet sehari 1 kali : 10-20 mg/dosis i.m. sehari 1-2 kali : 0,5 mg/KgBB/dosis, sehari 1-2 kali

B. Pengobatan topikal : 1. Bentuk akut dan eksudatif diberi kompres larutan garam faali (NaCl 0,9%) 2. Bentuk kronis dan kering diberi krim hydrocortisone 1% atau diflucortolone valerat 0,1% atau krim betamethasone valerat 0,005-0,1%(11)

X.

PROGNOSIS Prognosis dari DKI akut baik jika penyebab iritasi dapat dikenali dan dihilangkan. Prognosis untuk DKI kumulatif atau kronis tidak pasti dan bahkan lebih buruk dari Dermatitis Kontak Alergi. Latar belakang pasien atopi, kurangnya pengetahuan mengenai penyakit, dan atau diagnosis dan penatalaksanaan adalah faktor-faktor yang membawa ke perburukan dari prognosis.(9)

12

Daftar Pustaka

1.

Abdullah B.,Dermatologi Pengetahuan Dasar dan Kasus di Rumah Sakit,Indonesia: Pusat Penerbitan Universitas Airlangga., 2009, hal 94-96. James WD., Berger TG., Elston DM., Andrews Diseases of The Skin: Clinical Dermatology,10th ed, Canada: Elsevier Inc., 2006, pg 421-427.

2.

3.

Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., editor. Djuanda S., Sularsito SA., penulis. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Kelima, Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007, hal 129-138.

4.

Morsy TA, Arafa MA, Younis TA, Mahmoud IA. Studies on Paederus alfieni Koch (Coleoptera: Staphylinide) with special reference to the medical importance. J Egypt Soc Parasitol 1996;26:337-51

5.

Zargari O, Asadi AK, Fathalikhani F, Panahi M. Paederus dermatitis in northern Iran: A report of 156 cases. Int J Dermatol 2003;42:608-12

6.

Gurcharan Singh, Syed Yousuf Ali. Paederus Dermatitis. Indian J Dermatol Venerol Leprol January-February 2007.Vol 73

7.

Gelmetic C, Grimalt R. Paederus dermatitis: An easy diagnosable but misdiagnosed eruption. Eur J Pediatr 1993;153:6-8

8.

Kamaladasa SD, Perera WD, Weeratunge L. An outbreak of Paederus dermatitis in a suburban hospital in Sri lanka. Int J Dermatol 1997; 36(1): 34-6. Wolff K., Goldsmith LA., Katz SI., Gilchrest BA., Paller AS., Leffell DJ., Fitzpatricks DERMATOLOGY IN GENERAL MEDICINE, 7th ed, USA: McGraw-Hill Companies., 2008, pg 395-401

9.

10.

Syed Nurul Rasool Qadir MMBS1, Naeem Raza MMBS2, Simeen Ber Rahman MD3. Paederus dermatitis In Sierra Leone. In Dermatology Online Journal Vol 12 Num.7

11.

Pohan SS., Hutomo MM., Sukanto H., Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Indonesia: Pusat Penerbitan Universitas Airlangga., hal 5-8

13