Anda di halaman 1dari 9

2.2.

2 Organizing (Pengorganisasian) Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan, menggolongkan danmengatur berbagai macam kegiatan, penetapan tugas-tugas dan wewenang seseorang,pendelegasian wewenang dalam rangka mencapai tujuan. Fungsi pengorganisasianmerupakan alat untuk memadukan semua kegiatan yang beraspek personil, finansial, materialdan tata cara dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Muninjaya, 1999).Berdasarkan penjelasan tersebut, organisasi dapat dipandang sebagai rangkaianaktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi segenap kegiatan usahakerjasama dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan yang harusdilaksanakan serta menyusun jalinan hubungan kerja di antara para pekerjanya. a. Manfaat Pengorganisasian Melalui fungsi pengorganisasian akan dapat diketahui : Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok. Hubungan organisatoris antara orang-orang di dalam organisasi tersebut melaluikegiatan yang dilakukannya. Pendelegasian wewenang. Pemanfaatan staff dan fasilitas fisik. b. Langkah-langkah Pengorganisasian -Tujuan organisasi harus dipahami oleh staf. Tugas ini sudah tertuang dalam fungsiperencanaan. -Membagi habis pekerjaan dalam bentuk kegiatan pokok untuk mencapai tujuan. -Menggolongkan kegiatan pokok kedalam satuan-satuan kegiatan yang praktis. -Menetapkan berbagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh staf dan menyediakanfasilitas yang diperlukan. -Penugasan personil yang tepat dalam melaksanakan tugas. -Mendelegasikan wewenang.

Metode fungsional Metode fungsional merupakan manajemen klasik yang menekankan efisiensi,pembagian tugas yang jelas, dan pengawasan yang baik. Metode ini sangat baik untuk rumahsakit yang kekurangan tenaga. Perawat senoir menyibukkan diri dengan tugas manajerial,sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan/atau belum berpengalaman.Kelemahan dari metode ini adalah pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapatmenerapkan proses keperawatan. Setiap perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi(misalnya merawat luka). Metode ini tidak

memberikan kepuasan kepada pasien maupunperawat dan persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan denganketerampilan saja

20 Skema 1. Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Fungsional 2.5.2 Metode Tim Metode ini menggunakan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalammemberikan asuhan keperaw2atan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagimenjadi 2-3 tim/grup yang terdiri atas tenaga profesional, teknikal, dan pembantu dalam satukelompok kecil yang saling membantu. Metode ini memungkinkan pemberian pelayanankeperawatan yang menyeluruh, mendukung pelaksanaan proses keperawatan, danmemungkinkan komunikasi antartim, sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasankepada anggota tim. Namun, komunikasi antaranggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu, yang sulit untuk dilaksanakan padawaktu-waktu sibuk. Hal pokok dalam metode tim adalah ketua tim sebagai perawatprofesonal harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan, pentingnyakomunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin, anggota tim harusmenghargai kepemimpinan ketua tim, model tim akan berhasil bila didukung oleh kepalaruang.Tujuan metode keperawatan tim adalah untuk memberikan perawatan yang berpusatpada klien. Perawatan ini memberikan pengawasan efektif dari memperkenalkan semuapersonel adalah media untuk memenuhi upaya kooperatif antara pemimpin dan anggota tim.Melalui pengawasan ketua tim nantinya dapat mengidentifikasi tujuan asuhan keperawatan,mengindentifikasi kebutuhan anggota tim, memfokuskan pada pemenuhan tujuan dankebutuhan, membimbing anggota tim untuk membantu menyusun dan memenuhi standardasuhan keperawatan.Perawat :PengobatanPerawat :Merawat lukaPerawat :PengobatanPerawat :Merawat lukaPasien/klienKepala Ruangan

21Walaupun metode tim keperawatan telah berjalan secara efektif, mungkin pasienmasih menerima fragmentasi pemberian asuhan keperawatan jika ketua tim tidak dapatmenjalin hubungan yang lebih baik dengan pasien, keterbatasan tenaga dan keahlian dapatmenyebabkan kebutuhan pasien tidak terpenuhi. Skema 2. Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Team nursing 2.5.3 Metode primer Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai pasien masuk sampai keluar rumah sakit.Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat rencana asuhan danpelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terusmenerusantara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, malakukan, dan koordinasiasuhan keperawatan selama pasien dirawat. Konsep dasar metode primer adalah adatanggung jawab dan tanggung gugat, ada otonomi, dan ketertiban pasien dan keluarga.Metode primer membutuhkan pengetahuan keperawatan dan keterampilanmanajemen, bersifat kontinuitas dan komprehensif, perawat primer mendapatkanakuntabilitas yang tinggi terhadap hasil, dan memungkinkan pengembangan diri sehinggapasien merasa dimanusiakan karena terpenuhinya kebutuhan secara individu. Perawat primermempunyai tugas mengkaji dan membuat prioritas setiap kebutuhan klien, mengidentifikasidiagnosa keperawatan, mengembangkan rencana keperawatan, dan mengevaluasi keefektifankeperawatan. Sementara perawat yang lain memberikan tindakan keperawatan, perawatprimer mengkoordinasikan keperawatan dan menginformasikan tentang kesehatan klienkepada perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Selain itu, asuhan yang diberikan bermutu.

Skema 3.Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Primary Nursing 2.5.4 Metode kasus Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat dinas.Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift , dan tidak ada jaminanbahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasankasus biasanya diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti: isolaso, intensivecare . Kelebihannyaadalah perawat lebih memahami kasus per kasus, sistem evaluasi dari manajerial menjadilebih mudah. Kekurangannya adalah belum dapat diidentifikasi perawat penanggung jawab,perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama.

2.5.5 Modifikasi : MAKP Tim-Primer Pada model MAKP tim digunakan secara kombinasi dari kedua sistem. MenurutRatna S. Sudarsono (2000) penetapan sistem model MAKP ini didasarkan pada beberapaalasan :a Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawat primer harusmempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan atau setara.b Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab asuhankeperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim.c Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatandan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer. Disamping itu, karenasaat ini perawat yang ada di RS sebagian besar adalah lulusan SPK, maka akanmendapat bimbingan dari perawat primer/ketua tim tentang asuhan keperawatan.Contoh: untuk ruang model MAKP ini diperlukan 26 perawat. Dengan menggunakanmodel modifikasi keperawatan primer ini diperlukan 4 (empat) orang perawat primer (PP)dengan kualifikasi Ners, di samping seorang kepala ruang rawat juga Ners. Perawat associate (PA) 21 orang, kualifikasi pendidikan perawat asosiasi terdiri atas lulusan D3 Keperawatan(3 orang) dan SPK (18 orang). Pengelompokan Tim pada setiap shift jaga terlihat padagambar di bawah.(Jadwal diatur Pagi, Sore, Malam dan Libur/Cuti) Skema 5. Sistem Asuhan Keperawatan Metode Primary Tim (Modifikasi)Kepala RuangPP1PAPP4PP3PP2PA PA PAPAPAPAPA PAPAPAPA7-8 Pasien 7-8 Pasien7-8 Pasien7-8 Pasien

2.6 JCIA (Joint Comition International Acreditation) Adalah suatu tingkat kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien yangdiharapkan.Strata-strata dalam sistemInput Proses OutputSumber dayaPerlengkapanPersediaanPenerimaan pasien rawatinapPemeriksaan pasienEdukasi terhadap pasienpengobatanMeningkatnya statuskesehatanPelayanan yang efisienKepuasan pasien Tabel 1. Strata strata dalam sistem JCIA Misi JCI Meningkatkan keselamatan dan kualitas perawatan pasien di seluruh dunia. Tujuan JCIA 1. Kualitas pelayanan2. Kepercayaan masyarakat3. Patient safety ervirontment safety4. Staff safety5. Revenue6. Margin7. Kesejahteraan karyawan8. Daya saing Manfaat JCIA 1. Meningkatkan kepercayaan public2. Menyediakan lingkungan kerja yang aman dan efisien -> kepuasan karyawan3. Bernegosiasi dengan sumber sumber pembayaran4. Memperhatikan pasien dan keluarganya, menghormati hak-haknya, melibatkanmereka dalam proses pelayanan5. Menciptakan budaya yang terbuka6. Membangun kepemimpinan yang kolaboratif

25 Persyaratan umum 1. Izin operasi2. Ingin meningkatkan kualitas pelayanan3. Mengikuti standar JCI Standar JCI 1. Patient focus functiona. International patient savety goalsb. Access to care and continuity of carec. Care of patientd. Assesment of patiente. Anasthesia and surgical caref. Patient and family rightg. Patient and family educationh. Madication managemet and use2. Organitation functiona. Staff Qualification and educationb.

Goverments, leadership and directionc. Fasility management and savetyd. Management of comunication and informatione. Quality improvement and patient savetyf. Prevention and control of infection TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KEPALA RUANG RAWAT 1. Mengobservasi dan memberi masukan kepada PP terkait dengan bimbingan yangdiberikan PP kepada PA. Apakah sudah baik.2. Memberikan masukan pada diskusi kasus yang dilakukan PP dan PA.3. Mempresentasikan isu-isu baru terkait dengan asuhan keperawatan.4. Mengidentifikasi fakta dan temuan yang memerlukan pembuktian.5. Mengidentifikasi masalah penelitian, merancang usulan dan melakukan penelitian.6. Menerapkan hasil-hasil penelitian dan memberikan asuhan keperawatan .7. Bekerjasama dengan kepala ruangan dalam hal melakukan evaluasi tentang mutu asuhankeperawatan, mengarahkan dan mengevaluasi tentang implementasi MPKP 268. Mengevaluasi pendidikan kesehatan yang dilakukan PP dan memberikan masukan untuk perbaikan.9. Merancang pertemuan ilmiah untuk membahas hasil evaluasi/penelitian tentang asuhankeperawatan. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KEPALA GROUP KedudukanPerawat ketua grup/TIM adalah seorang perawat professional dalam melaksanakantugas, bertanggung jawab kepada kepala ruangan.Tugas Pokok :Melaksanaan asuhan keperawatan kepada pasien sesuai dengan standar profesi sertamenggunakan dan memelihara logistic keperawatan secara efisien dan efektif.Uraian Tugas :1. Bersama anggota group melaksanakan Askep sesuai standar2. Bersama anggota group mengadakan serah terima dengan group.tim (group petugas ganti)mengawasi : kondisi klien/anggota keluarga, logistic keperawatan, administrasi rekammedic, pelayanan pemeriksaan penunjang, kolaborasi program pengobatan.3.

Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh group sebelumnnya.4. Merundingkan pembagian tugas dengan anggota groupnya.5. Menyiapkan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter.6. Mendampingi dokter visite, mencatat dan melaksanakan program pengobatan dokter.7. Membantu pelaksanaan rujukan8. Melakukan orientasi terhadap klien/anggota keluarga baru mengenai : tata tertib ruanganRS, perawat yang bertugas.9. Menyiapkan orientasi pulang dan memberi penyuluhan kesehatan10. Memelihara kebersihan ruang rawat dengan : mengatur tugas cleaning service, mengaturtugas peserta didik, mengatur tata tertib ruangan yang ditunjukkan kepada semua petugas,peserta didik dan pengunjung ruangan.11. Membantu karu membimbing peserta didik keperawatan12. Membantu karu untuk menilai mutu pelayanan askep serta tenaga keperawatan13. Menulis laporan tim mengenai klien/anggota keluarga dan lingkungan.