0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
117 tayangan19 halaman

Makalah Hukum Perdata

Diunggah oleh

beatrice l s s
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
117 tayangan19 halaman

Makalah Hukum Perdata

Diunggah oleh

beatrice l s s
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH HUKUM PERDATA

HUKUM WARIS
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
HUKUM PERDATA
Dosen Hukum Perdata : Ibu Puspitasari, S.H., M.H.

DISUSUN OLEH :

Dixie Mustika Arin : 2101240201


Cahrlotha Jovannca Blandinna R : 2101240239
Safnah Amalia Sani : 2101240218
Jeannedt Regiana : 2101240225

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM ( SORE )


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BUNGKARNO
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT yang


telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolonganNya tentunya kami tidak akan sanggup
untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW
yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti. Penulis mengucapkan
syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat
fisik maupun akal pikiran, sehinggan penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas makalah dari mata kuliah Hukum Perdata
dengan judul “Hukum Waris”. Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta
kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari
pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah
yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada Rektor UBK ,
Dekan, Ketua Program Studi, Dosen Wali, Dosen Pembimbing, Dosen Pendidkan
Hukum Perdata . telah membimbing saya dalam menulis makalah ini. Demikian,
semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Jakarta, 28 Juni 2025

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................
1.1 Latar Belakang.....................................................................................
1.2 Rumusan Masallah ..............................................................................
1.3 Tujuan..................................................................................................
BAB 2 PEMBAHASAN ..................................................................................
2.1 Pengertian Hukum Waris....................................................................
2.2 Sistem Hukum Waris di Indonesia......................................................
2.2.1 Hukum Waris Adat....................................................................
2.2.2 Hukum Waris Islam...................................................................
2.2.3 Hukum Waris Perdata................................................................
2.3 Proses Pengajuan Gugatan Warisan di Pengadilan.............................
2.3.1 Dasar Hukum Gugatan Pembagian Waris.................................
2.3.2 Syarat dan Prosedur Gugatan Waris..........................................
2.3.3 Hak dan Kewajiban Ahli Waris Menurut KUHPer..................
2.4 Contoh Kasus Sengketa Waris di Indonesia.......................................
2.4.1 Latar Belakang Sengketa...........................................................
2.4.2 Proses Persidangan dan Mediasi...............................................
2.4.3 Kesepakatan Perdamaian...........................................................
2.4.4 Analisis dan Nilai Hukumnya...................................................
A. ..............................................................................................................
B. ..............................................................................................................
C. ..............................................................................................................
BAB 3 PENUTUP ...........................................................................................
A. Kesimpulan ..........................................................................................
B. Saran ....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Hukum waris perdata dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata,


termasuk dalam lapangan adtau bidang hukum perdata. Semua cabang hukum
termasuk dalam bidang hukum perdata yang memiliki sifat dasar, antara lain
bersifat mengatur dan tidak ada unsur paksaan. Namun untuk hukum waris
perdata, meski letaknya dalam bidang hukum perdata, ternyata terdapat unsur
paksaan didalamnya.
Unsur paksaan dalam hukum waris perdata, misalnya ketentuan pemberi hak
mjutlak (legitime portie) kepada ahli waris tertentu atas sejumlah tertentu dari
harta warisan atau ketentuan yang melarang pewaris telah membuat ketetapan
seperti menghibahkan bagian tertentu dari harta warisannya, maka penerima hibah
mempunyai kewajiban untuk mengembalikan harta yang telah dihibahkan kepada
nya ke dalam harta warisan guna memenuhi bagian mutlak (lehitimeportie) ahli
waris mempunyai hak mjutlak tersebutn dengan memperhatikan pasal 1086 Kitab
Undang – Undang Hukum Perdata, tentang hibah-hibah yang wajib inbreng
(pemasukan)
Meskipun di dalam hukum waris perdata, terdapat unsur paksaan, namun
posisi hukum waris, perdata, sebagai salah satu cabang hukum perdata yang
bersifat mengatur tidak berpengaruh. Konsekuensi dari hukum waris perdata,
sebagai salah satu cabang hukum perdata bersifat mengatur, adalah apa saja yang
di buat oleh pewaris terhadap hartanya semasa dia hidup adalah kewenagannya,
namun kalua pelaksanaan kewenangan itu melampaui batsa yang di perkenankan
oleh undang – undang, maka harus ada resiko hukum yang dikemudian hari akan
terjadi terhadap harta warisan setelah ia meninggal dunia.
Hukum waris perdata, sangat erat hubungannya dengan hukum keluarga, maka
dalam mempelajari hukum waris perlu di pelajari pula sistem hukum warus yang
bersangkutan seperti kekeluargaan, sistem kewarisan, wujud dari barang warisan
dan bagaimana vara mendapatkan warisan. Sistem kekeluargaan dalam hukum
waris perdata adalah sistem kekeluargaan yang sangat bilateral atau parental.
Dalam sistem ini keturunan dilacar baik dari pihak suami maupun pihak isteri.
Sistem kewarisan yang diatur dalam hukum waris perdata adalah sistem
individual, ahli waris mewaris secara individua tau sendiri – sendiri, dan ahli
waris tidak dibedakan baik laki-laki maupun Perempuan hak mewarisnya sama.
Dalam hukum waris perdata, berlaku suatu asas, yaitu apabila seseorang
meninggal dunia (pewaris), maka demi hukum dan seketika itu juga hak
kewajibannya beralih kepada para ahli warisnya, sepanjang hak dan kewajiban
yang dapat dinilai dengan uang. Sistem menghendaki agar harta peninggalan
pewaris sesegera mungkin dapat dibagi – bagi kepada mereka yang berhak atas
harta tersebut.
Kalaupun harta peninggalan pewaris hendak dibiarkan dalam keadaan tidak
terbagi, maka harus melalui persetujuan oleh seluruh ahli waris, Adapun
perbedaan antara harta warisan dan harta peninggalan adalah harta warisan belum
dikurangi hutang dan biaya-biaya lainnya telah siap untuk dibagi. Sedangkan
harta peninggalan sudah dikurangi hutang dan telah siap untuk dibagi.
Pewaris sebagai pemilik harta, adalah mempunyai hak mutlak untuk mengatur
apa saja yang dikehendaki atas hartanya. Ini merupakan konsekuensi dari hukum
waris sedagai hukum yang bersifat mengatur. Ahli waris yang mempunyai hak
mutlak atas bagian yang tidak terseedia dari harta warisan. Disebut ahli waris
Legitimaris. Sedangkan bagian yang tidak tersedia dari harta warisan yang
merupakan hak ahli waris Legitimaris, dihnamakan Legitime Portie. Jadi hak
Legitime Porti adahal, hak ahli waris Legitime dinamakan Legitime Portie. Jadi
hal Legitime portie adalah, hak ahli waris Legitimaris terhadap bagian yang tidak
tersedia dari harta warisam disebut waris legitimaris. Didalam hukumwaris
perdata dikenal ada dua cara untuk memperolah warisan yaitu :
1. Ketentuan undang – undang atau wettelijk Erfercht atau Abintestato, yaitu
ahli waris yang telah diatur dalam undang – undang untuk mendapatkan
bagian dari warisan, karena hubungan kekeluargaan atau hubungan darah
dari si meninggal

2
2. Testament atau wasiat atau testamentair erfecht, yaitu ahli waris yang
mendapatkan bagian dari warisan, karena ditunjuk atau ditetapkan dalam
suatu surat wasiat yang ditinggalkan oleh simeninggal.
Ahli waris menurut undang – undang ( abintestato), yaitu karena
kedudukannya
sendiri menurut undang – undang, demi hukum dijamin tampil sebagai ahli waris,
sednagkan ahli waris menurut wasiat ( ad Testamento), yaitu ahli waris yang
tampil karena “ kehendak terakhir ” dari si pewaris, yang kemudian di catatkan
dengan wasiat ( testament ), yang kemudian dicatatkan dalam surat wasiat
(testament). Ahli waris yang tampil menurut wasiat atau testamentair erfrecht,
dapat melalui dua cara yaitu Erfstelling, yang artinya penunjukan satu/ beberapa
orang menjadi ahli waris untuk mendapatkan Sebagian atau seluruh harta
peninggalan, sedangkan orang yang di tunjuk dinamakan testamentair erfgenaam,
yang kemudian di catat dalam surat wasiat , cara kedua yaitu Legaat (hibah
wasiat), adalah pemberian hak kepada seseorang atas dasar testement/wasiat
tersebut baru dapat dilaksanakan, setelah pemberi hibah atau wasiat (pewaris)
meninggal dunia.
Manakah yang lebih didahulukan dan diutamakan, ahli waris menurut
undang – undang atau ahli waris menurut wasiat. Dalam pelaksanaan dari hukum
waris perdata. Ahli waris menurut surat wasiat yang lebih di utamakan, dengan
pengecualian selama seisi dan pembagian dalam surat wasiat tidak bertentangan
dengan undang – undang. Pertimbangan hukumnya karena wasiat merupakan
“kehendak terakhir” dari si pewaris terhadap harta warisannya, dengan ketentuan
tidak boleh merugikan bagian ahli si waris menurut undang – undang, karena ahli
waris menurut undang – undang memiliki bagian mutlak (legitime Portie), yang di
atur pasa; 913 KUHPerdata yang sama sekali tidaK bisa dilanggar bagiannya.
Ahli waris memiliki bagian mutlak disebut juga legitimaris, artinya selama
ahli waris yang bagiannya di tetapkan dalam surat wasiat tidak merugikan bagian
mutlak ahli waris legitimaris, wasiat tersebut bisa dilaksanakan, kalaupun bagian
mjutlak ahli waris lehitimaris dirugikan oleh ahli waris testamentair, maka harus
dikembalikan kepada ahli waris legitimaris, sesuai dengan bagian yang
seharusnya mereka dapatkan.

3
Dalam Hukum waris BW (Perdata) suatu pewarisan terdapat tiga unsur
penting, yaitu : (1) adanya orang yang meninggal dunia selaku pewaris, (2)
adanya harta kekayaan yang ditinggalkan dan, (3) adanya ahli waris. Yang
dimaksud dengan pewaris adalah orang yang meninggal dunia dengan
meninggalkan harta kekayaan. Sedangkan yang dimaksud ahli waris. Yang
dimaksud dengan pewaris adalah orang yang meninggal dunia dengan harta
kekayaan. Sedangkan yang di maksud ahli waris adalah orang – orang yang yang
gantikan kedudukan si pewaris dalam bidang hukum harta kekayaan, kareana
meninggalnya pewaris. Selanjutnya yang dimaksud warisan adalah harta kekayaan
yang dapat berupa Kumpulan aktiva dan pasiva dari si pewaris yang berpindah
kepada para ahli waris.
Selanjutnya agar dapat menjadi ahli waris harus memenuhi beberapa
persyaratan, yaitu :
1. Harus ada orang yang meninggal dunia
2. Ahli waris harus ada pada saat si pewaris meninggal dengan tetap
memperhatikan dua pasal KUHPerdata yang menyatakan bahwa yang
masih dalam kandungan seorang ibu, dianggap sebagai telah hari bila
mana kepentingan si anak tersebut menghendaki, dan apabila anak
lahir meninggal maka ia anggap tidak pernah ada.
3. Seorang ahli waris harus cakap serta berhak mewarisi dalam arti
dinyatakan oleh undang – undang sebagai seorang yang tidak patut
mewarisi kerena kematian, atau dianggap sebagau tidak cakap untuk
menjadi ahli waris.
Mengenai kriteria ahli waris dinyatakan tidak patut menjadi ahli waris menurut J,
Satrio, adalah :
1. Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh
atau mencoba membunuh si pewaris
2. Mereka yang dengan putusan hakim pernah dipersalahkan karena
fitnah telah mengajukan bahwa sipewaris telah melakukan kejahatan
yang dianvcam dengan hukuman penjara 5 tahun atau lebih.
3. Mereka yang dengan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si
pewaris untuk membuat wasiat

4
4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat
wasiat dari si pewaris.
Ketentuan dalam pasal 839 KUHPerdata mewajibkan seseorang ahli waris
yang tidak patuh itu untuk mengembalikan apa yang telah diambil dari barang -
barang warisan semejnak warisan jatuh terluang.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertin Hukum Waris ?
2. Bagaimana Hak dan Kewajiban Pewaris dan ahli Waris ?
3. Bagaimana Pembagian Warisan ?
4. Bagaimana Sistem Hukum Waris di Indonesia ?
5. Bagaimana ahli waris yang tidak patut menerima Harta Warisan ?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian hukum waris
2. Untuk mengetahui Hak dan Kewajiban Pewaris dan Ahli Waris
3. Untuk mengetahui Pembagian Warisan
4. Untuk mengetahui Sistem Hukum Waris di Indonesia
5. Untuk mengetahui ahli waris yang tidak patut menerima Harta Warisan

5
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN HUKUM WARIS

Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata, belum
terdapat kodifikasi. Hal ini berarti bahwa bagi berbagai golongan penduduk
Indonesia masih berlaku hukum yang berbeda – beda seperti :
1. Hukum waris Adat, sampai saat ini hukum waris adat masing – masing
daerah diatur secara berbeda – beda
2. Hukum waris Islam, bagi yang beragama islam ( Sebagian penduduk
Indonesia yang beragama islam). Hukum waris Islam ini diatur dalam
intruski Presiden No: 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
( Pasal 171 -214 KHI).
3. Hukum waris Barat, bagi mereka yang tunduk pada Hukum Perdata Barat,
Berlaku ketentuan dalam KUHPerdata (BW). Hukum waris diatur bersama
– sama dengan hukum benda, alasannya :
a. Hukum waris dianggap sebagai suatu hak kebendaan (Pasal 528
KUHPerdata).
b. Hukum waris merupakan salah satu cara yang di tentukan secara
limitative oleh UU untuk memperoleh hak milik (Pasal 584
KUHPerdata).
Sampai saat ini baik para ahli hukum Indonesia maupun di dalam
kepustakaan ilmu hukum Indonesia, belum terdapat keseragaman pengertian
sehingga istilah untuk hukum waris beraneka ragam.

6
2.2 SISTEM HUKUM WARIS DI INDONESIA

2.2.1 HUKUM WARIS ADAT


Bersumber dari kebiasaan dan tradisi setempat. Aturan yang diwariskan
turun-temurun dan dipatuhi oleh masyarakat adat. Dapat berupa lisan atau
tertulis. Aturan ini juga dapat berbeda-beda di setiap daerah, tergantung
pada system kekerabatan yang dianut masyarakat setempat.

Ada tiga system kekerabatan utama yang mempengaruhi pembagian


warisan dalam Hukum Adat :

1. Patrilineal : Garis keturunan ditarik dari pihak bapak, sehingga pria


memiliki keududukan lebih dominan dalam pembagian warisan.
Contohnya terdapat di Lampung, Nias, dan NTT
2. Matrilineal : Garis keturunan diambil dari pihak ibu, sehingga anak
perempuan lebih diutamakan dalam pembagian warisan. Contohnya
terdapat di Minangkabau dan Enggano.
3. Parantal atau Bilateral : Garis keturunan ditarik dari kedua belah pihak,
bapak dan ibu, dengan kedudukan anak laki-laki dan perempuan sama
dalam pembagian warisan. Contohnya terdapat di Sumatera Timur,
Sumatera Selatan, Kalimantan.

2.2.2 HUKUM WARIS ISLAM


Hukum Waris Islam berlaku bagi umat Muslim dan didasarkan pada
ketentuan syariat Islam yang mengatur hak dan kewajiban ahli waris
secara rinci. Al-Qur’an dan Hadis menjadi dasar dari Hukum Waris Islam,
dengan prinsip bahwa ahli waris utama adalah suami/istri, anak-anak, dan
kerabat dekat lainnya.

7
Dalam hukum Islam, ada beberapa pengecualian yang menyebabkan
seseorang tidak berhak menerima warisan, seperti budak, perbedaan
agama, dan pelaku pembunuhan pewaris.

2.2.3 HUKUM WARIS PERDATA

Hukum Waris Perdata diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


(KUHPerdata) yang mengatur pembagian warisan secara umum bagi warga non-
Muslim atau yang memilih hukum ini. Dalam KUHPerdata, ahli waris
dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, antara lain yaitu :

- Golongan I : Suami/Istri dan keturunan langsung (anak)


- Golongan II : Orang tua dan saudara kandung
- Golongan III : Kakek dan nenek
- Golongan IV : Keluarga sedarah yang berada dalam garis keturunan atas.
Pembagian warisan menurut KUHPerdata bersifat seimbang tanpa membedakan
jenis kelamin. Ahli waris menerima bagian sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
dan ada du acara memperoleh warisan, yaitu berdasarkan undang-undang (ab
intestato) atau melalui surat wasiat (testamentair).

2.3 PROSES PENGAJUAN GUGATAN WARISAN DI


PENGADILAN

Untuk pengajuan gugatan waris di pengadilan, maka perlu melihat agama pewaris
setelah meninggal dunia. Bila agama pewaris adalah Islam, maka gugatan
pembagian waris diajukan ke pengadilan agama. Sedangkan, apabila agama
pewaris beragama non Islam, maka gugatan waris diajukan di pengadilan negeri

Sesuai dengan SEMA No. 7 Tahun 2012 – Kamar Agama – 10 :


“ Agama pewaris menentukan pengadilan yang berwenang. Pewaris yang
beragama Islam sengketa kewarisannya menjadi kewenangan peradilan

8
agama, sedangkan pewaris yang beragama selain Islam ke peradilan
umum. “

2.3.1 DASAR HUKUM GUGATAN PEMBAGIAN WARIS

Untuk pewaris yang meninggal beragama Islam, gugatan pembagian waris


diajukan ke Pengadilan Agama dengan dasar hukum Pasal 188 Kompilasi Hukum
Islam (KHI) :
“Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan dapat
mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan
pembagian harta warisan. Bila ada diantara ahli waris yang tidak
menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat mengajukan
gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian
warisan.”

Untuk pewaris yang meninggal beragama non-Islam (Kristen Protestan, Kristen


Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu) maka gugatan pembagian waris diajukan
ke pengadilan negeri dengan memakai sistem KUHPerdata dengan dasar hukum
Pasal 834 KHUPerdata :
“Ahli waris berhak mengajukan gugatan untuk memperoleh
warisannya terhadap semua orang yang memegang besit atas seluruh
atau sebagian warisan itu dengan alas hak ataupun tanpa alas hak,
demikian pula terhadap mereka yang dengan licik telah menghentikan
besitnya”

2.3.2 SYARAT DAN PROSEDUR GUGATAN WARIS

Adapun syarat mengajukan gugatan waris ke pengadilan, yaitu :


1. KTP Ahli waris sebagai Penggugat;

9
2. Identitas Tergugat sebagai ahli waris lain;
3. Kartu Keluarga Ahli Waris;
4. Akta Lahir Pewaris;
5. Surat kematian pewaris;
6. Identitas pewaris jika masih ada (KTP & KK);
7. Buku Nikah/ Akta kawin Pewaris;
8. Surat Keterangan Waris dari Kecamatan (jika ada);
9. Dokumen objek harta seperti sertifikat kepemilikian atau bukti kepemilikian ahli
waris.

Adapun prosedur mengajukan gugatan waris ke pengadilan :


1. Menyiapkan surat gugatan waris yang berisi alasan-alasan mengajukan gugatan
waris;
2. Mendaftarkan ke pengadilan surat waris dan membayar biaya administrasi;
3. Menunggu panggilan sidang setelah daftar sekitar 2 (dua) s/d 3 (tiga) minggu;
4. Melakukan persidangan yang dapat berlangsung 3 (tiga) s/d 6 (enam) bulan paling
lama pada tingkat pengadilan pertama.

2.3.3 HAK DAN KEWAJIBAN AHLI WARIS MENURUT


KUHPER

Berikut adalah hak dan kewajiban ahli waris menurut KUHPer :


Hak Ahli Waris :
1. Menerima Harta Waris, ahli waris berhak menerima harta warisan yang
ditinggalkan oleh pewaris. Harta warisan ini meliputi aktiva dan pasiva
yang dimiliki oleh pewaris
2. Menggunakan Harta Waris, ahli waris dapat menggunakan harta warisan
untuk keperluan pribadi atau untuk membayar hutang-hutang yang
dimiliki oleh pewaris
3. Membagi Harta Waris, ahli waris harus membagi harta warisan sesuai
degan ketentuan hukum yang berlaku. Pembagian ini dilakukan

10
berdasarkan golongan-golongan ahli waris yang ditentukan dalam
KUHPer
4. Menggugat Harta Waris, jika ada sengketa mengenai harta warisan, ahli
waris dapat mengajukan gugatan untuk menurut harta warisan yang
seharusnya menjadi milik mereka.

Kewajiban Ahli Waris :


1. Membayar Hutang Pewaris, membayar hutang-hutang yang dimiliki oleh
pewaris sebelum membagi harta warisan.
2. Menggunakan Harta Waris untuk Kebutuhan Pewaris, harus menggunakan
harta warisan untuk kebutuhan pewaris salaam sakit dan sebelum
meninggalnya.
3. Membayar Biaya Pengurusan Jenazah, wajib membayar biaya pengurusan
jenazah untuk membiayai penguburan pewaris.
4. Menggunakan Harta Waris untuk Kebutuhan Keluarga, dapat menggunakan
harta untuk kebutuhan keluarga pewaris.

2.4 CONTOH KASUS SENGKETA WARIS DI INDONESIA

Sengketa waris merupakan salah satu jenis perkara yang paling sering
menimbulkan konflik dalam keluarga. Tidak jarang perebutan harta peninggalan
orang tua atau kerabat berujung pada permusuhan berkepanjangan dan proses
litigasi yang melelahkan. Namun, terdapat pula kasus-kasus di mana penyelesaian
damai dapat tercapai melalui jalur mediasi yang difasilitasi oleh pengadilan. Salah
satu contohnya adalah perkara waris yang terjadi di Pengadilan Agama Sleman.

11
2.4.1 LATAR BELAKANG SENGKETA

Perkara ini berkaitan dengan harta peninggalan ayah dan ibu dari pihak (para
penggugat dan tergugat) terdiri dari harta tidak bergerak berupa tiga bidang tanah
yang nilainya milyaran rupiah serta harta bergerak berupa tabungan dan deposito,
alat transportasi, perhiasan serta peralatan rumah tangga yang diklaim oleh para
pengugat bernilai tidak kurang dari 20 M

2.4.2 PROSES PERSIDANGAN DAN MEDIASI

Perkara sengketa ini didaftarkan di Pengadilan Agama Sleman pada 27 Oktober


2020 dengan nomor perkara 1510/Pdt.G/2020/PA.Smn dan mulai disidangkan
pada 10 November 2020. Dalam persidangan, hakim menunjuk Drs. H. Arif Irfan
sebagai mediator untuk memfasilitasi proses mediasi, sesuai ketentuan Perma No.
1 Tahun 2016.
Proses mediasi dilakukan sebanyak lima kali pertemuan. Dalam mediasi, hakim
menggunakan pendekatan kekeluargaan, nilai religious, serta komunikasi
persuasive yang mendorong para pihak agar memprioritaskan perdamaian dan
menjaga hubungan keluarga.

2.4.3 KESEPAKATAN PERDAMAIAN

Setelah melalui beberapa kali pertemuan, para pihak sepakat berdamai pada 8
Desember 2020. Isi perdamaian mencakup :
 Pembagian harta waris secara adil berdasarkan musyawarah
 Penunjukan pihak ketiga (appraisal) untuk menilai-nilai harta warisan agar
adil dan objektif

12
 Komitmen untuk tidak membawa persoalan ini ke proses hukum lanjutan
Kesepakatan tersebut disahkan oleh pengadilan dalam bentuk akta perdamaian,
yang memiliki kekuatan hukum tetap. Para pihak sepakat untuk melaksanakan isi
kesepakatan paling lambat dalam waktu 7 hari.

2.4.4 ANALISIS DAN NILAI HUKUMNYA


Kasus ini menunjukkan bahwa mediasi merupakan instrument penting dalam
menyelesaikan perkara waris secara efisien dan damai. Selain menghindari
konflik berkepanjangan, penyelesaian melalui mediasi juga mempertahankan
hubungan kekeluargaam, ini menjadi cerminan nilai-nilai hukum yang tidak hanya
menitikberatkan pada keadilan formal, tetapi juga keadilan substantif dan
kemanusian.
Peran hakim sebagai mediator sangat penting, tidak hanya sebagai penegak
hukum tetapi juga sebagai juru damai yang bijak dan komunikatif. Kasus ini dapat
menjadi preseden positif dalam penerapan mediasi di perkara waris lainnya di
Indonesia.

13
Kesimpulan :

Saran

14
DAFTAR PUSTAKA
https://www.hukumonline.com/berita/a/pengertian-hukum-perdata-menurut-
para-ahli-lt6450ac1b1741b/
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-gorontalo/baca-artikel/17540/Dasar-
dasar-Hukum-Perdata-di-Indonesia.html
https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-hukum-perdata-dan-contoh-
hukum-perdata/?srsltid=AfmBOooEsVjOZJiKhWy8p2-cztRl-
2i_LMNovjZIhVZPlR3gYZ02wFGz
http://repository.untagsmg.ac.id/1005/1/pokok%20pokok%20hukum
%20perdata.pdf
https://fh.unikama.ac.id/id/mengenal-sistem-dan-prinsip-hukum-waris-di-
indonesia/
https://aisahpartnerslawfirm.co.id/2024/08/08/bagaimana-cara-pengajuan-
gugatan-waris-di-pengadilan/
https://putusan3.mahkamahagung.go.id/rumusan_kamar/detail/
11e9d47b7b30f58c82f3313730343032.html
https://badilag.mahkamahagung.go.id/seputar-peradilan-agama/berita-
daerah/hakim-pa-sleman-berhasil-damaikan-sengketa-waris-milyaran-
rupiah-8-2

15

Anda mungkin juga menyukai