SOP Pembibitan
SOP Pembibitan
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 2 dari 28 halaman.
PENDAHULUAN
Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit. Melalui tahap
pembibitan diharapkan akan dihasilkan bibit yang baik dan berkualitas sehingga setelah transplanting ke lapangan
akan menjadi tanaman yang tumbuh optimal dan berproduksi maksimal.
Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta
berkemampuan menghadapi kondisi cekaman lingkungan pada saat pelaksanaan transplanting dari pembibitan ke
areal tanam.
Dalam usaha menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas, diperlukan pengelolaan yang intensif selama dalam
tahap pembibitan. Dalam pengelolaan pembibitan diperlukan pedoman kerja yang dapat menjadi acuan sekaligus
kontrol selama pelaksanaan di lapangan.
Standard Operation Procedure Pembibitan Kelapa Sawit ini disusun sebagai pedoman dalam pelaksanaan
pembibitan sehingga dapat dihasilkan bibit seperti yang diharapkan.
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 3 dari 28 halaman.
I. PERSIAPAN PEMBIBITAN
1.1. Lokasi Pembibitan
Syarat-syarat lokasi pembibitan :
Areal memiliki tofografi yang rata dan tidak tergenang atau banjir saat musim hujan.
Dekat dengan sumber air dan dapat dipastikan sumber air cukup untuk memenuhi kebutuhan air sepanjang
periode pembibitan. Kebutuhan air minimum untuk setiap ha pembibitan adalah 100 m3 setiap harinya.
Dekat dengan rencana areal penanaman dan memiliki akses jalan yang baik.
Dekat dengan lokasi tempat pengambilan tanah isian polybag dan mudah dijangkau sehingga memudahkan
pengawasan bibit.
Bebas dari gangguan ternak, hama dan penyakit, terutama penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh
jamur Ganoderma boninense.
1.2. Infrastruktur Pembibitan
Infrastruktur pembibitan terdiri dari bangunan kantor, gudang dan instalasi penyiraman.
Letak bangunan harus strategis untuk memudahkan pengawasan seluruh kegiatan di pembibitan.
Bangunan gudang, kantor asisten, kerani dan mandor menjadi satu bagian untuk memudahkan keluar masuk
barang dan pengawasan.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 4 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 5 dari 28 halaman.
Gambar benih
yang baik dan afkir
Kecambah yang baik dan dapat disemaikan Kecambah yang harus diafkir
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 6 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 7 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 8 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 9 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 10 dari 28 halaman.
2.4. Bedengan
Polybag disusun cukup rapat terdiri dari 10 – 12 polibeg per baris. Sebelumnya disemprot insektisida.
Bedengan berukuran 1.2 m x 15 m, dibatasi oleh kayu/papan 10 cm x 2 cm atau batang bambu kecil/kayu diameter
2 cm dengan panjang sesuai panjang bedengan.
Jarak antar bedengan 60 cm. Tinggi bedengan 5 – 10 cm.
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 11 dari 28 halaman.
2.5. Naungan
Naungan sangat diperlukan pada Pre Nursery, berfungsi untuk melindungi bibit dari intensitas sinar matahari secara
langsung yang dapat menyebabkan sun scorch dan stress, menghindari terbongkarnya akar atau benih ke permukaan
tanah akibat terpaan air hujan, serta mengurangi media tanah cepat mengering.
Standar naungan di Pre Nursery : Tinggi 2 meter,lebar 2 meter atau 3 kali lebar bedengan (termasuk jalan, sekitar 4
meter) dan panjang sesuai dengan panjang bedengan (biasanya 10 meter).
Naungan dibuat dari daun kelapa sawit atau daun alang-alang (yang diikat) yang telah bebas dari penyakit (sebelum
digunakan disemprot dengan fungisida (konsentrasi 0,15 – 0,2 % sampai basah jika diperlukan). Tiang dari bambu
atau kayu.
Jumlah pelepah per meter bedengan diperlukan 4 – 5 lembar pelepah daun kelapa sawit.
Pengurangan pelepah sebanyak 1 pelepah/ 2minggu dilakukan setelah bibit berumur 2 bulan dan berakhir setelah
bibit berumur mencapai 3 bulan atau bibit berdaun 3 – 4 lembar.
Pengontrolan keteduhan naungan dilakukan terutama pada awal pembibitan PN dimulai.
2.7. Penyiraman
Penyiraman dapat dilakukan dengan cara manual (selang + kepala gembor atau dengan selang berlubang ( tube
system), tekanan air saat penyiraman dikurangi untuk menghindari kerusakan akar bibit.
Penyiraman dilakukan 2 x sehari atau tergantung curah hujan.
Pemeriksaan kebasahan media tanah dalam polybag agar selalu dilakukan.
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 12 dari 28 halaman.
Penyiraman di Pre ursery Naungan di Pre Nursery Bibit kembar dipisah dalam
petak tersendiri
2.8. Pemupukan di Pre Nursery
Tidak dilakukan sampai bibit berumur 2 bulan, namun pada kondisi media tanah sangat berpasir
atau campuran gambut, maka pemupukan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Pemupukan Urea dengan konsentrasi sesuai dosis dan umur pre nursery dalam 18 liter air untuk
400 bibit. Dilakukan dengan cara semprot (foliar application).
Pupuk majemuk 15-15-6-4 diaplikasikan dengan cara foliar application dengan konsentrasi sesuai
dosis dan umur pre nursery dalam 18 liter air untuk 400 bibit. Jika pupuk majemuk digunakan, urea
tidak diperlukan.
Alat semprot harus bersih dari pengaruh herbisida, pupuk dipastikan sudah larut benar sebelum
diberikan.
Waktu pemupukan pada cuaca cerah dengan sinar matahari yang terik dan suhu udara tinggi,
foliar application tidak dapat dilakukan karena dapat mengakibatkan sun scorch.
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 13 dari 28 halaman.
Umur Dosis
Jenis Pupuk dan Aplikasi
(minggu) (gram/ 400 pokok)
4 (daun - 1) 30 UREA, dilarutkan dalam 18 ltr air (untuk 400 bibit)
5 60 NPK 15-15-6-4, dilarutkan dalam 18 ltr air (untuk 400 bibit)
6 60 NPK 15-15-6-4, dilarutkan dalam 18 ltr air (untuk 400 bibit)
7 75 NPK 15-15-6-4, dilarutkan dalam 18 ltr air (untuk 400 bibit)
8 90 NPK 15-15-6-4, dilarutkan dalam 18 ltr air (untuk 400 bibit)
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 14 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 15 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 16 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 17 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 18 dari 28 halaman.
Pestisida
Jenis Hama/Penyakit Konsentrasi Rotasi Keterangan
(Bahan aktif)
Hama :
1. Aphids sp. Dimethoate 0.10% 2 minggu Semprot
2. Apogonia sp. Carbaril 0.05% 2 minggu Semprot
3. Belalang Carbaril 0.05% 2 minggu Semprot
4. Jangkrik Endosulfan 5 gr/phn 3 bulan Tabur
5. Keong Diazinon 5 gr/phn 3 bulan Semprot
6. Tikus Coumaclore 2 bh 1 minggu Umpan
7. Ulat api Carbaril 0.05% 2 minggu Semprot
Deltametrin 0.05% 2 minggu Semprot
8. Uret Karbofuran 3% 5-10 minggu Tabur
Penyakit :
1. Antracnose Mankozeb 0.10% 2 minggu Semprot
2. Becak daun Kaptafol 0.20% 2 minggu Semprot
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 19 dari 28 halaman.
3.8. Pemupukan
Aplikasi pemupukan dengan pupuk majemuk NPK 15 : 15 : 6 : 4, NPK 12 : 12 : 17 : 2 dan Kieserite
Pemberian pupuk tabur ke dalam polybag harus merata dengan jarak 5 cm dari bonggol bibit. Pupuk jangan
mengenai bagian bibit agar tidak terjadi plasmolisis (mati jaringan/terbakar).
Tabel 3. Standar dosis pemupukan bibit kelapa sawit di main nursery
Umur Dosis
Jenis Pupuk
(minggu) (gram/pokok)
9 3.5 NPK 15-15-6-4
10 3.5 NPK 15-15-6-4
12 7 NPK 15-15-6-4
14 7 NPK 12-12-17-2 + TE
16 7 NPK 15-15-6-4
18 7 NPK 12-12-17-2 + TE + 7 gr Kieserite
20 7 NPK 15-15-6-4
22 7 NPK 12-12-17-2 + TE
24 7 NPK 15-15-6-4 + 7 gr Kieserite
26 15 NPK 12-12-17-2 + TE
28 15 NPK 15-15-6-4
30 15 NPK 12-12-17-2 + TE
32 15 NPK 15-15-6-4 + 15 gr Kieserite
34 30 NPK 12-12-17-2 + TE
36 30 NPK 12-12-17-2 + TE
38 30 Kieserite
40 30 NPK 12-12-17-2 + TE
42 30 Kieserite
44 30 NPK 12-12-17-2 + TE
46 30 NPK 12-12-17-2 + TE
48 30 NPK 12-12-17-2 + TE
51 30 Kieserite
54 30 NPK 12-12-17-2 + TE
57 30 NPK 12-12-17-2 + TE
60 30 NPK 12-12-17-2 + TE + 30 gr Kieserite
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 20 dari 28 halaman.
3.10. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan cara manual (selang + kepala gembor) atau dengan cara tube system atau overhead
sprinkler.
Pemilihan cara penyiraman didasarkan pada :
- Lamanya lokasi pembibitan dilakukan. Pembibtan yang hanya satu periode pembibitan sebaiknya menggunakan
cara manual + kepala gembor.
- Jumlah bibit yang dipelihara. Jumlah bibit yang sangat banyak sebaiknya dengan cara pengabutan, misal dengan
kirico atau sumisansui
Pengontrolan penyiraman wajib dilakukan untuk memastikan tanah dalam polybag cukup basah. Pengontrolan
peralatan penyiraman dilakukan secara periodik . Bagian yang rawan rusak yaitu sambungan pipa/selang dan pompa
air.
Hindari penyiraman tidak merata dan tidak benar karena bisa menyebabkan perakaran menggantung akibat erosi
tanah waktu penyemprotan. JIka terjadi segera dilakukan penambahan tanah.
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 21 dari 28 halaman.
Tabel 4. Standar air bersih untuk penyiraman bibit kelapa sawit (dalam ppm)
Uraian Air Bersih Untuk Pembibitan
Cu 5.00 0.05
Mg 30.00 30.00
Mn 0.10 0.20
Zn 0.10 0.20
Fe 0.01 0.50
1 0-2 0.6
2 2-4 0.7
3 4-6 1.0
4 >6 1.5
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 22 dari 28 halaman.
Pengendalian gulma
Bibitan di Main Nursery Pemeriksaan bibit di MN
secara manual
dari serangan rayap
1 2 3 4
Pemberian mulsa cangkang (1), mesocarp (2), campuran cangkang + mesocarp (3) dan tanpa mulsa (4)
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 23 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 24 dari 28 halaman.
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 25 dari 28 halaman.
Khimera : Bibit dengan Daun menggulung (rolled Daun tidak membuka atau Daun berkerut : Bibit perlu
kelainan pembentukan khlorofil leaf) : Bibit tidak dapat pulih dan terlambat membuka. Kalau tidak ekstra pupuk dan pemeliharaan
pada daun. Bibit harus diafkir bibit harus diafkir lekas membuka, biibt diafkir intensif, jika tidak pulih bibit harus
diafkir
Plasmolisis : Akibat pemberian Tajuk tidak normal : tajuk Bibit kerdil : Bibir kerdil (kiri) vs
pupuk yang berlebihan. Buang Crowm disease (penyakit
tidak membuka (rosset crown) bibit normal (kananK umur 4 bulan tajuk) : Merupakan kelainan
sisa pupuk yang masih ada di dan bentuk pelepah yang di pre nursery. Bibit kerdil harus
permukaan tanah di polibeg. genetik. Bibit harus diafkir
pendek. Bibit harus diafkir diafkir
Berikan penyiraman yang cukup
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 26 dari 28 halaman.
Anak daun yang jarang (long internode) : harus diafkir. Bibit yang tumbuh meninggi Bibit berputar : Bibit dengan Bibit tegak (erect) : Pelepah daun
(etiolasi) terjadi akibat letak bibit yang terlalu rapat pertumbuhan memutar yang tidak balik. kurang membuka. Yang menunjukkan
Bibit diafkir gejala parah harus diafkir
Bibit terserang penyakit bercak daun Culvularia : Serangan pada tingkat sedang
Pertumbuhan terhambat (kiri) dan bibit normal (kanan). Bibit dengan (kiri) hingga berat (kanan). Pada serangan berat harus diafkir, sedangkanan tingkat
pertumbuhan terhambat perlu pemeliharaan lebih intensif dan tidak perlu diafkir ringan-sedang difumingasi dengan jenis fungisida yang berlainan secara bergantian
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 27 dari 28 halaman.
Anak daun rapat (short internode) : bibit harus diafkir Daun seperti rumput (grass like leaf). Kelainan ini mulai tampak
pada pre nursery (kiri) atau main nursery (kanan). Bibit harus diafkir
Etiolasi (tumbuh meninggi) : Bibit di MN Daun pendek dan lebar (short and broad Sun scorch. Daun terbakar oleh sinar matahari berwarna kecoklatan. Terjadi pada
ini mengalami etiolasi pada saat di PN leaf). Diamati sampai pindah ke lapangan. bibitan awal yang naungannya terbuka terlalu cepat atau dibuka tidak bertahap
sebelum dipindah Jika tidak berubah normal diafkir
STANDARD OPERATION PROCEDURE
PEMBIBITAN KELAPA SAWIT
Argo Widi Hantoro Sigit Prasetyo Tri Boewono Winato Kartono Halaman : 28 dari 28 halaman.
V. PENANGANAN BIBIT LEWAT UMUR ( >3 BULAN DI PN DAN > 12 BULAN DI MN)
5.1 Bibit Lewat Umur di Pre Nursery
Perlakuan pada bibit lewat umur di PN
Penyiraman tetap dilakukan secara rutin 2 kali/hari dan diberhentikan jika turun hujan > 10 mm/hari.
Perawatan berkelanjutan untuk hama dan penyakit
Bibit > 6 bulan dilakukan pemangkasan 1/3 bagian daun sebelum dipindah ke MN.
Polybag yang telah diisi tanah + pupuk RP 25 gram/polybag dan disusun di areal pembibitan disiram selama 1-2
minggu agar isian tanah kompak.
Kemudian bibit bisa dipindah ke MN.
Bibit yang mengalami defisiensi hara N dan B saat umur 5 bulan setelah tanam diberi ekstra N (urea 2-5
gram/bibit), 2 gram Borate/liter air/10 bibit lewat pangkal akar.
5.2. Bibit Lewat Umur di Main Nursery
Perlakuan pada bibit lewat umur di MN :
Perawatan rutin penyiraman dan dilakukan seleksi yang ketat.
Akar yang menembus polybag dipisahkan dari permukaan tanah dengan cara memutar polybag atau mendongkel
dengan dodos sesudah dipindah.
Bibit > 16 bulan pelepah dikepras setinggi 150 cm dari pangkal batang atau daunnya dibuang 1/3 bagian. Ini
berfungsi untuk transpirasi dan resiko bibit kering di lapangan, mengurangi resiko tanaman roboh, mempermudah
pengangkutan dan mempermudah penanaman.
Penanaman agar dilakukan pemadatan tanah disekeliling bonggol bibit untuk menghindari tanaman doyong/roboh
dan bonggol batang sebagian di tanam di dalam tanah untuk mengurangi perakaran menggantung.