0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
240 tayangan14 halaman

Ring Noetherian

1. Sebuah ring dikatakan Noetherian jika setiap idealnya merupakan ideal yang dibangkitkan secara berhingga. 2. Suatu modul Noetherian jika setiap submodulnya dibangkitkan secara berhingga. 3. Suatu ring merupakan ring Noetherian jika setiap modul yang dibangkitkan secara berhingga atas ring tersebut adalah modul Noetherian.

Diunggah oleh

widya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
240 tayangan14 halaman

Ring Noetherian

1. Sebuah ring dikatakan Noetherian jika setiap idealnya merupakan ideal yang dibangkitkan secara berhingga. 2. Suatu modul Noetherian jika setiap submodulnya dibangkitkan secara berhingga. 3. Suatu ring merupakan ring Noetherian jika setiap modul yang dibangkitkan secara berhingga atas ring tersebut adalah modul Noetherian.

Diunggah oleh

widya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ring

Noetherian
Meilinda Pradesta
Widya Evijayanti
 Berawal dari adanya suatu ring komutatif yang me
mpunyai suatu ideal (ideal kiri dan ideal kanan).
Apabila ideal tersebut memenuhi kondisi rangkaian n
aik (ascending chain condition/ACC) maka terbentukl
ah klas yang dikenal sebagai ring Noetherian dan
apabila ideal tersebut memenuhi kondisi rangkain turun
(descending
chain condition/DCC) maka terbentuklah klas yang di
kenal sebagai ring Artinian.
Definisi 4.1 Modul Noetherian

R-modul M dikatakan memenuhi kondisi rantai naik (ascending


chain condition), disingkat a.c.c, atas submodul jika untuk setiap
barisan naik dari submodul-submodul di M,

𝑆1 ⊆ 𝑆2 ⊆ 𝑆3 ⊆ ⋯,

pada suatu saat akan konstan (eventually constant), yaitu


terdapat ∈ ℕ sedemikian sehingga 𝑆𝑘 , 𝑆𝑘+1 , 𝑆𝑘+2 , ⋯ . Modul
yang memenuhi a.c.c atas submodul disebut sebagai modul
Noetherian.
(Roman, 2008)
Definisi 4.2 Gelanggang Noetherian

Gelanggang R dikatakan memenuhi kondisi rantai naik (ascending chain


condition), disingkat a.c.c, atas ideal jika untuk setiap barisan naik dari
ideal-ideal di M,

𝐼1 ⊆ 𝐼2 ⊆ 𝐼1 ⊆ ⋯,

pada suatu saat akan konstan (eventually constant), yakni terdapat ! ∈ ℕ


sedemikian sehingga 𝐼𝑘 = 𝐼𝑘+1 = 𝐼𝑘+2 = ⋯ . Gelanggang yang memenuhi
kondisi di atas disebut sebagai gelanggang Noetherian.
Lema 4.3 Misalkan R adalah M-modul dengan 𝑠1 ⊆𝑠2 ⊆ 𝑠3 ⊆ ⋯⋯
adalah barisan naik

submodul-submodul dari M pada suatu saat akan konstan.


Maka 𝑆 = 𝑈𝑗 𝑆𝐽 juga merupakan submodul dari M

Berikut diberikan syarat cukup dan perlu suatu R-modul


merupakan modul Noetherian, yang menjadi salah satu kriteria
suatu modul agar menjadi modul Noetherian.
Teorema 4.4

M-modul R dikatakan Noetherian jika dan hanya jika untuk


setiap submodul dari M merupakan submodul yang dibangkitkan
secara berhingga (finitely generated). (Roman, 2008)
Bukti.
(⇐) Misalkan setiap submodul dari M dibangkitkan secara berhingga
dan misalkan barisan naik submodul dari M adalah
𝑠1 ⊆𝑠2 ⊆ 𝑠3 ⊆ ⋯⋯
Berdasarkan Lema 4.3 himpunan 𝑆 = 𝑆𝑗 𝑈𝑗 membentuk submodul
dari M. Sehingga menurut premis, S merupakan Sub modul yang
dibangkitkan secara berhingga, Misalkan S ditulis sebagai
𝑢1 , 𝑢2 , 𝑢𝑛 . Karena 𝑈𝑖 ∈ 𝑆 ∈, maka terdapat𝐾𝑖 ∈ ℕsedemikian
sehingga 𝐾𝑖 ∈ 𝑆𝑘𝑖 . Dengan memilih suatu k yang merupakan nilai
maksimum dari 𝑘1 , 𝑘2 , 𝑘𝑛 , 𝑘 = 𝑚𝑎𝑥 𝑘1 , 𝑘2 , 𝑘𝑛
𝑢1 , 𝑢2 , 𝑢3 ∈ 𝑆𝑘
Sehingga, menurut Lema 2.13, diperoleh 𝑆 𝑢1 , 𝑢2 , 𝑢𝑛 ⊆ 𝑆𝑘

𝑆 𝑢1 , 𝑢2 , 𝑢𝑛 ⊆ 𝑆𝑘 ⊆ 𝑆𝑘+1 … ⊆ 𝑈𝑗 𝑆𝐽 = 𝑆
yang menunjukan sembarang barisan submodul naik, 𝑠1 ⊆𝑠2 ⊆ 𝑠3 ⊆ ⋯ ,
pada suatu saat akan konstan. Terbukti bahwa M merupakan modul
Noetherian.
Dari Teorema 4.4, diperoleh kriteria dari modul Noetherian yaitu setiap
submodulnya merupakan submodul yang dibangkitkan secara berhingga.
Karena gelanggang R dapat dipandang sebagai modul atas dirinya sendiri
dan sembarang submodul dari R- modul M merupakan ideal dari R, maka
melalui cara yang serupa dengan pembuktian Teorema 4.4, diperoleh
kriteria untuk sembarang gelanggang agar menjadi gelanggang Noetherian
yang dinyatakan dalam teorema berikut.

Akibat 4.5 Gelanggang ! dikatakan Noetherian jika dan hanya jika untuk
setiap ideal dari !
merupakan ideal yang dibangkitkan secara berhingga.
(Roman, 2008)
Berikut ini merupakan contoh penggunaan Teorema 4.4 dan Akibat 4.5
untuk membuktikan ℝ -modul ℝ! merupakan modul Noetherian
dan gelanggang ℤ merupakan gelanggang Noetherian.

Contoh 4.6 Misalkan ℝ merupakan himpunan bilangan riil.


Perhatikan bahwa ℝ-modul ℝ2 merupakan modul dengan submodul
yang terdiri dari {0}, 𝑐𝑣│𝑐 ∈ ℝ, v ≠ 0 ,dan ℝ2 itu sendiri. Menurut
konvensi, ruang nol memiliki basis himpunan kosong, sehingga {0}
dibangkitkan secara berhingga oleh himpunan kosong. Lalu, untuk
submodul M, terdapat 𝑐 ⊆ M sedemikian sehingga 𝑀 = 𝑣 dan
untuk submodul ℝ2, terdapat 1,0 , 0,1 ⊆
ℝ2 sedemikian sehingga ℝ2 =≪ 1,0 , (0,1) ≫.

Dari ketiga hal di atas diperoleh kesimpulan bahwa untuk setiap


submodul dari ℝ-modul ℝ2, merupakan submodul yang dibangkitkan
secara berhingga. Sehingga menurut Teorema 4.4, ℝ-modul ℝ2
merupakan modul Noetherian.
Contoh 4.7 Misalkan ℤ merupakan gelanggang bilangan bulat. Perhatikan
bahwa untuk sembarang ideal I dari ℤ, ideal I dinyatakan sebagai I = nℤ,
dengan n ≥ 0. Karena I dapat dinyatakan sebagai I=nℤ, maka terdapat
n ⊆ ℤ sedemikian sehingga I = ≪n ≫. Dengan kata lain, ideal I merupakan
ideal yang dibangkitkan secara berhingga. Sehingga menurut Akibat 4.5,
gelanggang ℤ merupakan gelanggang Noetherian.

Akibat 4.5 di atas menjelaskan bahwa salah satu kriteria dari sembarang
gelanggang ! agar menjadi gelanggang Noetherian adalah setiap ideal dari !
merupakan ideal yang dibangkitkan secara berhingga.
Teorema yang akan dibahas selanjutnya merupakan hubungan antara modul
Noetherian dengan gelanggang Noetherian, sehingga dari teorema tersebut
diperoleh kriteria lain dari modul Noetherian dan gelanggang Noetherian.
Namun, sebelumnya dibahas terlebih dahulu lema-lema terkait yang
nantinya digunakan dalam pembuktian teorema tersebut.
Lema 4.8 Misalkan Rn adalah R-modul yang berisi n-tuple anggota-anggota
gelanggang R. Misalkan pula R-modul M dibangkitkan secara berhingga,M
u1 , u2 , … . un dan S adalah submodul dari M . Definisikan pemetaan τ: Rn →
M1
dengan τ u1 , u2 , u3… = r1 u1 + r2 u2 + ⋯ + rn un Maka berlaku ketiga hal
berikut:
τ merupakan epimorfisma modul.

τ−1 (s) u ∈ Rn │τ(uϵS membentuk submodul dari !-modul !!.

τ τ−1 S =S
Teorema 4.14 Misalkan R adalah gelanggang komutatif dengan satuan.
Gelanggang R merupakan gelanggang Noetherian jika dan hanya jika
untuk setiap R -modul yang dibangkitkan secara berhingga merupakan
modul Noetherian.
(Roman, 2008)
Teorema 4.17 Teorema Basis Hilbert (Hilbert Basis Theorem)
Jika R adalah suatu gelanggang Noetherian, maka gelanggang
polinomial R [x] juga merupakan gelanggang Noetherian.
(Roman, 2008)

Bukti.
Misalkan I adalah sembarang ideal dari R [x] , akan ditunjukkan I
adalah ideal yang dibangkitkan secara berhingga. Misalkan ! merupakan
himpunan dari seluruh koefisien utama dari polinomial-polinomial di I dan 0
∈ R, Berdasarkan Lema 4.15, L merupakan ideal dari R.
KESIMPULAN

Dalam makalah ini telah dibahas kriteria dari suatu modul agar menjadi modul
Noetherian. Dari Teorema 4.4 diperoleh kesimpulan bahwa R-modul
merupakan modul Noetherian jika setiap submodulnya merupakan modul
yang dibangkitkan secara berhingga. Karena gelanggang R dapat dipandang
sebagai modul atas dirinya sendiri dan sembarang ideal dari R merupakan
submodul dari R -modul R, diperoleh kriteria dari gelanggang Noetherian,
yang tertulis dalam Akibat 4.5, yaitu setiap ideal dari R merupakan ideal yang
dapat dibangkitkan secara berhingga.
Dari Teorema 4.14, diperoleh kriteria dari suatu R -modul yang dibangkitkan
secara berhingga dikatakan modul Noetherian, jika gelanggang R merupakan
gelanggang Noetherian. Dari Teorema 4.14 pula diperoleh kriteria lain dari
gelanggang Noetherian, yaitu setiap modul yang dibangkitkan secara
berhingga atas gelanggang tersebut merupakan modul Noetherian.
Berdasarkan Teorema 4.17, gelanggang polinomial R[x] merupakan
gelanggang Noetherian, jika gelanggang ! adalah gelanggang Noetherian. Di
bawah kondisi yang sama, gelanggang hasil bagi R/I, dengan I ideal dari R,
merupakan gelanggang Noetherian menurut Teorema 4.18.

Anda mungkin juga menyukai