Anda di halaman 1dari 51

KONSEPSI DASAR &

MANAJEMEN KEPROTOKOLAN
(Disampaikan pada Pelatihan Dasar CPNS )

Dr.Mery Fanada,S.Pd,SKM,M.Kes
AGENDA
PENGERTIAN PROTOKOL DAN
KEPROTOKOLAN

MENGENAL ACARA KENEGARAAN DAN


ACARA RESMI

KONSEPSI DASAR KEPROTOKOLAN

TANYA JAWAB
PENGERTIAN PROTOKOL
 Anggapan awam/umum:
Seseorang dengan pakaian lengkap yang sibuk
mengatur suatu kegiatan/upacara
Seseorang yang tampil di depan mike
membawakan acara (MC)
Seseorang yang bertugas melayani atau menerima
tamu-tamu dalam suatu upacara

Anggapan seperti ini perlu diluruskan


PENGERTIAN PROTOKOL
(MENURUT KAMUS UMUM BAHASA INDONESIA,
W.J.S. POERWADARMINTA)

 Protokol ialah:
Surat-surat resmi yang memuat hasil-hasil
perundingan/persetujuan
Peraturan-peraturan upacara di Istana Kepala
Negara
Berkenaan dengan penyambutan tamu-tamu
negara
PENGERTIAN PROTOKOL
(Oxford Dictionary)

• A system of rules governing formal occasions, eg: meetings


between governments, officials, etc: the protocol of diplomatic
visits, a breach of protocol. Protocol demands that formal dress
be worn on such occasions. (Susunan peraturan yang mengatur
acara-acara formal, contoh pertemuan antar pemerintah,
pejabat dan lain-lain, misalnya protokol dalam kunjungan
diplomatik, pelanggaran keprotokolan. Protokol mengharuskan
digunakannya pakaian formal dalam acara-acara resmi).
• The first or original version of an agreement, in writing. (Versi
pertama atau asli dari sebuah perjanjian, dalam writing).
ASAL MULA KATA PROTOKOL

Protocole
Bahasa Perancis

Proses verbal:
official minutes,
Protokollum Semua
catatan agreement, treaty,
Bahasa Latin seperti Protokol
dokumen
Jenewa, Protokol
Lembaran negara yang Paris dan Protokol
pertama dari bersifat Kyoto
suatu nasional dan
gulungan internasional
papyrus
Bahasa Yunani
Protos Kolla
(yang pertama) (lem atau perekat)
PENGERTIAN PROTOKOL
Protokol adalah serangkaian aturan dalam acara
kenegaraan atau acara resmi, yang meliputi
aturan mengenai tata tempat, tata upacara dan
tata penghormatan, sehubungan dengan
penghormatan kepada seseorang, sesuai dengan
jabatan dan atau kedudukannya dalam negara,
pemerintah atau masyarakat”
(UU No. 8 tahun 1987 tentang Protokol)
PENGERTIAN KEPROTOKOLAN
Keprotokolan adalah serangkaian kegiatan yang
berkaitan dengan aturan dalam acara
kenegaraan atau acara resmi yang meliputi Tata
Tempat, Tata Upacara, dan Tata Penghormatan
sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang
sesuai dengan jabatan dan/atau kedudukannya
dalam negara, pemerintahan, atau masyarakat.
(UU No. 9 tahun 2010 tentang Keprotokolan)
LANDASAN DAN SUMBER HUKUM
KEPROTOKOLAN
 PERSETUJUAN INTERNASIONAL
 Konvensi Wina 1815, 1961 dan 1963
 PERATURAN PERUNDANGAN
 UU Nomor 8 Tahun 1987 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 9 Tahun
2010 tentang Keprotokolan
 UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri
 UU Nomor 1 Tahun 1982 tentang Pengesahan Konvensi Wina 1961 dan 1963
 PP Nomor 62 Tahun 1990 tentang Ketentuan Keprotokolan mengenai Tata
Tempat, Tata Upacara dan Tata Penghormatan
 Keppres Nomor 32 Tahun 1971 tentang Protokol Negara
 Permensesneg Nomor 13 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Keprotokolan Presiden dan Wakil Presiden RI
 TRADISI, ADAT ISTIADAT DAN KEBIASAAN SETEMPAT
 AZAS TIMBAL BALIK (RESIPROSITAS)
 LOGIKA UMUM (COMMON SENSE)
DEFINISI ACARA KENEGARAAN DAN
ACARA RESMI

• Acara Kenegaraan adalah Acara yang bersifat


kenegaraan yang diatur dan dilaksanakan secara
terpusat, dihadiri oleh presiden dan/atau Wakil Presiden
serta pejabat negara lainnya dalam melaksanakan acara
tertentu.
• Acara Resmi adalah Acara yang bersifat resmi yang
diatur dan dilaksanakan oleh Pemerintah atau Lembaga
Tinggi Negara dalam melaksanakan tugas dan fungsi
tertentu, dan dihadiri oleh Pejabat Negara dan/atau
Pejabat Pemerintah serta undangan lainnya.
Dihadiri oleh Dihadiri oleh RI 1
dan/atau RI2 serta
tertentu

Pejabat Negara dan Pejabat

dan fungsi
DihadiriNegara
oleh RIdan
1

tertentu
Dihadiri oleh
Pemerintah Pemerintah
dan/atau RI2 serta
tertentu

Pejabat Negara dan

Melaksanakan
Pejabat Negara dan

dan fungsi
Melaksanakan

tertentu
Pemerintah Pemerintah

Melaksanakan
tugas tugas
Melaksanakan
acaraacara
AAN
RESMI
KENEGAR
negara terpusat
pemerintah/lembaga
Diselenggarakan
negara oleh
Diatur secara
terpusat

Resmi
Bersifat

Bersifat
pemerintah/lembaga
Diatur secara
Kenegaraan

Diselenggarakan oleh

Resmi
Bersifat

Bersifat
Kenegaraan

ACARA RESMI
ACARA KENEGARAAN DAN
PENJELASAN GAMBAR
ACARA KENEGARAAN ACARA RESMI
• Bersifat Kenegaraan. Pada Acara • Bersifat Resmi, dapat
Kenegaraan mengenakan menggunakan Pakaian Sipil
pakaian kebesaran. Kehadiran Harian atau pakaian lain yang
undangan tidak boleh telah ditentukan. Undangan
diwakilkan. dapat diwakilkan.
• Pembesar Upacara, harus • Dapat oleh Pejabat Negara
dihadiri oleh Presiden dan/atau dan/atau Pejabat Pemerintah
Wakil Presiden • Penyelenggaraannya tidak oleh
• Penyelenggaraannya diatur Panitia Negara namun oleh
secara terpusat oleh Panitia Lembaga Negara, Instansi
Negara Pemerintah Pusat/Daerah
• Melaksanakan Acara Tertentu • Melaksanakan tugas dan fungsi
tertentu
TATA TEMPAT (PRESEANCE)
 Adalah pengaturan tempat bagi Pejabat Negara, Pejabat
Pemerintahan, perwakilan negara asing dan/atau organisasi
internasional, serta Tokoh Masyarakat Tertentu dalam acara
kenegaraan atau acara resmi;
 Mengandung unsur tentang siapa yang berhak didahulukan
dan siapa yang berhak mendapat prioritas.
ATURAN DASAR TATA TEMPAT
1. Orang yang berhak mendapat tata
urutan pertama/paling tinggi adalah
mereka yang mempunyai urutan paling
depan/mendahului.
ATURAN DASAR TATA TEMPAT
2. Jika berjajar, yang berada di sebelah kanan dari
orang yang mendapat urutan tata tempat paling
utama, dianggap lebih tinggi/mendahului orang
yang duduk di sebelah kirinya.
3. Jika menghadap meja, tempat utama yang
menghadap ke pintu keluar dan tempat terakhir
adalah tempat yang paling dekat dengan pintu
keluar.
4. Pada posisi berjajar pada garis yang sama,
tempat yang terhormat adalah di tempat paling
tengah, dan di tempat sebelah kanan luar.
Persembahan tarian pada Acara Peresmian dan Groundbreaking
Proyek-Proyek MP3EI Kaltim di Balikpapan, tanggal 24 Oktober 2012.
(Foto: Anung/Biro Pers, Media, dan Informasi Setpres)
ATURAN DASAR TATA TEMPAT
5. Apabila naik kendaraan, orang yang mendapat tata
urutan paling utama di pesawat terbang naik paling
akhir dan turun paling dahulu.
ATURAN DASAR TATA TEMPAT
6. Dalam hal kedatangan dan kepulangan, orang
yang paling dihormati selalu datang paling
akhir dan pulang paling dahulu.
PEDOMAN TATA TEMPAT
a. Urutan Tata Tempat di Pusat:
1) Presiden RI
2) Wakil Presiden RI
3) Mantan Presiden &
Mantan Wakil Presiden RI
4) Ketua Lembaga Negara
(Ketua MPR, DPR, DPD, BPK, MA, MK dan KY)
5) Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan
6) Duta Besar/Kepala Perwakilan Negara Asing dan
Organisasi Internasional.
8
7) Wakil Ketua MPR, DPR, DPD, Gubernur BI,
Ketua Badan Penyelenggara Pemilu, Wakil Ketua
BPK, MA, MK dan KY.
8) Menteri, Pejabat Setingkat Menteri, Anggota
DPR- RI, dan Anggota DPD-RI, serta Dubes LBBP-
RI.
9) Kepala Staf TNI AD, AL dan AU TNI
10) Pemimpin Parpol yang memiliki wakil di DPR-RI
11) Anggota BPK, Ketua Muda dan Hakim Agung
MA, Hakim MK, dan Anggota KY Republik
Indonesia.
12) Pemimpin LN yang ditetapkan sebagai PN,
Pemimpin LN lainnya yang ditetapkan dg UU,
9
DGS dan Deputi Gubernur BI, serta Wakil Ketua
13) Gubernur Kepala Daerah.
14) Pemilik Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan
Tertentu
15) Pimpinan Lembaga Pemerintah Nonkementerian,
Wakil Menteri, Wakil Kepala Staf AD, AL, dan AU
TNI, Wakil Kapolri, Wakil Jakgung, Wakil
Gubernur, Ketua DPRD Provinsi, Pejabat Eselon I
atau yang disetarakan.
16) Bupati/Walikota dan Ketua DPRD
Kabupaten/Kota; dan
17) Pimpinan tertinggi representasi organiasi
keagamaan tingkat nasional yang secara faktual
diakui keberadaannya oleh Pemerintah dan
Masyarakat. 10
b. Urutan Tata Tempat di Provinsi:
1) Gubernur;
2) Wakil Gubernur;
3) Mantan Gubernur dan Wakil Gubernur;
4) Ketua DPRD Provinsi atau nama lainnya;
5) Kepala Perwakilan Konsuler Negara Asing di
daerah;
6) Wakil Ketua DPRD Provinsi atau nama lainnya;
7) Sekretaris Daerah, Panglima/Komandan Tertinggi
TNI semua angkatan, Kepala Kepolisian, Ketua
Pengadilan Tinggi semua badan peradilan, dan
Kepala Kejaksaan Tinggi di Provinsi.
11
b. Lanjutan Urutan Tata Tempat di Provinsi:
8) Pemimpin Parpol di Provinsi yang memiliki wakil
di DPRD Provinsi;
9) Anggota DPRD Provinsi atau nama lainnya,
Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh
dan Anggota Majelis Rakyat Papua;
10) Bupati/Walikota;
11) Kepala Kantor Perwakilan BPK di daerah, Kepala
Kantor Perwakilan BI di daerah, Ketua KPUD;
12) Pemuka Agama, Pemuka Adat, dan Tokoh
Masyarakat Tertentu Tingkat Provinsi;
13) Ketua DPRD Kabupaten/Kota;
11
b. Lanjutan Urutan Tata Tempat di Provinsi:
14) Wakil Bupati/Wakil Walikota dan Wakil Ketua
DPRD Kabupaten/Kota;
15) Anggota DPRD Kabupaten/Kota;
16) Asisten Sekda Provinsi, Kepala Dinas Tingkat
Provinsi, Kepala Kantor Instansi Vertikal di
Provinsi, Kepala Badan Provinsi, dan Pejabat
Eselon II; dan
17) Kepala Bagian Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pejabat Eselon III.

11
c. Urutan Tata Tempat di Kabupaten/Kota:
1) Bupati/Walikota;
2) Wakil Bupati/Walikota;
3) Mantan Bupati/Walikota dan Wakil
Bupati/Walikota;
4) Ketua DPRD Kabupaten/Kota atau nama lainnya;
5) Wakil Ketua DPRD Kabupaten/Kota atau nama
lainnya;
6) Sekretaris Daerah, Komandan Tertinggi
TNI semua angkatan, Kepala Kepolisian, Ketua
Pengadilan Negeri semua badan peradilan, dan
Kepala Kejaksaan Negeri di Kabupaten/Kota;
11
c. Lanjutan Urutan Tata Tempat di Kabupaten/Kota:
7) Pemimpin Parpol di Provinsi yang memiliki wakil
di DPRD Kabupaten/Kota;
8) Anggota DPRD Kabupaten/Kota atau nama
lainnya;
9) Pemuka Agama, Pemuka Adat, dan Tokoh
Masyarakat Tertentu Tingkat Kabupaten/Kota;
10) Asisten Sekda Kabupaten/Kota, Kepala Badan
Tingkat Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Tingkat
Kabupaten/Kota, dan Pejabat Eselon II, Kepala
Kantor Perwakilan BI di Tingkat Kabupaten,
Ketua KPU Kabupaten/Kota;
11
c. Lanjutan Urutan Tata Tempat di Kabupaten/Kota:
11) Kepala Instansi Vertikal Tingkat Kabupaten/Kota,
Kepala Unit Pelaksana Teknis Instansi Vertikal,
Komandan Tertinggi TNI semua angkatan di
kecamatan, dan Kepala Kepolisian di kecamatan;
12) Kepala Bagian Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota, Camat, dan Pejabat Eselon III;
13) Lurah/Kepala Desa atau yang disebut dengan
nama lain dan Pejabat Eselon IV.

d. Istri / suami yg mendampingi Pejabat Negara/


Pemerintah atau Tokoh Masyarakat ttt mendapat
tempat sesuai dengan urutan tata tempat pejabat tsb
11
e. Dlm hal Pejabat Negara/Pemerintah atau Tokoh
Masyarakat ttt berhalangan hadir pd suatu acara,
maka tempatnya tidak diisi oleh Pejabat yg mewakili
(Pejabat yg mewakili mendapat tempat sesuai dg
jabatan yang dipangkunya)

f. Dalam hal Pejabat Negara/Pemerintahan memangku


jabatan lebih dari satu yang berbeda tingkatannya,
maka tata tempatnya berdasarkan urutan yang
lebih dahulu

g. Mantan Pejabat Negara/Pemerintah mendapat tempat


setingkat lebih rendah dari jabatan yg pernah
dipangku sebelumnya
12
h. Acara resmi yang diselenggarakan oleh instansi
pusat dan dilaksanakan di daerah, maka Menteri/
Pimpinan LPNK yang ber tindak sebagai tuan
rumah
acara. Sedangkan tuan rumah daerah adalah
Gubernur atau Bupati/Walikota.

i. Pendamping Presiden RI atau Wakil Presiden RI


pada saat menghadiri acara resmi di daerah :
- Bila penyelenggaranya adalah instansi pusat,
maka Menteri/Pimpinan LPNK yang mendampingi
- Bila penyelenggaranya adalah daerah, maka
Gubernur atau Bupati/Walikota yang bersang-
kutan yang mendampingi 13
3. Contoh Pengaturan Tata Tempat
a. Berdiri
- Bila berjabat tangan :
P = Presiden
P

5 4 3 2 1

1 = Presiden
M M = Masyarakat
1 2 3 4 5

- Bila tidak berjabat tangan :

5 3 1 2 4 4 2 1 3
14
b. Duduk
- Dalam rapat (meja bentuk U):
13 12
11 10
9 8
7 6 1 = Pemimpin Rapat

5 3 1 2 4
- Meja Bulat :
7 6
5 4
3 2
1 15
- Dalam pertemuan / tatap muka (theater):

6 5 4 3 2 11 2 3 4 5 6
6 5 4 3 2 11 2 3 4 5 6
6 5 4 3 2 11 2 3 4 5 6
6 5 4 3 2 11 2 3 4 5 6
6 5 4 3 2 11 2 3 4 5 6

1 = Presiden

4 2 1 3

16
LAYOUT TEMPAT ACARA PERESMIAN

Berhadapan : Satu Arah :

Kursi Utama/Main Seat Kursi Perangkat Podium


Tombol Sirine 17
Kursi Menteri/ Rombongan Kursi Muspida Daerah
Meja Prasasti
Resmi Presiden Para Undangan lainnya
LAYOUT TEMPAT ACARA
PELANTIKAN PEJABAT
NEGARA/PEMERINTAH

Presiden RI Para Pejabat yang dilantik Para istri pejabat


Wakil Presiden RI Para Pimp Lembaga Negara, Undangan lain
Menteri, Ka. LPND/Eselon I 18
Perangkat Kepresidenan Rohaniwan
LAYOUT TEMPAT ACARA JAMUAN
SANTAP MALAM KENEGARAAN

Kursi Utama/Main Seat Para Ka. Lembaga Negara, Undangan lain


Menteri dan Romb. Resmi 19
Tamu Negara
KESIMPULAN
Aturan Dasar Tata tempat yang telah
kita bahas bersama tersebut pada
dasarnya mengandung esensi bahwa
tata tempat (preseance)
mengandung unsur tentang siapa
yang berhak didahulukan dan siapa
yang berhak mendapat prioritas.
Aturan untuk melaksanakan
TATA UPACARA upacara dalam Acara
Kenegaraan atau Acara
Resmi (Pasal 1 UU Nomor 9
Tahun 2010)

JENIS UPACARA

PEDOMAN
PENYELENGGARAAN
UPACARA

PAKAIAN UPACARA
JENIS UPACARA
UPACARA BENDERA BUKAN UPACARA BENDERA
• Kegiatan pengibaran atau • Kegiatan yang memerlukan
penurunan bendera merah pengaturan protokol seperti
putih yang dilaksanakan antara lain penerimaan
dalam rangka memperingati tamu-tamu Presiden,
hari-hari besar nasional, credentials,
seperti HUT Proklamasi penganugerahan tanda
Kemerdekaan RI, Hari kehormatan, peresmian
Kebagkitan Nasional, Hari pembukaan
Pahlawan dll. munas/rakernas, dll.
PENGELOMPOKAN
JENIS UPACARA
Penerimaan
Tamara
Perjalanan ke
daerah/LN

Penyelenggaraan
Upacara lainnya: hari
besar nas, credentials
dll.

Pengaturan
rapat/sidang/ko
nferensi

Penyelenggaraan
Resepsi/Jamuan
PEDOMAN PENYELENGGARAAN UPACARA


Apa, siapa yang harus berbuat apa, dimana (tempat), bilamana (waktu)

Bagaimana tata caranya

Perencanaan Upacara
PAKAIAN UPACARA
No Pejabat Sipil TNI/POLRI Wanita Acara
(Pria/Wanita) (istri pejabat)
1. PSDH/PSN PDU 2 Pakaian Nasional PSDH: Jamuan resepsi/santap
resmi atau kenegaraan
PSN: Acara resmi/kenegaraan
di luar negeri
2. PSL PDU 1 Pakaian Nasional Upacara resmi/kenegaraan,
dan 3 bepergian resmi ke LN,
upacara pelantikan pejabat
tertentu
3. PSR PDU 4 Bebas Rapi Upacara selain upacara
kenegaraan, seperti menerima
tamu LN, upacara pelantikan
4. PSH PDH Bebas Rapi Bekerja sehari-hari dan
keperluan umum lainnya, spt:
upacara peresmian proyek dll
5. Batik Batik Batik Acara resmi/tidak resmi di luar
jam kerja atau acara lainnya
TATA PENGHORMATAN
DALAM KEPROTOKOLAN
DASAR
• Pasal 31 UU No. 9 Tahun 2010, “Pejabat Negara, Pejabat
Pemerintahan, Perwakilan Negara Asing dan/atau
organisasi internasional serta Tokoh Masyarakat Tertentu
mendapat penghormatan.
• Yang dimaksud dengan penghormatan dan perlakuan
sesuai dengan kedudukannya dan martabatnya adalah
sikap perlakuan yang bersifat protokol yang harus
diberikan kepada seseorang dalam acara kenegaraan atau
acara resmi sesuai dengan jabatan dan/atau
kedudukannya dalam negara, pemerintahan atau
masyarakat.
DEFINISI TATA PENGHORMATAN
(MENURUT PASAL 1 AYAT 8 PP NO. 62 TAHUN 1990)

• Aturan untuk melaksanakan pemberian


hormat bagi:

Pejabat
Acara
Tokoh
Kenegaraan
Pemerintah
Masyarakat

Negara
Acara Resmi
BENTUK-BENTUK PENGHORMATAN

• Penghormatan terhadap seseorang dalam bentuk preseance


• Penghormatan terhadap seseorang dalam bentuk rotation

Rotation
LANJUTAN BENTUK-BENTUK
PENGHORMATAN
• Penghormatan terhadap seseorang dalam
bentuk perlakuan
• Penghormatan terhadap sesorang dengan
menggunakan Bendera Kebangsaan Sang
Merah Putih
• Penghormatan terhadap seseorang dengan
menggunakan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
• Penghormatan Jenazah
PENGHORMATAN TERHADAP
LAMBANG-LAMBANG KEHORMATAN NKRI
PENGHORMATAN
PENGHORMATANTERHADAP
TERHADAPLAMBANG
LAMBANGNEGARA
NEGARA


Tata Cara

Ciri Lambang
Penggunaan
Negara
Lambang Negara
Penggunaan
Penggunaan
Lambang
Lambang
Negara sbg
Negara sbg
cap atau
Lencana
materai

Penggunaan Penggunaan
Lambang Lambang
Negara di Negara sbg
Luar Negeri Perisai

Tata Tertib ●
Larangan
Penggunaan Penggunaan
Lambang Negara Lambang Negara
PENGHORMATAN TERHADAP
BENDERA KEBANGSAAN

Ukuran Waktu Pengibaran

Penaikan dan Tempat Sebagai Penutup


Penurunan Pengibaran Jenazah

Bendera
Pengibaran Bendera
Kebangsaan
bersama Bendera Kebangsaan Asing
bersama Bendera
Kebangsaan Asing Organisasi di Indonesia
PENGHORMATAN TERHADAP GAMBAR RESMI
PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN RI

Ukuran dan Tata Cara Pemasangan Gambar Resmi Presiden dan Wakil
Kedudukan dan Perlakuan terhadap Presiden dan Wakil Presiden RI
Presiden RI