Anda di halaman 1dari 56

ANALISIS FARMASI I

Program Studi Farmasi


STIKES CHMK
Kupang
Analisis Farmasi
Analisis Farmasi adalah analisis bahan baku maupun sediaan
farmasi yang meliputi penetapan maupun pengujian parameter
mutunya.

Analisis Farmasi adalah analisis kimia (bahan aktif dan bahan


tambahan) yang digunakan dalam bidang farmasi.

Tujuan Analisis Farmasi


Menentukan kualitas/mutu:
1. Bahan berupa bahan aktif atau bahan tambahan meliputi identitas,
kadar, dan kemurnian.
2. Sediaan farmasi atau obat meliputi identitas bahan aktif, kadar, dan
kemurian, serta karakteristik kerjanya.
Cakupan Analisis

Analisis Kualitatif Analisis Kuantitatif

memerlukan

Metode Analisis
Metode analisis

Klasik/ Modern
konvensional

Penggunaan instrumen
canggih
Gravimetri Volumetri

Kepekaan tinggi, jumlah


Mendasarkan pada sampel sedikit, waktu
Pengukuran vol. Larutan pengerjaan cepat. Selain
penimbangan berat baku yg brx dgn senyawa melakukan analisis kuanti,
kostan suatu yg akan dianalisis & rxnya dapat juga melakukan
senyawa yang b`lngsung scr kuantitatif pemisahan (kromatografi)
dianalisis
Klasik/
konvensional

Gravimetri Volumetri

Titrasi Netralisasi :
Metode Metode Metode
Pengendapan Penguapan Elektrolisis Titrasi Bebas Air
Titrasi Redoks
Titrasi
Pengendapan:
Penguaoan
Argentometri
langsung
dan tidak
langsung
Teknik analisis (Kealey & Haines, 2002)
Teknik Sifat yang diukur Penggunaan yang utama
analisis
Gravimetri Berat senyawa murni/senyawa yang telah Analisis kuantitatif komponen2 mayor &
diketahui stoikiometrinya minor

Titrimetri Volume larutan baku yg brx dgn analit Analisis kuantitatif komponen mayor &
minor

Spektrofotometri Panjang gelombang dan intensitas radiasi Analisis kuantitatif komponen mayor &
molekuler dan elektromagnetik yg diemisikan atau diserap minor
atom o/ analit

Spektrometri Berat analit atau fragmen2nya Analisis kuantitatif komponen mayor &
massa minor

Kromatografi & B`bagai macam sifat fisika kimia analit yang Analisis kuantitatif komponen mayor &
elektroforesis terpisah minor

Analisis termal Perubahan fisika/kimia dalam suatu analit Karaterisasi komponen2 mayor atau minor
ketika dipanaskan/didinginkan dlm bntuk tunggal/campuran

Elektrokimia Sifat2 elektris analit dalam larutan Analisis kualitatif dan kuantitatif mayor &
minor
Teknik spektrometri (Kealey & Haines, 2002)
Teknik Dasar Penggunaan yang utama
Spektrometri Emisi atomik setelah tereksitasi Penentuan logam2 alkali & alkali
emisi nyala oleh nyala tanah

Spektrometri Penyerapan atomik setelah atom Penentuan logam dalam jumlah


serapan atom mengalami atomisasi oleh nyala sedikit; penentuan non logam
Spektrometri Emisi fluoresensi atomik setelah Penentuan merkuri dan hidrida2
fluoresensi atom mengalami eksitasi oleh dari non logam → kadar sedikit
atomik nyala
Spektrometri Penyerapan molekuler elektronik Penentuan kuantitatif senyawa2
UV-Vis dalam larutan organik tidak jenuh
Spektrometri Penyerapan molekuler vibrasional Identifikasi senyawa2 organik
infra merah
Spektrometri Penyerapan energi → perubahan Identifikasi & analisis struktur
magnet inti arah spin senyawa organik
Spektrometri Ionisasi dan fragmentasi molekul2 Identifikasi & analisis struktur
massa senyawa organik
Teknik Kromatografi (Kealey & Haines, 2002)
Teknik Dasar Penggunaan yang utama
Kromatografi Analisis kualitatif campuran
lapis tipis
(KLT)
Kromatografi Perbedaan kecepatan migrasi Penentuan kualitatif & kuantitatif
Cair Kinerja analit melalui fase diam dengan senyawa2 yg tidak mudah
Tinggi (KCKT) gerakan fase gerak cair atau gas menguap
Kromatografi Penentuan kualitatif dan
gas (KG) kuantitatif senyawa2 yang
mudah menguap
Elektroforesis Perbedaan kecepatan migrasi Analisis kualitatif dan kuantitatif
analit melalui medium buffer senyawa2 ionik
Spektrometri Penyerapan molekuler vibrasional Identifikasi senyawa2 organik
infra merah
Spektrometri Penyerapan energi → perubahan Identifikasi & analisis struktur
magnet inti arah spin senyawa organik
Spektrometri Ionisasi dan fragmentasi molekul2 Identifikasi & analisis struktur
massa senyawa organik
 Tahapan Analisis
Analisis Kimia termasuk Kimia Farmasi Analisis melalui beberapa tahap
dimana setiap tahap harus dilakukan dengan benar karena setiap tahap
merupakan mata rantai pengujian yang sama pentingnya.

Bila terjadi kesalahan, walaupun hanya pada salah satu tahapan akan
menyebabkan hasil analisis yang dilaporkan salah.

Kesalahan laporan berakibat kesalahan dalam pengambilan keputusan


terhadap status bahan yang diuji yaitu MS (memenuhi syarat) atau TMS
(Tidak Memenuhi Syarat) sehingga dapat diterima atau ditolak.

Tahapan analisis yang dimaksud, berturut-turut adalah sebagai berikut :


1. Perencanaan analisis
2. Sampling
3. Penyiapan sampel
4. Pengukuran
5. Perhitungan/evaluasi
6. Pelaporan
 Tahapan Analisis (lanjutan)
1. Perencanaan Analisis
Perencanaan analisis meliputi penelusuran pustaka untuk menentukan metode
analisis yang akan digunakan termasuk perencanaan samplingnya.

Disamping itu juga menyiapkan sumber daya yang diperlukan:


bahan, alat/sarana, metode, personel yang akan melaksanakan pengujian, dan
biaya yang diperlukan. (5M)

Bahan meliputi: sampel, pereaksi, dan baku pembanding.

2. Sampling

Pada tahap perencanaan sudah ditetapkan metode sampling yang digunakan yaitu
meliputi: jumlah sampel, cara sampling, alat dan wadah untuk sampel
termasuk cara transportasi,label dan penyimpanannya.

Sampel tersebut harus tetap mewakili populasi ( representative sample) hingga


saat pengujian dilakukan. Ini berarti bahwa stabilitas sampel harus dijaga mulai
saat sampling, penanganan sampel, transportasi dan penyimpanan.
 Tahapan Analisis (lanjutan)
3. Penyiapan Sampel
Penyiapan sampel untuk pengukuran merupakan proses mengubah sampel
menjadi bentuk (larutan) yang siap untuk diukur dengan metode tertentu,
misalnya: titrasi, spektrofotometri, KCKT, dan lain-lain.

Tergantung dari metode yang digunakan, penyiapan sampel biasanya


merupakan kombinasi dari beberapa proses berikut:
a. Penimbangan/pengukuran
b. Penggerusan/penggilingan
c. Pelarutan
d. Pemanasan
e. Pemijaran
f. Destruksi
g. Pendinginan
h. Pemisahan: pengendapan/penyaringan, penyarian, kromatografi kertas
atau KLT.
i. Derivatisasi
 Tahapan Analisis (lanjutan)
4. Pengukuran

Pada tahapan ini, kualitas dan/atau kuantitas analit atau zat uji ditentukan.

Kualitas atau jenis (apa?)


Zat uji ditentukan dengan cara pemerian, identifikasi dan kemurniannya
melalui uji kemurnian dan uji cemaran sesuai monografi masing-masing.

Kuantitas atau (berapa?)


Kadar analit dari sampel yang diuji, ditetapkan melalui penetapan kadar.

Metode yang digunakan dapat metode klasik (konvensional) atau metode


moderen (instrumental) sesuai monografi masing-masing.

Pemilihan metode tersebut didasarkan atas sifat analit, besarnya kandungan


serta tujuan dari pengujian tersebut.
 Tahapan Analisis (lanjutan)
5. Perhitungan / Evaluasi
Perhitungan kadar biasanya didasarkan atas data penimbangan sampel dan data
hasil pengukuran.

Pada metode instrumental data hasil pengukuran sampel dibandingkan terhadap


data hasil pengukuran baku pembanding yang kadarnya telah diketahui.

Secara sederhana perhitungan tersebut dapat dituliskan dengan rumus


berikut:

Pu
Cu = x Cb
Pb

Cu = Konsentrasi larutan uji


Cb = Konsentrasi larutan baku pembanding Pu = Data
hasil pengukuran larutan uji
Pb = Data hasil pengukuran larutan baku pembanding
( reference standard )
 Tahapan Analisis (lanjutan)
Sebagai contoh, bila pada pengukuran secara spektrofotometri diperoleh
misalnya serapan larutan uji A = 0,425 dan serapan larutan pembanding
dengan konsentrasi 100 bpj (ppm) adalah A = 0,430, maka konsentrasi
larutan uji dapat dihitung sebagai berikut:
Pu
Cu = x Cb
Pb

0,425
= x 100
0,430
= 99,8
Jadi konsentrasi larutan uji adalah 99,8 ppm. Perlu diingat bahwa, kadar zat
uji (analit) dari sampel semula harus dihitung lagi berdasarkan bobot
penimbangan sampel dan faktor pengenceran yang dilakukan.
Apabila sampel itu merupakan sediaan farmasi seperti tablet, maka untuk
menghitung kadar zat aktif yang dipersyaratkan farmakope, perhitungan tadi
harus diperhitungkan lagi terhadap bobot rata-rata tablet dan kandungan zat
aktif per tablet menurut etiket. Contoh perhitungan semacam ini akan
diuraikan pada metode pengujian.
 Tahapan Analisis (lanjutan)
6. Pelaporan
Laporan analisis biasanya dikenal dengan sertifikat analisis. Dalam bahasa
inggris dikenal dengan CA (Certificate of Analysis) atau COA (Certificate Of
Analysis). Tampilan hasil pengujian dalam CA bahan baku padat adalah
sebagai berikut:

Parameter Uji Persyaratan Hasil Pengujian Kesimpulan


(Spesifikasi)
1. Pemerian - - -
2. Identifikasi - - -
3. Uji Kemurnian
a. Titik lebur - - -
b. Logam berat - - -
4. Kadar - - -
 Tahapan Analisis (lanjutan)
Tampilan CA untuk sediaan farmasi seperti tablet, misalnya sebagai berikut:

Parameter Mutu Hasil Pengujian Persyaratan Kesimpulan


(spesifikasi)
1. Pemerian - - -
2. Identifikasi - - -
3. Disolusi / Waktu hancur
4. Kadar - - -
- - -

Bila data hasil pengujian sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam
monografi farmakope, maka pada kolom kesimpulan ditulis MS
(Memenuhi Syarat) atau dalam bahasa inggris Conform atau Pass.
Bila terjadi penyimpangan, maka pada kesimpulan ditulis TMS (Tidak
Memenuhi Syarat) atau Fail.
Farmakope sebagai Stándar Resmi dalam pengujian
mutu bahan baku obat dan sediaannya

Analisis Farmasi Kualitas / Mutu

Mutu adalah kesesuaian


dengan suatu standar

Terdapat beberapa standar yang biasa digunakan antara lain:


1. ISO (International Standard Organization)
2. BSN (Badan Standarisasi Nasional)
3. SNI (Standar Nasional Indonesia)
4. FI (Farmakope Indonesia)
5. Farmakope negara lain yang diacu oleh negara pemasok bahan

Spesifikasi dari bahan atau


sediaan farmasi disesuaikan
dengan standar yang ditetapkan
Farmakope sebagai Stándar Resmi dalam pengujian
mutu bahan baku obat dan sediaannya

• Farmakope adalah buku standar resmi beraspek legal yang memuat


tentang persyaratan mutu dan metode pengujian dari bahan baku
maupun sediaan farmasi dan alat kesehatan.

• Farmakope Indonesia (FI) merupakan standar mutu yang harus diikuti


bagi bahan farmasi (bahan baku maupun sediaan obat) yang
diproduksi dan beredar di Indonesia.
Secara garis besar FI IV memuat Ketentuan Umum, Monografi, dan
Lampiran serta Tabel

Secara umum spesifikasi bahan dalam obat meliputi:


1. Identifikasi
2. Kemurnian: (a) keasaman/kebasaan, pH; (b) jarak lebur; (c) cemaran
spesifik; dan (d) cemaran umum
3. Penetapan kadar/potensi
Tabel-1 Beberapa Ketentuan Umum
Penting

ISTILAH PENGERTIAN
1. Penimbangan & Pengukuran
- Lebih kurang 10%
- Ditimbang seksama: 25, 0 mg 0,1% (timbangan analitik)
- Ukur seksama: 25,0 ml atau 0,1% (pipet volumetrik /
pipet 25 ml buret)
ISTILAH PENGERTIAN
2. Penulisan rumus molekul suatu zat Kemurnian 100%

3. Bobot yang dapat diabaikan t.l.d 0,5 mg


4. Bobot jenis (kecuali dinyatakan lain) Perbandingan bobot zat diudara
terhadap bobot air dengan volume
sama, pada suhu 250
5. Suhu (kecuali dinyatakan lain): 250 Artinya dalam derajat Celsius:250C

6. Suhu
Kamar terkendali Dingin 15º - 30º
Lemari pendingin Lemari pembeku Sejuk t.l.d 8º 2º - 8º
-20º – -10º
Suhu kamar Hangat 8º – 15º k.d.l. dpt disimpan dlm
Panas berlebih lemari pendingin
= suhu ruang kerja 30º - 40º
> 40º
MONOGRAFI
 Uraian yang memuat persyaratan mutu atau spesifikasi
dari obat tertentu beserta cara-cara pengujiannya.

 Suatu bahan baku atau sediaan farmasi memenuhi


persyaratan farmakope tertentu bila seluruh persyaratan
mutu yang ditetapkan dalam farmakope tersebut
terpenuhi.
MONOGRAFI

Buku-buku standar tersebut dikeluarkan dan ditetapkan oleh suatu badan resmi.

Isi Monografi Farmakope


 Nama resmi farmakope (INN, generik) dalam bahasa Indonesia dan Latin.

 Rumus molekul, struktur dan nama kimia resmi dengan CAS number dan BM.

 Pernyataan kadar atau potensi bahan aktif dalam bahan baku atau sediaannya.

 Pemerian atau uraian dari segi organoleptik bahan.

 Kelarutan dalam berbagai pelarut.

 Identifikasi

 Syarat atribut mutu/tetapan fisika bahan.

 Kemurnian

 Penetapan Kadar/Potensi

 Wadah dan Penyimpanan


Monografi Farmakope
Sediaan
Parameter Mutu Bahan Baku
Farmasi
Persyaratan Kadar • •
Pemerian • -
(Farmakope) (Pabrik)
Kelarutan • -
Identifikasi • •
Kemurnian • -
Cemaran • •
Uji Kinerja - •
Penetapan Kadar • •
MONOGRAFI BAHAN BAKU FARMASI
 Persyaratan kadar
 Merupakan batas kadar minimum dan maksimum dari suatu
obat yang masih dinyatakan efektif dan aman.
 Variabilitas produk dan ketelitian penetapan kadar yang
digunakan harus terletak diantara batas kadar maksimum
dan minimum.
Contoh:
MONOGRAFI BAHAN BAKU FARMASI
 Pemerian
 Merupakan deskripsi atau uraian dari sifat suatu zat (obat)
yang dapat dikenal dengan pancaindra (secara organoleptik)
kita seperti :
- Bentuk dan warna
- Bau
- Rasa

 Pemerian untuk bahan baku obat ditetapkan dalam farmakope.

 Pernyataan tidak cukup kuat sbg syarat baku, dpt membantu penilaian
pendahuluan mutu zat

 Pemerian untuk sediaan farmasi ditetapkan oleh pabrik yang


membuatnya asalkan bahan tambahan yang digunakan tidak
mempengaruhi mutu, khasiat dan keamanan dari obat
tersebut.
MONOGRAFI BAHAN BAKU FARMASI

 Kelarutan
( Kecuali dinyatakan khusus dalam judul tersendiri
disertai cara ujinya)

Kelarutan bukan merupakan standar atau uji kemurnian.


Merupakan informasi dalam: penggunaan, pengolahan.

Identifikasi
 Uji kualitatif untuk mengenal identitas suatu zat dilakukan dengan
cara kimia, fisika, atau fisika-kimia.
 Cara kimia: reaksi nyala, reaksi warna, rekasi pengendapan,
pembentukan gas atau kombinasinya.
 Cara fisika: titik lebur, titik didih, indeks bias.
 Cara fisika-kimia: KLT ( Rf ), GC atau KCKT ( Rt ), spektrum UV,
Spektrum IR, A (1%, 1cm) atau ε, λ max, serapan relatif.
MONOGRAFI BAHAN BAKU FARMASI

 Uji Kemurnian
 Untuk mengetahui kemurnian atau cemaran yang terdapat dalam
suatu zat.

 Uji kemurnian: titik lebur, indeks bias, rotasi jenis, bobot jenis,
kekentalan.

 Uji cemaran: zat organik asing, kadar air, kadar abu, susut
pengeringan, susut pemijaran, keasaman-kebasaan )pH), logam
berat, arsen, residu pestisida, aflatoxin, endotoksin, bakteri
patogen, bilangan kuman, warna, dll.
MONOGRAFI BAHAN BAKU FARMASI

 Penetapan Kadar
 Untuk mengetahui persen kemurnian dari suatu zat ( bahan baku ),
kadar bahan baku harus memenuhi persyaratan kadar farmakope.

 Dapat ditetapkan dengan cara: fisika, kimia, fisika-kimia atau cara


hayati ( bioassay ).
a. Metode klasik: volumetri atau gravimetri.
b. Metode moderen ( instrumental ): spektrofotometri,
kromatografi, metode elektrokimia, metode fisika.
c. Bioassay.
MONOGRAFI SEDIAAN FARMASI

Sediaan farmasi merupakan hasil pengolahan bahan baku yang telah


memenuhi persyaratan farmakope. Persyaratan mutu dalam
monografinya sedikit berbeda dengan monografi bahan baku yaitu
antara lain:

 Pemerian: Farmakope tidak mencantumkan pemerian untuk sediaan


farmasi. Pemerian ditetapkan oleh pabrik pembuat tergantung dari
karaktristik produk yang ditetapkan oleh pabrik tersebut, misalnya:
tablet Oval, warna kuning.
 Kelarutan: tidak dicantumkan.
 Uji Kemurnian: hanya berupa uji cemaran tertentu (bila perlu)
misalnya: air, mikroba, endotoksin.
MONOGRAFI SEDIAAN FARMASI

Uji kinerja sediaan  Karakteristik sediaan: disamping pemerian


tersebut diatas ada persyaratan mutu tertentu yang harus dipenuhi
oleh suatu sediaan untuk menjamin mutu, khasiat dan
keamanannya, misalnya:
a. Tablet.kapsul: - Keseragaman sediaan
- Disolusi
- Waktu hancur
b. Sirup/Suspensi: - pH
- Keseragaman sediaan
c. Salep : - Isi minimum

d. Obat tetes mata: - pH


- Sterilitas

e. Injeksi : - pH
- Sterilitas
- Keseragaman sediaan, dll
Uji Identitas Senyawa Obat

 Syarat identitas atau identitas baku adalah pernyataan kualitatif


yang harus dipenuhi untuk membuktikan kebenaran, kesesuaian
identitas dan keotentikan senyawa aktif seperti yang tertera pada
etiketnya sehingga dapat dibedakan dengan senyawa/bahan yang
lain.
 Identifikasi adalah suatu cara untuk mengungkap identitas dan
membuktikan bahwa bahan yang diperiksa mempunyai identitas
yang sesuai dengan senyawa yang tertera pada etiketnya.
 Identifikasi ini mengikat walaupun cara pengujiannya tidak cukup
kuat tetapi harus spesifik dan peka.
 Pengujian lainnya dapat digunakan sebagai penunjang
pembuktian identitas bahan yang diuji.
Uji Identitas Senyawa Obat
Identifikasi
• Identifikasi juga merupakan salah satu uji kualitatif untuk
mengenal identitas suatu zat berdasarkan sifat fisika maupun sifat
kimianya.
• Identifikasi dengan reaksi kimia dapat berupa reaksi nyala, reaksi
warna, reaksi pengendapan, maupun reaksi pembentukan gas.
• Identifikasi dengan cara fisika misalnya: penetapan suhu lebur, titik
eutektik, indeks bias, rotasi jenis, bobot jenis, termasuk identifikasi
secara spektrofotometri, maupun kromatografi.
• Satu macam uji identifikasi tidak cukup untuk memastikan identitas
suatu zat. Karena itu digunakan kombinasi dari cara-cara uji
identifikasi tersebut diatas.
• Reaksi warna, Reaksi Pengendapan, Suhu lebur, Indeks bias
dg Refractometer, Bobot Jenis : dengan Picnometer
• Spektrum : IR
UV-VIS ( λmax , A(1%,1cm), serapan relatif)
• KLT : Rf  bandingkan tinggi bercak
• KCKT & KG : tR
• Bilangan Asam
Contoh Identifikasi:

Cara Kimia
Cara kimia dalam identifikasi meliputi penggunaan pereaksi kimia yang dapat
bereaksi secara khas dengan senyawa yang diuji.
Reaksi kimia yang dapat digunakan dalam identifikasi adalah:
1.hasil reaksi harus dapat diobservasi oleh indra seperti warna, bau, endapan, dll
2.Reaksi harus cepat dan spesifik
3.Reaksi harus dapat diulang (reproducible) dengan hasil yang sama baik dilakukan
oleh penguji lain atau pada waktu yang berlainan.

Klasifikasi reaksi kimia


Reaksi untuk ion-ion :
Digunakan untuk identifikasi senyawa ionik ( senyawa anorganik) dan senyawa
organik berupa asam, basa organik atau garamnya.
Reaksi penggolongan senyawa obat :
Digunakan reaksi kimia penggolongan menggunakan pereaksi kimia yang khas,
umum dan semi spesifik: misalnya reaksi untuk alkaloida, senyawa xantin, senyawa
amin aromatik primer, turunan fenotiazin, fenol, dll.
Cara Kimia

 uji identifikasi dengan cara kimia tercantum pada Uji Identifikasi umum,
FI IV (p. 920 - 925) dan USP/NF 2003 (p. 2052 – 2053).
 Beberapa contoh reaksi warna, reaksi pengendapan, reaksi pemben-
tukan gas dan reaksi nyala adalah sebagai berikut:
1. Reaksi warna : Fe3+ + 3CNS-  Fe(CNS)3- larutan merah

2. Reaksi pengendapan : Pb2+ SO42-  PbSO4 endapan putih

3. Reaksi pembentukan gas: CO32- + 2H+  H2O + CO2

4. Reaksi nyala: Senyawa natrium dalam nyala api yang tidak

berwarna memberikan warna kuning intensif.


Cara Kimia

 Kelemahan dan Keunggulan identifikasi dengan cara kimia


 Keunggulan:

1. Praktis, murah, dan cepat


2. Mudah diinterpretasikan
3. Terdapat cara kimia untuk identifikasi yang tidak dapat digantikan
oleh cara instrumen
 Kelemahan:

1. Merupakan metode destruktif


2. Tergantung pada kadar (kepekaan pereaksi)
3. Pengamatannya dapat tertutupi oleh ada reaksi lain atau senyawa
lain.
Cara Fisika
• Dengan cara fisika hasil pengukuran zat uji dibandingkan dengan
hasil pengukuran baku pembanding (misalnya BPFI atau USPRS).
• Cara fisika seperti penetapan suhu lebur, indeks bias, rotasi jenis
akan diuraikan pada uji kemurnian.

Cara Fisiko-Kimia

• Cara ini mempunyai beberapa keuntungan yaitu hasil yang diperoleh


lebih nyata dan dalam beberapa hal bahan tidak mengalami
kerusakan atau penguraian yang berarti.
• Salah satu kelemahannya adalah cara ini memerlukan instrumen
yang canggih dan bahan baku pembanding serta keterampilan
khusus untuk melaksanakannya. Kadang-kadang memerlukan bahan
yang murni dan biaya yang cukup mahal.
• Cara / Metode yang direkomendasikan Farmakope adalah cara
Spektrofotometri (UV dan IR), serta cara Kromatografi (KLT,
KCKT dan KG).
Uji Kemurnian bahan baku obat

Kemurnian

• Kemurnian baku (standard of purity) merupakan ungkapan yang


menyatakan senyawa bebas dari senyawa asing atau batas toleransi
maksimum terhadap cemaran/ senyawa asing yang masih diperbolehkan.

• Senyawa dikatakan murni, bila senyawa tersebut bebas dari senyawa asing
atau mengandung senyawa asing dalam batas yang diperbolehkan.

• Kemurnian senyawa obat sangat erat kaitannya


dengan khasiat dan keamanan penggunaannya.

 Uji kemurnian dimaksudkan untuk mengetahui kemurnian atau ada


tidaknya cemaran pada suatu zat.

 Uji kemurnian seperti suhu lebur, indeks bias, rotasi jenis, bobot jenis atau
kekentalan juga merupakan juga identitas suatu zat.
Uji Kemurnian bahan baku obat

- Suhu lebur /Jarak lebur : Dg Melting Point App., bila zat


tidak murni suhu lebur << zat murni
- Kadar air
- Susut pengeringan : air + zat menguap
- Sisa pemijaran : (zat anorganik)
- Indeks bias
- Rotasi optik : dg Polarimeter u/ senyawa memutar bidang
polarisasi
- Kekentalan
- Warna dan akromisitas
- Spektrum / serapan UV
- Cemaran / senyawa sejenis
- Keasaman-kebasaan
Uji Kemurnian bahan baku obat

- Uji Batas  contoh: Penetapan Anion : klorida, sulfat dan


Penetapan Logam berat
- Sterilitas (antibiotika untuk injeksi)  Deteksi kontaminasi
mikroba
- Pirogenitas (antibiotika untuk injeksi) Deteksi
kontaminasi pirogen (dari bakteri, yg dibentuk virus; pirogen
endogen)
- Uji endotoksin bakteri
- Toksisitas abnormal Deteksi zat
toksik yg mencemari zat saat
produksi atau penyimpanan
- Kadar / Potensi

Cemaran mikroba yang berasal dari mikroba diuji


dengan cara mikrobiologi atau biologi.
Uji Kemurnian bahan baku obat

Cemaran
• Cemaran berasal dari: Sisa bahan baku, pelarut atau pereaksi,
hasil penguraian, hasil reaksi dengan wadah atau alat produksi,
S cemaran dari udara.
U • Cemaran terjadi karena: Kesalahan produksi, pengangkutan dan
penyimpanan.
M • Jadi, Cemaran adalah senyawa asing/kotor yang masuk kedalam
B produk secara tidak sengaja atau tidak dapat dihindari, yang
berasal dari proses pengolahan, penyimpanan dan atau terbawa
E dari bahan baku (sisa bahan baku, sisa pelarut, hasil penguraian,
R hasil reaksi dengan wadah) ataupun dari udara
• Uji Cemaran meliputi Uji batas (logam berat, raksa, arsen,
timbal, klorida sulfat, sisa pemijaran, zat mudah terarangkan dll.),
Cemaran umum, Cemaran senyawa organik mudah menguap,
Kadar air, Susut pengeringan.
Cemaran
Cemaran
Cemaran Organik Cemaran Anorganik Umum

Senyawa asing yang Senyawa asing yang Senyawa asing yang


umumnya dapat umumnya dapat belum diketahui dan
berasal dari makluk berasal dari sumber tidak diperhitungkan
hidup / mikroba, daya alam mineral sebelumnya, dapat
senyawa Asam/Basa, (Non Makhluk Hidup) berupa senyawa
dan sisa hasil reaksi biasa berupa organik dan anorganik
sintesis pemurnian senyawa anion dan (sisa pelarut, sisa
yang tidak sempurna kation bahan baku, sisa
pemijran, kadar air)

Lemak dan minyak Arsen, Timbal,


lemak, Bilangan Logam berat, Besi,
iodium, bilangan Klorika, Sulfat
peroksida
Penetapan suhu lebur atau jarak lebur

• Suhu lebur zat padat adalah suhu pada saat zat padat mulai melebur
dan melebur sempurna.
• Jadi jarak lebur adalah jarak antara suhu awal dan suhu akhir
peleburan zat.
• Suhu awal peleburan dicatat pada saat zat mulai melebur dan suhu
akhir dicatat pada saat hilangnya fase padat menjadi fase cair.
• Alat yang digunakan harus dikalibrasi (Pipa Kapiler, Termometer,
Wadah gelas, Batang pengaduk dan Pemanas) dengan baku
pembanding yang mempunyai suhu lebur dekat dengan zat uji.
Beberapa contoh baku pembanding anatara lain: USP Acetanilide
Melting Point RS, USP Phenacetin Melting Point RS, dll ( USP
Reference Standards, USP/NF 2003, p.1966).
• Identifikasi suatu zat dapat juga dilakukan dengan menetapkan Titik
Lebur Campuran, yaitu zat uji dicampur dengan baku pembanding lalu
campuran ditetapkan suhu leburnya. Suhu lebur campuran
dibandingkan dengan suhu lebur baku pembanding.
Penetapan Indeks Bias
• Indeks bias suatu zat adalah perbandingan kecepatan cahaya diudara
dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut atau perbandingan sinus
sudut datang dari cahaya melalui udara dengan sinus sudut biasnya
dalam zat.
• Pengukuran indeks bias menggunakan cahaya natrium pada 589,3 nm,
suhu 19,50 – 20,50. Kebanyakan instrumen yang dijual menggunakan
lampu dengan cahaya putih tetapi dikalibrasi agar memberikan indeks
bias sesuai cahaya natrium.
• Indeks bias biasanya digunakan untuk identifikasi suatu zat dan untuk
mendeteksi cemaran. Disamping itu dengan cara refraktometri kadar
suatu larutan juga dapat ditetapkan.
• Alat :
- Abbé Refractometer (akurasi ± 0,0001)
- Circulator (thermostatic bath)
Kalibrasi alat dengan baku pembanding (trimetilpentan, toluen, atau
metilnaftalen) yang disediakan oleh pabrik pembuat.
Cek kontrol suhu & kebersihan alat dng air suling (n20 1,3330 dan n25 =
1,3325).
Penetapan Rotasi Optik dan Jenis
Rotasi optik adalah besar sudut pemutaran bidang polarisasi yang terjadi bila cahaya
terpolarisasi dilewatkan padanya. Cahaya yang digunakan adalah lampu Natrium pada garis D
atau garis 546,1 nm pada spektrum raksa. Rotasi jenis adalah besar sudut pemutaran bila
dilewatkan pada larutan sepanjang 1 dm yang mengandung 1g/ml
Alat: Polarimeter
• Lampu natrium atau uap merkuri
• Pembacaan hingga 0,010
Metode:
• Pengukuran menggunakan lampu natrium atau D line pada suhu 20 0,50 (BP) atau
250 (USP).
• Tetapkan rotasi optik zat uji t.k.d. 5 kali, hitung rata-ratanya.
• Hitung rotasi jenis dengan rumus berikut:
a. Zat cair [α] 20 = α/ld
D

b. Larutan [α] 20 = 1000 α/lc


D

dimana: α = rotasi optik, l = panjang tabung (dm), d = bobot jenis, c = konsentrasi (g/L)
Rotasi jenis untuk zat cair adalah rotasi optik yang diukur dengan panjang tabung 1 dm
(kecuali dinyatakan lain) dibagi bobot jenis pada suhu 200, sedangkan untuk larutan zat
padat rotasi optiknya dibagi dengan konsentrasi larutan (g/ml).
Bobot per ml dan Bobot Jenis
1) Bobot per ml (density)
Kecuali dinyatakan lain, bobot per ml suatu cairan adalah bobot dalam gram per ml
cairan yang ditimbang diudara pada suhu 200.
Alat : Piknometer dan Circulator (thermostatic bath)
Prosedur :
Tentukan bobot cairan (g) dalam piknometer dengan volume tertentu, pada suhu 200.
Hitung bobot per ml dengan rumus :
Bobot per ml = Bobot cairan (g) / Volume piknometer (ml)

2) Bobot Jenis (specific gravity or relative density)


Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat dengan bobot air yang volumenya sama dan
diukur pada suhu yang sama.
Kecuali dinyatakan lain bobot jenis berlaku untuk zat cair pada suhu 250. Bila pada suhu
250 zat berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang tertera pada monografi dan
mengacu pada air, suhu 250.
Alat : Piknometer dan Circulator (thermostatic bath)
Prosedur :
Kecuali dinyatakan lain, tentukan bobot zat uji dan bobot air dalam piknometer
yang sama, pada suhu 250. Hitung bobot jenis dengan rumus :

Bobot jenis = Bobot zat uji (g), 250 / Bobot air (g), 250
Penetapan kekentalan / Viskositas
• Kekentalan adalah gaya yang diperlukan untuk menggerakkan secara berkesi-
nambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar lainnya dalam kondisi
mapan tertentu, bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan cairan yang akan
ditentukan kekentalannya pada suhu tertentu. Kekentalan sangat dipengaruhi oleh suhu.
Kekentalan adalah tekanan geser dibagi laju tegangan geser. Satuan kekentalan adalah
poise ( 1 poise = 100 sentipoise ). Untuk kekentalan kinematik satuannya adalah stoke (1
stoke = 100 sentistoke). Kekentalan kinematik = Kekentalan mutlak / Kerapatan (bobot /
ml). Contoh: kekentalan kinematik air, suhu kamar = 1 sentistoke.
• Alat: Viscosimeter dan thermostatic bath
1) Viskosimeter tabung kapiler: Viskosimeter Ostwold dan Ubbleohde.
2) Viskosimeter rotasi: menggunakan gasing atau cawan berputar.
- Viscosimeter Brookfield, Rotovisco dan Stormer: alat dengan gasing berputar.
- Viscosimeter Mac Michael: alat dengan cawan berputar.
• Prosedur untuk viskosimeter tipe kapiler
- Kalibrasi alat dengan konstanta atau tetapan viskosimeter, k, menggunakan
cairan yang diketahui kekentalan (baku pembanding) sebagai cairan uji.
k = v / dt
k = tetapan viskosimeter d = bobot jenis cairan uji
v = kekentalan cairan uji t = waktu alir cairan (detik), dari batas atas hingga
batas bawah pipa kapiler
- Ukur nilai t cairan uji (sampel)
- Hitung kekentalan cairan uji dengan rumus diatas.
Uji Batas
• Uji batas adalah uji batas maksimum dari cemaran berbahaya yang diperbolehkan mence-
mari suatu zat.
• Prinsip penetapan adalah secara semikuantitatif (secara visual) atau kuantitatif mengguna-
kan metoda spektrofotometri, kromatografi atau gravimetri.
• Penetapan secara semikuantitatif dilakukan dengan membandingkan warna atau kekeruhan
yang terjadi pada larutan uji dan larutan pembanding setelah diberi perlakuan yang sama.
Larutan pembanding mengandung cemaran dengan konsentrasi yang sama dengan batas
maksimum yang diperbolehkan.
Intensitas warna atau kekeruhan yang berasal dari larutan uji harus lebih lemah dari larutan
pembanding. Contoh uji batas :
Uji Batas Prinsip Penetapan Pengamatan
4-epianhidrotetrasiklin -Kromatografi kolom Serapan tiap fraksi
-Spektrofotometri, 438 nm
-Persen terhadap tetrasiklin

Arsen Metoda I dan II


-Arsen dalam zat uji diubah menjadi arsin (AsH3) Larutan merah
yang dilewatkan dalam larutan perak dietil
ditiokarbamat membentuk kompleks warna
merah.
Metoda III
-Arsen diubah menjadi arsin yang dengan kertas Warna kuning kertas
raksa (II) bromida kuning raksa (II) bromida
Uji Sisa Pemijaran
Batas ini diterapkan pada tiga jenis senyawa yaitu:
• Senyawa yang menguap sempurna pada saat pemijaran tanpa ada residu.
• Senyawa yang terdekomposisi pada saat pemijaran dan meninggalkan residu (hasil
dekomposisinya)
• Senyawa yang dikontaminasi oleh cemaran anorganik yang akan meninggalkan residu
pada saat pemijaran (berupa logam oksida).

Penetapan sisa pemijaran


• Tara krus platina atau silika yang telah dipijar selama 1 jam pada kondisi percobaan.
• Masukkan 1 -2 g zat kedalam krus lalu ditimbang beserta isinya.
• Panaskan di atas api kecil sampai terjadi pengarangan sempurna. Dinginkan
• Teteskan 1 ml asam sulfat pekat dan panaskan lagi sampai asap putih menghilang.
• Pijarkan dalam tanur 800 derajat sampai arang habis terbakar.
• Keluarkan krus dari tanur, masukkan dalam desikator dan dinginkan sampai suhu
kamar.
• Timbang hingga bobot tetap. Sisa pemijaran merupakan selisih bobot krus setelah
dipijar dengan bobot krus kosong.
Residu Pelarut

Residu Pelarut adalah kandungan sisa pelarut tertentu yang mungkin


terdapat dalam bahan. Analisis cemaran berupa Residu Pelarut /
Sisa Pelarut pada umumnya menggunakan teknik kromatografi gas
karena pada umumnya pelarutnya berupa cairan yang dapat
dihilangkan dari matriks dengan cara evaporasi berhubung sifatnya
yang mudah menguap sehingga merupakan sampel yang ideal untuk
kromatografi gas.

Prosedur KG untuk cemaran mudah menguap


• Bermacam-macam prosedur/metode yang dilakukan dalam FI IV adalah
Metode I hingga metode VI, dan metode khusus untuk metilen klorida.
• Headspace analysis, Dalam prosedur ini sampel ditempatkan dalam vial
yang bertutup karet kuat bersama-sama pelarut yang tidak menguap
misalnya air. Vial dipanaskan dan dikocok hingga setimbang dan sebuah
alat suntik diinjeksikan ke dalam vial tsb lalu disedot sejumlah 1 ml gas
yang ada di atas campuran tsb. Kemudian diinjeksikan ke kromatograf
gas.
Penetapan Kadar Air

Kadar Air Kualitas dan Daya simpan

• Metode Gravimetri
• Metode distilasi azeotropik
• Metode Karl Fischer
Metode Langsung • Metode desikasi kimia
• Metode Termogravimetri
Metode
Metode
Tambahan
Metode Tidak Langsung

Metode ini dilakukan tanpa mengeluarkan air dari


bahan dan tidak meusak bahan sehingga pengukuran
tidak bersifat merusak (tidak dekstruktif). Waktu
pengukuran dilakukan dengan cepat dan dimungkinkan
untuk menjadikan kontinyu dan otomatik. Metode ini
merupakan penerapan untuk mengontrol proses-
proses di industri
Metode Gravimetri

Dilakukan dengan cara mengeluarkan air dari bahan dengan proses


pengeringan dalam oven (oven udara atau oven vakum, hal ini
berdasarkan tekanan yang digunakan saat pengeringan). Ada dua
macam metode gravimetri yaitu metode oven udara dan metode vakum

Metode oven udara Paling banyak dan sering digunakan. Metode ini
didasarkan atas berat yang hilang sehingga
sampel seharusnya mempunyai kestabilan panas
Gravimetri yang tinggi dan tidak mengandung komponen
yang mudah menguap. Air dikeluarkan dari bahan
Metode oven vakum pada tekanan udara (760 mmHg) sehingga air
menguap pada suhu 1000C yaitu sesuai titik
didihnya.

Kelemahan dari pengeringan dengan oven udara


diperbaiki dengan metode oven vakum. Pada metode ini,
sampel dikeringkan dalam kondisi tekanan rendah
(vakum) sehingga air dapat menguap dibawah titik didih
normal (1000C), misal antara suhu 60-700C. Pada suhu
60-700C tidak terjadi penguraian senyawa dalam sampel
selama pengeringan.
Metode Gravimetri

Metode analisis gravimetri adalah suatu metode analisis yang


didasarkan pada pengukuran berat, yang melibatkan:
pembentukan, isolasi dan pengukuran berat dari suatu endapan.

Keuntungan dan Kerugian pada Analisis Gravimetri


1. Keuntungan analisis gravimetri
• Pengotor dalam sampel dapat diketahui
• Mudah dilakukan
• Hasil analisisnya spesifik dan akurat
• Presisi
• Sensitif
2. Kerugian analisis gravimetri
• Membutuhkan waktu yang cukup lama

Macam-macam Metode Gravimetri

1. Metode Pengendapan
2. Metode Penguapan
3. Metode Elektrolisis
Metode Azeotropik Toulen
Prinsip dari metode distilasi azeotrop adalah penggabungan dua buah pelarut yang
memiliki titik didih serta kepolaran yang berbeda dengan air dimana saat proses distilasi
kedua pelarut akan menguap pada suhu yang sama yaitu diatas atau dibawah titik didih
kedua pelarut tersebut yang disebut pad titik azeotrop. Oleh karena itu, syarat pelarut
yang digunakan dalam distilasi azeotrop adalah:
- Memiliki titik didih yang berbeda dengan air
- Memiliki berat jenis yang berbeda dengan air, dan
- Memiliki kepolaran yang berbeda dengan air
Keuntungan metode
• kadar air ditetapkan langsung dan hasil akhir merupakan nilai kadar air yang nyata dan
bukan karena kehilangan berat contoh.
• Hasil lebih teliti dibandingkan metode pengeringan oven karena jumlah contoh lebih
banyak.
• Waktu analisis singkat (0,5-1 jam), peralatan sederhana dan mudah didapat serta
pengaruh kelembababn lingkungan dapat dihindari dan dapat mencegah oksidasi selama
pemanasan. Selain itu metode ini memiliki cara pengerjaan sederhana dan mudah
ditangani.
Kelemahan metode
• permukaan alat gelas harus selalu bersih dan kering.
• Senyawa alkohol atau gliserol mungkin terdistilasi bersama air yang dapat mengakibatkan
data yang diperoleh lebih tinggi dari nilai sebenarnya.
• Pelarut yang digunakan mudah terbakar, sebagian pelarut beracun (misal benzena), serta
ketelitian membaca volume air yang terkondensasi terbatas
Metode Karl Fischer
Titrasi Karl Fischer adalah suatu metode analisis yang digunakan
untuk mengukur kandungan air di dalam berbagai produk. Prinsip
pokok itu didasarkan pada Reaksi Bunsen antara iodium dan
sulfurdioksida (Pereaksi Karl Ficher) dalam suatu medium yang
mengandung air. Penentuan air diatur dalam USP 34 <921>Water
Determination dan di dalam British Pharmacopeia 2012
Determination of water dan juga oleh Farmakope Eropa Method
1(Ph.Eur.method2.5.12).

Pereaksi karl fischer pada metode ini sangat tidak stabil dan
peka terhadap uap air oleh karena itu sebelum digunakan
pereaksi harus selalu distandarisasi.

Pereaksi karl fischer sangat sensitif terhadap air. Sehingga metode ini
dapat diaplikasikan untuk analisis kadar air bahan pangan yang
mempunyai kandungan air sangat rendah (seperti minyak/lemak, gula,
madu, dan bahan kering). Metode Karl Fischer juga dapat digunakan
untuk mengukur kadar air konsentrasi 1 ppm.
Metode Azeotropik Toulen
Selama proses titrasi terjadi reaksi reduksi iodin oleh sulfur
dioksida dengan adanya air. Reaksi reduksi iodin akan
berlangsung sampai air habis yang ditunjukka munculnya
warna coklat akibat kelebihan iodin. Penentuan titik akhir
titrasi sulit dilakukan karena kadang-kadang perubahan warna
yang terjadi tidak terlalu jelas.

Titrasi karl fisher ini biasanya di industri farmasi untuk


penentuan kadar air dalam bahan baku. Penetuan kadar air
ini sebagai uji kualitas bahan baku yang telah ditentukan.
Dalam titrasi karl fisher HANYA air yang akan diukur,
berbeda dengan LOD (loss of Drying) semua zat menguap
termasuk kandungan air dan semua pelarut.