Anda di halaman 1dari 35

Tugas Mata Kuliah

: FILSAFAT HUKUM : Prof.Dr. H.A Muh. Arfah Pattenreng, SH., MH.

Dosen

TUGAS AKHIR

KAJIAN FILSAFAT HUKUM HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL TERHADAP CIPTAAN LOGO SULAWESI BARAT

HARRY KATUUK
No.Pokok 45 100 15

PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU HUKUM (S2 ) UNIVERSITAS 45 MAKASSAR 2011

Daftar Isi Halaman Judul BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang Rumusan Masalah Sumber Data Analisis Data

BAB II BAB III BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA PEMBAHASAN PENUTUP

A. Kesimpulan B. Saran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada akhir Januari 2011 media lokal Kota Makassar ramai mempersoalkan tentang tuntutan royaliti terhadap hak cipta logo Provinsi Sulawesi Barat. sebagai berikut : Menurut Tribunnews.com (diakses 26 Januari 2011) bahwa Untuk jelasnya kasus tersebut diuraikan

sejak tahun 2006 hingga kini Pemprov Sulawesi Barat belum membayarkan royaliti kepada pembuat logo Sulbar, Idham Khalid. Pembuat logo Sulbar ini adalah Idham Khalid, seorang peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama RI. Ditemui di Mamuju, Ilham mengatakan, ia yang memiliki ide tentang bentuk, gambar dan kata-kata pada logo. Meskipun proses pembuatan logo itu juga merupakan masukan dari orang lain terutama pada kata-kata pada logo. Dikisahkannya, pada tahun 2006, ia mengikuti sayembara pembuatan logo Sulbar yang diadakan oleh Pemprov Sulbar. Saat itu, ada 119 logo yang masuk ke panitia lomba. Lalu disaring menjadi 20

logo dan akhirnya logo Idham yang terpilih untuk menjadi lambang daerah Sulbar. Tim penilai pada sayembara pembuatan logo tersebut terdiri dari sejumlah tokoh masyarakat Mamuju dan menurut Idham, para tim penilai juga tahu betul tentang logo itu. Setelah gambar saya ditetapkan sebagai pemenang, saat itu saya hanya diberikan uang gambar sebesar Rp 13 juta. Setelah itu tidak ada lagi kata Idham. Logo Sulbar disahkan oleh DPRD Sulbar menjadi peraturan daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2007. Menurut Idham, beberapa waktu lalu saat bertemu dengan Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dan Wakil Gubernur Amri Sanusi, keduanya pernah menjanjikan akan segera memberikan royaliti, tapi sampai sekarang hal tersebut tak kunjung terealisasi. Pada bulan Januari 2011 (Harian Fajar, 31 Januari dan 1 Pebruari 2011) Idham menuntut royaliti Logo Sulbar senilai Rp. 2 Milyard. Permintaan Idham tersebut sangat sulit untuk direalisasikan karena Pemda Mamuju tidak mempunyai dana sebesar itu. Dan Idham juga mengatakan bahwa ia bersyukur bahwa logo itu dipakai, namun sebagai pencipta ia hanya meminta perhatian Pemprov untuk memberi

penghargaan berupa hak cipta atas hasil karyanya. Tuntutan Rp. 2 Milyard itu berdasarkan UU No.19 Tahun 2003 tentang Hak Cipta. B. Rumusan Masalah Membaca kasus posisi tersebut di atas, masalah dalam makalah ini adalah bagaimanakah esensi Filsafat Hukum atas tuntutan Pencipta Logo Sulawesi Barat sesuai ketentuan Hak Cipta ? C. Sumber Data Dalam penulisan makalah ini sumber data diperoleh dari data sekunder berupa tulisan-tulisan baik dari buku teks, kliping surat kabar ataupun data yang diunduh dari internet. D. Analisis Data Data yang diperoleh dari sumber tersebut, dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif normatif dengan mengacu pada bahanbahan literatur yang relevan dengan Filsafat Hukum (Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum) menyangkut esensi dari Hak Cipta yang diatur dalam peraturan perundang-undangan RI. Khususnya tentang Peraturan Perundang-undangan tentang Hak Cipta.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA E. Pengertian Pokok 1. Pengertian Hak Atas Kekayaan Intelektual Hak kekayaan intelektual adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio. Yang dimaksud hasil kerja manusia adalah hasil pekerjaan rasio manusia yang menalar. Hasil kerjanya itu berupa benda immateril. Benda tidak berwujud (Saidin, 2004:9). Lebih lanjut Saidin mengatakan bahwa menurut ahli biologi, otak kananlah yang berperan untuk menghayati kesenian, berkhayal, menghayati kerohanian, termasuk juga kemampuan untuk sosialisasi dan mengembalikan emosi. Fungsi ini disebut fungsi nonverbal, metaforik dan mampu memproses informasi secara simultan. Hasil kerja otak itu kemudian dirumuskan sebagai intelektualitas. Orang yang optimal memerankan kerja otaknya disebut sebagai orang yang terpelajar, mampu menggunakan rasio, mampu berpikir secara rasional dengan menggunakan logika , karena itu hasil pemikirannya disebut rasional atau logis. Orang yang tergabung dalam kelompok ini disebut kaum intelektual. Begitulah, ketika irama lagu misalnya, tercipta karena hasil kerja otak ia dirumuskan sebagai intelectual property rights (hak atas kekayaan intelektual) menurut Saidin (2004:10). Dari istilah Hak atas kekayaan intelektual, paling tidak ada 3 kata kunci dari istilah tersebut yaitu : Hak adalah benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu ( karena telah ditentukan oleh undang-undang ),atau

wewenang menurut hukum. Kekayaan adalah perihal yang ( bersifat, ciri ) kaya, harta yang menjadi milik orang, kekuasaan. Intelektual adalah cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, atau yang mempunyai kecerdasan tinggi, cendekiawan, atau totalitas pengertian atau kesadaran terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman (http://nusfaffsite.gunadarma.ac.id). Kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia yang dapat berupa karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Karya ini dihasilkan atas kemampuan intelektual melalui pemikiran, daya cipta dan rasa yang memerlukan curahan tenaga, waktu dan biaya untuk memperoleh produk baru dengan landasan kegiatan penelitian atau yang sejenis. Kekayaan intelektual (Intelectual property) meliputi dua hal, yaitu yang pertama Industrial property right (hak kekayaan industri), berkaitan dengan invensi/inovasi yang berhubungan dengan kegiatan industri, terdiri dari : paten, merek, desain industri, rahasia dagang, desain tata letak terpadu. Dan yang kedua adalah Copyright (hak cipta), memberikan perlindungan terhadap karya seni, sastra dan ilmu pengetahuan seperti film, lukisan, novel, program komputer, tarian, lagu, dsb (http://nusfaffsite.gunadarma.ac.id). Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) atau Hak Milik Intelektual (HMI) atau harta intelek (di Malaysia) ini merupakan padanan dari bahasa Inggris intellectual property right. Menurut World Intellectual Property Organisation (WIPO), kata intelektual tercermin bahwa obyek kekayaan intelektual tersebut adalah kecerdasan, daya pikir, atau produk pemikiran manusia (the creations of the human mind).

Secara substantif pengertian HaKI dapat dideskripsikan sebagai hak atas kekayaan yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia. Karyakarya intelektual tersebut di bidang ilmu pengetahuan, seni, sastra ataupun teknologi, dilahirkan dengan pengorbanan tenaga, waktu dan bahkan biaya. Adanya pengorbanan tersebut menjadikan karya yang dihasilkan menjadi memiliki nilai. Apabila ditambah dengan manfaat ekonomi yang dapat dinikmati, maka nilai ekonomi yang melekat menumbuhkan konsepsi kekayaan (property) terhadap karya-karya intelektual. Bagi dunia usaha, karya-karya itu dikatakan sebagai aset perusahaan.

2. Latar Belakang dan Landasan HaKI Penulis mengutip tulisan dalam http://nusfaffsite.gunadarma.ac.id yang mengatakan kalau dilihat secara historis, undang-undang mengenai HaKI pertama kali ada di Venice, Italia yang menyangkut masalah paten pada tahun 1470. Caxton, Galileo dan Guttenberg tercatat sebagai penemu-penemu yang muncul dalam kurun waktu tersebut dan mempunyai hak monopoli atas penemuan mereka. Hukumhukum tentang paten tersebut kemudian diadopsi oleh kerajaan Inggris di jaman TUDOR tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum mengenai paten pertama di Inggris yaitu Statute of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai undang-undang paten tahun 1791. Upaya harmonisasi dalam bidang HaKI pertama kali terjadi tahun 1883 dengan lahirnya Paris Convention untuk masalah paten, merek dagang dan desain. Kemudian Berne Convention 1886 untuk masalah copyright atau hak cipta.

Tujuan

dari

konvensi-konvensi

tersebut

antara

lain

standarisasi,

pembahasan masalah baru, tukar menukar informasi, perlindungan minimum dan prosedur mendapatkan hak. Kedua konvensi itu kemudian membentuk biro

administratif bernama The United International Bureau for the Protection of Intellectual Property yang kemudian dikenal dengan nama World Intellectual Property Organisation (WIPO). WIPO kemudian menjadi badan administratif khusus di bawah PBB yang menangani masalah HaKI anggota PBB. Menurut Anton Sembiring dalam http://edukasi.kompasiana.com dikatakan sejak ditandatanganinya persetujuan umum tentang tarif dan perdagangan (GATT) pada tanggal 15 April 1994 di Marrakesh-Maroko, Indonesia sebagai salah satu negara yang telah sepakat untuk melaksanakan persetujuan tersebut dengan seluruh lampirannya melalui Undang-undang No. 7 tahun 1994 tentang Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dan lampiran yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual (HaKI) adalah Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) yang merupakan jaminan bagi keberhasilan diselenggarakannya hubungan perdagangan antar negara secara jujur dan adil, karena: 1. TRIPs menitikberatkan kepada norma dan standard 2. Sifat persetujuan dalam TRIPs adalah Full Complience atau ketaatan yang bersifat memaksa tanpa reservation 3. TRIPs memuat ketentuan penegakan hukum yang sangat ketat dengan mekanisme penyelesaian sengketa diikuti dengan sanksi yang bersifat retributif.

HaKI merupakan hak-hak (wewenang/kekuasaan) untuk berbuat sesuatu atas Kekayaan Intelektual tersebut, yang diatur oleh norma-norma atau hukumhukum yang berlaku. Hak itu sendiri dapat dibagi menjadi dua. Pertama, Hak Dasar (Azasi), yang merupakan hak mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat. Umpama: hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan keadilan, dan sebagainya. Kedua, Hak Amanat/ Peraturan yaitu hak karena diberikan oleh masyarakat melalui peraturan/perundangan, sehingga masyarakatlah yang menentukan, seberapa besar HaKI yang diberikan kepada individu dan kelompok. Sesuai dengan hakekatnya pula, HaKI dikelompokkan sebagai hak milik perorangan yang sifatnya intangible - tidak berwujud atau onlichmalijk (Gautama, 1990:5) Terlihat bahwa HaKI merupakan Hak Pemberian dari Umum (Publik) yang dijamin oleh Undang-undang. HaKI bukan merupakan Hak Azasi, sehingga kriteria pemberian HaKI merupakan hal yang dapat diperdebatkan oleh publik. Apa kriteria untuk memberikan HaKI? Berapa lama pemegang HaKI memperoleh hak eksklusif? Apakah HaKI dapat dicabut demi kepentingan umum? Bagaimana dengan HaKI atas formula obat untuk para penderita HIV/AIDs? Tumbuhnya konsepsi kekayaan atas karya-karya intelektual pada akhirnya juga menimbulkan hak untuk melindungi atau mempertahankan kekayaan tersebut. Pada gilirannya, kebutuhan ini melahirkan konsepsi perlindungan hukum atas kekayaan tadi, termasuk pengakuan hak terhadapnya. Sesuai dengan hakekatnya pula, HaKI dikelompokkan sebagai hak milik perorangan yang sifatnya tidak berwujud (intangible).

3. Sejarah Perundang-undangan HaKI di Indonesia Peraturan perundangan HaKI di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda dengan diundangkannya Octrooi Wet No. 136 Staatsblad 1911 No. 313, Industrieel Eigendom Kolonien 1912 dan Auterswet 1912 Staatsblad 1912 No. 600. Setelah Indonesia merdeka, Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman No. JS 5/41 tanggal 12 Agustus 1953 dan No. JG 1/2/17 tanggal 29 Agustus 1953 tentang Pendaftaran Sementara Paten. Pada tahun 1961, Pemerintah RI mengesahkan Undang-undang No. 21 Tahun 1961 tentang Merek. Kemudian pada tahun 1982, Pemerintah juga mengundangkan Undang-undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Di bidang paten, Pemerintah mengundangkan Undang-undang No. 6 Tahun 1989 tentang Paten yang mulai efektif berlaku tahun 1991. Di tahun 1992, Pemerintah mengganti Undang-undang No. 21 Tahun 1961 tentang Merek dengan Undang-undang No. 19 Tahun 1992 tentang Merek (Anton Sembiring dalam http://edukasi. kompasiana.com). Lebih lanjut Anton Sembiring mengatakan bahwa sejalan dengan masuknya Indonesia sebagai anggota WTO/TRIPs dan diratifikasinya beberapa konvensi internasional di bidang HaKI, maka Indonesia harus menyelaraskan peraturan perundang-undangan di bidang HaKI. Untuk itu, pada tahun 1997 Pemerintah merevisi kembali beberapa peraturan perundang-undangan di bidang HaKI, dengan mengundangkan: a. Undang-undang No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 6 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta;

b. Undang-undang No. 13 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 6 Tahun 1989 tentang Paten; c. Undang-undang No. 14 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 19 Tahun 1992 tentang Merek; Selain ketiga undang-undang tersebut di atas, pada tahun 2000 Pemerintah juga mengundangkan : a. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang; b. Undang-undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri; c. Undang-undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Dengan pertimbangan masih perlu dilakukan penyempurnaan terhadap undang-undang tentang hak cipta, paten, dan merek yang diundangkan tahun 1997, maka ketiga undang-undang tersebut telah direvisi kembali pada tahun 2001. Untuk selanjutnya telah diundangkan: a. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten; dan b. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.

4. Pengaruh Internasional terhadap HAKI di Indonesia Pengaruh International Convention & International Pressure terhadap Pembentukan HKI. Pada tahun 1994, Indonesia masuk sebagai anggota WTO (World Trade Organization) dengan meratifikasi hasil Putaran Uruguay yaitu Agreement Establishing the World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi

Perdagangan Dunia). Salah satu bagian penting dari Persetujuan WTO adalah Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights Including Trade In Counterfeit Goods (TRIPs). Sejalan dengan TRIPs, Pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi konvensi-konvensi Internasional di bidang HaKI, yaitu: a. Paris Convention for the protection of Industrial Property and Convention Establishing the World Intellectual Property Organizations, dengan Keppres No. 15 Tahun 1997 tentang perubahan Keppres No. 24 Tahun 1979. b. Patent Cooperation Treaty (PCT) and Regulation under the PCT, dengan Keppres No. 16 Tahun 1997; c. Trademark Law Treaty (TML) dengan Keppres No. 17 Tahun 1997;

d. Bern Convention for the Protection of Literary and Artistic Works dengan Keppres No. 18 Tahun 1997. e. WIPO Copyrights Treaty (WCT) dengan KeppresNo. 19 Tahun 1997; Oleh karena itu Anton Sembiring (http://edikasi.kompasiana.com)

mengatakan bahwa ketika memasuki milenium baru, hak kekayaan intelektual menjadi isu yang sangat penting yang selalu mendapat perhatian baik dalam forum nasional maupun internasional. Dimasukkannya TRIPS dalam paket Persetujuan WTO di tahun 1994 menandakan dimulainya era baru perkembangan HaKI di seluruh dunia. Dengan demikian pada saat ini permasalahan HaKI tidak dapat dilepaskan dari dunia perdagangan dan investasi. Pentingnya HaKI dalam pembangunan ekonomi dan perdagangan telah memacu dimulainya era baru pembangunan ekonomi yang berdasar ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, betapapun HaKI adalah konsep hukum yang netral. Namun, sebagai pranata, HaKI juga memiliki misi. Di antaranya, menjamin perlindungan terhadap kepentingan moral dan ekonomi pemiliknya. Bagi Indonesia, pengembangan sistem HaKI telah diarahkan untuk menjadi pagar, penuntun dan sekaligus rambu bagi aktivitas industri dan lalu lintas perdagangan. Dalam skala ekonomi makro, HaKI dirancang untuk memberi energi dan motivasi kepada masyarakat untuk lebih mampu menggerakkan seluruh potensi ekonomi yang dimiliki. Ketika menghadapi badai krisis ekonomi, HaKI terbukti dapat menjadi salah satu payung pelindung bagi para tenaga kerja yang memang benar-benar kreatif dan inovatif. Lebih dari itu, HaKI sesungguhnya dapat diberdayakan untuk mengurangi kadar ketergantungan ekonomi pada luar negeri. Bagi Indonesia, menerima globalisasi dan mengakomodasi konsepsi perlindungan HaKI tidak lantas menihilkan kepentingan nasional. Keberpihakan pada rakyat, tetap menjadi justifikasi dalam prinsip-prinsip pengaturan dan rasionalitas perlindungan berbagai bidang HaKI di tingkat nasional. Namun, semua itu harus tetap berada pada koridor hukum dan norma-norma internasional. Dari segi hukum, sesungguhnya landasan keberpihakan pada kepentingan nasional itu telah tertata dalam berbagai pranata HaKI. Di bidang paten misalnya, monopoli penguasaan dibatasi hanya seperlima abad. Selewatnya itu, paten menjadi public domain. Artinya, klaim monopoli dihentikan dan masyarakat bebas memanfaatkan.

Di bidang merek, HaKI tegas menolak monopoli pemilikan dan penggunaan merek yang miskin reputasi. Merek serupa itu bebas digunakan dan didaftarkan orang lain sepanjang untuk komoditas dagang yang tidak sejenis. HaKI hanya memberi otoritas monopoli yang lebih ketat pada merek yang sudah menjadi tanda dagang yang terkenal. Di luar itu, masyarakat bebas menggunakan sepanjang sesuai dengan aturan. Yang pasti, permintaan pendaftaran merek ditolak bila didasari iktikad tidak baik. Banyak pemikiran yang menawarkan tesis bahwa efektivitas UU ditentukan oleh tiga hal utama. Yaitu, kualitas perangkat perundang-undangan, tingkat kesiapan aparat penegak hukum dan derajat pemahaman masyarakat.

Pertama, dari segi kualitas perundang-undangan. Masalahnya adalah apakah materi muatan UU telah tersusun secara lengkap dan memadai, serta terstruktur dan mudah dipahami. Aturan perundang-undangan di bidang HaKI memiliki kendala dari sudut parameter ini. Hal ini terbukti dari seringnya merevisi perangkat perundangan yang telah dimiliki. UU Hak Cipta telah tiga kali direvisi. Demikian pula UU Paten dan UU Merek yang telah disempurnakan lagi setelah sebelumnya bersama-sama direvisi tahun 1997. Sebagai instrumen pengaturan yang relatif baru, bongkar pasang UU bukan hal yang tabu. Setiap kali dilakukan revisi, setiap kali pula tertambah kekurangankekurangan yang dahulu tidak terpikirkan. Dalam banyak hal, revisi juga sekedar merupakan klarifikasi. Ini yang sering kali digunakan sebagai solusi atas problema pengaturan yang tidak jelas atau melahirkan multiinterpretasi.

Kedua, tingkat kesiapan aparat penegak hukum. Faktor ini melibatkan banyak

pihak: polisi, jaksa, hakim, dan bahkan para pengacara. Seperti sudah sering kali dikeluhkan, sebagian dari para aktor penegakan hukum tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu mengimplementasikan UU HaKI secara optimal. Dengan menepis berbagai kemungkinan terjadinya penyimpangan, kendala yang dihadapi memang tidak sepenuhnya berada di pundak mereka. Sistem pendidikan dan kurikulum di bangku pendidikan tinggi tidak memberikan bekal substansi yang cukup di bidang HaKI. Karenanya, dapat dipahami bila wajah penegakan hukum HaKI masih tampak kusut dan acapkali diwarnai berbagai kontroversi. Ketiga, derajat pemahaman masyarakat. Sesungguhnya memang kurang fair menuntut masyarakat memahami sendiri aturan HaKI tanpa bimbingan yang memadai. Sebagai konsep hukum baru yang padat dengan teori lintas ilmu, HaKI memiliki kendala klasik untuk dapat dimengerti dan dipahami. Selain sistem edukasi yang kurang terakomodasi di jenjang perguruan tinggi, HaKI hanya menjadi wacana yang sangat terbatas karena kurangnya pemahaman. Dari paparan di atas tampak bahwa faktor pemahaman masyarakat dan kesiapan aparat penegak hukum, memiliki korelasi yang kuat dengan kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan. Sosialisasi menjadi tingkat prakondisi bagi efektivitas penegakan hukum. Efektivitas penegakan hukum sungguh sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat dan kesiapan aparat. Semakin tinggi pemahaman masyarakat semakin tinggi pula tingkat kesadaran hukumnya. Demikian pula kondisi aparat. Semakin bulat pemahaman aparat, semakin mantap kinerja mereka di lapangan. Keduanya merupakan faktor yang menentukan. Karenanya, sosialisasi merupakan keharusan. Sosialisasi diperlukan utamanya untuk membangun

pemahaman dan menumbuhkan kesadaran masyarakat. Seiring dengan itu untuk meningkatkan pemahaman dan memantapkan kemampuan aparat dalam

menangani masalah HaKI. Di antara bidang-bidang HaKI yang diobservasi, hak cipta, dan merek merupakan korban paling parah akibat pelanggaran. Terdapat empat kategori karya cipta yang banyak dibajak hak ekonominya. Data ini direpresentasi oleh karya program komputer, musik, film dan buku dari AS yang secara berturut-turut mencatat angka kerugian yang sangat signifikan. Kalkulasi kerugian berbagai komoditas tersebut telah memaksa AS menghukum Indonesia dengan

menempatkannya ke dalam status priority watchlist dalam beberapa tahun terakhir ini. Di bidang merek, pelanggaran tidak hanya menyangkut merek-merek asing. Selain merek terkenal asing, termasuk yang telah diproduksi di dalam negeri, merek-merek lokal juga tak luput dari sasaran peniruan dan pemalsuan. Di antaranya, produk rokok, tas, sandal dan sepatu, busana, parfum, arloji, alat tulis dan tinta printer, oli, dan bahkan onderdil mobil. Kasus pemalsuan yang terakhir ini terungkap lewat operasi penggerebekan terhadap sebuah toko di Jakarta Barat yang mendapatkan sejumlah besar onderdil Daihatsu palsu. Pelakunya telah ditindak dan saat ini sedang menjalani persidangan di PN Jakarta Barat, Kasus Daihatsu tampaknya belum akan menjadi kasus terakhir. Prediksi ini muncul karena fenomena pelanggaran hukum yang masih belum dijerakan oleh sanksi pidana yang dijatuhkan. Faktor deterrent hukum masih belum mampu unjuk kekuatan. Pengadilan masih nampak setengah hati memberi sanksi. Padahal,

pemalsuan sparepart bukan saja merugikan konsumen secara ekonomi, tetapi juga dapat mencelakakan dan mengancam jiwanya. Kesemuanya itu tidak disikapi dengan penuh atensi. Sebaliknya, dianggap sekedar sebagai perbuatan yang dikategorikan merugikan orang lain. Sekali lagi, tingkat kesadaran hukum masyarakat sangat menentukan. Betapapun, datangnya kesadaran itu acapkali harus dipaksakan melalui putusan pengadilan. Inilah harga yang harus dibayar untuk dapat mewujudkan penegakan hukum HaKI yang tidak hanya diperlukan untuk kepentingan pemegang HaKI, tetapi juga bagi jaminan kepastian, kenyamanan, dan keselamatan masyarakat konsumen secara keseluruhan. F. Aneka Ragam HaKI Menurut Saidin (2004:17) HaKI di Indonesia terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yakni : 1. Hak Cipta Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.

2. Paten

Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten. Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Berbeda dengan hak cipta yang melindungi sebuah karya, paten melindungi sebuah ide, bukan ekspresi dari ide tersebut. Pada hak cipta, seseorang lain berhak membuat karya lain yang fungsinya sama asalkan tidak dibuat berdasarkan karya orang lain yang memiliki hak cipta. Sedangkan pada paten, seseorang tidak berhak untuk membuat sebuah karya yang cara bekerjanya sama dengan sebuah ide yang dipatenkan. 3 Merk Dagang Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angkaangka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Contoh: Kacang Atom cap Ayam Jantan. 4 Rahasia Dagang Menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang. Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum

di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang. Contoh: rahasia dari formula Parfum. 5 Service Mark. Adalah kata, prase, logo, simbol, warna, suara, bau yang digunakan oleh sebuah bisnis untuk mengindentifikasi sebuah layanan dan membedakannya dari kompetitornya. Pada prakteknya perlindungan hukum untuk merek dagang sedang service mark untuk identitasnya. Contoh: ''Pegadaian: menyelesaikan masalah tanpa masalah''. 6 Desain Industri. Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri. Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan. 7 Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Ayat 1: Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi, yang di dalamnya terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, yang sebagian

atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi elektronik. Ayat 2: Desain Tata Letak adalah kreasi berupa rancangan peletakan tiga dimensi dari berbagai elemen, sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, serta sebagian atau semua interkoneksi dalam suatu Sirkuit Terpadu dan peletakan tiga dimensi tersebut dimaksudkan untuk persiapan pembuatan Sirkuit Terpadu. 8 Indikasi Geografis. Berdasarkan Pasal 56 ayat 1 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Indikasi-geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. G. Perlindungan atas HAKI Tumbuhnya konsepsi kekayaan atas karya-karya intelektual pada akhirnya juga menimbulkan untuk melindungi atau mempertahankan kekayaan tersebut. Pada gilirannya, kebutuhan ini melahirkan konsepsi perlindungan hukum atas kekayaan tadi, termasuk pengakuan hak terhadapnya. Sesuai dengan hakekatnya pula, HaKI dikelompokkan sebagai hak milik perorangan yang sifatnya tidak berwujud (Intangible) Pengenalan HaKI sebagai hak milik perorangan yang tidak berwujud dan penjabarannya secara lugas dalam tatanan hukum positif terutama dalam

kehidupan ekonomi merupakan hal baru di Indonesia. Dari sudut pandang HaKI, aturan tersebut diperlukan karena adanya sikap penghargaan, penghormatan dan perlindungan tidak saja akan memberikan rasa aman, tetapi juga mewujudkan iklim yang kondusif bagi peningkatan semangat atau gairah untuk menghasilkan karyakarya inovatif, inventif dan produktif (http://nusfaffsite.gunadarma.ac.id). Jika dilihat dari latar belakang historis mengenai HaKI terlihat bahwa di negara barat (western) penghargaan atas kekayaan intelektual atau apapun hasil olah pikir individu sudah sangat lama diterapkan dalam budaya mereka yang kemudian diterjemahkan dalam perundang-undangan. HaKI bagi masyarakat barat bukanlah sekedar perangkat hukum yang digunakan hanya untuk perlindungan terhadap hasil karya intelektual seseorang akan tetapi dipakai sebagai alat strategi usaha di mana karena suatu penemuan dikomersialkan atau kekayaan intelektual, memungkinkan pencipta atau penemu tersebut dapat mengeksploitasi ciptaan/penemuannya secara ekonomi. Hasil dari komersialisasi penemuan tersebut memungkinkan pencipta karya intelektual untuk terus berkarya dan meningkatkan mutu karyanya dan menjadi contoh bagi individu atau pihak lain, sehingga akan timbul keinginan pihak lain untuk juga dapat berkarya dengan lebih baik sehingga timbul kompetisi. Konsekuensi HaKI/akibat diberlakukannya HaKI : 1. Pemegang hak dapat memberikan izin atau lisensi kepada pihak lain. 2. Pemegang hak dapat melakukan upaya hukum baik perdata maupun pidana dengan masyarakat umum.

3. Adanya kepastian hukum yaitu pemegang dapat melakukan usahanya dengan tenang tanpa gangguan dari pihak lain. 4. Pemberian hak monopoli kepada pencipta kekayaan intelektual memungkinkan pencipta atau penemu tersebut dapat mengeksploitasi ciptaan/penemuannya secara ekonomi.

BAB III PEMBAHASAN H. Logo Menurut UU Hak Cipta Logo Provinsi Sulawesi Barat tersebut yang menjadi polemik adalah ciptaan Idham Khalid Body yang diajukan pada sayembara logo yang diadakan oleh Pemierintah Provinsi Sulbar. Dengan demikian Idham menurut Pasal 1 butir 1 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (UUHC) adalah pencipta yaitu seorang yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. Logo hasil ciptaan Idham juga memenuhi butir 3 Pasal 1 UUHC sebagai hasil setiap karya Pencipta yang menunjukan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni atau sastra. Oleh karena itu Idham berhak untuk mendapatkan hak cipta yaitu hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan ijin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku. Agus Sembiring (http://edukasi.kompasiana.com) mengatakan bahwa hak cipta adalah hak dari pembuat sebuah ciptaan terhadap ciptaannya dan salinannya. Pembuat sebuah ciptaan memiliki hak penuh terhadap ciptaannya tersebut serta salinan dari ciptaannya tersebut. Hak-hak tersebut misalnya adalah hak-hak untuk membuat salinan dari ciptaannya tersebut, hak untuk membuat produk derivatif, dan hak-hak untuk menyerahkan hak-hak tersebut ke pihak lain. Hak cipta berlaku

seketika setelah ciptaan tersebut dibuat. Hak cipta tidak perlu didaftarkan terlebih dahulu. Dengan demikian maka Logo hasil ciptaan Idham itu tidak perlu untuk didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak kekayaan Intelektual (Pasal 35) dan pendaftaran bukan merupakan kewajiban untuk mendapatkan hak cipta. Jadi ketika hasil ciptaan selesai dibuat maka menurut tafsiran Penulis, pencipta telah memperoleh hak atas citaan logo itu. Bahkan menurut Saidin (2004:49) Idham mempunyai zaaksgevolg atau droit de suite (hak yang mengikuti). Artinya hak itu terus mengikuti bendanya di mana pun juga (dalam tangan siapa pun juga) benda itu berada. Hak itu terus saja mengikuti orang yang mempunyainya. Dan yang dilindungi bukan bendanya sebagai perwujudan dari hak tersebut, tetapi haknya. Namun, masalahnya adalah logo citaan Idham kemudian diserahkan kepada Panitia Sayembara Logo Pemprov Sulbar. Itu berarti bahwa Idham telah

menyerahkan hak ciptaannya itu kepada Panitia yang secara implisit juga adalah untuk memenuhi ketentuan sayembara. Sehingga kalau mengacu pada Pasal 8 ayat (2) UUHC maka secara sah Idham telah menyerahkan hasil ciptaan kepada Panitia, maka hubungan dinas antara Idham dengan Panita selesai ketika ia menyerahkan hasil ciptaan. Pasal 8 ayat (1) mengatakan bahwa hubungan dinas, Pemegang hak cipta adalah pihak yang untuk dan dalam dinasnya Ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak Penciptaan. Ketentuan Pasal 8 ayat (1) dalam penjelasan UUHC hanya berlaku bagi hubungan dinas antara Pegawai Negeri dengan instansinya. Namun dalam ayat (2) dikatakan ketentuan ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Hak Cipta yang dibuat oleh

seseorang berdasarkan pesanan dari instansi Pemerintah tetap dipegang oleh instansi Pemerintah tersebut selaku pemesan, kecuali diperjanjikan lain. Berdasarkan hal tersebut di atas maka Hak Cipta Logo Idham adalah milik Pemprov Sulbar dengan alasan Idham membuat logo atas ketentuan sayembara, dan setelah selesai dibuat, logo tersebut diserahkan kepada Panitia Logo, Panitia Logo memberikan uang gambar Rp. 13 Juta. Penulis sependapat dengan HM Darwis ketua Komisi I DPRD Sulbar (Fajar, 31 Januari 2011) yang mengatakan bahwa Pemprov kemungkinan tidak membayarkan royaliti dimaksud, intinya Dirjen (maksudnya Dirjen HaKI) di Jakarta) menyebutkan Pemprov tidak punya alas member ganti rugi jika mengacu pada tuntutan pembuat logo. Dirjen menilai logo dimaksud sudah resmi milik pemprov, alasannya dalam sayembara pembuatan logo memang diisyaratkan segala logo yang masuk menjadi milik dan kewenangan panitia. I. Spannungverhaltnis Tujuan Hukum Spannungverhaltnis adalah ketegangan di antara tiga tujuan hukum. Keadilan dan kemanfaatan dicapai tetapi kepastian hhukum tidak terpenuhi. Keadilan dan kepastian tercapai tetapi kemanfaatan tidak dirasakan oleh rakyat. Atau, kepastian dan kemanfaatan tercapai tetapi keadilan terabaikan. Kasus Logo Sulbar ini menurut hemat penulis terjadi pertentangan antara kemanfaatan dan kepastian hukum dan rasa keadilan terpinggirkan.

1. Aspek Keadilan Menurut hemat penilis Idham harus berjiwa besar untuk menerima kenyataan bahwa hasil ciptannya itu sesungguhnya telah diserahkan (tanpa disadarinya) memenuhi ketentuan sayembara logo. Namun yang menjadi fokus dalam kajian ini adalah terbatasnya pengetahuan warga negara tentang apa yang menjadi haknya. Hak (recht, atau bevoegdheid) dapat dibagi menjadi dua. Pertama, Hak Dasar (Azasi), yang merupakan hak mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat. Umpama: hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan keadilan, dan sebagainya. Kedua, Hak Amanat/ Peraturan yaitu hak karena diberikan oleh masyarakat melalui peraturan/perundangan, sehingga masyarakatlah yang menentukan, seberapa besar hak yang diberikan kepada individu dan kelompok. Hak amanat /peraturan yang diberikan oleh masyarakat melalui peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam pengimplementasiannya terkadang dirasakan tidak adil, Idham merasakan hal ini, ia merasakan ketidak adilan. Ia menghasilkan sebuah karya dengan bekerja sesuai kemampuan intelektualnya, wajar memperoleh imbalan. Imbalan tersebut dapat berupa materi maupun bukan materi seperti adanya rasa aman karena dilindungi, dan diakui atas hasil karyanya (uang Rp. 13 juta, bukan imbalan tetapi uang gambar, Tribunnews.com) Hukum memberikan perlindungan tersebut demi kepentingan pencipta berupa sesuatu kekuasaan untuk bertindak dalam rangka kepentingan tersebut, yang disebut hak. Setiap hak menurut hukum mempunyai titel yaitu suatu peristiwa

tertentu yang menjadi alasan melekatnya hak itu pada pemiliknya. Menyangkut hak milik intelektual, maka peristiwa yang menjadi alasan melekatnya itu, adalah penciptaan yang mendasarkan atas kemampuan intelektualnya. Karena hak yang ada pada seseorang ini kemudian mewajibkan pihak lain untuk melakukan (commision), atau tidak melakukan (ommission), demikian Syamsuddin ( 2005:33). Artinya Pemprov Sulbar seyogianya melakukan pendekatan persuasif dengan arif memberikan pemahaman bahwa kasus ini telah sesuai dengan ketentuan sayembara, namun dengan surat-surat pejabat yang diperlihatkan oleh Idham, Pemprov seyogianya pula mengakomodir keinginan Idham dalam bentuk kompensasi (bukan royaliti) bukan sekedar uang gambar. Pejabat-pejabat Pemprov sekiranya pula tidak melakukan intimidasi dalam arti menekan Idham untuk menutup mulut dan menganggap masalah selesai, misalnya. Tetapi, ya itu tadi perlu ada percakapan ulang antara Pemprov dengan DPRD menyangkut kompensasi. Inilah rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh Idham, dengan intelektualnya ia menciptakan logo, tetapi ia tidak merasakan keuntungan dari hasil ciptaannya. Oleh karena itu permintaannya adalah Pemprov memberikan penghargaan berupa hak cipta. Namun, penulis juga mengakui akan adanya rasa ketidakadilan dalam tubuh Pemprov Sulbar. Artinya, masalah logo telah menjadi Perda, dan Idham mengakui kebanggaannya atas terpilihnya ia sebagai pencipta logo, kemudian logo itu secara nyata digunakan oleh Pemprov Sulbar. Tapi kenapa baru sekarang masalah royaliti diekspose ke mass media. Bahkan nilai gugatan royaliti Idham mencapai Rp. 2 Riswandi dan

Milyard. Penafsiran penulis tuntutan itu terlalu besar, Pemprov tidak sanggup, karena dana APBD tidak memungkinkan untuk itu (surat yang didisposisi Gubernur tertanggal 17 Agustus 2010 membebankan biaya royality ke APBD 2011). Artinya nilai rupiah logo tidak harus sebanyak itu bahkan menurut Ketua Komisi C DPRD Sulbar HM Darwis menilai logo sulit dibayar dengan alasan terlalu besar. Ini rasa ketidak adilan yang dirasakan oleh Pemprov. Penulis mengunduh logo-logo terkenal seperti KFC, AXA atau NIKE berikut ini.

Logo-logo itu mendunia dan tentunya mempunyai nilai paten yang tinggi, bahkan hak mereknya juga dilindungi secara internasional. Artinya, dengan skala internasional pasti akan berbeda dengan logo Sulbar yang harus dinilai Rp.2 Milyard. Dengan uraian ini, dapat dipahami bahwa aspek keadilan dalam mewujudkan tujuan hukum terasa akan banyaknya ketidakadilan dari kedua belah pihak. Itulah prinsip dasar filsafat hukum bahwa keadilan adalah ketidak adilan kata Aristoteles. Keadilan berada pada dua garis horizontal yang ujungnya tidak akan bertemu.

2. Aspek Kemanfaatan Hukum Idham sendiri mengakui bahwa ia bersyukur, lambang itu dipakai. Namun sebagai pencipta, ia meminta perhatian Pemprov memberi penghargaan berupa hak cipta atas hasil karya tersebut. (Fajar, 1 Pebruari 2011). Itu berarti Idham mengakui kebanggaannya bahwa logo dimanfaatkan untuk kepentingan Pemerintah dan masyarakat. Pernyataan ini menunjukkan bahwa telah ada kemanfaatan terhadap karya Idham. 3. Aspek Kepastian Hukum Oleh karena Logo Pemprov Sulbar telah dikukuhkan dalam Peraturan daerah No.8 Tahun 2007 maka secara yuridis formil logo itu telah menjadi milik Pemprov. Dengan demikian telah ada kepastian hukum. 4. Spannungverhaltnis (Pertentangan) Melihat uraian di atas ternyata aspek keadilan hukum yang nuansanya tidak dapat mengakomodir kepentingan kedua belah pihak, masing-masing pihak merasakan rasa ketidakadilan. Tetapi dari aspek kemanfaatan dan kepastian hukum tujuan hukum telah terpenuhi, masyarakat merasakan manfaatnya termasuk Idham, dan masyarakat juga mentaati Perda yang mengatur tentang penggunaan logo itu. Itulah wajah hukum kita yang bolong kiri kanan, sehingga benarlah kata Gustav Radbruch dalam Satjipto Rahardjo (1986) yang mengatakan bahwa keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum terdapat spannungsverhaltnis (pertentangan satu sama lain). Bagaimana jalan keluarnya ?. penulis menganggap bahwa kunci pokok dalam mengatasi masalah keadilan itu adalah perlunya ditumbuhkan

kesadaran akan pentingnya budaya hukum, budaya yang mengajarkan kepada berbagai pihak untuk mengutamakan hukum sebagai panglima untuk memback-up kegiatan masyarakat. Artinya dengan budaya hukum yang telah terpelihara dengan baik maka Idham akan mengetahui akan hak dan kewajibannya, demikian pula Pemprov dan masyarakat pada umumnya. J. Membangun Budaya Hukum Menurut Lawrence Friedman (http://bataviase.co.id) budaya hukum bisa diartikan sebagai pola pengetahuan, sikap, dan perilaku sekelompok masyarakat terhadap sebuah sistem hukum. Dari pola-pola tersebut, dapat dilihat tingkat integrasi masyarakat tersebut dengan sistem hukum terkait. Secara mudah, tingkat integrasi ini ditandai dengan tingkat pengetahuan, penerimaan, kepercayaan, dan kebergantungan mereka terhadap sistem hukum itu. Sebelum sayembara diumumkan kepada masyarakat, maka rambu-rambu akan hak dan kewajiban sudah harus secara tegas dicantumkan dalam sayembara tersebut. Misalnya, pemenang sayembara akan diberikan hadiah dan hasil karyanya akan menjadi hak penyelenggara, sehingga pencipta tidak akan mendapatkan royaliti karena secara hukum karya tersebut telah menjadi milik penyelenggara. Atau, dapat juga mengacu pada Pasal 8 ayat (2) UUHC dengan membuat perjanjian antara para pihak tentang kepemilikan hasil ciptaan. Ini menurut penulis yang perlu dibudayakan, aspek-aspek hukum dan akibat hukum harus menjadi mindset pemerintah utnuk mengayomi masyarakatnya.

Karena secara substansial sengketa hak milik selalu berangkat dari masalah finansial. Ujung-ujungnya duit. Ada asas yang sangat mendasar dalam HaKI, yaitu droit de suite (hak mengikuti bendanya). Asas ini merupakan hak untuk menuntut akan mengikuti benda tersebut secara terus menerus di tangan siapa pun benda itu berada. Artinya, sepanjang benda itu (logo) tidak diselesaikan dengan baik maka, hak itu akan selalu melekat pada ahli waris pemegang hak. Kan masalahnya tidak akan berakhir ?. Bisa saja anak cucu Idham di kemudian hari akan selalu menuntut haknya. Oleh karena itu sekali lagi budaya hukum sangat penting dalam mengayomi masyarakat menuju suatu kemajuan dengan tidak melanggar hukum,

BAB IV PENUTUP K. Kesimpulan 1. Kasus logo Provinsi Sulawesi Barat merupakan masalah dalam memahami akan pentingnya Ciptaan sebagai Hak atas Kekayaaan Intelektual yang secara normatif telah diatur dalam Undang-Undang No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta 2. Ternyata keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum senantiasa terjadi pertentangan (spannungverhaltnis) menurut kajian filsafat hukum. 3. Pertentangan tersebut dapat diatasi melalui peranan pemerintah untuk senantiasa meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya budaya hukum dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. L. Saran-Saran 1. Kiranya Sdr Idham dapat memahami bahwa kemanfaatan dan kepastian hukum akan senantiasa bertentangan dengan rasa keadilan. Oleh karena itu perlu ada komunikasi dengan pihak Pemprov Sulbar untuk membicarakan kompensasi bukan royaliti atas ciptaan logo. 2. Kiranya Pemprov Sulbar membudayakan hukum sebagai alat untuk mengembangkan kemajuan, kasus logo Idham, Pemprov perlu mengkaji secara mendalam ketentuan hukumnya sebelum disosialisasikan kepada masyarakat. Acuan pasal 8 ayat (2) UUHC dalam kasus yang sama dikemudian hari dapat dijadikan standar untuk penyelenggaraan sayembara.

Daftar Pustaka Buku Gautama, Sudargo., 1990, Segi-Segi Hukum Hak Milik Intelektual, Eresco, Bandung. Mertokusumo, Sudikno., 1996, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta. Saidin, H. OK., 2004, Aspek Hukum Hak kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights), RajaGrafindo Persada, Jakarta. Rahardjo, Satjipto.., 1986, Ilmu Hukum, Alumni, Bandung. Riswandi, Budi Agus dan Syamsudin.M., 2005, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Dokumen Undang-Undang RI, Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Undang-Undang RI, Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten. Undang-Undang RI, Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek

Lain-Lain Tribunnews.com. Royaliti Pembuat Logo Belum Dibayar (Online) diakses 7 Januari 2011 Harian Tribun Timur, Ternyata Pemprov Belum Bayarkan Royaliti Pembuat Logo Sulbar, 29 Juni 2010 Harian Fajar, 31 Januari 2011, Tuntut Royaliti Logo Sulbar Rp. 2 Milyar Harian Fajar, 1 Pebruari 2011, Idham Tidak Gugat Royality Logo Sulbar. http://www.depdagri.go.id (Online) Logo Provinsi Sulawesi Barat, diakses 2 Pebruari 2011. http://kenllykaren,blogspot.com (Online), diakses 3 Pebruari 2011, Perbedaan antara Merek, Merek Dagang.

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id (Online), diakses 3 Pebruari 2011, Hak atas Kekayaan Intelektual-Haki. http://edukasi.kompasiana.com (Online), diakses 3 Pebruari 2011, Historis dan Perkembangan Hak atas Kekayaan Intelektual Indonesia.