Anda di halaman 1dari 25

©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 1

GEO
MEK KINEMATIKA
METODE
UNTUK
ANIK
ANALISIS LERENG
A 27
OLEH : ISSER SAMUEL TUMALANG

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 2

Analis
a
Pendahuluan
Kinem
Lereng adalah permukaan bumi yang membentuk sudut

atika
kemiringan tertentu dengan bidang horizontal

Analisis lereng sudah lama menjadi tantangan, terutama karena


adanya diskontinuitas didalam massa batuan.

Tidak ada lereng batuan yang bisa dijamin kestabilannya setelah


terbentuk bertahun-tahun lamanya. (Jumikis, 1983)

Kemantapan suatu lereng tergantung terhadap besarnya gaya


penahan dan gaya penggerak yang terdapat pada bidang gelincir
tersebut.

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 3

Metode Kinematika Untuk


Analisa Lereng
• Analisis kinematika merupakan salah satu metode
analisis kestabilan lereng yang menggunakan
parameter orientasi struktur geologi, orientasi
lereng dan sudut geser dalam batuan yang
diproyeksikan pada stereonet (Hoek dan Bray,
1981).

• Tujuan analisis kinematika yaitu Untuk mengetahui


tipe atau jenis longsoran yang berpotensi terjadi
pada suatu lereng

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 4

Drag your picture here

Permasalahan utama dalam pengawasan pergerakan


bantuan pada tambang bawah tanah antara lain
sulitnya mengetahui lebih awal terjadinya pergerakan,
adanya faktor seperti getaran peledakan, pelapukan
akibat rembesan air tanah serta prediksi dari hasil
analisis laboratorium yang seringkali tidak akurat
dibandingkan dengan pengukuran secara langsung.

04
FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 5
Longsoran
Tipe Longsoran, Hoek
& Bray(Plane
Bidang (1981)
Failure) Longsoran Baji (Wedge F
• Merupakan longsoran yang terjadi jika massa • Merupakan longsoran yang terjadi akibat adanya dua
batuan bergerak menuruni lereng sepanjang bidang bidang diskontinyu yang berpotongan dan longsoran
gelincir yang dianggap datar terjadi di sepanjang diskontinuitas tersebut sehingga
menghasilkan bentuk membaji

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 6

Circular Failure (Longsoran Toppling Failure (Longsoran


Busur) Guling)
jenis longsoran yang terjadi pada batuan yang pelapukannya Merupakan jenis longsoran yang terjadi jika pergerakan massa
intensif pada material lepas atau pada batuan dengan batuan tidak melalui bidang gelincir
discontinuitas yang rapat dengan orientasi tidak teratur.

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 7

Mekanisme Keruntuhan Pada Lereng


1. Analisa Kinematik Untuk Longsoran Bidang

Syarat terbentuknya longsoran bidang antara lain:


Terdapat bidang gelincir bebas yang kemiringannya lebih kecil
daripada kemiringan lereng (ᴪf > ᴪp)
Arah bidang perlapisan sejajar dengan arah lereng (+/- 20⁰)
Kemiringan bidang gelincir lebih besar daripada sudut geser
dalam batuan (ᴪp > ɸ)
Terdapat bidang geser (tidak terdapat gaya penahan) pada
kedua sisi longsoran

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 8

Dari kondisi diatas dapat disusun dalam suatu hubungan , yaitu :


ψf > ψp > Φ.

Ψf = Kemiringan muka lereng


Ψp = Kemiringan dari bidang diskontinu
Φ = Sudut geser dalam
FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 9

2. Analisa Kinematik Untuk Longsoran


Bajilongsoran baji adalah sebagai
Syarat terbentuknya
berikut:
1) Terdapat dua bidang lemah yang salaing
berpotongan pada permukaan lereng
2) Arah penunjaman perpotongan bidang lemah
A dan B harus lebih kecil dari sudut kemiringan
lereng (ᴪfi > ᴪi)
3) Sudut perpotongan bidang lemah harus lebih
besar daripada sudut geser dalam batuannya
(ᴪi > ɸ)
4) Bentuk longsoran dibatasi oleh muka lereng
bagian atas dan kedua bidang lemah

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 10

Tujuan pemantauan TBT

KONDISI UDARA BATUAN RAPUH


TAMBANG DAN KERUNTUHAN
BATUAN

LEDAKAN
TAMBANG DAN
GAS-GAS
PELEDAKAN DAN
TAMBANG
GETARAN YANG
BERACUN DIAKIBATKAN
FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 11

Tujuan pemantauan massa


batuan
Pelaksanaan pemantauan, khususnya untuk Model-model yang digunakan untuk
tujuan ini, merupakan bagian dari metode
observasi yang merupakan kunci pokok dari memperkirakan respons massa batuan
kegiatan geoteknik modern (Peck, 1969). terhadap kegiatan penambangan
didasarkan pada idealisasi, asumsi, dan
penyederhanaan.
Sifat keteknikannya sangat sulit, atau
bahkan tidak mungkin, ditentukan
secara akurat sebelum lubang bukaan
digali (Wattimena, 2003).
Keakuratan dari prediksi yang
Massa batuan merupakan media dilakukan pada perhitungan
yang sangat kompleks. rancangan sangat penting untuk
diperiksa.

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 12

Apa Yang Dipantau

Apa yang dipantau?


Dengan teknologi sekarang, yang dapat diukur langsung:
• Perpindahan
• Tekanan
• Waktu
Surface subsidence : pemantauan sistematis yang pertama-tama dilakukan di pertambangan. Di
Belgia pada tahun 1830-an.
• Tambang batubara, bijih besi, garam di Eropa dan Amerika Serikat (Young dan Stoek, 1916)
• Metode penambangan block caving (Fletcher, 1960)
• Pengukuran perpindahan ralatif antara dua titik atau convergence (Greenwald et al., 1937)
• Borehole extensometer (Merrill, 1954; Potts, 1957)
• Stressmeter (Merrill, 1962)
• Microseismic di tambang bawah tanah meliputi juga pengukuran perpindahan dan waktu
(Obert dan Duvall, 1957).

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
Yang dapat dipantau pada ©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 13

tambang
bawah tanah (Brady &
Brown, 1993)
• Rekahan atau gelinciran pada batuan (visual)
• Pergerakan sepanjang atau memotong sebuah kekar atau rekahan
• Convergence antara dua titik
• Perpindahan pada massa batuan
• Subsidence
• Perubahan kemiringan lubang bor
• Muka, tekanan, dan aliran air tanah
• Perubahan tegangan normal pada sebuah titik dalam massa batuan
• Perubahan beban pada elemen penyangga dan perkuatan
• Tegangan normal dan tekanan air pada material pengisi
• Settlement material pengisi
• Seismic dan microseismic emissions
• Kecepatan rambat gelombang

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 14

DISPLA
CEMEN memantaunya?
Bagaimana
T Sistem instrumentasi pemantauan

1 modern:
• sensor atauDetector
• sistem transmisi
• read-out dan/atau perekam

Sistem pemantauan yang digunakan

2 pada sebuah tambang bawah tanah


modern dapat sangat kompleks dan
mahal

Kesimpulan berharga seringkali dapat dicapai

3 melalui observasi visual atau observasi


yangmenggunakan peralatan pengukuran yang
sangatsederhana

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 15

GEOMEKANIKA 27
Kriteria Sistem Pemantauan Yang
Baik
(Brady & Brown, 1993)

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 16

MACAM INSTRUMEN
PEMANTAUAN
TBT

1. Alat Pemantauan Pergeseran

2. Alat Pemantauan Beban dan


Regangan

Alat Pemantauan Air Tanah

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 17

1. ALAT PEMANTAUAN
PERGESERAN

Keterangan

1. Konvergen Meter

2. Inklinometer

3. Ekstensometer

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
3 TAHAPAN DALAM ©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 18

MONITORING
PENYANGGAAN
TAHAP DESAIN AWAL TahapanTEROWONGAN
ini lebih dikenal dengan sebutan tahapan
Penyelidikan kondisi geologisepanjang rencana jalur
terowongan, untuk mengetahui jenis batuan, struktue
geologi, kondisi air tanah dan adanya gas beracun yang ada
pada sepanjang rencana jalur terowongan
TAHAPAN SELAMA PENGGALIAN Pada tahap ini dilakukan beberapa pekerjaan antara lain
TAHAPAN KONDISI NYATA penyelidikan detail, yaitu setiap jengkal Kemajuan
(REAL CONDITION) Terowongan dilakukan Pemetaan geologi secara detil yang
dimaksudkan untuk melakukan observasi kondisi batuan pada
setiap kondisi area peledakan

TAHAPAN SETELAH PENGGALIAN Pada Tahap akhir ini hanya dilakukan Monitoring Jangka
Panjang dimana Tujuan Pemasangan Monitoring hanya untuk
memantau deformasi pada lubang Terowongan serta
memantau Kondisi Air Tanah di ekitar Terowongan

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 19
MONITORING PERPINDAHAN DAN
KONVERGENSI

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 20
METODE MONITORING
CONVERGENSI

Monitoring Konvergensi diletakkan pada tempat dengan


bantuan pins (target plates) yang segera dipasangkan pada
tunnel walls setelah penggalian. Peletakan dan pemantauan
pins pada lapisan pembalik (invert lining ) sangat penting
(pada bagian tertentu invert ditutup secara sementara
untuk menyediakan jalur angkutan . Jarak antar pin diukur
dengan invar wires atau steel tapes. Saat ini, metode optical
lebih diaplikasikan misalkan pada laser beams (tunnel
scanner) atau metode photogram metric (misalnya evaluasi
gambar stereo). Gambar yang diperoleh digunakan untuk
mengecek penampang penggalian. Pada gambar di samping
Monitoring (Konvergensi dengan Tachymeter) menjelaskan
tentang konvergensi dan juga pada ketebalan lempengan
beton semprot

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 21

METODE MONITORING
CONVERGENSI

Untuk mendeteksi Konvergensi, perpindahan diferensial


diantara beberapa jenis pins pada cross section yang sama
harus diplot dari waktu ke waktu. Data direpresentasikan
pada gambar plot vektor perpindahan titik target dinding
terowongan

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 22

Titik-titik plot vektor

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 23

Sistem Pemantauan
Menggunakan Laser

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 24

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n
©2 0 17 | Z ACOMIC ST UDIOS 25

FOLLOW US: U n i q u e a n d p r o f e s s i o n a l p r e s e n t a ti o n d e s i g n