Anda di halaman 1dari 14

2.1.

1 Pembersihan Pembersihan dalam penanganan bahan hasil pertanian adalah mengeluarkan atau memindahkan benda asing (kotoran) dan bahan-bahan yang tidak diinginkan dari bahan utama (produk yang diinginkan). Perbersihan bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada hasil pertanian. Kebersihan sangat mempengaruhi kenampakan. Oleh karena itu sebelum dipasarkan, hasil pertanian harus dibersihkan dari kotoran-kotoran dan bagian-bagian yang tidak diperlukan. Kotoran pada hasil pertanian sering dianggap sebagai sumber kontaminasi, karena kotoran dapat mengandung mikroorganisme yang dapat merusak hasil panen. Secara umum, pembersihan dapat dilakukan dengan dua cara: 1. Dry method yang diantaranya meliputi: Penyaringan (screening) Pemungutan dengan tangan (hand picking)

2. Wet method yang diantaranya adalah: Perendaman (soaking) Water sprays Rotary Drum Brush Washer Shuffle or Shaker Washer

2.1.1.1 Jenis Kotoran Pada Bahan Hasil Pertanian Jenis kotoran pada bahan hasil pertanian, berdasarkan wujudnya dapat dikelompokkan menjadi : a. Kotoran Berupa Tanah b. Kotoran Berupa Sisa Pemungutan Hasil c. Kotoran Berupa Benda-Benda Asing d. Kotoran Berupa Serangga Atau Kotoran Biologis Lain e. Kotoran Berupa Sisa Bahan Kimia 2.1.2 Sortasi Sortasi adalah proses pemisahan bahan-bahan yang sudah dibersihkan ke dalam fraksi kualitas berdasarkan karakteristik fisik (kadar air, bentuk, ukuran,

berat jenis, tekstur, warna, benda asing/kotoran), kimia (komposisi bahan, baud an rasa ketengikan), dan biologis (jenis dan jumlah kerusakan oleh serangga, jumlah mikroba, dan daya tumbuh khususnya pada bahan pertanian berbentuk bijian). Sebagai contoh, pada penanganan pasca panen padi, dimana gabah tercampur dengan kotoran berupa butir pasir, serpihan jerami dan daun. Gabah sebagai produk utama dari proses penanganan pasca panen padi harus bebas dari kotoran tersebut. Sortasi biasanya dilakukan untuk memisahkan produk luka, busuk, atau cacat sebelum penanganan selanjutnya dilakukan. Sortasi akan menghemat tenaga dimana bahan-bahan rusak tersebut tidak akan ikut lagi pada penanganan selanjutnya. Memisahkan bahan-bahan busuk akan membatasi penyebaran infeksi kepada unit-unit produk lainnya, khususnya bila pestisida pasca panen tidak digunakan. Perlakuan sesegera mungkin dalam sortasi dapat membatasi kerusakan/kehilangan hasil panen, juga penularan mikroba ataupun benda asing lainnya. Ada dua macam proses sortasi, yaitu sortasi basah dan sortasi kering. Sortasi basah Sortasi basah dilakukan pada saat bahan masih segar. Proses ini untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan hasil pertanian tersebut. Misalnya dari akar suatu tanaman, maka bahanbahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Hal tersebut dikarenakan tanah merupakan salah satu sumber mikroba yang potensial. Sehingga, pembersihan tanah dapat mengurangi kontaminasi mikroba pada hasil pertanian. Sortasi kering Sortasi kering pada dasarnya merupakan tahap akhir. Tujuannya untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran lain yang masih tertinggal pada barang hasil pertanian. Sortasi dapat dilakukan dengan manual atau secara mekanik. Tidak semua tanaman atau bagian tanaman yang dipanen layak untuk dipasarkan, karena itu perlu dilakukan sortasi. Sortasi dilakukan dengan tujuan

untuk memisahkan hasil panen yang baik (tidak mengalami kerusakan fisik dan terlihat menarik) dengan yang jelek (hasil yang telah mengalami

kebusukan/kerusakan fisik akibat penguapan atau serangan hama dan penyakit serta benda asing yang tidak dikehendaki. Sortasi yang dilakukan ditingkat petani berbeda dengan yang dilakukan ditingkat pedagang dan industri. a. Sortasi di tingkat petani Hasil panen dipisahkan secara sederhana antara yang cacatdengan yang bai, hasil panen yang tidak lolos sortasi tidak dibuang tetapi dikonsumsi sendiri kecuali yang busuk. Hasilpanen yang dinilai bagus dijual ke pedagang atau supermarketsedangkan hasil yang agak jelek dijual ke pedagang pengeceratau pasar tradisional. b. Sortasi di tingkat pedagang Sesampainya ditempat pedagang hasil panen segeradikeluarkan dari wadah untuk segera disortir, pengeluaran dan penyortiran dilakukan dengan cepat tetapi hati-hati supaya kerusakan yang terjadi akibat benturan dapat dicegah. Penyortiran yang dilakukan oleh pedagang pada umumnya tidak terlalu ketat, biasanya seluruh hasil sortiran yang rusak maupun yang baik tetap dipasarkan meskipun dengan harga yang berbeda, hasil sortiran yang dibuang adalah yang telah busuk. Untuk dipasarkan kepasar khusus (supermarket, hotel dan restauratn) harus dilakukan sortasi secara ketat, hasilpanen tidak hanya harus baik tetapi juga memenuhi kriteria tertentu saat diterima konsumen. Hasil panen yang tidak memenuhi standar mutu biasanya dijual kepasar tradisionalatau dikonsumsi sendiri. c. Sortasi ditingkat industri Hasil panen segar sebagai bahan baku industri diperlukan dengan kriteriakriteria tertentu, namun hasil panen petanimasih sangat beragam sehingga tidak memenuhi kriteria industri, karenanya perlu dilakukan sortasi pada hasil panen supaya didapat produk yang lebih seragam dengan demikian akan memudahkan pembuatan standar pada tahap-tahap industri. Kegiatan sortasi tidak berakhir ditempat penerimaan dan penampungan hasil panen sebelum diolah, proses ini berlangsung terus selama periode proses

penyiapan bahan baku, proses sortasi yang dilakukan berdasarkan tingkat kematangan, ukuran dan kecacatan.

2.1.2.1 Tujuan Sortasi a. Untuk memperoleh bahan hasil pertanian yang dikehendaki, baik kemurnian maupun kebersihannya b. Memilih dan memisahkan bahan hasil pertanian yang baik dan tidak cacat. c. Memisahkan bahan yang masih baik dengan bahan yang rusak akibat kesalahan panen atau serangan patogen, serta kotoran berupa bahan asing yang mencemari bahan hasil pertanian

2.1.2.2 Peraturan Sortasi Menurut WHO Guidelines on Good Agricultural and Collection Practice (GACP) for Madicinal Plants : 1. Pemeriksaan visual terhadap kontaminan yang berupa bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki/digunakan. 2. Pemeriksaan visual terhadap materi asing. 3. Evaluasi organoleptik, meliputi : penampilan, kerusakan, ukuran, warna, bau, dan mungkin rasa.

2.1.3

Grading

Grading adalah proses pemilihan bahan berdasarkan permintaan konsumen atau berdasarkan nilai komersilnya. Grading berkaitan erat dengan tingkat selera konsumen suatu produk atau segmen pasar yang akan dituju dalam pemasaran suatu produk. Terlebih apabila yang akan dituju adalah segmen pasar tingkat menengah ke atas dan atau segmen pasar luar negeri. Kegiatan grading sangat menentukan apakah suatu produk laku pasar atau tidak. Dalam grading dilakukan pengelompokkan pada produk utama kedalam berbagai kelas mutu. Biasanya dibagi dalam kelas 1, kelas 2, kelas 3 dan seterusnya, atau kelas A, kelas B, kelas C dan seterusnya. Pada beberapa komoditas ada kelas super-nya.

Pada kegiatan grading, penentuan mutu hasil panen biasanya didasarkan pada kebersihan produk, aspek kesehatan, ukuran, bobot, warna, bentuk, kematangan, kesegaran, ada atau tidak adanya serangan/kerusakan oleh penyakit, adanya kerusakan oleh serangga, dan luka/lecet oleh mekanis. Pada usaha budidaya tanaman, penyortiran produk hasil panenan dilakukan secara manual, yaitu menggunakan tangan. Sedang grading dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin penyortir. Grading secara manual memerlukan tenaga yang terampil dan terlatih, dan bila hasil panen dalam jumlah besar akan memerlukan lebih banyak tenaga kerja. Contoh hasil dari grading dari penangan beras adalah beras utuh, beras kepala, beras patah dan menir. Secara umum, grading dalam penanganan pasca panen bahan hasil pertanian merupakan lanjutan dari proses sortasi. Dalam penerapannya, spesifikasi yang digunakan untuk menilai dan mengelompokkan kelas mutu suatu bahan dapat lebih dari satu. Antara lain adalah derajat sosoh, persentase beras utuh, beras kepala, beras patah dan menir, tingkat kadar air beras, persentase beras, persentase butir kapur, butir kuning, dan butir merah. Grading memberikan manfaat untuk keseluruhan industri, dari petani, pedagang besar dan pengecer karena; Ukurannya seragam untuk dijual Kematangan seragam Didapatkan buah yang tidak lecet atau tidak rusak Tercapai keuntungan lebih baik karena keseragaman produk, dan Menghemat biaya dalam transport dan pemasarannya karena bahan-bahan rusak disisihkan.

2.1.5 Standar Mutu Beras Standar merupakan salah satu penentu dari keberhasilan pembangunan pertanian dan memiliki peranan penting dalam upaya optimalisasi sumberdaya sektor pertanian. Dalam hal ini, perangkat standardisasi memiliki peranan dalam mendukung kemampuan berproduksi dan dalam meningkatkan produktivitas. Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2008 mengenai beras merupakan revisi dari SNI 01-6128-1999, Beras giling berdasarkan usulan dari seluruh

stakeholder beras dengan memperhatikan kondisi mutu beras Indonesia di pasaran dan standar mutu beras yang digunakan oleh negara-negara produsen beras lainnya. Standar ini bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya manipulasi mutu beras di pasaran, terutama pencampuran/pengoplosan antar kualitas atau antar varietas. Oleh karena itu dilakukan beberapa perubahan/penyempurnaan pada beberapa bagian yaitu pada bagian syarat mutu, cara uji dan penandaan. SNI untuk beras giling telah tersusun dan disahkan oleh Badan Standardisasi Nasional, namun demikian penerapannya belum optimal. Secara umum beras giling harus memenuhi persyaratan bebas hama dan penyakit, bebas bau (apek/asam) ataupun bau asam lainnya, bebas dari campuran bekatul, dan bebas dari tanda-tanda adanya bahan kimia yang membahayakan. Dalam SNI yang telah direvisi, beras giling dikelompokkan menjadi lima kelas mutu. Standar menetapkan ketentuan tentang persyaratan mutu, penandaan dan pengemasan pada semua jenis beras yang beredar di pasar. Sebagai acuan normatif digunakan SNI 19-0428-1998 yang berisi tentang petunjuk pengambilan contoh padatan serta SNI 7313:2008 tentang batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian.

Komponen Beras Butir kepala : Butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih besar atau sama dengan 0,75 bagian dari butir beras utuh Butir patah : Butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih besar dari 0,25 sampai dengan lebih kecil 0,75 dari butir beras utuh Butir menir : Butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 0,25 bagian butir beras utuh Butir merah : Butir beras utuh, beras kepala, patah maupun menir yang berwarna merah akibat faktor genetis Butir kuning :

Butir beras utuh, beras kepala, beras patah dan menir yang berwarna kuning, kuning kecoklat-coklatan, dan kuning semu akibat proses fisik atau aktivitas mikroorganisme Butir mengapur : Butir beras yang separuh bagian atau lebih berwarna putih seperti kapur (chalky) dan bertekstur lunak yang disebabkan oleh faktor fisiologis Butir rusak : Butir beras utuh, beras kepala, beras patah dan menir berwarna putih/bening, putih mengapur, kuning dan berwarna merah yang mempunyai lebih dari satu bintik yang merupakan noktah disebabkan proses fisik, kimiawi, dan biologi. Beras yang berbintik kecil tunggal tidak termasuk butir rusak Benda asing : Benda-benda yang tidak tergolong beras, misalnya jerami, malai, batu kerikil, butir tanah, pasir, logam, potongan kayu, potongan kaca, biji-bijian lain serangga mati, dan lain sebagainya Butir gabah : Butir padi yang sekamnya belum terkelupas atau hanya terkelupas sebagian Contoh primer : Contoh beras yang diambil secara acak dengan alat trier/sample probe dan langsung dari populasi Contoh Analisis : Contoh terkecil yang diambil dari contoh kerja dengan menggunakan sample devider atau dengan sistem quartering untuk keperluan analisis komponen kualitas beras, dengan berat minimum 100 gram

Syarat Mutu Beras a. Syarat Kualitatif bebas hama dan penyakit; bebas bau apek, asam atau bau asing lainnya; bebas dari campuran dedak dan bekatul; bebas dari bahan kimia yang membahayakan dan merugikan konsumen.

b. Syarat Kuantitatif Tabel. 1 Spesifikasi persyaratan mutu beras SNI 2008 NO Komponen Mutu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Derajat sosoh (min) Kadar air (maks) Butir kepala (min) Butir patah (maks) Butir menir (maks) Butir merah (maks) Butir kuning/rusak (maks) Butir mengapur (maks) Benda asing (maks) Butir gabah (maks) Satuan (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) Butir (100gr) Sumber : Badan Standardisasi Indonesia 2008 Mutu I 100 14 95 5 0 0 0 0 0 0 Mutu II 100 14 89 10 1 1 1 1 0,02 1 Mutu III 95 14 78 20 2 2 2 2 0,02 1 Mutu IV 95 14 73 25 2 3 3 3 0,05 2 Mutu V 85 15 60 35 5 3 5 5 0,20 3

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan Alat: 1. Pinset 2. Wadah plastik 3. Moisture tester 4. Timbangan 5. Sampling homogenizer 6. Rice Standard Chart Bahan: Beras

3.2 Prosedur Percobaan 1. Menyiapkan bahan dan ditimbang seberat 100 gram. 2. Memisahkan bahan ke dalam fraksi kualitas berdasarkan karakteristik fisik (bentuk, ukuran, warna, benda asing dan kotoran). 3. Menimbang masing-masing bahan yang sudah dipisahkan. 4. Mengukur berat sosoh dari bahan dan mengukur kadar airnya menggunakan moisture tester dengan tiga sampel.

BAB IV HASIL PERCOBAAN

4.1 Kelompok 1 Tabel 2. Hasil pengamatan kelompok 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Pengamatan Derajat sosoh Beras utuh Beras patah ( Beras menir 62,42 22,50 0,18 8,84 4,96 0 0 Total 98,9 Bobot (gr) Persentase (%) 86,2 62,42 22,50 0,18 8,84 4,96 0 0 Standard Min. 95% Min. 35% Min. 25% Min. 2% Min 3% Min 3% Min. 0,05 % Max. 2

Beras hijau mengapur Beras kuning / rusak Benda asing Gabah

Bahan berat awal 100 gr Kadar air : 1. 12,8 % 2. 12.8 % 3. 13,6 % *Max. 14% ] =13,06 %

Derajat sosoh: = [ = 86,2 %

Beras hilang: = 100 gr bobot total gr = 100 gr 98,9gr = 1,1 gr

BAB V PEMBAHASAN

Dalam praktikum kali ini, dilakukan percobaan dengan mengukur dan mengamati proses sortasi dan grading bahan hasil pertanian, melakukan perhitungan kualitas dan variabel kualitas. Pada praktikum ini bahan hasil pertanian yang diamati adalah beras sebanyak 100 gr. Proses sortasi pada beras, yaitu memisahkan beras yang baik (beras utuh) dengan yang telah mengalami kebusukan/kerusakan fisik (butir patah, butir menir, butir mengapur dan butir rusak) akibat penguapan atau serangan hama dan penyakit serta benda asing yang tidak dikehendaki. Pengetahuan tentang sortasi tersebut sangat diperlukan untuk memasukkan beras yang diuji pada kriteria/grade yang telah ditentukan. Percobaan yang dilakukan pada praktikum adalah menghitung kadar air, derajat sosoh, beras utuh, beras patah, beras menir, beras mengapur, beras rusak, benda asing dan gabah. Dari perhitungan tersebut diketahui termasuk mutu berapa beras yang kita uji tersebut. Menurut standar yang ada, nilai minimal derajat sosoh adalah 95%. Dari hasil praktikum yang dilakukan oleh kelompok 1, diperoleh nilai derajat sosoh sebesar 86,2% yang artinya beras yang disortir kelompok 1 tidak memenuhi standar. Sementara dilihat dari persentase butir utuh, persentase hasil percobaan sebesar 62,42% sedangkan berdasarkan standar minimalnya adalah 35% yang artinya sampel beras memenuhi standar. Kadar air yang diperoleh adalah 13,06% dengan standar maksimum kadar air adalah 14%. Untuk beras patah, persentase standar minimumnya adalah 25% sedangkan hasil percobaan memiliki nilai dibawah standar yaitu 22,5%. Standar beras hijau mengapur adalah maksimal 3% sementara dari hasil percobaan diperoleh 8,84% melebihi standar. Presentase beras menguning dari hasil percobaan lebih besar dari standar yaitu 4,96% sedangkan standar maksimal adalah 3%. Namun dari hasil percobaan tidak ditemukan benda asing atau gabah sama sekali. Dari perbandingan dengan standar yang telah ada, beras pada hasil percobaan kelompok 1 termasuk ke dalam beras dengan kualitas/mutu yang kurang baik.

Jika dibandingkan dengan standar SNI pada tabel 1, derajat sosoh beras yang diuji memenuhi syarat mutu V, kadar air mutu I, butir utuh mutu V, butir patah mutu 3, butir menir mutu I, butir mengapur mutu V, butir kuning mutu 4, benda asing dan gabah mutu I. Jadi dapat disimpulkan bahwa beras yang diuji kelompok 1 adalah beras dengan kualitas tidak bagus dan termasuk pada mutu V. Selanjutnya, hasil percobaan kelompok 2 yang dapat dilihat pada tabel 3, derajat sosoh, beras utuh, beras patah, beras menir, juga pada beras kuning/rusak memenuhi standar yang ada. Derajat sosoh 95,58% > 95%, beras utuh 60,82% > 35%, beras patah 33,18% > 25%, beras menir 0,80% < 2%, beras kuning/rusak 0,80% < 3%. Namun dari hasil percobaan, persentase beras hijau mengapur diluar standar, standar maksimum adalah 3% sedangkan hasil percobaan 3,60%. Sedangkan untuk benda asing memenuhi standar yaitu 0,02% dari batas maksimum sebesar 0,05%. Tidak ditemukan gabah dari hasil percobaan. Dari hasil percobaan dengan membandingkan dengan standar yang ada, beras hasil percobaan kelompok 2 termasuk ke dalam beras dengan kualitas bagus. Bila dibandingkan dengan standar SNI, derajat sosoh beras yang diuji memenuhi syarat mutu III, kadar air mutu I, butir utuh mutu V, butir patah mutu IV, butir menir mutu I, butir mengapur mutu IV, butir kuning mutu I, benda asing mutu II dan gabah mutu I. Jadi dapat disimpulkan bahwa beras yang diuji kelompok 2 adalah beras cukup bagus dan termasuk pada mutu III dilihat dari spesifikasinya. Selanjutnya percobaan yang dilakukan oleh kelompok 3 yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 4. Dari hasil percobaan, hampir semua spesifikasi memenuhi standar kecuali beras hijau mengapur, yaitu sebesar 3,33% dari standar maksimum 3%. Derajat sosoh > 95% yaitu 96,65%, beras utuh > 35% yaitu 25,68%, beras menir <2% yaitu 0,37%, beras kuning/rusak <3% yaitu 0,99%, benda asing <0,05% yaitu 0%, dan gabah < 2, yaitu 0,03. Dari hasil percobaan dengan membandingkan dengan standar yang sudah ada, beras hasil percobaan kelompok 3 termasuk ke dalam beras yang memiliki kualitas baik. Jika dibandingkan dengan standar SNI, derajat sosoh beras yang diuji memenuhi syarat mutu III, kadar air mutu I, butir utuh mutu V, butir patah mutu IV, butir menir mutu I, butir mengapur mutu V, butir kuning mutu I, benda asing

mutu I dan gabah mutu I. Jadi dapat disimpulkan bahwa beras yang diuji kelompok 3 adalah beras kurang bagus dan termasuk pada mutu IV dilihat dari spesifikasinya. Hasil percobaan kelompok 4 dapat dilihat dari tabel 5, persentase derajat sosoh, beras patah, dan beras hijau mengapur tidak memenuhi standar, yaitu derajat sosoh 94,85% < 95%, beras patah 20,84% < 25%, beras hijau mengapur 4,31% > 3%. Sedangkan untuk spesifikasi lainnya memenuhi standar, yaitu beras utuh 71,60% > 35%, beras menir 0,77% < 2%, beras kuning/rusak 0,84% < 3%, benda asing 0% < 0,005%, dan gabah 0 < 2. Dari hasil percobaan dengan membandingkan dengan standar yang ada, beras hasil percobaan kelompok 4 termasuk ke dalam beras dengan kualitas cukup bagus. Jika dibandingkan dengan standar SNI, derajat sosoh beras yang diuji memenuhi syarat mutu IV, kadar air mutu I, butir utuh mutu V, butir patah mutu IV, butir menir mutu I, butir mengapur mutu IV, butir kuning mutu I, benda asing mutu I dan gabah mutu I. Jadi dapat disimpulkan bahwa beras yang diuji kelompok 4 adalah beras kurang bagus dan termasuk pada mutu IV dilihat dari spesifikasinya. Lalu pada hasil percobaan kelompok 5 yang dapat dilihat dari tabel.6, persentase derajat sosoh, beras patah, dan beras hijau mengapur tidak memenuhi standar, yaitu derajat sosoh 92,62% < 95%, beras patah 23,36% < 25%, beras hijau mengapur 6,21% > 3%. Sedangkan untuk spesifikasi lainnya memenuhi standar, yaitu beras utuh 68% > 35%, beras menir 0,11% < 2%, beras kuning/rusak 1,26% < 3%, benda asing 0% < 0,005%, dan gabah 0 < 2. Dari hasil percobaan dengan membandingkan dengan standar yang ada, beras hasil percobaan kelompok 5 termasuk ke dalam beras dengan kualitas kurang bagus. Jika dibandingkan dengan standar SNI, derajat sosoh beras yang diuji memenuhi syarat mutu V, kadar air mutu I, butir utuh mutu V, butir patah mutu IV, butir menir mutu I, butir mengapur mutu V, butir kuning mutu III, benda asing mutu I dan gabah mutu I. Jadi dapat disimpulkan bahwa beras yang diuji kelompok 4 adalah beras tidak bagus dan termasuk pada mutu V dilihat dari spesifikasinya.

Selanjutnya hasil percobaan kelompok 6 yang dapat dilihat pada tabel. 7, persentase derajat sosoh, beras patah, dan beras hijau mengapur tidak memenuhi standar, yaitu derajat sosoh 90,7% < 95%, beras patah 26,42% < 25%, beras hijau mengapur 8,54% > 3%. Sedangkan untuk spesifikasi lainnya memenuhi standar, yaitu beras utuh 63,01% > 35%, beras menir 0,25% < 2%, beras kuning/rusak 0,72% < 3%, benda asing 0,01% < 0,005%, dan gabah 0,03 < 2. Dari hasil percobaan dengan membandingkan dengan standar yang ada, beras hasil percobaan kelompok 6 termasuk ke dalam beras dengan kualitas kurang bagus. Jika dibandingkan dengan standar SNI, derajat sosoh beras yang diuji memenuhi syarat mutu V, kadar air mutu I, butir utuh mutu V, butir patah mutu IV, butir menir mutu I, butir mengapur mutu V, butir kuning mutu I, benda asing mutu I dan gabah mutu I. Jadi dapat disimpulkan bahwa beras yang diuji kelompok 6 adalah beras tidak bagus dan termasuk pada mutu V dilihat dari spesifikasinya. Dari hasil percobaan keenam kelompok tersebut, mutu yang diperoleh berbeda-beda. Berdasarkan standar mutu beras SNI, beras kelompok 1 termasuk ke dalam V, kelompok 2 mutu III, kelompok 4 mutu IV, kelompok 5 mutu V, dan kelompok 6 mutu V. Dengan melihat mutu beras dari setiap kelompok, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mutu beras yang telah dipraktikumkan termasuk ke dalam beras mutu V. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan mutu ini, salah satunya adalah ketelitian praktikan pada saat proses sortasi. Bisa saja terjadi salah pengklasifikasian gradenya. Sortasi dan grading merupakan hal penting dalam pengelolaan lebih lanjut terhadap bahan hasil pertanian. Karena sortasi dan grading akan menentukan nilai jual terhadap sebuah komoditas pertanian. Maka dari itu sortasi dan grading perlu dilakukan dengan tepat dan teliti agar hasil dari komoditas tersebut dapat memiliki nilai jual yang tinggi serta sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).