P. 1
IUT_04-Metode Polar, Mengikat Muka-blkng

IUT_04-Metode Polar, Mengikat Muka-blkng

|Views: 1,180|Likes:
Dipublikasikan oleh Ernest Hawkins

More info:

Published by: Ernest Hawkins on Apr 07, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2014

pdf

text

original

Materi kuliah ke-4

Oleh : Marwanto, ST, MT

1

Metode Pengukuran Jarak Ada beberapa metode pengukuran jarak yang dapat dilakukan, antara lain : (1). Dengan metode kira-kira Metode ini digunakan untuk menentukan jarak secara kasar, yaitu melakukan kira-kira, misalnya dengan pandangan secara fisual, melalui waktu tempuhdan kecepatan jalan atau kendaraan. Contoh : Waktu tempuh antara kota A dan B = 2,5 jam Kecepatan kendaraan rata-rata 60 km/jam Jarak antara kota A dan B = 2,5 jam x 60 km/jam = 150 km

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

2

(2). Dengan Metode Langkah (Pacing) Metode ini juga tergolong kasar, yaitu dilakukan dengan menghitung langkah antara titik-titik yang diukur dan mengetahui standar panjang langkah dari pelaksana. Jarak diperoleh dengan mengalikan jumlah langkah antara titik yang diukur dengan panjang langkah yang bersangkutan. Contoh : Antara titik A dan B ditempuh dengan 120 langkah Rata-rata panjang langkah = 60 cm Jarak antara titik A dan B = 120 langkah x 60cm/langkah = 7.200 cm = 72 m

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

3

(3). Metode Skala Peta Metode ini juga tergolong kasar, yaitu menentukan jarak dari peta. Dengan mengetahui jarak lurus atau jarak jalur yang menghubungkan antara dua titik dan skala petanya, maka jarak lurus atau jarak sesuai jalur dapat dihitung, dengan persamaan berikut : Jarak di lapangan (sebenarnya) antara dua titik = jarak di peta x skala peta Contoh : Jarak antara dua titik di peta = 6,2 cm Skala peta 1 : 25.000, maka Jarak sebenarnya antara dua titik itu = 6,2 cm x 25.000 = 155.000 cm = 1,55 km
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

4

(4). Pengukuran Jarak Dengan Odometer Metode pengukuran jarak dengan Odometer merupakan metode sederhana hampir mirip dengan metode langkah, yaitu mengukur jarak dengan menghitung jumlah putaran roda yang kelilingnya diketahui, bila roda tersebut digelindingkan antara dua titik pengukuran. Jarak dihitung dengan persamaan berikut : Jarak = Jumlah putaran roda x keliling roda Contoh : Antara titik A dan B ditempuh dengan 120 putaran Keliling lingkaran = 60 cm Jarak antara titik A dan B = 120 putaran x 60cm/putaran = 7.200 cm = 72 m Alat ini sangat praktis untuk mengukur jarak suatu jalur dimana jalurnya berbelok-belok dan naik turun, seperti halnya jalur jalan dalam rangka pengaspalan atau pada pengukuran luas lahan bergelombang dan bentuk petakannya tidak beraturan.

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

5

(5). Pengukuran Jarak Dengan Meteran Pengukuran jarak dengan meteran biasa disebut dengan istilah Taping, yaitu pengukuran jarak menggunakan tape atau pita ukur berupa rol meter atau rantai ukur. Rol meter merupakan alat yang paling umum digunakan. Cara melakukan pengukuran dengan meteran ini ditentukan berdasarkan : (a) Kondisi lahan, miring atau datar (b) Jarak yang dikehendaki, jarak mendatar atau jarak miring

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

6

5.1. Pengukuran jarak mendatar (a) Pada lahan datar Pengukuran jarak mendatar pada lahan datar relatif lebih mudah dibanding dengan pada lahan miring. Caranya dapat dilakukan sbb: a. Pasang atau letakan angka nol meteran ke patok di titik 1 b. Tarik atau rentangkan rol meter ke titik 2, selurus dan sedatar mungkin dengan tarikan yang cukup, sehingga meteran tidak melengkung . Pada lahan atau objek yang diukur datar dan rata pita ukur dapat ditempelkan pada permukaan objek yang diukur tersebut tapi bila tidak rata, maka meteran harus direntangkan dengan jarak tertentu dan sejajar dengan rata-rata permukaan lahan atau objek yang di ukur. c. Letakan/impitkan pita meteran ke patok di titik 2. d. Baca angka meteran yang tepat dengan patok di titik 2 tsb. Bacaan ini menunjukkan jarak antara titik 1 dan titik 2 yang diukur.

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

7

(b) Pada lahan miring Pengukuran jarak mendatar pada lahan miring tidak sesederhana seperti pada lahan datar. Ada 3 metode memperoleh jarak mendatar dengan meteran yaitu : (1) Metode Koreksi Metode ini hanya digunakan untuk pemperoleh data secara kasar. Pada metode ini yang diukur adalah jarak miringnya dan untuk memperoleh jarak mendatar dilakukan koreksi, seperti terlihat pada Tabel 1.1.

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

8

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

9

(2) Metode Taping Bertingkat Metode ini digunakan untuk mengukur jarak yang cukup jauh, sehingga pengukuran pada jarak tersebut dilakukan pengukuran per segmen dan pada setiap kali melakukan dilakukan sebagai berikut : a. Sampai mendekati titik akhir pengukuran dilakukan dengan jarak yang sama, misalnya 25 m. b. Pada setiap ujung meteran digunakan unting-unting . c. Contoh dapat dilihat pada Gambar berikut.

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

10

Jarak mendatar AB = 3 x 25 m + 7m = 82 m (3) Breaking Taping Metoda ini caranya hampir sama dengan Taping Bertingkat, bedanya jarak pada setiap kali pengukuran tidak harus sama. Pada lahan berlereng heterogen metoda ini lebih cocok digunakan dari pada metode Taping Bertingkat

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

11

Catatan : Kesalahan yang umum terjadi pada pengukuran jarak dengan meteran, antara lain : 1) Tarikan meteran tidak sempurna, sehingga terjadi lenturan/ melengkung . 2) Meteran tidak sempurna lurus. 3) Pemasangan patok tidak tepat dengan bacaan angka meteran atau sebaliknya. 4) Salah menghitung jumlah patok. 5) Salah menetapkan angka nol meteran. 6) Salah baca angka atau satuan angka. 7) Salah mencatat hasil bacaan. 8) Tidak menggunakan nivo dan unting-unting pada pengukuran lahan miring
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

12

Untuk mengetahui tingkat ketelitian atau akurasi dari hasil pengukuran jarak dengan meteran ataupun odometer sebaiknya pengukuran dilakukan bolak-balik, sehingga diperoleh dua data. Dari dua data ini dapat diketahui tingkat ketelitiannya, yaitu dapat dilihat dari angka ratio kesalahan tidak melebihi 1/5000 atau dari nilai kesalahan yang diperbolehkan. Ratio kesalahan dapat dihitung dengan persamaan berikut : ratio kesalahan = Dp : rp dimana: Dp = selisih kedua hasil pengukuran rp = rata-rata dari kedua hasil pengukuran

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

13

Contoh : Hasil pengukuran ke 1 = 984,65 m Hasil pengukuran ke 2 = 984,39 m Selisih (Dp) = 0,26 m Rata-rata (rp) = 984,52 m Ratio kesalahan = 0,26 : 984,52 = 1 : 3785 Kesimpulan ratio kesalahan ini lebih besar dari ketentuan, maka pengukuran harus diulang kembali
Sementara berdasarkan nilai kesalahan yang diperbolehkan dapat ditentukan berdasarakan persamaan berikut : a. Untuk tanah datar : s = 0,008 V D + 0.0003 D + 0,05 b. Untuk tanah landai : s = 0,010 V D + 0.0004 D + 0,05 c. Untuk tanah curam : s = 0,012 V D + 0.0005 D + 0,05 Dimana s adalah selisih kedua pengukuran yang diperbolehkan dan D adalah jarak yang diukur, keduanya dalam satuan meter

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

14

(6). Pengukuran dengan stadia Pengukuran dengan stadia atau dikenal juga dengan istilah pengukuran jarak optik dilakukan dengan menggunakan teropong, dimana di dalam teropong tersebut pada lensa objektifnya dilengkapi dengan 2 garis horizontal yang disebut benang stadia. Alat yang dilengkapi dengan fasilitas ini adalah waterpas dan teodolit. Metode pengukuran dengan alat ini akan di bahas di perkuliahan berikutnya.

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

15

(7). Pengukur Jarak Elektronik Alat yang lebih modern lagi dari waterpas dan teodolit adalah EDM (Electric Distance Meter ) yaitu alat ukur yang menggunakan gelombang elektronik. Alat terdiri dari transmitter sebagai sumber listrik dan reseiver sebagai penangkap gelombang listrik yang dipancarkkan tadi dan dikembalikan oleh cermin kristal yang dipasang di titik pengukuran lainnya.

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

16

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

17

METODE PENENTUAN POSISI HORIZONTAL
• Metode Polar : Menentukan satu titik koordinat yang diikatkan pada satu titik yang sudah diketahui koordinatnya • Metode Mengikat Kemuka : Menentukan satu titik koordinat yang diikatkan pada dua titik yang sudah diketahui koordinatnya • Metode Mengikat Kebelakang : Menetukan satu titik koordinat yang diikatkan pada tiga titik yang sudah diketahui koordinatnya • Poligon : Menentukan banyak titik koordinat yang diikatkan pada satu atau beberapa titik yang sudah diketahui koordinatnya
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

18

METODE POLAR
Arah Utara aab aab B? Apabila diketahui koordinat titik A (Xa, Ya) dan hasil pengukuran aab dan dab Hitung : Koordinat titik B ? Penyelesaian : Xb = OB’ Xb = OA’ + A’B’ Xb = Xa + DXab Yb = B’B Yb = B’B” + B”B Yb = Ya + DYab

dab aab A (Xa, Ya)

B”

O
Sin a ab = Cos a ab =

A’

B’

DX ab  DX ab = d ab Sin a ab d ab DYab  DYab = d ab Cos a ab d ab

Xb= Xa + dab Sin aab Yb= Ya + dab Cos aab
Marwanto, ST, MT

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

19

LATIHAN SOAL

METODE POLAR
1. Diketahui : Koordinat Titik 18 (-1033,56; +964,07) d18-17 = 2986,08m a18-17 = 74o22’34”  Soal : Koordinat Titik 17 ? 2. Diketahui : Koordinat Titik 14 (-1003,65; +1467,97) d14-21 = 2280,71m a14-21 = 99o19’35”  Soal : Koordinat Titik 21 ? 3. Diketahui : Koordinat Titik 31 (+1044,69; +866,13) d31-22 = 3058,40m a31-22 = 229o35’25”  Soal : Koordinat Titik 22 ?

4. Diketahui : Koordinat Titik 16 (+871,44; -1629,81) d16-15 = 3783,73m a16-15 = 320o16’32”  Soal : Koordinat Titik 15 ?
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

20

CONTOH HITUNGAN KOORDINAT
Titik A Titik B ? dab aab Xa DXab Xb Ya DYab Yb Titik 18 Titik 17 ? 2986,08 74o 22’34” -1033,56 +2875,75 +1842,19 +964,07 + 804,22 +1768,29 Titik 14 Titik 21 ? 2280,71 99o 19’35” -1003,65 +2250,56 +1246,91 +1467,97 - 369,61 +1098,26 Titik 31 Titik 22 ? 3058,40 229o 35’25” +1044,69 - 2328,75 -1614,83 + 866,13 +1510,22 +2376,35 Titik 16 Titik 15 ? 3783,73 320o 16’32” +871,44 - 2418,16 -1546,73 - 1629,81 +2910,17 +1280,36

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

21

METODE MENGIKAT KEMUKA
Pada dasarnya metode mengikat kemuka adalah U penentuan sebuah titik yang akan dicari koordinatnya melalui 2 apr buah titik yang sudah P a diketahui koordinatnya. (Xp;Yp) Misalnya kita akan menentukan koordinat titik R yang diukur dari Titik P(Xp;Yp) dan Q(Xq;Yq). Alat ditempatkan di kedua titik yang sudah diketahui
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

R?
U

dpr apq

g

aqr
dpq b Q (Xq;Yq)

dqr

aqp

Marwanto, ST, MT

22

METODE MENGIKAT KEMUKA
1. Hitung sudut g =180o –a - b 2. Hitung apq dan dpq
U U

R? dpr apq aqr dqr dpq b Q (Xq;Yq) aqp

Tg a pq

Xq - Xp = Yq - Yp

apq didapat

g

Sin a pq =

Xq  Xp  d pq = d pq Sin a pq

apr P a Xq-Xp (Xp;Yp)

Cos a pq =

Yq  Yp Yq-Yp  d pq = d pq Cos a pq

Diperoleh dpq rata-rata
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

23

METODE MENGIKAT KEMUKA
3. Dengan rumus sinus dalam segitiga PQR hitung panjang sisi dpr dan sisi dqr

d pq Sin g
d pq Sin g


d pr Sinb
d qr Sina

 d pr 
 d qr 

d pq sin g
d pq sin g

Sinb
U U

R? dpr apq

g
aqr dqr

Sina

4. Hitung apr dan a qr

apr P a (Xp;Yp)

apr = a pq - a aqr = a qp + b - 360
karena aqp = a pq + 180
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

dpq

b Q (Xq;Yq) aqp

maka aqr = a pq + b 180
Marwanto, ST, MT

24

METODE MENGIKAT KEMUKA
5. Hitung Koordinat Titik R

XR1 = Xp + dpr Sinapr . YR1 = Yp + dpr Cosapr dan XR2 = Xq + dqr Sinaqr YR2 = Yq + dqr Cosaqr

R?
U
U

dpr apq

g
aqr dqr

apr P a (Xp;Yp)

dpq

b Q (Xq;Yq) aqp

XR rata-rata dan YR rata-rata
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

25

LATIHAN SOAL MENGIKAT KEMUKA
Diketahui : Koordinat titik-titik sbb : A(-1246,78; +963,84) B(+1091,36; -1144,23) a=56 15’16” A Sudut-sudut yg diukur : (-1246,78;+963,84) a = 56o15’16” b = 62o38’ 42” Hitung : Koordinat titik C dengan metoda mengingat kemuka !
o

C?

b=62o38’42”

B
(+1091,36;-1144,23)

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

26

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
Menentukan suatu titik baru dengan jalan mengadakan pengukuran sudut pada titik yang tidak diketahui koordinatnya kita namakan penentuan titik dengan cara mengikat ke belakang. Ketentuan yang harus dipenuhi adalah diperlukan paling sedikit tiga titik pengingat yang sudah diketahui koordinatnya beserta sudut yang diukur dari titik yang akan ditentukan koordinatnya tersebut. Keuntungan metode ini adalah kita hanya satu kali menempatkan instrumen, yaitu pada titik yang akan kita cari tersebut. Terdapat dua cara perhitungan yang kita kenal, yaitu Metode Collins dan Metode Cassini.
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

27

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
1. METODE COLLINS
Bila kita akan menentukan suatu koordinat misalnya titik P, maka titik tersebut harus diikatkan pada titik-titik yang sudah diketahui koordinatnya (misalnya titik A, B, dan C), kemudian kita ukur sudut a dan b
A (Xa;Ya) aab b g aah dab (Xb;Yb) a B
ab

abh

dap dbp
a P? b

dah

180(a+b) 180g a g H

(a+b) ahc

C (Xc;Yc)

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

28

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
LANGKAH PERHITUNGAN
1. Buatlah sebuah A lingkaran melalui titik aah (Xa;Ya) aab ABP, lingkaran ini akan dab b (Xb;Yb) memotong garis PC di titik B g aab H (titik ini disebut sebagai abh Titik Penolong Collins) dap (a+b) dah 180(a+b) 2. Mencari Sudut Jurusan dbp aab dan Jarak dab 180g ahc

Tg a ab =

Xb - Xa Yb - Ya

aab didapat

a

b

a g H C (Xc;Yc)

Xb-Xa d ab1 = Sin a ab Yb-Ya d ab2 = Cos a ab
ILMU UKUR TANAH

P?

d ab1 + d ab2 d ab  2

Marwanto, ST, MT

29

JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
3. Mencari Koordinat Titik H A (Titik Penolong Collins) (Xa;Ya) aab Dari titik A b 1). Cari a ah = a ab + b g 2). Dengan Rumus Sinus dap menentukan dah
aah dab (Xb;Yb) a B
ab

abh

dah dbp

180ab 180g a

(a+b) ahc

d ab d ah  Sin a Sin 180-a -b d ah  d ab Sin 180-a -b sin a

a P?

b

g
H C (Xc;Yc)

Xh1= Xa + dah.Sin aah Yh1= Ya + dah.Cos aah
Marwanto, ST, MT

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

30

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
Dari Titik B 1). Cari abh = aab + (a+b) A (Xa;Ya) aab 2). Dengan rumus Sinus b menentukan dbh
g aah dab (Xb;Yb) a B
ab

d bh d ab  Sin β Sin α d ab  Sin β sin α

abh

dap dbp a

dah

180(a+b) 180g a

(a+b) dbh ahc

b

g
H C (Xc;Yc)

d bh

P?

Xh2= Xb + dbh.Sin abh Yh2= Yb + dbh.Cos abh
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

X h1 + X h2 Xh  2

Yh 

Yh1 + Yh2 2
31

Marwanto, ST, MT

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
A (Xa;Ya) aab b g dap dbp a P? b dah 180(a+b) 180g a g H C (Xc;Yc)

aah dab

4. Mencari a hc dan g g  ahc – ahb (Xb;Yb) = ahc – (abh-180) B aab abh = ahc + 180 - abh
(a+b) ahc dbh

Xc - Xh Tg αhc =  αhcdidapat Yc - Yh

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

32

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
5. Mencari Titik P A (Xa;Ya) aab Dari titik A b 1). Cari aap = aab + g g 2). Mencari dap dap
d ap d ab  Sin α Sin 180 - (α+γ) d ab d ap  Sin 180-(α+γ) sin α
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

aap dab (Xb;Yb) a B
ab

abh

dah dbp

180(a+b) 180g a

(a+b) dbh ahc

a P?

b

g
H C (Xc;Yc)

Marwanto, ST, MT

33

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
3). Xp1= Xa + dap.Sin aap dan Yp1= Ya + dap.Cos aap

Dari titik B

1). Cari abp = aba–{180-(a+g)} A Jadi abp= aab + a + g (Xa;Ya)aab 2). Mencari dap b g

aap dab dah dbp (Xb;Yb) B aab abh 180(a+b) (a+b) dbh 180g ahc a

d bp d ab  Sin α Sin γ

dap a

d bp

d ab  Sin γ sin α

b

g

P?

H

C (Xc;Yc)
34

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

METODE MENGIKAT KEBELAKANG
3). Xp2= Xb + dbp.Sin abp Yp2= Yb + dap.Cos abp

Akhirnya diperoleh koordinat titik P(Xp, Yp) dengan :

X P1 + X P2 XP  2

YP1 + YP2 YP  2
Marwanto, ST, MT

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

35

LATIHAN SOAL MENGIKAT KEMUKA
Diketahui : Koordinat titik-titik sbb : A(-46.x; +63.x) ; B(+91.x; -44.x) dimana x adalah digit terakhir nomor mahasiswa anda, jika digit terakhirnya 0 maka x = 10 A a=56 15’16” Sudut-sudut yang diukur : b=62 38’42” a = 56o15’16” ; b = 62o38’ 42” B Hitung : Koordinat titik C dengan metoda mengingat kemuka !
o
o

C?

ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

36

LATIHAN METODE COLLINS
Diketahui koordinat titik-titik sbb : A (-25.x; -14.x) Sudut yg diukur B (-18.x; +36.x) a = 40o15’25” C (+27.x; +32.x) b = 30o18’46” dengan x digit terakhir nomor mhs anda, jika digit terakhirnya 0 maka x = 10 Hitunglah : Koordinat titik P dengan mengikat ke belakang dengan cara Collins !
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

37

LATIHAN METODE COLLINS
• DIKUMPULKAN PADA SAAT KULIAH BERIKUTNYA • BAGI YANG TIDAK MENUMPUL berarti AKAN MENGURANGI PEROLEHAN NILAI AKHIR !!! • selamat mengerjakan. • SAMPAI BERSUA KEMBALI.
ILMU UKUR TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL STTNAS YOGYAKARTA

Marwanto, ST, MT

38

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->