Anda di halaman 1dari 30

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BAB II CONING QUARTERING AND COUNTING

2.1. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum kali ini adalah : 1. Mempelajari salah satu teknik sampling dan reduksi jumlahnya 2. Menentukan kadar konsentrat 2.2. Dasar Teori Sampling (pemercontohan) adalah cara mengambil contoh bahan galian yang mewakili suatu daerah. Sebelum pengambilan sampel maka terlebih dahulu dilakukan survey (penelitian pendahuluan) yang mencakup daerah yang cukup luas. Dengan tujuan untuk mengambil contoh bahan galian yang dapat mewakili daerah operasi penelitian, untuk preparasi tujuannya merubah bahan baku atau bahan tambang menjadi bahan yanag siap diolah (menaikan kadar bahan galian). Sedang perhitungan kadar supaya seorang eksplorer sudah mengetahui prakiraan kadar bahan galian sehingga dapat menentukan daerah operasi apakah prospek atau tidak prospek. Sampel (conto) merupakan satu bagian yang representatif atau satu bagian dari keseluruhan yang bisa menggambarkan berbagai karakteristik untuk tujuan inspeksi atau menunjukkan bukti-bukti kualitas, dan merupakan sebagian dari populasi stastistik dimana sifat-sifatnya telah dipelajari untuk mendapatkan informasi keseluruhan. Secara spesifik, conto dapat dikatakan sebagai sekumpulan material yang dapat mewakili jenis batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) dalam arti kualitatif dan kuantitatif dengan pemerian (deskripsi) termasuk lokasi dan komposisi daris batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) tersebut. Proses pengambilan conto tersebut disebut sampling (pemercontoan) (Nurhakim, 2007). Di dalam industri pertambangan batubara, sampling merupakan hal yang sangat penting, karena merupakan proses yang sangat vital dalam menentukan
Ahmad Ali Syafii H1C110063

karakteristik

batubara

tersebut.

Dalam

tahap

eksplorasi,

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT karakteristik batubara merupakan salah satu penentu dalam study kelayakan apakah batubara tersebut cukup ekonomis untuk ditambang atau tidak. Begitu pun dalam tahap produksi dan pengapalan atau penjualan batubara tersebut karakteristik dijadikan acuan dalam menentukan harga batubara. Secara garis besar sampling dibagai menjadi 4 golongan dilihat dari tempat pengambilan di mana batubara berada dan tujuannya yaitu ; Exploration sampling, Pit sampling, Production sampling, dan loading sampling (barging dan transhipment) Exploration sampling dilakukan pada tahap awal pendeteksian kualitas batubara baik dengan cara channel sampling pada outcrop atau lebih detail lagi dengan cara pemboran atau drilling. Tujuan dari sampling di tahap ini adalah untuk menentukan karakteristik batubara secara global yang merupakan pendeteksian awal batubara yang akan di eksploitasi. Pit sampling dilakukan setelah eksplorasi bahkan bisa hampir bersamaan dengan progress tambang di dalam satu pit atau block penambangan dengan tujuan lebih mendetailkan data yang sudah ada pada tahap explorasi. Pit sampling ini dilakukan oleh pit control untuk mengetahui kualitas batubara yang segera akan ditambang, jadi lebih ditujukan untuk mengkontrol kualitas batubara yang akan ditambang dalam jangka waktu short term ( di bawah satu tahun ). Pit sampling dapat dilakukan dengan cara pemboran dan juga dengan channel pada face penambangan kalau diperlukan untuk mengecek kualitas batubara yang dalam progress ditambang. Production sampling dilakukan setelah batubara diproses di Coal Processing Plant dimana proses ini dapat merupakan peremukan (crushing), pencucian (washing), pemindahan stock dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui secara pasti kualitas batubara yang akan dijual atau dikirim ke pembeli agar kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan telah disepakati oleh kedua belah pihak. Dengan diketahuinya kualitas batubara di stockpile atau di penyimpanan sementara kita dapat menentukan batubara yang mana yang cocok untuk dikirim ke pembeli tertentu dengan spesifikasi batubara tertentu pula. Baik dengan cara mencampur (blending) batubarabatubara yang ada di stockpile atau pun dengan single source dengan memilih kualitas yang sesuai. Loading Sampling; Dilakukan pada saat batubara dimuat dan dikirim ke pembeli baik menggunakan barge maupun menggunakan kapal. Biasanya
Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT dilakukan oleh independent company karena kualitas yang ditentukan harus diakui dan dipercaya oleh penjual (Shipper) dan pembeli (Buyer). Tujuannya adalah menentukan secara pasti kualitas batubara yang dijual yang nantinya akan menentukan harga batubara itu sendiri karena ada beberapa parameter yang sifatnya fleksibel sehingga harganya pun fleksibel tergantung kualitas actual pada saat batubara dikapalkan. Sampling, preparasi dan analisa sample batubara dengan berbagai tujuan seperti telah dijelaskan di atas, dilakukan dengan menggunakan standard standard yang telah ada, yang pemilihannya tergantung keperluannya, biasanya tergantung permintaan pembeli atau calon pembeli batubara. Standard yang sering digunakan untuk keperluan tersebut diantaranya ; ASTM (American Society for Testing and Materials), AS (Australian Standard), Internasional Standard, British Standard, dan banyak lagi yang lainnya yang berlaku baik di kawasan regional maupun internasional. Macam-macam sampel adalah :

1. Bulg Sample (Bl),


Jenis sampel yang diambil dari endapan di tepi sungai atau pada bot karena kemungkinan mineral berharga tersangkut. Diambil dengan sekop kemudian disaring dengan seperempatnya, beratnya sama dengan 10 kg.

2. Penned Consent (PC)


Sampel jenis ini diambil dan dari lubang = bulg sample Hanya saja pengambilan lebih kebawah dari BL. Sampel kemudian didulang. Setelah selesai disaring 4 kali.

3. Strem Sample Sedimen (S.S)


Diambil bagian terbawah dari lubang pada pan sampling Pendulangan sample dilakukan 2 x 1 x air yang medusa busa air sabun kemudian diayak dengan beratnya 200 gr. 4. Rock Float Diambil pada singkapan yang biasa di aliran sungai, Bentuk berupa pecahan / fragmen yang kasar. Sampel untuk background latar belakang menunjukkan adanya bagal sehingga menjadi pedoman endapan yang dicari (mineral pembantu).

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

5. Rock Chip Sample (Chip Sample)


Diambil pada batuan yang masih segar/mineralisasi mengandung logam berharg banyaknya 1 kg.

6. Specimen Sample (SP)


Diambil didaerah aliran sungai yang dijumpai singkapan I yang masih segar, bervariasi (pada batuan vulkanik), sedang untuk batuan sediment berfosil untuk menentukan umur geologi, berat sampel = 1 kg. 7. Soil Sample Diambil dengan metode grid line didaerah bukit/lereng/lembah, soil diambil dengan jumlah sampel 0,5 kg 1 kg. Sampling dapat dilakukan karena beberapa alasan (tujuan) maupun tahapan pekerjaan (tahapan eksplorasi, evaluasi, maupun eksploitasi).

1. Selama fase eksplorasi sampling dilakukan pada badan bijih (mineable


thickness) dan tidak hanya terbatas pada zona mineralisasi saja, tetapi juga pada zona-zona low grade maupun material barren, dengan tujuan untuk mendapatkan batas yang jelas antara masing-masing zona tersebut. 2. Selama fase evaluasi, sampling dilakukan tidak hanya pada zona endapan, tapi juga pada daerah-daerah di sekitar endapan dengan tujuan memperoleh informasi lain yang berhubungan dengan kestabilan lereng dan pemilihan metode penambangan.

3. Sedangkan selama fase eksploitasi, sampling tetap dilakukan dengan


tujuan kontrol kadar (quality control) dan monitoring front kerja (kadar pada front kerja yang aktif, kadar pada bench open pit, atau kadar pada umpan material). Pemilihan metode sampling dan jumlah contoh yang akan diambil tergantung pada beberapa faktor, antara lain : 1. Tipe endapan, pola penyebaran, serta ukuran endapan. 2. Tahapan pekerjaan dan prosedur evaluasi, 3. Lokasi pengambilan contoh (pada zona mineralisasi, alterasi, atau barren), 4. Kedalaman pengambilan contoh, yang berhubungan dengan letak dan kondisi batuan induk. 5. Anggaran untuk sampling dan nilai dari bijih. Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi dalam sampling, antara lain :

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

1. Salting, yaitu peningkatan kadar pada contoh yang diambil sebagai akibat
masuknya material lain dengan kadar tinggi ke dalam conto.

2. Dilution, yaitu pengurangan kadar akibatnya masuknya waste ke dalam


contoh.

3. Erratic high assay, yaitu kesalahan akibat kekeliruan dalam penentuan


posisi (lokasi) sampling karena tidak memperhatikan kondisi geologi. 4. Kesalahan dalam analisis kimia, akibat contoh yang diambil kurang representatif.

2.2.1. Metode Hand Sampling


Secara umum, dalam pemilihan metode sampling perlu diperhatikan karakteristik endapan yang akan diambil contonya. Bentuk keterdapatan dan morfologi endapan akan berpengaruh pada tipe dan kuantitas sampling. Aspek karakteristik endapan untuk tujuan sampling ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pada Endapan Berbentuk Urat, yaitu :


1. Komponen mineral atau logam tidak tersebar merata pada badan urat. 2. Mineral bijih dapat berupa kristal-kristal yang kasar sehingga diperlukan sample dengan volume yang besar agar representatif.

3. Kebanyakan urat mempunyai lebar yang sempit (jika dibandingkan


dengan bukaan stope) sehingga rentan dengan dilution. 4. Kebanyakan urat berasosiasi dengan sesar, pengisi rekahan, dan zona geser (regangan), sehingga pada kondisi ini memungkinkan terjadinya efek dilution pada batuan samping, sehingga batuan samping perlu dilakukan sampling.

5. Perbedaan assay (kadar) antara urat dan batuan samping pada


umumnya tajam, berhubungan dengan kontak dengan batuan samping, impregnasi pada batuan samping, serta pola urat yang menjari (bercabang), sehingga dalam sampling perlu dicari dan ditentukan batas vein yang jelas.

6. Fluktuasi ketebalan urat sulit diprediksi, dan mempunyai rentang


yang terbatas, serta mempunyai kadar yang sangat erratic (acak/tidak beraturan) dan sulit diprediksi, sehingga diperlukan sampling dengan interval yang rapat.
Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

7. Kebanyakan urat relatif keras dan bersifat brittle, sehingga cukup


sulit untuk mencegah terjadinya bias akibat variabel kuantitas per unit panjang sulit dikontrol. 8. Sampling lanjutan kadang-kadang terbatas terhadap jarak (interval), karena pada umumnya harus dilanjutkan melalui pemboran inti.

*Sumber:http://densowestliferz.wordpress.com/2011/11/28/metode-sampling-padajenis-jenis-endapan, 2011

Gambar 2.1. Sketsa Pembuatan Channel Sampling pada Urat

b. Pada Endapan Stratiform


Endapan stratiform disini termasuk endapan-endapan logam dasar yang terendapkan selaras/sejajar dengan bidang perlapisan satuan litologi (litofasies), dimana mineral bijih secara lateral dikontrol oleh bidang perlapisan atau bentuk-bentuk sedimen yang lain (sedimentary hosted). Karakteristik umum tipe endapan ini yang berhubungan dengan metode sampling antara lain : 1. Mempuyai ketebalan yang cukup besar. 2. Mempunyai penyebaran lateral yang cukup luas. 3. Kadang-kadang diganggu oleh struktur geologi atau tektonik yang kuat, sehingga dapat menimbulkan masalah dalam sampling. 4. Arah kecenderungan kadar relatif seragam dan dapat diprediksi, namun kadang-kadang dapat terganggu oleh adanya remobilisasi, metamorfisme, atau berbentuk urat.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 5. Perubahan-perubahan gradual atau sistematis dalam kadar harus diikuti oleh perubahan dalam interval sampling. 6. Dalam beberapa kondisi mungkin terdapat mineralisasi yang berbutir halus dan kemudian berpengaruh pada besar volume material yang dilakukan sampling.

7. Pada tipe hosted by meta-sediment, perlu diperhatikan variabel


ukuran conto akibat perubahan ukuran, kekerasan batuan, atau nugget effect. 8. Setempat dapat terjadi perubahan kadar yang moderat dan dapat menyebabkan kesalahan pada sampling yang signifikan.

9. Cut off kadar dapat gradasional (tidak konstan). c. Pada Endapan Sedimen
Pada tipe endapan ini, termasuk endapan batubara, ironstones, potash, gipsum, dan garam, yang mempunyai karakteristik : 1. Mempuyai kontak yang jelas dengan batuan samping. 2. Mempunyai fluktuasi perubahan indikator kualitas yang bersifat gradual.

3. Sampling sering dikontrol oleh keberadaan sisipan atau parting


dalam batubara, sehingga interval sampling lebih bersifat ply per ply.

4. Perubahan (variasi) ketebalan lapisan yang cenderung gradual,


sehingga anomali-anomali yang ditemukan dapat diprediksi lebih awal (washout, sesar, perlipatan,), sehingga pola dan kerapatan sampling disesuaikan dengan variasi yang ada.

5. Rekomendasi pola sampling (strategi sampling) adalah dengan


interval teratur secara vertikal, bed by bed (atau ply by ply), atau jika relatif homogen dapat dilakukan secara komposit.

d. Pada Endapan Porfiri


Karakteristik umum dari tipe besar, endapan sehingga ini yang perlu lebih diperhatikan adalah :

1. Mempuyai

dimensi

yang

sampling

diprioritaskan dengan pemboran inti (diamond atau percussion).

2. Umumnya berbentuk non-tabular, umumnya mempunyai kadar


yang rendah dan bersifat erratic, sehingga kadang-kadang
Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT dibutuhkan conto dalam jumlah (volume) yang besar, sehingga kadang-kadang dilakukan sampling melalui winze percobaan, adit eksplorasi, dan paritan.

3. Zona-zona mineralisasi mempunyai pola dan variabilitas yang


beragam, seperti tipe disseminated, stockwork, vein, atau fissure, sehingga perlu mendapat perhatian khusus dalam pemilihan metode sampling. 4. Keberadaan zona-zona pelindian atau oksidasi, zona pengkayaan supergen, dan zona hipogen, juga perlu mendapat perhatian khusus. 5. Mineralisasi dengan kadar hipogen yang relatif tinggi sering terkonsentrasi sepanjang sistem kekar sehingga penentuan orientasi sampling dan pemboran perlu diperhatikan dengan seksama. 6. Zonasi-zonasi internal (alterasi batuan samping) harus selalu diperhatikan dan direkam sepanjang proses sampling. 7. Variasi dari kerapatan pola kekar akan mempengaruhi kekuatan batuan, sehingga interval (kerapatan) sampling akan sangat membantu dalam informasi fragmentasi batuan nantinya.

e. Grab Sampling
Secara umum, metode grab sampling ini merupakan teknik sampling dengan cara mengambil bagian (fragmen) yang berukuran besar dari suatu material (baik di alam maupun dari suatu tumpukan) yang mengandung mineralisasi secara acak (tanpa seleksi yang khusus). Tingkat ketelitian sampling pada metode ini relatif mempunyai bias yang cukup besar. Beberapa kondisi pengambilan conto dengan teknik grab sampling ini antara lain : 1. Pada tumpukan material hasil pembongkaran untuk mendapatkan gambaran umum kadar.

2. Pada material di atas dump truck atau belt conveyor pada


transportasi material, dengan tujuan pengecekan kualitas.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 3. Pada fragmen material hasil peledakan pada suatu muka kerja untuk memperoleh kualitas umum dari material yang diledakkan, dll. (Yusuf, 2011)

*Sumber: http://www.ecasatoolbox.org.uk/the-toolbox/eia-country/book-of-protocols/ grab-sampling, 2009

Gambar 2.2. Grab Sampling

f. Bulk Sampling
Bulk sampling (conto ruah) ini merupakan metode sampling dengan cara mengambil material dalam jumlah (volume) yang besar, dan umum dilakukan pada semua fase kegiatan (eksplorasi sampai dengan pengolahan). Pada fase sebelum operasi penambangan, bulk sampling ini dilakukan untuk mengetahui kadar pada suatu blok atau bidang kerja. Metode bulk sampling ini juga umum dilakukan untuk uji metalurgi dengan tujuan mengetahui recovery (perolehan) suatu proses pengolahan. Sedangkan pada kegiatan eksplorasi, salah satu penerapan metode bulk sampling ini adalah dalam pengambilan conto dengan sumur uji.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber:http://www.Bulk/2gold-sampling_mali01.jpg, 2010

Gambar 2.3. Bulk Sampling

*Sumber:http://www.Bulk2.jpg, 2010

Gambar 2.4. Sampling

g. Chip Sampling
Chip sampling (conto tatahan) adalah salah satu metode sampling dengan cara mengumpulkan pecahan batuan (rock chip) yang dipecahkan melalui suatu jalur (dengan lebar 15 cm) yang memotong zona mineralisasi dengan menggunakan palu atau pahat. Jalur sampling tersebut biasanya bidang horizontal dan pecahanpecahan batuan tersebut dikumpulkan dalam suatu kantong conto. Kadang-kadang pengambilan ukuran conto yang seragam (baik ukuran butir, jumlah, maupun interval) cukup sulit, terutama pada urat-urat yang keras dan brittle (seperti urat kuarsa), sehingga dapat menimbulkan kesalahan seperti oversampling (salting) jika ukuran
Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT fragmen dengan kadar tinggi relatif lebih banyak daripada fragmen yang low grade.

*Sumber:http://www. Chip/Rock-Chip-Sampling.jpg, 2010

Gambar 2.5. Chip Sampling

h. Channel Sampling
Channel sampling adalah suatu metode (cara) pengambilan conto dengan membuat alur (channel) sepanjang permukaan yang memperlihatkan jejak bijih (mineralisasi). Alur tersebut dibuat secara teratur dan seragam (lebar 2-10 cm, kedalaman 2-5 cm) secara horizontal, vertikal, atau tegak lurus kemiringan lapisan.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber:http://densowestliferz.wordpress.com/2011/11/28/metode-sampling-padajenis- jenis-endapan, 2011

Gambar 2.6. Sketsa Pembuatan Channel pada sumur uji untuk endapan berlapis

*Sumber:http://densowestliferz.wordpress.com/2011/11/28/metode-sampling-padajenis- jenis-endapan, 2011

Gambar 2.7. Sketsa Pembuatan Channel Sampling Pada Endapan yang Berlapis

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT i. Stream sampling Merupakan cara pengambilan conto dengan memakai alat yang disebut hand sample cutter. Conto yang diambil harus berupa pulp basah dan diambil searah dengan aliran yang ada pada stream tersebut.

*Sumber:http://www. Swber/ stream.gif, 2009

Gambar 2.8. Stream Sampling j. Coning quartering Cara memperkecil jumlah percontoh yang urutan pekerjaannya meliputi penuangan sehingga membentuk kerucut, perataan tumpukan sehingga membentuk piringan, dan pembagian secara radial sehingga terbentuk 4 percontoh yang identik; dua percontoh yang berseberangan disatukan menjadi satu percontoh sedangkan yang lain disisihkan. Cara ini merupakan cara tertua tapi masih banyak digunakan dalam laboratorium (Denso, 2011). Coning dan quartering terdiri dari 2 tahapan. Yang pertama adalah membuat sampel menjadi menyerupai kerucut. Selanjutnya, kerucut diratakan menjadi lingkaran. Kemudian, tahapan ketiga, material yang membentuk lingkaran tersebut dibagi menjadi 4 bagian sama besar dengan memotong dua diameter yang saling tegak lurus. Dua bagian yang saling berseberangan diambil, sedangkan dua lainnya ditinggalkan.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber:http:// www.book htm/ books.png, 2009

Gambar 2.9. Coning Quatering k. Grain Counting Grain counting merupakan cara sederhana secara manual untuk memperkirakan kadar hasil sampling. Cara melakukan teknik ini adalah dengan menjatuhkan sebagian sampel kedalam suatu kotak persegi dengan ukuran tertentu, kemudian banyaknya masingmasing butir (konsentrat dan tailing dalam kotak) dihitung. Agar ketelian tetap terjaga maka ukuran butir antara mineral berharga dengan pengotornya haruslah sama serta mudah dipisah

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber:http://www. Grain/ img78.png, 2009

Gambar 2.10. Grain Counting l. Shovel sampling Pengambilan sampel dengan menggunakan shovel, keuntungan cara ini lebih murah, waktu pengambilan cepat dan memerlukan tempat yang tidak begitu luas. Material conto yang diambil berukuran kurang dari 2 inchi. m. Pipe sampling Alat yang digunakan pipa/tabung dengan diameter 0.5, 1.0, dan 1.5 inchi. Salah satu ujung pipa runcing untuk dimasukkan ke material. Terdiri dari dua pipa (besar dan kecil) sehingga terdapat rongga diantaranya untuk tempat conto. Digunakan pada material padat yang halus dan tidak terlalu keras n. Sampling Batuan Sampling batuan dapat dilakukan pada singkapan, dalam tambang dan inti bor. Dalam hal ini permukaan batuan dibersihkan dengan pencucian dan conto chip diambil dalam area atau interval yang standar. Conto batuan 500 gram umumnya diambil terhadap batuan berbutir halus, sedangkan batuan yang berbutir sangat kasar
Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT diambil lebih dari 2 Kg. Pada metode ini data dapat secara langsung berhubungan dengan aureole primer dalam sampling detail dan terhadap provinsi geokimia dalam sampling pengamatan awal. Konteks geologi dan conto batuan langsung menggambarkan struktur, jenis batuan, mineralisasi, dan alterasi pada saat conto tersebut diambil o. Sampling Tanah Sampling tanah akan menguntungkan untuk beberapa area dimana jarang ditemukan singkapan. Lubang untuksampling tersebut dapat digali secara manual ataupun mekanis. Setelah conto tanah diambil, terus diayak sampai 80 mesh dan 20 50 gram fraksi halus dikumpulkan untuk dianalisis. Survei tanah umumnya dibuat pada suatu pola lintasan dengan jarak lokasi antar titik conto 300 1500 m pada pengamatan awal da 15 60 m pada survei selanjutnya.

*Sumber:http://www.wsdot.wa.gov/Environment/HazMat/photos.htm, 2010

Gambar 2.11. Sampling tanah p. Sampling Sedimen Sampling sedimen sungai merupakan komposit alami dari material di bagian atas ( hulu ) sampai lokasi sampling. Sampling tersebut efektif pada pekerjaan pengamatan awal dimana lokasi conto tunggal mungkin menunjukkan area tangkapan ( catchment area 0 yang

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT sangat luas. Dalam survei yang detail, conto dapat diambil setiap 50 100 m sepanjang aliran, masing masing sebanyak 50 gram dengan ukuran butir n 80 mesh untuk keperluan analisis. q. Sampling Air Sampling air merupakan salah satu metode geokimia yang paling lama. Metode tersebut mudah dilakukan, tetapi conto air tidak stabil untuk waktu yang singkat. Faktor faktor yang mengontrol kandungan logam dalam air permukaam seperti dilusi, pH, temperatur, kompleks organik sulit untuk dievaluasi, dan kandungan logam biasanya relatif rendah.

*Sumber: http://images.enggotea.multiply.com/image/1/photos/upload/orig, 2010

Gambar 2.12. Sampling Air r. Sampling Vegetasi Sampling vegetasi diperlukan koreksi terhadap sampling tanah dan air tanah untuk analisa kimia. Tumbuhan mengekstrak unsur unsur logam dari kedalaman dan mengirimnya ke dedaunan. Interpretasi yang dihasilkan lebih kompleks dibandingkan dengan metode lainnya. Sampling yang dilakukan sangat sederhana hanya dengan memotong rantingbdari dedaunan. Contoh yang diambil sekitar 100 gram daun atau ranting muda pada setiap pohon, kemudian dikirim ke labolatorium untuk diabukandan dianalisis, conto abu akhir umumnya sekitar 10 30 gram. Idealnya vegetasi disampling pada lintasan yang seragam.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

* Sumber:http://www.steverox.info/FieldPhotos/VegetationSampling.JPG, 2010

Gambar 2.13. Sampling Vegetasi s. Sampling Uap Sampling uap air raksa yang digunakan sebagai petunjuk badan bijih sulfida sejak sekitar tahun 1950-an yang diambil dari tanah, udara maupun air. Sprektrometer portabel sering digunakan untuk memompa gas dari lubang bor berdiameter kecil ke dalam tanah. Conto yang paling efektif diambil dari tanah dimana konsentarasi gas lebih ribuan kali lebih banyak darpada di udara. Radon (Rd) dan Helium (He) dikumpulan dari conto air permukaan dan air tanah yang terbukti efektif sebagai petunjuk mineralisasi Uranium. t. Trenching Adalah suatu cara pengambilan conto dengan membuat parit pada singkapan bijih sehingga dapat diketahui bentuk endapan kadar dan kedalaman. Paritan dibuat dengan memotong atau tegak lurus terhadap singkapan.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber:http://t2.gstatic.com/images, 2010

Gambar 2.15. Trenching

u. Test Pit ( Sumur Uji )


Test Pit merupakan salah satu cara dalam pencaraian endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam arah vertikal. Pembuatan sumut uji dilakukan jika dibutuhkan kedalaman yang lebih ( > 2,5 m ). Pada umumnya suatu deretan ( series ) sumur uji dibuat searah jurus, sehingga pola endapan dapat dikorelasikan dalam arah vertikal dan horisontal. Atau dengan kata lain Test Pit adalah suatu cara pengambilan conto dngan jalan membuat sumuran yang dapat dikombinasika dengan Channel Sampling. Sumur uji ini umumnya dilakukan pada eksplorasi endapan endapan yang berhubungan dengan pelapukan dan endapan endapan berlapis

1) Pada endapan berlapis, pembuatan sumur uji ditujukan untuk


mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah kemiringan, varisai litologi atap dan lantai, ketebalan lapisan, dan karakteristik variasi endapan secara vertikal, serta dapat digunakan sebagai lokasi sampling. Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai menembus keseluruhan lapisan endapan yang dicari, misalnya batubara dan mineralisasi berupa urat ( vein ).

2) Pada endapan yang berhubungan dengan pelapukan ( laterik atau


residual), pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan batas batas zona lapisan ( zona tanah, zona residual, zona
Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT laterik ), ketebalan masing masing zona, variasi vertikal masing masing zona, serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan bentuk endapan.

* Sumber:http://www.liv.ac.uk/arts_ses_images/sace/unearthed09/garrowtest-pits-web.jpg

Gambar 2.14. Test Pit v. Drilling Hole Sampling Adalah cara pengambilan conto dari hasil pemboran inti dengan menggunakan mata bor type core drill dan diamond drill.

1) Cara Core Drill


Cara pengambilan conto dengan menggunakan bor tumbuk, biasanya dipergunakan pada batuan yang tidak begitu keras ( uniform ) atau tidak begitu kompak ( semi massive ) dan dapat dikerjakan dengan tangan manusia dan sangat baik dipergunakan pada penyelidikan penyelidikan penambangan yang letaknya tercepncil karena tidak memakan biaya yang besar, alat alatnya mudah didapat dan sederhana, perawatan dan pelayanan mudah dan transportasinya ringan serta tidak terlalu berbelit belit.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber: http://toolmonger.com/wp-content/uploads/2008/06/CoreDrill450.jpg, 2010

Gambar 2.16. Core Drill

2) Cara Diamond Drill


Cara pengambilan conto dengan menggunakan tenaga penggerak berupa motor bensin, diesel, mesin uap, motor listrik dan lain sebagainya.

*Sumber: http://www.corecut.co.uk/media/3254/diamond_drilling_1430072dpi.jpg, 2010

Gambar 2.16. Diamond Drill

w. Cara Out Crop


Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Adalah suatu cara pengambilan conto batuan pada permukaan tanah yaitu dengan cara melihat batuan di sekeliling tempat yang diselidiki. Misalnya di tempat A, ditemukan sejenis batuan, kemudian di tempat lain didapati pula batuan yang sejenis tadi misalnya di etmpat B dan C. Kemudian yang penting ialah mencari arah perlapisan batuan itu, sehingga dapat pula ditemukan pula dip dan strikenya. Selanjutnya perlu diadakan penelitian lebih lanjut misalnya dengan pemboran, sumuran dan lain lain.

*Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2d/Outcrop_Showing_ Layering_of_Lignite_and_Consolidated_Calcareous_Mud.jpg, 2011

Gambar 2.17. Outcrop x. Drift And Cross Cut Adalah cara pengambilan conto pada sisi sisi dari drift dan cross out oleh channel tegak lurus pad formasi / lapisan batuan. Hasilnya biasanya mempunyai contoh yang dapat digambarkan k.l. 25 ft.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber: http://farm5.static.flickr.com/4137/4858672055_1b41d00395.jpg, 2010

Gambar 2.18. Drift and Cross Cut

y. Trencing Float
Adalah suatu cara pengambilan conto fragmen fragmen atau pecahan pecahan sungai. bijih yang lapuk atau tererosi dengan cara penjejakan atau penurutan atau kegiatan pengamatan pada sungai

*Sumber: http://www.marathon-gold.com/Theme/Marathon/files/images/ Photo2F.jpg, 2010

Gambar 2.19. Trenching float

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Ada beberapa cara atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengumpulkan fragmen-fragmen batuan dalam satu conto atau melakukan pengelompokan conto (sub-channel) yang tergantung pada tipe (pola) mineralisasi, antara lain : 1. Membagi panjang channel dalam interval-interval yang seragam, yang diakibatkan oleh variasi (distribusi) zona bijih relatif lebar. Contohnya pada pembuatan channel dalam sumur uji pada endapan laterit atau residual.

2. Membagi panjang channel dalam interval-interval tertentu yang


diakibatkan oleh variasi (distribusi) zona mineralisasi.

3. Untuk kemudahan, dimungkinkan penggabungan sub-channel dalam


satu analisis kadar atau dibuat komposit.

4. Pada batubara atau endapan berlapis, dapat diambil channel


sampling per tebal seam (lapisan) atau ply per ply (jika terdapat sisipan pengotor).

*Sumber:http://densowestliferz.wordpress.com/2011/11/28/metode-sampling-padajenis- jenis-endapan, 2011

Gambar 2.11. Sketsa Pembuatan Sub-Channel pada Mineralisasi Berupa Urat

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Informasi-informasi yang harus direkam dalam pengambilan conto dari setiap alur adalah sebagai berikut : 1. Letak lokasi pengambilan conto dari titik ikat terdekat.

2. Posisi alur (memotong vein, vertikal memotong bidang perlapisan,


dll.). 3. Lebar atau tebal zona bijih/endapan (lebar horizontal, tebal semu, atau tebal sebenarnya).

4. Penamaan (pemberian kode) kantong conto, sebaiknya mewakili


interval atau lokasi sub-channel. 5. Tanggal pengambilan dan identitas conto. Sedangkan informasi-informasi yang sebaiknya juga dicatat (dideskripsikan) dalam pengambilan conto adalah : 1. Mineralogi bijih atau deskripsi endapan yang diambil contonya.

2. Penaksiran visual zona mineralisasi (bijih, waste, pengotor, dan lainlain). 3. Kemiringan semu atau kemiringan sebenarnya dari badan bijih. 4. Deskripsi litologi atau batuan samping.

5. Dan lain-lain yang dianggap perlu dalam penjelasan kondisi endapan.


2.2.2.Metode Mechanical Sampling Pada metode sampling juga terdapat mechanical sampling diaman metode ini biasanya digunakan untuk mengambil conto dalam jumlah yang besar dibandingkan dengan hand sampling. Disamping itu dengan cara ini didapatkan hasil yang lebih representatif. Alat yang digunakan dalam mechanical sampling adalah riffle sampler dan vesin sampler (Anonim, 2009)

a.

Riffler Sampler Alat ini bentuknya persegi panjang dan pada bagian dalam dibagi menjadi beberapa sekat yang arahnya saling berlawanan. Riffle-riffle ini yang berfungsi sebagai pembagi conto agar dapat terbagi sama rata.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

*Sumber:http:/www. sample-splitter-sp174.jpg

Gambar 2.12. Riffle Sampler b. Vesin sampler Pada bagian dalam dilengkapi dengan revolving cutter, yaitu pemotong yang dapat berputar pada porosnya sehingga akan membentuk area yang bundar sehingga dapat memotong seluruh alur bijih. 2.2.3.Analisis Ayak Dalam sampling dikenal dengan analisis ayak dengan tujuan adalah untuk mengetahui : 1. Jumlah produksi suatu alat

2. Distribusi partikel pada ukuran tertentu


3. Ratio of concentration

4. Recovery suatu mineral pada setiap fraksi


Peralatan yang diperlukan dalam analisis ayak antara lain ayakan, timbangan, mikroskop dan alat sampling. Untuk melakukan analisis lebih baik digunakan dua ayakan dengan salah satunya dipakai sebagai pembanding. Ukuran yang digunakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm (metrik). Yang dimaksud mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu inchi persegi (square inch), sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka yang ditunjukkan merupakan besar material yang

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT diayak. Perbandingan antara luas lubang bukaan dengan luas permukaan screen disebut prosentase opening. Pelolosan material dalam ayakan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

a. Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan b. Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan c. Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel d. Komposisi air dalam material yang akan diayak e. Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diayak
Kapasitas screen secara umum tergantung pada :

1. Luas penampang screen


2. Ukuran bukaan

3. Sifat dari umpan seperti ; berat jenis, kandungan air, temperatur 4. Tipe mechanical screen yang digunakan
Efisiensi screen dalam mechanical engineering didefinisikan sebagai perbandingan dari energi keluaran dengan energi masukan. Dengan demikian dalam screening bukannya efisiensi melainkan ukuran keefektifan dari operasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi effisiensi screen :

1. Lamanya umpan berada dalam screen


2. Jumlah lubang yang terbuka 3. Kecepatan umpan 4. Tebalnya lapisan umpan

5. Cocoknya lubang ayakan dengan bentuk dan ukuran rata-rata


material yang diolah. Dari hasil pengayakan dilakukan analisa mikroskop sehingga didapatkan hasil bahwa pada ukuran butir yang paling kecil derajat liberasinya makin besar. Dengan demikian berarti makin kecil ukuran butir makin sempurna material terliberasi atau terbebaskan dari ikatan gangue mineral. Selain itu dari hasil pengayakan yang dilakukan dengan dua ayakan akan dapat dibandingkan satu sama lainnya sehingga dapat diketahui efisiensi pengayakan yang paling baik.

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Derajat liberasi adalah perbandingan antara jumlah berat mineral bebas dan berat mineral yang sama seluruhnya (bebas dan terikat). Efisiensi yaitu perbandingan antara undersize yang lolos dengan undersize yang seharusnya lolos. Sampling batubara merupakan sampling yang tersulit dari semua sampling solidmaterial. Hal ini dikarenakan batubara merupakan heterogen solid material. Selain itu parameter yang ditentukan dari batubara memeliki sifat-sifat penyebaran yang bervariasi.Oleh karena itu dalam melakukan sampling batubara harus betul-betul mengikuti kaidahkaidah atau standard yang digunakan (Anonim, 2011) Ada 3 faktor yang menentukan bahwa suatu sampel dapat dikatakan representative atau tidak,yaitu : 1. Teknik pengambilan sample dan alat yang digunakan

2. Massa atau jumlah sampel yang diambil 3. Periode atau interval pengambilan.Untuk memperoleh sampel yang
representative, maka ketiga faktor diatas harus dilakukan dengan baik menurut standard yang digunakan. Pada sampling terdapat teknik pengambilan sampel dan alat yang digunakan, adalah : a. Teknik pengambilan sampel Teknik pengambilan sampel harus ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi materialyang akan diambil dan alat yang digunakan. Teknik pengambilan sample yang salah,akan menyebabkan hasil dari sampel tersebut bias. Teknik sampling harus betul-betul diperhatikan terutama pada sampling secara manual. Sebagai contoh, dalam pengambilan sampel dari falling stream, shovel atau ladle yang digunakan harus masuk ke seluruh stream batubara. Apabila hanya sebagian stream yang diambil maka sampel yang diperoleh akan bias. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah muatan sample dalam ladle. Ladle harus terisi sampel secukupnya dan tidak boleh berlebihan (overfill). Pengambilan sampel yang overfill juga akan menyebabkan bias, karena partikel yang besar-besar akan jatuh, dan sebagian besar sample yang terambil adalah fine coal. Jadi teknik

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT pengambilan sampel harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, batubarayang akan diambil samplenya. Seorang sampler yang profesional harus menguasaiteknik sampling yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi batubara yang akan diambil sampelnya. b. Alat yang digunakan Selain teknik pengambilan sample, yang tak kalah pentingnya yang harus diperhatikan adalah alat yang digunakan untuk mengambil sample tersebut. Alat yang digunakan untuk melakukan sampling memiliki ukuran dan bentuk yang ditentukan oleh standard. Penggunaan alat yang tidak sesuai dengan standard, akan mengakibatkan bias padasample yang diperoleh dan akan menyebabkan kesalahan pada hasil analisanya. Menurut Japannese Industrial Standard M.8105-1966, rencana pengambilan contoh meliputi beberpa hal, diantaranya adalah : 1. Ukuran Populasi Populasi adalah sekumpulan besar material yang akan diambil contohnya. Besarnya populasi akan berpengaruh pada kuantitas atau jumlah contoh yang harus diambil. Semakin besar pengambilan dilakukan, maka semakin baik data yang diperoleh, tetapi perlu diingat segi biaya, waktu, serta tenaga.

2. Increment
Adalah jumlah satuan mineral yang dikumpulkan dari populasi sebagai bagian dari contoh yang diperoleh dengan sekali pengambilan contoh. 3. Bentuk dan ukuran material Bentuk dan ukuran material akan menentukan cara pengambilan sampel/setiap increment-nya. Keberhasilan analisis terhadap bahan galian ditentukan berhasil tidaknya hasil sampling. Pemilihan metode sampling dan jumlah conto yang akan diambil tergantung pada beberapa faktor, antara lain: 1. Tipe endapan, pola penyebaran, serta ukuran endapan. 2. Tahapan pekerjaan dan prosedur evaluasi

Ahmad Ali Syafii H1C110063

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN LABORATORIUM PENGOLAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 3. Lokasi pengambilan conto (pada zona mineralisasi, alterasi, atau barren), 4. Kedalaman pengambilan conto, yang berhubungan dengan letak dan kondisi batuan induk. 5. Anggaran untuk sampling dan nilai dari bijih. Selain itu dengan melakukan sampling yang baik dan benar, sangat besar manfaatnya dalam proses selanjutnya karena conto yang cukup sebagai patokan untuk mengontrol apakah proses pengolahan tersebut berjalan dengan baik atau sebaliknya. Tentunya dari hasil sampling ini tidak dapat begitu saja untuk mengontrol proses pengolahan tapi harus dilakukan suatu analisis dengan mikroskop. Sampel yang telah dikumpulkan harus disiapkan sebelum dilakukan analisis. Ini dikarenakan untuk menjaga kualitas dari analisa yang hanya akan berhasil jika mengikuti prosedur atau kriteria-kriteria tertentu. Kriteria terpenting dari pengujian adalah ukuran sampelnya. Analisa kimia dan analisa lainnya hanya bisa dilakukan pada benda berukuran kecil atau pasir/tanah halus. Oleh karena itu, material berukuran besar perlu direduksi, sehingga ukuran partikel tersebut representatif untuk dilakukan pengujian.

Ahmad Ali Syafii H1C110063