Makalah Hukum Perdata
Makalah Hukum Perdata
HUKUM WARIS
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
HUKUM PERDATA
Dosen Hukum Perdata : Ibu Puspitasari, S.H., M.H.
DISUSUN OLEH :
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................
1.1 Latar Belakang.....................................................................................
1.2 Rumusan Masallah ..............................................................................
1.3 Tujuan..................................................................................................
BAB 2 PEMBAHASAN ..................................................................................
2.1 Pengertian Hukum Waris....................................................................
2.2 Sistem Hukum Waris di Indonesia......................................................
2.2.1 Hukum Waris Adat....................................................................
2.2.2 Hukum Waris Islam...................................................................
2.2.3 Hukum Waris Perdata................................................................
2.3 Proses Pengajuan Gugatan Warisan di Pengadilan.............................
2.3.1 Dasar Hukum Gugatan Pembagian Waris.................................
2.3.2 Syarat dan Prosedur Gugatan Waris..........................................
2.3.3 Hak dan Kewajiban Ahli Waris Menurut KUHPer..................
2.4 Contoh Kasus Sengketa Waris di Indonesia.......................................
2.4.1 Latar Belakang Sengketa...........................................................
2.4.2 Proses Persidangan dan Mediasi...............................................
2.4.3 Kesepakatan Perdamaian...........................................................
2.4.4 Analisis dan Nilai Hukumnya...................................................
A. ..............................................................................................................
B. ..............................................................................................................
C. ..............................................................................................................
BAB 3 PENUTUP ...........................................................................................
A. Kesimpulan ..........................................................................................
B. Saran ....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
2
2. Testament atau wasiat atau testamentair erfecht, yaitu ahli waris yang
mendapatkan bagian dari warisan, karena ditunjuk atau ditetapkan dalam
suatu surat wasiat yang ditinggalkan oleh simeninggal.
Ahli waris menurut undang – undang ( abintestato), yaitu karena
kedudukannya
sendiri menurut undang – undang, demi hukum dijamin tampil sebagai ahli waris,
sednagkan ahli waris menurut wasiat ( ad Testamento), yaitu ahli waris yang
tampil karena “ kehendak terakhir ” dari si pewaris, yang kemudian di catatkan
dengan wasiat ( testament ), yang kemudian dicatatkan dalam surat wasiat
(testament). Ahli waris yang tampil menurut wasiat atau testamentair erfrecht,
dapat melalui dua cara yaitu Erfstelling, yang artinya penunjukan satu/ beberapa
orang menjadi ahli waris untuk mendapatkan Sebagian atau seluruh harta
peninggalan, sedangkan orang yang di tunjuk dinamakan testamentair erfgenaam,
yang kemudian di catat dalam surat wasiat , cara kedua yaitu Legaat (hibah
wasiat), adalah pemberian hak kepada seseorang atas dasar testement/wasiat
tersebut baru dapat dilaksanakan, setelah pemberi hibah atau wasiat (pewaris)
meninggal dunia.
Manakah yang lebih didahulukan dan diutamakan, ahli waris menurut
undang – undang atau ahli waris menurut wasiat. Dalam pelaksanaan dari hukum
waris perdata. Ahli waris menurut surat wasiat yang lebih di utamakan, dengan
pengecualian selama seisi dan pembagian dalam surat wasiat tidak bertentangan
dengan undang – undang. Pertimbangan hukumnya karena wasiat merupakan
“kehendak terakhir” dari si pewaris terhadap harta warisannya, dengan ketentuan
tidak boleh merugikan bagian ahli si waris menurut undang – undang, karena ahli
waris menurut undang – undang memiliki bagian mutlak (legitime Portie), yang di
atur pasa; 913 KUHPerdata yang sama sekali tidaK bisa dilanggar bagiannya.
Ahli waris memiliki bagian mutlak disebut juga legitimaris, artinya selama
ahli waris yang bagiannya di tetapkan dalam surat wasiat tidak merugikan bagian
mutlak ahli waris legitimaris, wasiat tersebut bisa dilaksanakan, kalaupun bagian
mjutlak ahli waris lehitimaris dirugikan oleh ahli waris testamentair, maka harus
dikembalikan kepada ahli waris legitimaris, sesuai dengan bagian yang
seharusnya mereka dapatkan.
3
Dalam Hukum waris BW (Perdata) suatu pewarisan terdapat tiga unsur
penting, yaitu : (1) adanya orang yang meninggal dunia selaku pewaris, (2)
adanya harta kekayaan yang ditinggalkan dan, (3) adanya ahli waris. Yang
dimaksud dengan pewaris adalah orang yang meninggal dunia dengan
meninggalkan harta kekayaan. Sedangkan yang dimaksud ahli waris. Yang
dimaksud dengan pewaris adalah orang yang meninggal dunia dengan harta
kekayaan. Sedangkan yang di maksud ahli waris adalah orang – orang yang yang
gantikan kedudukan si pewaris dalam bidang hukum harta kekayaan, kareana
meninggalnya pewaris. Selanjutnya yang dimaksud warisan adalah harta kekayaan
yang dapat berupa Kumpulan aktiva dan pasiva dari si pewaris yang berpindah
kepada para ahli waris.
Selanjutnya agar dapat menjadi ahli waris harus memenuhi beberapa
persyaratan, yaitu :
1. Harus ada orang yang meninggal dunia
2. Ahli waris harus ada pada saat si pewaris meninggal dengan tetap
memperhatikan dua pasal KUHPerdata yang menyatakan bahwa yang
masih dalam kandungan seorang ibu, dianggap sebagai telah hari bila
mana kepentingan si anak tersebut menghendaki, dan apabila anak
lahir meninggal maka ia anggap tidak pernah ada.
3. Seorang ahli waris harus cakap serta berhak mewarisi dalam arti
dinyatakan oleh undang – undang sebagai seorang yang tidak patut
mewarisi kerena kematian, atau dianggap sebagau tidak cakap untuk
menjadi ahli waris.
Mengenai kriteria ahli waris dinyatakan tidak patut menjadi ahli waris menurut J,
Satrio, adalah :
1. Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh
atau mencoba membunuh si pewaris
2. Mereka yang dengan putusan hakim pernah dipersalahkan karena
fitnah telah mengajukan bahwa sipewaris telah melakukan kejahatan
yang dianvcam dengan hukuman penjara 5 tahun atau lebih.
3. Mereka yang dengan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si
pewaris untuk membuat wasiat
4
4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat
wasiat dari si pewaris.
Ketentuan dalam pasal 839 KUHPerdata mewajibkan seseorang ahli waris
yang tidak patuh itu untuk mengembalikan apa yang telah diambil dari barang -
barang warisan semejnak warisan jatuh terluang.
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian hukum waris
2. Untuk mengetahui Hak dan Kewajiban Pewaris dan Ahli Waris
3. Untuk mengetahui Pembagian Warisan
4. Untuk mengetahui Sistem Hukum Waris di Indonesia
5. Untuk mengetahui ahli waris yang tidak patut menerima Harta Warisan
5
BAB 2
PEMBAHASAN
Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata, belum
terdapat kodifikasi. Hal ini berarti bahwa bagi berbagai golongan penduduk
Indonesia masih berlaku hukum yang berbeda – beda seperti :
1. Hukum waris Adat, sampai saat ini hukum waris adat masing – masing
daerah diatur secara berbeda – beda
2. Hukum waris Islam, bagi yang beragama islam ( Sebagian penduduk
Indonesia yang beragama islam). Hukum waris Islam ini diatur dalam
intruski Presiden No: 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
( Pasal 171 -214 KHI).
3. Hukum waris Barat, bagi mereka yang tunduk pada Hukum Perdata Barat,
Berlaku ketentuan dalam KUHPerdata (BW). Hukum waris diatur bersama
– sama dengan hukum benda, alasannya :
a. Hukum waris dianggap sebagai suatu hak kebendaan (Pasal 528
KUHPerdata).
b. Hukum waris merupakan salah satu cara yang di tentukan secara
limitative oleh UU untuk memperoleh hak milik (Pasal 584
KUHPerdata).
Sampai saat ini baik para ahli hukum Indonesia maupun di dalam
kepustakaan ilmu hukum Indonesia, belum terdapat keseragaman pengertian
sehingga istilah untuk hukum waris beraneka ragam.
6
2.2 SISTEM HUKUM WARIS DI INDONESIA
7
Dalam hukum Islam, ada beberapa pengecualian yang menyebabkan
seseorang tidak berhak menerima warisan, seperti budak, perbedaan
agama, dan pelaku pembunuhan pewaris.
Untuk pengajuan gugatan waris di pengadilan, maka perlu melihat agama pewaris
setelah meninggal dunia. Bila agama pewaris adalah Islam, maka gugatan
pembagian waris diajukan ke pengadilan agama. Sedangkan, apabila agama
pewaris beragama non Islam, maka gugatan waris diajukan di pengadilan negeri
8
agama, sedangkan pewaris yang beragama selain Islam ke peradilan
umum. “
9
2. Identitas Tergugat sebagai ahli waris lain;
3. Kartu Keluarga Ahli Waris;
4. Akta Lahir Pewaris;
5. Surat kematian pewaris;
6. Identitas pewaris jika masih ada (KTP & KK);
7. Buku Nikah/ Akta kawin Pewaris;
8. Surat Keterangan Waris dari Kecamatan (jika ada);
9. Dokumen objek harta seperti sertifikat kepemilikian atau bukti kepemilikian ahli
waris.
10
berdasarkan golongan-golongan ahli waris yang ditentukan dalam
KUHPer
4. Menggugat Harta Waris, jika ada sengketa mengenai harta warisan, ahli
waris dapat mengajukan gugatan untuk menurut harta warisan yang
seharusnya menjadi milik mereka.
Sengketa waris merupakan salah satu jenis perkara yang paling sering
menimbulkan konflik dalam keluarga. Tidak jarang perebutan harta peninggalan
orang tua atau kerabat berujung pada permusuhan berkepanjangan dan proses
litigasi yang melelahkan. Namun, terdapat pula kasus-kasus di mana penyelesaian
damai dapat tercapai melalui jalur mediasi yang difasilitasi oleh pengadilan. Salah
satu contohnya adalah perkara waris yang terjadi di Pengadilan Agama Sleman.
11
2.4.1 LATAR BELAKANG SENGKETA
Perkara ini berkaitan dengan harta peninggalan ayah dan ibu dari pihak (para
penggugat dan tergugat) terdiri dari harta tidak bergerak berupa tiga bidang tanah
yang nilainya milyaran rupiah serta harta bergerak berupa tabungan dan deposito,
alat transportasi, perhiasan serta peralatan rumah tangga yang diklaim oleh para
pengugat bernilai tidak kurang dari 20 M
Setelah melalui beberapa kali pertemuan, para pihak sepakat berdamai pada 8
Desember 2020. Isi perdamaian mencakup :
Pembagian harta waris secara adil berdasarkan musyawarah
Penunjukan pihak ketiga (appraisal) untuk menilai-nilai harta warisan agar
adil dan objektif
12
Komitmen untuk tidak membawa persoalan ini ke proses hukum lanjutan
Kesepakatan tersebut disahkan oleh pengadilan dalam bentuk akta perdamaian,
yang memiliki kekuatan hukum tetap. Para pihak sepakat untuk melaksanakan isi
kesepakatan paling lambat dalam waktu 7 hari.
13
Kesimpulan :
Saran
14
DAFTAR PUSTAKA
https://www.hukumonline.com/berita/a/pengertian-hukum-perdata-menurut-
para-ahli-lt6450ac1b1741b/
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-gorontalo/baca-artikel/17540/Dasar-
dasar-Hukum-Perdata-di-Indonesia.html
https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-hukum-perdata-dan-contoh-
hukum-perdata/?srsltid=AfmBOooEsVjOZJiKhWy8p2-cztRl-
2i_LMNovjZIhVZPlR3gYZ02wFGz
http://repository.untagsmg.ac.id/1005/1/pokok%20pokok%20hukum
%20perdata.pdf
https://fh.unikama.ac.id/id/mengenal-sistem-dan-prinsip-hukum-waris-di-
indonesia/
https://aisahpartnerslawfirm.co.id/2024/08/08/bagaimana-cara-pengajuan-
gugatan-waris-di-pengadilan/
https://putusan3.mahkamahagung.go.id/rumusan_kamar/detail/
11e9d47b7b30f58c82f3313730343032.html
https://badilag.mahkamahagung.go.id/seputar-peradilan-agama/berita-
daerah/hakim-pa-sleman-berhasil-damaikan-sengketa-waris-milyaran-
rupiah-8-2
15