LAPORAN EVIDENCED-BASED PRACTICE
KEPERAWATAN GERONTIK
Disusun Oleh :
LAILATUL MAGHFIROH
SN231102
PROGRAM STUDI PROFESI NERS PROGRAM PROFESI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2024
Nama : Lailatul Maghfiroh
Nim : SN231102
Kelompok : 15
1. Latar Belakang
Menurut proyeksi Badan Pusat Statistik pada 2018 proporsi penduduk usia
60 tahun ke atas sebesar 24.754.500 jiwa (9,34%) dari total populasi, bahwa
populasi lansia berisiko (population at risk) adalah kumpulan orang-orang yang
masalah kesehatannya yaitu terjadinya berbagai penurunan fungsi biologi akibat
proses menua. Proses menua itu sendiri adalah proses alami yang disertai
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling
berinteraksi satu sama lain. Semua sistem dalam tubuh lansia mengalami
kemunduran, termasuk pada sistem muskuloskeletal lansia sering mengalami
nyeri sendi.
Rheumatoid arthritis adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat
sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat
sendi secara simetris. Rheumatoid Artritis (RA) merupakan penyakit
peradangan sistemis kronis yang tidak diketahui penyebabnya dengan
manivestasi pada sendi perifer. Rheumatoid Artritis sangat mudah menyerang
orang dewasa mudah sampai pada usia lanjut dan terjadi 2-3 kali lebih sering
pada wanita dibandingkan pada pria, dengan frekuensi puncaknya terjadi pada
usia 35-50 tahun.
Penyakit rheumatoid arthritis ini perlu penanganan serius maka dari itu
Menurut American collage Rheumatology, penanganan untuk rheumatoid
arthritis dapat meliputi terapi farmakologi dan nonfarmakologi dan tindakan
operasi. Teknik nonfarmakologi yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri
pada penderita rematik diantaranya yaitu dengan pijat, kompres panas atau
dingin, stimulasi elektrik saraf kulit transkutan, teknik relaksasi dan istirahat.
Tindakan nonfarmakologi juga dapat dikerjakan dirumah dan caranya
sederhana. Selain itu tindakan nonfarmakologi juga dapat digunakan sebagai
pertolongan pertama ketika nyeri menyerang (Febriansa et al., 2021).
Massage kaki ialah salah satu intervensi non farmakologis dalam dunia
keperawatan yang termasuk kedalam terapi untuk meningkatkan rasa nyaman,
rileks dan tenang. Mekanisme pemberian pijat kaki dimulai dari memijat kaki
pada punggung kaki dan diakhiri pada telapak kaki. Memijat kaki akan
melakukan gosokan pada kaki dimana apabila dilakukan secara berulang akan
meningkatan suhu diarea yang digosokan dan dapat mengaktifkan sensor pada
syaraf kaki, hal ini akan mengakibatkan terjadinya vasodilatasi (pelebaran)
pembuluh darah dan getah bening yang dapat meningkatkan aliran darah
meningkat dan memperlancar sirkulasi darah. Selain itu dengan lancarnya aliran
darah akibat pijat kaki berdampak pada penurunan nyeri dan inflamasi akibat
adanya aktifasi saraf parasimpatik pada otak untuk memproduksi hormon
endorfin yang akan memberikan efek analgesik alami pada jaringan yang
mengalami peradangan (Muliani et al., 2020).
2. PICOS
a. P : Patient, Population, Problem
Populasi ini adalah lansia yang berusia lebih dari 60 tahun, subyek
yang digunakan pada penelitian ini adalah 1 orang dan dipilih berdasarkan
kriteria inklusi :
1) Berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan
2) Terdiri dari 1 orang klien lanjut usia dengan diagnosa medis rheumatoid
athritis.
3) Tidak terdapat penyakit penyerta lainnya atau komplikasi
4) Tidak sedang mengkonsumsi obat anti nyeri
5) Bersedia diberikan asuhan keperawatan sesuai dengan waktu yang
ditentukan peneliti.
b. I : Intervention, Prognostic Factor, Exposure
Penelitian ini menggunakan terapi nonfarmakologi berupa terapi
massage kaki / refleksi massage therapy untuk menurunkan nyeri pada
rheumatoid arthritis. Implementasi dengan memberi terapi massage kaki
sebanyak 1 kali dalam sehari waktu 20 menit selama 3 hari berturut-turut
(3 x kunjungan). Dengan catatan sebelum diberikan terapi akan dilakukan
pengkajian nyeri dan mengukur skala nyeri yang kemudian akan dievaluasi
kembali setelah diberikan implementasi keperawatan.
c. C : Comparison
-
d. O : Outcome
Outcome dalam penelitian ini adalah menurunnya nyeri pada
rheumatoid arthritis. Hasil evaluasi yang telah didapat setelah diberikan
terapi massage kaki selama 3 x kunjungan, semula nyeri berada pada skala
7 dan setelah diberikan terapi turun menjadi skala 2.
e. S : Study
Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif yang mana tahap
selanjutnya akan dianalisis.
3. Tinjauan Kasus
Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang ada di Wilayah Kerja
Puskesmas Cebongan. Ny. T alamat Ngaglik Rt 04/Rw XII, Ledok, Argomulyo,
Kota Salatiga, usia 64 tahun, beragama islam dengan keluhan nyeri kaki sebelah
kanan mengalami penyakit Rheumatoid Arthritis dan Hipertensi sejak 2011.
Setelah dilakukan pengkajian didapatkan hasil Tekanan Darah : 140/90 mmHg,
Respirasi : 20x/menit, Nadi : 89x/menit. Pengkajian nyeri didapatkan hasil :
P : Pasien mengeluh nyeri kaki
Q : Seperti tertusuk-tusuk
R : Kaki sebelah kanan
S : Skala nyeri 7
T : Hilang timbul
4. Dasar Pembanding
a. Pemberian Terapi Massage Kaki Dalam Menurunkan Skala Nyeri
Pada Lansia Rheumatoid Arthritis (Diana Rindriani, 2022)
Hasil evaluasi yang telah didapat setelah diberikan terapi massage
kaki selama 3 x 24 jam, semula nyeri berada pada skala 6 (nyeri sedang)
dan setelah diberikan terapi turun menjadi skala 3 (nyeri ringan). Hal ini
selaras pada penelitian sebelumnya yang sama saja melakukan
implementasi pijat kaki selama 3 hari berturut-turut nyeri menurun yang
sebelum diberikan pijat kaki berada pada nyeri sedang, kemudian turun
menjai nyeri ringan dan pada sebagian orang lainnya merasa tidak ada
nyeri lagi, hal ini terjadi akibat dengan pemberian pijatan lembut pada kaki
yang diakhri dengan memijat bagian bawah kaki akan memberi
rangsangan, memulihkan keseimbangan tubuh, membantu relaksasi dan
memperlancar energi dalam tubuh sehingga dapat memperbaiki sirkulasi
darah pada otot dan mengurangi nyeri serta inflamasi yang terjadi, yang
mana selaras dengan terjadinya rheumathoid arthitis akibat adanya
inflamasi pada sendi (Heni Rispawati et al., 2021).
b. Pengaruh Refleksi Massage Therapy Terhadap Penurunan Kualitas
Nyeri Pada Lansia Penderita Rheumatoid Arthritis (Febriansa et al.,
2021)
Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah
dilakukan dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh
pemberian refleksi massage therapy terhadap penurunan kualitas nyeri
pada lansia penderita rheumatoid arthritis.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa dari 30 lansia
mengalami penurunan tingkat nyeri setelah diberikan refleksi massage
therapy. Hasil dari uji wilcoxon menunjukkan nilai ρ = 0.000 (ρ<α), yang
bermakna ada pengaruh refleksi massage therapy terhadap penurunan
kualitas nyeri pada lansia penderita rheumatoid arthritis.
5. Implementasi
Implementasi dilakukan selama 20 menit setiap 1 hari sekali dalam waktu 3
x kunjungan pada tanggal 16-18 Juli 2024. Yang mana sebelum dan sesudah
diberikan implementasi akan diukur skala nyeri menggunakan skala NRS
(Numeric Rating Scale).
Hari pertama pada tanggal 16 Juli 2024 bahwa Ny. T masih mengalami
nyeri kaki, saat dilakukan pengkajian nyeri Ny. W mengatakan saat ini nyeri
akan bertambah ketika jalan jauh, qualitas nyeri seperti tertusuk-tusuk, lokasi
terasa nyeri pada kaki kanan, skala nyeri sebelum diberikan terapi massage kaki
adalah skala nyeri 7 (berat), akan tetapi setelah diberikan terapi nyeri berada di
skala 5 (Sedang), waktu nyeri muncul adalah hilang timbul.
Pada hari kedua tanggal 17 Juli 2024 didapatkan bahwa Ny. T mengeluhkan
nyeri yang dialami masih ada namun sudah mulai berkurang sedikit demi
sedikit, saat dilakukan pengkajian nyeri Ny. T menyatakan penyebab nyeri
masih sama seperti hari pertama yaitu ketika aktivitas berat, qualitas nyeri saat
ini masih seperti tertusuk-tusuk, tempat terasa nyeri pada kaki kanan, skala nyeri
sebelum diberikan terapi adalah skala nyeri 5 (Sedang), akan tetapi setelah
diberikan terapi nyeri berada di skala 4 (Sedang), waktu nyeri muncul masih
hilang timbul.
Pada hari ketiga tanggal 18 Juli 2024 ditemukan data Ny. T menyatakan
nyeri yang dialami sudah berkurang, Ny. T menyatakan bahwa penyebab
terjadinya nyeri adalah jalan jauh, qualitas nyeri seperti tertusuk-tusuk, bagian
yang terasa nyeri adalah kaki kanan, skala nyeri sebelum diberikan terapi
massage kaki berada pada skala 4 (Sedang), akan tetapi setelah diberikan terapi
nyeri berada di skala 2 (ringan), waktu nyeri muncul adalah hilang timbul.
6. Hasil
Berdasarkan masalah keperawatan yang ditemui pada Ny. T yaitu Nyeri
akut dengan diagnosa medis Rheumatoid arthritis dan diberikan implementasi
refleksi massage therapy / massage kaki selama 20 menit setiap 1 hari sekali
dalam kurun waktu 3 hari berturt-turut, ternyata mampu menurunkan skala
nyeri. Dibuktikan dengan data evaluasi hari pertama sebelum diberikan
implementasi nyeri berada pada skala 7 (nyeri berat) kemudian turun menjadi
skala 5 (nyeri sedang). Di hari kedua sebelum dilakukan implementasi nyeri
terkaji berada di skala 5 (sedang) dan turun menjadi skala 4 (sedang) setelah
diberikan implementasi. Pada hari ketiga ditemukan sebelum dilakukan
implementasi skala nyeri 4 (nyeri sedang) dan setelah diberikan implementasi
turun menjadi skala 2 (nyeri ringan).
7. Diskusi
Nyeri rheumatoid dapat ditangani dengan cara nonfarmakologi seperti
terapi pijat contohnya pemberian pengaruh refleksi massage therapy tanpa
harus melakukan penanganan secara farmakologi atau mengonsumsi obat
pereda nyeri. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
peneliti, dimana sebelum diberikan refleksi massage therapy tingkat nyeri
responden telah diukur kemudian didapatkan semua responden memiliki tingkat
nyeri sedang dan nyeri berat terkontrol, selanjutnya setelah responden diberikan
refleksi massage therapy tingkat nyeri responden mengalami penurunan
menjadi tidak nyeri, dan nyeri ringan. Hal ini dikarenakan refleksi massage
therapy berfungsi untuk mengendorkan dan melemaskan sistem kerja saraf dan
otot yang mengalami ketegangan, relaksasi dan sedatif sehingga dapat
menurunkan nyeri (Febriansa et al., 2021).
Oleh peneliti lainnya yang menyatakan pijat pada kaki 82% efektif untuk
menurunkan nyeri yang terasa hal ini akibat adanya sarad kaki (L4 – S3) yang
terangsangdan merangsang sumsum tulang belakang dan korteks untuk melepas
endorfin dengan merangsang sirkulasi darah di area yang dipijat (Artioli et al.,
2021; Rambod et al., 2019). Pemijatan pada area kaki baik untuk organ kelenjar
tubuh dan sirkulasi pada sistem tubuh, hal ini diakibatkan pada teori
hemodinamik, pijat kaki akan menstimulasi aliran darah ke organ atau bagian
tubuh terkait semakin meningkat. Pada teori impuls saraf juga menyatakan
bahwa stimulasi pijat akan membantu meningkatkan koneksi saraf ke bagian
tubuh yang seharusnya. Berdasarkan teori lainnya yaitu teori energy, organ dan
bagian tubuh terhubung melalui medan elektromagnetik dan jalur ini akan
terblokir saat tubuh mengalami sakit. Kemudian di kuatkan oleh Teori asam
laktat dimana asam laktat dapat terakumulasi di area telapak kaki yang
berbentuk seperti kristal dan hal ini dapat mengurangi aliran asam laktat yang
tidak teratur, sehingga aliran tadi akan menjadi lancar dan tidak lagi menumpuk.
Tampak beberapa dampak positif diterima dari pemberian pijat kaki. Hal ini
ternyata ada kaitannya dengan saraf yang berada di area kaki, dimana pada
penelitian sebelumnya menyatakan bahwa meskipun zona atau area refleks pada
tangan dan kaki relatif sama, namun ujung saraf pada area kaki lebih sensitif
dari pada tangan. Sehingga lebih mudah terangsang dan saraf bekerja dengan
lebih cepat untuk membantu mengeluarkan zat aktif (hormon) pada tubuh
(Shahraki Moghadam et al., 2021). Sehingga refleksi massage therapy /
massage kaki dapat mengurangi nyeri pada pasien rematik.
8. Kesimpulan Dan Saran
a. Kesimpulan
Sebelum pemberian refleksi massage therapy / massage kaki pada
Ny. T mengalami nyeri berat setelah pemberian refleksi massage therapy
pada Ny. T mengalami nyeri ringan serta hasil penelitian membuktikan
bahwa ada pengaruh refleksi massage therapy terhadap penurunan kualitas
nyeri pada lansia penderita rheumatoid arthritis.
b. Saran
Melihat adanya efektifitas dari implementasi terapi refleksi massage
therapy / massage kaki untuk menurunkan skala nyeri khususnya pada
pasien lansia dengan rheumatoid arthritis, studi kasus ini dapat dijadikan
literasi dalam mengembangkan ilmu selanjutnya khusunya dibidang
kesehatan dan digunakan sebagai bahan acuan dalam memberikan terapi
non farmakologis di dunia kesehatan khususnya dalam bidang
keperawatan.
9. Daftar Pustaka
Artioli, D. P., Tavares, A. L. de F., & Bertolini, G. R. F. (2021). Foot
reflexology in painful conditions:systematic review. BrJP, 4, 145–
151.
Diana Rindriani, P. A. (2022). PEMBERIAN TERAPI MASSAGE KAKI
DALAM MENURUNKAN SKALA NYERI PADA LANSIA
RHEUMATOID ARTHRITIS. 2(1), 69–76.
Febriansa, A. F., Asfar, A., & Ramli, R. (2021). Pengaruh Refleksi Massage
Therapy terhadap Penurunan Kualitas Nyeri pada Lansia Penderita
Rheumatoid Arthritis. Window of Nursing Journal, 2(1), 220–227.
https://doi.org/10.33096/won.v2i1.384
Heni Rispawati, B., Susanti, D., Hajri, Z., & Yarsi Mataram, S. (2021).
Pengaruh Penerapan Masase Kaki Terhadap Penurunan Nyeri Pada
Pasien Rheumatoid Arthritis. Stikesmu-Sidrap.E-Journal.Id, 10(2),
232–239. https://stikesmu sidrap.ejournal.id/JIKP/article/view/280
Salatiga, 21 Juli 2024
Lailatul Maghfiroh
SN231102
LAMPIRAN KEGIATAN