0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
185 tayangan62 halaman

Anestesi Blok Subaraknoid pada Fraktur Femur

ANESTESI BLOK SUBARAKNOID PADA UNION FRAKTUR FEMUR 1/3 PROXIMAL DEXTRA DENGAN HIPERTENSI GRADE I DAN GERIATRI Pada laporan kasus ini akan membahas mengenai ROI (removele Of Inplate) fraktur femur 1/3 proximal dextra

Diunggah oleh

dr. Rachel Sagrim
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
185 tayangan62 halaman

Anestesi Blok Subaraknoid pada Fraktur Femur

ANESTESI BLOK SUBARAKNOID PADA UNION FRAKTUR FEMUR 1/3 PROXIMAL DEXTRA DENGAN HIPERTENSI GRADE I DAN GERIATRI Pada laporan kasus ini akan membahas mengenai ROI (removele Of Inplate) fraktur femur 1/3 proximal dextra

Diunggah oleh

dr. Rachel Sagrim
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

ANESTESI BLOK SUBARAKNOID PADA UNION FRAKTUR


FEMUR 1/3 PROXIMAL DEXTRA DENGAN
HIPERTENSI GRADE I DAN GERIATRI

Pembimbing : dr.Albinus Cobis, SpAn, M.Kes

Oleh :

Asril Samulung, S.ked


0090840095

7/23/2017
PENDAHULUAN
2

Anestesi Yunani. An-tidak, tanpa dan aesthesos, persepsi,


kemampuan untuk merasa. Secara umum berarti suatu tindakan
menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan.

Ada tiga kategori utama anestesi yaitu anestesi umum,


.
anestesi regional dan anestesi lokal.

blok subarachnoid (SAB) operasi tubuh bagian bawah : ekstremitas


bawah, perineum, maupun abdomen bagian bawah.

7/23/2017
PENDAHULUAN
3

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa

fraktur dibagi berdasarkan dengan kontak dunia luar, yaitu meliput fraktur
tertutup dan terbuka.

Pada laporan kasus ini akan membahas mengenai ROI (removele Of Inplate)
fraktur femur 1/3 proximal dextra

7/23/2017
Tinjauan Pustaka
4

Anestesi Blok Subaraknoid


(Anestesi Spinal)

anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik


lokal ke dalam ruang subaraknoid

vertebra L2-L3 atau L3-L4


atau L4-L5

Jarum spinal diinsersikan di bawah


lumbal 2 dan di atas vertebra sakralis

7/23/2017
Anestesi Blok Subaraknoid (Anestesi Spinal)
5

Bedah ekstremitas bawah


Bedah panggul
Tindakan sekitar rektum perineum
Bedah obstetrik-ginekologi
Bedah urologi
Indikasi
Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas & bawah
pediatrik biasanya dikombinasikan dgn
anesthesia umum ringan.

7/23/2017
Anestesi Blok Subaraknoid (Anestesi Spinal)
6

Kontraindikasi Absolut Kontraindikasi Relatif


Pasien menolak Infeksi sistemik (sepsis,
Infeksi pada tempat suntikan bakteremi)
Hipovolemia berat, syok Infeksi sekitar tempat suntikan
Koagulapatia/mendapat Kelainan neurologis
terapi koagulan Kelainan psikis
Tekanan intrakranial Bedah lama
meningkat Penyakit jantung
Fasilitas resusitasi minim Hipovolemia ringan
Kurang pengalaman/ tanpa Nyeri punggung kronis.
didampingi konsulen
anestesi.
7/23/2017
Anestesi Blok Subaraknoid (Anestesi Spinal)
7

Persiapan analgesia spinal


Informed consent (izin dari pasien)
Peralatan analgesia spinal:
Pemeriksaan Fisik Peralatan monitor
Pemeriksaan TD, nadi, oksimetri denyut & EKG.
Peralatan resusitasi/anestesi umum
Jarum spinal

7/23/2017
Teknik Analgesia Spinal
8

1.Tidurkan pasien posisi lateral dekubitus


membungkuk maximal processus spinosus
mudah teraba.
2.Tusukan pada L2-L3, L3-L4, L4-L5
3.Bisa dalam posisi duduk
4.Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau
alkohol.
5.Beri anastesi lokal pada tempat tusukan, misalnya
dengan lidokain 1-2% 2-3 ml.
6.Cara tusukan median dan paramedian
7.Posisi anestesi spinal

7/23/2017
Obat Anestesi Spinal
9

berat jenis obat > berat jenis CSS


Hiperbarik
perpindahan obat ke dasar akibat gravitasi

berat jenis obat < berat jenis CSS


obat akan berpindah dari area penyuntikan ke atas.
Hipobarik

berat jenis obat = berat jenis CSS


obat akan berada di tingkat yg sama di tempat
Isobarik penyuntikan.

7/23/2017
Obat Anestesi
10

Lidokain Buvipakain
Lidokain suatu obat anestesi lokal yg Bupivakain obat anestetik lokal yang
poten, yg dapat memblokade otonom, termasuk dalam golongan amino
sensoris dan motoris. amida.
Lidokain berupa larutan 5% dalam Bupivacain konsentrasi 0,5% tanpa
7,5% dextrose, merupakan larutan yg
adrenalin, analgesiknya sampai 8 jam.
hiperbarik.
Volume yg digunakan < 20 ml.
Mula kerjanya 2 menit dan lama
Potensi 3-4 kali
kerjanya 1 - 2 jam.
Lama kerja 2-5 kali
Lama analgesi prokain <1 jam, lidokain
1-1,5 jam, tetrakain 2 jam lebih. Jumlah obat yang terikat pada saraf
lebih banyak
7/23/2017
Anestesi Blok Subaraknoid (Anestesi Spinal)
11

Lidokain (xylobain,lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobarik,


dosis 20-100 mg (2-5ml).

Lidokain (xylobain,lignokaine) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis


1.003, sifat hiperbarik, dosis 20-50 mg (1-2 ml).

Bupivakain (markaine) 0.5% dlm air: berat jenis 1.005, sifat


isobarik, dosis 5-20 mg

Bupivakain (markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: berat jenis 1.027,


sifat hiperbarik, dosis 5-15 mg (1-3 ml)

7/23/2017
Anestesi Blok Subaraknoid (Anestesi Spinal)
12

Komplikasi tindakan
Hipotensi berat
Komplikasi pasca tindakan
Bradikardia
Nyeri tempat suntikan
Hipoventilasi
Nyeri punggung
Trauma pembuluh saraf
Nyeri kepala
Trauma saraf
Retensio urine
Mual-muntah

Gangguan pendengaran Meningitis.

7/23/2017
Anestesi Blok Subaraknoid (Anestesi Spinal)
13

status anestesi menurut The American Society Of Anesthesiologist (ASA).


PS ASA I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.
PS ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.
PS ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin terbatas.
PS ASA IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin
dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupan setiap saat.
PS ASA V : Pasien sekarat yg diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya
tidak akan lebih dari 24 jam.

Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dg mencantumkan tanda darurat
(E = EMERGENCY), misalnya ASA IE atau IIE.

7/23/2017
Fraktur Femur
14
Femur tulang terpanjang dari
tubuh.
Bersendi dengan asetabulum dalam
formasi persendian panggul
Medial ke lutut dan membuat sendi
dengan tibia.

7/23/2017
Tipe-tipe Fraktur Femur
15

Fraktur Femur adalah rusaknya


kontinuitas tulang pangkal paha
yang dapat disebabkan oleh trauma
langsung, kelelahan otot , kondisi-
kondisi tertentu seperti degenerasi
tulang/osteoporosis.

Oblik Kominutif Spiral Transversal

7/23/2017
Etiologi
16

Cedera langsung
Cedera traumatik
Cedera tidak langsung

Tumor tulang
Fraktur Patologik
osteomielitis
Rakhitis

polio
Secara spontan orang yang bertugas
dikemiliteran.

7/23/2017
Fraktur Femur
17

Nyeri hebat ditempat fraktur


Tak mampu menggerakkan
ekstremitas bawah
Tanda dan Gejala Diikuti tanda gejala fraktur
secara umum, seperti :
fungsi berubah, bengkak,
sepsis pada fraktur.

7/23/2017
Diagnosis
18

1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Umum
3. Pemeriksaan Fisik
4. Pemeriksaan Penunjang

status lokalis
Look (inspeksi): Bengkak, deformitas,kelainan
bentuk.
Feel/palpasi: Nyeri tekan, lokal pada tempat
fraktur.
Movement/gerakan: gerakan aktif sakit, pasif
sakit krepitasi.

7/23/2017
Penatalaksanaan Fraktur
19

Non
farmakologi
Pembidaian
Traksi farmakologi
Fiksasi interna
Antibiotik
Gips
NSAID
ORIF
Ranitidin
Parasetamol

7/23/2017
Anestesi pada geriatri
20

Batasan lansia (WHO)


usia pertengahan (middle age) : usia antara
45 - 59 tahun,
lanjut usia (eldery) usia antara 60 - 74
tahun,
lanjut usia tua (old) usia antara 76 - 90
tahun,
usia sangat tua (very old) usia > 90
tahun.

7/23/2017
Anestesi pada geriatri
21

Menurunannya kemampuaan untuk meningkatkan Heart Rate dalam

merespon terjadinya hipovolemi, hipotensi atau hipoksia.

Menurunyan komplain paru

Menurunnya Tekanan Oksigen di arteri

Kemampuan batuk terganggu

Menurunnya fungsi tubular ginjal.

Meningkatnya kelemahan terhadap hypotermi

7/23/2017
Anestesi pada geriatri
22

usia lanjut cairan tubuh total dan lean body mass dan juga respons
regulasi termal, dengan akibat mudah terjadi intoksikasi obat dan juga mudah
terjadi hipotermi.

Sistem saraf. Masa otak menurun sesuai dengan usia; neuron yang
berkurang menonjol di kortek cerebral, terutama lobus frontal. CBF menurun
sekitar 10 20% sesuai dengan berkurangnya sel saraf. Ini berhubungan erat
dengan metabolisme

7/23/2017
Anestesi pada geriatri
23

Paru dan sistem pernafasan Sistem kardiovaskular:


Elastisitas jaringan paru berkurang, Proses degeneratif pada sistem
Kontraktilitas dinding dada hantaran,
menurun, Gangguan irama jantung.
Meningkatnya ketidak serasian Katup mitral menebal,
antara ventilasi dan perfusi,
Compliance ventrikel berkurang,
Relaksasi isovolemik memanjang,
Ginjal Gangguan pengisian ventrikel pada
fase diastolik dini,
Nefron berkurang,
hipotensi
laju filtrasi glomerulus (LFG) dengan
Bila terjadi dehidrasi, takiaritmia atau
akibat mudah terjadi intoksikasi obat.
vasodilatasi.
Respons terhadap kekurangan na
menurun, sehingga berisiko terjadi
dehidrasi.

7/23/2017
Anestesi pada geriatri
24

Saluran pencernaan Muskuloskeletal

Asam lambung sudah berkurang Masa otot berkurang.

Motilitas usus berkurang sering lemah dan mudah


terjadi ruptur

Hati Sistem imun

Aliran darah dan oksidasi Fungsi sel T terganggu


mikrosomal berkurang terjadi involusi kelenjar
Fungsi metabolisme obat juga timus, dengan akibat risiko
menurun. infeksi.

7/23/2017
Hipertensi
25

7/23/2017
Manajemen Perioperatif
Penderita Hipertensi
26
Penilaian Preoperatif Penderita Hipertensi

Jenis pendekatan medikal yang diterapkan dalam terapi


hipertensinya.

Penilaian ada tidaknya kerusakan atau komplikasi target organ yang


telah terjadi.

Penilaian yang akurat tentang status volume cairan tubuh penderita.

Penentuan kelayakan penderita untuk dilakukan tindakan teknik


hipotensi, untuk prosedur pembedahan yang memerlukan teknik
hipotensi.

7/23/2017
Pertimbangan Anestesia
Penderita Hipertensi
27

TDD 110 / 115 : cut-off point utk mengambil keputusan


penundaan anestesia/operasi kecuali operasi emergensi.

The American Heart Association / American College of


Cardiology (AHA/ACC) : TDS 180 mmHg dan/atau TDD 110
mmHg sebaiknya dikontrol sebelum dilakukan operasi, terkecuali
operasi bersifat urgensi

7/23/2017
Laporan kasus
28

Identitas Pasien
Nama : Ny. O.N
No. DM : 394041
Umur : 69 tahun
Alamat : Hamadi
BB : 50 Kg
TB : 153 cm
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : IRT
Suku bangsa : Papua
Ruangan :Bedah Wanita
Tanggal operasi : 24 Mei 2016

7/23/2017
Anamnesa
29

Keluhan
utama Ingin operasi lepas pen

Tahun 2015 (oktober) pasien


kecelakaan lalu lintas
Patah di daerah paha kanan
Riw. Penyakit
sekarang ORIF
Keluhan lain disangkal

7/23/2017
30

Riw. Penyakit dahulu


Riw. Hipertensi : (+) tidak pernah diterapi
Riw. Diabetes melitus : disangkal
Riw. Penyakit kardiovaskular : disangkal
Riw. Penyakit pernapasan : disangkal
Riw. Operasi sebelumnya : (+) 2015
Riw. Obat yang diminum : tidak ada
Riw. Anestesi : (+) subaracnoid block
Riw. Alergi

Riw. Penyakit keluarga Riw. alergi makanan : disangkal


Riw. alergi minuman : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riw. alergi obat : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat jantung : disangkal
Riwyata hipertensi : ayah pasien

7/23/2017
Pemeriksaan Fisik
31

a. Vital Sign

Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos Mentis

GCS : E4V5M6

TTV : Tekanan Darah = 140/90 mmHg, Nadi = 80 x/menit,

reguler, kuat angkat, terisi penuh Respirasi Rate = 20 x

/mnt, Suhu = 36,9oC

7/23/2017
Pemeriksaan Fisik
32

a. Status Generalis

Kepala : Norrmocephali, jejas (-), oedema (-)

Mata : Sekret (-/-), Conjungtiva anemis (-/-),

sklera ikterik (-/-).

Hidung : Deformitas (-), sekret (-), perdarahan (-)

Telinga : Deformitas (-), darah (-)

Leher : Pembesaran KGB (-), JVP dalam batas normal, trakea


di tengah, malampati score 1.

7/23/2017
Pemeriksaan Fisik
33

Thorax

Paru-paru

Inspeksi : simetris, dalam keadaan statis & dinamis, retraksi


dinding dada (-), jejas (-)

Palpasi : vokal fremitus kanan dan kiri simetris

Perkusi : sonor pada paru kanan dan kiri

Auskultasi : suara nafas dasar : vesikuler suara tambahan :


wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

7/23/2017
Pemeriksaan Fisik
34

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga ke V, 1 cm ke medial linea mid
clavicularis sinistra, tidak kuat angkat, tidak melebar.
Perkusi

Batas atas : ICS II linea parasternalis kiri


Pinggang : ICS III linea parasternalis kiri
Batas kiri : ICS V 1 cm ke lateral linea midclavicularis kiri
Batas kanan : ICS V linea parasternalis kanan
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)

7/23/2017
Pemeriksaan Fisik
35

Abdomen

Inspeksi : tampak datar , caput medusa (-), jejas (-)

Auskultasi : peristaltic (+) normal 4x / menit

Palpasi : supel, nyeri tekan (-) , turgor normal, massa (-)

hepar : tidak teraba membesar

Lien : tidak teraba membesar

Perkusi : timpani, shifting dullnes (-)

7/23/2017
Pemeriksaan Fisik
36

Ekstremitas
Superior : akral teraba hangat(+), sianosis (-/-), oedem (-/-)
Inferior : akral hangat (+), sianosis (-/-), oedema (-/-)
Status Lokalis
Regio : femoralis dextra
Look (inspeksi) : tampak luka bekas operasi, bengkak(-),

deformitas(-), kelainan bentuk(-).

Feel/palpasi : nyeri tekan (-), arteri dorsalis pedis dextra teraba.

Movement/gerakan : gerakan aktif baik, gerakan pasif baik.

7/23/2017
Pemeriksaan Penunjang
37

Hasil laboratorium darah lengkap tanggal Hasil laboratorium kimia lengkap


10 Mei 2016 tanggal 10 Mei 2016
Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Hasil
Gula darah
Hb 11,7 g/d 95 mg/dL
sewaktu
Leukosit 6660 46 mg/dL
Ureum
Trombosit 193.000 /ult 1,0 mg/dL
Kreatinin
7,9 g/dl
Protein
Hasil laboratorium 10 Mei 2016 4,3 g/dl
Albumin
Pemeriksaan Hasil 3,6 g/dl
Globulin
CT 930 15 U/L
SGOT
BT 300 11 U/L
SGPT
3,8 mmol/L
Kalium
140 mmol/L
Natrium
105 mmol/L
Hasil pemeriksaan serologi Clorida

PITC : Non Reaktif

7/23/2017
Pemeriksaan Penunjang
38
Hasil EKG Poto Thorax

Poto Klinis

7/23/2017
Konsultasi Yang Terkait
39

Jawaban Konsul Penyakit Dalam


(11-5-2016)
Diabetes Melitus (-)
Jawaban Konsul Anestesi
Hipertensi (+) (11-5-2016)
Hipertensi Grade I Informed Consent
EKG kesan normal. Puasa Mulai Jam 24.00 WIT
Toleransi kardiologi baik. Jam 06.00 : Ukur tekanan darah
Infus RL 20 tpm
Sedia darah 2- 3 bag

7/23/2017
Penentuan PS ASA
40

PS. ASA 2 (Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang). Pasien
dengan Tekanan darah 140/90 mmHg, Hipertensi Grade I dan Umur
Pasien : 69 tahun, termasuk kategori Geriatri.

7/23/2017
B1 Airway bebas, thorax simetris,

Persiapan Anestesi ikut gerak napas, RR:20 x/m,


palpasi: Vocal Fremitus D=S,

41 perkusi: sonor, suara napas


vesikuler +/+,
PS. ASA III ronkhi-/-, wheezing -/-
Informed + ,malampati score: I
Consent
B2 Perfusi: hangat, kering, merah.
Hari/Tanggal 24/05/2016 Capilari Refill Time < 2 detik,
Diagnosa Pra - Union remove of implant BJ: I-II murni regular,
Bedah fraktur femur 1/3 proximal konjungtiva anemis -/-
dextra.
B3 Kesadaran Compos Mentis,
Diagnosa Pasca - Post remove of implant
GCS: 15(E4V5M6), riwayat kejang
Bedah fraktur femur 1/3 proximal
(-), riwayat pingsan (-)
dextra.
Makan terakhir 9 jam yang lalu B4 Terpasang DC, produksi urin
BB 50 Kg durante op
TTV TD :140/70 mmHg, N: 86 x/m, (+ 150 cc),
SpO2 SB: 36,70 C B5 Perut tampak datar, palpasi:
100 % nyeri tekan (-), perkusi :
tympani,BU (+) normal
B6 Akral hangat (+), edema (-),
fraktur (-).
7/23/2017
Laporan Anestesi
Ahli Anestesiologi dr. D. W. Sp.An KIC 42
Jenis Anestesi Blok subaraknoid (blok spinal)

Anestesi Dengan Buvipakain 0,5 % 15 mg


Pre Medikasi -
Teknik Anestesi Pasien duduk di meja operasi dan
Induksi - Bupivakain 0,5% 15 mg
kepala menunduk, dilakukan aseptic di
Maintenance - Fentanyl 10 mg
sekitar daerah tusukan yaitu di regio
- midazolam 25 mg
vertebra lumbal 3-4, dilakukan blok
- Ranitidine 50 mg
subaraknoid (injeksi Decain 0,5 %15
- Ondansentron 4 mg
mg) dengan jarum spinal 27G pada
regio vertebra antara lumbal 3-4, - Metamezole 500 mg

Cairan serebro spinal keluar (+) jernih, - Ceftriaxone 1 gr, skin


dilakukan blok. test dulu

Pernafasan Spontan - Furosemid 20 mg


Post operasi
Posisi Tidur terlentang (Supine)

Infus Tangan Kanan, IV line abocath 18 G,


cairan RL

Penyulit -
pembedahan

Tanda vital pada TD: 127/77 mmHg, N:75 x/m, SB: 36,7C
akhir pembedahan RR: 22 x/m 7/23/2017
Laporan Pembedahan
43

Nama Pasien / Umur : Ny. O. N / 69 tahun

NO DM : 39 40 41

Ahli Bedah : dr. R. T. Sp.OT

Jenis Pembedahan : Remove of Implant

Lama Operasi : 11.55 12.35 WIT (40 menit)

Teknik Pembedahan : - Informed Consent + Antibiotik Profilaksis

- Pasien posisi Supine dalam pengaruh SAB

- Desinfeksi lapangan operasi

- Incisi 10 cm diperdalam secara tumpul dan tajam

- Plate and screw dilepaskan

- Cuci dengan NaCl 0,9 %

- Lapangan Operasi dijahit dan ditutup

- Operasi selesai.

7/23/2017
Observasi Selama Operasi

44
160

140

120

100

Sistolic
80
Diastolic
Nadi
60

40

20

0
11.50 11.55 12.00 12.05 12.10 12.15 12.20 12.25 12.30 12.35

7/23/2017
Balance Cairan
45

Cairan yang dibutuhkan Aktual

PRE OPERASI
1. Maintenance = BB x Kebutuhan cairan/jam = Input : RL 1000 cc
Output : Urine : +
50 kg x 1-2 cc/kgbb/jam = 50 100 cc/jam
2. Pengganti puasa 9 jam

9 jam x kebutuhan cairan/jam =


9 x 50 100 cc/jam = 450 900 cc
3. Perdarahan = -

7/23/2017
Durante Operasi
46

DURANTE OPERASI Input :


Kebutuhan cairan selama operasi 40 menit Gelafusal 500 cc
1. Maintenance NaCl 0,9% 100 cc
50 kg x 1-2 cc/kgbb/jam = 50 100 cc/jam PRC 350 cc
Untuk 40 menit = 2/3 x 50 100 cc/jam = 34 67 cc Output :
Urine = 150 cc
2. Replacement Total Perdarahan = 60 cc
Perdarahan = 60 cc Suction : -
EBV = 70 cc x BB = 70 cc x 50 kg = 3500 cc Kasa : 60 cc (6 x 10 cc)
EBL = 60 cc, dapat diganti dengan cairan kristaloid
2 - 4 x EBL = 120 240 cc

3. Cairan yang terlokasi selama operasi bedah sedang =


BB x jenis operasi = 50x 4-6 ml/kg = 200 300 cc

Total kebutuhan cairan durante operasi


(34 67 cc) + (120 240 cc) + 250 cc= 404 - 557 cc

7/23/2017
Post Operasi *24 Mei 2016 jam 12.35 sd 07.35 25 Mei 2016 (19 jam menit) Input :
Volume cairan:
Maintenance: RL 1000 cc, D5 % 500 cc
BB x Kebutuhan cairan/ jam x 19 jam = 47
50 kg x 1-2 cc/kgbb/jam x 19 jam = 950 - 1900 cc Kandungan elektrolit:
- Kalori : 1000-1500 kkal/24 jam RL 1000 cc : (Kalium 4
meq, Natrium 130 meq,
kalori - )
D5% 500 cc : ( Kalori 100
kkal, Kalium -, natrium - )

Output : Urin : 900 cc

*25 Mei 2016 jam 08.00 sd 26 Agus 2016 jam 08.00 (24 jam) 25 Mei 2016 jam 08.00 sd 26 Mei
2016 jam 08.00 (24 jam)
Maintenance:
BB x Kebutuhan cairan/hari (24 jam)= Input :
50 kg x 40 50 cc/KgBB/hari = 2000 2500 cc /24 jam Volume cairan:
RL 1000 cc, D5 % 500 cc
Output : Urin : 1300 cc
*26 Mei 2016 jam 08.00 sd 27 Mei 2016=
50 kg x 40 50 cc/KgBB/hari = 2000 2500 cc /24 jam Input :
Volume cairan:
RL 1000 cc, D5% 500 cc

Ouput : Urin 1200 cc

7/23/2017
Instruksi post operasi
48

IVFD RL : D5 2:1

Ceftriaxone 2x1 gr vial (IV)

Ketorolac 3% 3x 3o mg (IV)

Ranitidine 2x50 mg (IV)

Mobilisasi

GV 1x/2hari

7/23/2017
Pembahasan
49

Klasifikasi status penderita PS. ASA 2 (Pasien dengan penyakit sistemik

ringan atau sedang).

Tekanan darah 140/90 mmHg, menurutu klasifikasi JNC VII termasuk dalam

kategori Hipertensi Grade I,

umur pasien 69 tahun, termasuk kategori geriatri.

7/23/2017
Pembahasan
50

Teori Kasus

Bedah ekstremitas bawah Remove of implant dengan


Bedah panggul anestesi spinal (blok
Tindakan sekitar rektum subaraknoid) pada union
perineum fraktur femur 1/3 proximal
Bedah obstetrik-ginekologi dextra
Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas
& bawah pediatrik biasanya
dikombinasikan dgn
anesthesia umum ringan.

7/23/2017
Penentuan obat anestesi
51

Teori (buvipakain0,5%) kasus

Pengaruh sistemik minimal, analgesi Buvipakain 0,5% 15 mg


adekuat
Kemampuan mencegah respon stress
Memenuhi indikasi dari anestesi
block subaracnoid.
Lama kerjanya 240 480 menit
Durasi panjang,
Potensi yang tinggi,
Blokade sensoriknya lebih dominan
Dosis 5-20 mg
Isobarik
Memblok influk natrium
7/23/2017
Tempat suntikan
52

Teori Kasus

vertebra L2 - L3 Vertebra L3-L4


Vertebra L3 - L4 Posisi duduk
Vertebra L4 - L5
L1-L2 atau diatasnya berisiko
trauma terhadap medulla spinalis
Posisi LLD
Posisi duduk

7/23/2017
Critical point
53

Perfusi jaringan

Fungsi jantung pasien,

Operasi sedang

Hipertensi grade I

Geriatri.

7/23/2017
Terapi cairan
54

Pada beberapa penelitian prehidrasi dengan larutan kristaloid 10-20 ml/kg

berat badan efektif mengkompensasi pooling darah di pembuluh darah vena


akibat blok simpatis atau pemberian cairan Ringer Laktat 500 - 1000 ml
secara intravena sebelum anestesi spinal dapat menurunkan insidensi
hipotensi.

7/23/2017
Critical point
55

Teori (geriatri & hipertensi) Kasus

komplain arteri Hipertensi grade I


systolic blood pressure, TD: 140/90 mmHg
hipertrophy ventrikel kiri. Geriatri
Penebalan dinding ventrikel kiri rongga Umur : 69 tahun
dari ventrikel kiri.
perfusi jaringan terkait dengan fungsi
jantung pasien
Penurunan elastisitas pem. darah

7/23/2017
Kebutuhan Cairan Preoperatif
56

Kebutuhan cairan per jam : 50 kg x 1-2 cc/kgbb/jam = 50 100 cc/jam

Pre Operatif :

Pasien puasa selama 9 jam sehingga kebutuhan rumatan pasien harus dipenuhi

sebelum operasi ialah :

Kebutuhan cairan per jam x waktu puasa selama 9 jam adalah 450 900 cc

Selama pre operatif tidak terdapat perdarahan.

Sebelum operasi pasien diberikan resusitasi cairan RL 1000 cc. Sehingga

kebutuhan cairan pasien sebelum operasi telah terpenuhi

7/23/2017
Durante Operatif
57

Perdarahan :

Estimate Blood Volume (EBV) dari pasien ini ialah : = 60 cc x BB = 60 cc x 50

kg = 3000 cc

Perdarahan yang terjadi selama operasi sebanyak 60 cc sehingga Estimate

Blood Loss (EBL) dari pasien ini ialah : 60/3000 x 100 % = 2 %. Pada pasien
ini perdarahan yang terjadi dapat digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak
2 4 x dari jumlah perdarahan. Kebutuhan cairan sebagai pengganti
perdarahan ialah :

(2 x 60 = 120 cc) (4 x 60 = 240 cc)

7/23/2017
58

Kebutuhan cairan replacement pada durante operasi adalah :

Kebutuhan cairan maintanace pada durante operasi selama 40 menit = 2/3 x

50 100 cc/jam = 34 67 cc.

Jadi, total kebutuhan cairan durante operasi ialah kebutuhan cairan


replacement dijumlahkan dengan kebutuhan cairan maintenance adalah 404 -
557 cc.

Pada saat operasi cairan yang masuk ialah Ringer Laktat 500 cc, sehingga

kebutuhan cairan yang tersisa ialah 257 cc.

7/23/2017
Post Operatif
59

Kebutuhan cairan post operasi ialah defisit cairan pada saat operasi

dijumlahkan dengan kebutuhan cairan rumatan pasien selama 9 jam


ditambahkan replecement. Maintenance selama 19 jam yaitu 950 - 1900 cc.

Selama perawatan di ruang RR 12.35 hingga pukul 08.00 wit esok harinya,

kebutuhan cairan post operasi tersebut dapat terpenuhi dengan pemberian


cairan post operatif adalah RL 1000 cc, D5 % 500 cc, sehingga jumlah volume
cairan yang diterima pasien yaitu 1500 cc.

7/23/2017
PENUTUP
60

Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien

didiagnosis menderita union fraktur femur 1/3 proximal dextra.

Klasifikasi status penderita digolongkan dalam PS. ASA 2

Pada kasus ini dilakukan tindakan operasi remove of implant

Jenis anestesi regional berupa Sub Arachnoid Block (SAB).

Resusitasi dan terapi cairan perioperative kurang lebih telah memenuhi

kebutuhan cairan perioperative pada pasien ini, terbukti dengan stabilnya


hemodinamik durante dan post operatif.

7/23/2017
Saran
61

Penatalaksanaan anestesi perlu dilakukan dengan baik mulai dari


persiapan pre anestesi, tindakan anestesi hingga observasi post
operasi, terutama menyangkut resusitasi cairan yang akan sangat
mempengaruhi kestabilan hemodinamik perioperative.

7/23/2017
62

7/23/2017

Anda mungkin juga menyukai