MASA DINASTI UTSMANIYAH (OSMANIYAH) TURKI
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Dr. Muh Parhan Mubarok, S. Pd. I., M. Ag
Oleh :
Endang Permana PAI / III B 022.011.0043
Maisa Syahrani PAI / III B 022.011.0056
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SILIWANGI BANDUNG
2023
2
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Penelitian
Umat Islam mengalami puncak keemasan pada masa
pemerintahan Abbasiyah. Pada masa itu banyak bermunculan
para pemikir islam kenamaan yang sampai sekarang
pemikirannya masih banyak diperbincangkan dan dijadikan
dasar kebijakan bagi pemikiran hingga masa mendatang, baik
dalam bidang keagamaan maupun umum. Kemajuan Islam ini
tercipta berkat usaha dari berbagai komponen masyarakat, baik
ilmuan, Birokrat, agamawan, militer, ekonom, maupun
masyarakat umum.
Pada zaman pertengahan yang diawali dengan runtuhnya
Abbasiyah di Bagdad, akibat serangan tentara Mongol yang di
pimpin oleh Hulagu Khan,1 pada tahun 1258 hingga akhirnya
kekuatan politik islam mengalami kemunduran yang sangat
drastis. Wilayah kekuasaan tercabik-cabik dalam beberapa
kerajaan kecil, shingga antara yang satu sama lainnya saling
memerangi, beberapa peninggalan budaya dan peradaban islam
banyak yang hancur.
Namun kemalangan tidak cukup sampai disitu,
kemudian Timur Lenk menghancurkan pusat-pusat kekuasaan
islam yang lain. Namun tidak harus menunggu dengan waktu
yang cukup lama, kemudian keadaan politik islam secara
keseluruhan berangsur membaik dan pulih bersamaan dengan
munculnya tiga kerajaan besar yaitu: Kerajaan Turki Usmani di Turki (1300-
1922), Kerajaan Safawi di Persia (1501-1732) dan
Kerajaan Moghul di India (1526-1857). Dari tiga kerajaan yang
telah disebutkan di atas yang paling lama berdirinya adalah
kerajaan Turki Usmani. Kerajaan Turki Usmani ini tidaklah bisa
disamakan dengan kedua dinasti yang sebelumnya yaitu Bani
3
Umayah dan Abbasiyah, tetapi melihat peranannya sebagai
benteng kekuatan umat islam dalam menangkal bangsa Eropa ke
Timur.
Turki Usmani telah menunjukan kehebatannya dalam
menghadapi serangan musuh, serangan-serangan perluasan
yang dilakukannya langsung masuk kewilayah penting termasuk
penaklukan konstantinopel, selain dari itu, Turki Usmani
dianggap sebagai dinasti yang mampu menghimpun kembali
umat islam setelah mengelami kemunduran ilmu pengetahuan
dan politik. Munculnya kerajaan Turki Usmani, kembali
menjadikan umat islam sebagai kekuatan yang solid.
Islam mengalami kemajuan dan kemunduran, layaknya
sebuah roda yang selalu berputar kadang diatas dan kadang
berada dibawah. Begitu pun dengan Islam, kemajuan kekuasaan
Islam yang dicapai pada masa Abbasiyah, dan keruntuhannya
ketika diserang bangsa Mongol. Saat itu kekuasaan politik Islam
mengalami kemunduran. Wilayah kekuasaan Islam terpecahpecah kedalam
kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memusuhi. Tidak berhenti di
situ, beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur
akibat serangan bangsa Mongol, bahkan Timur Lenk menghancurkan
pusatpusat kekuasaan Islam yang lain.
Dalam suasana infreoritas seperti itu, muncul kesadaran
politik umat Islam secara kolektif, kesadaran kolektif ini
mengalami kemajuan dengan ditandai oleh berdirinya tiga
kerajaan besar, Usmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi di Persia.
Kerajaan Usmani inilah yang paling pertama berdiri dan
paling lama bertahan dibandingkan dua lainnya. (Taqwatul, 2021)
4
B. PEMBAHASAN
1. Sejarah Dinasti Utsmaniyah Turki
Dinasti Utsmaniyah Turki berdiri pada tahun 1281 di Asia Kecil. Pendirinya
adalah Ustman bin Ertoghril. Wilayah kekuasaannya meliputi Asia Kecil dan
daerah Trace (1354), kemudian menguasai selat Dardaneles (1361), Casablanca
(1389), lalu kemudian menaklukkan kerajaan Romawi (1453).
Kata Utsmani diambil dari nama kekek mereka yang pertama dan pendiri
dinasti ini, yaitu Utsman bin Ertoghril bin Sulaiman Syah dari suku Qayigh, salah
satu cabang dari keturunan Oghus Turki. Sulaiman Syah dengan 1000
pengikutnya mengembara ke Anatolia dan singgah di Azerbaijan, namun sebelum
sampai ke tujuan, dia meninggal dunia. Kedudukannya digantikan oleh puteranya
yaitu Ertoghril untuk melanjutkan perjalanan sesuai tujuan semula. Sesampai di
Anatolia, mereka diterima oleh penguasa Seljuk, Sultan Alauddin yang sedang
berperang melawan kerajaan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin
mendapatkan kemenangan. Atas jasa baiknya itu, Sultan Alauddin
menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium.
Sejak saat itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota
Syukud sebagai ibu kota. Selain itu, Sultan Alauddin pun memberikan wewenang
kepada mereka untuk memperluas wilayahnya dengan mengadakan ekspansi.
Ertoghril meninggal dunia pada tahun 1289 M. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh
puteranya, Utsman. Putera Ertoghril inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan
Utsmani. Utsman memerintah berkisar antara tahun 1290 – 1326 M. Sebagaimana
ayahnya, dia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya
mendududki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa.
Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk dan Sultan
Alauddin II terbunuh. Kerajaan Seljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam
beberapa kerajaan kecil. Utsman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa
penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Utsmani dinyatakan
5
berdiri. Penguasa pertamanya adalah Utsman atau yang sering disebut dengan
Utsman I. (Munzir, 2022).
Peradaban Islam di Turki merupakan warisan atas pengaruh peradaban Islam
Arab dan Persia yang menjadikan warisan mendalam bagi masyarakat Turki
sebagai peninggalan dinasti Utsmani. Berdasarkan catatan sejarah
mengungkapkan bahwa Islam bukan hanya mengatur hubungan antara manusia
dan Sang Pencipta Allah, melainkan juga mengatur system kehidupan sosial dan
bernegara. Kerajaan Turki didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Qayigh Oghus
yang merupakan anak suku Tukrey yang mendiamai Gurun Gobi sebelah barat.
Memasuki tahun pertama Masehi, pada masa itu wilayah Turki bernama Kerajaan
Bizantium dikuasai oleh bangsa Romawi selama 4 abad. Ibukota kerajaan pada
masa ini dipindahkan dari Roma ke Konstatinopel. (Taqwatul, 2021)
2. Periodisasi Dinasti Utsmaniyah Turki
Raja-raja Utsmaniyah Turki mendapatkan kekuasaan secara turun
temurun, walau demikian, tak ada aturan bahwa putra pertamalah yang harus
menjadi pewaris dari kekuasaan sultan terdahulu. Ada kalanya putra kedua,
ketiga yang menggantikan sultan, bahkan dalam perkembangannya,
pergantian itu juga diserahkan kepada saudara sultan dan bukan kepada
anaknya. Dalam sejararahnya, selama dinasti Utsmaniyah Turki berdiri yang
hampir tujuh abad lamanya (1299/1300 – 1924 M), tidak kurang dari 38 sultan
yang telah memimipin kerajaan ini.
Berikut adalah daftar lengkap para sultan yang telah memimpin Dinasti
Utsmaniyah Turki yang oleh Syafiq A. Mughni, dibagi menjadi lima periode:
1). Periode pertama, sultan-sultannya ialah
Utsman I (1299-1326 M.)
Orkhan / putera Ustman I (1326-1359 M.)
Murad I / putera Orkhan (1359- 1389 M.)
Bayazid I Yildirim / putera Murad I (1389-1402 M.)
6
2). Periode ke dua, sultan-sultannya ialah
Muhammad I / putera Bayazid I (14033-1421 M.),
Murad II / putera Muhammad I (1421-1451 M.),
Muhammad II fatih / putera Murad II (1451-1481 M.),
Bayazid II / putera Muhammad II (1481-1512 M.),
Salim I / putera Bayazid II (1512-1520 M.)
Sulaeman I Qanuni / putera Salim I (1520-1566 M.)
3). Periode ke tiga, sultan-sultannya ialah
Salim I / putera Sulaeman I (1566-1673 M.)
Murad III / putera Salim II (1573-1596 M.)
Muhammad III / putera Murad III (1596-1603 M.)
Ahmad I / putera Muhammad III (1603-1617 M.)
Mustafa I / putera Ahmad I (1617-1618 M.)
Usman II / putera Ahmad I (1618-1622M.)
Mustafa I yang kedua kalinya (1622-1623 M.),
Murad IV / putera Ahmad I (1623-1640 M.),
Ibrahim I / putera Ahmad I (1640-1648 M.),
Muhammad IV / putera Ibrahim I (1648-1687 M.),
Sulaeman III / putera Ibrahim I (1687-1691 M.),
Ahmad II / putera Ibrahim I (1691- 1695 M.)
Mustafa II / putera Muhammad IV (1695-1703 M.).
4). Periode ke empat, sultan-sultannya ialah
Ahmad III / putera Muhammad IV (1703-1730 M.),
Mahmud I / putera Mustafa II (1730-1754 M.),
Usman III / putera Mustafa II (1754-1757 M.)
Mustafa III / putera Ahmad III (1757-1774 M.),
Abdul Hamid I / putera Ahmad III (1774-1788 M.),
Salim III / putera Mustafa III (1789-1807 M.)
Mustafa IV / putera Abdul Hamid I (1807-1808 M.)
7
Mahmud II / putera Abdul Hamid I (1808-1839 M.).
5). Periode ke lima, sultan-sultannya ialah
Abdul Majid I / putera Mahmud II (1839-1861 M.),
Abdul Azis / Mahmud II (1861-1876 M.)
Murad V / putera Abdul Majid I (1876 M.)
Abdul Hamid II / putera Abdul Majid I (1876- 1909 M.)
Muhammad V / putera Abdul Majid I (1909- 1918 M.),
Muhammad VI / putera Abdul Majid I (1918- 1922 M.)
Abdul Majid II (1922- 1924 M). (Munzir, 2022)
3. Pertumbuhan Dinasti Utsmaniyah Turki
Ketika dunia Islam mengalami kemunduran yang begitu dahsyat, baik
yang berada di kawasan Islam bagian Timur maupun di kawasan Islam bagian
Barat, baik dalam bidang sosial, bidang ekonomi, bidang budaya, maupun
bidang politik yang diakibatkan oleh adanya interpensi dan serbuan Komunitas
Salibiyah dari Barat, dalam hal ini Komunitas Kristen Eropa dan interpensi
Komunitas dari Timur yaitu Bangsa Tar-Tar, yang kemudian mengadakan
pengusiran secara total terhadap Komunitas Muslim yang berada di Kawasan
Islam Bagian Barat.
Namun kondisi tersebut tidak menyebabkan hilangnya semangat
Komunitas Muslimin untuk bangkit kembali membangun Islam ke arah
kemajuan yang telah dicapai ketika dunia Islam berada dalam pengauh
Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Kausalitas kemunduran dunia Islam, sebenarnya sudah ada sejak
wilayah-wilayah yang pernah diduduki oleh Komunitas Islam itu hanya dalam
nama saja (formalitas), cara menyusun administrasi negaranya tidak
menunjukkan adanya sistem yang sistematis, yang mengakibatkan adanya
pemerasan dalam bidang perpajakan dan adanya garis pemisah antara orang
Aran dan Non Arab, Komunitas Muslim dan Komunitas Non Muslim yang
8
kesemuanya itu memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi dunia
Islam.
Penyebab lain yang mengakibatkan Dunia Islam mengalami kemunduran
adalah pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang pernah memegang pengaruh
kekuasaan Dunia Islam selama lima abad mengalami kehancuran di bawah
injakan penguasa bangsa Tar-Tar yang sangat kejam, khalifah Dinasti
Abbasiyah yang terakhir, yaitu Khalifah Al-Mu’tashim mati dibunuh dengan
cara kejam oleh pasukan Tar-Tar yaitu oleh Halaku Khan pada tahun 6546
H/1257 M dan menjadikan Kota Baghdad sebagai lokasi penimbunan mayat
komunitas Muslim, baik dari para pahlawan sampai rakyat jelata.
Pada saat-saat dunia Islam mengalami masa-masa kritis, munculah suatu
kabilah yang mempunyai naluri keberanian yang berasal dari kabilah Turki
yang dipimpin oleh Sulaiman Syah yang berusaha mengadakan serangan
balasan terhadap Bangsa Tar-Tar, walaupun kemudian Sulaiman Syah harus
mati sebelum cita-citanya untuk menghancurkan Bangsa Tar-Tar tercapai,
karena beliau (Sulaiman Syah) tenggelam ketika mengadakan penyebrangan
di Sungai Eufrat di dekat Kota Ourfa.
Pada tahun 680 Hijriyah/ 1281 Masehi, tepatnya 1/4 abad sesudah
jatuhnya Kota Baghdad, Sultan Otsman berhasil menundukan Bangsa Tar-
Tar. Dan inilah merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan baru yang dikenal
dengan nama Kerajaan Otsmaniyah Turki. 'Atha Husni Bey di dalam bukunya
"Khawatir Fil Islam" menceritakan bagaimana proses berdirinya Daulah
Otsmaniyah sebagai berikut:
"Sewaktu munculnya Bangsa Tar-Tar merusak dan menghancurkan Dunia
Islam dengan tidak ada satupun yang dibiarkannya hidup, tampilah suatu
kabilah dari Asia Tengah, yaitu kabilah yang paling terkenal paling mulia dari
Bangsa Turki dan termasyhur paling berani di bawah pimpinan Sulaiman
9
Syah" Lebih lanjut A.M.A Shustery menceritakan pula tentang berdirinya
Khalifah Otsmaniyah sebagai berikut :
"Pada awal abad ke-15, Sekitar 5000 orang Turki bermigrasi dari Timur
melalui Persia ke Asia Kecil dan diizinkan untuk menetap di Bagian Barat Laut
(Darylaeum Kuno - Phyrgia) sebagai pengakuan atas jasa yang telah mereka
berikan kepada Kaikobad II ( 1245-1254) dari Ikonium, raja Saljukid melawan
musuh- musuh ini". Gerdualy, mereka naik dalam kekuasaan dan pemimpin
mereka yang cakap, mereka menjadi penguasa provinsi tempat mereka
diizinkan untuk menetap. Pada tahun 1353 mereka menginvasi Semenanjung
Balkan. Sultan pertama mereka bernama Usman dan karenanya kerajaan itu
disebut Usmani karena otonom”.
Pada pemulaan abad ke-15 Masehi (abad ke-9 Hijriyah), sejumlah 5.000
orang Turki telah berangkat hijrah dari Timur dengan melalui Persia menuju
Asia kecil. Mereka diberi izin untuk menempati daerah Barat Lautnya (yang
dahulunya bernama Darylaeum Phrygia) sebagai penghargaan atas
pengabdian mereka mengembalikan daerah itu kepada Sultan Saljuq yang
bernama Kaikobad II dari Iconim pada tahun 1245-1254 Masehi (643-652
Hijriyah) dengan menghalau segala musuhnya". Dan dengan berangsur terus,
kekuasaan berkembang maju dengan pimpinan mereka yang cakap, sehingga
mereka menjadi tuan dari daerah yang pernah didudukinya, dan mereka diberi
izin untuk menempatinya. Pada tahun 1353 Masehi mereka menduduki
seluruh Jazirah Balkan".
Kekhalifahan Daulah Utsmaniyah, baru dapat diakui menjadi sebuah
Dinasti yang bersifat otonom setelah adanya legitimasi dan proklamasi yang
diucapkan oleh Otsman Pasya, yaitu putra dari Onthogrol dan cucu dari
Sulaiman Syah yang berasal dari keturunan Kabilah Ughuz yang mendiami
daerah sebelah Utara dari Kawasan Tiongkok. (Suhaedi, 2013)
10
4. Perkembangan Dinasti Utsmaniyah Turki
Pada awalnya kerajaan turki Usmani hanya memiliki wilayah yang sangat
kecil, namun dengan adanya dukungan militer, kerajaan yang besar dapat
bertahan dalam kurun waktu yang lama. Pada masa sulaiman bin salim
adalah puncak kejayaan Turki Usmani. Ia dapat gelar al-Qanuni karena
jasanya menyusun kembali sistemsistem undang-undang
kesultanan Turki Usmani dan pelaksanaanya secara teratur dan tanpa
kompromi menurut keadaan masyarakat islam. Kemajuan dan perkembangan
ekspansi kerajaan Turki usmani yang demikina luas dan berlangsung secara
cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan lain dalam bidang-bidang
kehidupan yang lain. Yang terpenting diantaranya ialah:
a). Kemiliteran dan Pemerintahan
Para pemimpin kerajaan turki utsmani pada masa-masa pertama, adalah
orangorang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan
cepat dan luas. Untuk pertama kalinya, kekuatan militer kerajaan ini mulai
diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan
Eropa. Ketika itu, pasukan tempur yang
besar sudah teroganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik dan strategi
tempur Militer Turki Usmani berjalan tanpa halangan berarti.
Keberhasilan ekspansi tersebut juga dibarengi pula dengan terciptanya
jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah yang luas,
sultan-sultan turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Untuk mengatur urusan
pemerintahan negara, dimasa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab udang-
undang (qanun). Kitab tersebit diberi nama Multaqa al-Abhur yag menjadi
pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi
pada abad ke -19
b). Ilmu pengetahuan dan budaya.
Kebudayaan turki usmani juga merupakan perpaduan bermacam-macam
kebudayaan. Diantaranya kebudayaan Persia, Bizantium dan arab. Dari
11
kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil tentang ajaran etika dan tata
krama dalam istana rajaraja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak
mereka serap dari Bizantium. Sedangkan ajaran-ajran tentang prinsip-prinsip
ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan, keeilmuwan dan huruf merka serap
dari Arab.
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak
memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam
bidang ilmu pengetahuan, mereka tidak begitu menonjol. Karena itulah di
dalam khazanah intelektual islam tidak ditemukan ilmuwan terkemuka dari
Turki. Namun demikian , mereka banyak berkiprah
dalam pengembangan seni arsitektur islam berupa banguna-banguna masjid
yang indah.
c). Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunya peranan besar dalam
lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama dan
kerajaan sendiri sangat terikat dengan syriat, sehingga fatwa ulama menjadi
hukum yang berlaku. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dalam
kerajaan dan masyarakat. (Sudin, 2022)
5. Kemunduran Dinasti Utsmaniyah Turki
Ada banyak faktor yang menyebabkan kemunduran kerajaan Utsmani
dintaranya adalah:
1) Wilayah kekuasaan yang sangat luas. Administrasi pemerintahan bagi
suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks,
sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Utsmani tidak beres. Di pihak
lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas,
sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal
ini tentu menyedot banyak potensi yang
seharusnya dapat digunakan untuk membangun negara.
12
2) Hetergonitas penduduk. Sebagai kerajaan besar, Turki Utsmani menguasai
wilayah yang amat laus, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz dan
yaman. Di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazir. Di Afrika daan Bulgaria,
Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan rumania di Eropa. Wilayah yang
amat luas tersebut ditempati penduduk yang sangat beragam, baik daris segi
agama, ras, etnis maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang
bergam dan luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur.
Tanpa didukung administrasi yang baik, Kerajaan Ustmani hanya akan
menanggung beban berat akibat heterogenis tersebut. Perbedaan bangsa dan
agama acap kali yang melatarbelaknagi pemberontakan dan peperangan.
3) Kelemahan para penguasa. Sepeninggal Sulaiman al-Qanuni, kerajaan
utsmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian
terutama pada dalam kepemimpinanya. Akibatnya pemerintahan menjadi
kacau. Kekacauan ini tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan
ssemakin lama menjadi semakin parah.
4) Budaya Pungli. Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi
dalam kerajaan Utsmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang
harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan
jawaban tersebut. Adanya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral
kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh
5) Pemberontakan tentara Jenissari. Kemajuan ekspansi Kerajaan Utsmani
banyak ditemtukan oleh kekuatan tentara Jenissari. Dengan demikian dapat
dibayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan
tentara Jenissari terjadi selama empat kali.
13
6) Merosotnya Ekonomi. Akibat perang yang tak pernah berhenti
perekonomian merosot. Pendapatan berkurang belanja negara sangat besar,
termasuk untuk biaya perang.
7) Terjadinya Stagnasi dalam lapangan Ilmu dan Teknologi. Kerajaan Usmani
kurang berhasil dalam pengembangan Ilmu dan teknologi, karena hanya
mengutamakaan pengembangan kekuatan Militer. Kemajuan militer yang tidak
diimbangi oleh kemajuan teknologi menyebabkan kerajaan ini tidak sanggup
menghadapi persentajaan musuh dari Eropa yang lebih maju.
Sesudah Sulaiman al-Qanuni, kerajaan Usmani tidak lagi mempunyai
sultan-sultan yang kuat. Kerajaan ini mulai memasuki fase kemundurannya di
abad ke-17 M. Di dalam negeri timbul pemberontakan-pemberontakan, seperti
di Syiria di bawah pimpinan Kurdi Jumbulat, di Lebanon di bawah pimpinan
Druze Amir fakhruddin.
Di samping itu, terjadi pula peperangan dengan Negara-negara tetangga
seperti Venitia (1645-1664 M) dan dengan Syah Abbasiyah dari Persia.
Jenissary, nama yang diberikan kepada tentara Usmani juga memberontak.
Sultan-sultan berada di bawah kekuasaan Harem. Sementara di Eropa juga
mulai timbul negara-negara yang kuat, sedangkan Rusia di bawah Peter Yang
Agung telah pula berubah menjadi negara yang maju.
Dalam peperangan dengan negara-negara ini kerajaan Usmani
mengalami kekalahan
dan daerahnya di Eropa mulai diperkecil sedikit demi sedikit. Misalnya
Yunani, memperoleh kemerdekaannya kembali di tahun 1829 M dan Rumania
di tahun 1856 M. Demikian pula yang lain mengikuti, sehingga akhirnya
sesudah Perang Dunia I, daerah kerajaan Usmani yang dahulu demikian luas
kini hanya mencakup Asia Kecil dan sebagian kecil dari daratan Eropa Timur.
Kerajaan Usmani lenyap dan sebagai gantinya timbul Republik Turki di tahun
1924 M. Kerajaan safawi di Persia mendapat serangan dari raja Afghan yang
14
berlainan faham dengan syah-syah Safawi, ia menganut faham Sunni. Mir
Muhammad dapat menguasai Afghan pada tahun 1722 M.
Akan tetapi, pada waktu itu Nadir Syah seorang jenderal, atas nama Syah
Tahmasp II dapat merampas ibu kota itu kembali pada tahun 1730 M.
Kemudian ia sendiri menjadi Syah di Persia. Namun pada tahun 1750 M,
Karim Khan dari Dinasti Zand dapat merebut kekuasaan di seluruh Persia,
kecuali daerah Khurasan. Kekuasaan Dinasti Zand ditentang oleh Dinasti
Qajar dan akhirnya Agha Muhammad dapat mengalahkan Dinasti Zand pada
tahun 1794 M. Semenjak itu sampai tahun 1925 M, Persia diperintah oleh
Dinasti Qajar.
Di India, Dinasti Mughal Islam setelah Aurangzip meninggal dan
digantikan oleh para penguasa yang lemah, terjadi pemberontakan-
pemberontakan dari pihak golongan Hindu yang merupakan mayoritas
penduduk India. Pemberontakan Sikh dipimpin oleh Guru Tegh Bahadur dan
kemudian oleh Guru Gobind Singh. Negeri Haiderabad Dekan melepaskan diri
dari ikatan Delhi (1724 M). kemudian, mengikut pula Benggala dan Aud yang
semuanya berdekatan tahunnya. Negeri yang tertinggal pada tangan Mughal
hanyalah Delhi, Agra dan negeri-negeri Duab.
Sementara itu Inggris telah pula turut memainkan peranan dalam politik
India dan menguasai India di tahun 1857 M sampai tahun 1947 M India
menjadi jajahan Inggris. Pada masa ini kekuasaan militer dan politik umat
Islam semakin menurun. Perdagangan dan ekonomi umat Islam juga jatuh
dengan hilangnya monopoli dagang antara Timur dan Barat dari tangan
mereka. Ilmu Pengetahuan di dunia Islam dalam keadaan stagnansi.
Tarekattarekat diliputi oleh suasana khurafat. Umat Islam dipengaruhi oleh
sifat fatalistis.
Dunia Islam mengalami kemunduran dan statis. Sementara Eropa dengan
kekayaankekayaan yang diangkut dari Amerika dan laba dari perdagangan
langsung dengan Timur jauh bertambah kaya dan maju. Penetrasi Barat, yang
kekuatannya bertambah besar ke dunia Islam yang didudukinya, kian lama
bertambah mendalam. Akhirnya di tahun 1798 M Napoleon menduduki Mesir,
15
sebagai salah satu pusat Islam terpenting. Jatuhnya pusat Islam ini ke tangan
Barat, menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat
Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban yang lebih tinggi dari peradaban
Islam, dan merupakan ancaman bagi hidup Islam sendiri.
16
C. Penutup
1. Simpulan
Dinasti Utsmaniyah Turki berdiri pada tahun 1281 M di Asia Kecil.
Pendirinya adalah Ustman bin Ertoghril. Kata Utsmani diambil dari nama
kekek mereka yang pertama dan pendiri dinasti ini, yaitu Utsman bin Ertoghril
bin Sulaiman Syah dari suku Qayigh, salah satu cabang dari keturunan Oghus
Turki.
Penyebab yang mengakibatkan Dunia Islam mengalami kemunduran
adalah pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang pernah memegang pengaruh
kekuasaan Dunia Islam selama lima abad mengalami kehancuran di bawah
injakan penguasa bangsa Tar-Tar. Pada saat-saat dunia Islam mengalami
masa-masa kritis, munculah suatu kabilah yang mempunyai naluri keberanian
yang berasal dari kabilah Turki yang dipimpin oleh Sulaiman Syah yang
berusaha mengadakan serangan balasan terhadap Bangsa Tar-Tar.
Perkembangan Dinasti Utsmaniyah Turki :
a). Kemiliteran dan Pemerintahan
Para pemimpin kerajaan turki utsmani pada masa-masa pertama, adalah
orangorang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan
cepat dan luas.
b). Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Islam tidak ditemukan ilmuwan terkemuka dari Turki. Namun demikian ,
mereka banyak berkiprah
dalam pengembangan seni arsitektur islam berupa banguna-banguna masjid
yang indah.
c). Keagamaan
. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama dan kerajaan sendiri sangat
terikat dengan syriat, sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku.
17
Kemunduran Dinasti Utsmaniyah Turki :
1) Wilayah kekuasaan yang sangat luas
2) Hetergonitas penduduk
3) Kelemahan para penguasa
4) Budaya Pungli
5) Pemberontakan tentara Jenissari
6) Merosotnya Ekonomi
7) Terjadinya Stagnasi dalam lapangan Ilmu dan Teknologi
18
D. DAFTAR PUSTAKA
Sudin Yamani, “Sejarah Perkembangan Dan Kemunduran Tiga Kerajaan Islam
Abad Modern Tahun 1700-1800”, Makassar, 2022
Taqwatul Uliyah, “KEPEMIMPINAN KERAJAAN TURKI UTSMANI: KEMAJUAN
DAN KEMUNDURANNYA”, Lampung, 2021
Muhammad Munzir, Nining Artianasari, Muhammad Ismail, “Sejarah Kerajaan
Turki Usmani : Analisis Kemajuan dan Penyebab Kehancuran Turki Usmani”,
Sulawesi Selatan, 2022
HS. Suhaedi, “DAULAT UTSMANIYAH”, Banten, 2013
19
E. BIOGRAFI SINGKAT PEMAKALAH
1. 1). Nama Lengkap : Endang Permana
2). TTL : Cianjur, 06 Maret 1983
3). Alamat Lengkap : Kp. Cibarengkok Desa. Sukalaharja Kec. Cibeber Kab.
Cianjur
4). No HP : 085722778580
5). Motto : Sabar. Sadar, Tahan kesulitan
2. 1). Nama Lengkap : Maisa Syahrani
2). TTL. : Bandung, 19 Mei 2003
3). Alamat Lengkap : Kp. Bunisari Kulon Desa. Gadongbangkong Kec.
Ngamprah Kab. Bandung Barat
4). No HP : 083840032479
5).Motto : Melupakan masa lalu, Memperbaiki masa kini, Menata
masa depan