Anda di halaman 1dari 8

EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI PADA BATANG SERAI SEBAGAI PENGUSIR NYAMUK

MAKALAH Untuk memenuhi tugas Matakuliah Pemisahan Kimia yang Dibina Oleh Surjani Wonorahardjo, PhD.

Oleh Lutfia Ayu Darojah 100332404595

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN KIMIA PROGRAM STUDI S1 KIMIA MEI 2012

EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI PADA BATANG SERAI SEBAGAI PENGUSIR NYAMUK 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai Negara beriklim tropis memiliki berbagai keanekaragaman hewani. Nyamuk menjadi salah satu hewan khas Indonesia yang populasinya cenderung meningkat pada musim penghujan. Kondisi cuaca yang lembab, basah, dan kotor menjadi salah satu daya tarik nyamuk untuk bereproduksi. Meningkatnya jumlah nyamuk tidak diimbangi dengan nilai mortalitasnya, sehingga hewan ini membawa keburukan bagi manusia.
Aedes aegypti adalah salah satu nyamuk pembunuh di Indonesia. Nyamuk ini berperan sebagai vektor penyakit Demam Berdarah Dengue yang dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kasus DBD setiap tahun di Indonesia terus meningkat dan bahkan dikhawatirkan makin merajalela dengan pemanasan global. Pusat Informasi Departemen Kesehatan mencatat, jumlah kasus DBD di Indonesia pada bulan Januari 2008 mencapai 8.765 kasus dengan 68 korban meninggal (Agnes, 2008).

Banyak cara telah dihimbau pemerintah guna mengurangi kasus DBD, seperti penggunaan insektisida, tetapi Penggunaan insektisida dianggap kurang ekonomis. Penggunaan secara berlebihan dan berulang-ulang juga dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan seperti pencemaran lingkungan. Maka salah satu cara untuk mendapatkan bahan kimia yang ramah lingkungan adalah memanfaatkan potensi alam yaitu tanaman yang mengandung bioinsektisida. Salah satunya adalah tanaman serai (Andropogon nardus L) yang dapat dimanfaatkan sebagai pengusir nyamuk karena mengandung zat-zat seperti geraniol, metil heptenon, terpenterpen, terpen-alkohol, asam-asam organik dan terutama sitronela sebagai obat nyamuk semprot. Kandungan-kandungan di atas dapat diperoleh dengan cara pemisahan kimia. Minyak atsiri pada batang serai dapat diekstrak dengan menggunakan metode destilasi ekstraktif. Pembahasan lebih lanjut mengenai metode dan prinsip kerja, akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut. 1) Bagaimana klasifikasi dan morfologi tanaman serai? 2) Apa saja kandungan zat kimia dalam batang serai yang berfungsi sebagai pengusir nyamuk? 3) Bagaimana metodologi pemisahan minyak atsiri dari batang serai? 4) Bagaimana prinsip dan proses kerja pemisahan minyak atsiri dari batang serai?

1.3 Tujuan Masalah Tujuan masalah dari makalah ini sebagai berikut. 1) Untuk mengetahui klasifikasi dan morfologi tanaman serai. 2) Untuk mengetahui kandungan zat kimia dalam batang serai yang berfungsi sebagai pengusir nyamuk. 3) Untuk mengetahui metodologi pemisahan minyak atsiri dari batang serai. 4) Untuk mengetahui prinsip dan proses kerja pemisahan minyak atsiri dari batang serai.

2. Pembahasan 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Serai. Serai merupakan tanaman bermarga Andropogon, dengan nama spesies Andropogon nardus L. Serai merupakan tanaman rumput-rumputan tegak, menahun dan mempunyai perakaran yang sangat dalam dan kuat. Batangnya membentuk rumpun, pendek, massif dan bulat. Penampang lintang batang berwarna merah. Daun serai merupakan daun tunggal, lengkap dan pelepah daunnya silindris, gundul, seringkali bagian permukaan dalam berwarna merah, ujung berlidah (ligula), helaian, lebih dari separuh menggantung, remasan berbau aromatik. Susunan bunganya malai atau bulir majemuk, bertangkai atau duduk, berdaun pelindung nyata, biasanya berwarna sama umumnya putih.

(gambar Andropogon nardus L)

Tanaman serai di Indonesia banyak terdapat di Jawa, di tepi jalan atau di persawahan dan dikenal dengan nama serai / new citronella grass. Tanaman ini cukup mudah dijumpai. Tanaman serai Jawa, tumbuh pada berbagai tanah yang memiliki kesuburan cukup. Tanah yang memiliki iklim lembab dengan curah hujan teratur menghasilkan minyak dengan kualitas tinggi. Daerah yang beriklim panas dengan cukup sinar matahari dan curah hujan tiap tahun merupakan syarat utama untuk menghasilkan daun dan minyak serai yang baik.

2.2 Kandungan Zat Kimia dalam Batang Serai yang Berfungsi Sebagai Pengusir Nyamuk. Kandungan dari serai yang utama adalah minyak atsiri dengan komponen sitronelal 3245%, geraniol 12-18%, sitronelol 11-15%, geranil asetat 3-8%, sitronelil asetat 2-4%, sitral,

kavikol, eugenol, elemol, kadinol, kadinen, vanilin, limonen, kamfen. Minyak serai mengandung 3 komponen utama yaitu sitronelal, sitronelol dan geraniol (Wardani 2009). Hasil penyulingan dari Andropogon nardus L dapat diperoleh minyak atsiri yang disebut Oleum citronellae, terdiri atas geraniol dan sitronelal yang dapat digunakan untuk menghalau nyamuk ( Wardani, 2009). Abu dari daun dan tangkai serai mengandung 45 % silika yang merupakan penyebab desikasi (keluarnya cairan tubuh secara terus menerus) pada kulit serangga sehingga serangga akan mati kekeringan. Sitronelol dan geraniol merupakan bahan aktif yang tidak disukai dan sangat dihindari serangga, termasuk nyamuk sehingga penggunaan bahan-bahan ini sangat bermanfaat sebagai bahan pengusir nyamuk.

2.3 Metodologi Pemisahan Minyak Atsiri dari Batang Serai. Indonesia sebagai Negara tropis memiliki keanekaragaman tanaman dengan berbagai manfaat. Manfaat yang diambil dari tanaman biasanya berupa obat, wewangian, bahkan sebagai insektisida, atau pengusir serangga. Untuk mengambil beberapa manfaat yang dimiliki tanaman, terdapat berbagai macam cara, salah satunya ialah dengan mengekstraksi minyak atsiri dari tanaman bermanfaat tersebut. Ekstraksi untuk definisi pemisahan kimia merupakan cara memisahkan zat terlarut melalui dua buah pelarut (biasanya cair) yang dapat melarutkan zat tersebut namun kedua pelarut ini tidak dapat saling melarutkan (immicible) (Surjani, 2012). Dalam pembahasan ini, yang menjadi komponen zat terlarut merupakan minyak atsiri. Minyak atsiri adalah minyak eteris atau minyak terbang yang dihasilkan oleh tanaman, terdapat dalam sel glanular dan terbentuk dalam pembuluh resin. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai dengan bau tanamannya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Ekstraksi merupakan metode pemisahan mirip destilasi. Destilasi adalah proses pemisahan yang bekerja atas dasar pebedaan perbedaan titik didih dari masing-masing senyawa komponen campuran pada tekanan tetap. Analog dengan metode destilasi, metode ekstraksi mempunyai beberapa kemiripan konsep yang dapat dilihat dalam tabel berikut:

Destilasi Beda tekanan uap dan volatilitas

Ekstraksi Beda kelarutan relative zat terlarut dalam pelarut

K: konstanta kesetimbangan

Kp: koefisien distribusi / koefisien partisi

Pada prakteknya metode destilasi dan ekstraksi dapat digunakan secara bersamaan karena beberapa sifat ekstraktan yang ada membutuhkan kedua proses tersebut. Paduan metode ini disebut sebagai destilasi ekstraktif dan sebaliknya (Surjani, 2012). Jika dilihat dari sifat dan karakteristik minyak atsiri batang serai seperti yang dipaparkan di atas, metode destilasi ekstraktif merupakan metode yang paling sesuai dengan prinsip kerja dari proses pemisahan minyak atsiri dari batang serai.

2.4 Prinsip dan Proses Kerja Pemisahan Minyak Atsiri dari Batang Serai. Minyak atsiri pada umumnya diektraksi dengan 4 macam, yaitu metode penyulingan, pressing, ekstraksi dengan pelarut menguap, dan ekstraksi dengan lemak padat. Untuk minyak atsiri yang berasal dari daun, akar, dan batang paling baik diekstraksi dengan cara penyulingan (distillation). Metode penyulingan dapat dilakukan dengan tiga sistem penyulingan yaitu dengan penyulingan air (water distillation), penyulingan dengan air dan uap (water and steam distillation) dan penyulingan dengan uap (steam distillation). Penyulingan minyak atsiri batang serai menggunakan sistem penyulingan uap dan air. Pemilihan sistem penyulingan ini, karena bahan yang digunakan berupa batang, sehingga minyak atsiri yang dihasilkan akan lebih banyak, proses penyulingan juga lebih singkat sehingga minyak atsiri yang dihasilkan tidak rusak karena suhu yang terlalu tinggi. Batang serai yang akan disuling sebaiknya dipotong-potong terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pelepasan minyak atsiri setelah bahan tersebut ditembus oleh uap. Bahan yang dipotong harus segera disuling karena bila tidak segera diproses maka minyak atsiri yang mempunyai sifat mudah menguap, sebagian akan teruapkan sehingga hasil total minyak atsiri yang diperoleh akan berkurang dan komposisi minyak atsiri akan berubah sehingga akan mempengaruhi hasilnya.

Pada sistim penyulingan ini, bahan diletakkan di atas piring yang berupa ayakan yang terletak beberapa sentimeter di atas permukaan air dalam ketel penyuling. Air ini tidak menyinggung ayakan dan uap air hasil pendidihan akan naik ke atas dan keluar membawa minyak. Uap air dan minyak dilewatkan dalam pipa berbentuk spiral dan didinginkan oleh air dikondensor dan terjadi kondensasi . Hasil kondensasi (kondensat) ditampung dalam florentine flask. Kecepatan difusi uap melalui bahan dan keluarnya minyak dari sel kelenjar minyak ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :

Kepadatan bahan dalam ketel penyulingan Tekanan uap Berat jenis dan kadar air bahan Berat molekul dari komponen kimia dalam minyak. Berikut merupakan Gambar konstruksi alat pada proses pemisahan minyak atsiri batang

serai dengan sistem penyulingan uap dan air (water and steam distillation).

Pada gambar dapat diidentifikasi bahwa pada A, terjadi proses destilasi untuk menguapkan minyak atsiri yang masih bercampur dengan uap air dari batang serai. Sedangkan proses ekstraksi terjadi pada C. Pada tabung bagian C terjadi pemisahan antara komponen uap air dan minyak atsiri, sehingga dapat diperoleh minyak atsiri batang serai murni, yang bermanfaat sebagai obat pengusir nyamuk.

3. Penutup 3.1 Kesimpulan Sitronelol dan geraniol adalah zat aktif dalam minyak atsiri batang serai yang dapat mengusir dan membasmi nyamuk. Komponen-komponen kimia ini dapat diambil dari batang serai dengan cara mengekstrak minyak atsirinya dengan metode destilasi ekstraktif.

3.2 Daftar Rujukan Rusli, S. 1977. Konstruksi Unit Penyulingan Sereh Wangi, Sereh Dapur Dan Cengkeh. Jakarta: Lembaga Penelitian Tanaman Industri. Wonorahardjo, Surjani. 2012. PEMISAHAN KIMIA. Malang: Universitas Negeri Malang. Hamdani, S. Metoda Ekstraksi, (Online), (http://catatankimia.com/metoda-ekstraksi/s-hamdani/, diakses 6 Mei 2012). Sumitra, Omit dan Wijandi Soesarsono. Memproduksi Minyak Atsiri Biji Pala, (Online), (http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/memproduksi-minyak-atsiri-biji-pala/omitsumitra-dan-soesarsono-wijandi-ed/, diakses 6 Mei 2012).