Anda di halaman 1dari 20

Wenti Yuniati 1 240210100026

VI.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Praktikum Penanganan Limbah Industri Pangan kali ini berjudul Pengujian

Fisik, Kimia dan Mikrobiologis serta Klorinasi dari Beberapa Limbah Cair. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Sampel limbah yang digunakan pada praktikum kali ini adalah limbah industri tahu, air keran yang berfungsi sebagai pembanding atau kontrol, air sungai, air kolam dan air selokan. Pada umumnya indikasi polusi oleh air limbah dapat ditunjukkan berdasarkan peningkatan bahan-bahan terdekomposisi (organik) ke dalam air sungai atau danau sebagai tempat pembuangan limbha. Masuknya bahan-bahan tersebut kedalam air akan mengubah sifat fisik, kimia dan biologis air, sehingga kandungan oksigen terlarut dalam air akan menurun. Ketersediaan oksigen dalam air dapat habis akibat pertumbuhan mikroba pengurai sehingga dapat terjadi kondisi anaerobik yang menyebabkan kematian biota air seperti ikan dan tanaman. Jumlah oksigen yang digunakan oleh mikroba tergantung dari jumlah limbah yang terdekomposisi, sehingga untuk mencegah peningkatan mikroba pembusuk harus dilakukan pemecahan limbah sesempurna mungkin sebelum limbah tersebut dibuang ke pembuangan akhir. 6.1. Pengujian Fisik Limbah Sifat fisik limbah cair yang mudah terlihat dapat menentukan derajat pengotoran air limbah pertanian. Sifat-sifat fisik yang penting diantaranya adalah kandungan zat-zat padat yang menunjukkan kejernihan air, bau, warna, suhu dan pH atau derajat keasaman limbah tersebut. Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan visual pada warna dan bau limbah, pengukuran suhu limbah dengan menggunakan termometer, pengukuran pH dengan pH meter dan penghitungan jumlah endaoan limbah dengan menggunakan metode gravimetri atau menggunakan oven. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:

Wenti Yuniati 2 240210100026

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pengujian Sifat Fisik Limbah Data Pengamatan pH Suhu Warna Bau Aquades (kontrol) 7 28oC Jernih (+4) Tidak berbau Limbah tahu 4,08 27 oC ++++ Asam (+5 ) Air keran 6,45 29 oC + Jernih (-) -0,016 0,66 Sungai cikuda 6,69 27 oC +++ Bau sungai ( +2 ) 0,0649 0,58 Air kolam 4,79 26 oC +++++ Bau amis ( +2 ) 0.02 0,80 Air selokan gedung 4 7,89 26 oC ++ Khas selokan 0.08 0,66

0,01 Endapan (gr) 0,8059 Kertas Saring (gr) Keterangan : ( + ) Warna Semakin keruh

Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat bahwa semua limbah yang diamati memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dari kelima sampel yang digunakan, yang memiliki warna paling keruh adalah limbah air kolam dan yang memiliki warna paling jernih adalah akuades yang bertindak sebagai kontrol. Warna keruh pada limbah dapat berasal dari partikel-partikel padat, mikroorganisme serta dari bahanbahan pengotor lain. Pada limbah pengolahan tahu misalnya, warna keruh timbul akibat dari proses pengolahan kedelai menjadi tahu sehingga dihasilkan warna limbah yang sedikit berwarna kuning dan keruh. Begitupun pada limbah lainnya, pada limbah air selokan warnanya lebih kearah hitam. Hal ini dikarenakan adanya kandungan logam maupun sisa-sisa bahan kimia yang terdapat pada limbah tersebut. Warna pada limbah dapat menunjukkan banyaknya jumlah bahan pengotor didalamnya, sehingga hal pertama yang dilakukan dalam proses penanganan limbah industri pangan adalah dengan mengidentifikasi warna limbah kemudian melakukan proses-proses penanganan untuk memperbaiki warnanya misalnya dengan melalui proses penyaringan ataupun pengendapan. Sehingga ketika limbah tersebut dibuang ke lingkungan tidak akan mencemari lingkungan tersebut. Bau pada limbah dihasilkan dari adanya degradasi senyawa organik pada limbah tersebut sehingga menimbulkan bau busuk. Selain itu juga dapat diakibatkan karena adanya mikroorganisme seperti alga dan bakteri pembusuk yang menghasilkan

Wenti Yuniati 3 240210100026

senyawa yang mengakibatkan bau seperti H2S. Bau pada limbah juga dipengaruhi oleh kandungan-kandungan apa saja yang terdapat didalamnya, pada limbah tahu bau yang dihasilkan adalah bau asam yang berasal dari kacang kedelai yang telah mengalami proses pemanasan sehingga kandungan proteinnya mengalami denaturasi dan kemudian menimbulkan bau, begitupun pada limbah lainnya. Limbah air sungai dan air kolam memiliki bau yang khas yaitu bau sungai dan bau amis yang berasal dari ikan. Suhu dan pH pada limbah bervariasi. Suhu berkisar antara 26-29oC. Sedangkan pH berkisar antara 4-8. Semakin tinggi suhu suatu limbah maka limbah tersebut semakin buruk atau tidak baik, dapat dilihat pada tabel bahwa limbah yang memiliki suhu paling tinggi adalah limbah tahu yaitu 27 oC, sedangkan pada air keran dan akuades mungkin saja terjadi kesalahan ketika pengukuran, karena tidak mungkin suhu akuades dan air keran jauh lebih tinggi dibanding limbah yang lain karena secara teoritis akuades dan air keran memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan limbah lainnya . Suhu pada limbah menunjukkan derajat panas pada limbah tersebut. Semakin tinggi suhu maka kandungan logam atau senyawa lainnya baik organik maupun anorganik yang turut menyumbangkan kalor atau panasnya pun semakin banyak sehingga kualitas limbah pun semakin buruk. Nilai pH air limbah berbeda-beda tergantung dari jenis buangannya. Perubahan tajam keasaman air limbah kearah alkali (pH>7) ,maupun kearah asam (pH<7) dapat mengganggu biota (makhluk hidup) di sekitar tempat tersebut. Air limbah dengan pH asam dapat bersifat korosif terhadap baja dan pipa-pipa besi. Dari tabel dapat dilihat bahwa semua limbah yang diamati memiliki pH asam yaitu <7, kecuali air selokan yang memiliki pH alkali yaitu sebesar 7.89. Sifat fisik yang terakhir adalah penghitungan jumlah endapan pada limbah. Dapat dilihat pada tabel bahwa limbah yang memiliki endapan paling banyak adalah air selokan yaitu sebesar 0.08 gram, sedangkan yang paling kecil atau bahkan seharusnya tidak ada adalah pada air keran yaitu -0.016. Nilai minus tersebut disebabkan karena sebenarnya tidak ada endapan sedikitpun yang dihasilkan ketika

Wenti Yuniati 4 240210100026

kertas saring yang digunakan untuk menyaring air keran tersebut dikeringkan, sehingga yang ditimbang sebenarnya adalah berat kertas saring itu sendiri. Endapan pada limbah berasal dari padatan yang berada pada limbah itu sendiri baik organik maupun anorganik. Pada limbah air selokan endapan berasal dari tanah, lumpur atau hewan-hewan kecil yang ada pada selokan tersbut. Begitupun pada limbah lainnya yaitu limbah tahu, air sungai dan air kolam. Jumlah endapan pada limbah cair merupakan sisa penguapan dari limbah tersebut pada suhu 103-105oC. Jumlah total endapan terdiri dari benda-benda yang mengendap, terlarut dan tercampur. 6.2. Pengujian Sifat Kimia Limbah Pengujian Sifat Kimia meliputi Pengujian nilai COD, DO dan BOD pada masing-masing limbah. COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik pada limbah cair. Parameter COD menujukkan jumlah senyawa organik dalam air yang dapat dioksidasi secara kimia. Oksidator yang umum digunakan adalah Kalium dikromat. Pada praktikum, pengujian dilakukan dengan cara titrasi menggunakan larutan Na2S2O3 0.1 N. Prinsipnya adalah jumlah oksidan Cr2O72- yang bereaksi dengan sampel limbah dan dinyatakan sebagai mg O2 untuk tiap 1000 ml contoh uji. Senyawa organik dan anorganik, terutama organik yang terdapat dalam limbah dioksidasi oleh Cr2O72- dalam refluks tertutup menghasilkan Cr+3. Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O2 mg/L). DO atau oksigen terlarut dalam air berasal dari fotosintesa atau absorpsi dair udara. Oksigen dari udara jumlahnya tidak tetap, sedangkan kecepatan absorpsi dari udara sangat terbatas. Air limbah yang terpolusi bahan-bahan organik akan meningkatkan aktivitas aerobik sehingga konsumsi oksigen dalam jumlah besar. Akibatnya air akan kekurangan oksigen terlarut. Oleh karena itu untuk menganalisa jumlah bahan organik yang terdapat dalam air perlu diketahui pula jumlah olsigen terlarut (DO). Pada praktikum nilai DO diukur pada hari ke-0 dan hari ke-5.

Wenti Yuniati 5 240210100026

Pengukuran DO ini harus dianalisa secepat mungkin karena kelarutan oksigen dalam air sangat dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan udara. BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri selama penguraian senyawa organik pada kondisi aerobik. Parameter BOD digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran oleh senyawa organik yang dapat diuraikan oleh bakteri. Air sungai yang baik kira-kira memiliki nilai BOD 1-10 ppm, sedangkan air tercemar memiliki nilai BOD >10 ppm. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperolah hasil sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Pengamatan Pengujian Sifat Kimia Limbah COD DO 0 hari (ppm) ( mg/l) Limbah tahu 1600 7.6 Air Kran 2400 1.2 Air Sungai 3200 1.4 Air Kolam 1600 1.36 Air Selokan 800 1.12 Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2012 Sampel DO 5 hari ( mg/l) 1.2 1.4 0.84 0.96 2.57 BOD ( mg/l) 6.4 1.4 2.8 4 7

Pada tabel diatas dapat terlihat bahwa 3 parameter yang digunakan untuk mengetahui kualitas limbah adalah COD, DO dan BOD. Dari kelima sampel yang digunakan yang memiliki nilai COD paling tinggi adalah air sungai dan yang paling rendah adalah air selokan yaitu masing-masing 3200 dan 800 ppm. Dapat dikatakan bahwa jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik pada air sungai jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah oksigen yang dibutuhkan pada air selokan, hal ini juga menunjukkan bahwa kandungan senyawa organik lebih banyak terdapat pada air sungai dibandingkan air selokan. Oleh karena itulah nilai COD air sungai paling tinggi, semakin tinggi nilai COD pada suatu limbah maka semakin rendah kualitas limbah tersebut dan semakin perlu diperhatikan cara penanganannya. Hal ini karena jika nilai COD tinggi, maka kandungan senyawa organik yang dioksidasi oleh oksigen pun semakin tinggi, secara otomatis kandungan oksigen terlarut dalam limbah tersebut akan menurun.

Wenti Yuniati 6 240210100026

Pada pengujian DO atau oksigen terlarut dilakukan penghitungan terhadap DO 0 hari dan 5 hari. Nilai DO 0 hari yang tertinggi adalah limbah tahu dan yang paling rendah adalah air selokan yaitu masing-masing 7.6 dan 1.12 mg/L, sedangkan pada DO 5 hari yang tertinggi adalah air selokan dan yang terendah adalah air sungai masing-masing sebesar 2.57 dan 0.84 mg/L. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa DO menunjukkan kandungan oksigen terlarut pada sampel limbah. Semakin tinggi nilai DO maka kualitas limbah tersebut semakin baik sehingga tidak diperlukan penanganan yang khusus untuk mengolahnya. Hal ini karena jika kandungan oksigen terlarut dalam limbah tinggi maka dapat dikatakan bahwa pada limbah tersebut kandungan senyawa baik itu organik maupun anorganiknya sedikit, sehingga kandungan oksigen terlarutnya tinggi. Sedangkan limbah yang memiliki nilai DO rendah artinya mengandung senyawa organik dan anorganik yang cukup tinggi. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa sampel limbah tahu memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan air selokan. Pada uji BOD yang memiliki nilai tertinggi adalah air selokan yaitu 7 mg/L dan yang terendah adalah air kran yaitu sebesar 1.4 mg/L. Semakin tinggi nilai BOD suatu limbah maka semakin rendah kualitas limbah tersebut. Hal ini karena, nilai BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri atau

mikroorganisme untuk penguraian senyawa organik pada kondisi aerobik. Jadi, semakin tinggi nilai BOD maka semakin banyak jumlah mikroorganisme aerobik pada limbah tersebut. Maka berdasarkan hasil yang didapatkan saat praktikum dapat dikatakan bahwa air selokan mempunyai kandungan mikroorganisme paling banyak diantara sampel limbah lainnya. Jika dilihat dari data yang dihasilkan tersebut dari kelima sampel yang digunakan yang memiliki kualitas paling tinggi adalah air selokan berdasarkan uji COD, limbah tahu dan air selokan berdasarkan uji DO serta air kran berdasarkan uji BOD. Hasil yang didapatkan ini kemungkinan ada yang tidak sesuai dengan teori, hal ini bias saja terjadi karena ada kesalahan selama proses pengujian berlangsung.

Wenti Yuniati 7 240210100026

6.3.

Pengujian Sifat Mikrobiologis Limbah Pengujian sifat Mikrobiologis pada limbah meliputi penghitungan total

mikroorganisme, pengujian bakteri koliform, dan pengujian bakteri SalmonellaShigella. 6.3.1. Penghitungan Total Mikroorganisme Penghitungan jumlah total mikroba pada air limbah penting dilakukan untuk mengetahui tingkat pencemaran biologis, sehingga dapat ditentukan cara-cara penanganan limbah yang sesuai dengan karakteristik limbah tersebut. Beberapa metode penghitungan jumlah total mikroba pada sampel air adalah metode hitung cawan atau Standard Plate Count (SPC), metode MPN, metode penyaringan pada membrane, dll. Pada praktikum kalini yang digunakan adalah metode SPC dengan menginkubasikan sampel selama 2 hari menggunakan media agar umum yaitu PCA (Plate Count Agar). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Pengamatan Penghitungan Total Mikroorganisme Sampel 10-4 Limbah tahu Air Kran Air Sungai Air Kolam Air Selokan gedung 4 11 142 3 35 34 Pengenceran 10-5 8 48 62 18 11 (10 besar, 1 kecil) 10-6 2 9 1 4 15 <3.0 x 105 (1.1 x 105) 1.4 x 105 6.2 x 106 3.6 x 105 3.4 x 105 SPC

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2012

Wenti Yuniati 8 240210100026

Berdasarkan tabel

pengamatan diatas

dapat

terlihat

bahwa jumlah

mikroorganisme terbanyak terdapat pada sampel air sungai yaitu sebesar 6.2 x 10 6 dan terendah terdapat pada sampel air kran yaitu sebesar 1.4 x 105. Dari hasil yang didapatkan tersebut dapat dikatakan bahwa dari kelima sampel yang digunakan tingkat pencemaran biologis paling tinggi terjadi pada air sungai dan yang terendah terjadi pada air kran. Selain itu, dari hasil tersebut juga dapat segera diketahui bahwa penanganan limbah air sungai harus jauh lebih baik dibandingkan dengan sampel limbah yang lainnya. Mikroorganisme yang terdapat pada limbah biasanya adalah bakteri jenis pathogen seperti E.coli, Salmonella-Shigella dan beberapa bakteri jenis lain. Selain itu, umumnya bakteri yang hidup pada air limbah adalah jenis aerobik, yaitu jenis bakteri yang tumbuh dalam keadaan adanya oksigen, oleh karena itulah semakin banyak jumlah bakteri dalam suatu air limbah maka aktivitas aerobik akan semakin tinggi sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut dalam air limbah tersebut, atau dengan kata lain nilai DO limbah tersebut akan mengalami penurunan. Mikroorganisme pada air limbah menggunakan senyawa-senyawa organik maupun anorganik untuk kehidupannya. Dengan kata lain, kandungan bahan-bahan organik yang terdapat dalam air limbah berfungsi menjadi nutrisi bagi mikrooganisme. Oleh karena itulah, nilai BOD pada limbah yang mengandung

mikrooganisme tinggi akan tinggi juga. Hal ini dikarenakan, banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri selama penguraian senyawa organik pada kondisi aerobik pun tinggi. Substansi organik dalam air buangan terdiri dari 2 gabungan, yakni: gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya urea, protein, amin dan asam amino serta gabungan yang tak mengandung nitrogen, misalnya lemak, sabun dan karbohidrat, termasuk selulosa. Keberadaan mikroorganisme pathogen dalam air limbah menunjukkan bahwa tingkat pencemaran terhadap air limbah tersebut sangat tinggi dan akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan sekitar, juga terhadap kesehatan masyarakat di sekitar limbah tersebut berada. Oleh karena itulah, sebelum dibuang ke lingkungan air

Wenti Yuniati 9 240210100026

limbah harus diolah terlebih dahulu untuk mengurangi pencemaran yang akan ditimbulkan. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang. Salah satu cara sederhana pengolahan air buangan adalah Pengenceran (Dilution). Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak dan diperlukan air pengenceran terlalu banyak pula maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. Disamping itu, cara ini menimbulkan kerugian lain,

diantaranya bahaya kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan, sungai, danau, dan sebagainya. 6.3.2. Pengujian Bakteri Koliform Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri koliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri koliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Terdapatnya bakteri koliform dalam air dapat menjadi indikasi kemungkinan besar adanya organisme patogen lainnya. Bakteri koliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal coliform dan non-faecal coliform. E. coli adalah bagian dari faecal koliform. Keberadaan E. coli dalam air dapat menjadi indikator adanya pencemaran air oleh tinja. E. coli digunakan sebagai indikator pemeriksaan kualitas bakteriologis secara universal dalam analisis dengan alasan;

Wenti Yuniati 10 240210100026

a. E. coli secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia (sebagai flora normal) atau hewan mamalia, atau bahan yang telah terkontaminasi dengan tinja manusia atau hewan: jarang sekali ditemukan dalam air dengan kualitas kebersihan yang tinggi, b. E. coli mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika pemeriksaan dilakukan dengan benar, c. Bila dalam air tersebut ditemukan E. coli, maka air tersebut dianggap berbahaya bagi penggunaan domestik, d. Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang lain dapat ditemukan bersama-sama dengan E. coli dalam air tersebut. Tahap pengujian yang dilakukan pada praktikum yaitu : a. Uji Penduga Media pada tabung adalah Lactose Broth yang diberi indikator perubahan pH dan ditambah tabung durham. Pemberian sampel pada tiap seri tabung berbeda-beda. Untuk sampel sebanyak 10 ml ditumbuhkan pada media LBDS (Lactose Broth Double Stegth) yang memiliki komposisi Beef extract (3gr), peptone (5gr), lactos (10 gr) dan Bromthymol Blue (0,2 %) perliternya. Untuk sampel 1 ml dan 0,1 ml dimasukkan pada media LBSS (Lactose Broth Single Stegth) yang berkomposisi sama tapi hanya kadar laktosa setengah dari LBDS yaitu 5 gr. Tanda positif pada tabel hasil pengamatan menunjukkan adanya bakteri coliform dalam sample air yang diuji. b. Uji Penguat Pada uji ini digunakan medium EMB yang komposisinya terdiri dari Pepton 10 gram, 5 gram lactose, 13.5 gram agar, 0.4 gram eosin Y, 0.065 Methylene blue. EMB (Eosin-Methylen Blue) merupakan media selektif untuk isolasi dan diferensial bakteri enterik, karena kandungan eosin akan menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan Methylen Blue sebagai indikator fermentasi laktosa dan

Wenti Yuniati 11 240210100026

sukrosa yang ditunjukkan oleh adanya perubahan warna. Jika hasil dari isolasi pada media EMB tampak adanya koloni berbentuk bulat, sirkuler dan halus berwarna hijau metallic maka telah terjadi fermentasi laktosa dan sukrosa membentuk koloni berwarna gelap. Presipitat gelap ini mungkin MB-eosionate yang dipresipitasi sebagai akibat pH rendah yang berada di sekitar koloni yang memfermentasi laktosa atau sukrosa. Untuk lebih meyakinkan adanya keberadaan E.coli pada sampel tersebut maka perlulah dilakukan uji selanjutnya yaitu uji Pelengkap. c. Uji Pelengkap Uji ini dilakukan untuk memperkuat dugaan bahwa pada sampel yang diuji terdapat bakteri E.coli. Pada uji ini dilakukan dua pengujian yaitu dengan menggunakan LB dan tabung durham sedangkan yang kedua dengan menanam bakteri tersebut pada NA agar miring sehingga setelah inkubasi selama 24 jam dapat diamati di bawah mikroskop dengan terlebih dahulu melakukan pewarnaan gram. LB digunakan untuk menguji kembali terbentuknya gas pada tabung durham sebagai hasil fermentasi lactose oleh E.coli. Berdasarkan praktikum yang telah dilakuka diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Pengamatan Pengujian Bakteri Koliform pada Limbah Uji Penduga Penguat Pelengkap Air tahu Non fekal Kran Non fekal Sungai Fekal E.Coli (Batang positif) Kolam Non fekal Selokan Fekal E.Coli (Batang positif)

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2012 Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat bahwa dari kelima sampel yang digunakan hanya 2 sampel yang positif mengandung bakteri koliform E.coli yaitu limbah air sungai dan air selokan. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa tingkat pencemaran pada kedua limbah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pada sampel limbah lainnya. Penentuan koliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri

Wenti Yuniati 12 240210100026

patogen. Artinya, semakin banyak jumlah bakteri koliform fekal pada limbah tersebut maka semakin banyak juga jumlah bakteri pathogen lainnya. Seperti telah dijelaskan diatas bahwa E. coli adalah bakteri yang secara umum terdapat pada saluran pencernaan manusia, oleh karena itulah keberadaan bakteri ini dalam limbah menjadi parameter adanya kontaminasi dari tinja atau kotoran manusia. Berdasarkan pengamatan mikroskop yang dilakukan saat uji pelengkap didapat hasil bahwa E. coli adalah bakteri berbentuk batang dan memiliki gram possitif. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa Bakteri

Escheria Coli merupakan kuman dari kelompok gram negatif, berbentuk batang dari pendek sampai kokus, saling terlepas antara satu dengan yang lainnya tetapi ada juga yang bergandeng dua-dua (diplobasil) dan ada juga yang bergandeng seperti rantai pendek, tidak membentuk spora maupun kapsula, berdiameter 1,1 1,5 x 2,0 6,0 m, dapat bertahan hidup di medium sederhana dan memfermentasikan laktosa menghasilkan asam dan gas, kandungan G+C DNA ialah 50 sampai 51 mol % (Pelczar dan Chan, 1988:949) . Escherichia coli dapat tumbuh di medium nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas (Pelczar dan Chan, 2005:169). Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20 menit jika faktor media, derajat keasaman dan suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 8C-46C, tetapi suhu optimumnya adalah 37C. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya (Dwidjoseputro, 1978:82). 6.3.3. Pengujian Bakteri Salmonella-Shigella Salmonella adalah suatu genus bacteria enterobakteria gram negatif berbentuk batang yang mengakibatkan penyakit paratifus, tifus, dan penyakit foodborne. Spesies-spesies Salmonella bisa bergerak bebas dan menghasilkan hidrogen sulfide. Salmonella digolongkan ke dalam bakteri gram negatif sebab Salmonella adalah jenis

Wenti Yuniati 13 240210100026

bakteri yang tidak dapat mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara gram negatif tidak. Selain itu bakteri ini juga dapat menghasilkan H2S yang akan menyebabkan warna hitam pada medium agar saat inkubasi. Shigella adalah genus dari Gram-negatif, non-motil, bakteri endospor berbentuk batang yang berhubungan dekat dengan Escherichia coli dan Salmonella. Shigella merupakan penyebab dari penyakit shigellosis pada manusia, selain itu, Shigella juga menyebabkan penyakit pada primata lainnya, tetapi tidak pada mamalia lainnya. Pengujian kedua jenis bakteri ini melalui beberapa tahap untuk

memperbanyak jumlah bakteri tersebut sehingga memudahkan untuk mendeteksi dan mengisolasinya. Tahapan tersebut adalah : a. tahap perbanyakan (enrichment), b. tahap seleksi, c. tahap isolasi, d. identifikasi primer, e. identifikasi lengkap. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Pengamatan Pengujian Bakteri Salmonella-Shigella Sampel Limbah tahu Air Kran Air Sungai Air Kolam Air Selokan gedung 4 Koloni Terbanyak Shigella Shigella (ada Salmonella) Shigella Salmonella Warna Pink Pink Pink muda Hitam

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2012 Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa pada masing-masing sampel limbah terdapat perbedaan mengenai jumlah koloni terbanyak antara bakteri SalmonellaShigella yang terdapat didalamnya. Pada limbah tahu, air sungai dan air kolam yang tumbuh adalah bakteri jenis Shigella sedangkan pada air selokan yang tumbuh adalah

Wenti Yuniati 14 240210100026

bakteri jenis Salmonella. Pada air kran justru tidak tumbuh keduanya. Keberadaan kedua jenis bakteri ini merupakan parameter tingkat pencemaran yang sudah cukup tinggi pada limbah. Hal ini dikarenakan kedua jenis bakteri ini merupakan bakteri pathogen yang dapat mencemari dan mengganggu lingkungan. Semakin banyak jumlah bakteri ini pada air limbah maka semakin buruk kualitas limbah tersebut dan semakin harus diperhatikan cara penanganannya. Dari hasil yang didapatkan tersebut dapat dikatakan bahwa dari kelima sampel yang digunakan, air selokan adalah limbah dengan kualitas yang paling rendah, hal ini dikarenakan jumlah bakteri pathogennya jauh lebih banyak dibandingkan dengan keempat sampel limbah lainnya. Sedangkan sampel yang memiliki kualitas paling baik adalah air kran karena tidak diketemukan adanya bakteri pathogen baik itu Salmonella maupun Shigella. 6.4. Klorinasi Air Limbah Klorinasi merupakan salah satu bentuk pengolahan air yang bertujuan untuk membunuh kuman dan mengoksidasi bahan-bahan kimia dalam air. Kadar sisa klor sebagai produk klorinasi dipengaruhi oleh beberapa bahan kimia yang bersifat reduktor terhadap klor yang mengakibatkan kadar sisa klor dalam air tidak cukup untuk membunuh bakteri. Klorinasi (chlorination) adalah proses pemberian klorin kedalam air yang telah menjalani proses filtarsi dan merupakan langkah yang maju dalam proses purifikasi air. Klorin ini banyak digunakan dalam pengolahan limbah industri, air kolam renang, dan air minum di Negara-negara sedang berkembang karena sebagai desinfektan, biayanya relatif murah, mudah, dan efektif. Senyawasenyawa klor yang umum digunakan dalam proses klorinasi, antara lain, gas klorin, senyawa hipoklorit, klor dioksida, bromine klorida, dihidroisosianurate dan kloramin. Pada praktikum kali ini yang digunakan adalah larutan hipoklorit. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:

Wenti Yuniati 15 240210100026

Tabel 6. Hasil Pengamatan Klorinasi Air Limbah Tabel 6.1. Klorinasi 4 ppm Sampel Limbah tahu Air Kran Warna Putih kekuningan Bening pH 5.5 9.47 Suhu 34 28 35 26 28 Endapan Ada Bau Kaporit Kaporit (++) Kaporit Kaporit (+) Kaporit (++) Jumlah koloni 6 3 3 1 koloni besar

Air Bening 12.35 Sungai Air Keruh (+) 10 Kolam Air Keruh (++) 9.09 Selokan gedung 4 Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2012

Berdasarkan literatur manfaat penting klorin untuk pengolahan air limbah antara lain: 1. Disinfeksi 2. Mengendalikan bau dan mencegah kecenderungan akan pembusukan 3. Mengendalikan lumpur aktif (active sludge) 4. Menstabilkan limbah lumpur aktif sebelum dibuang 5. Menghancurkan sianida dan fenol serta 6. Mengangkat Amonia Berdasarkan tabel pengamatan diatas terlihat bahwa yang diamati dari limbah yang telah mengalami proses klorinasi 4 ppm meliputi warna, pH, suhu, endapan, bau dan jumlah koloni. Dapat terlihat bahwa warna dari limbah tersebut berbeda-beda. Limbah tahu berwarna kuning, air kran dan air sungai bening sedangkan air kolam dan air selokan memiliki warna yang keruh. pH masing-masing limbah yang diukur dengan menggunakan pHmeter berkisar antara 5-12, hal ini menunjukkan bahwa limbah memiliki sifat mulai dari asam, netral hingga alkali karena nilai rangenya. Suhu pada masing-masing limbah berkisar antara 26 sampai 35C, suhu pada limbah

Wenti Yuniati 16 240210100026

ini menunjukkan derajat panas pada limbah tersebut. Semakin tinggi suhu maka kandungan logam atau senyawa lainnya baik organik maupun anorganik yang turut menyumbangkan kalor atau panasnya pun semakin banyak sehingga kualitas limbah pun semakin buruk. Jika dilihat pada tabel yang memiliki niali suhu paling tinggi adalah air sungai yaitu 35C, dan yang memiliki suhu paling rendah adalah air kolam yaitu 26C. Bau dari semua sampel yang digunakan sama, yaitu bau kaporit, bau ini berasal dari bau senyawa yang digunakan pada proses klorinasi yaitu larutan hipoklorit. Selain sifat-sifat fisik diatas, jumlah mikroorganisme pada limbah juga dihitung setelah limbah diinkubasi selama 2 hari. Dapat dilihat pada tabel bahwa jumlah koloni terbanyak adalah pada air kran yaitu 6 koloni kecil, sedangkan pada limbah tahu tidak ada koloni mikroorganisme. Hasil ini menunjukkan bahwa proses klorinasio 4 ppm kurang efektif pada air kran namun cukup efektif pada limbah tahu. Hal ini berkaitan dengan jumlah mikroorganisme awal pada masing-masing sampel limbah sebelum mengalami proses klorinasi. Praktikum selanjutnya adalah klorinasi air limbah dengan konsentrasi 5 ppm, berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 6.2. Klorinasi 5 ppm Sampel Warna pH Suhu 34 28 34 28 29 Endapan Ada Bau Kaporit Kaporit (++) Kaporit Kaporit (++) Kaporit (+++) Jumlah koloni 1 8 11 2 koloni kecil

Limbah Putih 5.5 tahu kekuningan Air Bening 10 Kran Air Bening 14.27 Sungai Air Keruh (+) 11.4 Kolam Air Keruh (+) 10.01 Selokan gedung 4 Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2012

Wenti Yuniati 17 240210100026

Berdasarkan literatur klorin dalam air akan berubah menjadi asam klorida. Zat ini kemudian di netralisasi oleh sifat basa dan air sehingga akan terurai menjadi ion hydrogen dan ion hipoklorit. Perhatikan reaksi kimia berikut: H2O + Cl2 HCOl HCl +HOCl H+ + OClKlorin sebagai disenfektan terutama bekrja dalam bentuk asam hipoklorit (HOCl) dan sebagian kecil dalam bentuk ion hipoklorit (OCl-). Klorin dapat bekerja dengan efektif sehingga desinfektan jika berada dalam air dengan pH sekitar 7. Jika nilai pH air lebih dari 8,5, maka 90% dari asam hipoklorit itu akan mengalami ionisasi menjadi ion hipoklorit. Dengan demikian, khasiat desinfektan yang memiliki klorin menjadi lemah atau berkurang. Cara kerja klorin dalam membunuh kuman yaitu penambahan klorin dalam air akan memurnikannya dengan cara merusak struktur sel organisme, sehingga kuman akan mati. Namun demikian proses tersebut hanyak akan berlangsung bila klorin mengalami kontak langsung dengan organisme tersebut. Jika air mengandung lumpur, bakteri dapat bersembunyi di dalamnya dan tidak dapat dicapai oleh klorin. Klorin membutuhkan waktu untuk membunuh semua organisme. Pada air yang bersuhu lebih tinggi atau sekitar 18C, klorin harus berada dalam air paling tidak selama 30 menit. Jika air lebih dingin, waktu kontak harus ditingkatkan. Karena itu biasanya klorin ditambahkan ke air segera setelah air dimasukkan ke dalam tangki penyimpanan atau pipa penyalur agar zat kimia tersebut mempunyai cukup waktu untuk bereaksi dengan air sebelum mencapai konsumen. Efektivitas klorin juga dipengaruhi oleh pH (keasaman) air. Klorinasi tidak akan efektif jika pH air lebih dari 7.2 atau kurang dari 6.8. Dari tabel diatas terlihat bahwa suhu dari kelima limbah yang telah mengalami proses klorinasi 5 ppm, ada yang tetap, naik, dan ada pula yang mengalami penurunan. Limbah tahu dan Air kran memiliki suhu yang tetap yaitu

Wenti Yuniati 18 240210100026

masing-masing 34 dan 28C, air sungai mengalami penurunan suhu menjadi 34C, sedangkan air kolam dan air selokan mengalami kenaikan suhu masing-masing menjadi 28 dan 29C. hal ini membuktikan bahwa klorinasi efektif pada air limbah sungai karena suhunya mengalami penurunan maka secara otomatis kualitas dari air limbah tersebut pun semakin meningkat baik. Jumlah koloni pada masing-masing limbah pun sama, ada yang mengalami kenaikan dan ada pula yang mengalami penurunan. Limbah yang mengalami penurunan jumlah mikroba adalah air selokan sedangkan yang lainnya mengalami kenaikan, maka dapat dikatakan bahwa proses klorinasi 5 ppm ini hanya efektif dilakukan pada air selokan sedangkan pada limbah lainnya justru mengalami kenaikan jumlah mikroba. Semakin banyak jumlah mikroorganisme pada air limbah maka semakin buruk kualitas air limbah tersebut. Sesuai dengan tujuannya, klorinasi air limbah seharusnya menghasilkan limbah dengan karakteristik fisik dan kimia yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelum proses klorinasi tersebut berlangsung. Karakteristik ini meliputi penurunan suhu, pH dan jumlah koloni serta perbaikan warna dan hilangnya endapan pada limbah tersebut.

Wenti Yuniati 19 240210100026

VII.

KESIMPULAN

1. Sifat fisik limbah cair yang mudah terlihat dapat menentukan derajat pengotoran air limbah pertanian. Sifat-sifat fisik yang penting diantaranya adalah kandungan zat-zat padat yang menunjukkan kejernihan air, bau, warna, suhu dan pH atau derajat keasaman limbah tersebut. 2. Pengujian Sifat Kimia meliputi Pengujian nilai COD, DO dan BOD pada masing-masing limbah. 3. Jika dilihat dari data yang dihasilkan dari kelima sampel yang digunakan yang memiliki kualitas paling tinggi adalah air selokan berdasarkan uji COD, limbah tahu dan air selokan berdasarkan uji DO serta air kran berdasarkan uji BOD. 4. Pengujian sifat Mikrobiologis pada limbah meliputi penghitungan total mikroorganisme, pengujian bakteri Salmonella-Shigella. 5. Keberadaan mikroorganisme pathogen dalam air limbah menunjukkan bahwa tingkat pencemaran terhadap air limbah tersebut sangat tinggi dan akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan sekitar, juga terhadap kesehatan masyarakat di sekitar limbah tersebut berada. 6. Keberadaan kedua jenis bakteri Salmonella-Shigella merupakan parameter tingkat pencemaran yang sudah cukup tinggi pada limbah. Hal ini dikarenakan kedua jenis bakteri ini merupakan bakteri pathogen yang dapat mencemari dan mengganggu lingkungan. 7. Klorinasi merupakan salah satu bentuk pengolahan air yang bertujuan untuk membunuh kuman dan mengoksidasi bahan-bahan kimia dalam air. 8. Klorinasi air limbah seharusnya menghasilkan limbah dengan karakteristik fisik dan kimia yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelum proses klorinasi tersebut berlangsung. Karakteristik ini meliputi penurunan suhu, pH dan jumlah koloni serta perbaikan warna dan hilangnya endapan pada limbah tersebut. koliform, dan pengujian bakteri

Wenti Yuniati 20 240210100026

DAFTAR PUSTAKA Sujaya, I Nengah.2005.Penuntun Praktikum Mikrobiologi.Denpasar: Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Surabaya: Djambatan. Pelczar, Michael. 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press. Darkuni, M. Noviar. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi). Malang:Universitas Negeri Malang.