0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan7 halaman

Lupus Erythematosus

Penelitian ini mengevaluasi peran tes antinuclear antibody (ANA) dan tes imunologi lainnya dalam diagnosis Sistemik Lupus Eritematosus (SLE), yang merupakan penyakit autoimun kompleks. Hasil menunjukkan bahwa meskipun tes ANA memiliki sensitivitas tinggi, spesifisitasnya terbatas, sehingga interpretasi harus dilakukan dalam konteks klinis yang tepat. Oleh karena itu, kombinasi tes ANA dengan evaluasi klinis dan investigasi tambahan diperlukan untuk meningkatkan akurasi diagnosis SLE.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan7 halaman

Lupus Erythematosus

Penelitian ini mengevaluasi peran tes antinuclear antibody (ANA) dan tes imunologi lainnya dalam diagnosis Sistemik Lupus Eritematosus (SLE), yang merupakan penyakit autoimun kompleks. Hasil menunjukkan bahwa meskipun tes ANA memiliki sensitivitas tinggi, spesifisitasnya terbatas, sehingga interpretasi harus dilakukan dalam konteks klinis yang tepat. Oleh karena itu, kombinasi tes ANA dengan evaluasi klinis dan investigasi tambahan diperlukan untuk meningkatkan akurasi diagnosis SLE.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Biologi Tropis

Original Research Paper

Diagnostic Problem in Systemic Lupus Erythematosus: Ana Test and Other


Immunologic Test

I Made Arya Yogiswara Mahayasa1*, Ayu Santia Dewi1, Febry Gilang Tilana1, Shafalyn
Kalila Roliskana1, I Gusti Bagus Surya Ari Kusuma1, Lale Sirin Rifdah Salsabila1, Indah
Sapta Wardhani2, Philip Habib2
1
Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Mataram, Mataram, Nusa Tenggara
Barat, Indonesia;
2
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Penyakit Dalam RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram, Nusa
Tenggara Barat, Indonesia;

Article History Abstract: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is a complex chronic


Received : October 20th, 2024 autoimmune disease that can affect multiple organ systems, with diverse
Revised : November 10th, 2024 clinical symptoms, disease course and prognosis. This study aims to evaluate
Accepted : November 30th, 2024 the role of antinuclear antibody (ANA) tests and other immunologic tests in
supporting the diagnosis of SLE, given the challenges in differentiating SLE
from other autoimmune diseases. The method used was a literature review of
*Corresponding Author: I Made relevant literature obtained through several databases, such as PubMed,
Arya Yogiswara Mahayasa, Google Scholar, and ProQuest, which analyzed the accuracy and limitations
Program Studi Profesi Dokter, of ANA tests and other immunological tests in supporting the diagnosis of
Fakultas Kedokteran, Mataram,
SLE. The results show that the ANA test has high sensitivity but limited
Indonesia;
Email: jb.tropis@unram.ac.id specificity, as positive ANA results can also be found in other autoimmune
conditions or even in healthy individuals. Therefore, interpretation of ANA
results should be done in the appropriate clinical context to optimize its
diagnostic utility. In conclusion, ANA testing plays an important role in the
evaluation of SLE and other ANA-related diseases, but should be combined
with clinical evaluation and additional investigations to confirm or exclude
the diagnosis.

Keywords: Antinuclear antibody (ANA), diagnosis, predictive value, SLE,


sensitivity, specificity.

Pendahuluan 70/100.000 penduduk, sedangkan di India,


Jepang, dan Arab Saudi dilaporkan dari 3,2
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) adalah hingga 19,3/100.000 populasi.
suatu kondisi autoimun kompleks yang bersifat Indonesia sendiri menurut data poliklinik
kronis dan dapat menyerang berbagai sistem di beberapa rumah sakit menunjukkan
organ dalam tubuh manusia. Kondisi ini peningkatan kunjungan pasien SLE setiap
menunjukkan gambaran klinis, perjalanan tahunnya, yaitu 17,9-27,2% di tahun 2015; 18,7-
penyakit dan prognosis yang beragam. Tidak 31,5% di tahun 2016; dan 30,3-58% di tahun
hanya itu, kondisi ini juga umumnya berulang 2017. SLE juga ditemukan mayoritas jenis
(rekuren) dengan episode remisi yang relative kelamin perempuan dibandingkan laki-laki
dan episode flare-up (Stojan & Petri, 2018; dengan perbandingan 15:1 hingga 22:1.
Molina-Rios et al., 2023). SLE adalah suatu Beberapa studi juga menyebutkan SLE umum
penyakit yang menyerang siapa saja, dan dialami perempuan berusia 15-44 tahun, studi
menurut data penelitian sebelumnya didapatkan lainnya juga ada yang menyebutkan awitan
kecenderungan peningkatan angka kejadian SLE gejala SLE biasanya muncul antara usia 9 dan 58
di Asia, dengan data prevalensi SLE di Shanghai tahun, dengan rentang usia terbesar adalah 21
This article is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 © 2024 The Author(s). This article is open access
International License.
Mahayasa et al., (2024). Jurnal Biologi Tropis, 24 (1b): 296 – 302
DOI: http://doi.org/10.29303/jbt.v24i1b.7912

hingga 30 tahun. Pada orang dewasa, puncaknya (Chen et al., 2016; Flechsig et al., 2017; Tayem
terjadi pada usia 28 tahun, sedangkan pada anak- et al., 2022). Pada SLE juga terdapat keterlibatan
anak, puncaknya terjadi pada usia 13 tahun sistem imun innate (neutrophil dan sel denditrik)
(Stojan & Petri, 2018; Wei et al., 2015; Selvaraja dan adaptif (Sel B, autoantibodi dan Sel T) yang
et al., 2022). dapat dilihat pada Gambar 1. Pada individu
Penelitian ini bertujuan untuk dengan kecenderungan genetik, disertai
mengidentifikasi dan mengevaluasi peran tes kontribusi dari faktor lingkungan dapat
ANA dan tes imunologi lainnya dalam menyebabkan akumulasi sel apoptosis dan
menunjang diagnosis SLE. Mengingat gejala aktivasi pembentukan neutrophil extracellular
klinis SLE yang beragam dan sulit dibedakan traps (NET), oleh neutrofil. Asam nukleat sel
dari penyakit autoimun lainnya, maka diperlukan kemudian terpapar ke sistem imun dan
alat diagnostik yang dapat membantu dalam mengaktifkan sel dendritik melalui toll-like
menentukan diagnosis secara lebih akurat. receptor, untuk menghasilkan interferon (IFN)
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan tipe-I (Dima et al., 2018; Rekvig, 2015).
pemahaman yang lebih mendalam mengenai Sitokin ini bertanggung jawab untuk
efektivitas dan batasan dari penggunaan tes aktivasi gen spesifik faktor proinflamasi oleh sel
ANA, serta memberikan wawasan baru dalam target. Sel dendritik juga menghasilkan B-cell
pendekatan diagnostik untuk kasus SLE. activating factor (BAFF), yang diperlukan untuk
Diharapkan hasil penelitian ini dapat aktivasi serta pertahanan hidup sel B, dan
memperbaiki akurasi diagnosis SLE, yang pada mengaktifkan sel T, melalui presentasi self
akhirnya dapat meningkatkan tatalaksana dan antigen. Sel B yang self-reaktif kemudian
prognosis pasien dengan SLE. diaktifkan untuk menghasilkan antibodi, dan
berdiferensiasi menjadi sel plasma berumur
Bahan dan Metode panjang (terlokalisasi di sumsum tulang).
Autoantibodi membentuk kompleks imun
Penelitian ini merupakan literature review dengan specific nuclear self-antigens yang
yang merupakan analisis dari penelitian yang tertanam di jaringan tubuh dan menyebabkan
telah dilakukan terhadap topik terkait peran tes kerusakan organ yang luas. Proses ini termasuk
ANA dan tes imunologi lainnya dalam dalam hipersensitivitas tipe III (reaksi kompleks
menunjang diagnosis SLE. Metode ini dilakukan imun) (Tsokos, 2020; Zhang et al., 2023).
dengan menelaah berbagai penelitian yang telah Patofisiologi SLE dapat dilihat pada Gambar 1.
dipublikasikan terkait topik SLE dan proses
diagnostik yang digunakan dalam penegakan
diagnosisnya. Analisis dilakukan terhadap
masalah-masalah diagnostik yang berkaitan
dengan tes ANA, tes imunologi lain, dan
efektivitas keduanya dalam mengidentifikasi
SLE secara lebih akurat.. Data yang digunakan
dalam penelitian ini meliputi studi literatur
melalui beberapa database, seperti PubMed,
Google Scholar, ProQuest dan sumber lain yang
relevan.

Hasil dan Pembahasan


Gambar 1. Patogenesis dari SLE sebagai penyakit
yang dimediasi sistem imun
Patofisiologi SLE
SLE dapat disebabkan oleh sejumlah Diagnosis SLE
alasan, termasuk faktor genetik dan lingkungan. Gejala klinis dan tes penunjang digunakan
Karena intoleransi terhadap komponen tubuh untuk mendiagnosis SLE. Diagnosis SLE dapat
sendiri, SLE ditandai dengan perkembangan ditegakkan dengan bantuan kriteria klasifikasi
autoantibodi patogenik terhadap asam nukleat SLE. Tahun 2019 telah diajukan kriteria
dan protein yang mengikatnya (self-intolerance)

297
Mahayasa et al., (2024). Jurnal Biologi Tropis, 24 (1b): 296 – 302
DOI: http://doi.org/10.29303/jbt.v24i1b.7912

klasifikasi baru dari European League Against ANA (Anti-Nuclear Antibodies) adalah
Rheumatism and American College of kumpulan autoantibodi yang menargetkan
Rheumatology (EULAR/ACR). ANA positif protein dalam inti sel. Hasil positif dapat
minimal satu kali merupakan kriteria yang menandakan terganggunya toleransi diri dan
dipersyaratkan dalam kriteria klasifikasi menandai awal penyakit autoimun, seperti SLE.
EULAR/ACR 2019 untuk SLE. Kriteria lainnya ANA pasien mungkin positif, namun, dalam
dibagi menjadi tiga domain imunologi (antibodi berbagai pengaturan lain dan bahkan mungkin
antifosfolipid, protein komplemen, antibodi ada pada individu yang sehat. Oleh karena itu,
spesifik SLE) dan tujuh domain klinis kegunaan hasil tes ANA individu sangat
(konstitusional, hematologi, neuropsikiatri, bergantung pada presentasi klinis spesifik
mukokutan, serosa, muskuloskeletal, dan ginjal), individu tersebut dan probabilitas pra-tes dari
dan diberi bobot dari dua hingga sepuluh. SLE atau penyakit lain yang terkait dengan ANA
Kriteria dengan skor tertinggi untuk setiap (Aringer et al., 2019; Dinse et al., 2020; Stojan &
domain yang dimasukkan dalam skor Petri, 2018).
keseluruhan. SLE diidentifikasi pada pasien Biasanya, ANA dilaporkan sebagai titer,
dengan skor ≥10 poin (Sammaritano, 2020; Zhou pengukuran kuantitatif dari jumlah antibodi,
et al., 2020). Sensitivitas dan spesifisitas kriteria yang dinyatakan sebagai jumlah pengenceran
kategorisasi EULAR/ACR 2019 pada Gambar 2 yang dapat dilakukan oleh sampel dan masih
masing-masing adalah 96,1% dan 93,4%, menunjukkan antibodi yang terdeteksi. Sebagai
berbeda dengan sensitivitas dan spesifisitas ACR contoh, ANA 1:40 adalah titer rendah yang
1997 masing-masing sebesar 82,8% dan 93,4%, ditemukan pada banyak orang tanpa penyakit
dan masing-masing sebesar 96,7% dan 83,7% autoimun dan, dalam beberapa laboratorium,
dari kriteria Systemic Lupus International dianggap negatif. Kriteria klasifikasi terbaru
Collaborating Clinics (SLICC) 2012 (Aringer et untuk SLE dari European League Against
al., 2019; Sternhagen et al., 2022; Fanouriakis et Rheumatism (EULAR) dan American College of
al., 2023). Rheumatology (ACR) mensyaratkan titer
setidaknya 1:80 untuk pertimbangan diagnosis.
Secara umum, semakin tinggi titer ANA,
semakin besar kemungkinan hasil tersebut
merupakan indikasi autoimunitas, tetapi titer
ANA tidak mencerminkan aktivitas penyakit
secara akurat (Aringer et al., 2019; Dinse et al.,
2020; Tsokos, 2020; Yang et al., 2019). Tes ANA
diklasifikasikan kedalam dua subtipe, yaitu:
Autoantibodi pada DNA dan histones, serta
autoantibodi pada antigen nuklear terekstrak
(Chen et al., 2016; Nilsson et al., 2006; Fava and
Petri, 2020).

Autoantibodi pada DNA dan histones


Pemeriksaan ini menggunakan antibodi
terhadap single and double stranded DNA
(dsDNA), ditemukan pada tahun 1957 dan
memiliki signifikansi untuk mengkonfirmasi
diagnosis SLE. Diikuti pada tahun 1971
ditemukannya pemeriksaan histone untuk deteksi
SLE induksi obat (Chen et al., 2016; Nilsson et
Gambar 2. Kriteria Klasifikasi SLE EULAR/ACR al., 2006)..
2019
Autoantibodi antigen nuklear terekstrak
Pemeriksaan ANA Autoantibodi juga dapat mendeteksi jenis
antigen nuklear lain, yaitu ENA yang diekstrak

298
Mahayasa et al., (2024). Jurnal Biologi Tropis, 24 (1b): 296 – 302
DOI: http://doi.org/10.29303/jbt.v24i1b.7912

dari inti sel menggunakan larutan saline. yang lebih tinggi mungkin ditemukan pada
Pemeriksaan anti-Sm antibodi (autoantibodi anti individu yang berusia atau memiliki anggota
smith) yang memiliki spesifikasi baik untuk keluarga dengan ANA positif atau penyakit
mendiagnosis SLE. Selain anti-Sm terdapat autoimun (Irure-Ventura & López-Hoyos, 2022;
pemeriksaan lain, seperti: ribonucleoprotein Lam et al., 2016; Fanouriakis et al., 2021).
(RNP), SSA/Ro, SSB/La, Scl-70, Jo-1 dan PM-1 Pada pasien tanpa indikasi klinis yang kuat
(Chen et al., 2016; Nilsson et al., 2006). dari SLE atau penyakit yang terkait dengan ANA
lainnya biasanya memiliki sedikit signifikansi
Keterbatasan Pemeriksaan ANA klinis; namun, hasil yang sama pada pasien
dengan ruam malar, artralgia inflamasi, dan
Menurut analisis meta-regresi terbaru dari hematuria mungkin mencerminkan keberadaan
tes ANA (96% di antaranya menggunakan penyakit reumatik sistemik, seperti SLE. Nilai
imunofluoresensi tidak langsung dengan substrat mendeteksi ANA positif pada pasien dengan
sel HEp-2), hasil positif ANA pada titer 1:80 gejala non-spesifik (seperti malaise, kelelahan,
memiliki sensitivitas sebesar 98% dan dan nyeri umum) rendah, terutama jika gejala
spesifisitas sebesar 75%. Mengingat sensitivitas lebih spesifik tidak ada dan studi laboratorium
tinggi ANA untuk SLE, ANA negatif adalah lain, seperti hitung sel darah lengkap, fungsi
argumen yang kuat menentang diagnosis. ginjal, dan urinalisis dan dalam batas normal
Namun, spesifisitas yang sedang berarti bahwa (Davis et al., 2015; Lam et al., 2016).
kecuali pengujian sangat selektif (yaitu, terbatas Pemeriksaan ANA-IF yang melibatkan
pada pengaturan dengan probabilitas pra-tes berbagai komponen, reagen, substrat dan
yang tinggi), hasil positif palsu umum terjadi; ini dilakukan oleh manusia yang berbeda, tentunya
merupakan limitasi signifikan dari tes tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagai
(Chen et al., 2016; Davis et al., 2015; Nilsson et rangkuman adapun kelebihan dari pemeriksaan
al., 2006). ini, diantaranya sebagian besar autoantibodi
ANA dapat digunakan sebagai tes dapat dideteksi menggunakan sel Hep-2,
diagnostik untuk mendiagnosis SLE dan memiliki sensitivitas tinggi (95%-100%) untuk
penyakit lain, termasuk beberapa kondisi non- diagnosis SLE, dan dapat menentukan diagnosis
reumatologis yang juga dapat menunjukkan hasil penyakit melalui pola pewarnaan yang
ANA positif. Selain SLE, penyakit reumatik di dihasilkan. Sedangkan kekurangan dari
mana ANA positif sering ditemukan meliputi pemeriksaan ini, diantaranya memiliki spesifitas
sklerosis sistemik (skleroderma), sindrom yang rendah pada titer dengan dilusi 1:40 (43%),
sjogren, rheumatoid arthritis, dermatomiositis dan 1:80 (63%), hasil pemeriksaan dapat
dan polimiositis, drug-induced lupus. Penyakit dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya:
non-reumatologis yang terkait dengan ANA kualitas bahan, spesifisitas substrat, konjugat,
positif meliputi penyakit autoimun tiroid (seperti mikroskop dan pembaca, serta hasil bergantung
tiroiditis Hashimoto), hepatitis autoimun, dan pada kemampuan dan pengalaman dari laboran
kolangitis bilier primer. Selain itu, banyak (Aringer et al., 2019; Lam et al., 2016; Yang et
infeksi dan kanker terkait dengan disregulasi al., 2019).
imun dan pembentukan autoantibodi yang
meliputi ANA yang mungkin hadir dalam titer Pemeriksaan Antibodi yang Ditujukan
tinggi (Aringer et al., 2019; Irure-Ventura & Terhadap Autoantigen Spesifik
López-Hoyos, 2022; Correia de Sá et al., 2023). ANAs dapat menjadi positif karena
ANA, dengan spesifisitasnya yang antibodi yang ditujukan melawan beberapa
terbatas, sering menunjukkan hasil positif pada autoantigen (sering disebut sebagai antibodi inti
orang tanpa penyakit klinis yang relevan. yang dapat diekstrak). Di antara yang paling
Terdapat lebih dari 25% populasi memiliki ANA umum dan berguna secara klinis termasuk
positif bahkan tanpa penyakit reumatik atau (Aringer et al., 2019; Dinse et al., 2020; Lam et
kondisi terkait ANA lainnya. Prevalensi ANA al., 2016; Nilsson et al., 2006):
positif dalam populasi mungkin meningkat di ▪ Anti-dsDNA dan anti-Sm antibodies,
Amerika Serikat, meskipun pentingnya klinis keduanya sangat spesifik untuk SLE. Selain
dari hal ini tidak jelas. Insiden hasil positif palsu itu, antibodi anti-dsDNA mungkin

299
Mahayasa et al., (2024). Jurnal Biologi Tropis, 24 (1b): 296 – 302
DOI: http://doi.org/10.29303/jbt.v24i1b.7912

berkorelasi dengan aktivitas penyakit SLE, ▪ Antibodi antisenromere sangat terkait


terutama pada mereka dengan nefritis. dengan bentuk terbatas dari sklerosis
▪ Antibodi anti-RNP terkait dengan penyakit sistemik, atau sindrom CREST (ditandai oleh
jaringan ikat campuran dan SLE. Namun, kalsinosis, fenomena Raynaud, dismotilitas
hasil positif antibodi anti-RNP tidak cukup esofagus, sklerodaktili, dan telangiektasia);
untuk menetapkan diagnosis kedua penyakit kadang-kadang hadir pada pasien dengan
tersebut. SLE.
▪ Antibodi anti-Ro (anti-SSA) dan anti-La
(anti-SSB) terkait dengan sindrom Sjögren Beberapa antibodi ini sebagai tes
primer dan SLE. Selain itu, antibodi anti-Ro diagnostic memiliki sensitivitas yang bervariasi
secara kuat terkait dengan perkembangan dan spesifisitas yang tinggi (Tabel 1). Pengujian
lupus neonatal. untuk antibodi-antibodi autoimun yang lebih
▪ Antibodi antihistone hadir pada sekitar spesifik ini tidak direkomendasikan secara rutin
setengah pasien dengan SLE tetapi hampir untuk pasien yang ANA-negatif atau yang status
selalu hadir pada lupus yang disebabkan oleh ANA-nya tidak diketahui, terutama dalam situasi
obat. probabilitas penyakit sebelum pengujian yang
▪ Antibodi anti-Scl-70 (anti-topoisomerase 3) rendah (Aringer et al., 2019; Dinse et al., 2020;
dan anti-RNA polymerase sangat spesifik Lam et al., 2016; Nilsson et al., 2006).
untuk skleroderma.

Tabel 1. Specific antinuclear antibodies, associated diseases, sensitivity, and specificity


Specific Antinuclear Antibody Associated Disease Sensitivity (%) Specificity (%)
Anti-Sm SLE 4024 98.624
Anti-dsDNA SLE 9025 9625
Anti-SSA (anti-Ro) Primary Sjӧgren syndrome 4926 87.526
Anti-SSB (anti-Lo) Primary Sjӧgren syndrome 2926 9526
Anti_RNP Mixed connective tissue 10027 84-10028
disease
Anti-Scl-70 Systemic sclerosis 2829 10029
(scleroderma)
Anticentromere Limited scleroderma 3330 99.930

Kesimpulan dalam diagnosis. Pengujian ANA berulang


jarang membantu. Jika ada kekhawatiran yang
Tes ANA merupakan bagian penting dari cukup tentang kemungkinan SLE (atau penyakit
evaluasi pasien dengan kemungkinan SLE. rematik terkait ANA lainnya) untuk meminta tes
Namun, penting untuk memahami kekuatan dan ANA, umumnya disarankan juga untuk
kelemahan tes ini dan menginterpretasikan melakukan pemeriksaan darah lengkap dengan
hasilnya dalam konteks skenario klinis spesifik diferensial, kreatinin serum, dan urinalisis.
yang mengarah pada pengujian sejak awal. ANA
terdapat pada hampir semua orang dengan SLE Ucapan TerimaKasih
tetapi juga dapat ditemukan pada penyakit
rematik lainnya, seperti penyakit tiroid autoimun, Penulis mendapat bantuan dari berbagai
dan penyakit hati, serta pada banyak orang yang pihak dalam penyusunan naskah publikasi ilmiah
sehat. Untuk mengoptimalkan kegunaan klinis, ini. Dengan segenap ketulusan hati yang penuh
ANA harus dilakukan ketika ada kecurigaan rasa syukur, penulis ingin mengucapkan terima
klinis yang signifikan terhadap penyakit yang kasih kepada: Dr. dr. Indah Sapta Wardani,
terkait dengan ANA dan hasilnya membantu Sp.PD dan dr. Philip Habib, Sp.PD selaku dosen
memastikan atau mengesampingkan kondisi pembimbing dalam penyusunan naskah ini,
tersebut. Kriteria klasifikasi terbaru untuk SLE beserta dr. Stephanie Elizabeth Gunawan, Sp.N,
memerlukan ANA positif dengan titer minimal dan dr. Setyawati Asih Putri Sp.N(K), M.Kes,
1:80, yang menekankan pentingnya ANA positif FINA Tim editorial Jurnal Biologi Tropis, yang

300
Mahayasa et al., (2024). Jurnal Biologi Tropis, 24 (1b): 296 – 302
DOI: http://doi.org/10.29303/jbt.v24i1b.7912

telah mendukung saya dalam masa-masa mixed connective tissue disease. In


penyusunan naskah publikasi ini, beserta seluruh Rheumatology International (Vol. 38,
kolaborator dan rekan-rekan terkait yang telah Issue 7, pp. 1169–1178). Springer Verlag.
turut berperan dalam penyusunan naskah https://doi.org/10.1007/s00296-018-4059-
publikasi ini. Dengan dipublikasikannya naskah 4
ini, penulis berharap segala keilmuan yang telah Dinse, G. E., Parks, C. G., Weinberg, C. R., Co,
penulis tuangkan dan segala pengetahuan yang C. A., Wilkerson, J., Zeldin, D. C., Chan,
ingin penulis bagikan kepada para pembaca E. K. L., & Miller, F. W. (2020).
dapat tersampaikan dengan baik. Increasing Prevalence of Antinuclear
Antibodies in the United States. Arthritis
Referensi and Rheumatology, 72(6), 1026–1035.
https://doi.org/10.1002/art.41214
Aringer, M., Costenbader, K., Daikh, D., Brinks, Fanouriakis, A., Tziolos, N., Bertsias, G., &
R., Mosca, M., Ramsey-Goldman, R., Boumpas, D. T. (2021). Update οn the
Smolen, J. S., Wofsy, D., Boumpas, D. T., diagnosis and management of systemic
Kamen, D. L., Jayne, D., Cervera, R., lupus erythematosus. Annals of the
Costedoat-Chalumeau, N., Diamond, B., rheumatic diseases, 80(1), 14-25.
Gladman, D. D., Hahn, B., Hiepe, F., 10.1136/annrheumdis-2020-218272.
Jacobsen, S., Khanna, D., … Johnson, S. Fanouriakis, A., Kostopoulou, M., Andersen, J.,
R. (2019). 2019 European League Against Aringer, M., Arnaud, L., Bae, S. C., ... &
Rheumatism/American College of Boumpas, D. T. (2024). EULAR
Rheumatology Classification Criteria for recommendations for the management of
Systemic Lupus Erythematosus. Arthritis systemic lupus erythematosus: 2023
and Rheumatology, 71(9), 1400–1412. update. Annals of the rheumatic
https://doi.org/10.1002/art.40930 diseases, 83(1), 15-29. 10.1136/ard-2023-
Chen, L., Welsh, K. J., Chang, B., Kidd, L., Kott, 224762.
M., Zare, M., Carroll, K., Nguyen, A., Fava, A. and Petri, M. (2020) ‘SLE: Diagnosis
Wahed, A., Tholpady, A., Pung, N., and clinical management’, Physiology &
McKee, D., Risin, S. A., & Hunter, R. L. behavior, 176(3), pp. 139–148. doi:
(2016). Algorithmic Approach with 10.1016/j.jaut.2018.11.001.Systemic.
Clinical Pathology Consultation Improves Flechsig, A., Rose, T., Barkhudarova, F., Strauss,
Access to Specialty Care for Patients with R., Klotsche, J., Dähnrich, C.,
Systemic Lupus Erythematosus. American Schlumberger, W., Enghard, P.,
Journal of Clinical Pathology, 146(3), Burmester, G.-R., Hiepe, F., Biesen, R.,
312–318. Flechsig, A., Rose, T., Barkhudarova, F.,
https://doi.org/10.1093/ajcp/aqw122 Strauss, R., Klotsche, J., Dähnrich, C.,
de Sá, A. C., Batista, M., Ferreira, A. L., Schlumberger, W., Enghard, P., … Biesen,
Casanova, D., Faria, B., & Cotter, J. R. (2017). What is the clinical significance
(2023). Diagnostic Challenges of Systemic of anti-Sm antibodies in systemic lupus
Lupus Erythematosus. Cureus, 15(12). erythematosus? A comparison with anti-
10.7759/cureus.50132. dsDNA antibodies and C3 Clinical
Davis, L. A., Goldstein, B., Tran, V., Keniston, significance of anti-Sm antibodies in SSS
A., Yazdany, J., Hirsh, J., Storfa, A., & AA lechsig et all. In Clinical and
Zell, J. (2015). Send Orders for Reprints to Experimental Rheumatology (Vol. 35).
reprints@benthamscience.ae Applying Irure-Ventura, J., & López-Hoyos, M. (2022).
Choosing Wisely: Antinuclear Antibody The Past, Present, and Future in
(ANA) and Sub-Serology Testing in a Antinuclear Antibodies (ANA). In
Safety Net Hospital System. In The Open Diagnostics (Vol. 12, Issue 3).
Rheumatology Journal (Vol. 9). Multidisciplinary Digital Publishing
Dima, A., Jurcut, C., & Baicus, C. (2018). The Institute (MDPI).
impact of anti-U1-RNP positivity: https://doi.org/10.3390/diagnostics120306
systemic lupus erythematosus versus 47

301
Mahayasa et al., (2024). Jurnal Biologi Tropis, 24 (1b): 296 – 302
DOI: http://doi.org/10.29303/jbt.v24i1b.7912

Lam, N. V., Ghetu, M. V, & Bieniek, M. L. In Current Opinion in Rheumatology (Vol.


(2016). Systemic Lupus Erythematosus: 30, Issue 2, pp. 144–150). Lippincott
Primary Care Approach to Diagnosis and Williams and Wilkins.
Management (Vol. 94, Issue 4). https://doi.org/10.1097/BOR.0000000000
www.aafp.org/afp. 000480
Molina-Rios, S., Rojas-Martinez, R., Estévez- Tayem, M. G., Shahin, L., Shook, J., &
Ramirez, G. M., & Medina, Y. F. (2023). Kesselman, M. M. (2022). A review of
Systemic lupus erythematosus and cardiac manifestations in patients with
antiphospholipid syndrome after COVID- systemic lupus erythematosus and
19 vaccination. A case report. Modern antiphospholipid syndrome with focus on
Rheumatology Case Reports, 7(1), 43-46. endocarditis. Cureus, 14(1).
10.1093/mrcr/rxac018. 10.7759/cureus.21698.
Nilsson, B. O., Skogh, T., Ernerudh, J., Tsokos, G. C. (2020). Autoimmunity and organ
Johansson, B., Löfgren, S., Wikby, A., & damage in systemic lupus erythematosus.
Dahle, C. (2006). Antinuclear antibodies in In Nature Immunology (Vol. 21, Issue 6,
the oldest-old women and men. Journal of pp. 605–614). Nature Research.
Autoimmunity, 27(4), 281–288. https://doi.org/10.1038/s41590-020-0677-
https://doi.org/10.1016/j.jaut.2006.10.002 6
Rekvig, O. P. (2015). Anti-dsDNA antibodies as Wei, P., Li, C., Qiang, L., He, J., Li, Z., & Hua,
a classification criterion and a diagnostic H. (2015). Role of salivary anti-SSA/B
marker for systemic lupus erythematosus: antibodies for diagnosing primary
Critical remarks. Clinical and Sjögren’s syndrome. Medicina Oral,
Experimental Immunology, 179(1), 5–10. Patologia Oral y Cirugia Bucal, 20(2),
https://doi.org/10.1111/cei.12296 e156–e160.
Sammaritano, L. R. (2020) ‘Antiphospholipid https://doi.org/10.4317/medoral.20199
syndrome’, Best Practice and Research: Yang, F., He, Y., Zhai, Z., Sun, E., & Guan, Q.
Clinical Rheumatology, 34(1), pp. 675– (2019). Programmed Cell Death Pathways
680. doi: 10.1016/j.berh.2019.101463. in the Pathogenesis of Systemic Lupus
Selvaraja, M., Too, C. L., Tan, L. K., Koay, B. Erythematosus. In Journal of Immunology
T., Abdullah, M., Shah, A. M., ... & Amin- Research (Vol. 2019). Hindawi Limited.
Nordin, S. (2022). Human leucocyte https://doi.org/10.1155/2019/3638562
antigens profiling in Malay female patients Zhang, L., Yin, L., Lv, W., Wang, Y., Liu, Y.,
with systemic lupus erythematosus: are we Gou, C., Hu, J., & Wang, X. (2023).
the same or different?. Lupus science & Clinical analysis of patients with systemic
medicine, 9(1), e000554. 10.1136/lupus- lupus erythematosus complicated with
2021-000554. liver failure. Clinical Rheumatology,
Sternhagen, E., Bettendorf, B., Lenert, A., & 42(6), 1545–1553.
Lenert, P. S. (2022). The role of clinical https://doi.org/10.1007/s10067-023-
features and serum biomarkers in 06524-9
identifying patients with incomplete lupus Zhou, Z., Wang, F., Sun, Y., Teng, J., Liu, H.,
erythematosus at higher risk of Cheng, X., ... & Ye, J. (2022).
transitioning to systemic lupus Correspondence on ‘EULAR
erythematosus: current recommendations for the management of
perspectives. Journal of inflammation antiphospholipid syndrome in
research, 1133-1145. adults’. Annals of the Rheumatic
10.2147/JIR.S275043. Diseases, 81(12), e248-e248.
Stojan, G., & Petri, M. (2018). Epidemiology of 10.1136/annrheumdis-2020-218950
systemic lupus erythematosus: An update.

302

Anda mungkin juga menyukai