Anda di halaman 1dari 36

BLOK 16 MALOKLUSI

LEARNING ISSUES
1. Bagaimana proses terjadinya maloklusi yang disebabkan thumb sucking dan
tongue thrusting? Otot apa saja yang terlibat?

2. Bagaimana pertumbuhan fase normal dan fase apa yang berhubungan dengan
kasus ini? Jelaskan!

3. Apa saja klasifikasi maloklusi menurut Angle dan Profit?

4. Apa etiologi dari keluhan pasien dan apa saja faktor-faktor yang
mempengaruhinya?

5. Bagaimana rencana perawatan dan penatalaksanaan pada kasus tersebut?

6. Bagaimana prognosis dan komplikasi dari kasus tersebut?

7. Bagaimana BHP dan KIE dari kasus tersebut?

8. Bagaimana epidemiologi dari kasus?


1. PROSES TERJADINYA MALOKLUSI YANG
DISEBABKAN THUMB SUCKING DAN TONGUE
THRUSTING
BESERTA OTOT YANG TERLIBAT
THUMB SUCKING
Thumb/finger sucking adalah Hal ini sering terjadi dalam masa
sebuah kebiasaan dimana anak pertumbuhan, sebanyak 25-50%
menempatkan jari atau ibu jarinya pada anak-anak yang berusia 2
di belakang gigi, kontak dengan tahun dan hanya 15-20% pada
bagian atas mulut, mengisap anak-anak yang berusia 5-6 tahun.
dengan bibir, dan gigi tertutup
rapat. Aktivitas mengisap jari dan
ibu jari sangat berkaitan dengan
otot-otot sekitar rongga mulut.
ETIOPATOGENESIS THUMB SUCKING
 Bila jari ditempatkan di antara gigi atas dan bawah, lidah terpaksa
diturunkan yang menyebabkan turunnya tekanan lidah pada sisi palatal geligi
posterior atas. Pada saat yang sama tekanan dari pipi meningkat dan
muskulus buccinator berkontraksi pada saat mengisap.

 Tekanan pipi paling besar pada sudut mulut dan mungkin keadaan ini dapat
menjelaskan mengapa lengkung maksila cenderung berbentuk huruf V dengan
kontraksi pada regio kaninus daripada molar.

 Kebiasaan mengisap yang melebihi batas ambang keseimbangan tekanan


dapat menimbulkan perubahan bentuk lengkung geligi, akan tetapi sedikit
pengaruhnya terhadap bentuk rahang.

 Dengan pengisapan yang terus menerus terjadi jari abnormal seperti


hiperekstensi jari, terbentuk callus, iritasi, eksema, dan paronikia (jamur kuku).
TONGUE THRUSTING
Posisi lidah yang tidak normal dan Ada 2 bentuk penelanan dengan
penyimpangan yang dinamakan menjulurkan lidah, yaitu:
gerakan lidah yang normal saat
a) Penelanan dengan menjulurkan
menelan telah lama terkait dengan
lidah sederhana (Simple Tongue
openbite anterior dan protrusi incisivus
Thrust Swallow)
rahang atas.
biasanya berhubungan dengan kebiasaan
mengisap jari.

b) Menjulurkan lidah kompleks


(Complex Tongue Thrust Swallow)
berhubungan dengan gangguan pernafasan
kronis, bernafas melalui mulut, tonsillitis atau
faringitis.
ETIOPATOGENESIS TONGUE THRUSTING

 Pada penelanan normal, gigi dalam kontak, bibir menutup,


punggung lidah terangkat menyentuh langit-langit. Pada penelanan
abnormal yang disebabkan pembengkaan tonsil atau adenoid,
lidah tertarik dan menyentuh tonsil yang bengkak, akan menutup
jalan udara, mandibula turun, lidah menjulur ke depan menjauhi
pharynk, dengan mandibula turun bibir harus berusaha menutup
untuk menjaga lidah dalam rongga mulut dan menjaga efek
penelanan dapat rapat sempurna.

 Diastema dan open bite anterior merupakan akibat dari kebiasaan


menjulurkan lidah.
Simple Tongue Thrust Swallow Complex Tongue Thrust Swallow

 Otot Lidah  berperan sebagai  Lidah  sebagai “penekan” dan


“penekan” (moving force) utama “penghambat”
 Otot lidah berada di antara gigi
anterior rahang bawah dan atas  “Penghambat”  mencegah gigi
saat penelanan. posterior beroklusi
 Otot lidah menekan gigi-geligi  Lidah berada di antara gigi
anterior RA  gigi bergerak posterior (molar)
lebih ke labial
 Otot Masseter melemah  atrofi
 Otot masseter dan buccinator,
orbicularis oris, mentalis   Otot Orbicularis oris melemah
normal
 Otot mentalis  over developed
TRIANGULAR FORCE CONCEPT
 Triangular force concept adalah a) Otot Bucinator  Menarik sudut mulut
keseimbangan antara otot-otot ke belakang & menekan pipi
lidah, masseter dan buccinators,
dan orbicularis oris. b) Otot Orbicularis Oris  Aksi dari
otot ini untuk menutup dan menekan
 Triangular force concept (compress) bibir, protrusi bibir dan
didasarkan pada kenyataan mengerutkan bibir.
bahwa dalam sebuah pola
penelanaan normal tekanan fisik c) Otot Massetter  Ketika M. masseter
yang lebih besar otot-otot berkontraksi, mandibula akan
orofasial adalah posterior dan berelevasi sehingga mulut tertutup.
lateral. Penelanan menggunakan d) Otot Mentalis  Ketika otot ini
gaya spesifik di dalam kavitas berkontraksi, akan menarik kulit dagu
oral (dari 1 ½ hingga 6 pound sampai terangkat/naik.
tekanan) kira-kira 2000 kali
dalam setiap periode 24 jam.
POLA TEKANAN DAN MALOKLUSI
 Adanya ketidakseimbangan otot orofasial dan penelanan yang
abnormal memiliki keterkaitan dengan malokusi yaitu kemampuan
dari gigi-geligi untuk menahan tekanan pada posisi normal dan
abnormal
 Pada fungsi oklusi normal, tekanan fisik didistribusikan dengan baik
ke seluruh permukaan oklusi. Jika hal ini terhambat (tekanan tidak
beraturan) maka akan terjadi beberapa kerusakan pada gigi dan
struktur pendukungnya.
2. PERTUMBUHAN FASE NORMAL DAN FASE
YANG BERHUBUNGAN DENGAN KASUS
PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL
MENURUT SIGMUND FREUD

Fase Oral (0 - 2 tahun).


Pada fase ini kepuasan seksual manusia berada pada aktivitas mulut. Contoh, seorang bayi yang menyusui kepada ibunya, maka
bayi tersebut merasa dipuaskan di bagian mulutnya.

Fase Anal (2 - 3 tahun).


Pada fase ini kepuasan seksual manusia berada pada aktivitas anus. Contoh, seorang bayi akan merasa puas bila aktivitas
pengeluaran dari anusnya berjalan dengan baik.

Fase Phalic (3 - 5 tahun).


Pada fase ini manusia akan mencoba mengenali identitas kelaminnya. Contoh, seoarang anak laki-laki akan meniru segala
perbuatan yang dilakukan oleh Ayahnya dan seorang anak perempuan akan meniru segala perbuatan yang dilakukan oleh Ibunya.

Fase Latent (6 - 12 tahun).


Aktivitas seksual manusia pada fase ini cenderung tidak nampak. Hal ini terjadi karena individu sedang disibukkan dengan
pencarian prestasi.

Fase Genital (12 tahun ke atas).


Fase ini adalah fase akhir dari keseluruhan fase yang ada. Fase ini adalah fase dimana munculnya kembali aktivitas seksual
manusia.
3. KLASIFIKASI MALOKLUSI MENURUT ANGLE
DAN PROFIT
KLASIFIKASI MALOKLUSI ANGLE
Dasar:

 Hubungan mesiodistal yang normal antara gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah.

 Sebagai kunci oklusi digunakan gigi M1 atas.

Dasar pemilihan:

1. Merupakan gigi terbesar

2. Merupakan gigi permanen yang tumbuh dalam urutan pertama

3. Tidak mengganti gigi desidui

4. Bila pergeseran gigi M1 maka akan diikuti oleh pergeseran poros gigi lainnya

5. Jarang mengalami anomali


KLAS I ANGLE (NEUTROKLUSI)
Jika mandibula dengan lengkung Tanda-tanda:
giginya dalam hubungan a) Tonjol mesiobukal gigi M1 atas
mesiodistal yang normal terhadap terletak pada celah bagian
maksila. bukal (buccal groove) gigi M1
bawah.

b) Gigi C atas terletak pada ruang


antara tepi distal gigi C bawah
dan tepi mesial P1 bawah.

c) Tonjol mesiolingual M1 atas


beroklusi pada Fossa central M1
bawah
KLAS II ANGLE (DISTOKLUSI)
Tanda-tanda :
Jika lengkung gigi di
a) Tonjol mesiobukal M1 atas terletak
mandibula dan pada ruangan diantara tonjol
mesiobukal M1 bawah dan tepi distal
mandibulanya sendiri tonjol bukal gigi P2 bawah.
dalam hubungan b) Tonjol mesiolingual gigi M1 atas
mesiodistal yang lebih beroklusi pada embrasur dari tonjol
mesiobukal gigi M1 bawah dan tepi
ke distal terhadap distal tonjol bukal P2 bawah.

maksila. c) Lengkung gigi di mandibula dan


mandibulanya sendiri terletak dalam
hubungan yang lebih ke distal
terhadap lengkung gigi di maksila
sebanyak 1’2 lebar mesiodistal M1
atau selebar mesiodistal gigi P.
Kelas II Angle Divisi 1
Jika gigi-gigi anterior di rahang atas inklinasinya ke labial atau protrusi

Kelas II Angle Divisi 2


Jika gigi-gigi anterior di rahang atas inklinasinya tidak ke labial atau retrusi. Disebut
sub divisi bila kelas II hanya dijumpai satu sisi atau unilateral.
KLAS III ANGLE (MESIOKLUSI)
Tanda-tanda:

Jika lengkung gigi di mandibula dan a) Tonjol mesiobukal gigi M1 atas beroklusi
mandibulanya sendiri terletak dalam hubungan dengan bagian distal tonjol distal gigi M1
yang lebih ke mesial terhadap lengkung gigi
maksila bawah dan tepi mesial tonjol mesial tonjol
mesial gigi M2 bawah.

b) Terdapat gigitan silang atau gigitan


terbalik atau cross bite anterior pada relasi
gigi anterior.

c) Lengkung gigi mandibula dan


mandibulanya sendiri terletak dalam
hubungan yang lebih mesial terhadap
lengkung gigi maksila.

d) Tonjol mesiobukal gigi M1 atas beroklusi


pada ruangan interdental antara bagian
distal gigi M1 bawah dengan tepi mesial
tonjol mesial gigi M2 bawah.
KLASIFIKASI MALOKLUSI PROFIT
Dari kekurangan klasifikasi Angle maka Ackerman dan Profit membagi maloklusi dalam
beberapa penyempurnaan klasifikasi 9 kategori antara lain:
dilakukan yaitu: Ackerman dan Profit yang
dikutip oleh Bisara meresmikan sistem 1) Alignment (spacing,crowding)
tambahan informal pada metode Angle
2) Profil (convex, straight, concave)
dengan mengidentifikasi karakteristik utama
dari maloklusi untuk digambarkan secara 3) Deviasi sagital (crossbite)
sistematis pada klasifikasi Pendekatan
tersebut menutupi kelemahan utama skema 4) Deviasi vertikal (Kelas Angle)
Angle.
5) Deviasi vertical (deep bite dan open bite)

6) Deviasi transsagital (kombinasi crossbite


dan kelas Angle)

7) Sagitovertikal( kombinasi Angle dan deep


over bite atau open bite)

8) Deviasi vertikotransver (kombinasi deep


over bite atau open bite dengan crossbite)

9) Deviasi transsagitovertikal
4. ETIOLOGI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KELAINAN PADA PASIEN
ETIOLOGI THUMB SUCKING
 Adanya kebiasaan oral
Mempengaruhi kegagalan dalam menyusui dan konsekuensinya mungkin
menyebabkan penyapihan dini (proses penghentian penyusuan ASI pada bayi) atau
sebaliknya penyapihan dini menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan anak untuk
mengisap dan akhirnya bayi mengisap yang tidak bergizi seperti mengisap ibu jari
dan penggunaan botol yang dapat menghasilkan maloklusi.

 Keinginan untuk menarik perhatian, rasa tidak aman, dan sehabis


dimarahi atau dihukum
ETIOLOGI TONGUE THRUSTING
 Jenis puting susu buatan yang diberikan pada bayi.

 Kebiasaan mengisap ibu jari.


Walaupun mengisap jari tidak dilakukan lagi, akan tetapi telah terbentuk openbite maka lidah
sering terjulur ke depan untuk mempertahankan penutupan bagian depan selama proses
penelanan.

 Alergi, hidung tersumbat, atau obstruksi pernapasan


Sehingga bernafas melalui mulut yang menyebabkan posisi lidah turun di dasar mulut.

 Tonsil yang besar, adenoid, atau infeksi tenggorokan


Menyebabkan kesulitan pada saat menelan. Pangkal lidah membesar ketika tonsil mengalami
inflamasi, sehingga untuk mengatasinya mandibula secara refleks turun ke bawah, memisahkan
gigi, dan menyediakan ruangan yang lebih untuk lidah dapat terjulur ke depan selama menelan,
agar didapat posisi yang lebih nyaman.
 Ukuran lidah yang abnormal atau macroglossia
Dapat mengubah keseimbangan tekanan lidah dengan bibir dan pipi sehingga incisivus
bergerak ke labial.

 Faktor keturunan
Misalnya sudut garis rahang.

 Kelainan neurologis dan muskular


Serta kelainan fisiologis lainnya.

 Frenulum lingual yang pendek (tongue tied).


5. RENCANA PERAWATAN DAN
PENATALAKSANAAN
PERAWATAN DAN PENATALAKSANAAN
THUMB SUCKING
 Mengetahui penyebab.
Ketahui kebiasaan anak sehari-hari termasuk cara anak beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Faktor
emosional dan psikologis dapat menjadi faktor pencetus kebiasaan mengisap ibu jari.

 Menguatkan anak.
Menumbuhkan rasa ketertarikan pada anak untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Orang tua diingatkan untuk
tidak memberikan hukuman pada anak karena anak akan makin menolak untuk menghentikan kebiasaan ini.

 Mengingatkan anak.
Buat semacam agenda atau kalender yang mencatat keberhasilan anak untuk tidak mengisap ibu jari.

 Berikan penghargaan.
Orang tua dapat memberikan pujian dan hadiah yang disenangi si anak, bila anak sudah berhasil
menghilangkan kebiasaannya.
PERAWATAN DAN PENATALAKSANAAN
THUMB SUCKING
 Ibu jari atau jari diolesi bahan yang
tidak enak (pahit) dan tidak berbahaya,
misalnya betadine. Ini diberikan pada
waktu-waktu anak sering memulai
kebiasaannya mengisap ibu jari.
 Ibu jari diberi satu atau dua plester anti
air.
 Penggunaan thumb guard atau finger
guard.
 Sarung tangan
 Penggunaan thumb crib (fixed palatal
crib) pada bagian palatum.
PERAWATAN DAN PENATALAKSANAAN
TONGUE THRUSTING
 Terapi bicara

 Latihan myofunctional

 Menarik bibir bawah pasien.


Sementara bibir menjauh dari gigi, pasien diminta untuk menelan. Jika pasien biasa menyodorkan lidahnya, bibir akan
menjadi sedemikian kencang seolah berusaha untuk menarik jari-jari yang menarik bibir pada saat pasien berusaha
menelan. Pasien yang menyodorkan lidah tidak dapat melakukan prosedur penelanan mekanis sampai bibir-bibir
membuka rongga mulut.

 Latihan lidah

 Berlatih meletakkan posisi lidah yang benar saat menelan.


Pasien harus belajar melakukan “klik”. Prosedur ini mengharuskan pasien meletakkan ujung lidah pada atap mulut dan
menghentakkannya lepas dari palatum untuk membuat suara klik. Posisi lidah pada palatum selama aktivitas ini kira-kira
seperti posisi jika menelan dengan tepat. Pasien juga diminta membuat suara gumaman dimana pasien akan mengisap
udara ke dalam atap mulutnya di sekeliling lidah. Selama latihan ini, lidah secara alamiah meletakkan dirinya ke atap
anterior palatum. Selanjutnya pasien akan meletakkan ujung lidah di posisi ini dan menelan. Latihan ini dilakukan terus-
menerus sampai gerakan otot-otot menjadi lebih mudah dan lebih alamiah.
6. PROGNOSIS DAN KOMPLIKASI
AKIBAT THUMB SUCKING
 Masalah gigi, bila kebiasaan ini bertahan sampai umur 4 tahun maka akan menyebabkan maloklusi
gigi susu dan permanen, juga dapat menyebabkan masalah pada tulang-tulang di sekitar mulut. Resiko
tinggi ditemukan pada anak yang mengisap ibu jari pada waktu siang dan malam.

a) Anterior open bite

b) Overjet meningkat

c) Inklinasi ke lingual gigi incisivus RB dan inklinasi ke labial gigi insisivus RA

d) Posterior cross bite

e) Compensatory tongue thrust

f) Deep palate

g) Speech defect

h) Finger defect
 Jari abnormal
dengan pengisapan yang terus menerus terjadi hiperekstensi jari, terbentuk callus, iritasi,
eksema, dan paronikia (jamur kuku).

 Efek psikologis
pada anak akan menimbulkan menurunnya kepercayaan diri anak karena anak sering diejek
oleh saudara atau orangtuanya.

 Keracunan tidak disengaja


anak yang mengisap ibu jari terpapar tinggi terhadap keracunan yang tidak disengaja,
misalnya keracunan Pb.

 Resiko infeksi saluran cerna meningkat.


AKIBAT TONGUE THRUSTING
 Anterior openbite
Merupakan kasus yang paling umum terjadi akibat tongue thrust. Dalam kasus ini, bibir depan
tidak menutup dan anak sering membiarkan mulutnya terbuka dengan posisi lidah lebih maju
daripada bibir. Secara umum, lidah yang berukuran besar biasanya disertai menjulurkan lidah.
Openbite anterior pada umumnya mengakibatkan gangguan estetik, pengunyahan maupun
gangguan dalam pengucapan kata-kata yang mengandung huruf “s”, “z”, dan “sh”.

 Anterior thrust
Gigi incisivus atas sangat menonjol dan gigi incisivus bawah tertarik ke dalam oleh bibir bawah.
Jenis ini paling sering terjadi disertai dengan dorongan M.mentalis yang kuat.

 Unilateral thrust
Secara karakteristik, ada gigitan terbuka pada satu sisi.
 Bilateral thrust
Gigitan anterior tertutup namun gigi posterior dari premolar pertama ke molar dapat terbuka
pada kedua sisinya. Kasus seperti ini pada umumnya sangat sulit untuk dikoreksi.

 Bilateral anterior openbite


Dimana hanya gigi molar yang berkontak. Pada kasus ini ukuran lidah yang besar juga
mempengaruhi.

 Closed bite thrust


Menunjukkan protrusi ganda yang berarti gigi-gigi rahang atas maupun rahang bawah
mengalami gigitan yang terbuka lebar.
7. BHP DAN KIE
BHP
Medical Indication Patient Preference

a. Melakukan pemeriksaan subjektif, pemeriksaan objektif, dan a. Menginformasikan kondisi penyakit yang diderita pasien
pemeriksaan penunjang
b. Memberi kesempatan kepada pasien untuk partisipasi dalam
b. Menegakkan diagnosis berdasarkan tanda dan gejala pengobatan yang dipilih

c. Mengetahui etiologi dan faktor risiko c. Memberikan informasi mengenai penyakit dan tindakan medis
yang akan dilakukan
d. Melakukan perawatan sesuai indikasi dan kebutuhan pasien
d. Meminta izin sebelum melakukan tindakan medis

Quality of Life
Contextual Features
a. Memberikan terapi yang benar
a. Memberikan informasi penyakit kepada pasien karena
b. Melakukan tatalaksana yang sesuai dengan SOP ketidaktahuannya

c. Mengedukasi pasien agar etiologi atau keluhan dapat hilang dan b. Tidak membeda-bedakan pasien
tidak terjadi komplikasi

d. Merujuk dengan benar


8. EPIDEMIOLOGI
EPIDEMIOLOGI
 In this case, thumb sucking becomes the bad habit that frequently happens with
prevalence 13-100%. The effect of long-drawn thumb sucking habit will affect
the dental arch dimension with constriction on palate area, and causes
maxillary incisive over protrusion, increase of arch length, and decrease of
overbite.

 Kebiasaan buruk yang sering terjadi yaitu menghisap ibu jari mempunyai
prevalensi sebanyak 13-100%. Efek kebiasaan menghisap ibu jari yang
berkepanjangan akan berpengaruh terhadap dimensi lengkung gigi dengan
penyempitan daerah palatum dan menyebabkan insisiv rahang atas protrusi,
jarak gigit meningkat serta berkurangnya tumpang gigit

The relationship of thumb sucking habit towards dental arch dimension on 6 -


12 years old at RSGMP Faculty of Dentistry UNAIR in 2013 - 2014