Anda di halaman 1dari 24

SEDIAAN LARUTAN

Tujuan Praktikum
Mempelajari aspek- aspek yang terkait dengan sediaan larutan.

Teori Dasar
Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Misal : terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Karena molekul-molekul dalam pelarut terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan menjadi tipe larutan sebagai berikut: Larutan encer, yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. Larutan, yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. Larutan jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. Larutan lewat jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya didalam air pada temperature tertentu. Zat pelarut disebut juga solvent, sedangkan zat yang terlarut disebut solute. Solvent yang biasa dipakai :

Air, untuk macam-macam garam. Spirtus, misalnya untuk kamfer, iodium, menthol. Gliserin, misalnya untuk tanin, zat samak, borax dan fenol. Eter, misalnya untuk kamfer, fosfor dan sublimat. Minyak, misalnya untuk kamfer dan menthol. Parafin, liquidum, untuk cera, cetaceum, minyak-minyak, kamfer, menthol dan klorbutanol. Eter minyak tanah, untuk minyak-minyak lemak.

Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Berhubung dengan kelarutan suatu zat dalam pelarut, maka dapat terjadi interaksi antara pelarut pelarut, pelarut zat pelarut terlarut dan zat zat terlarut. Nilai atau diskripsi kualitatif beberapa parameter fisika kimia dari zat terlarut dan pelarut dapat membantu mendapatkan gambaran mengenai keterlarutan suatu obat, beberapa faktor dan konsep yang penting untuk meramal kelarutan obat adalah: Polaritas Aturan yang terkenal yaitu like dissolves like berdasarkan pada observasi bahwa molekul molekul dengan distribusi muatan yang sama dapat larut timbal balik, yaitu molekul polar, akan larut dalam media yang serupa yaitu polar, sedangkan molekul nonpolar akan larut dalam media nonpolar. Konsep polaritas kurang jelas apabila diterapkan pada kelarutan yang rendah, terbentuk miseldan berbentuk hidrat padat. Kosolven

Campuran pelarut untuk melarutkan zat tertentu banyak digunakan untuk membuat larutan obat. Kosolven dapat dipandang sebagai modifikasi polaritas dari sistem pelarut terhadap zat terlarut atau terbentuknya pelarut baru yang terjadinya interaksi tidak mudah diduga dari individu pelarut masing masing dalam sistem campuran. Kosolven supaya dibedakan dari fenomena yang sangat erat hubungannya seperti pelarut (solubilisasi) dan hidrotopi. Kelarutan Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : Dapat larut dalam air Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2.Semua garam nitrat larut kecuali nitrat base. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4. Tidak larut dalam air Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua oksida dan hidroksida tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2. semua garam phosfat tidak larut kecuali K3PO4, Na3PO3.

Suhu Kebanyakan senyawa farmasetis pada kenaikan suhu akan naik kelarutannya, kecuali senyawa metilselulosa dan kalsium hidroksida. Proses eksoterm dapat digambarkan: Zat terlarut + pelarut larutan + panas Sedangkan proses endoterm:

Panas + zat terlarut + pelarut larutan Jika pada peristiwa eksoterm, bila suhu dinaikan maka kelarutan zatnya akan berkurang karena reaksi bergeser kekiri. Sedangkan pada peristiwa endoterm, bila suhu dinaikkan maka kelarutan zatnya akan bertambah, karena reaksi bergeser ke kanan. Salting out Peristiwa pengendapan zat terlarut (biasanya zat organik) disebabkan oleh penambahan jumlah besar garam yang sangat mudah larut pada larutan air dari senyawa organik. Peristiwa ini merupakan kompetisi antara garam dan senyawa organik terhadap molekul pelarut yaitu air. Contoh peristiwa ini adalah: camphora dan oleum menthae piperitae dalam air aromatik. Larutan metilselulosa dalam air oleh penambahan NaCl. Mekanisme peristiwa ini ialah bahwa interaksi metilselulosa dan air adalah inkompetible dengan interaksi NaCldengan air dan sebagai hasil terjadi dehidrasi dari metilselulose dan mengakibatkan peristiwa salting out.

Salting in Ialah peristiwa bertambahnya kelarutan dari suatu senyawa organik dengan penambahan suatu garam dalam larutannya. Sebagai contoh adalah globulin tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam larutan garam encer dalam air. Hidrotopi Ialah peristiwa bertambahnya larutan suatu senyawa yang tidak larut atau sukar larut dengan penambahan suatu senyawa lainyang bukan zat surfaktan (S.a.a.). Mekanismenya mungkin salting in, kompleksasi atau kombinasi beberapa faktor.

Pembentukan kompleks Ialah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan zat yang larut dengan membentuk senyawa kompleks yang larut. Sebagai contoh larutan iodium dalam larutan KI atau NaI dalam air. Disini terjadi senyawa kompleks Triiodida. Juga larutan coffein didalam larutan natrii salisilat atau natrii benzoat dalam air. Senyawa kompleks ini bersifat reversible, mudah terjadi disosiasi dan melepas zat aktifnya dan memberi efek terapi. Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh : Ukuran partikel : Makin halus solute, makin kecil ukuran partikel ; makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent, solute makin cepat larut. Suhu : Umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelaruta solute. Pengadukan. Common ion effect Obat yang tak larut sering dibuat sebagai suspensi, disini ada keseimbangan antara partikel padat dengan larutan jenuhnya. Sebagai contoh adalah suspensi Procain Penicilin. Dengan penambahan Procain HCl yang mudah larut dalam air akan mengurangi penicilin ion dalam larutan, karena produk kelarutan suatu senyawa pada suhu konstan adalah tetap.

Ukuran partikel Efek ukuran partikel dari zat terlarut dalam sifat keterlarutan terjadi hanya bila partikel mempunyai ukuran dalam sub mikro dan akan terlihat

kenaikan kira kira 10% dalam kelarutannya. Kenaikan ini disebabkan adanya enersi bebas permukaan yang bebas permukaan yang besar dihubungkan dengan partikel yang kecil. Ukuran dan bentuk molekul Sifat sifat dapat melarutkan dari air sebagian besar disebabkan oleh ukuran yang kecil dari molekulnya. Zat cair dapat mempunyai polaritas, konstante dielektrik dan ikatan hidrogen dapat menjadi pelarut yang kurang bagi senyawa ionik, disebabkan ukuran partikelnya lebih besar dan akan sukar bagi zat cair untuk menembus dan melarutkan kristal. Bentuk dari molekul zat terlarut juga merupakan faktor didalam meneliti keterlarutan. Keterlarutan yang tinggi dari amonia yang cocok tanpa ada kesukaran berada didalam struktur dari air. Efek bentuk dari molekul zat terlarut terhadap kelarutannya di dalam suatu pelarut lebih banyak merupakan efek entropi. Struktur dari air Struktur air merupakan anyaman molekul tiga dimensi dan struktur ikatan hidrogen menentukan sifat sifat air dan interaksinya dengan zat terlarut. Strukturnya dapat dimodifikasi secara kualitatif dan kuantitatif oleh banyak faktor seperti suhu, permukaan dan zat terlarut. Struktur air adalah peka terhadap banyak faktor yang dapat memperkuat, melemahkan, mengubah atau memecah seluruhnya. Faktor - faktor ini termasuk suhu, zat terlarut non polar, ion monovalen dan polivalen, makromolekul dan permukaan.

Macam-Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral

Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran cosolvent-air. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam (peroral). Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. Sirup Ada 3 macam sirup yaitu : a. Sirup simpleks, mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0,25 % b/v. b. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan. c. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis, pengawet, pewarna dan pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air etanol. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat pada elixir dapat pula ditmbahkan glicerol, sorbitol atau propilenglikol. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula. Netralisasi, saturatio dan potio effervescent.

a.

Netralisasi

adalah

obat

minum

yang

dibuat

dengan

mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral. Contohnya : solutio citratis magnesici, amygdalas ammonicus. b. Saturatio adalah Obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. c. Potio effervescent adalah Saturatio yang CO2 nya lewat jenuh. Guttae (drops) Guttae / obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspensi, apabila tidak dinyatakan lain maka dimaksudkan untuk obat dalam.

Larutan topikal Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain, misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio. Sediaan-sediaan termasuk larutan topikal : Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril, jernih, bebas pirogen, isotonis, digunakan untuk membersihkan mata. Dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet. Guttae Ophthalmicae Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai

digunakan pada mata. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi, partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Hal - hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : 1. 2. 3. 4. 5. Nilai isotonisitas Pendaparan Pengawet Pengental Pengkhelat

Gargarisma Gargarisma / obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Contohnya : Betadin gargle. Guttae Oris Tetes mulut adalah Obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumur, tidak untuk ditelan. Guttae Nasalis Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat kedalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. Inhalation

Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot oleh hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. Injectiones / Obat suntik Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Lavement / Enema / Clysma Cairan yang pemakaiannya per rectum / colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik. Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih feces sebelum operasi, tidak boleh mengandung zat lendir. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa, emolient, diagnostic, sedativa, anthelmintic dan lain-lain. Douche Adalah larutan dalam air yang dimaksudkan dengan suatu alat kedalam vagina, baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Karena larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. Contoh : Betadin Vagina Douche. Epithema / Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat-tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mngeringkan luka bernanah. Contoh : Rivanol.

Litus Oris Oles bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. Contoh larutan 10 % Borax dalam gliserin. Keuntungan dan Kerugian bentuk larutan Keuntungan bentuk larutan: Merupakan campuran homogen Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatan Dapat diberikan larutan encer kapsul atau tablet lambung, sedangkan bila dalam bentuk kapsul atau tablet sulit diencerkan. Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorbsi Mudah diberi pemanis, bau bauan dan warna, dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak anak. Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan Kerugian bentuk larutan: Volume bentuk larutan lebih besar Ada obat yang tidak stabil dalam larutan Ada obat yang sukar diyuyupi rasa dan baunya dalam larutan

Alat Dan Bahan


LARUTAN SEJATI Alat :

Kertas saring Batang pengaduk Timbangan Spatel Mortir Kertas perkamen Gelas ukur Pipet tetes Labu Erlenmeyer Beaker glass Botol Bahan : Dekstrometorphan Metil paraben Propil paraben Sorbitol Aquadest Sirupus simplex ELIKSIR Alat : Mortar

Timbangan Labu Erlenmeyer Buret Klem buret Statis Spatel Batang pengaduk Botol Bahan : Parasetamol Etanol Propilenglikol Gliserin Aquadest

Prosedur Percobaan
PROSEDUR PEMBUATAN LARUTAN SEJATI Didihkan air (pelarut), kemudian didinginkan dalam keadaan tertutup

Ditimbang zat aktif dan bahan pembantu yang dipelukan

Sirupus simplex sebagai pengental dan pemanis, dibuat dengan cara :

Sukrosa yang telah ditimbang

Dilarutkan dalam sebagian air

Dipanaskan hingga larut, kemudian disaring

Dihaluskan dalam mortar zat aktif dan bahan pembantu berbentuk serbuk

Dilarutkan zat aktif dengan cara :

Ditambahkan zataktif sedikit-sedikit kedalam sejumlah volume pelarut, sambil

diaduk sampai larut sempurna

Dilarutkan bahan pembantu dengan cara yang sama

Kedalam sejumlah sebagian pelarut yang diperlukan

Ditentukan volume pelarut berdasarkan kelarutan eksipien yang ditambahkan

Dicampurkan dan diaduk sampai homogen (bahan-bahan yang sudah larut)

Ditambahkan flavour dalam keadaan terlarut dalam pelarut yang dapat bercampur dengan pelarut yang digunakan

Ditambahkan sisa pelarut sampai volume sediaan yang dinuat

Dimasukkan ke dalam botol yang telah di tara sebelumnya

PROSEDUR PEMBUATAN ELIKSIR Dilakukan prosedur yang sama dengan pembuatan sediaan larutan sejati

Dibuat sediaan eliksir dengan cara: pelarut campur

Dilarutkan bahan berkhasiat dalam pelarut campur, dapat dilakukan dengan 2 cara :

Dilarutkan bahan berkhasiat (zat aktif) pada salah satu pelarut dengan kelarutan bahan berkhasiat yang paling besar

Ditambahkan pelarut lain sekaligus

Dilarutkan zat aktif sedikit-sedikit kedalam pelarut campur Apabila kelarutan zat aktif (berkhasiat) dalam masing-masing pelarut tidak tinggi*

Dibuat dulu larutan surfaktan dengan konsentrasi yang ditentukan *jika digunakan surfaktan sebagai peningkat kelarutan*

Dilarutkan bahan berkhasiat dalam larutan surfaktan tersebut

Dimasukkan kedalam botol yang telah ditara sebelumnya

Perhitungan Dan Data Pengamatan


Perhitungan Bahan Sediaan Larutan Dekstrometorphan HBr x 100 ml = 300 mg (untuk 1 sediaan) x 3 = 1500 mg = 1,5 g (untuk 5 sediaan) Sirupus Simpleks 25% Untuk 5 formula dibutuhkan 175 ml sirupus simpleks (digenapkan jadi 200 ml) Sukrosa yang dibutuhkan untuk sirupus simpleks 25% sebanyak 200 ml : x 25 g = 50 g Metil Paraben Metil Paraben 0,2 % = 0,2 g zat dilarutkan dalam 100 ml larutan Metil paraben 0,18% = 0,18 g zat dilarutkan dalam 100 ml larutan Propil Paraben 0,02 % 0,02 g zat dilarutkan dalam 100 ml larutan Sorbitol 15% 15 g zat dilarutkan dalam 100 ml larutan Penimbangan bahan sediaan larutan sejati Nama Zat Dekstrometorphan HBr Metil Paraben Jumlah untuk 1 sediaan (g) 0.3 g 0.2 g dan 0.18 g Jumlah sediaan 5 botol 2 botol 0.38 g Jumlah yang Ditimbang (g) 1.5 g

Propil Paraben Sukrosa Sorbitol

0.02 g 15g

1 botol 5 botol 1 botol

0.02 g 50 g 15 g

Perhitungan Bahan Sediaan Eliksir Paracetamol Untuk titrasi : x 100 ml = 2400 mg = 2,4 g Untuk sediaan : x 100 ml = 2400 mg = 2,4 g Etanol Etanol yang dipakai sebanyak 30 ml (hasil titrasi) Penimbangan Bahan Sediaan Eliksir Nama Zat Paracetamol Etanol Propilenglikol Gliserin Jumlah untuk 1 sediaan 2,4 g 30 ml 21,6 ml 10 ml Jumlah sediaan 2 1 1 1 Jumlah yang Ditimbang 4,8 g 30 ml 21,6 ml 10 ml

DATA PENGAMATAN ELIKSIR Volume propilenglikol : 21,6 ml Volume glyserin : 10 ml Volume etanol : 30 ml (hasil tirasi) Bobot jenis Hari ke-1 : W1 = 14,40; W2 = 26,21; W3 =26,66

Kejernihan

pH

Viskositas

Organoleptik

Volume Terpindahkan

Bobot jenis

Warna Jernih Eliksir 6,5 1 Organoleptik Bening Etanol Pahit pH Kejernihan Viskositas Bobot Jenis Volume terpindahkan 7 Jernih 0,96 97 ml Bening 2 Bening Etanol Pahit 6 Jernih 0,924 97ml

Rasa Bau Data kelompok Pahit Etanol 3 Bening Etanol Pahit 6 Jernih 0,964 97 ml 4 Bening Etanol Pahit 6 Jernih 1,086 97 ml

97 ml 5 Bening Etanol Pahit 6,5 Jernih 1,038 97 ml -

1,038 g/cm 6 Bening Etanol Pahit 6 Jernih

1,04 94 ml

Perhitungan Lain sediaan eliksir Perhitungan KD campuran : KD campuran = (KD air . % V.air) + (Kd etanol . % V.etanol) % Air = x 100 %

= 77 % = x 100 % = 23 % KD Campuran = (78,5 . 77%) + (25,7 . 23 %) = 60,44 + 5,9 = 66,351 KDcampuran=(KDair.%Vair)+(KDpropilenglikol.%Vpropilenglikol)+ (KDgliserin.%Vgliserin) 66,351 66,351 %Vair = (78,5 . %Vair) + (32 . 21%) + (42,5 . 10%) = (78,5 . %Vair) + (6,72) + (4,25) % Etanol

= x 70,5 = 65,52 Perhitungan Bobot Jenis : BJ = w3-w1 w2- w1 ket: BJ = bobot jenis pada suhu t w1 = bobot jenis pinometer kosong w2 = bobot piknometer + air suling w3 = bobot piknometer + cairan

BJ =

= 1,038

Pembahasan
Pembahasan Larutan Sejati Pada praktikum ini dibuat sediaan jenis larutan sejati Dextrometrophan HBr. Berdasarkan pustaka, Dextrometorphan HBr dapat larut oleh 60 bagian air. Oleh karena itu, Dextrometorphan HBr dapat dibuat larutan sejati tanpa ada masalah pada kelarutan, dapat menghasilkan larutan yang bening. Setelah itu, larutan ditambahkan zat-zat tambahan lainnya yaitu sirupus simpleks pada sediaan A (kelompok 5), pada sediaan B ditambahkan pengawet metil dan propil paraben, pada sediaaan C ditambahkan anticaploking sorbitol 15%. Hasilnya pada ketiga sediaan didapat sediaan bening, rasa pahit, rasa yang diharapkan adalah rasa manis, namun terdapat rasa agak pahit yang disebabkan rasa Dextrometorphan HBr yang pahit yang tidak dapat tertutupi oleh penambahan sirupus simpleks 25%. Sediaan larutan Dextrometorphan HBr pada praktikum ini dibuat pada pH netral karena sukrosa akan terurai pada pH asam. Perubahan pH juga tidak berarti, meskipun tanpa adanya pendapar yang ditambahkan. Pemanis yang digunakan dalam sediaan ini adalah sukrosa yang kompatibel dengan zat aktif dan eksipien lain. Pengawet yang digunakan adalah metil dan propil paraben karena kompatibel dengan zat aktif dan eksipien lain. Berdasarakan pustaka, metil dan propil paraben bersifat tidak berasa. Keefektifankerja pengawet ini dapat terlihat pada satu minggu pengamatan pada sediaan B, adanya mikroba pada hari ketiga, yang berarti tidak cocok digunakan untuk sediaan ini atau karena konsentrasinya yang tidak memadai, pada sediaan A dan C juga terdapat mikroba pada hari ke 3, karena konsentrasi sirupus simpleks tidak melebihi 65%. Pada botol ketiga sediaan juga tidak terdapat caplocking, meskipun hanya sediaan C saja yg memakai anti caploking, ini dikarenakan karena pada sediaan, konsentrasi sirupus simpleks tidak melebihi 65%, hanya 25% saja.

Caplocking Adalah kristalisasi gula yang biasa terjadi pada proses penyimpanan sediaan. Kristalisasi ini dapat terjadi pada leher botol karena konsentrasi sukrosa yang dipakai sangat tinggi sehingga larutan gula jenuh dan jika terjadi gesekan dari tutup botol pada sediaan yang pernah dituang keluar, muncul inti kristal yang akan mempercepat terjadinya kristalisasi. Tidak adanya caplocking yang muncul pada leher botol dikarenakan oleh penambahan sorbitol sebagai anti caplocking. Masalah-masalah yang muncul pada saat pembuatan sediaan larutan Dekstrometophan HBr adalah larutan terlalu encer dan kurang viskos. Hal ini disebabkan karena tidak cukup ditambahkannya zat yang dapat mengentalkan. Namun jumlah sirupus simpleks sebesar 25% kurang untuk membuat larutan bersifat lebih viskos. Hasil evaluasi sediaan larutan menunjukkan Dekstrometophan HBr bahwa larutan yang diperoleh pH sediaan yang terukur adalah 6-7. pH sediaan ini memenuhi syarat uji pH larutan dimana pH yang dipersyaratkan adalah dalam suasana netral. Meskipun tidak dilakukan uji viskositas, pada saat dilihat ketika dituang, dapat disimpulkan larutan bersifat encer dan viskositasnya terlalu kecil untuk sediaan sirup. Berdasarkan uji stabilitas sediaan, sediaan larutan Dekstrometophan HBr tidak memenuhi syarat karena selama satu minggu pengamatantidak terjadi pertumbuhan mikroba dan capslocking. Berdasarkan uji volumeterpindahkan, sediaan memenuhi syarat karena volume yang terukur adalah 97ml (97 %). Pembahasan Eliksir Parasetamol mempunyai kelarutan dalam alkohol 1:7, dalam air 1:70 pada percobaan ini parasetamol dibuat dalam bentuk sediaan eliksir. Pada sediaan eliksir ada dua cara dalam pembuatan eliksir, yaitu : Zat aktif dilarutkan dalam salah satu pelarut dengan kelarutan zat aktif paling besar, kemudian tambahkan pelarut lain sekaligus. Zat aktif dilarutkan sedikit demi sedikit ke dalam pelarut campur. Dalam percobaan, dilakukan cara pembuatan eliksir yang pertama, yaitu melarutkan

bahan berkhasiat dalam salah satu pelarut, kemudian menambahkan pelarut yang lainnya sekaligus dikarenakan parasetamol larut dalam 70 bagian air, dan dalam 7 bagian etanol (95%), yang berarti bahwa 1 g parasetamol larut dalam 70 ml air dan 1 g parasetamol larut dalam 7 ml etanol, sehingga dengan menggunakan cara yang pertama yang dilarutkan dalam etanol terlebih dahulu, parasetamol akan lebih cepat larut. Parasetamol memiliki kelarutan yang rendah dalam pelarut air, sehingga untuk meningkatkan kelarutannya dibuat pelarut campur (co solvent). Pelarut campur (co solvent) yang digunakan pada percobaan adalah gliserin dan propilenglikol. Tujuan ditambahkan propilen glikol dan gliserin ini agar terbentuk kelarutan bahan aktif yang maksimal. Dalam percobaan digunakan etanol yang berfungsi mempertinggi kelarutan obat pada eliksir. (Lachman,1994) Dalam percobaan dilakukan pengamatan selama 6 hari yang pengamatan organoleptik (warna, rasa, bau), pada pengamatan yang paling menonjol yaitu rasa dan bau hasil menunjukkan pada saat evaluasi organoleptik masih tercium bau etanol yang kuat dan rasa yang pahit. Dalam sediaan obat yang dapat dikonsumsi, permasalahan organoleptik tersebut dapat diatasi dengan penambahan perasa dan pewangi apel. Berdasarkan pengamatan kejernihan dari sediaan eliksir tersebut jernih, hal ini menunjukkan kejernihan dari sediaan eliksir tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan bobot jenis dilakukan pada saat pengamatan hari pertama. Bobot jenis diukur menggunakan piknometer. Caranya adalah dengan menentukan bobot piknometer kosong, piknometer + aquadest dan piknometer + zat yang diuji terlebih dahulu lalu dimasukkan ke dalam rumus perhitungan bobot jenis. Bobot jenis sediaan parasetamol yang diperoleh adalah 1,038 g/cm3. Dalam percobaan ini pengamatan viskositas viskositas tidak dilakukan, hal ini dikarenakan adanya kerusakan alat viskositas, berdasarkan pengamatan volume terpindahkan diperoleh hasil 97 ml, tujuan dari volume terpindahkan adalah untuk mengetahui volume setelah dipindahkan pada botol lain. Berdasarkan hasil pengamatan pH dilakukan hanya hari pertama, pH yang diperoleh adalah 6,5, namun sebagai pembanding dengan kelompok yang lain yang diukur pH selama 6 hari, rata-rata dari pH kelompok lain menunjukkan perbedaan pH hari terakhir lebih kecil dari hari pertama. Dilakukan pengontrolan pH bertujuan untuk meningkatkan kelarutan zat aktif. Profil laju pH menunjukkan katalis asam spesifik dengan stabilitas maksimumnya pada jarak pH 5

sampai 7 (Connors,et al.,1986). Pada pembuatan sediaan elixir ini digunakan pelarut campur (kosolven) untuk menaikkan kelarutan. Untuk memperkirakan kelarutan suatu zat dalam pelarut campur harus dilihat harga konstanta dielektriknya (KD). Dimana semakin tinggi harga konstanta dielektriknya, kepolarannya semakin tinggi. Dalam percobaan ini di dapat harga KD pelarut campur yaitu 66,351. Suatu pelarut campur yang ideal mempunyai harga konstanta dielektrik antara 25 sampai 80. Dalam percobaan ini dihasilkan pelarut campur yang memenuhi persyaratan pelarut yang ideal.

Kesimpulan
Sediaan perlu ditambahkan pemanis tambahan, karena sediaan berasa pahit dan pada eliksir berbau etanol. Pengawet tidak efektif pada sediaan larutan sejati, karena pada hari ketiga mikroorganisme sudah muncul, Pelarut campur pada eliksir memenuhi persyaratan pelarut ideal.

Daftar pustaka
British Pharmaceutical Codex, 1973: 68 Departemen Kesehatan. 1994. Farmakope Indonesia IV . Jakarta:Departemen Kesehatan RI Merck Index 13th ed Mutschler,Ernst.1999. Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi.Bandung : Penerbit ITB. Rowe, Raymond C (ed.). 2006.Handbook of Pharmaceutical Pharmaceutical Press. Excipient . London :

The Pharmaceutical Codex, Principles and Practice of Pharmaceutics,Twelfth Edition, The Pharmaceutical Press, 1994